Untitled Document
 


Untitled Document
.KITAKITA
:: Jika Anda di Panyingkul ::
 
 KABAR KITA
 
 BERANDAKITA
Kegilaan, Dari Cinta Mati di Pulau Rajuni Hingga Riwayat Kadang
:: Ivan Firdaus ::
Baba Guru, Mengenang Film Rhoma Irama di Klenteng Galesong
:: Kamaruddin Azis ::
Mengagumi Tenun Troso, Mengenang Tenun Sengkang
:: Suryadin Laoddang ::
Perempuan Besi di Gunung Perak (2-selesai)
:: M. Aan Mansyur ::
Perempuan Besi di Gunung Perak (1)
:: M. Aan Mansyur ::
 
 RISETKITA
Rasa Takut : Yang Dicitrakan, Yang Dipelihara
:: Aria W. Yudhistira ::
Risetkita: Pramoedya versus Sejarah Resmi
:: Nurhady Sirimorok ::
Hikayat Rumpon Nelayan Mandar
:: Muhammad Ridwan Alimuddin ::
Di Makassar Pernah Ada “Negeri Wajo”
:: Nurhady Sirimorok ::
Surat Itu Ditulis Upas kepada September
:: Nurhady Sirimorok ::
 
 BUKUKITA
 
 KATAKOTAKITA
Kenapa si Gondrong yang Maju?
:: Ivan Firdaus dan Mustamin al-Mandary ::
Karena ‘Rewa’ Badan Binasa
:: Sudirman Nasir ::
Yang Okkot, yang Salah Sambung
:: Nursamsu danTusiana Noor Alfisyahr ::
Kandala`ka`, Kusta Bila Dusta
:: Panyingkul ::
Ayo, Si(ng)kat Terussss..!
:: Panyingkul! ::

 
 TAHUKAHKITA
 

.
 ::
Minggu, 28-12-2008 
Hikayat Serdadu Belanda Tersambar Petir di Sinjai
:: Nursamsu ::


Batu Belandae yang menjadi muasal cerita rakyat.
Foto: Nursamsu.


Seorang serdadu Belanda kesambar petir dan menyisakan tanda di sebuah batu besar di Pulau Batang Lampe. Hikayat ini menjadi bagian cerita rakyat di Kabupaten Sinjai, Sulsel, seperti yang dituturkan citizen reporter Nursamsu. (p!)
 
Pulau Batang lampe. Demikian nama pulau ini. Ia merupakan salah satu pulau dari gugusan sembilan pulau yang berada di kecamatan Pulau Sembilan, kabupaten Sinjai, Sulawesi Selatan. Adapun kesembilan pulau tersebut masing masing terbagi dalam beberapa desa yang memiliki karakteristik dan keunikan tersendiri.

Pulau Batang Lampe sendiri masuk dalam wilayah Desa Padaelo yang mencakup dua area pulau yaitu Pulau Batang Lampe dan Pulau Kodingare. Rata- rata jarak keseluruhan pulau sekitar 3 mil dari Lepas pantai Cappa Ujunge-kab. Sinjai. Karena terdiri dari beberapa desa yang dalam satu gugusan pulau, akhirnya ke sembilan pulau ini pun akhirnya tercatat dalam suatu wilayah admistrasi kecamatan yaitu kecamatan Pulau Sembilan.

Letak Pulau Batang Lampe ini terletak di wilayah paling utara di lepas pantai Sinjai (Perairan Teluk Bone). Jaraknya sedikit lebih jauh dibanding pulau yang lain. Dalam Bahasa Bugis, Pulau Batang Lampe berarti Pulau yang bentuknya memanjang. Untuk menuju ke sana, hanya bisa dilalui dengan jalur transportasi laut, yaitu dengan perahu motor.

Pulau ini berpenghuni sekitar 80-an Kepala Keluarga (KK). Kurang lebih hanya sekitar 30 persen dari area pulau yang dipakai sebagai tempat bermukim. Selebihnya merupakan bukit, dan batu karang dikelilingi laut. Mengingat bentuk pulau yang memanjang, letak rumah penduduk terbagi dua. Sebahagian penduduk tinggal di sebelah Selatan dan Sebahagian lagi di Utara. Adanya bukit yang memisahkan mereka tidak membuat keakraban dan silaturahmi menjadi renggang.

Sehari harinya untuk menuju ke kampung sebelah, kita bisa menyusuri anak tangga yang menanjak dan berliku. Kita juga bisa menggunakan perahu untuk memutari pulau. Kadang kala kita juga bisa berjalan menyusuri pulau jika air laut surut di pagi hari.atau di waktu waktu tertentu.

Seperti pulau pulau lainnya di wilayah kecamatan Pulau Sembilan, Pulau Batang Lampe juga mendapatkan bantuan mesin genset dari Pemkab Sinjai. Tetapi berhubung genset ini hanya terbatas untuk pemakaian 5 jam saja (dari pukul 18.00 - 23.00 Wita), untuk itu disarankan jika berkunjung ke pulau ini sebaiknya mengisi ulang baterei handphone, laptop, kamera atau handycam dan barang elektronik.

Di balik keramahan penduduk dan suasana alam yang asri, ditambah dengan pasir putih dan batu karang, sarang burung Walet (yang pengembangannya masih dalam taraf penelitian), pembudidayaan teripang dan rumput laut serta beberapa titik lokasi mancing dan penyelaman (diving) laut biru, pulau ini ternyata menyimpan cerita rakyat di masa penjajahan Belanda. Cerita Rakyat itu adalah Batu Balandae. atau artinya “Batu si Belanda”.


Pulau Batang Lampe tampak dari laut.
Foto: Nursamsu.



Pulau Batang Lampe tampak dari laut.
Foto: Nursamsu.


Batu Balandae adalah sebuah batu besar hitam di mana terdapat sebuat pola gambar warna putih dan rona kuning pada dinding batu yang nampak menyerupai seseorang serdadu yang menengadahkan tangan kanannya ke atas. Konon, pada masa penjajahan Belanda, bukit ini dijadikan sebagai tempat persinggahan dalam perjalanan para serdadu menuju tujuan berikutnya.

Suatu hari, seorang serdadu Belanda tengah berburu ke hutan. Setelah seharian berburu, serdadu ini kelelahan dan akhirnya memutuskan untuk beristirahat sejenak. Samar samar, tampak olehnya, sebuah batu hitam besar dengan cekungan berbentuk gua tidak jauh dari tempatnya berdiri..

Sang serdadu akhirnya memutuskan untuk beristirahat saja di cekungan batu besar tersebut. Hujan pun turun dengan derasnya. Sang serdadu masih saja bernaung di bawah batu besar itu. Tiba-tiba petir menyambar dengan kerasnya. Tubuh sang serdadu terhempas akibat petir tersebut. Seiring berkembangnya waktu, sampai sekarang cerita rakyat penduduk setempat mengatakan, bekas darah dan tubuh yang menempel pada dinding batu adalah bekas tubuh serdadu Belanda yang mati akibat terhempas sambaran petir.

Benar tidaknya cerita rakyat tersebut, demikanlah sekelumit cerita rakyat yang berkembang di Pulau Batang Lampe mengenai keberadaan Batu Balandae.

Untuk menuju ke Pulau Batang lampe, diperlukan waktu kurang lebih 1 jam 30 menit dengan menggunakan perahu. Dari pulau ke Batu Balandae juga tidak sulit. Kita bisa berjalan menyusuri pinggir pulau jika air laut sedang surut atau bisa juga lewat jalan setapak yang menanjak.

Batu Balandae memang belum seterkenal legenda batu Malin Kundang, di pantai Air Manis, Sumatera barat, atau fosil fosil batu purbakala lainnya di Indonesia. Di antara beberapa obyek wisata lainnya yang berada di Kabupaten Sinjai, keberadaan batu Balandae ini memang sedikit “tenggelam” dan belum tergarap secara maksimal.

Menurut Pak Makmur, Kepala Desa Pulau Batang Lampe, di pulau ini masih ada beberapa potensi alam lainnya yang bisa dikelola secara profesional. Meski baru beberapa bulan menjabat, Pak Makmu, insinyur Teknik Perkapalan Unhas ini mengatakan, tentunya untuk membuat Pulau Batang Lampe menjadi lebih baik lagi hingga setenar pulau pulau wisata lainnya, tentu tidak lepas dari tanggung jawab berbagai pihak dan masyarakat Pulau Batang Lampe itu sendiri. Semoga. (p)

Citizen Reporter Nursamsu dapat dihubungi melalui email syamsoe@yahoo.com

| Beri Komentar| Jumlah Komentar (14) |

Komentar :

23-07-2009
Dari : App | palattae09@yahoo.co.id
asyik tauw ceritanya, siapa tauw ada pahlawanya sinjai yang belum di beritakan....kami tunggu cerita-cerita lainnya.

19-03-2009
Dari : ahmad mutakabbir | mutakabbir46@gmail.com
Ceritanya harus lebih dipoles lagi biar seru bacanya dan pada penasaran lihat langsung...Klw sudah menjadi buah bibir otomatis obyek isata lain di pulau itu jg ikut laris...

05-03-2009
Dari : Fadly Hidayat | DaengSuluminfadly@Yahoo_co.id
Salam Kompak untuk semua keluarga Gowa tallo!!! ,Tumapa'risi Kelonna Bontoala. kita sekarang di kerinci jambi.

17-02-2009
Dari : ulumgany | ulumgany@yahoo.com
ceritanya menarik, hanya saja kalau memungkinkan dikupas lagi yang lebih dalam mengenai potensi Pulau Batang Lampe terutama yang berkaitan dengan potensi pariwisatanya. Siapa tau suatu saat kita berkunjung kesana, nuhun

03-01-2009
Dari : Nuntung | daeng.nuntung@gmail.com
Menarik ceritana, Syam. Sinjai memang menarik, mauku tong pigi Sinjai kesiang... :(

01-01-2009
Dari : halim hd. | halimhade@yahoo.com
cerita tentang serdadu belanda yang disambar petir itu bisa juga ditafsirkan, sebagai bentuk ungkapan perlawanan warga secara sastera lisan yang menyatakan tentang keberpihakan alam kepada 'indonesia'. bukan hanya warga yang melawan belanda tapi juga alam.

30-12-2008
Dari : Muh. Nur Taqwim | taqwimyunus@yahoo.co.id
Sudah nasibnya serdadu Belanda itu, Petir membantu pejuang untuk menembak Serdadu Belanda sebelum dia menembak pejuang atau masyarakat Sinjai saat itu....

30-12-2008
Dari : rusle | daengrusle@angingmammiri.org
Madeceng cappo, madeceng! Kalau melihat jarak waktu yang menghabiskan 1,5 jam menuju Sinjai daratan, apakah di Pulau Batang Lampe sudah ada sekolah untuk anak2? Apakah BOS juga menghampiri mereka? Atau jangan2 ada cerita Laskar Pelangi lainnya di pulau ini? Konon, di teluk Bone banyak bermukim orang BajoE, apakah diantara 80KK penghuni Batang Lampe ada juga setitik darah turunan BajoE yang men'darat'? Ah banyak sekali pertanyaanku daeng. Maafkan, ini hanya apresiasi saya dari tulisan yang sangat bagus ini. Tulisan yang bagus, tentu akan melahirkan tulisan lainnya yang tak kalah bagusnya.

30-12-2008
Dari : hidayat | yayat_mkzr
he..he..he...jago juga lo nulis yah...sayangnya, foto darahnya "rang belanda" tuh d perbesar..biar ada tertarik k sana liatin yah...its very ggod

30-12-2008
Dari : |
Saudara "no-name", Endingnya memang seperti itu. Itu tulisan murni pertama yang mengangkat cerita rakyat mengenai batu balandae.. Terima kasih atas masukannya.. Wasalam Penulis.. www.syamsoe.com

29-12-2008
Dari : |
endingnya kok malah mengarahkan ke sektor pariwisata ya? jadi il'fil bacanya.

29-12-2008
Dari : fadly badawing | fadlymesin@yahoo.com
sori, belum selesai komentarnya yang tadi !!! maksudnya bisa ga kita diajak kesana???? biar bisa ikutan fotoin gtu loh !!!

29-12-2008
Dari : fadly badawing | fadlymesin@yahoo.com
good story.....boleh liat foto batu balandaenya ga....????

28-12-2008
Dari : Ismail Amin | ma_ipa@yahoo.com
Cerita yang menarik Pak Syamsoe... kami tunggu cerita2 menarik lainnya dari setiap perjalananta... Hormat Saya



 :: CITIZEN REPORTER
Makassar di Panyingkul!: Sebuah Persembahan
(Kamis, 12-07-2007)
Ayo Bergabung di Panyingkul!
(Minggu, 29-04-2007)
Catatan Sederhana Para Citizen Reporter
(Selasa, 31-10-2006)
Tentang Citizen Reporter dan Rubrik di Panyingkul!
(Rabu, 11-10-2006)
Riuh Rendah di Panyingkul!
(Rabu, 16-08-2006)

Untitled Document
 :: DUNIA SEGIEMPAT KAREBOSI






 :: PILKADA




 :: ALBUM PUASA 2008




Untitled Document
 :: KONTAK TIM PANYINGKUL!

Email Redaksi :

redaksi@panyingkul.com

Tim:
yus@panyingkul.com
+62 813 226 80844

Moch. Hasymi
+62 811 955 954


© Juni 2006 - Panyingkul.com All Rights Reserved
Desain Web : Nesia Andriana -- Supported by: Yuhardin