Untitled Document
 


Untitled Document
.KITAKITA
:: Jika Anda di Panyingkul ::
 
 KABAR KITA
 
 BERANDAKITA
Kegilaan, Dari Cinta Mati di Pulau Rajuni Hingga Riwayat Kadang
:: Ivan Firdaus ::
Baba Guru, Mengenang Film Rhoma Irama di Klenteng Galesong
:: Kamaruddin Azis ::
Mengagumi Tenun Troso, Mengenang Tenun Sengkang
:: Suryadin Laoddang ::
Perempuan Besi di Gunung Perak (2-selesai)
:: M. Aan Mansyur ::
Perempuan Besi di Gunung Perak (1)
:: M. Aan Mansyur ::
 
 RISETKITA
Rasa Takut : Yang Dicitrakan, Yang Dipelihara
:: Aria W. Yudhistira ::
Risetkita: Pramoedya versus Sejarah Resmi
:: Nurhady Sirimorok ::
Hikayat Rumpon Nelayan Mandar
:: Muhammad Ridwan Alimuddin ::
Di Makassar Pernah Ada “Negeri Wajo”
:: Nurhady Sirimorok ::
Surat Itu Ditulis Upas kepada September
:: Nurhady Sirimorok ::
 
 BUKUKITA
 
 KATAKOTAKITA
Kenapa si Gondrong yang Maju?
:: Ivan Firdaus dan Mustamin al-Mandary ::
Karena ‘Rewa’ Badan Binasa
:: Sudirman Nasir ::
Yang Okkot, yang Salah Sambung
:: Nursamsu danTusiana Noor Alfisyahr ::
Kandala`ka`, Kusta Bila Dusta
:: Panyingkul ::
Ayo, Si(ng)kat Terussss..!
:: Panyingkul! ::

 
 TAHUKAHKITA
 

.
 ::
Minggu, 12-04-2009 
Merintis Hidup dengan Menulis dan Jualan Buku Loakan
:: Halim HD ::


Kabut, mantap memilih jalan hidup. Foto : Halim HD.


Tidak sedikit anak muda yang tak yakin dengan jalan hidup yang ingin mereka tempuh. Tidak sedikit juga mereka yang patah arang saat berhadapan dengan kegagalan dan ketidaksetujuan sekitar atas pilihan sendiri. Citizen reporter Halim HD menuliskan kisah seorang pemuda yang tak ragu dan berhasil dalam memilih jalan hidup. (p!)
 
Sosoknya ramping dengan tinggi sekitar 160 cm dengan garis wajah dan pandangan mata yang tajam, rambut yang agak panjang diikat menjadi gelung. Sosok muda yang lahir di Karanganyar, 18 Januari 1981 ini, dipanggil dengan nama yang agak aneh : kabut. Sejak 6-7 tahun lalu, ia sering nongkrong di tempat kegiatan kesenian, diskusi sastera dan kebudayaan di area Taman Budaya Surakarta (TBS) dan kota-kota sekitarnya.

Kabut yang punya nama asli Bandung Mawardi ini juga punya kegiatan lain. Sejak 2001 ia mulai merintis kegiatan menulis, yang menurutnya merupakan kegiatan cultural. Pilihan yang sesungguhnya tak sepenuhnya disetujui orang tuanya, yang menganggap aktifitas anak bungsu dari tujuh bersaudara ini sebagai aktifitas yang nyleneh, hanya menghamburkan waktu saja. Orang tuanya berharap ia punya kegiatan yang bisa bernilai ekonomis agar bisa menunjang hidupnya.

“Orangtuaku buta huruf. Mereka hanya tahu angka dan bagaimana menghidupi keluarga,” kata Kabut sambil tersenyum santai dalam obrolan di warung depan Teater Arena TBS.

Untuk itulah, agar kegiatan kulturalnya bisa jalan, dengan berbekal sedikit tabungan dan hutang modal, ia membeli buku-buku loakan di alun-alun Lor (Utara) Kraton Surakarta Hadiningrat dan di belakang Taman Sriwedari dan sesekali ke Yogyakarta. Dengan sepeda onthel, satu-dua dos buku loakan dibawanya keliling dari satu kegiatan ke kegiatan lainnya.


Menggelar dagangan buku loak. Foto : Halim HD.


Ia menggelar barang dagangannya di antara kesibukannya sebagai mahasiswa jurusan Ushuludin STAIN (Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri) dan Jurusan Bahasa dan Sastera FKIP Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS). Bangku kuliah yang pertama ditinggalkannya karena beban yang kian berat, dan orangtuanya tidak setuju jika Kabut memilih menjadi santri.

“Aku membiayai sendiri kuliah dan hidupku. Bapakku hanya buruh bangunan dan petani, ibuku buruh tani dan jualan makanan keliling,” katanya dalam obrolan di teras Teater Arena TBS.

Tapi, jualan buku loakan juga tidak sepenuhnya bisa mencukupi untuk hidup dan biaya kuliahnya. Maka, menulis adalah salah satu jalan yang dipilih oleh Kabut yang setiap minggu melahap 2-3 buku diantara berbagai kegiatan seperti menulis naskah dan menyutradarai grup teater (Sirat, Kidung dan Samenleven), forum sastera dan kebudayaan serta mengelola buletin sastera, membuat forum “Pendiri Kaoem Estetika” (2001), Jamaah Fundamentalis Sastera” (2004), “Kabut Institut” (2004), “Sastera Pawon” (2007), “Pengajian Kalimat” (2009).

Kabut pernah membuat rekan-rekannya geleng-geleng kepala. Sebabnya, pemuda yang berusia 28 tahun ini, membuka tempat peminjaman buku gratis di sebuah kios di pojokan simpang jalan raya; dan sesekali memberi buku kepada seseorang, yang menurutnya menarik dan punya potensi sebagai penulis. Dua tahun menjalankan kegiatan peminjaman gratis buku itu membuatnya bangkrut. Banyak peminjam yang tidak mengembalikan buku, sementara kios perlu dibayar sewanya.

Tapi, Kabut yang tak mudah kapok bak Sysiphus dalam Mitologi Yunani, ia tetap merangkak dari bawah dan kembali berjualan buku. Ketika seorang rekannya bertanya tentang kios peminjaman itu, kabut hanya ketawa ngakak, sambil menunjuk kepada gelaran bukunya, yang katanya makin banyak.


Tetap bisa meneruskan usaha. Foto : Halim HD.


“Rezeki senantiasa hadir untuk hal-hal yang kita anggap baik,” tandasnya. Perkataan itu punya bukti. Saya menyaksikan beberapa bulan berikutnya ketika Kabut sudah mengendarai motor kreditan. Lagi-lagi ia ngakak lepas ketika saya tanya tentang motornya.

“Sekarang saya lebih gampang kalau mau ke mana saja, dan bisa mengajak jalan-jalan isteri saya,” katanya.
Kabut menganggap berbagai kegiatan seperti membaca dan menulis buku sebagai jalan hidupnya. Pilihan yang menurutnya bukan hanya ekonomis, tapi juga kultural.

Kegiatan menulis di media dimulainya pada tahun 2002. Satu demi satu tulisannya masuk di beberapa media seperti Seputar Indonesia, Kompas, Lampung Post, Jawa Pos, Republika, Suara Merdeka, Pelita, Pikiran Rakyat, Solopos, Surabaya Post dan beberapa media lainnya. Di samping itu, beberapa lomba dimasukinya dan meraih 2 sayembara kritik sastera Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) 2007, pemenang harapan sayembara puisi Raja Ali Haji Award (2007), dan pemenang 2 sayembara Penelitian Sastera Pusat Bahasa, “Kritik Modernitas Dalam Puisi-Puisi Afrizal Malna (2005) dan “Tragedi Manusia Dalam Puisi-Puisi Joko Pinurbo” (2006).

Salah satu tulisannya tentang pembentukan watak modernitas di dalam masyarakat Jawa yang dilakukan oleh Mangkunegara yang dimuat dalam Teroka, Kompas, dipuji oleh Menristek Kadiman Kusumayanto dalam Forum Pembaca Kompas (FPK), yang oleh mantan rektor ITB dianggap inspiratif.

“Bulan lalu, mas, 10 tulisanku dimuat di media,” begitu sms yang saya terima dari Kabut dua minggu yang lalu. “Itu bisa untuk hidup beberapa bulan dan tambahan modal jualan buku loakan,” sms berikutnya dari Kabut.

Kabut menikahi teman kuliahnya, Ririn Diah Utami pada tahun 2007. Pernikahan itu dibiayainya dengan uang hasil lomba DKJ. Kini, di kediaman yang terletak di Blulukan I, RT. 2, RW. 4, Colomadu, Karanganyar - 57174, Jateng, mereka ngemong bayi berusia 6 bulan, Abad Doa Abjad.

Pada mulanya sebuah novel, karangan HAMKA, Tenggelamnya Kapal van Der Wijck yang dibacanya pada tahun 1997 ketika kelas 1 SMA. Kabut bolos dari sekolah dan nongkrong di antara gelaran buku loakan di alun-alun Lor. Sejak itu, ia jatuh cinta dengan dunia sastera dan berusaha untuk membeli dan mengumpulkan buku-buku bekas sastera, kebudayaan, agama, filsafat, sejarah dan lainnya, yang mengantarkan dirinya kepada dunia menulis yang diyakini sebagai jalan untuk saling mencerahkan di samping sebagai nafkah. (p!)

* Citizen reporter Halim HD dapat dihubungi melalui email halimhade@yahoo.com
* Kabut dapat dihubungi melalui email bandungmawardi@yahoo.co.id

| Beri Komentar| Jumlah Komentar (20) |

Komentar :

24-09-2009
Dari : Sofi | gunawansofi@yahoo.com
Saya selalu salut dan terpesona oleh orang-orang yang pinter nulis, tapi yang cuma orang biasa. Kalau para profesor mah nulis dah biasa. Pengin banget niru bisa nulis. sepertinya menulis itu sebuah kepuasan, apalagi kalau sampai bisa dimuat media massa. Saya heran dengan kedalaman beliau menulis, bisakah saya berguru pada beliau ? Kabut institut itu markasnya dimana ya ? saya orang Karangnayar, butuh teman untuk curhat nulis, mungkin Mas Bandung ini bisa membantu.. Matursuwun

30-07-2009
Dari : Dias Panggalih | dias_yez@yahoo.co.id
saya sungguh malu dengan om kabut, tapi biasa saya panggil mas mawar..dia yang pertana kali memperkenalkan diriku dengan buku2 selain buku pelajaran. kegilaanku membaca buku kini tak melulu pada buku pelajaran yang hanya itu2 saja.. dorongan darinya untuk menulis selalu terucap, segeralah menulis sebelum kiamat. segeralah menulis sebelum matahari tenggelam..tapi saya benar2 belum bisa rutin dalam menulis. bagiku mas mawar adalah tempat curhatku habis2an setelah dengan ibuku.

10-05-2009
Dari : | www.kenyasukla
saluuuuut

21-04-2009
Dari : yudhi herwibowo | hikozza@yahoo.com
sip, but! kutaut di fb pawon ya...

18-04-2009
Dari : salah |
kisah yang mendamaikan di tengah kegerahan akan sikap konsumeris anak muda jaman sekarang pada hal-hal remeh temeh.... kaos oblong, jaket, sepatu, topi, celana pensil dan semacamnya.... belum lagi kosmetik dan perawatan tubuh, biasanya diistilahkan memanja diri... terus ajojing, have fun, fly yang berakhir sex.... subhanallah! baca,baca,baca..! tulis,tulis,tulis... !

15-04-2009
Dari : rizka | rizk_emailq@yahoo.com
Mas,, bagus bagus,,hebat hebat,, jiwitke pipine Abad ya?? Hehehe...

14-04-2009
Dari : Wijang Jr Wharek | litteratbjt@yahoo.com
aku tidak tahu harus beri komentar apa kepada suadara mudaku, kabut. sosok yang amat kukenal, meski tidak sepenuhnya. kabut, pada suatu masa, kita pernah bersama. menghuni rumah kabut, terbangun dari serpihan waktu, sisa igauan dan tumpukan bukubuku berlumut, warisan jaman berbalut kisah debu, "tak ada pintu, juga jendela di situ, kamar tidur pun ruang tamu, harum keringat perempuan atau gelisah hasrat kelelakian//bermukim di dalam gulita itu, tiada pendar cahaya lampu, dinding bertembok hampa, bersekat bising riuh cuaca, atap langit yang basah, dan lantai bau tanah, "hanya cerita dan tegur sapa, meruah tumpah katakata, berbuih hingga kikis suara" -selamat! dan salam sepenuh salam-

14-04-2009
Dari : syam sdp | syamsdp@rocketmail.com
but, nanti abad harus bareng simatahari besok, berbuat "kenakalan" bersama. salut buatmu kawan

14-04-2009
Dari : syam sdp | syamsdp@rocketmail.com
salut buatmu kawan, aku akan belajar untuk tidak mengeluh, "menulis" imbauan singkatmu yang berkali kali kau sampaikan itu, terus menjadi doa panjang yang terus menerus ku unduh. salam kangen dari kami sekeluarga, besok, abad dan simatahatari harus membuat "kenakalan" bersama yang positif. amien

14-04-2009
Dari : Hasan | hasan_ms06@yahoo.co.id
Makasih Buat Mas Kabut yang telah menerima kami dengan senang hati, khususnya sewaktu kami berkunjung ke tempat "Laku Kultural-nya" bersama Buku-Buku dagangan Loakannya.. Makasih juga BUat Mas Halim yang turut "memajang" Foto kami di Panyingkul ini.. Semoga kalian selalu eksis!..

14-04-2009
Dari : muhammad milkhan | milkopo@rocketmail.com
mas kabut itu guru saya...beliau ndk pernah marah, baik hati dan tidak pernah putus asa...terimakasih buat mas Halim HD yang sudah membantu guru saya semakin populer...hmmmm

14-04-2009
Dari : Heri Priyatmoko | heripri_puspari@yahoo.com
Abad, anaknya, pasti kagum poenya babe seperti dia... nulis lagi ah...

14-04-2009
Dari : Erni Aladjai | Erni_aladjai@yahoo.com
Salut sama Bang Kabut, semoga kabut pikiran orangtuannya berubah jadi cahaya,kalau pekerjaan menjual buku sangat mulia. Terimakasih sama Pak Halim H.D atas tulisan yang inspiratif ini.

13-04-2009
Dari : Ismail Amin | ma_ipa@yahoo.com
Syukran ka Aan, kuingatmi, saya pernah baca tulisan beliau di Republika... saya terinspirasi dari situ, menguatkan tulisan filosofi hajiku... Benar2 penulis yang produktif dan menginspirasi lainnya... Salamaki Ust. Kabut... :-)

13-04-2009
Dari : Muhammad Ridwan | ladawanplaza@yahoo.co.id
Saya salut dengan Mas Bandung, dia pemuda pekerja keras sebagaimana jiwa orang jawa perantauan kerja apa saja yang penting halal, tapi kalau cowok Makassar kayaknya malu-maluki kerja kayak beginian atau terlalu tinggi gengsinya nabilang orang Gayanaji atau STEEL (Selera Tinggi Ekonomi Lemah)

13-04-2009
Dari : Indah Darmast | hutan_cemara2000@yahoo.com
pertama mengenalnya di Pawon Sastera, aku sudah mencium baunya kalau dia bakal jadi salah satu harta kekayaan do Solo khususnya dan Sastra Indonesia. dan memang, kecurigaanku terbukti

13-04-2009
Dari : aan mansyur | aanmansyur@yahoo,com
Bandung Mawardi dan beberapa kawan mudanya di Solo (seperti Haris Firdaus) penulis esai yang bagus. tulisannya sering muncul di media. kumpulan tulisan mereka bisa dibaca di http://kabutinstitut .blogspot.com/.

13-04-2009
Dari : Ismail Amin | ma_ipa@yahoo.com
Inspiratif !!! Saya ingat betul pernah membaca tulisan yang penulisnya Bandung Mawardi, tapi lupa, entah apa, entah kapan...

12-04-2009
Dari : Ali | ali_sucen@yahoo.co.id
Maju Terus Kang Kabut..

12-04-2009
Dari : Ahmad | salam_sucen@yahoo.co.id
Wah.. mas Bandung memang sosok yang layak diteladani.. Salut Buat mas Bandung.. Moga Makin eksis bersama Kabut Institutenya..



 :: CITIZEN REPORTER
Makassar di Panyingkul!: Sebuah Persembahan
(Kamis, 12-07-2007)
Ayo Bergabung di Panyingkul!
(Minggu, 29-04-2007)
Catatan Sederhana Para Citizen Reporter
(Selasa, 31-10-2006)
Tentang Citizen Reporter dan Rubrik di Panyingkul!
(Rabu, 11-10-2006)
Riuh Rendah di Panyingkul!
(Rabu, 16-08-2006)

Untitled Document
 :: DUNIA SEGIEMPAT KAREBOSI






 :: PILKADA




 :: ALBUM PUASA 2008




Untitled Document
 :: KONTAK TIM PANYINGKUL!

Email Redaksi :

redaksi@panyingkul.com

Tim:
yus@panyingkul.com
+62 813 226 80844

Moch. Hasymi
+62 811 955 954


© Juni 2006 - Panyingkul.com All Rights Reserved
Desain Web : Nesia Andriana -- Supported by: Yuhardin