Untitled Document
 


Untitled Document
.KITAKITA
:: Jika Anda di Panyingkul ::
 
 KABAR KITA
 
 BERANDAKITA
Berburu Putu Cangkiri, Dari Tamalanrea ke Sungai Saddang Baru
:: Eka Wulandari ::
Senyum Lopis Pak Tua
:: Ivan Firdaus ::
Aroma Konro Bakar Merebak di Tebet
:: Arifuddin Ali Patunru ::
Pudding dan “The Baroncong Family”
:: Ivan Firdaus ::
Riwayat Panjang Coto Makassar
:: Ince Dian Aprilyani Azir dan M. Arief Alfikri ::
 
 RISETKITA
Risetkita: Pramoedya versus Sejarah Resmi
:: Nurhady Sirimorok ::
Hikayat Rumpon Nelayan Mandar
:: Muhammad Ridwan Alimuddin ::
Di Makassar Pernah Ada “Negeri Wajo”
:: Nurhady Sirimorok ::
Surat Itu Ditulis Upas kepada September
:: Nurhady Sirimorok ::
Sebuah Risalah Tentang Candu
:: Sudirman H. Nasir ::
 
 BUKUKITA
 
 KATAKOTAKITA
Karena ‘Rewa’ Badan Binasa
:: Sudirman Nasir ::
Yang Okkot, yang Salah Sambung
:: Nursamsu danTusiana Noor Alfisyahr ::
Kandala`ka`, Kusta Bila Dusta
:: Panyingkul ::
Ayo, Si(ng)kat Terussss..!
:: Panyingkul! ::
Bahasa Inggeris Makin Nyaring Bunyinya
:: Lily Yulianti Farid ::

 
 TAHUKAHKITA
 

.
 :: KITAKITA


Jika Anda di Panyingkul!

Media telah mencapai fase konvergensi yang sekaligus menawarkan keserbaunggulan puncak-puncak revolusi sarana komunikasi. Jika pers telah memperluas percakapan sehari-hari, radio dan kemudian televisi lebih mempercepat proses itu. Internet bahkan membuatnya kian cepat lagi.

Ketika Tsunami Samudera Hindia menghantam pada tanggal 24 Desember 2004, warga di desa-desa pertanian Swedia -- wilayah di belahan utara bumi yang puluhan ribu kilometer jaraknya dari area bencana -- memperoleh kepastian keselamatan keluarga mereka lewat gambar-gambar real time berkat perpaduan teknologi digital kamera dan internet. Seorang turis yang mengalami peristiwa ini hanya memerlukan akses internet untuk mengabarkan kepada siapa saja, di mana saja, foto-foto dan video dari kamera digitalnya. Ia telah mengambil peran yang pada fase sebelumnya dimainkan dengan bangga oleh para reporter, para jurnalis, para editor.

Sudut pandang orang-orang biasa semakin tak bisa diabaikan. Di atas keserbacepatan informasi, ia kemudian tampil dominan. Catatan harian, dialog sehari-hari, opini dan kesaksian atas peristiwa yang disampaikan siapa saja, dari mana saja, di website dan webblog, menjadi genre baru bentuk komunikasi umat manusia yang kian marak saat ini.

Ini beriringan pula dengan kondisi krisis kredibilitas media massa mainstream di mana-mana. “Jurnalisme resmi” telah kehilangan landasan filosofis untuk terus bersombong diri dan mendiktekan apa yang sebaiknya diketahui atau tidak diketahui oleh publik. Ruang-ruang redaksi kian sulit menghindarkan rutin itu: mencoba tidak bias, obyektif, imparsial, terus-menerus, dari hari ke hari, ketika publik telah mempunyai akses masing-masing yang ternyata amat mudah dan murah ke sebuah peristiwa yang sama. Pada persilangan ini, orang dengan gampang kecewa, misalnya, setelah dengan mudah dan, sekali lagi amat murah, dapat mendeteksi ketidakakuratan media massa. Keserbacepatan dan keserbamudahan informasi telah melahirkan tantangan luar biasa pada elitisme media mainstream.

Tantangan itu bernama “jurnalisme orang biasa”, yang lahir dalam dekade terakhir ini di berbagai belahan dunia. Ada yang menyebutnya media akar rumput, media komunitas, media alternatif, netizen, atau citizen journalism. Semangat yang diusung adalah menjadi bagian dari ekosistem media secara keseluruhan dan mengharapkan terjadinya dialog dinamis dengan melibatkan masyarakat biasa dalam proses lahirnya sebuah berita.

Kami pun hendak menjadi bagian dari ekosistem media ini, dan merayakan “jurnalisme orang biasa”. Kami menyebutnya: Panyingkul! Sebuah Junction. Penanda persilangan dari segala arah. Ia ingin mendekati peristiwa, yang juga didekati oleh media mainstream, dengan sudut pandang orang biasa. Ia, misalnya, berada di tepi jalan ketika arak-arakan demonstrasi buruh lewat. Pada saat yang lain, ia mungkin berada di tengah-tengah buruh itu sendiri. Ia bisa tiba-tiba berada di rumah walikota atau gubernur, kemudian juga hadir di kamar pribadi para pegawai rendah. Ia mengembangkan gairah bercerita, bukan sekadar melaporkan peristiwa. Ia antara lain, misalnya, membagi kesan-kesan mendalam tentang kemiskinan, dan bukan sekadar mengabarkan berapa jumlah orang yang dikategorikan miskin, di suatu tempat, di suatu masa.

Berangkat dari gairah bercerita inilah, kami tidak mengembangkan jurnalisme yang angkuh dan tentu tak pernah berangan-angan untuk menjadi bagian dari elitisme media mainstream. Jurnalisme kami adalah berbagi dengan segenap inisiatif dan gairah. Berbagi kabar, juga impresi, bahkan emosi yang menyertainya, seperti dalam kehidupan sehari-hari kala kita saling bertukar cerita. Sekali lagi, ia tidak hanya melaporkan, ia ingin membagi kesan-kesan. Dan, ia mendambakan dialog. Ia ingin memungut kembali pelbagai aspek yang cenderung diabaikan media mainstream. Ia, dengan demikian, tidak ingin acuh pada sekitar. Ia, dengan demikian senantiasa menumbuhkan sikap peduli dan berempati pada kehidupan orang-orang biasa.

Jika Anda di Panyingkul!, Anda akan merayakan jurnalisme orang biasa, orang-orang yang telah merebut kembali hak-haknya yang tidak lagi mendapat banyak tempat di media mainstream. (p!)


KELAHIRAN PANYINGKUL!

Panyingkul! dikelola oleh The Private Editors (Tokyo) dengan dukungan dari Nesia Inc. (Kanagawa), Dekat Rumah Project (Jakarta), Kafe Baca Bibliocholic (Makassar), Penerbit Ininnawa (Makassar), Esso Wenni (Amsterdam), Script Intermedia (Makassar)

Tim Produksi Panyingkul! adalah Lily Yulianti Farid, Moch. Hasymi Ibrahim, Farid Ma`ruf Ibrahim dan Nesia Andriana.

Proses editorial dikerjakan oleh The Private Editors.

Desain situs web dan visualisasi dikerjakan oleh Nesia Andriana dengan dukungan oleh Yuhardin (www.yuhardin.info)

Pengembangan usaha ditangani oleh Moch. Hasymi Ibrahim. Relasi media dan kerjasama ditangani oleh Nilam Indahsari dibantu oleh M. Aan Mansyur.

PANYINGKUL! mengucapkan terima kasih atas dukungan material dan moril dari Rahmat Hidayat (Makassar), Anwar Jimpe Rachman (Makassar), Sudirman H.N. (Melbourne, Australia), Hendra G.S.T. (New Castle, Australia), Azhari Sastranegara (Kanagawa, Jepang), Muhammad Ruslailang Noertika (Balikpapan), juga kepada fotografer Basrul Haq, serta desainer Panyingkul! versi awal, Akbar Dg. Leo, serta seluruh pihak yang mendukung media orang biasa ini sejak awal berdirinya.

Isi Panyingkul! dapat dikutip dengan menyebutkan sumber yang disertai pemberitahuan kepada redaksi melalui email: redaksi@panyingkul.com
(p!)



 :: CITIZEN REPORTER
Makassar di Panyingkul!: Sebuah Persembahan
(Kamis, 12-07-2007)
Ayo Bergabung di Panyingkul!
(Minggu, 29-04-2007)
Catatan Sederhana Para Citizen Reporter
(Selasa, 31-10-2006)
Tentang Citizen Reporter dan Rubrik di Panyingkul!
(Rabu, 11-10-2006)
Riuh Rendah di Panyingkul!
(Rabu, 16-08-2006)

Untitled Document
 :: DUNIA SEGIEMPAT KAREBOSI






 :: PILKADA




 :: ALBUM PUASA 2007




Untitled Document
 :: KONTAK TIM PANYINGKUL!

Email:

redaksi@panyingkul.com

Makassar:

Nilam Indahsari +62 81 241 229 089
M. Aan Mansyur +62 411-586459

Jakarta
Moch. Hasymi  +62 811 955 954

Tokyo:

Lily dan Farid  +81 90 188 95131 (sms)



© Juni 2006 - Panyingkul.com All Rights Reserved
Desain Web : Nesia Andriana -- Supported by: Yuhardin