panyingkul.com Blog » Gelisah Sunarto Menunggu BOS

Gelisah Sunarto Menunggu BOS

August 2006 Editor Panyingkul

suasana belajar mengajar (foto:beritajakarta.com)Segerombolan anak berseragam SMP, tidak seperti biasanya, menegur seorang pemulung muda yang tampaknya seusia dengan mereka. Anak-anak berpakaian baru itu menanyakan mengapa sang pemulung itu tidak sekolah. Lalu muncullah seorang selebriti, mengatakan bahwa pemulung itu sebenarnya bisa sekolah dengan dana Bantuan Operasional Sekolah, atau lebih dikenal dengan BOS. Dan masalah pun selesai: anak itu bisa sekolah lagi.

Iklan yang kerap muncul di televisi inilah yang membuat Sunarto (36) yakin kebenaran kabar santer bahwa dana tersebut sudah turun ke sekolah-sekolah. Namun, tampaknya ia harus menyurutkan harapannya pada dana itu.

Tahun ini, sebagaimana tahun-tahun sebelumnya, tidak ada keringanan bagi putri pertamanya, Titin Sumarni, yang hendak masuk salah satu SMP favorit di Makassar, SMP 24. Meski tiap hari nangkring di tepi jalan sebagai tukang becak ia mesti membayar ‘uang masuk’ yang jumlahnya sama dengan orangtua lainnya.

***

Semua itu bermula saat ia membaca fotokopian pengumuman lulus SMP 24 yang dijual tukang becak lain di luar pagar sekolah itu. Demi melihat nomor tes anaknya tertera di daftar lulus yang dilansir koran hari itu, ia langsung memberitahu orang-orang. Ia sangat gembira.

Harapannya untuk menyekolahkan puteri sulungnya itu kembali menyala. Sebelumnya ia telah mewanti-wanti anaknya, bahwa bila harus masuk ke sekolah swasta yang mahal, ia tidak akan sanggup. Sambil berdebar-debar menanti keluarnya angka yang harus ia bayar untuk uang masuk, mulailah Sunarto menghitung-hitung pendapatannya, sekedar untuk menyiapkan diri.

Namun, ternyata ia harus memutar otak dan otot lebih keras karena uang masuk ternyata jumlahnya tidak tanggung-tanggung untuk pendapatannya yang pas-pasan. Dengan mendapatkan bahan pakaian seragam bercorak batik dan putih untuk masing-masing bahan sepotong baju dan kain biru untuk satu rok sekolah — belum ongkos jahit yang harus ditanggung sendiri — dan sepasang kaos olah raga, ia harus membayar Rp. 365.000. Waktu itu ia langsung bingung, sebab itu bukan satu-satunya biaya yang harus dia keluarkan. Titin masih punya tiga orang adik, Dwi (kelas 5 SD), Budi (kelas 2 SD) dan Dino (TK), masing-masing butuh seragam dan perlengkapan sekolah baru. Bahkan Dino yang baru masuk TK harus membayar uang pangkal lebih dari Rp. 90.000.

Apa daya, ia hanya seorang tukang becak, dengan pendapatan rata-rata Rp. 20.000 per hari. Dari pagi sampai sore, ia mengantar penumpang di sekitar Jalan Andi Tonro di bagian selatan Makassar. Apalagi, menurutnya, ia baru saja kehilangan seorang pelanggan setianya, seorang gadis muda yang tiap hari menggunakan jasanya, yang baru saja dipersunting dan diboyong suaminya. Tentu pendapatannya jauh dari mencukupi.

***

Untuk menambal biaya sekolah ia bekerja sebisanya. Sore hari setelah arus pulang sekolah usai, dan penumpang semakin menyusut, Sunarto pun beralih profesi. Di tempat mangkalnya memang tak banyak penumpang setelah para anak sekolah tiba di rumah masing-masing.

Bersama putranya, Dwi, yang duduk di kelas 5 sekolah dasar, ia menjalankan becak untuk sebuah petualangan panjang, yang dimulai pukul 4 sore. Mereka memulai di Jalan Andi Tonro ke arah Jalan Sultan Alauddin lalu menyusuri Jalan Andi Pangerang Pettarani, kemudian belok ke Jalan Urip Sumoharjo menuju Karebosi, lalu berbelok lagi ke Botolempangan, terus ke Jalan Cendrawasih.

Terkadang menjelajah hingga Jalan Rajawali, lalu berbelok lagi ke utara lewat beberapan jalan kecil untuk kembali ke rumahnya. Ayah dan anak itu memulung barang bekas di sepanjang jalan yang dilaluinya.

Anak laki-lakinya, Dwi, adalah gambaran pemulung muda yang persis sama dengan profil anak di iklan layanan masyarakat tentang BOS itu. Sembari Sumanto mengayuh becak pelan-pelan, anaknya berjalan ke sana ke mari mencari plastik bekas. Paling banyak yang mereka pungut adalah botol plastik bekas air mineral. Untuk mengelilingi separuh kota, yang jaraknya merentang sekitar 20 kilometer, mereka baru tiba di rumah pada pukul 8 malam. Dan, “kalau rajin, dalam satu minggu mereka akan mendapatkan Rp. 50.000.”

***

Seluruh pendapatan itu hanya bisa menutupi biaya hidup sehari-hari mereka. Mereka mesti meminjam uang untuk menutupi pengeluaran yang sifatnya mendadak dan berjumlah besar. Pria asal Pemalang, Jawa Tengah, itu berharap bisa beralih profesi dengan berjualan atau membyuka warung, namun sejauh ini masih terbentur dinding modal. Sejak tiba di Makassar tujuh tahun lalu ia sudah mencoba beberapa pekerjaan, antara lain menjadi pekerja bangunan dan membantu pembuatan beton untuk cincin sumur, namun semuanya ia tinggalkan karena pendapatannya tidak sebanding dengan beban kerja yang terlampau berat.

Kini Sumanto gelisah menunggu. Ia tengah menanti kapan rapat guru dan orangtua di SMP anaknya akan berlangsung. Ia dengar bahwa rapat itu akan membicarakan berapa besar uang pembangunan dan uang buku yang diwajibkan untuk setiap siswa. Beberapa hari sebelumnya, ia baru saja mengeluarkan uang Rp. 90.000 untuk membeli tiga buah buku pelajaran yang diwajibkan oleh sekolah bagi anaknya yang baru duduk di sekolah dasar.

“Pasti akan ada permintaan uang untuk buku pelajaran,” tegasnya dengan sangat yakin ketika ditanya tentang kemungkinan pengeluaran lagi untuk putrinya, Titin. Nada suaranya begitu berat ketika menjawab pertanyaan itu.

Tapi Sumanto tak menyerah dan ingin membuktikan dukungannya bagi anaknya yang bercita-cita menjadi perawat. Sumanto sangat menyukai cita-cita mulia itu. “Saya akan menyekolahkan mereka semampu saya,” katanya, dan masih dalam nada getir dia menyambung, “Anak-anak saya, kalau bisa, jangan sampai ada yang jadi pagoyang (tukang becak) atau payabo (pemulung).”

Dan, meski ragu, ia tidak pernah berhenti berharap agar dana BOS bisa meringankan bebannya. “Katanya dana itu untuk bantu anak sekolah, terutama orang yang tidak mampu,” jelasnya. Apakah dana BOS akan sampai ke tujuan? Itu masih harus ditunggu.

Dalam berita yang dilansir Harian Fajar, Kamis 27 Juli lalu, disebutkan bahwa Sulsel menerima kucuran sebesar Rp. 33 Milyar, dengan alokasi berupa pengadaan buku paket untuk 1.038.802 murid SD, 338.477 siswa SMP, dan 1.377.279 siswa SMA.

Namun, lebih seminggu sebelumnya Harian Tribun Timur edisi 18 Juli telah menurunkan laporan panjang tentang ketidaksesuaian pernyataan Kepala Dinas Pendidikan Kota Makassar dengan kenyataan yang terjadi di sekolah-sekolah. Kepala Dinas melarang sekolah memungut pembayaran uang masuk, dan faktanya banyak sekolah tetap menjalankannya dengan berbagai alasan. Berita seputar BOS dan pelaksanannya boleh jadi tidak sampai ke telinga Sumanto.

Hari ini ia tengah berjibaku mengumpulkan uang demi membayar hutang-hutangnya. Ia terpaksa berhutang agar bisa menyetor biaya pendidikan yang sangat besar itu agar anak-anaknya masih bisa terus sekolah.

***

Pagi semakin meninggi, sudah pukul 09.30, namun belum satu pun penumpang yang meminta jasanya. Kecemasan jelas terlukis di wajahnya, mungkin dia teringat Fausiah, isterinya, yang tengah menantinya di rumah berharap membawa kejutan yang mungkin tak bisa dia penuhinya hari ini. Perempuan asal Leko’ Bo’dong, Takalar, itu dipersuntingnya di Samarinda tahun 1994, ketika mereka sama-sama bekerja di salah satu pabrik plywood yang ada di sana. Keduanya lalu terkena PHK dan mesti menjalani hidup yang lebih keras di Makassar.

Sunarto mengibaratkan keberhasilan pendidikan anak-anaknya adalah taruhan terbesar bagi hidupnya. “Sudah 13 tahun saya tak pernah pulang kampung. Tak punya biaya. Yang saya usahakan sekarang adalah bagaimana mencari uang lebih agar anak-anak tidak putus sekolah”.

Ia tentu saja rindu untuk pulang kampung, suatu waktu nanti. Namun saat ini keinginan tersebut tampaknya terlalu mewah baginya. Meski, kerinduan itu semakin menguat akhir-akhir ini sebab ia pun galau menanti kabar tentang ayahnya, Ropii, yang bekerja sebagai nelayan di Cilacap. Daerah itu baru saja tersapu tsunami dan menelan korban lebih dari enam ratus jiwa (p!).

*Citizen reporter Nurhady Sirimorok adalah peneliti, penerjemah, dan peminat masalah budaya dan sosial, dapat dihubungi melalui email: nurhadys@gmail.com

Rubrik: KABAR KITA

Leave a Comment

Required

Required, hidden

Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Rubrik