|
|
| . |
| ::
|
| Kamis, 07-05-2009 | Perempuan Besi di Gunung Perak (2-selesai) :: M. Aan Mansyur ::
| Salmiah dan Halijah menempa besi.Suami Halijah asyik menyaksikan. Foto : M. Aan Mansyur.
Ingatan akan sebilah pisau, cinta ibu dan kekaguman pada perempuan-perempuan pandai besi diramu citizen reporter M. Aan Mansyur dalam catatan perjalanannya kali ini. Ia menjalin irisan kenangan masa kecilnya dengan kehidupan perempuan-perempuan perkasa yang ditemuinya di Gunung Perak, Kabupaten Sinjai, Sulsel, dalam reportase dua bagian. Dalam bagian kedua sekaligus terakhir, pertanyaan tentang teori gender, konstruksi sosial peran lakilaki dan perempuan, mendesak-desak untuk mencari konfirmasi dalam kehidupan para pandai besi ini.(p!) | LANGIT Sabtu siang awal Mei yang menyambut saya di Maddakko sedang mendung. Biji-biji gabah dan kakao yang menghampar di atas terpal warna-warni yang menutup separuh jalan-jalan Gunung Perak mulai dikarungkan. Tapi saya tetap cerah karena bisa datang ke sana. Apalagi senyum para perempuan besi yang saya temui di bengkel mereka alangkah cerah pula.
Padi-padi di sawah yang menutup separuh punggung gunung sedang kuning menanti masa panen. Bunga-bunga liar di sisi-sisi selokan jalan yang mengalirkan air jernih sedang kembang. Di kejauhan kubis-kubis dan sayur-sayuran lain hijau teratur membentuk grafik yang khas. Betapa indah!
Sebagian laki-laki masih berada di sawah, sebagian lagi di kebun saat saya tiba di Maddakko. Lelaki di luar rumah, perempuan di dalam rumah. Begitu pembagian kerjanya. Sejak nenek-kakek saya sudah begitu, kata Suada. Sebagian anak-anak baru saja bersalin seragam. Sebagian lain masih mengenakan seragam sekolah. Mereka berkumpul di sisi jalan menikmati makanan ringan. Sesekali mereka masuk ke bengkel ibunya. Sekadar duduk mengamati ibunya. Atau mengambil sisa-sisa besi yang tak lagi digunakan untuk dijual. Sisa-sisa besi itulah yang jadi kerupuk di tangan mereka.
Bekerja sebagai pandai besi adalah pekerjaan rumah bagi perempuan Maddakko. Kini tinggal 9 bengkel. Banyak perempuan ikut suami ke sawah atau ke kebun. Di antara 9 bengkel itu juga sudah ada 2 orang laki-laki yang bekerja. Lelaki yang tak punya lahan, kata Suada.
“Kami yang tak mengerti pertanian tinggal di rumah jadi pandai besi. Karena hanya inilah yang mampu kami kerjakan,” kata Suada lagi.
Suami Halijah masuk ke bengkel beberapa saat setelah kami berbincang dengan para perempuan besi itu. Ia mengenakan sarung, peci dan kaos putih yang di punggungnya ada tulisan SALSA Communnity, mungkin maksudnya community. Ia duduk di sudut bangku di belakang Salmiah sambil mengisap rokok. Ia menonton istrinya menempa besi. Tangan kiri istrinya memegang tang menjepit besi membara dan tangan sebelahnya mengacungkan godam seberat 5 kilogram.
“Saya tidak tahu membuat parang seperti itu. Saya tidak tahu bekerja sebagai pandai besi,” katanya sambil menunjuk istrinya yang sedang menempa parang yang masih setengah jadi.
Sesekali ia melirik sudah berapa parang yang selesai dikerjakan istrinya. Dalam sehari, satu bengkel bisa menghasilkan hingga 10 parang. Rata-rata satu parang selesai dalam sejam. Di hari pasar, laki-lakilah yang pergi menjual hasil kerja mereka. Parang dan pisau yang mereka buat selain dipasarkan di Sinjai juga beredar di berbagai kabupaten tetangga: Bone, Gowa, Bulukumba dan Bantaeng. Harga parang-parang itu bervariasi tergantung besarnya. Antara Rp.15.000 hingga Rp30.000.
Bahan baku diperoleh dari orang Jawa, penjual koke’-koke’ (penjual mainan). Mereka membawanya dari Makassar. Besi-besi bekas itu mereka beli seharga Rp9.000 per kilogram. Kadang-kadang suami mereka langsung membelinya ke kota jika kehabisan bahan baku. Sementara arang yang digunakan untuk membakar besi dibeli seharga Rp30.000 per karung. Arang dari kayu khusus. Kata Halijah, tak boleh menggunakan arang sembarang sebab parang bisa tak jadi. Pembagian kerja antara suami dan istri di antara mereka jelas. Tak ada yang merasa dirugikan dengan pembagian seperti itu. Mereka hidup bahagia.
Parang, pisau, cangkul dan berbagai karya perempuan besi. Foto : M. Aan Mansyur.
SAYA berkelahi dengan teori-teori feminisme di kepala, yang selalu ingin menyelundup lewat pertanyaan dan pernyataan. Ketika saya melihat cangkul, tombak dan parang panjang hasil kerja perempuan-perempuan besi, saya melihat ada sisi-sisi berlawanan di sana. Begitu juga ketika memperhatikan godam berat menghantam merah bara besi. Atau bahkan ketika menyadari anak-anak perempuan lebih sering duduk mengamati ibu mereka dibandingkan anak-anak lelaki.
Saya tahu, beberapa kali saya betul-betul kecolongan. Seperti saat saya bertanya apa yang dirasakan Halijah bekerja sebagai pandai besi sementara orang di luar kampungnya berpikir bahwa pandai besi adalah pekerjaan laki-laki.
Ia mungkin sudah sering mendapat pertanyaan serupa. Makanya ia tersenyum saja dan menjawab, “Kami hidup bahagia. Perempuan di sini bekerja keras siang dan malam.”
Saya merasa salah sendiri telah mengeluarkan pertanyaan bodoh semacam itu kepada perempuan yang sudah berpuluh tahun menjadi pandai besi. Tetapi kepala saya yang dipenuhi teori-teori impor yang saya baca, saya dengar dan saya dapatkan dari sekolah itu sungguh kuat. Teori-teori itu tanpa bisa saya cegah punya caranya sendiri memunculkan diri. Betapa teori-teori itu telah menguasai saya bahkan ketika saya berpikir sebaliknya.
Pada mulanya hanya karena rasa penasaran yang ditimbulkan pisau ibuku. Lalu tumbuh semacam pikiran seperti kekerasan dalam rumah tangga, diskriminasi, perlawanan gender dan sejumlah hal-hal serupa itu. Maka saya datanglah ke Maddakko menemui para perempuan besi itu. Namun Hamidah mengaku tak pernah cekcok dengan suami yang telah dinikahinya selama hampir 30 tahun karena pembagian tugas semacam itu.
Saya ingat tahun 2007 lalu ketika saya mengirimkan proposal Perempuan Besi Gunung Perak untuk ikut Eagle Award di Metro TV. Proposal itu lolos hingga tahap 20 besar mengalahkan ratusan proposal lain. Lewat telepon saya diwawancarai oleh para juri mengenai subjek yang saya usulkan. Mereka selalu bertanya tentang ketidakadilan gender dan kekerasan rumah tangga. Mereka bertanya tentang konflik para perempuan besi dengan suami mereka. Saya menjawab bahwa mereka tidak mengenal hal-hal semacam itu.
Saya paham, setelah melihat pemenang-pemenang Eagle Award beberapa tahun terakhir. Film-film dokumenter itu nampak harus memunculkan konflik dan kalau perlu dramatisasi tokoh-tokohnya. Proposal saya tidak lolos untuk ikut seleksi selanjutnya.
Sejak saat itu saya bertekad membuat film dokumenter sendiri. Saya mematangkan riset tentang perempuan-perempuan besi tersebut. Saya ingin merekam keseharian perempuan besi itu. Saya ingin belajar dari mereka, seperti saya ingin orang lain belajar dari mereka. Hidup di kota membuat saya terlalu sering mendengar perbincangan teman-teman saya, baik pria maupun wanita, yang berkaitan dengan isu gender. Segala macam laku seolah harus terkait dengan isu gender.
Di kaki Gunung Bawakaraeng, para perempuan besi itu tak pernah tahu soal teori gender. Sementara di kota, orang-orang beradu pendapat soal teori gender. Di Gunung Perak, dalam kesederhanaan, lelaki dan perempuan hidup sehat karena bekerja keras dan saling memahami. Di kota, lelaki dan perempuan sering berkelahi karena perihal sepele.
Tobbo, yang bertugas menyalakan tungku. Foto : M. Aan Mansyur.
KECUALI Tobbo, kelima perempuan dari dua bengkel yang saya datangi keluar ketika mendengar motor penjual ikan langganan mereka berhenti di depan bengkel. Mereka berkelakar sambil mengerubungi kotak kayu tempat ikan di bagian belakang motor.
Penjual ikan itu datang dari Kota Sinjai, sekira 60 kilometer dari Gunung Perak. Ia sudah akrab dengan perempuan-perempuan besi itu. Mereka diminta oleh penjual ikan itu untuk membayar hutang ikan yang belum dibayar. Suada bilang, “Belumpi laku parang-parangku, kasiang. Bagaimana kalau saya bayar pake parangmi saja?”
Mereka kembali memasuki bengkel masing-masing membawa sekantong kecil ikan yang tak lagi segar. Saatnya istirahat menempa besi. Salmiah pamit pulang dulu membawa ikan. Saya juga pamit dan berjanji akan datang lagi.
Saat-saat istirahat seperti ini adalah waktu yang digunakan oleh anak-anak gadis mereka untuk belajar mengubah besi-besi kecil. Kata Halijah, “Mereka biasa mulai membuat pisau-pisau kecil.” Begitulah anak-anak ini mewarisi keterampilan ibu mereka. Sebagaimana anak-anak lelaki akan ikut ayah mereka ke sawah atau kebun. Mereka belajar menempa besi dan bertani bukan dari bangku sekolah.
Saya ingat kisah ibuku yang belajar menjahit dan menjual dari ibunya. Ibuku menggunakan sisa-sisa perca untuk membuat sapu tangan atau lap kaki. Di hari libur ibuku juga ikut menjual bersama ibunya di pasar.
Dalam perjalanan pulang, di atas sepeda motor, saya terus mengingat ibuku dan para perempuan besi. Ingatan itu entah mengapa bergantian hadir di antara sejumlah teori feminisme yang terus menghuni kepalaku.
Teori-teori itu timbul-tenggelam di antara sejumlah dugaan. Mungkin jika saya membagi kisah perempuan besi ini orang akan bilang sebetulnya mereka hanya tidak sadar melakukan emansipasi atau semacam itu. Mungkin ada yang akan menyebutnya Kartini dari kaki Gunung Bawakaraeng, atau sebutan yang mirip dengan itu. Mungkin ada yang berpikir tentang perlawanan perempuan. Atau malah ada yang berpikir bahwa laki-laki telah menindas mereka dengan pekerjaan sedemikian beratnya. Dan sejumlah mungkin yang lain.
Setiba di Makassar saya menelpon ibu di Balikpapan. Menanyakan kabar dan menguji ingatannya tentang pisau yang dulu ia beli. Ia sehat dan masih ingat pisau itu. Saya bilang pisau itu tidak dibuat di Manipi. Pisau itu dibuat oleh Perempuan Besi Gunung Perak. Ibuku sedang menjahit ketika saya menelpon. Ia sedang menjahit baju buat tiga cucunya. Ia masih setia menggunakan Singer tuanya. Ia enggan menggantinya dengan mesin jahit listrik. Singer tua itu, katanya, mungkin bisa mencegah rematik. (p!)
*Citizen reporter M. Aan Mansyur dapat dihubungi melalui email m.aan.mansyur@gmail.com
|
| | Jumlah
Komentar (8) |
|
| Komentar :
17-07-2010 Dari : eqhy | ewhyj@yahoo.com BULU'SALAKA...I OVE
YOU.....N'
pANYINGKULU' iS tHE
beST.... 15-06-2010 Dari : opik | kurobuta_wombat@yahoo.co.id kangen ama keramahan
masyarakat gunung
perak (lereng gunung
yang ditanami
kentang, lalu dibeli
dengan uang perak)
he he 08-06-2010 Dari : d'Lato Lanasier | lasunu@rocketmail.com Tulisan menarik yang
mengungkap
"kedahsyatan"
perempuan Bugis.
Sama hebatnya dengan
Perempuan Bali yang
bekerja di
Konstruksi Jalan
atau perempuan Jawa
yang banyak bekerja
disawah. Sulit
ditemui pekerjaan
yang perlu tenaga
dikerjakan oleh
perempuan yang
berfisik lembut di
berbagai daerah
khususnya di Tana
Ogi.
Paling2 mengerjakan
pekerjaan ringan,
masak,menenun dll
kegiatan rumah
tangga.
Tapi sayang Bulu
Salaka berubah nama
jadi Gunung Perak.
Kenapa DPRD diam
saja? Ganti dong
kembali jadi Bulu
Salaka seperti Ujung
Pandang kembali jadi
Makassar, atau Irian
Barat jadi Irian
Jaya lalu berubah
lagi jadi Papua.
Tantangan buat DPRD
Sinjai tu belaE.
Ewako DPRD, jangan
D4 di Kantor (
datang,duduk,diam,du
it) saja.
Maaf...para Yth.. 14-04-2010 Dari : stefanus | Menarik, dari segi
penjelasan yg rinci
rasanya seperti ada
ditempat kejadian
sayang tdk masuk
final, yg sebenarnya
pantas diekspose bhw
jika mencintai
pekerjaan tdk ada
halangan yg
menghambat
kebahagiaan mrk.Sy
tunggu yg
lainnya,Bravo. 10-09-2009 Dari : amir | menarik sekali
tuisannya bung aan
ini. sekali lagi
bukti klo isu
kesetaraan gender
adalah masalah yang
bukan "milik" orang
kampung, tapi
masalah yg 'diimpor'
dari luar.. cumadi
tulisan bung aan ini
masih menggantung
satu pertanyaan.
bagaimana mulanya
pekerjaan pandai
besi dikerjakan
perempuan? soal ini
apakah bung aan
punya catatannya?
semoga.. lepas dari
itu tulisan ini
sangat menarik.. ! 04-09-2009 Dari : Dg Paricu | Wanita besi ?
tulisan menarik
sekaligus unik ttg
ketangguhan wanita
Indonesia khususnya
wanita pedalaman
Sinjai. Banyak
wanita tangguh dari
daerah lain di negri
ini seperti di
Jogjakarta, bali dll
dan mereka terbiasa
dengan pembagian
hidup seperti itu.
Justru orang luar yg
melihatnya
berpendapat tidak
adil dan mencapnya
sebagai ketidak
setaraan gender.
06-08-2009 Dari : erni | erni_aladjai@yahoo.com, menarik sekali
tulisan ini. 07-05-2009 Dari : halim hd. | halimhade@yahoo.com sisi lain yang
menarik dari tulisan
aan mansyur ini
adalah fotografinya:
ngomong sebagai
data/fakta. sangat
menarik misalnya
foto paling atas
pada tulisan kedua,
seorang laki-laki
uncang-uncang kaki
menonton perempuan
bekerja. |
|
|
|
|
| ::
CITIZEN REPORTER |
 | (Kamis, 12-07-2007) |  | (Minggu, 29-04-2007) |  | (Selasa, 31-10-2006) |  | (Rabu, 11-10-2006) |  | (Rabu, 16-08-2006) | |
|
Untitled Document
| ::
DUNIA SEGIEMPAT KAREBOSI |
|
Untitled Document
| ::
KONTAK TIM PANYINGKUL! |
Email Redaksi :
redaksi@panyingkul.com
Tim:
yus@panyingkul.com
+62 813 226 80844
Moch. Hasymi
+62 811 955 954
|
|
|