|
|
| . |
| ::
|
| Selasa, 14-04-2009 | Kaki Lima Losari, Riwayatmu Kini… :: Winarni ::
| Senja di Losari, pesona tak tertandingi. Foto: Asrul.
Winarni adalah citizen reporter yang konsisten melaporkan masalah perencanaan dan pembangunan kota, membagi ulasan, nukilan riset dan pengamatannya mengenai nasib pedagang kaki lima (PKL) di Pantai Losari, Makassar. Benarkah Losari kumuh dan macet semata karena mereka? Benarkah relokasi adalah jalan keluar tepat? Mengapa pemerintah kota tidak memikirkan kebijakan yang lebih partisipatif? (p!) | Setiap akhir pekan, anjungan pantai losari selalu ramai, meski tak ada kegiatan khusus. Ruang terbuka ini menjadi tempat rekreasi favorit bagi warga. Akhir pekan lalu saya berada di antara orang-orang yang melepas penat di sana. Ke Losari, keluar sejenak dari rutinitas kerja dan tugas kuliah.
Di kaki langit tampak mentari yang akan mencair membiaskan semburat jingganya, pemandangan khas yang memesona. Tampak beberapa fotografer mencoba melukis cahaya indah itu di kamera mereka, sedangkan pengunjung lain hanya terpaku sekaligus terpukau memandangi dan menikmati lukisanTuhan itu.
Tak jauh dari anjungan, tampak alat berat dan para pekerja berhelem proyek menanamkan tiang pancang ke dalam laut. Sebentar lagi anjungan yang baru akan segera hadir memberi warna berbeda di pantai kebanggaan warga Makassar ini.
Entah mengapa, setiap saya bercerita tentang pantai Losari, yang terlintas di benak adalah nostalgia pedagang kaki lima yang dulu berjejer sepanjang bibir pantai. Apakah hanya saya yang merasakannya? Saya pun tidak yakin. Malah sebaliknya, saya meyakini, siapapun yang pernah merasakan kisah “restoran terpanjang” itu, pasti akan merindukannya. Merindukan sebuah wisata kuliner yang sangat unik. Kala itu, mal yang kini tumbuh sporadic, belum semarak. Tempat itu seakan-akan menjadi pilihan utama di malam hari khususnya di akhir pekan untuk berkumpul dengan orang-orang terdekat.
Tetapi kini, semua tinggal masa lalu, menjadi sejarah, menjadi dongeng yang akan diceritakan kepada anak-anak yang tak pernah merasakan masa itu.
PKL Losari dari Masa ke Masa
Istilah pedagang kaki lima merupakan peninggalan zaman penjajahan Inggris. Istilah tersebut diambil dari ukuran lebar trotoar yang waktu itu dihitung dalam feet atau kaki. Lebar trotoar kala itu adalah 5 kaki atau 1,5 meter. Dari ukuran tersebut, pedagang yang berjualan di trotoar akhirnya disebut pedagang kaki lima.
Keberadaan PKL di Pantai Losari merupakan sebuah kebijakan pemerintah di penghujung tahun 80-an. Sekitar 254 penjual yang kerap menawarkan berbagai jenis makanan mendapat izin resmi dari pemerintah untuk mengelola jualannya dengan tempat yang permanen di atas trotoar di bibir Pantai Losari. Adanya konsentrasi sentra ekonomi karena posisinya yang cukup strategis, mengundang pedagang lain untuk turut menjajakan usaha kulinernya. Pergerakan ekonomi di wilayah tersebut pun merajalela. Maka lahirlah sebuah restoran yang memanjang dari utara ke selatan atau sebaliknya, menyebarkan aroma makanan hingga menjadi penarik tersendiri bagi warga kota ini.
Bahkan ‘restoran’ sepanjang kurang lebih 1,5 kilometer itu didaulat sebagai ‘restoran terpanjang’ di dunia.
Seiring waktu, di awal tahun 2000, ide untuk memperbaiki citra sekaligus peningkatan mutu Pantai Losari pun menguak. Tembok yang keropos di tambah beban bangunan serta polusi air yang makin parah menjadi alasan. Di pertengahan tahun 2001 usaha revitalisasi atas nama penyelamatan pantai terus digulirkan. Meskipun menimbulkan kontroversi namun pemerintah kota yang dipimpin Amiruddin Maula ketika itu terus menampakkan keseriusannya. Pemkot mulai melakukan penataan bagi 300-an pedagang kaki lima. Dengan darah dan airmata mereka mempertahankan lapak-lapak mereka namun akhirnya harus rela di pindahkan di lokasi baru, Jalan Metro Tanjung Bunga, dengan janji tidak akan di pindahkan lagi.
Namun janji tinggallah janji. Stigma pemimpin baru melahirkan kebijakan baru pun tertoreh dalam sejarah penataan PKL Losari. Di awal tahun 2005, PKL kembali “digaruk” oleh pemerintah kota, saat Walikota Ilham Arief Sirajuddin telah menggantikan Bapak Amiruddin Maula. Terbukanya akses dari Kawasan Tanjung Bunga dan Takalar memberikan aliran pergerakan kendaraan semakin besar, begitu pula sebaliknya. Isu kemacetan sebagai akibat kehadiran PKL di lokasi itu menjadi alasan utama ‘penataan’.
Kebijakan pemindahan itu semakin kuat karena tempat yang digunakan PKL saat itu adalah gerbang utama permukiman elit di Makassar, Tanjung Bunga. Anggapan bahwa PKL menganggu kebersihan, keindahan, ketertiban dan kelancaran lalu lintas pun harus ditelan mentah oleh para PKL. Dilihat dari segi estetika, jalan metro tanjung bunga, tempat berjualan para pedagang tersebut menghadirkan kesan kumuh dan semrawut. Kesemrawutan ini terjadi karena tenda dan sarana pendukung lainnya yang mereka gunakan untuk berjualan, biasanya ditinggal di tempat jualan. Kondisi ini, tentu saja menyebabkan para ‘kaum elit’ yang konon identik dengan kebersihan, ketertiban dan keindahan, merasa tidak nyaman.
Maka lahirlah sebuah produk hukum ‘penataan’ yang tentu saja bukan dibuat oleh para PKL. Lagi-lagi, isu pilih kasih antara pengusaha besar dan pengusaha kecil terjadi.
Hingga lahirlah sebuah lokasi baru yang disebut Pantai Laguna. Bagi yang pernah merasakan taman Safari di sekitar tahun 70-an hingga awal tahun 90-an pasti masih mengenal patung gajah yang berdiri di tempat yang kini telah menjadi Pantai Laguna tersebut. Dahulu, tempat itu adalah salah satu taman bermain anak sebelum hadirnya taman bermain yang marak di mal akhir-akhir ini.
Laguna berarti air asin yang terkumpul dan terpisah dari laut. Akibat jalan terusan Metro Tanjung Bunga, perairan bagian selatan jalan tersebut terus mengalami pendangkalan dan pembusukan organik laut akibat tidak optimalnya pertukaran air. Laguna tersebut pun ditimbun dan menjadi lokasi baru para PKL yang sudah bertahun-tahun menggantungkan hidupnya di bibir pantai losari. Dikelilingi tembok tinggi, membuat akses pemandangan laut di lokasi ini tertutup. Sebuah bentuk penataan dari hasil pengkajian oleh mereka yang katanya berpendidikan.
Pedagang pisang epe berharap penghasilan yang kembali naik. Foto: Asrul.
Pantai Laguna
Dari hasil studi mahasiswa PWK Fak. Teknik Unhas terungkap lebih dari 80 persen pedagang mengaku mengalami penurunan penghasilan dari masa ke masa.
Tahir Nompo, seorang pedagang pisang epe, yang memulai usahanya saat pemerintah kota memberikannya gerobak dagang , mengaku mengalami penurunan penghasilan sejak di pindahkan dari lokasi Jalan Penghibur.
Anto, pedagang sari laut, membenarkan. Pada saat berjualan di Jalan Penghibur, ia mampu meraup penghasilan hingga Rp300 ribu per malam. Dipindahkan ke Jalan Metro Tanjung Bunga penghasilannya mulai menurun dan di tempat baru itu, ia hanya mendapatkan sekitar Rp150 ribu per malam. “Di sini pembeli kurang. Di Jalan Penghibur pembeli bisa makan sambil melihat pemandangan sedangkan di sini tidak.”
Ical, pemilik café Laguna mengakui untuk pelayanan berupa air, listrik, sampah, perlindungan bangunan, dan keamanan, pantai Laguna memang unggul dibandingkan lokasi lainnya. Hanya saja, pembeli berkurang, mungkin akibat ongkos parkir yang dibebankan saat masuk ke lokasi ini serta tidak adanya magnet lain yang membuat lokasi ini menjadi menarik bagi pembeli.
Penurunan penghasilan ini juga dapat dilihat dengan banyaknya lapak-lapak pedagang yang harus gulung tikar. Beberapa lapak yang tidak terlalu strategis kosong tak berpenghuni. Lapak-lapak yang tersisa hanya kafe yang telah memiliki langganan atau pembeli tetap. Umumnya lapak-lapak ini tampak lebih menarik dengan aksesoris interior yang terkesan mewah dan alunan musik yang memberikan dentuman hiburan.
Dari pengelola Pantai Laguna diperoleh data pengunjung dilihat dari jumlah kendaraan sekitar 500 motor dan 50 mobil di hari biasa sedangkan para hari libur, Sabtu dan Minggu, bisa mencapai 2.500 motor dan 300 mobil. Jika para pedagang mengaku mengalami penurunan pembeli maka bisa dibayangkan jumlah pengunjung sebelumnya di kawasan Penghibur.
Keluar dari Pantai Laguna
Investasi ekonomi yang tidak menjanjikan lagi dari penggusuran yang kerap dihaluskan menjadi penataan dari Jalan Penghibur maupun Jalan Metro Tanjung Bunga ke Pantai Laguna, membuat beberapa pedagang berinisiatif untuk mendorong gerobaknya keluar dari lokasi tersebut.
Para pedagang sari laut mencoba mencari lokasi baru di beberapa titik-titik strategis di kota ini, sedangkan pedagang pisang epe dan aneka minuman, mencoba mencari peruntungan di beberapa titik disekitar jalan penghibur. Tujuannya tentu saja untuk menyambung kehidupan.
Namun sekali lagi stereotipe tidak tertib kembali di tempelkan ke jidat mereka. Seperti inilah kondisi kota kita saat ini, stereotipe ‘tidak tertib’ ataupun ‘tidak taat aturan’ seolah hanya diarahkan kepada mereka yang kecil dan lemah. Tidak kepada mereka yang secara sosial kuat, pejabat ataupun para pengusaha. Padahal kalau kita mau memandang lebih jernih, bukankah budaya tidak tertib melanda semua pihak? Pertumbuhan mall di kota ini misalnya, yang hadir di tengah kawasan pendidikan, atau yang menggusur ruang publik dan cagar budaya, apakah dapat dikatakan sebagai sebuah ‘ketertiban’? Melarang mereka berjualan di suatu tempat namun tetap menagih retribusi, apakah dapat dikatakan sebuah ‘taat aturan’?
Bijakkah jika hanya menyalahkan mereka yang kecil?
Terlepas dari diskriminasi yang masih kental di kota ini, sesungguhnya banyak manfaat sosial yang dapat kita peroleh dari PKL. Disamping ketidaknyaman dan ketidakteraturan mereka, salah satu manfaat kehadiran PKL Losari yakni kemampuan mereka menjadi salah satu penyangga perekonomian rakyat, yang mandiri, kuat dan membuka lapangan kerja bagi banyak pihak di sekeliling mereka. Di kala lapangan kerja masih kurang, PKL hadir memberikan lapangan pekerjaan yang tidak terbatas jumlahnya, karena sektor ini relatif mudah dimasuki oleh mereka yang bermodal kecil dengan resiko kerugian yang tidak terlalu besar.
Arsyad dan keluarga adalah salah satu pedagang pisang epe yang mendorong gerobaknya keluar dari Pantai Laguna. Kini, setiap hari ia menempati sebuah tempat di depan sebuah ruko, di sudut perepatan antara jalan Ali Malaka dan jalan Penghibur, tak jauh dari mesjid. Seringkali Arsyad mengingat kenangannya saat menjajakan penganan khas Makassar itu di trotoar bibir pantai, tepat diseberang jalan dari tempatnya berjualan sekarang. Tapi semua tinggallah kenangan.
Kini, ia bersama keluarga tetap ingin menyambung hidup dengan mendorong gerobaknya keluar dari Laguna. Walaupun tiap hari usaha mereka wajib membayar retribusi tetap saja penggusuran menjadi momok yang perlu di khawatirkan. Selain kekhawatiran di gusur oleh pemerintah, Arsyad pun takut jika perusahaan yang menyewa ruko itu telah berganti.
“Kontrakannya masih diperpanjang?” Pertanyaan itulah yang kerap kali ia pertanyakan pada pegawai yang menempati ruko tersebut. Toleransi yang diberikan perusahaan tersebut untuk berbagi ruang dengan pedagang pisang epe, bisa saja berubah jika yang menempati ruko itu adalah orang yang berbeda.
Saya teringat akhir pekan beberapa minggu lalu, ketika saya menikmati pisang epe di sana. Seorang berjas turun dari mobilnya lalu bergegas menghampiri gerobak milik Arsyad.
“Tolong cepat dibuatkan pisang epe tiga porsi, ini untuk Pak SBY” ucap lelaki itu. Hari Minggu esoknya, memang giliran partai berwarna biru milik Pak Presiden itu yang akan berkampanye. Arsyad yang tadi duduk di depan saya, segera melaksanakan tugasnya. Meletakkan pisang di atas pembakaran dan mengipasnya.
“Pisang epe di sini enak, saya pernah mencobanya, makanya saya merekomendasikan pisang epe bapak untuk di coba Pak SBY. Bapak beruntung, pisang epenya bisa dicoba oleh bapak presiden,” tutur lelaki berjas itu.
Seketika itu juga saya tersenyum sendiri. Lalu kenapa jika Pak Presiden merasakan pisang epe milik Arsyad. Apakah SBY bisa menjamin, Arsyad akan tetap mendapatkan ruang di sini untuk berjualan? Apakah SBY bisa menjamin Arsyad tidak akan digusur lagi atas nama “penataan”? Apakah SBY bisa menjamin Arsyad tidak akan kesulitan mencari ruang baru kala pemilik kantor tersebut telah berganti?
Penataan PKL secara Partisipatif
Adanya simpangan antara rencana dengan kenyataan pada penataan PKL Losari yang terjadi di lapangan menjadi faktor yang menjadikan ‘penataan’ ini perlu peninjauan kembali. Optimalisasi perkembangan dan pertumbuhan aktivitas sosial ekonomi yang dulu diharapkan dengan adanya penataan tersebut, rupanya tidak berjalan sebagai mestinya. Selain itu, rendahnya kualitas perencanaan juga disebabkan karena tidak diikutinya proses teknis dan prosedur kelembagaan serta tidak adanya komitmen aparatur terkait.
Kebijakan pengelolaan dan penataan PKL Losari seharusnya didasarkan pada ketegasan pemerintah yang objektif dan tidak pilih kasih. Jangan sampai dalam aturan yang memang tidak membolehkan berdagang di tempat tersebut, namun dalam prateknya mereka tetap dapat berjualan dengan pembayaran sejumlah uang.
Seperti yang terjadi sekarang, di mana setiap pedagang yang menempati titik di jalan penghibur harus membayar retribusi sebesar 5 ribu rupiah jauh lebih mahal daripada retribusi di Pantai Laguna yakni Rp3.000. Hal ini akan menyulitkan, jika usaha-usaha itu semakin membesar dan semakin banyak, dan pemerintah baru berinisiatif untuk menggusur atau menatanya.
Penataan PKL Losari perlu kebijakan yang bijak dan arif, yang tidak hanya bisa menyalahkan, menggusur atau menertibkan semata. Kebijakan untuk mereka seharusnya tidak didasarkan pada pandangan sebelah mata, apalagi didasarkan para stereotipe-stereotipe yang negatif.
Kegagalan pemerintah memahami mereka akan menghasilkan kebijakan yang juga menemui kegagalan. Bukankah pedagang kecil seperti mereka juga manusia?
Mereka juga memiliki rasa dan harapan. Mereka memiliki hak untuk hidup, hak ekonomi, hak pendidikan dan tentu hak kesehatan. Terutama hak sebagai warga negara yang bebas dari segala diskriminasi hukum dan prilaku sewenang-wenang pemerintah.
Kebijakan yang dikeluarkan seharusnya didasarkan pada filosofi pemberdayaan partisipatif yang memungkinkan para PKL Losari bisa berpijak pada kekuatan sendiri untuk terus berusaha, berkarya dan pada saat yang sama bisa menjaga dan melestarikan ketertiban dan keindahan kota. Hal ini menuntut pelibatan secara menyeluruh yang mencakup semua pedagang bukan hanya para ‘anggota pemerintah’ yang didaulat sebagai pemimpin mereka. Penataan tersebut harus memegang prinsip kesetaraan dan kemitraan, transparansi, kesetaraan kewenangan, kesetaraan tanggung jawab, dan pemberdayaan. Menempati beberapa titik di jalan penghibur bagi saya bukanlah masalah sejauh pedagang tersebut punya komitmen untuk menjaga kebersihan, keindahan dan ketertiban kota ini.
Saya tidak sabar menantikan akhir pekan lagi. Duduk menikmati semilir angin laut, melihat matahari terbenam di kaki langit yang membentuk semburat jingga di sebelah barat hingga menciptakan siluet senja yang mempesona, dan tentu saja sambil menikmati sepiring pisang epe. Saya ingin terus mencatat geliat PKL, sejarah Arsyad dan lainnya, tiang utama ekonomi kerakyatan kota ini. (p!)
*Citizen reporter Winarni dapat dihubungi melalui email winarni@panyingkul.com
|
| | Jumlah
Komentar (21) |
|
| Komentar :
23-07-2009 Dari : app | palattae09@yahoo.co.id Mbak win,
Enaknya Dimakassar
liat Pantai
Gratis....
Pantai losari lebih
baik yg sekarang
Dari pada Dulu...
Buktinya dengan
dibangunnya anjungan
pantai losari orang
bisa bebas
duduk,bersantai ria,
melihat sunset,
tinggal bayar Uang
parkir atw modal
terimah kasih...
padagan kaki lima
memang harus
disingkirkan dari
sana biar tidak
kelihatan Kumuh.
seharusnya Kita juga
Harus berikan solusi
Untuk kedepan
bagaimana nasib
Pantai Losari, ,
jangan sampai nanti
akan dibangun sebuah
Mall disana. kalau
kepantai losari
harus bayar, seperti
dikota-kota besar
indonesia,(surabaya)
,!
22-07-2009 Dari : awie | panji,reforma@gmail.com mba inar, bisakah sy
dpt terbarumu
"melihat makassar
dari jendela
pete-pete"? gratis
toh? 22-07-2009 Dari : agank | agank.mks@gmail.com inar, kusuka
reportasimu. akan
lbh bagus kalo
ditulis jg solusi
permsalahannya.
pantai losari ini
terlalu sempit untuk
jd satu2nya sumber
pencarian hidup pkl.
lbh dari itu losari
adlh sejarah ekonomi
kota pantai mks.
laiknya "benda
bersejarah",perlu
konservasi. pantai
losari sdh sangat
tercemar, dan penuh
sampah. jd,
revitalisasi pantai
losari tanpa
perawatan lingkungan
hidup adalah
mubasir. 20-07-2009 Dari : | pkl digusur bisa
karena melanggar
blue print
perencanaan kota
(artnya blue
printnya ada). tapi,
bisa juga karena
blue print ada (dan
merka diakomodir di
dalamnya), tapi blue
print itu lalu
dilanggar, mungkin
sebab pada akhirnya
mereka dianggap
mengganggu. atau,
mungkin juga blue
print tidak ada dan
mereka dianggap
mengganggu. kira2
mana yang terjadi?
jika yang terjadi
adalah yang pertama
artinya mereka
dianggap tidak
penting tapi
setidaknya pemkot
punya blue print
(dan mematuhinyau).
jika yang kedua,
artinya mereka
diangap penting
sayangnya hanya di
level normatif. jika
yang ketiga, artinya
mereka memang tidak
pernah dianggap.
tidak di atas
kertas, tidak di
lapangan. kira2 mana
yang sedang terjadi?
pemerintah kita
sepertinya sedang
menjalankan yang
ketiga. tidak punya
perencanaan dan pkl2
memang tidak pernah
dianggap.. 17-07-2009 Dari : dg Paricu | ngomong soal
penataan , memang
ada blueprint tata
ruang tuk pantai
losari khususnya dan
makassar pada
umumnya ? jangan2
memang tidak ada dan
setiap walikota
punya ide sendiri2
ttg penataan
kota..ballasami
punna kamma anjo..
kalau mau usul agar
pantai losari tetap
cantik dan bebas
polusi,enak
dinikmati bagi warga
dan pengunjung lokal
atau mancanegara
maka buatlah aturan
agar sepanjang jalan
pantai losari itu
bebas kendaraan
bermotor roda
empat..jadi hanya
sepeda dan pejalan
kaki saja yg boleh
lewat..antekamma
komandang, semoga
nipilangngeri ji
anne usulan to caddi
ya .. 25-06-2009 Dari : Lahammy | Berselang dua bulan,
saat terakhir
menatap lambaian
batas kotamu,
di minggu kemarin,
tujuh hari penuh
kembali kaki
kujejakkan dibumi
Makassar.
Ah... pantai losari,
walau dikau tersayat
dalam proses
metamorfose,
disetiap penghujung
senja,
rindu masih tetap
menggiringku untuk
selalu ingin menatap
mentari merapat
dibibirmu. 21-06-2009 Dari : sam | daenk.mp@gmail.com masih teringat waktu
kecil, waktu itu
pantai losari jadi
ikon meja terpanjang
di dunia, dimana
para Pedagang saling
nyambung menyambung
jd satu, but
kamma-kamae tenami
kodong. 05-06-2009 Dari : Anak Seribu Pulau | alodyamaharani@gmail.com Sngt ironis!!
Hilanglah satu lg
kebanggaan kota
makassar. Bsk atau
lusa, entah apa lg
yg bisa dibangga'in.
Dl, setiap
kemakassar, blm
lengkap rasanya klo
blm ke pantai
losari, walaupun
sekedar minum teh
botol sambil
menikmati sunset.
Sekarang...??
Tinggal pilih mau ke
mall yg mana.!! Di
palembang, setiap
org yg dr sul sel yg
sdh lama ga' balik
ke makassar, selalu
menanyakan losari.
Walaupun sdh
bertahun2 sdh gak
pulang, pantai
losari masih ada dlm
inagtan mrka. Org dr
palembang pun yg
pernah ke mkz, sngt
mengagumi pt losari.
Entah apa yg ada dlm
pikiran
pemprov/pemprov kota
mkz, orng dr luar
mkz pun mengagumi pt
losari. Sngt ironis!
Kami atas nama
perantau dr
bugis-mkz
Mengucapkan berduka
cita atas hilangnya
tempat2 penuh
kenangan di mkz. 29-05-2009 Dari : Deka Alpriyana | dk_alpr@yahoo.co.id relokasi PKL oleh
PEMKOT "GATOT" Gagal
Total.Bayangkan saja
dari 200 lebih
pedagang kaki lima
yang pindah ke
Laguna sekarang
tingan 73 orang
saja. itupun
termasuk pkl yang
baru mulai usaha,
sementara PKL yang
lama cuma tersisa 45
orang. IRONIS
kan....
Sekarang malah
terancam di "gusur"
lagi. akankah lebih
baik atau malah
ingin me"mati" kan
kehidupan para PKL.
Relokasi kepetingan
PEMKOT atau
kepentingan
memperkaya diri
pejabat PEMKOT,
tanpa memperdulikan
kepentingan dan hak
PKL sebagai warga
kota yang bertahan
hidup. 11-05-2009 Dari : | yg jelas, sy ingin
sepanjang pantai
losari,para
pelancong dapat
menikmati sunset
tanpa ada halanga.sy
ingat dulu,kita tdk
bisa menikmatinya
karena terhalang
oleh tenda2 jualan
di sepanjang
pantai,belum lagi
para penjualnya yg
seenaknya&tanpa
malu2 pada
pembelinya membuang
sampah atau
limbahnya langsung
ke pantai.jadi wajar
saja klu
dipindahkan. 29-04-2009 Dari : emink aja | emink333@yahoo.com ??????? 29-04-2009 Dari : | "Winarni adalah
citizen reporter
yang konsisten
melaporkan masalah
perencanaan dan
pembangunan kota,
membagi ulasan,
nukilan riset dan
pengamatannya.."
(red p!). cayo..!
bberapa waktu lalu
saya membaca laporan
ttg pasar
tradisional di laman
ini.. wah wah kren
banget..! p! 10
penulis macam ini
akan menjadikanmu 10
kali tampak lebih
keren. hehehe. this
is the real citizen
report 18-04-2009 Dari : | sepakat!
di kota-kota besar
ruang publik sangat
jarang ditemui (di
Indonesia)....
pantai losari di
makassar dengan
garis pantai yang
indah dan panjang
kalau sudah terlalu
'perhitungan'
bisa-bisa bukanmi
ruang publik yang
betul-betul buat
rakyat tapi hanya
untuk dinikmati
beberapa golongan,
dan orang yang tidak
'mampu' jadi yang
tidak trgolong di
dalamnya.... 17-04-2009 Dari : Akhyar | Akhyarrusydi@ymail.com tulisan yg
bagus...terimakasih.
baru saja sy mo
posting, ternyata
sudah ada.losari t4
bersejarah bagi
saya.waktu
kecil,seringka
diajak ortu main2
disana,terutama di
taman safari.
remaja, tempat
nongkrong dan tempat
bazarnya
teman2.bukan trend
dulu nongkrong di
mall.losari waktu
masih kuliahka,jd
tempat bazar buat
ngumpul dana
kegiatan
kemahasiswaan ma
tempatku menikmati
sunset ma
yayang.waktu
kerja,losari jd
tempat melepas lelah
dan penat akan
kerjaan.nyamanna,sam
bil tiduran
dipinggir pantai,
menikmati angin laut
saat malam.tapi
sekarang kodong, apa
mo dinikmati di
sana?hampir semua
tempat memandang
sunset di pinggir
losari sudah dipagar
seng.tak tahu
bagaimana wajah
losari
nanti?masihkah bisa
dinikmati
orang-orang biasa
seperti saya,atau
ikut-ikutan ekslusif
seperti karebosi? 17-04-2009 Dari : Lahammy | Sore itu, jarum jam
menunjukkan pukul
17.45, 9 april
2009.Tiga bulan
sudah ketika aku
kembali menginjak
bumi Makassar. Dan
pada penghujung hari
yg bersejarah ini,
dari salah satu
kamar dilantai 3
Imperial AD,sinar
mentari membiaskan
semburat warna
jingga diseputaran
pantai
Losari,indah......
Sukma dan raga
begitu larut yg
tersadar saat azan
magrib berkumandang.
Selesai shalat,dgn
berjalan kaki
keinginan untuk
menghirup aroma laut
begitu mendesak. Dan
ketika melewati
pintu pagar, langkah
kaki terhenti
disebuah gerobak
diseberang jalan.
akh... pisang epe yg
nikmat. (syukur kau
masih disana). Dan
rindu itupun
terobati. 16-04-2009 Dari : halim hd. | halimhade@yahoo.com dari laporan
winarni, kembali
kita diingatkan dan
sellau dihadapkan
kepada suatu policy
dan kondisi ketika
pengelola kota tidak
menganggap pkl
sebagai kapital
sosial sebuah kota.
banyak elite
menganggap pkl
sebagai sesuatu yang
'merusak' pandangan.
padahal, jika kita
mau lebih dalam
memahaminya, suatu
citra kota juga
dibentuk oleh pkl.
jakarta dengan tata
ruang di wilayah
senen misalnya
pernah dianggap
sebagai icon untuk
mencari buku bekas
yanag bagus, bermutu
dan buku antik, sama
seperti tahun-tahun
1940-50-an tentang
senen dengan
warungnya yang
menjadi idaman kaum
seniman. hal yang
sama di solo,
waruntg-warung
lesehan, wedangan,
menjadi bagian kota
dan identik dengan
life style. juga di
malioboro taahun
1970-an setelah jam
21.00 menjadi ajang
bagi kaum bohemin,
seniman, intelektual
dan akademisi untuk
santai, dan di situ
pula malioboro
menjadi 'universitas
terbuka' bagi siapa
saja untuk diskusi,
dialog. tentu saja
kita juga berhadapan
dengan pkl yang
kumuh dan jorok.
soal ini bisa
diatur. yang
terpenting sejauh
mana pengelola kota
memberikan
kesempatan dan
membuka peluang
partisipasi pkl
untuk mengurus ruang
hidupnya. sekali
lagi, yang membuat
kita prihatin adalah
dengan bahasa yang
'halus' yang
dirumuskan oleh
eleite pengelola
kota, 'penataan',
sering kita dapatkan
adalah penggusuran.
dan penggusuran ini
nampaknya berkaitan
dengan ekonomisasi
ruang, sehingga pkl
dianggap tidak
ekonomis dan susah
diatur. dan disitu
pula kita merasakan
betapa pkl selalu
menjadi kambing
hitam dari persoalan
perkotaan.
16-04-2009 Dari : salah | salahuddin_irm@yahoo.co.id tempat main2ku dulu
itu di patung gajah
sama patung buaya,
terus yang banyak
luncuran2nya to....
kalo diajak ke
pantai losari sama
mama' pare'bukka'
biasa sama adekku,
karena biasa
sebagianji yg
diajak...
nd tauimi sekarang,
masih ada yang
begitukh keluarga di
mks... kan jadi kota
besarmi tawwa,
bandara
internasionalna juga
megah...
masa' mau
rantasa'2....
hehehe...
rindu
sekaaaliiiika'...
moka kaya'nya pulang
liburan semester
besok, mungkin,,,,
terima kasih
tulisannya...! 15-04-2009 Dari : halim hd. | halimhade@yahoo.com penataan =
penggusuran pkl. 15-04-2009 Dari : halim hd. | halimhade@yahoo.com saran untuk winarni.
saya belum baca
laporan inar. tapi
foto yang terpasang
menurut saya,
sebaiknya angelnya
besar, wide angel,
agar nampak ruang
sekitarnya, apalagi
berkaitan dengan
tata ruang. 14-04-2009 Dari : surul | wah...., sangat
menarik untuk
disimak.Tulisan yang
betul-betul bagus
yang mau membeberkan
ke tidak adilan dan
ketidak berdayaan
bagi si ekonomi
kecil, sementara
penguasa melenggang
dan menciptakan
kesenjangan sosial
yang jauh berbeda.
Ini sangat
menyakitkan. Tapi
apa yang mau kita
perbuat ? ta'liwa'
liwaki.
14-04-2009 Dari : Joki S'02 | adehermawan@yahoo.co.id Tabe'...
Mantap mmg
tukisannya ade'ku yg
satu ini....
Ulasanx menarik,
gagasannya jg tidak
biasa.
Perencanaan dan
penataan kota di
Makassar mmg mjadi
persoalan yang
sepertinya
pemerintah tidak
berniat untuk
menuntaskannya.
Banyak Indikasi mmg
bahwa pmbangnan kota
Makassar lebih
berpihak pada
pemodal,terutama
asing, tidak di
dasari pada asas
kebutuhan
masyarakat,
identitas kota, atau
tidak berbasis
ekonomi kerakyatan.
Sesuatu yg tidak
adil menurut saya,
karena akan
memperlebar
kesenjangan
ekonomi....
Hehehe..... |
|
|
|
|
| ::
CITIZEN REPORTER |
 | (Kamis, 12-07-2007) |  | (Minggu, 29-04-2007) |  | (Selasa, 31-10-2006) |  | (Rabu, 11-10-2006) |  | (Rabu, 16-08-2006) | |
|
Untitled Document
| ::
DUNIA SEGIEMPAT KAREBOSI |
|
Untitled Document
| ::
KONTAK TIM PANYINGKUL! |
Email Redaksi :
redaksi@panyingkul.com
Tim:
yus@panyingkul.com
+62 813 226 80844
Moch. Hasymi
+62 811 955 954
|
|
|