Untitled Document
 


Untitled Document
.KITAKITA
:: Jika Anda di Panyingkul ::
 
 KABAR KITA
 
 BERANDAKITA
Kegilaan, Dari Cinta Mati di Pulau Rajuni Hingga Riwayat Kadang
:: Ivan Firdaus ::
Baba Guru, Mengenang Film Rhoma Irama di Klenteng Galesong
:: Kamaruddin Azis ::
Mengagumi Tenun Troso, Mengenang Tenun Sengkang
:: Suryadin Laoddang ::
Perempuan Besi di Gunung Perak (2-selesai)
:: M. Aan Mansyur ::
Perempuan Besi di Gunung Perak (1)
:: M. Aan Mansyur ::
 
 RISETKITA
Rasa Takut : Yang Dicitrakan, Yang Dipelihara
:: Aria W. Yudhistira ::
Risetkita: Pramoedya versus Sejarah Resmi
:: Nurhady Sirimorok ::
Hikayat Rumpon Nelayan Mandar
:: Muhammad Ridwan Alimuddin ::
Di Makassar Pernah Ada “Negeri Wajo”
:: Nurhady Sirimorok ::
Surat Itu Ditulis Upas kepada September
:: Nurhady Sirimorok ::
 
 BUKUKITA
 
 KATAKOTAKITA
Kenapa si Gondrong yang Maju?
:: Ivan Firdaus dan Mustamin al-Mandary ::
Karena ‘Rewa’ Badan Binasa
:: Sudirman Nasir ::
Yang Okkot, yang Salah Sambung
:: Nursamsu danTusiana Noor Alfisyahr ::
Kandala`ka`, Kusta Bila Dusta
:: Panyingkul ::
Ayo, Si(ng)kat Terussss..!
:: Panyingkul! ::

 
 TAHUKAHKITA
 

.
 ::
Selasa, 25-11-2008 
Surat Untuk Pak Aco, yang Kembali Mengurus Makassar
:: Winarni ::


Perkampungan kumuh di Sungai Tallo, salah satu PR besar perencana kota.
Foto: Winarni.


Pemilihan Walikota Makassar telah berakhir. Baliho, spanduk, poster para kandidat yang membanjiri kota dan terasa menyesakkan, kini mulai dipinggirkan. Pasangan IASMO (Ilham Arif Sirajuddin dan Supomo Guntur) menang dengan suara lebih dari 60 persen. Menunggu kepemimpinan IAS, untuk kedua kalinya, citizen reporter Winarni menurunkan pandangan dan harapannya, dari perspektif mahasiswa perencana kota. Satu hal yang paling dinantikan warga dari Aco, panggilan akrab sang walikota terpilih, jurus apa yang dikeluarkannya menata kota. (p!)
 
Tanggal 4 November 2008 lalu, Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Makassar telah menetapkan IASMO sebagai pemenang Pilwalkot. Meski harus dicatat, jumlah warga yang tidak memilih alias golput lebih banyak dari suara yang diraih pemenang. Dari hasil rekapitulasi KPU terlihat bahwa total suara sah 553.911 suara dan yang tak sah sebanyak 6.885 suara. Dari total pemilih 959.873 orang, maka diperoleh suara golput sebanyak 399.077 suara atau 41,57 persen dari total pemilih. Jumlah suara golput lebih banyak dari suara yang diraih pasangan IASMO sendiri yakni 370.912

Pengamat politik Prof. Tb. Zulriska Iskandar pernah menanggapi tingginya angka golput dalam Pilwalkot Bandung 2008. Katanya, hal ini terjadi karena adanya ketidakpuasan masyarakat terhadap figur calon pemimpin sebagai salah satu faktor penyebab golput. Lebih lanjut Prof. Zulriska mengungkapkan bahwa golput merupakan perilaku yang timbul akibat adanya kekecewaan. Sementara Saiful Mujani, Direktur Eksekutif Lembaga Survey Indonesia, pun pernah mengungkapkan bahwa kondisi tingginya angka golput di setiap pilkada terjadi karena hasil pemilu dan kegiatan politik lainnya dirasakan semakin jauh dari ekspektasi publik. Bisa jadi, hal ini pula yang mendera pilwalkot Makassar.

Golput memang tak mampu memengaruhi legitimasi pemimpin terpilih. Hanya saja, golput tetap membawa pengaruh pada position power dari pemimpin tersebut.

Politik dan Perencanaan
Dimensi politik dalam perencanaan merupakan sebuah dimensi yang menjelaskan bagaimana sebuah proses politik akan sangat memengaruhi suatu kebijakan publik maupun output perencanaan yang akan diambil. Dimensi politik dalam ranah perencanaan, telah sekian lama menjadi diskursus yang panjang dan melibatkan banyak ahli yang mengungkapkan mengenai eksistensi politik dan perencanaan.

Tak dapat dipungkiri, masalah perencanaan kota adalah masalah setiap orang. Bukan hanya masalah para perencana kota, bukan masalah pemimpin dan pengambil kebijakan dan bukan hanya masalah kami sebagai mahasiswa yang mendalami isu kota.
Siapa yang dapat menghindarkan diri untuk tidak melihat, merasakan, menikmati dan menggunakan suatu perencanaan kota?

Setiap hari manusia memanfaatkannya sejak terbangun dari tidur hingga kembali ke peraduan. Ke kampus, ke kantor, ke toko, ke pasar, ke tempat rekreasi, kemanapun juga kita pergi mau tidak mau harus berhadapan dengan arsitektur yang juga bagian sebuah penataan ruang. Antara satu tempat ke tempat lainnya dihubungkan oleh transportasi dan ruang publik yang juga merupakan produk perencanaan kota

Suka atau tidak suka. Karena produk perencanaan kota adalah perwujudan budaya, pengejawantahan dan wadah aktivitas kehidupan sosial, ekonomi masyarakat kota. Sebuah karya fisik yang terbentuk oleh tangan manusia secara menyeluruh dan mencakup semua unsur kehidupan.

Eratnya kaitan antara dimensi politik dan perencanaan kota lebih jelas diungkapkan John M. Levy (1988) di dalam bukunya Contemporary Urban Planning. Alasan pertama karena perencanaan senantiasa melibatkan hal yang menyangkut emosi masyarakat; Kedua, keputusan terlihat nyata sehingga kalau terjadi kesalahan keputusan tidak dapat disembunyikan dan mudah menjadi isu politik; Ketiga, proses perencanaan harus melibatkan masyarakat secara langsung karena menyangkut kepentingan masyarakat banyak; Keempat karena masyarakat merasa mempunyai keahlian dan kedudukan yang sejajar dengan perencana; Dan terakhir karena keputusan perencana mempunyai dampak yang besar bagi pemilikan tanah, terutama dampak ekonomis terhadap nilai tanah dan pemanfaatannya.

Seperti yang diungkapkan John M. Levy pada alasan pertama, ketiga dan keempat bahwa perencaanaan sangat dekat dengan masyarakat. Oleh karenanya, permasalahan tersebut juga erat dengan politik sebagai proses pengambilan kebijakan publik. Di sinilah tugas berat yang harus diemban calon walikota dan wakil walikota yang terpilih.

Perencana Kota
Akhir-akhir ini jumlah perencana kota memang meningkat dengan pesat. Hal ini disebabkan makin banyaknya lulusan lembaga pendidikan yang berlatar belakang perencanaan kota, baik bergelar sarjana maupun master. Dengan modal ijazah di tangan, mereka bebas mengklaim diri sebagai perencana kota meski tanpa pendalaman isu yang matang.
Seharusnya perencana kotalah yang memiliki kepekaan sosial, penghayatan yang mendalam dan keterlibatan yang tuntas terhadap denyut nadi yang berdetak dari masyarakat sekitarnya, merekalah yang mempunyai tugas mewadahi persepsi dan aspirasi masyarakat.

Para perencana kota berperan untuk mengingatkan para penentu kebijakan yang berada di atas jika kurang peka lingkungan, tidak menjejali bangunan di atas taman yang merupakan paru-paru kota. Masih mending kalau bangunannya sesuai dengan peruntukan tanah yang digariskan dalam Rencana Tata Ruang Wilayah dan Kota. Bayangkan bagaimana rancuhnya suatu area yang merupakan kawasan pendidikan lebih di dominasi pusat pertokoan, mall, dan bangunan komersil lainnya. Dimanakah perencana kota ini?

Tetapi bagaimana jika penunjukkan konsultan tidak didasarkan atas pertimbangan prestasi dan referensi pekerjaan yang telah dilakukannya? Tetapi mungkin karena koneksi dan komisi. Hingga terlihatlah pembangunan yang tidak di dasarkan atas cinta dan pengertian sesuai etik profesional, melainkan berdasarkan eksploitasi dan prostitusi yang bermotif komersial. Hasilnya mudah di tebak, karya tata ruang yang berkualitas rendah.

Eko Budiharjo dalam bukunya Arsitektur dan Kota di Indonesia mengungkapkan bahwa dalam merencanakan dan merancang sebuah karya yang bernilai arsitektur, ada dua masalah yang harus diperhatikan yakni guna dan citra. Guna dalam arti kata aslinya tidak hanya berarti bermanfaat, tetapi lebih dari itu punya daya yang menyebabkan kita bisa hidup lebih nyaman sehingga prestasi meningkat. Sedangkan citra menunjukkan suatu gambaran, suatu kesan penghayatan dari seseorang. Citra tersebut merupakan lambang yang membahasakan keadaan masyarakat. Jadi jika Makassar identik dengan citra semrawut, kemungkinan besar merupakan pencerminan wajar dan jujur dari keadaan masyarakatnya yang sedang bingung.

Penataan Kota Makassar
Hingga hari ini, tata ruang kota Makassar, masih menyisakan banyak ‘pekerjaan rumah’ bagi pemimpin baru. Banjir masih melanda di musim penghujan; beberapa jalur lalu lintas masih menyampaikan kata ‘macet’; pemukiman kumuh perlu di tata lebih manusiawi; pedagang kaki lima sebagai sumber ekonomi masyarakat kecil, masihkah mendapat tempat diantara maraknya pendirian mall?; Apakah Kota Makassar akan tetap mengakar pada identitasnya dengan pembangunan gedung-gedung baru yang katanya megah dan mewah?

Fenomena keruangan kota yang semakin kompleks ini, memerlukan pendekatan pengelolaan baru yang bersifat holistik dan integratif. Ada tiga pilar pendekatan yang saling terkait yakni secara ekonomi menguntungkan, ramah terhadap lingkungan, dan secara sosial dan politik di terima masyarakat dan sensitif terhadap budaya. Kota selalu membutuhkan sebuah sentuhan yang lebih intelektual dan sungguh-sungguh, bukan sekedar koneksi dan komisi.

Saya memang masih mahasiswa, anak bawang, tak punya kekuasaan, belum cukup koneksi dan komisi. Satu-satunya kemewahan yang saya miliki hanyalah idealisme. Idealisme yang mengiris hati ketika melihat Kota Makassar semakin semrawut, idealisme yang membuat airmata berubah selaksa silet tajam yang menyayat pipi ketika pembangunan berdiri tanpa memerhatikan masalah lingkungan.

Saya yakin, masyarakat Makassar semakin cerdas dalam melihat fenomena keruangan Makassar saat ini. Durasi antara pengumuman kemenangan hingga pelantikan seharusnya menjadi momen bagi pemimpin terpilih untuk mematangkan konsep penataan ruang Makassar. Karena bukan tak mungkin, akumulasi antara masyarakat yang golput dan pemilih kandidat lain akan memengaruhi position power IASmo bila gagal menata Kota Makassar menjadi lebih baik.

Apakah IASMO punya visi dan misi yang pro-rakyat atau harus mendahulukan komisi dan koneksi?
Untuk Walikota terpilih, Pak Aco, yang namanya terasa akrab disapa warga, semoga Anda membaca surat ini. (p!)

*Citizen reporter Winarni dapat dihubungi melalui email winarni@panyingkul.com

| Beri Komentar| Jumlah Komentar (10) |

Komentar :

23-12-2008
Dari : rusle | daengrusle@angingmammiri.org
dan kemudian Om Aco, dipilih sebagai TOKOH Pilihan Tempo 2008. saya kira, di alam sana, Daeng Besse dan anaknya berusaha tersenyum getir...

16-12-2008
Dari : |
kotak katik kota kita kita kotak katik kota kota kotak katik kita

29-11-2008
Dari : antoPJ | pnxjnx@yahoo.co.id
untuk yang dibawah saya. Betuuull.. tidak berpartisipasi sebagai pemilih dalam pilkada dan sejenisnya juga adalah sebuah pilihan. bukannya takut kalah atau pilihannya salah, kita bebas memilih kan.. golput adalah pilihan alternatif jika tidak ada pilihan yang kena dihati dan nurani.

27-11-2008
Dari : halim hd. | halimhade@yahoo.com
U/ BUNG SYUKRI: saya bisa maklum dgn logika sederhana anda. pertama anda menganggap bahwa golput itu tidak bertanggungjawab, pengecut. logika ini bisa dibalikan kepada sinisme untuk anda: jangan-jangan anda memilih karena dapat amlop, hehehe. ok. golput yang saya "yakini" sejak tahun 1972 adalah pilihan bagi saya (dan banyak rekan-rekan saya) untuk menunggu dan memilih momentum sambil mengembangkan kapasitas kritis dan membentuk jaringan sosialnya. tentu saja golput tidak punya "ikatan" kecuali moril, bersetia kepada pilihan yang mungkin terasa "utopis". why not! dan tentang golput tidak berhak mengakses kepada negara, rasanya anda keliru dalam soal hak dan kewajiban. sebagai warga pembayar pajak, golput bukan hanya berhak tapi sekaligus berkewajiban melakukan kontrol, kritik dan menggunakan dan memelihara sarana publik secara bertanggungjawab.

26-11-2008
Dari : Muh. Nur Taqwim | taqwimyunus@yahoo.co.id
Sederhana saja harapan saya atas terpilihnya pak Aco, mudah-mudahan Musrembang itu bisa diefektifkan agar perencanaan dapat berjalan dan terukur dengan baik. Karena dengan Musrembang yang berkualitas, dapat menjadi salah satu media untuk bisa menciptakaan perencanaan pembangunan secara kolaboratif. Jangan lagi seperti yang sudah lewat.

26-11-2008
Dari : syukri_b@yahoo.com | 120571
Bagi saya golput itu menunjukkan sikap kepengecutan.mereka adalah orang-orang yang tidak punya tanggung jawab untuk menentukan sikap politik.bagi saya mereka tidak pantas untuk perhatikan,dan seandainya bisa mereka tidak berhak untuk meminta akses kepada negara apalagi hak untuk mengoreksi.lebih baik orang yang kalah dalam politik daripada golput.

25-11-2008
Dari : arminh | artsuru@gmail.com
@editor: kayaknya koreksi teksnya itu belum... teksnya masih sama.

25-11-2008
Dari : editor |
untuk pendekar golput, kesalahan kalimat tsb telah kami koreksi. terima kasih. -editor

25-11-2008
Dari : pendekar golput berwatak baik | golput@pilkada.mks
sepertinya kalimat ini: Meski harus dicatat, jumlah warga yang tidak memilih alias golput lebih banyak dari pemilih yang terdaftar... kurang tepat karena angka dalam kalimat berikutnya tidak sesuai dengan kalimat tadi.. coba deh diperhatikan dengan

25-11-2008
Dari : Ipul | ipul.ji@gmail.com
Inart, tulisanmu bagus sekali..memberi rambu pada kita warga kota Makassar (khususnya pada para pendukung IASMO) agar tidak terlenan euforia kemenangan dan lebih besar lagi euforia pembangunan yang belakangan ini memang sedang marak. di balik euforia tersebut ada sebuah "ancaman" yang sedang menghadang perjalanan ke masa depan kota kita.sebagai warga yang mencari makan di Makassar (meski tidak berdomisili di Makassar) saya sampai sekarang belum tahu persis, rencana besar tata ruang kota Makassar nantinya seperti apa. itu sebenarnya adalah isu besar yang ingin saya (dan mungkin banyak orang) ketahui. sudahkah pemimpin yang sekarang memikirkan bentuk wajah kota Makassar 10 tahun yang akan datang ?, selaraskah pembangunan ( dengan nama modernisasi ) yang lagi digenjot sekarang ini dengan pertumbuhan sosial, ekonomi dan budaya ?. anggaplah secara kasat mata Makassar sudah modern, yang ditandai dengan maraknya pusat perbelanjaan yang wah, gedung jangkung yang mewah, jalan layang yang kokoh..tapi, apakah sektor lainnya yang lebih lekat dengan nadi masyarakat sehari2 juga ikut diperbaiki ?. rekayasa sektor transportasi ?, penyediaan ruang hijau ?, penanggulangan banjir ?, bahkan pelestarian budaya dan kearifan lokal, masihkah itu terpelihara ?..jangan sampai pemerintah kota ini memang lebih gencar memoles wajah kota kita tanpa memerhatikan sektor lain yang juga tak kalah pentingnya. jangan sampai ada hilang dari kota Makassar..



 :: CITIZEN REPORTER
Makassar di Panyingkul!: Sebuah Persembahan
(Kamis, 12-07-2007)
Ayo Bergabung di Panyingkul!
(Minggu, 29-04-2007)
Catatan Sederhana Para Citizen Reporter
(Selasa, 31-10-2006)
Tentang Citizen Reporter dan Rubrik di Panyingkul!
(Rabu, 11-10-2006)
Riuh Rendah di Panyingkul!
(Rabu, 16-08-2006)

Untitled Document
 :: DUNIA SEGIEMPAT KAREBOSI






 :: PILKADA




 :: ALBUM PUASA 2008




Untitled Document
 :: KONTAK TIM PANYINGKUL!

Email Redaksi :

redaksi@panyingkul.com

Tim:
yus@panyingkul.com
+62 813 226 80844

Moch. Hasymi
+62 811 955 954


© Juni 2006 - Panyingkul.com All Rights Reserved
Desain Web : Nesia Andriana -- Supported by: Yuhardin