Mandiri di Negeri Rawan Bencana
August 2006 Editor Panyingkul
Citizen reporter Nesia Andriana berbagi kiat praktis menghadapi gempa, berdasarkan informasi yang dipelajarinya melalui penyuluhan dan latihan antisipasi bencana di Jepang. Dengan informasi yang memadai, rasa panik menghadapi bencana bisa berubah menjadi sikap antisipatif.(p!)
Belakangan ini, masyarakat diresahkan dengan berbagai isu akan terjadinya bencana alam, terutama gempa dan tsunami. Suasana panik dilaporkan media massa : para pegawai yang bertempat di gedung-gedung tinggi berhamburan keluar dengan panik, beberapa sekolah memulangkan siswanya lebih cepat, orang-orang saling berkiriman sms minta maaf sebagai wujud persiapan menyambut mati yang dirasakan sudah begitu dekat (seperti yang antara lain diberitakan Kompas, 24 Juli 2006).
Pekan lalu di sejumlah kabupaten wilayah selatan di Provinsi Sulawesi Selatan, bahkan sempat terjadi arus pengungsian yang cukup besar di malam hari, lantaran air laut tiba-tiba surut beberapa meter dari garis pantai. Arus panik ini bahkan menelan satu korban jiwa di Kabupaten Jeneponto, seorang pasien tipes berusia 40 tahun yang juga memaksakan diri mengungsi meski sedang sakit parah (Harian Tribun Timur, Makassar 27 Juli 2006).
Membaca berita tentang kekalutan warga menghadapi isu bencana, dapat terbayangkan betapa akal sehat dan sikap tenang menghadapi bencana merupakan hal yang sangat penting. Sebagai warga negara Indonesia yang telah lima tahun lebih tinggal di Jepang, goyangan gempa bukan lagi hal yang baru buat saya. Pada tahun pertama kedatangan, rasa panik saat gempa memang sulit dikendalikan. Namun sejalan dengan seringnya mendapat penyuluhan dari berbagai media dan lembaga publik lainnya, pelan-pelan ketakutan dan kepanikan itu mulai dapat dinetralisir dan di sebaliknya kini saya makin memiliki sikap antisipatif menghadapi bencana. Tidak reaktif dan panik. Selama mengikuti penyuluhan tentang bencana alam, saya sadar bahwa justru warga sendirilah yang menjadi penentu keselamatan yang paling utama, entah secara individual maupun berkelompok.
Pelajaran berharga yang saya pelajari dari penyuluhan semacam ini adalah bahwa di tengah situasi genting sekalipun kita tetap harus mengedepankan akal sehat dan tahu apa yang harus dilakukan. Artinya, bencana senantiasa dihadapi dengan pendekatan antisipatif. Warga benar-benar diaktifkan untuk melakukan persiapan-persiapan dini bersama menghadapi kemungkinan bencana alam.
Jepang sebagai negara rawan gempa (dengan jumlah gempa mencapai 5.000 kali per tahun) melakukan upaya maksimal dalam memberikan penyuluhan tentang gempa (dan bencana lainnya), dengan pandangan bahwa ada sektor penanganan bencana yang memang harus melibatkan masyarakat secara aktif, selain berbagai antisipasi bencana yang menjadi tanggung jawab pemerintah.
Kiat Praktis
Ada beberapa hal yang telah tersosialisasikan dengan cukup baik di tengah masyarakat Jepang, sebagai usaha pemerintah mengantisipasi bencana alam. Setidaknya, berdasarkan pengalaman saya sebagai seorang ibu rumah tangga, terasa sekali bahwa informasi terkait bencana diupayakan terdistribusi secara luas. Bila para profesioal mendapatkan pelatihan menghadapi bencana di tempat-tempat kerja mereka (hal yang memang wajib diadakan oleh setiap perusahaan), maka warga biasa termasuk ibu rumah tangga dan anak-anak, mendapatkan penyuluhan di sekolah dan kantor pemerintah lokal. Simulasi evakuasi biasanya diadakan di sekolah atau tempat terbuka lainnya sekali atau dua kali dalam setahun, sementara informasi praktis menghadapi bencana termuat dalam buku panduan yang diterbitkan pemerintah daerah.
Dalam hal persiapan yang bisa dilakukan setiap individu secara mandiri, salah satunya adalah dengan menyiapkan satu tas yang akan segera diambil bila terjadi bencana. Pemerintah menghimbau agar tas itu sebaiknya terdiri dari satu tas saja, tidak berupa pecahan beberapa kantong, agar tetap bisa terambil dalam kondisi darurat. Tas yang biasa disebut “ransel bencana” itu berisi dokumen-dokumen penting seperti ijazah, paspor, akte kelahiran, handuk, air minum botolan, makanan instant, senter, pemantik api, lilin, daftar nama, usia dan jenis kelamin seluruh anggota keluarga yang serumah dan radio mini
Selain ransel bencana itu, masyarakat juga dihimbau untuk mengetahui jalur pulang mereka dari sekolah atau tempat kerja dengan berjalan kaki. Ini sebagai bentuk antisipasi bila kendaraan umum seperti kereta, bus, atau bahkan mobil pribadi tak mungkin digunakan. Kadang-kadang juga ada himbauan di media elektronik untuk para pekerja, agar memprioritaskan memakai alas kaki yang cukup bisa diandalkan untuk berjalan jauh. Terutama buat para pegawai wanita, yang sering memilih memakai sepatu hak tinggi, yang tentunya sangat tidak kondusif untuk situasi darurat.
Untuk persiapan keluarga, pemerintah meminta agar para orang tua mengkomunikasikan pada anak-anak apa yang harus dilakukan bila terjadi bencana. Khususnya untuk gempa, sudah dipelajari bagian-bagian rumah yang cukup aman untuk dijadikan tempat berlindung. Prinsip “drop, cover and hold” diusahakan untuk diulang secara berkala agar diingat dan dimengerti seluruh anggota keluarga, terutama anak-anak. Di antara beberapa hal yang dirasakan perlu diulang-ulang agar benar-benar tersosialisasikan adalah, bila terjadi gempa, jangan berlari keluar rumah, hindari tangga dan pintu. Lebih lengkap soal ini mudah didapatkan di selebaran yang dibagikan kelurahan, juga banyak tersedia di internet.
Pemerintah lokal tingkat kecamatan hingga kelurahan bahkan telah menginformasikan titik-titik evakuasi dalam setiap satuan wilayah kecil. Penduduk diberi selebaran secara berkala, terutama pada musim latihan antisipasi bencana, agar tiap orang mengerti lokasi evakuasi yang mesti mereka tuju dalam kondisi darurat. Papan-papan petunjuk arah menuju lokasi evakuasi juga telah terpancang di pinggir-pinggir jalan. Lokasi evakuasi umumnya adalah fasilitas umum seperti gedung sekolah atau taman dan tempat terbuka lainnya.
Di setiap rumah juga telah disiapkan satu tabung pemadam kebakaran. Juga di pinggir jalan utama, disediakan tiang-tiang yang bisa segera dipatahkan sebagai sumber air bila terjadi kebakaran dalam skala besar dan petugas pemadam kebakaran tak bisa difungsikan. Kerusakan akibat gempa dapat memicu kebocoran saluran gas dan gangguan listrik, yang kemudian menyebabkan kebakaran besar. Gempa Hanshin Awaji di Kobe pada tahun 1995 yang menelan korab lebih 4.000 jiwa, diikuti oleh kebakaran besar di seluruh kota itu.
“Akrab” dengan Bencana
Dalam lima tahun terakhir ini saya merasakan betapa pentingnya melatih kemandirian menghadapi bencana. Gencarnya latihan dan simulasi menjadikan saya merasa “akrab” dengan bencana. Latihan antisipasi bencana alam dilakukan secara berkala di seluruh Jepang. Baik di tingkat kelurahan, juga di setiap sekolah dari TK sampai universitas, juga di tempat-tempat kerja.
Khususnya di sekolah, anak-anak diwajibkan untuk memakai alas duduk yang terdiri dari dua susun bantal persegi panjang yang terjahit dua sisinya sementara satu sisi panjang lainnya hanya diberi karet dan sisi yang lainnya lagi dibiarkan terlepas satu sama lain. Bila terjadi gempa, anak-anak akan memakai alas duduk ini sebagai penutup kepala yang diharapkan bisa menjadi pelindung darurat dari pecahan kaca.
Selain alas duduk tersebut, di setiap kelas juga telah dibuat beberapa kelompok yang telah disusun sebagai telepon berantai. Semua orang tua diberi daftar jalur telepon, sehingga dalam keadaan darurat, cukup satu guru kelas yang menghubungi empat orang pertama, lalu empat orang ini akan meneruskan berita sesuai jalur kelompok telepon berantai yang telah dibuat.
Dalam simulasi antisipasi bencana berkala, sistem telepon berantai ini benar-benar dilaksanakan agar bisa dicek keefektifannya. Di antara hal yang sering menyebabkan sistem telepon berantai ini digunakan adalah seperti perlunya memberi peringatan ke lingkungan sekolah dan keluarga siswa akan adanya oknum-oknum yang dikhawatirkan membahayakan anak-anak, seperti orang yang kurang waras, atau orang yang terlihat membawa senjata. Juga ketika hujan sangat deras, dan sekolah memutuskan untuk memulangkan siswa lebih cepat karena khawatir terjadi banjir. Pihak sekolah juga sudah mempersiapkan orang tua angkat setiap anak, yang ditetapkan jauh-jauh hari sebelumnya, sebagai antisipasi bilasaja orang tua yang bersangkutan tidak bisa dihubungi di saat darurat.
Bila mencermati apa yang dilakukan di Jepang, di mana cukup banyak kiat praktis dan sederhana menghadapi bencana yang tidak membutuhkan biaya besar, pemerintah dan masyarakat di Indonesia sudah sewajarnya tidak sekadar berdebat tentang kesiapan bencana di tanah air yang berfokus pada minimnya anggaran dan infrastuktur. Banyak kiat praktis dan latihan antisipasi bencana dengan skala kecil-menengah yang dapat segera dimulai di berbagai daerah. Tentu saja dimulai dengan pijakan dasar bahwa masyarakat yang menjadi penggerak.
Kembali ke soal isu tsunami yang menelan korban di Jeneponto pekan lalu, saya membayangkan kepanikan yang tidak perlu itu sebenarnya bisa diatasi seandainya seandainya penduduk memiliki pengetahuan yang cukup bahwa perairan di wilayah itu adalah lingkungan laut yang tertutup, yang kemungkinan tsunaminya sangat kecil (apalagi bila tidak didahului gempa). Berbeda misalnya, dengan pantai terluar pulau Jawa, Sumatera, Bali, yang memang berhadapan langsung dengan laut terbuka. Mempelajari gejala alam dan informasi umum kondisi alam tempat di mana kita tinggal, adalah mutlak bagi siapa saja yang hidup di negara rawan bencana.
Di Jepang, seluruh wilayah yang rawan tsunami ini telah dipasangi sangat banyak papan pengumuman berisi apa yang harus dilakukan bila muncul peringatan tsunami. Khususnya di Hokkaido yang pernah diterpa tsunami paling sedikit tiga kali : 1730 (130.000 orang tewas), 1993 (200 orang tewas), 2003 (500 orang tewas), bahkan telah mulai dibangun menara-menara khusus penyelamatan diri. (*)
*Citizen reporter Nesia Andriana adalah seorang ibu rumah tangga, tinggal di Shirahata Jepang, dapat dihubungi melalui nesiari@yahoo.com
Rubrik: KABAR KITA
Leave a Comment
Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>
Trackback this post | Subscribe to the comments via RSS Feed