panyingkul.com Blog » Catatan Makan Malam Bersama Keluarga Daeng Nannang

Catatan Makan Malam Bersama Keluarga Daeng Nannang

July 2006 Editor Panyingkul

Di salah satu rumah di kawasan Leprosarium Tamalanrea-Makassar, mereka duduk melingkar di lantai tanpa ubin, bersiap menyantap makan malam. Sebuah baskom plastik berwarna hitam berukuran sedang berisi nasi, tersaji di tengah lingkaran. Dengan lauk sayur bening, tempe goreng dan telur dadar, Daeng Nannang sekeluarga menjamu tamunya malam itu. Citizen reporter, M. Aan Mansyur, menuliskan catatan pengalaman makan malam bersama keluarga pengidap kusta tersebut.

MINGGU, 29 Januari 2006, sedikitnya 12 pemimpin dunia sedang berkumpul membicarakan nasib Daeng Nannang dan orang-orang seperti dirinya. Hari itu, di India Habitat Center-New Delhi, Oscar Arias (mantan Presiden Costa Rica, pemenang Nobel), Jimmy Carter (mantan Presiden Amerika Serikat, pemenang Hadiah Nobel), Dalai Lama (pemimpin Tibet, pemenang Nobel), El Hassan bin Talal (putra mahkota Kerajaan Yordania), Vaclav Havel (mantan Presiden Republik Ceko), Luiz Inacio Lula da Silva (Presiden Brazilia), Olusegun Obasanjo (Presiden Nigeria), Mary Robinson (mantan Presiden Irlandia), Yohei Sasakawa (ketua Nippon Foundation), Desmond Tutu (pensiunan Uskup Agung Cape Town, pemenang Nobel), R.Venkataraman (mantan Presiden India) dan Elie Wiesel (pemenang Nobel) memberikan himbauan untuk memperjelas nasib sosial penderita penyakit kusta dan meniadakan ketakutan yang mereka alami seumur hidup.

Daeng Nannang tidak ingat persis apa yang dia lakukan hari itu. Ia hanya mengingat bahwa saat itu ia sudah menjadi seorang pengemis tua yang setiap hari mangkal di Jalan Mesjid Raya, Makassar. Daeng Nannang tidak pernah tahu bahwa telah dipilih satu hari khusus di antara 365 hari lainnya dalam setahun untuk memperingati penyakit yang ia derita sejak usia 16 tahun. Di Norwegia, tahun 1873, seorang lelaki bernama Gerhard Armauer Hansen menemukan kuman, mycobacterium leprae, yang diketahui kemudian menjadi penyebab penyakit yang diderita Daeng Nannang.

Kuman kecil berbentuk batang itulah yang menentukan nasib Daeng Nannang 51 tahun terakhir ini. Mahluk renik itu pulalah yang membuatnya harus meninggalkan tempat kelahirannya di salah satu desa di Takalar. Waktu itu, pemerintah beranggapan bahwa mengisolasi penderita penyakit kusta adalah cara paling tepat untuk menyembuhkan penyakit ‘memalukan’ itu. Tahun 1976, mycobacterium leprae membawa Daeng Nannang pindah ke Makassar, ke sebuah leprosarium (perkampungan kusta) di mana ia tinggal hingga hari ini.

Sulawesi Selatan hingga saat ini masih termasuk salah satu provinsi yang memiliki penderita penyakit kusta terbesar di Indonesia. Di leprosarium itulah dia bertemu dengan Daeng Jampara, lelaki berusia dua tahun lebih tua yang kemudian menjadi suaminya. Bersama tiga orang anaknya, Daeng Nannang dan Daeng Jampara melakoni hidupnya sebagai pengemis di Jalan Mesjid Raya selama bertahun-tahun. Setelah satu per satu anaknya mulai harus bersekolah, Daeng Nannang harus terus menjalani pekerjaan itu sendiri untuk membantu suaminya yang mencari uang dengan menjadi tukang becak.

Kini, Daeng Nannang masih terus melakukan aktivitasnya sebagai pengemis meskipun anak-anaknya sudah memiliki penghasilan sendiri. Dua anak perempuannya, Isa (16) dan Arina (18), menjadi pelayan di sebuah kafe di Jalan Pengayoman. Anak sulungnya, Basri (21), mewarisi pekerjaan bapaknya sebagai tukang becak. Sementara Daeng Jampara yang kaki kanannya sudah diamputasi, harus lebih banyak tinggal di rumah. Dia sesekali bernostalgia dengan kembali menjadi peminta-minta di tempatnya dulu mangkal bersama Daeng Nannang jika merasa bosan tinggal di rumah.

***

MALAM itu, 7 Juni 2006, kami berkumpul di sebuah rumah dua petak berukuran enam kali tiga meter beratap potongan-potongan seng bekas dengan dinding terbuat dari tripleks dan papan yang dipenuhi bercak semen kering. Di rumah yang terhimpit di antara 145 rumah lainnya di areal seluas kira-kira 800 meter persegi itu, Isa dan Arina menemani saya berbincang. Kami menunggu Daeng Nannang pulang. Basri tak ada di rumah. Daeng Jampara berbaring di bilik belakang rumahnya.

Isa dan Arina bicara tentang pengalamannya sebagai pelayan di kafe tempat kerja. Sesekali mereka harus menjawab pertanyaan saya yang ingin tahu bagaimana perasaannya sebagai gadis yang pernah menjadi pengemis dan kedua orang tuanya menderita penyakit kusta. Tetapi selalu dengan setengah bercanda Isa menceritakan semuanya tanpa perasaan minder sama sekali. Saya memang sudah mengenal Isa sejak beberapa bulan sebelumnya saat ia menjadi penjaga warnet di dekat rumah.

Berbeda dengan Isa yang cerewet, Arina tak banyak bicara. Ia lebih banyak diam sambil menghayati lagu dangdut yang mengalun serak dari radio di rumah tetangga. Sesekali menyumbangkan tawanya ketika Isa melucu. Namun meskipun memiliki orangtua penderita kusta, keduanya tampak penuh percaya diri dan sama sekali tidak merasa perlu menyembunyikan latar belakang ayah dan ibu mereka. Lagipula, secara fisik, kedua gadis remaja ini tampak tidak ada bedanya dengan remaja lainnya: sehat, segar dan ceria. Meskipun hanya sempat menyelesaikan pendidikannya hingga SMP dan berasal dari keluarga penderita kusta, Isa, gadis periang bertubuh subur itu, tetap melihat hidupnya sebagai sebentuk kehidupan yang normal.

Di ruang tamu yang setiap malam menjadi kamar tidur bersama dua kakaknya itulah Isa menceritakan semua kisahnya. Mungkin karena ia lahir saat leprosarium itu sudah seperti saat ini, berbaur dengan penduduk lain dan pondokan mahasiswa yang banyak dibangun di sekitar daerah situ, Isa tidak merasakan tempat tinggalnya sebagai lokasi isolasi penderita kusta. Leprosarium itu kini tidak memiliki batas pemisah atau papan nama yang menegaskan bahwa terdapat sejumlah penderita kusta di kawasan ini.

Pukul 21.35, Daeng Nannang datang. Perempuan renta itu memaksa tersenyum ketika melihat saya berada di antara dua anak gadisnya. Ia hanya tersenyum, tanpa sepatah kata. Mungkin tak tahu harus mengatakan apa. Mata Daeng Nannang mengamati saya sebagai orang asing yang mencurigakan lalu masuk ke balik sekat yang memisahkan ruang tamu dengan ruang dalam untuk menemui suaminya. Mungkin ia lupa bahwa saya pernah menemuinya beberapa hari sebelumnya di tempat ia mangkal jadi pengemis.

Beberapa menit kemudian, Arina bangkit dari kursi plastik berwarna merah pudar yang didudukinya dan keluar meninggalkan saya dan Isa. “Dia ke warung depan membeli makanan,” kata Isa ketika saya bertanya Arina mau ke mana. Saya ingin melihat di mana Arina membeli makanan. Isa menemani saya keluar. Di sebuah warung di mulut lorong Arina membeli tempe dan tahu goreng, sayur bening, telur dadar, dan nasi.

Daeng Nannang dan penderita kusta lainnya yang hidup di RT 2/RW 2 kelurahan Tamalanrea Jaya itu cukup beruntung, karena di sekitar rumahnya banyak warung-warung yang menjual makanan yang relatif murah. Di warung-warung tempat mereka membeli makanan itu, mahasiswa pondokan juga sering membeli makanan. Meskipun, tentu saja, bukanlah para penderita kusta yang langsung membeli makanan itu. Mereka akan menggunakan jasa anak-anak mereka yang tidak menderita penyakit kusta. Daeng Nannang selalu khawatir membuat pelanggan warung-warung itu berkurang bila ia sendiri yang datang ke sana membeli makanan.

Rumah sempit Daeng Nannang hampir tak memiliki perlengkapan memasak. Sejak beberapa tahun terakhir, saat bermunculan banyak warung di sekitar rumahnya, mereka tak lagi pernah memasak di rumah kecuali tentu saja memasak air untuk minum. Bagi Daeng Nannang, selain merepotkan, memasak di rumah juga membutuhkan biaya yang lebih tinggi daripada membelinya di warung. Harga satu porsi nasi goreng di kafe tempat Isa bekerja bisa membiayai satu kali makan malam keluarga Daeng Nannang. Mereka hanya membutuhkan uang paling banyak sepuluh ribu rupiah untuk makan malam seluruh keluarga.

Tetapi, saya tahu bahwa makan malam kami malam itu sedikit istimewa dari biasanya. Mereka jarang membeli lauk lebih dari dua jenis. Sepiring nasi ditambah dua potong tahu atau tempe goreng sudah cukup bagi mereka. Di ruang tamu, kami duduk mengelilingi lima piring plastik yang ditata melingkar oleh Arina di lantai tanpa ubin. Sebuah baskom kecil hitam di tengah-tengah lingkaran itu berisi nasi. Di dekatnya dua mangkok berisi sayur dan juga masing-masing satu piring tahu, tempe, dan telur dadar. Di meja di sudut ruangan, terlihat beberapa gelas dan teko berisi air putih.

Saat Daeng Nannang dan Daeng Jampara keluar dari balik bilik belakang, Isa kembali bercanda. “Jangan ada kusta di antara kita.” Isa mempelesetkan judul sebuah lagu lama yang dipopulerkan Dewi Yull dan Broery Marantika, Jangan Ada Dusta di Antara Kita. Kalimat lucu itu terdengar sering sekali diucapkan oleh Isa, seolah-olah hal itu sudah sangat biasa. Arina tertawa menimpali kalimat adiknya. Daeng Nannang dan suaminya tak memperlihatkan sesuatu sebagai tanggapan dari kalimat anaknya itu. Saya berusaha menahan tawa. Daeng Jampara duduk di sebelah kiri saya. Daeng Nannang duduk di sebelah suaminya. Isa kemudian menyuruh saya lebih dulu mengambil nasi sebagai penghormatan kepada tamu. Dan makan malam pun dimulai.

Acara makan malam yang sangat sederhana itu tak banyak diselingi pembicaraan. Kedua orangtua itu tak sekalipun bicara. Hanya Isa yang sesekali meminta saya menambah makanan. Di antara keletihannya seharian dipanggang matahari, Daeng Nanang khusyuk menikmati makanannya hingga selesai. Sementara Daeng Jampara sesekali terbatuk. Jari-jari kedua orang tua itu yang sudah aus dimakan penyakit kusta, sehingga membuatnya susah menggenggam nasi yang ingin ditelannya. Dengan cara mendekatkan piring ke mulutnya, mereka melakukan usahanya untuk mempermudah proses makan.

Terlihat sudah sangat terlatih Daeng Nannang dan Daeng Jampara melakukan hal itu. Kecuali di baskom nasi dan di mangkok sayur, tak ada sendok lain di hadapan kami. Sendok justru menjadi benda yang menyusahkan bagi orang-orang yang cacat karena kusta. Di luar rumah, suara musik dangdut dari speaker yang pecah, percakapan tetangga dengan bahasa Makassar yang kasar, tawa orang-orang dari kejauhan, dan suara kendaraan menjadi suara latar makan malam kami yang khidmat. Saya berusaha tetap menunjukkan sikap antusias. Inilah saat dimana saya merasakan tantangan menujukkan sikap anti-diskriminasi terhadap penderita kusta. Seruan semacam ini bukan hal yang baru bagi saya. Tapi ketika harus melakukannya sendiri, saya sadar, betapa sulitnya.

Sepanjang makan malam itu, saya mengingat film yang diadaptasi dari catatan harian Che Guevara, The Motorcycle Diaries. Saya selalu dibayangi adegan-adegan saat mahasiswa kedokteran itu berada di sebuah leprosarium di Huambro, Peru. Saat makan bersama, saat bermain bola melawan lelaki-lelaki dengan kaki buntung, dan saat menjabat tangan-tangan para penderita kusta tanpa mengenakan kaos tangan. Sengaja saya mengenang adegan-adegan yang saya tonton beberapa kali sebelum berani melakukan makan malam bersama keluarga Daeng Nannang agar tidak menampakkan mimik jijik di hadapan mereka.

Tak banyak yang tahu bahwa penyakit kusta adalah penyakit menular yang paling tidak menular. Jika tidak ada kontak langsung yang intens dalam jangka waktu lama, bakteri penyebab penyakit itu akan sulit menyerang saraf orang sehat. Namun miskinnya pemahaman akan hal itu membuat kebanyakan orang tidak mau berada di sekitar penderita kusta karena takut tertular. Mungkin karena hal yang sama pulalah sehingga pemerintah akhirnya membuat leprosarium untuk mengisolasi para penderita kusta. Tindakan isolasi ini yang justru telah membuat Daeng Nannang dan suaminya semakin yakin bahwa penyakit yang mereka derita adalah aib yang sangat memalukan.

Berdasarkan laporan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) 2004, Indonesia ternyata menempati urutan ketiga negara yang memiliki penderita penyakit kusta terbanyak di dunia setelah India dan Brasil. Total jumlah kasus di dunia 497.791 kasus. India menjadi penyumbang terbesar dengan 260.063 kasus, Brasil 49.384 kasus, dan Indonesia 16.549 kasus. Penyakit yang menurut sejarahnya telah ditemukan di India sekitar 1.500 tahun sebelum Masehi itu, sebenarnya telah membuat pemerintah Indonesia melakukan berbagai usaha untuk mengurangi angka penderita kusta.

Berbagai metode pengobatan diusahakan agar mereka bisa sembuh. Mereka bisa mengunjungi rumah sakit kusta sesering mungkin dan mendapatkan obat-obatan secara gratis. Hasilnya memang terlihat nyata, selama sepuluh tahun terakhir jumlah penderita kusta di Indonesia menurun drastis dari 60.000 pasien menjadi kurang dari 10.000. Namun efek psikologis penyakit itu tak mampu diminimalkan. Sehingga hampir 100% penderita dan mantan penderita penyakit kusta hidup di bawah garis kemiskinan dan tetap tersisih dari kehidupan bermasyarakat.

Sementara bantuan 10 kilogram beras perbulan dari pemerintah, yang sekarang diganti dengan uang sepuluh ribu rupiah, tentu tak mampu membuat Daeng Nannang dan keluarganya bertahan hidup jika tak mencari pekerjaan lain. Sayang sekali, tak banyak pilihan jenis pekerjaan yang mereka bisa jalani.

***

SEUSAI makan malam, saya meminta Daeng Nannang dan Daeng Jampara duduk berbincang bersama kami di ruang tamu. Keduanya tak keberatan. Mereka duduk dan menceritakan banyak kisah hidupnya selama menjadi penderita penyakit kusta dan pekerjaannya sebagai pengemis dengan bahasa Indonesia yang kacau bercampur bahasa Makassar yang kental. Isa membantu sebagai penerjemah. Kelihaian anak bungsu itu mencairkan suasana, membuat Daeng Nannang dan suaminya akhirnya menghapus rasa segan dan kekakuan di antara kami. Berkali-kali kedua orang itu memperlihatkan kaki dan tangan mereka yang dimakan penyakit kusta.

Berbagai kisah dramatis mereka ceritakan sebelum akhirnya saya pamit pulang dari rumah keluarga sederhana itu. Salah satunya adalah ketika sepasang penderita kusta menikah pada bulan Desember 1979. Itulah pernikahan mereka. Hari dan tanggal tepatnya peristiwa itu tak mereka ingat dan tentu saja tak ada foto kenangan pernikahan. Isa menggoda ketika bapak dan ibunya bercerita tentang hal itu.

Bagi Daeng Jampara yang dikenal sabar oleh anak-anaknya, hidup ini harus tetap dijalani, semalang apapun. Ia tak pernah menyesali nasib yang dideritanya. Baginya, inilah kehendak Tuhan yang harus diterima dan dijalani. Meskipun harus menjadi peminta-minta, pekerjaan yang juga sama memalukannya seperti halnya penyakit kusta sendiri. “Saya melarang anak-anak saya mengeluh dan iri melihat orang lain. Kami masih bisa bersyukur sebab ada nasi yang tersedia untuk di makan,” kata Daeng Jampara.

Saya sangat terkesan pada keakraban dan kehangatan keluarga itu. Di tengah-tengah himpitan hidup yang berat, mereka tetap bisa mengembangkan senyumnya ketika Isa, puteri bungsu mereka melontarkan kalimat-kalimat lucu dan menggoda. Di tengah susahnya hidup menghadapi cemoohan dan sikap diskriminatif orang-orang di sekitarnya, mereka tetap bisa menciptakan kehangatan sebagai sebuah keluarga, dengan menyempatkan makan malam bersama, meskipun tentunya tidak setiap saat.

Keluarga itu tidak mengenal makan siang bersama. Olehnya itu, makan malam adalah satu-satunya kesempatan untuk menikmati kebersamaan. Kehangatan keluarga Daeng Nannang yang saya nikmati malam itu bukankah justru kadang susah ditemukan di tengah-tengah keluarga yang memiliki nasib yang lebih baik dari mereka? Malam sudah beranjak larut meskipun suara musik dangdut dari rumah sebelah belum dikecilkan. Meskipun Isa belum berhenti bercanda dan Arina menimpalinya dengan tawa, namun, saya melihat beberapa kali Daeng Nannang berusaha menyembunyikan kantuknya dengan berpaling dan menutup mulutnya dengan sarung saat menguap.

Saya akhirnya pamit dan mengucapkan terima kasih untuk makan malamnya. Malam itu adalah malam yang istimewa, yang ditandai dengan makan malam sederhana bersama keluarga Daeng Nannang di Leprosarium Tamalanrea. (p! ) *Citizen reporter M. Aan Mansyur adalah pengelola Kafe Baca Bibliocholic di Makassar, dapat dihubungi melalui email luarkurung@yahoo.co.id

Rubrik: KABAR KITA

1 Comment Add your own

  • 1. panyingkul.com » Su&hellip  |  August 1st, 2006 at 8:29 am

    [...] Setiap bulan Panyingkul! mengadakan eksperimen citizen journalism untuk menguji sejauh mana gairah bercerita para citizen reporter dapat dikembangkan terhadap suatu peristiwa. Bulan Juli lalu kami mencoba menggali kisah-kisah menarik dari salah satu kegiatan yang paling sering dilakukan: makan. Apakah kebiasaan makan dan menu yang disantap bisa menjadi cerita menarik? M. Aan Mansyur menawarkan tulisan Catatan Makan Malam Bersama Keluarga Daeng Nannang, untuk menelusuri kehidupan sebuah keluarga penderita kusta di Leprosarium Tamalanrea Makassar. Sedangkan Nurhady Sirimorok bercerita tentang upaya sebuah panti asuhan menyiapkan menu bagi puluhan anak yatim piatu dalam Ikan Tembang di Meja Makan Panti Asuhan. (p!)    [...]

Leave a Comment

Required

Required, hidden

Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Rubrik