|
|
| . |
| ::
|
| Minggu, 12-04-2009 | Merintis Hidup dengan Menulis dan Jualan Buku Loakan :: Halim HD ::
| Kabut, mantap memilih jalan hidup. Foto : Halim HD.
Tidak sedikit anak muda yang tak yakin dengan jalan hidup yang ingin mereka tempuh. Tidak sedikit juga mereka yang patah arang saat berhadapan dengan kegagalan dan ketidaksetujuan sekitar atas pilihan sendiri. Citizen reporter Halim HD menuliskan kisah seorang pemuda yang tak ragu dan berhasil dalam memilih jalan hidup. (p!) | Sosoknya ramping dengan tinggi sekitar 160 cm dengan garis wajah dan pandangan mata yang tajam, rambut yang agak panjang diikat menjadi gelung. Sosok muda yang lahir di Karanganyar, 18 Januari 1981 ini, dipanggil dengan nama yang agak aneh : kabut. Sejak 6-7 tahun lalu, ia sering nongkrong di tempat kegiatan kesenian, diskusi sastera dan kebudayaan di area Taman Budaya Surakarta (TBS) dan kota-kota sekitarnya.
Kabut yang punya nama asli Bandung Mawardi ini juga punya kegiatan lain.
Sejak 2001 ia mulai merintis kegiatan menulis, yang menurutnya merupakan kegiatan cultural. Pilihan yang sesungguhnya tak sepenuhnya disetujui orang tuanya, yang menganggap aktifitas anak bungsu dari tujuh bersaudara ini sebagai aktifitas yang nyleneh, hanya menghamburkan waktu saja. Orang tuanya berharap ia punya kegiatan yang bisa bernilai ekonomis agar bisa menunjang hidupnya.
“Orangtuaku buta huruf. Mereka hanya tahu angka dan bagaimana menghidupi keluarga,” kata Kabut sambil tersenyum santai dalam obrolan di warung depan Teater Arena TBS.
Untuk itulah, agar kegiatan kulturalnya bisa jalan, dengan berbekal sedikit tabungan dan hutang modal, ia membeli buku-buku loakan di alun-alun Lor (Utara) Kraton Surakarta Hadiningrat dan di belakang Taman Sriwedari dan sesekali ke Yogyakarta. Dengan sepeda onthel, satu-dua dos buku loakan dibawanya keliling dari satu kegiatan ke kegiatan lainnya.
Menggelar dagangan buku loak. Foto : Halim HD.
Ia menggelar barang dagangannya di antara kesibukannya sebagai mahasiswa jurusan Ushuludin STAIN (Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri) dan Jurusan Bahasa dan Sastera FKIP Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS). Bangku kuliah yang pertama ditinggalkannya karena beban yang kian berat, dan orangtuanya tidak setuju jika Kabut memilih menjadi santri.
“Aku membiayai sendiri kuliah dan hidupku. Bapakku hanya buruh bangunan dan petani, ibuku buruh tani dan jualan makanan keliling,” katanya dalam obrolan di teras Teater Arena TBS.
Tapi, jualan buku loakan juga tidak sepenuhnya bisa mencukupi untuk hidup dan biaya kuliahnya. Maka, menulis adalah salah satu jalan yang dipilih oleh Kabut yang setiap minggu melahap 2-3 buku diantara berbagai kegiatan seperti menulis naskah dan menyutradarai grup teater (Sirat, Kidung dan Samenleven), forum sastera dan kebudayaan serta mengelola buletin sastera, membuat forum “Pendiri Kaoem Estetika” (2001), Jamaah Fundamentalis Sastera” (2004), “Kabut Institut” (2004), “Sastera Pawon” (2007), “Pengajian Kalimat” (2009).
Kabut pernah membuat rekan-rekannya geleng-geleng kepala. Sebabnya, pemuda yang berusia 28 tahun ini, membuka tempat peminjaman buku gratis di sebuah kios di pojokan simpang jalan raya; dan sesekali memberi buku kepada seseorang, yang menurutnya menarik dan punya potensi sebagai penulis. Dua tahun menjalankan kegiatan peminjaman gratis buku itu membuatnya bangkrut. Banyak peminjam yang tidak mengembalikan buku, sementara kios perlu dibayar sewanya.
Tapi, Kabut yang tak mudah kapok bak Sysiphus dalam Mitologi Yunani, ia tetap merangkak dari bawah dan kembali berjualan buku. Ketika seorang rekannya bertanya tentang kios peminjaman itu, kabut hanya ketawa ngakak, sambil menunjuk kepada gelaran bukunya, yang katanya makin banyak.
Tetap bisa meneruskan usaha. Foto : Halim HD.
“Rezeki senantiasa hadir untuk hal-hal yang kita anggap baik,” tandasnya. Perkataan itu punya bukti. Saya menyaksikan beberapa bulan berikutnya ketika Kabut sudah mengendarai motor kreditan. Lagi-lagi ia ngakak lepas ketika saya tanya tentang motornya.
“Sekarang saya lebih gampang kalau mau ke mana saja, dan bisa mengajak jalan-jalan isteri saya,” katanya.
Kabut menganggap berbagai kegiatan seperti membaca dan menulis buku sebagai jalan hidupnya. Pilihan yang menurutnya bukan hanya ekonomis, tapi juga kultural.
Kegiatan menulis di media dimulainya pada tahun 2002. Satu demi satu tulisannya masuk di beberapa media seperti Seputar Indonesia, Kompas, Lampung Post, Jawa Pos, Republika, Suara Merdeka, Pelita, Pikiran Rakyat, Solopos, Surabaya Post dan beberapa media lainnya. Di samping itu, beberapa lomba dimasukinya dan meraih 2 sayembara kritik sastera Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) 2007, pemenang harapan sayembara puisi Raja Ali Haji Award (2007), dan pemenang 2 sayembara Penelitian Sastera Pusat Bahasa, “Kritik Modernitas Dalam Puisi-Puisi Afrizal Malna (2005) dan “Tragedi Manusia Dalam Puisi-Puisi Joko Pinurbo” (2006).
Salah satu tulisannya tentang pembentukan watak modernitas di dalam masyarakat Jawa yang dilakukan oleh Mangkunegara yang dimuat dalam Teroka, Kompas, dipuji oleh Menristek Kadiman Kusumayanto dalam Forum Pembaca Kompas (FPK), yang oleh mantan rektor ITB dianggap inspiratif.
“Bulan lalu, mas, 10 tulisanku dimuat di media,” begitu sms yang saya terima dari Kabut dua minggu yang lalu. “Itu bisa untuk hidup beberapa bulan dan tambahan modal jualan buku loakan,” sms berikutnya dari Kabut.
Kabut menikahi teman kuliahnya, Ririn Diah Utami pada tahun 2007. Pernikahan itu dibiayainya dengan uang hasil lomba DKJ. Kini, di kediaman yang terletak di Blulukan I, RT. 2, RW. 4, Colomadu, Karanganyar - 57174, Jateng, mereka ngemong bayi berusia 6 bulan, Abad Doa Abjad.
Pada mulanya sebuah novel, karangan HAMKA, Tenggelamnya Kapal van Der Wijck yang dibacanya pada tahun 1997 ketika kelas 1 SMA. Kabut bolos dari sekolah dan nongkrong di antara gelaran buku loakan di alun-alun Lor.
Sejak itu, ia jatuh cinta dengan dunia sastera dan berusaha untuk membeli dan mengumpulkan buku-buku bekas sastera, kebudayaan, agama, filsafat, sejarah dan lainnya, yang mengantarkan dirinya kepada dunia menulis yang diyakini sebagai jalan untuk saling mencerahkan di samping sebagai nafkah. (p!)
* Citizen reporter Halim HD dapat dihubungi melalui email halimhade@yahoo.com
* Kabut dapat dihubungi melalui email bandungmawardi@yahoo.co.id
|
| | Jumlah
Komentar (20) |
|
| Komentar :
24-09-2009 Dari : Sofi | gunawansofi@yahoo.com Saya selalu salut
dan terpesona oleh
orang-orang yang
pinter nulis, tapi
yang cuma orang
biasa. Kalau para
profesor mah nulis
dah biasa. Pengin
banget niru bisa
nulis. sepertinya
menulis itu sebuah
kepuasan, apalagi
kalau sampai bisa
dimuat media massa.
Saya heran dengan
kedalaman beliau
menulis, bisakah
saya berguru pada
beliau ? Kabut
institut itu
markasnya dimana ya
? saya orang
Karangnayar, butuh
teman untuk curhat
nulis, mungkin Mas
Bandung ini bisa
membantu..
Matursuwun 30-07-2009 Dari : Dias Panggalih | dias_yez@yahoo.co.id saya sungguh malu
dengan om kabut,
tapi biasa saya
panggil mas
mawar..dia yang
pertana kali
memperkenalkan
diriku dengan buku2
selain buku
pelajaran.
kegilaanku membaca
buku kini tak melulu
pada buku pelajaran
yang hanya itu2
saja..
dorongan darinya
untuk menulis selalu
terucap, segeralah
menulis sebelum
kiamat. segeralah
menulis sebelum
matahari
tenggelam..tapi saya
benar2 belum bisa
rutin dalam menulis.
bagiku mas mawar
adalah tempat
curhatku habis2an
setelah dengan
ibuku. 10-05-2009 Dari : | www.kenyasukla saluuuuut
21-04-2009 Dari : yudhi herwibowo | hikozza@yahoo.com sip, but! kutaut di
fb pawon ya... 18-04-2009 Dari : salah | kisah yang
mendamaikan di
tengah kegerahan
akan sikap
konsumeris anak muda
jaman sekarang pada
hal-hal remeh
temeh....
kaos oblong, jaket,
sepatu, topi, celana
pensil dan
semacamnya.... belum
lagi kosmetik dan
perawatan tubuh,
biasanya
diistilahkan memanja
diri...
terus ajojing, have
fun, fly yang
berakhir sex....
subhanallah!
baca,baca,baca..!
tulis,tulis,tulis...
! 15-04-2009 Dari : rizka | rizk_emailq@yahoo.com Mas,,
bagus bagus,,hebat
hebat,,
jiwitke pipine Abad
ya??
Hehehe... 14-04-2009 Dari : Wijang Jr Wharek | litteratbjt@yahoo.com aku tidak tahu harus
beri komentar apa
kepada suadara
mudaku, kabut. sosok
yang amat kukenal,
meski tidak
sepenuhnya. kabut,
pada suatu masa,
kita pernah bersama.
menghuni rumah
kabut, terbangun
dari serpihan waktu,
sisa igauan dan
tumpukan bukubuku
berlumut, warisan
jaman berbalut kisah
debu, "tak ada
pintu, juga jendela
di situ, kamar tidur
pun ruang tamu,
harum keringat
perempuan atau
gelisah hasrat
kelelakian//bermukim
di dalam gulita itu,
tiada pendar cahaya
lampu, dinding
bertembok hampa,
bersekat bising riuh
cuaca, atap langit
yang basah, dan
lantai bau tanah,
"hanya cerita dan
tegur sapa, meruah
tumpah katakata,
berbuih hingga kikis
suara" -selamat! dan
salam sepenuh salam- 14-04-2009 Dari : syam sdp | syamsdp@rocketmail.com but, nanti abad
harus bareng
simatahari besok,
berbuat "kenakalan"
bersama.
salut buatmu kawan 14-04-2009 Dari : syam sdp | syamsdp@rocketmail.com salut buatmu kawan,
aku akan belajar
untuk tidak
mengeluh, "menulis"
imbauan singkatmu
yang berkali kali
kau sampaikan itu,
terus menjadi doa
panjang yang terus
menerus ku unduh.
salam kangen dari
kami sekeluarga,
besok, abad dan
simatahatari harus
membuat "kenakalan"
bersama yang
positif.
amien 14-04-2009 Dari : Hasan | hasan_ms06@yahoo.co.id Makasih Buat Mas
Kabut yang telah
menerima kami dengan
senang hati,
khususnya sewaktu
kami berkunjung ke
tempat "Laku
Kultural-nya"
bersama Buku-Buku
dagangan Loakannya..
Makasih juga BUat
Mas Halim yang turut
"memajang" Foto kami
di Panyingkul ini..
Semoga kalian selalu
eksis!..
14-04-2009 Dari : muhammad milkhan | milkopo@rocketmail.com mas kabut itu guru
saya...beliau ndk
pernah marah, baik
hati dan tidak
pernah putus
asa...terimakasih
buat mas Halim HD
yang sudah membantu
guru saya semakin
populer...hmmmm 14-04-2009 Dari : Heri Priyatmoko | heripri_puspari@yahoo.com Abad, anaknya, pasti
kagum poenya babe
seperti dia...
nulis lagi ah... 14-04-2009 Dari : Erni Aladjai | Erni_aladjai@yahoo.com Salut sama Bang
Kabut, semoga kabut
pikiran orangtuannya
berubah jadi
cahaya,kalau
pekerjaan menjual
buku sangat mulia.
Terimakasih sama Pak
Halim H.D atas
tulisan yang
inspiratif ini. 13-04-2009 Dari : Ismail Amin | ma_ipa@yahoo.com Syukran ka Aan,
kuingatmi, saya
pernah baca tulisan
beliau di
Republika... saya
terinspirasi dari
situ, menguatkan
tulisan filosofi
hajiku... Benar2
penulis yang
produktif dan
menginspirasi
lainnya... Salamaki
Ust. Kabut... :-) 13-04-2009 Dari : Muhammad Ridwan | ladawanplaza@yahoo.co.id Saya salut dengan
Mas Bandung, dia
pemuda pekerja keras
sebagaimana jiwa
orang jawa
perantauan kerja apa
saja yang penting
halal, tapi kalau
cowok Makassar
kayaknya malu-maluki
kerja kayak beginian
atau terlalu tinggi
gengsinya nabilang
orang Gayanaji atau
STEEL (Selera Tinggi
Ekonomi Lemah) 13-04-2009 Dari : Indah Darmast | hutan_cemara2000@yahoo.com pertama mengenalnya
di Pawon Sastera,
aku sudah mencium
baunya kalau dia
bakal jadi salah
satu harta kekayaan
do Solo khususnya
dan Sastra
Indonesia. dan
memang, kecurigaanku
terbukti 13-04-2009 Dari : aan mansyur | aanmansyur@yahoo,com Bandung Mawardi dan
beberapa kawan
mudanya di Solo
(seperti Haris
Firdaus) penulis
esai yang bagus.
tulisannya sering
muncul di media.
kumpulan tulisan
mereka bisa dibaca
di
http://kabutinstitut
.blogspot.com/. 13-04-2009 Dari : Ismail Amin | ma_ipa@yahoo.com Inspiratif !!! Saya
ingat betul pernah
membaca tulisan yang
penulisnya Bandung
Mawardi, tapi lupa,
entah apa, entah
kapan... 12-04-2009 Dari : Ali | ali_sucen@yahoo.co.id Maju Terus Kang
Kabut.. 12-04-2009 Dari : Ahmad | salam_sucen@yahoo.co.id Wah.. mas Bandung
memang sosok yang
layak diteladani..
Salut Buat mas
Bandung.. Moga Makin
eksis bersama Kabut
Institutenya.. |
|
|
|
|
| ::
CITIZEN REPORTER |
 | (Kamis, 12-07-2007) |  | (Minggu, 29-04-2007) |  | (Selasa, 31-10-2006) |  | (Rabu, 11-10-2006) |  | (Rabu, 16-08-2006) | |
|
Untitled Document
| ::
DUNIA SEGIEMPAT KAREBOSI |
|
Untitled Document
| ::
KONTAK TIM PANYINGKUL! |
Email Redaksi :
redaksi@panyingkul.com
Tim:
yus@panyingkul.com
+62 813 226 80844
Moch. Hasymi
+62 811 955 954
|
|
|