Tamasya Bersama Kata di Sepanjang Jalan
July 2006 Anwar Jimpe Rahman
Benar kata Sapardi Djoko Damono, tamasya bahasa adalah kegiatan hiburan yang murah dan menyenangkan. Dalam tulisannya di Majalah Berita Mingguan Tempo beberapa waktu lalu, penyair Hujan Bulan Juni ini mengusulkan tamasya bahasa sebagai salah satu cara untuk mengurangi stres saat terjebak kemacetan atau sekadar untuk mengisi waktu. Di suatu hari yang senggang, saya memutuskan untuk mengikuti saran Sapardi. Ia melakukannya saat terjebak macet di Depok. Saya mencobanya di sepanjang poros Jalan Perintis Kemerdekaan, Makassar.
Tamasya bahasa saya mulai dari Jembatan Tello menuju ke arah Daya. Sepanjang jalan, saya menikmati suguhan papan nama yang penulisannya sangat beragam. Ada toko yang menulis apotik, namun tidak sedikit yang menulis apotek. Tak jauh dari jejeren apotek, berderet papan nama dokter dengan tulisan: praktek dokter bersama, dokter praktik, dokter praktek, tapi ada juga menulis praktek dokter. Jadi, mana yang benar: apotek atau apotik? Praktek atau praktik? Soal benar atau salah, paling tidak, ada baiknya membuka kamus. Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia, apotek dan praktik adalah kata yang dibenarkan penggunaannya. Memang ada kawan yang bilang, soal bahasa tak perlulah terlalu memusingkan masalah ejaan dan huruf mana yang salah dalam sebuah kata. “Yang pokok … pengertiannya sampai ke kita,” katanya, enteng. Kawan ini benar juga. Apotek atau apotik, bukanlah soal yang mendasar bagi masyarakat kebanyakan. Artinya mudah dipahami. Yang penting, jangan sampai mampir ke optik untuk membeli obat. Tapi soal pemilihan kata yang tepat kerap menimbulkan persoalan, sebab kata ini kemudian akan menjadi pokok terbentuknya kata turunan. Sebutlah contoh, praktikum atau praktis, atau praksis. Apalagi kata itu memang berasal dari serapan bahasa Inggris—practice. Begitu juga dengan apotek, yang menjadi asal pembentukan kata apoteker. Rasa-rasanya saya belum pernah mendapatkan kata apotiker dalam Bahasa Indonesia.
Saya jadi ingat ketika ikut dalam kelompok paduan suara upacara bendera di sekolah dasar dulu. Setiap menyanyikan lagu Indonesia Raya, pastilah kami serentak memulainya dengan ucapan “Endonesia, tanah airku” bukan “Indonesia, tanah airku” dan seterusnya.
Dengan pengalaman itu, saya yakin kalau perbedaan penulisan “i” dan “e” dalam sejumlah kata itu diserap dari bahasa percakapan atau yang dilisankan setiap hari. Tidakkah huruf ‘i’ membutuhkan nada yang lebih tinggi daripada huruf ‘e’ ketika mengucapkannya?
Kalau misalnya bunyi dan penulisan huruf “i” dan “e” kita sepakati muncul secara beragam karena perbedaan tulisan dan cara pengucapan, lantas bagaimana dengan tulisan yang saya lihat di depan gerbang Perumahan Telkom Mas, Jalan Perintis Kemerdekaan – Kilometer 12, yang memajang dua kata: praktek dokter. Apakah ini ditulis berdasarkan kreativitas semata atau ada alasan lain? Dokter praktik atau dokter praktek –berarti bahwa di dalam tempat yang dirujuk tulisan itu terdapat ahli kesehatan yang melakukan praktik medis untuk umum. Singkatnya, dokter yang membuka praktek. Tapi kalau praktek dokter? Jangan-jangan di dalam rumah bercat putih itu bukannya terdapat dokter yang memberi pelayanan medis, melainkan menyediakan layanan semacam bimbingan atau sejenis simulasi bagaimana rasanya menjadi dokter.
Tamasya kemudian saya lanjutkan dengan melintasi kawasan sekitar Kampus Universitas Kristen Indonesia Paulus (UKIP) di Kilometer 16. Di tepi jalan terpampang sebuah papan bertuliskan: “JANGAN MENAMBAH MATI KONYOL KECELAKAAN LALU LINTAS”. Apakah maksud pesan ini agar para pengguna jalan disarankan tidak membuat kecelakaan lalu lintas makin mati konyol? Tentu saja tidak. Bagaimana mungkin mematikan kecelakaan lalu lintas secara konyol?
Saya membutuhkan waktu beberapa lama untuk menelaah maksud kalimat itu dan mereka-reka kata apa yang kurang dari peringatan tersebut. Tentu pesan yang ingin disampaikan adalah, “Jangan menambah jumlah korban kecelakaan lalu lintas yang mati konyol,” atau “Jangan mau mati konyol karena kecelakaan lalu lintas." Aha! Ternyata kata ”korban” yang seharusnya ditambahkan ke dalam peringatan itu, sehingga pesannya menjadi jelas seperti ini,“JANGAN MENAMBAH KORBAN MATI KONYOL KECELAKAAN LALU LINTAS”.
Sapardi memang benar, tamasya bahasa itu mengasyikkan. Saya menjadi ketagihan. Di hari yang lain saya pun mencatat hasil tamasya bahasa di setiap jalan yang saya lalui. Di salah satu warung di Kampung Unhas Tamalanrea, sebuah warung memajang tulisan: “Jual Pulsa E.Tronik”. Tentu maksudnya adalah pulsa elektronik untuk ponsel. Bila huruf “e” di situ berarti elektronik (seperti halnya yang ada pada istilah email yang merujuk electronic mail) maka iklan itu tidak salah bila dibaca: Jual Pulsa Elektronik Tronik. Bukan hanya itu, di warung itu pun dijual “kopi mix” (yang dimaksud tentu saja adalah coffee mix). Dan di kesempatan yang lain saya merasa senang bisa menghitung sejumlah perbedaan kata: “foto” yang tertera pada deretan kios. Ada yang menulis Photocopy, Fotocopy, Potocopy, dan bahkan ada yang memajang pengumuman: Fhotostudio. Wah, yang terakhir ini bagaimana melafalkannya dengan baik? (p!)
Rubrik: KATA KOTA KITA
Leave a Comment
Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>
Trackback this post | Subscribe to the comments via RSS Feed