panyingkul.com Blog » KITAKITA

KITAKITA

    Jika Anda di Panyingkul! 

Media telah mencapai fase konvergensi yang sekaligus menawarkan keserbaunggulan puncak-puncak revolusi sarana komunikasi. Jika pers telah memperluas percakapan sehari-hari, radio dan kemudian televisi lebih mempercepat proses itu. Internet bahkan membuatnya kian cepat lagi.

Ketika Tsunami Samudera Hindia menghantam pada tanggal 24 Desember 2004, warga di desa-desa pertanian Swedia — wilayah di belahan utara bumi yang puluhan ribu kilometer jaraknya dari area bencana — memperoleh kepastian keselamatan keluarga mereka lewat gambar-gambar real time berkat perpaduan teknologi digital kamera dan internet. Seorang turis yang mengalami peristiwa ini hanya memerlukan akses internet untuk mengabarkan kepada siapa saja, di mana saja, foto-foto dan video dari kamera digitalnya. Ia telah mengambil peran yang pada fase sebelumnya dimainkan dengan bangga oleh para reporter, para jurnalis, para editor.

Sudut pandang orang-orang biasa semakin tak bisa diabaikan. Di atas keserbacepatan informasi, ia kemudian tampil dominan. Catatan harian, dialog sehari-hari, opini dan kesaksian atas peristiwa yang disampaikan siapa saja, dari mana saja, di website dan webblog, menjadi genre baru bentuk komunikasi umat manusia yang kian marak saat ini.

Ini beriringan pula dengan kondisi krisis kredibilitas media massa mainstream di mana-mana. “Jurnalisme resmi” telah kehilangan landasan filosofis untuk terus bersombong diri dan mendiktekan apa yang sebaiknya diketahui atau tidak diketahui oleh publik. Ruang-ruang redaksi kian sulit menghindarkan rutin itu: mencoba tidak bias, obyektif, imparsial, terus-menerus, dari hari ke hari, ketika publik telah mempunyai akses masing-masing yang ternyata amat mudah dan murah ke sebuah peristiwa yang sama. Pada persilangan ini, orang dengan gampang kecewa, misalnya, setelah dengan mudah dan, sekali lagi amat murah, dapat mendeteksi ketidakakuratan media massa. Keserbacepatan dan keserbamudahan informasi telah melahirkan tantangan luar biasa pada elitisme media mainstream.

Tantangan itu bernama “jurnalisme orang biasa”, yang lahir dalam dekade terakhir ini di berbagai belahan dunia. Ada yang menyebutnya media akar rumput, media komunitas, media alternatif, netizen, atau citizen journalism. Semangat yang diusung adalah menjadi bagian dari ekosistem media secara keseluruhan dan mengharapkan terjadinya dialog dinamis dengan melibatkan masyarakat biasa dalam proses lahirnya sebuah berita.

Kami pun hendak menjadi bagian dari ekosistem media ini, dan merayakan “jurnalisme orang biasa”. Kami menyebutnya: Panyingkul! Sebuah Junction. Penanda persilangan dari segala arah. Ia ingin mendekati peristiwa, yang juga didekati oleh media mainstream, dengan sudut pandang orang biasa. Ia, misalnya, berada di tepi jalan ketika arak-arakan demonstrasi buruh lewat. Pada saat yang lain, ia mungkin berada di tengah-tengah buruh itu sendiri. Ia bisa tiba-tiba berada di rumah walikota atau gubernur, kemudian juga hadir di kamar pribadi para pegawai rendah. Ia mengembangkan gairah bercerita, bukan sekadar melaporkan peristiwa. Ia antara lain, misalnya, membagi kesan-kesan mendalam tentang kemiskinan, dan bukan sekadar mengabarkan berapa jumlah orang yang dikategorikan miskin, di suatu tempat, di suatu masa.

Berangkat dari gairah bercerita inilah, kami tidak mengembangkan jurnalisme yang angkuh dan tentu tak pernah berangan-angan untuk menjadi bagian dari elitisme media mainstream. Jurnalisme kami adalah berbagi dengan segenap inisiatif dan gairah. Berbagi kabar, juga impresi, bahkan emosi yang menyertainya, seperti dalam kehidupan sehari-hari kala kita saling bertukar cerita. Sekali lagi, ia tidak hanya melaporkan, ia ingin membagi kesan-kesan. Dan, ia mendambakan dialog. Ia ingin memungut kembali pelbagai aspek yang cenderung diabaikan media mainstream. Ia, dengan demikian, tidak ingin acuh pada sekitar. Ia, dengan demikian senantiasa menumbuhkan sikap peduli dan berempati pada kehidupan orang-orang biasa.

Jika Anda di Panyingkul!, Anda akan merayakan jurnalisme orang biasa, orang-orang yang telah merebut kembali hak-haknya yang tidak lagi mendapat banyak tempat di media mainstream. (p!)

KELAHIRAN PANYINGKUL!

Kelahiran Panyingkul! diwujudkan atas kerjasama The Private Editors (Tokyo), Nesia Inc. (Kanagawa), Dekat Rumah Project (Jakarta), Kafe Baca Bibliocholic (Makassar), Penerbit Ininnawa (Makassar), Esso Wenni (Amsterdam).

Tim Produksi Panyingkul! adalah Lily Yulianti Farid, Moch. Hasymi Ibrahim, Farid Ma`ruf Ibrahim, Nesia Andriana, M. Aan Mansyur dan Rahmat Hidayat.

Proses editorial dikerjakan oleh The Private Editors dan Dekat Rumah Project. Desain situs web dan visualisasi dikerjakan oleh Nesia Andriana. dan Ariawan. Pengembangan usaha ditangani oleh Moch. Hasymi Ibrahim dan Anwar J. Rachman. Relasi media dan kerjasama ditangani oleh M. Aan Mansyur.Promosi ditangani oleh Rahmat Hidayat.

PANYINGKUL! mengucapkan terima kasih atas dukungan material dan moril dari Sudirman H.N. (Melbourne, Australia), Hendra G.S.T. (New Castle, Australia), Azhari Sastranegara (Kanagawa, Jepang). Juga kepada fotografer Muhammad Nur Abdurrahman, serta desainer Panyingkul! versi awal, Akbar Dg. Leo.

Isi Panyingkul! dapat dikutip dengan menyebutkan sumber yang disertai pemberitahuan kepada redaksi melalui email: redaksi@panyingkul.com
(p!)

 Alamat Redaksi Panyingkul!

Jln. Perintis Kemerdekaan No. 76 Km. 9

    (depan PT. Mercedes Timur Permai)

     Tamalanrea, Makassar – INDONESIA 90245

 Telp. 0411-586459

Personal Kontak: M Aan Mansyur