|
|
| . |
| ::
|
| Minggu, 28-12-2008 | Hikayat Serdadu Belanda Tersambar Petir di Sinjai :: Nursamsu ::
| Batu Belandae yang menjadi muasal cerita rakyat. Foto: Nursamsu.
Seorang serdadu Belanda kesambar petir dan menyisakan tanda di sebuah batu besar di Pulau Batang Lampe. Hikayat ini menjadi bagian cerita rakyat di Kabupaten Sinjai, Sulsel, seperti yang dituturkan citizen reporter Nursamsu. (p!) | Pulau Batang lampe. Demikian nama pulau ini. Ia merupakan salah satu pulau dari gugusan sembilan pulau yang berada di kecamatan Pulau Sembilan, kabupaten Sinjai, Sulawesi Selatan. Adapun kesembilan pulau tersebut masing masing terbagi dalam beberapa desa yang memiliki karakteristik dan keunikan tersendiri.
Pulau Batang Lampe sendiri masuk dalam wilayah Desa Padaelo yang mencakup dua area pulau yaitu Pulau Batang Lampe dan Pulau Kodingare. Rata- rata jarak keseluruhan pulau sekitar 3 mil dari Lepas pantai Cappa Ujunge-kab. Sinjai. Karena terdiri dari beberapa desa yang dalam satu gugusan pulau, akhirnya ke sembilan pulau ini pun akhirnya tercatat dalam suatu wilayah admistrasi kecamatan yaitu kecamatan Pulau Sembilan.
Letak Pulau Batang Lampe ini terletak di wilayah paling utara di lepas pantai Sinjai (Perairan Teluk Bone). Jaraknya sedikit lebih jauh dibanding pulau yang lain. Dalam Bahasa Bugis, Pulau Batang Lampe berarti Pulau yang bentuknya memanjang. Untuk menuju ke sana, hanya bisa dilalui dengan jalur transportasi laut, yaitu dengan perahu motor.
Pulau ini berpenghuni sekitar 80-an Kepala Keluarga (KK). Kurang lebih hanya sekitar 30 persen dari area pulau yang dipakai sebagai tempat bermukim. Selebihnya merupakan bukit, dan batu karang dikelilingi laut. Mengingat bentuk pulau yang memanjang, letak rumah penduduk terbagi dua. Sebahagian penduduk tinggal di sebelah Selatan dan Sebahagian lagi di Utara. Adanya bukit yang memisahkan mereka tidak membuat keakraban dan silaturahmi menjadi renggang.
Sehari harinya untuk menuju ke kampung sebelah, kita bisa menyusuri anak tangga yang menanjak dan berliku. Kita juga bisa menggunakan perahu untuk memutari pulau. Kadang kala kita juga bisa berjalan menyusuri pulau jika air laut surut di pagi hari.atau di waktu waktu tertentu.
Seperti pulau pulau lainnya di wilayah kecamatan Pulau Sembilan, Pulau Batang Lampe juga mendapatkan bantuan mesin genset dari Pemkab Sinjai. Tetapi berhubung genset ini hanya terbatas untuk pemakaian 5 jam saja (dari pukul 18.00 - 23.00 Wita), untuk itu disarankan jika berkunjung ke pulau ini sebaiknya mengisi ulang baterei handphone, laptop, kamera atau handycam dan barang elektronik.
Di balik keramahan penduduk dan suasana alam yang asri, ditambah dengan pasir putih dan batu karang, sarang burung Walet (yang pengembangannya masih dalam taraf penelitian), pembudidayaan teripang dan rumput laut serta beberapa titik lokasi mancing dan penyelaman (diving) laut biru, pulau ini ternyata menyimpan cerita rakyat di masa penjajahan Belanda. Cerita Rakyat itu adalah Batu Balandae. atau artinya “Batu si Belanda”.
Pulau Batang Lampe tampak dari laut. Foto: Nursamsu.
Pulau Batang Lampe tampak dari laut. Foto: Nursamsu.
Batu Balandae adalah sebuah batu besar hitam di mana terdapat sebuat pola gambar warna putih dan rona kuning pada dinding batu yang nampak menyerupai seseorang serdadu yang menengadahkan tangan kanannya ke atas. Konon, pada masa penjajahan Belanda, bukit ini dijadikan sebagai tempat persinggahan dalam perjalanan para serdadu menuju tujuan berikutnya.
Suatu hari, seorang serdadu Belanda tengah berburu ke hutan. Setelah seharian berburu, serdadu ini kelelahan dan akhirnya memutuskan untuk beristirahat sejenak. Samar samar, tampak olehnya, sebuah batu hitam besar dengan cekungan berbentuk gua tidak jauh dari tempatnya berdiri..
Sang serdadu akhirnya memutuskan untuk beristirahat saja di cekungan batu besar tersebut. Hujan pun turun dengan derasnya. Sang serdadu masih saja bernaung di bawah batu besar itu. Tiba-tiba petir menyambar dengan kerasnya. Tubuh sang serdadu terhempas akibat petir tersebut. Seiring berkembangnya waktu, sampai sekarang cerita rakyat penduduk setempat mengatakan, bekas darah dan tubuh yang menempel pada dinding batu adalah bekas tubuh serdadu Belanda yang mati akibat terhempas sambaran petir.
Benar tidaknya cerita rakyat tersebut, demikanlah sekelumit cerita rakyat yang berkembang di Pulau Batang Lampe mengenai keberadaan Batu Balandae.
Untuk menuju ke Pulau Batang lampe, diperlukan waktu kurang lebih 1 jam 30 menit dengan menggunakan perahu. Dari pulau ke Batu Balandae juga tidak sulit. Kita bisa berjalan menyusuri pinggir pulau jika air laut sedang surut atau bisa juga lewat jalan setapak yang menanjak.
Batu Balandae memang belum seterkenal legenda batu Malin Kundang, di pantai Air Manis, Sumatera barat, atau fosil fosil batu purbakala lainnya di Indonesia. Di antara beberapa obyek wisata lainnya yang berada di Kabupaten Sinjai, keberadaan batu Balandae ini memang sedikit “tenggelam” dan belum tergarap secara maksimal.
Menurut Pak Makmur, Kepala Desa Pulau Batang Lampe, di pulau ini masih ada beberapa potensi alam lainnya yang bisa dikelola secara profesional. Meski baru beberapa bulan menjabat, Pak Makmu, insinyur Teknik Perkapalan Unhas ini mengatakan, tentunya untuk membuat Pulau Batang Lampe menjadi lebih baik lagi hingga setenar pulau pulau wisata lainnya, tentu tidak lepas dari tanggung jawab berbagai pihak dan masyarakat Pulau Batang Lampe itu sendiri. Semoga. (p)
Citizen Reporter Nursamsu dapat dihubungi melalui email syamsoe@yahoo.com
|
| | Jumlah
Komentar (14) |
|
| Komentar :
23-07-2009 Dari : App | palattae09@yahoo.co.id asyik tauw
ceritanya, siapa
tauw ada pahlawanya
sinjai yang belum di
beritakan....kami
tunggu cerita-cerita
lainnya. 19-03-2009 Dari : ahmad mutakabbir | mutakabbir46@gmail.com Ceritanya harus
lebih dipoles lagi
biar seru bacanya
dan pada penasaran
lihat langsung...Klw
sudah menjadi buah
bibir otomatis obyek
isata lain di pulau
itu jg ikut laris...
05-03-2009 Dari : Fadly Hidayat | DaengSuluminfadly@Yahoo_co.id Salam Kompak untuk
semua keluarga Gowa
tallo!!!
,Tumapa'risi Kelonna
Bontoala. kita
sekarang di kerinci
jambi. 17-02-2009 Dari : ulumgany | ulumgany@yahoo.com ceritanya menarik,
hanya saja kalau
memungkinkan dikupas
lagi yang lebih
dalam mengenai
potensi Pulau Batang
Lampe terutama yang
berkaitan dengan
potensi
pariwisatanya. Siapa
tau suatu saat kita
berkunjung kesana,
nuhun 03-01-2009 Dari : Nuntung | daeng.nuntung@gmail.com Menarik ceritana,
Syam. Sinjai memang
menarik, mauku tong
pigi Sinjai
kesiang... :( 01-01-2009 Dari : halim hd. | halimhade@yahoo.com cerita tentang
serdadu belanda yang
disambar petir itu
bisa juga
ditafsirkan, sebagai
bentuk ungkapan
perlawanan warga
secara sastera lisan
yang menyatakan
tentang keberpihakan
alam kepada
'indonesia'. bukan
hanya warga yang
melawan belanda tapi
juga alam. 30-12-2008 Dari : Muh. Nur Taqwim | taqwimyunus@yahoo.co.id Sudah nasibnya
serdadu Belanda itu,
Petir membantu
pejuang untuk
menembak Serdadu
Belanda sebelum dia
menembak pejuang
atau masyarakat
Sinjai saat itu.... 30-12-2008 Dari : rusle | daengrusle@angingmammiri.org Madeceng cappo,
madeceng! Kalau
melihat jarak waktu
yang menghabiskan
1,5 jam menuju
Sinjai daratan,
apakah di Pulau
Batang Lampe sudah
ada sekolah untuk
anak2? Apakah BOS
juga menghampiri
mereka? Atau jangan2
ada cerita Laskar
Pelangi lainnya di
pulau ini? Konon, di
teluk Bone banyak
bermukim orang
BajoE, apakah
diantara 80KK
penghuni Batang
Lampe ada juga
setitik darah
turunan BajoE yang
men'darat'? Ah
banyak sekali
pertanyaanku daeng.
Maafkan, ini hanya
apresiasi saya dari
tulisan yang sangat
bagus ini. Tulisan
yang bagus, tentu
akan melahirkan
tulisan lainnya yang
tak kalah bagusnya. 30-12-2008 Dari : hidayat | yayat_mkzr he..he..he...jago
juga lo nulis
yah...sayangnya,
foto darahnya "rang
belanda" tuh d
perbesar..biar ada
tertarik k sana
liatin yah...its
very ggod 30-12-2008 Dari : | Saudara "no-name",
Endingnya memang
seperti itu. Itu
tulisan murni
pertama yang
mengangkat cerita
rakyat mengenai batu
balandae.. Terima
kasih atas
masukannya..
Wasalam
Penulis..
www.syamsoe.com 29-12-2008 Dari : | endingnya kok malah
mengarahkan ke
sektor pariwisata
ya? jadi il'fil
bacanya. 29-12-2008 Dari : fadly badawing | fadlymesin@yahoo.com sori, belum selesai
komentarnya yang
tadi !!! maksudnya
bisa ga kita diajak
kesana???? biar bisa
ikutan fotoin gtu
loh !!! 29-12-2008 Dari : fadly badawing | fadlymesin@yahoo.com good story.....boleh
liat foto batu
balandaenya
ga....???? 28-12-2008 Dari : Ismail Amin | ma_ipa@yahoo.com Cerita yang menarik
Pak Syamsoe... kami
tunggu cerita2
menarik lainnya dari
setiap
perjalananta...
Hormat Saya |
|
|
|
|
| ::
CITIZEN REPORTER |
 | (Kamis, 12-07-2007) |  | (Minggu, 29-04-2007) |  | (Selasa, 31-10-2006) |  | (Rabu, 11-10-2006) |  | (Rabu, 16-08-2006) | |
|
Untitled Document
| ::
DUNIA SEGIEMPAT KAREBOSI |
|
Untitled Document
| ::
KONTAK TIM PANYINGKUL! |
Email Redaksi :
redaksi@panyingkul.com
Tim:
yus@panyingkul.com
+62 813 226 80844
Moch. Hasymi
+62 811 955 954
|
|
|