|
|
| . |
| ::
|
| Rabu, 26-11-2008 | Memimpikan Gedung Wakil Rakyat dari Pos Keamanan :: Syaifullah Ahmad Faisal ::
| Banyak calon legislatif (caleg) yang beredar di sekitar kita. Juga banyak orang di sekitar kita yang jadi caleg. Nah, mereka inilah orang-orang yang sedang meretas jalan menuju gedung parlemen, dengan segala upaya. Citizen reporter Syaifullah Ahmad Faisal menghadirkan profil Dahlan Gege, seorang satpam yang saat ini sibuk nyaleg. Ia akan bertarung memperebutkan kursi DPRD Makassar. Sebagai satpam, ia percaya pantas menjadi wakil rakyat, karena memiliki modal sosial yang kuat dan pemahaman mendasar tentang penderitaan rakyat.(p!)
|
Badannya kekar dan tegap meski tidak terlalu tinggi, kulitnya coklat dengan potongan rambut pendek dan rapih. Dalam balutan seragam security, dia terlihat gagah. Namanya Dahlan Gege, sehari-hari dia dikenal sebagai seorang penjaga keamanan di sebuah komplek perumahan mewah di bagian timur kota Makassar.
Sekilas tak ada yang istimewa pada sosoknya. Namun belakangan ini sebuah status baru melekat pada dirinya, status yang cukup membedakannya dengan rekan sejawatnya sesama satpam. Dahlan resmi terdaftar sebagai seorang calon anggota legislatif pada pemilu 2009 nanti.
Menjadi seorang satpam bukanlah cita-citanya. Lelaki kelahiran 16 Agustus 1976 ini adalah seorang sarjana ekonomi lulusan sebuah universitas swasta di kota Makassar. Nasib baik tak selalu akrab dengannya. Kesulitan mencari pekerjaan sesuai latar belakang pendidikannya membuat dia harus rela menjadi seorang satpam, pekerjaan yang tentu saja sangat tidak sesuai dengan ijasahnya.
Meski sehari-hari beraktivitas sebagai seorang penjaga keamanan, namun rupanya Dahlan tak mau berhenti sampai di situ saja. Pos satpam dan areal perumahan yang menjadi tanggung jawabnya tak membuat dia terkungkung. Bekal pengalaman berorganisasi yang telah diasah sejak menjadi ketua OSIS di masa SMP membuat Dahlan akrab dengan berbagai organisasi massa. Bahkan sejak beberapa tahun yang lalu dia mulai aktif di salah satu partai politik.
Awalnya hanya dari kegiatan di Ikatan Remaja Muhammadiyah dan terus berkembang sebelum akhirnya menjadi salah seorang deklarator tingkat kecamatan untuk sebuah partai politik. Cukup lama dia aktif di partai politik tersebut sebelum akhirnya Dahlan merasa ada yang salah. Aspirasinya tak tertampung lagi, arah kebijakan partaipun dirasanya tak cocok lagi dengan idealismenya. Dia mulai tak nyaman, dan ketika sebuah ajakan dari partai baru peserta pemilu 2009 mampir, dia tak perlu berpikir panjang untuk menyeberang.
Di partai politik yang baru tersebut Dahlan kemudian terdaftar sebagai calon legislatif dengan nomor urut 1 untuk daerah pemilihan III meliputi kecamatan Panakkukang dan kecamatan Manggala.
Bukan rahasia umum kalau beberapa partai politik memberikan syarat yang sangat ketat dalam hal pemberian nomor urut 1 kepada para calegnya, termasuk berapa besar sumbangan dana yang bisa disetorkan caleg yang bersangkutan. Saat saya bertanya tentang proses terpilihnya Dahlan sebagai caleg nomor 1 dari partainya, dia mengatakan kalau semua itu hanya karena kemampuannya semata, tak ada hubungannya dengan sumbangan uang.
“Ada sistem kompetensi yang diterapkan oleh partai, jadi nomor urut 1 itu tidak datang begitu saja, dan tidak perlu menyumbangkan uang untuk mendapatkannya. Kalau bicara soal uang, saya pasti tidak akan bisa jadi caleg. Penghasilan sebagai satpam berapa sih...?”, kata Dahlan menjelaskan.
Lalu, kenapa dia tergerak untuk merajut cita-cita menjadi seorang legislator ?.
Dahlan bercerita banyak pada saya hari itu. Katanya, selama ini dia sudah gerah melihat nasib rakyat kecil yang selalu menjadi komoditas politik. Mereka hanya didekati dan diakrabi oleh para calon legislatif menjelang pemilihan umum. Setelah terpilih, sang legislator tak pernah lagi menjenguk para konstituennya. Apalagi selama ini Dahlan melihat sebagian besar legislator dari daerah pemilihannya adalah orang-orang yang tidak menetap di daerah tersebut sehingga tentu saja tak paham betul permasalahn masyarakat yang katanya diwakilinya.
“ Selama ini saya sudah menjadi bagian dari rakyat kecil dan saya paham betul permasalahan mereka. Saya rasa tidak ada salahnya bila salah satu dari mereka menjadi subyek, bukan hanya obyek “, katanya dengan mantap.
Sesuai SK KPU No. 178/KPU/2008, jumlah pemilih pada wilayah DAPIL III (Panakkukang dan Manggala) adalah sebesar 171.572 orang yang akan memperebutkan 9 kursi di DPRD kota Makassar dari total 50 kursi yang diperebutkan. Dahlan termasuk salah satu dari calon anggota legislatif yang ikut memperebutkan kursi tersebut.
Dahlan sadar, untuk mewujudkan impiannya tidaklah mudah. Apalagi dia akan bergerak dengan modal dukungan dana yang tak seberapa, selain itu tak ada bantuan apapun dari partai tempatnya berlindung.
Faktor dana juga yang membuat Dahlan berpikir keras mencari strategi terbaik untuk menjaring pemilih pada pemilu tahun depan. Dahlan sadar kalau dia tidak mungkin berhadap-hadapan muka dengan calon legislator lainnya yang lebih bermodal. Dia tidak mungkin ikut-ikutan menggelontorkan dana banyak untuk membuat baliho, spanduk atau mengumpulkan massa. Dahlan memutar otak untuk menjalankan strategi yang hemat namun efektif dalam mendulang suara.
Strategi utama yang dijalankannya untuk menggaet pemilih adalah dengan memaksimalkan faktor dukungan keluarga, kerabat dan teman-teman dekat.
Dahlan memberikan hitung-hitungan matematis. Kelurahan Antang pada khususnya dan kecamatan Manggala pada umumnya adalah daerah asalnya. Di beberapa titik di kecamatan tersebut tersebar keluarga dan kerabat dekatnya, selain itu teman-teman sesama anggota organisasi massanya juga tidak bisa dibilang sedikit. Tanpa meminta bantuan dana alias gratis, para keluarga, kerabat dan teman dekat tersebut kemudian ikut-ikutan bergerilya menjaring pendukung. Bagi Dahlan ini adalah berkah, sebuah tim sukses terbentuk begitu saja tanpa harus mengeluarkan dana. Strateginya mungkin bisa disamakan dengan strategi multi level marketing minus keuntungan finansial.
Dahlanpun tak lantas tinggal diam dan hanya bergantung pada keluarga dan rekannya itu. Dia rajin ikut bergerilya mencari suara. Hampir setiap hari dia mendatangi keluarga, kerabat atau teman dekatnya untuk keperluan kampanye. Isi pertemuannya bermacam-macam, dari sekedar ngobrol ringan, pemaparan visi dan misi hingga sosialisasi cara pencoblosan.
“ Batuk saya sampai tak sembuh-sembuh, maklumlah setiap hari pulangnya hampir selalu tengah malam. Kadang jam 12, kadang malah sampai jam 2 pagi ”, katanya. Saat kami berbincang, suaranya memang sedang serak.
Dengan metode seperti ini Dahlan mengaku tak perlu keluar uang banyak. Paling-paling hanya keluar uang untuk beli rokok, tak lebih.
Bagaimana dengan janji ?, bukankah semua calon legislatif ataupun calon eksekutif harus berjanji agar dapat menarik simpati para pemilih ?.
Dalam brosur kampanyenya jelas-jelas Dahlan menuliskan janji berbunyi: Kontrak Politik Anak Rakyat, Dahlan berjanji untuk mewakafkan 80% gajinya sebagai anggota dewan nanti untuk keperluan rakyat, di antaranya dengan memberi bantuan modal usaha bagi mayarakat miskin secara cuma-cuma dan bergilir serta pemberian beasiswa bagi anak masyarakat miskin yang berprestasi.
Tak hanya sampai di situ. Bahkan dia juga menjanjikan akan memberikan door prize umroh bagi masyarakat miskin. Sebuah janji yang menurut saya cukup unik dan tidak biasa.
“ Saya membuat semacam kontrak politik tidak tertulis dengan para calon pemilih saya. Saya tidak akan lari dari janji. Bila nanti terpilih, saya akan tetap meluangkan waktu mendatangi para konstituen, atau kalau tak sempat saya persilakan mereka yang mendatangi saya ”, ujarnya memberi kepastian .
Jalan menuju gedung DPRD sungguh tak mudah, apalagi bagi seorang Dahlan yang notabene “hanya” seorang satpam. Nada-nada miring bukan cuma sekali dua kali mampir ke telinganya.
Bahkan di daerah tempatnya bermukim, pendukung seorang calon anggota legislatif berkantong tebal pernah berkata seperti ini. “Kalau tidak punya uang Rp. 200 juta, jangan harap bisa menang. Sebuah sindiran yang jelas terbit demi melihat modal Dahlan yang tak seberapa.Menanggapi nada miring seperti itu Dahlan cuma tersenyum, tak sekalipun langkahnya surut.
Dahlan sadar kalau saingannya merebut suara para pemilih sangat berat. Mereka adalah orang-orang yang berduit yang tentu saja bisa dengan mudah mengeluarkan dana besar untuk berkampanye. Namun menurut Dahlan-sambil memberi contoh seorang saingannya-mereka hanya punya kekuatan uang, tapi tidak punya jaringan yang kuat di bawah.
“Mereka tak pernah terjun langsung dan bergaul akrab dengan rakyat kecil, mereka tak paham betul permasalahan rakyat kecil. Jadi mereka mungkin bisa menang dari segi baliho tapi belum tentu bisa merebut suara ,“ itu salah satu keyakinan yang dipegang teguh oleh Dahlan.
Dengan sangat lancar Dahlan juga menjelaskan tentang karakteristik pemilih secara umum. Menurutnya ada pemilih yang memang gampang digoda dengan uang, namun banyak juga pemilih yang loyal karena faktor hubungan keluarga, kekerabatan dan kedekatan pertemanan. Pemilih jenis kedua inilah yang disasarnya di samping pemilih berayun dan pemilih yang cuma ikut-ikutan.
Meski nada-nada miring kerap hadir di kupingnya namun Dahlan juga mengaku banyak mendapat dukungan moril dari keluarga dan teman-temannya, termasuk rekan sejawatnya sesama satpam. Bahkan seorang warga perumahan tempatnya bertugas sampai menyumbangkan 3 buah baliho sebagai wujud simpatinya.
Lingkungan kerja yang kondusif dan demokratis juga rupanya sangat mendukung langkah Dahlan dalam mewujudkan impiannya. Atasannya memberi keleluasaan berpolitik kepadanya selama tugas utamanya tidak terbengkalai. Beberapa waktu yang lalu Dahlan menyempatkan diri untuk bertemu dengan direktur utama perusahaan tempatnya bekerja.
“ Ah, kau tidak usahlah ikut-ikutan jadi caleg, nanti uangmu habis..”, begitu kata sang pimpinan, entah karena kasihan entah karena pesimis. Namun setelah diberi penjelasan, sang pimpinan bisa mengerti bahkan bersedia memberikan cuti panjang tanpa tunjangan bila benar nanti Dahlan terpilih jadi anggota dewan. Cuti panjang tanpa tunjangan memungkinkan Dahlan untuk kembali bekerja di perusahaan tersebut bila nantinya sudah tak menjadi anggota dewan lagi.
Bagaimana dengan rekan-rekan kerjanya yang lain, utamanya rekan-kerja selain sesama satpam ? Reaksi yang saya tangkap cukup beragam. Ada rekan kerjanya yang tak segan-segan mengacungkan jempol dan mengaku salut dengan langkah Dahlan, namun ada juga yang hanya menertawai dengan sedikit mencibir. Seorang bapak rekan kerjanya malah merasa kasihan pada Dahlan yang dianggapnya sebagai korban permainan politik.
Sejauh ini saya yakin Dahlan telah menyiapkan mentalnya untuk menerima bermacam-macam reaksi orang di sekitarnya. Dari nada bicara dan sorot matanya saya bisa menangkap rasa percaya diri yang tinggi pada lelaki itu. Terlihat jelas kalau dia sudah sangat mantap untuk meretas jalan dari pos satpam menuju gedung DPRD, sesuai dengan motto pada brosur kampanyenya, “Sudah Saatnya Anak Rakyat Bangkit.”
Apakah Dahlan akan mengganti seragam satpam dengan safari wakil rakyat? Kita tunggu di Pemilu 2009. (p!)
*Citizen reporter Syaifullah Ahmad Faisal dapat dihubungi melalui email ipul.ji@gmail.com
|
| | Jumlah
Komentar (7) |
|
| Komentar :
30-11-2008 Dari : Muhammad Yunus RM | myunusrm@gmail.com luar biasa...,
pelangi itu indah,
tidak ada dominasi
dan penegakan
identitas keegoan.
untuk masuk sebagai
caleg, sy pikir
siapa aja yang
memenuhi syarat
administratif.
tetapi lebih
daripada itu..kita
membutuhkan orang2
yang mampu bertahan
dalam situasi apapun
untuk menegakkan
tatanan sosial yang
menggairahkan.
selamat dan selamat
moga kebaikan itu
tak dimakan usia. 29-11-2008 Dari : antoPJ | pnxjnx@yahoo.co.id ededehh.. 200juta
rupiah.. pasti kalo
terpilih agenda
pertamanya,
bagaimana supaya
modal bisa kembali
4x lipat. 29-11-2008 Dari : ivan | ... caleg pasti ?
... pasti caleg ! 27-11-2008 Dari : Dg. Akbar | akbarhalim@gmail.com Banyaktongmi tawwa
orang yang tertarik
untuk jadi caleg,
semoga bisa membawa
perubahan kearah
yang lebih baik,
janganGki cuma mau
jadi callege-lege
bedeng nah.......... 26-11-2008 Dari : M. Ridwan.T | lapacikoa@yahoo.com Iyo, tawwa majuko
Dg. Dahlan Gege.
Ingatko Barrack
Hossein Obama dia
itu orang miskinji
tapi bisa jadi
presiden tidak ada
uanna. Cuma saya
ragu-raguka, kalo
terpilih maki apa
bisaki pegangi
janjita. Godaannya
luar biasa. 26-11-2008 Dari : halim hd. | halimhade@yahoo.com di solo pernah ada
makelar motor jadi
walkot satu periode,
lalu digusur oleh
massanya sendiri; di
kabupaten tegal,
lurah jadi bupati
dan terpilih
kembali. inilah
wolak-waliking jaman
kata orang jawa,
momentum siapa saja
bisa mencari dan
berganti posisi.
bayangkan seorang
anak muda,
berpendidikan,
nyambi jadi
konsultan seorang
capres, lalu numpang
dan lalu mencalonkan
dirinya sebagai
capres. betap[a
dunia politik
seperti sinetron.
banyak orang ngomong
soal obama. tapi
sangat sedikit yang
memahami lika-liku
bagaimana dia turba,
dan tahu keringat
yang dicucurkan
olehnya. dan siapa
tahu daeng gege ini
bisa berganti baju
safari dan
menyuarakan
lingkungannya. 26-11-2008 Dari : Muh. Nur Taqwim | taqwimyunus@yahoo.co.id Memang sudah saatnya
kita bangkit, bukan
hanya anak rakyat,
tetapi semuanya.
Bangkit untuk
menutupi rasa malu
terhadap salah bals
jasa kita terhadap
para pejuang bangsa
ini. Minimal kata
RAKYAT tidak
terculik lagi oleh
perampok-perampok
negera ini. |
|
|
|
|
| ::
CITIZEN REPORTER |
 | (Kamis, 12-07-2007) |  | (Minggu, 29-04-2007) |  | (Selasa, 31-10-2006) |  | (Rabu, 11-10-2006) |  | (Rabu, 16-08-2006) | |
|
Untitled Document
| ::
DUNIA SEGIEMPAT KAREBOSI |
|
Untitled Document
| ::
KONTAK TIM PANYINGKUL! |
Email Redaksi :
redaksi@panyingkul.com
Tim:
yus@panyingkul.com
+62 813 226 80844
Moch. Hasymi
+62 811 955 954
|
|
|