Untitled Document
 


Untitled Document
.KITAKITA
:: Jika Anda di Panyingkul ::
 
 KABAR KITA
 
 BERANDAKITA
Kegilaan, Dari Cinta Mati di Pulau Rajuni Hingga Riwayat Kadang
:: Ivan Firdaus ::
Baba Guru, Mengenang Film Rhoma Irama di Klenteng Galesong
:: Kamaruddin Azis ::
Mengagumi Tenun Troso, Mengenang Tenun Sengkang
:: Suryadin Laoddang ::
Perempuan Besi di Gunung Perak (2-selesai)
:: M. Aan Mansyur ::
Perempuan Besi di Gunung Perak (1)
:: M. Aan Mansyur ::
 
 RISETKITA
Rasa Takut : Yang Dicitrakan, Yang Dipelihara
:: Aria W. Yudhistira ::
Risetkita: Pramoedya versus Sejarah Resmi
:: Nurhady Sirimorok ::
Hikayat Rumpon Nelayan Mandar
:: Muhammad Ridwan Alimuddin ::
Di Makassar Pernah Ada “Negeri Wajo”
:: Nurhady Sirimorok ::
Surat Itu Ditulis Upas kepada September
:: Nurhady Sirimorok ::
 
 BUKUKITA
 
 KATAKOTAKITA
Kenapa si Gondrong yang Maju?
:: Ivan Firdaus dan Mustamin al-Mandary ::
Karena ‘Rewa’ Badan Binasa
:: Sudirman Nasir ::
Yang Okkot, yang Salah Sambung
:: Nursamsu danTusiana Noor Alfisyahr ::
Kandala`ka`, Kusta Bila Dusta
:: Panyingkul ::
Ayo, Si(ng)kat Terussss..!
:: Panyingkul! ::

 
 TAHUKAHKITA
 

.
 ::
Jumat, 05-06-2009 
Mengagumi Tenun Troso, Mengenang Tenun Sengkang
:: Suryadin Laoddang ::


Salah seorang penenun di Troso.
Foto : Suryadin Laoddang.




Citizen reporter Suryadin Laoddang yang berasal dari kota tenun Sengkang, seolah mengalami de javu saat mendengarkan suara alat tenun di Troso, sentra kain tenun tradisional di Jepara. Ia mengajak kita menelusuri kehidupan pengusaha kain tenun beserta pasang surutnya dan upaya bertahan di tengah kelangkaan benang serta seretnya permintaan. Tulisan ini dilatari sebuah kebetulan yang menyenangkan, sebagai pria yang akrab dengan “kletek-keletek” suara alat tenun nun di Wajo, ia ternyata menyunting perempuan Troso yang berasal dari keluarga pengusaha tenun. (p!)
 

Tanda bahwa saya akan memasuki sentra tenun, tampak jelas. Lepas dari pasar Pecangaan, persis di samping utara Masjid Walisongo, gerbang selamat datang berdiri kokoh. Inilah pintu gerbang bertuliskan “Selamat Datang di Sentra Tenun Troso” yang menyambut. Hiasannya bernuasa kain tenun ikat tradisional. Ya, inilah Troso, desa tenun yang terletak 15 kilometer sebelum kota Jepara.

Bagi banyak orang Troso mungkin nama asing. Berbeda dengan Jepara, kota kelahiran Pahlawan Nasional R.A Kartini yang mahsyur dalam sejarah dan juga dikenal dengan sebutan kota ukir. Tapi wawasan saya bertambah setelah istri saya, Ida Masruroh, mengajak berlibur ke desa kelahirannya. Ini dia sentra tenun yang penuh pesona itu: Troso.


“Ketatak tak tak”, “ketatak tak tak”, “ketatak tak tak”, “ketatak tak tak”. Suara itu membuat tidur terusik. Ingatan menerawang jauh ke kota kelahiran: Sengkang. Suara serupa kerap saya dengar di kampung halaman. Suara khas Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM), suara yang juga membangkitkan rasa rindupada ibunda tercinta.
Suara itu berasal dari rumah H. Sofwan Sukri, yang berdempetan dengan ruang kerja para penenun yang terletak di pojok jalan desa. Para pekerja berseliweran membawa benang dan kain hasil tenunan. Waktu menunjukkan pukul 7 pagi, tapi para pekerja sudah siap di mesin masing-masing. Rutinitas dimulai dengan membuka plastik selubung dan dan membersihkan perangkat-perangkat tenun dari debu.


Cahaya matahari menerobos dari balik lembaran atap transparan yang terselip di antara genteng. Atap ruang initak dipasangi plafond. Dengan berlantaikan tanah yang sudah dipadatkan, ruang kerja ini cukup sejuk bagi para pekerja, meski ada juga pekerja yang bertelanjang dada, dan berpeluh keringat. “Bekerja tanpa baju ini sih sudah tradisi saya dari dulu Mas”, komentar Sukarlan (33) yang tercatat sudah 13 tahun bekerja di Industri Tenun milik Pak Kaji Sofwan (Panggilan akrab para pekerja pada sang pemilik H. Sofwan Sukri). Para pekerja sendiri umumnya adalah penduduk dari desa Troso dan desa sekitarnya. Mengingat desa Troso merupakan salah satu basis organisasi masyarakat Nahdatul Ulama (NU), maka di desa ini juga banyak terdapat Pondok Pesanteren dan sekolah formal bernafaskan Islam. Ini pulalah yang menjadi alasan, munculnya istilah “Kamisan” bagi para pekerja saat menerima gaji mingguan, esok Jum’at masyarakat Troso libur total dari segala aktifitas kerja dan sekolah. Ini berbeda dengan kota lain di Pulau Jawa yang mengenal istilah “Setunan” untuk penerimaan gaji pada hari Sabtu.

Selain kamar mandi dan dapur khusus bagi pekerja, ruang berukuran 12 x 8 Meter ini juga ternyata “Full Music”. Lagu-lagu dangdut dari Rhoma Irama setiap hari menyambangi telinga para pekerja, kadang juga diputar lagu Iwan Fals.

Berbeda dengan ATBM di Wajo – Sulsel, selain memproduksi kain sutera ATBM, di Troso juga memproduksi kain katun, filamen, rayon, bahkan serat tumbuhan. Meski kebutuhan akan benang sangat tinggi, tapi sayang para pengrajin kadang harus gigit jari karena langka dan mahalnya bahan baku. Saat ini, bahan baku tersebut harus diimpor dari China. Para pengrajin seringkali harus ke kota Bandung untuk berburu bahan baku. Itupun harus “berebut” dengan para perajin batik dari Pekalongan dan Solo. Sementara bahan baku berupa serat tumbuhan seperti serat nenas, serat kulit pisang, serat eceng gondok, serat pandan, atau lidi kelapa didatangkan dari kota Tegal atau kota Salatiga Jawa Tengah. Pewarna kain atau alat bantu kerja lainnya umumnya mudah didapatkan di kota Kudus atau kota Semarang.


Proses pembuatan kain dimulai dengan memindahkan helai-helai benang dari gulungan besar ke gulungan plastik berukuran lebih kecil yang disebut pedati plastik. Pedati-pedati ini kemudian dipasang pada rangka gulir untuk selanjutnya dipindai berlapis dengan alat yang disebut “bum”, proses ini disebut “ngebum”. Benang-benang yang telah masuk dalam has bum kemudian dipindahkan ke mesin tenun. Proses “ngebum” ternyata tidak dilakukan di ruang kerja milik Pak Kaji Sofwan. Tetapi dilakukan di rumah adik kandungnya Lek Shodiq (56). Saat bertandang ke sana, Lek Shodiq sedang asyik memutar mesin bum-nya. Hari ini ia diminta kakaknya untuk membuat dua jenis gulungan, yakni gulungan dengan 80 kali putaran dan 140 putaran. Setiap putaran setidaknya berukuran 2 meter benang, sehingga masing-masing gulungan akan menghasilkan 160 Meter dan 280 Meter kain.


Lek Shodiq asyik “ngebum”.
Foto : Suryadin Laoddang.




Proses ini memerlukan ketekunan dan ketelitian, tidak jarang ada benang yang putus sehingga harus diurai dan disambung kembali. Uniknya penyambungan benang putus tidak memerlukan simpul ikatan, tetapi cukup mengaitkan benang yang putus ke benang sampingnya dengan cara diplintir. Untuk memudahkan pekerjaan, mesin ini dilengkapi alat penghitung putaran analog, yang bekerja seiring dengan berputarnya has mesin bum itu sendiri.

Selain kain polos, tenunan Jepara juga mengenal tenun ikat. Disebut kain ikat, karena proses pewarnaannya dibantu dengan cara mengikat, lebih tepatnya dibebat. Benang-benang polos setelah diuntai seukuran gengaman tangang, pada bagian yang tidak ingin diwarnai dibebat dengan tali rafia. Untaian benang tersebut selanjutnya diwarnai dengan cara direbus sesuai warna yang dikehendaki. Jika bagian yang tidak dibebat tadi hendak diwarnai lagi, maka bebatan tali rafianya dibuka, sedangkan bagian yang sudah diwarnai sebelumnya gantian dibebat. Selanjutnya proses pewarnaan diulangi kembali. Sebelum dilakukan proses pewarnaan kedua dan seterus, benang hasil perwarnaan pertama harus dijemur terlebih dahulu.

Hasil dari tenun ikat ini sering disebut motif ikat Jepara. Warna hitam, putih, ungu dan merah adalah warna dominan yang sering ditemui. Ini merupakan motif tradisional khas Troso Jepara. Ini pulalah yang menjadi alasan sehingga motif ikat ini dipilih untuk dipajangkan pada pintu gerbang desa Troso.

Hari itu, setelah menikmati makan siang dengan hidangan laut, hasil racikan Bu Kaji Solekhah (istri pak Kaji), obrolan dilanjutkan dengan keluh kesah Pak Kaji tentang pasar kain yang akhir-akhir ini lesu. Para pembeli sering telat membayar tagihan, adapula yang memberi cek atau giro kosong. Ini diperparah dengan kondisi jalan di jalur Pantai Utara (Pantura) sepanjang Kota Kudus hingga kota Tuban yang rusak, membuat pemasaran terhambat. Baginya kondisi jalan ini turut mempengaruhi kelancaran bisnisnya. Karena tidak mengerti apa-apa, saya hanya bisa manggut-manggut.

Sementara di sudut lain meja makan, telah tertata potongan-potongan kain hasil tenunan minggu ini yang siap dikirim ke Jepara. Uniknya, Pak Kaji ternyata lebih senang mengantarkan langsung kain-kain tersebut ke Bali. Lebih enak di hati, katanya. Dengan menggunakan fasilitas bis malam, saban minggu ia berangkat ke Bali. Setibanya di Pulau Dewata, ia menyewa sepeda motor untuk mengantar dan menawarkan pesanan ke Ubung, Ubud, Legian, Kuta dan pasar Sukawati. Sementara untuk pesanan ke Kota Pekalongan diurus oleh saudara iparnya. Begitupula di Yogyakarta pesanan kain ditangani oleh anak dan menantunya. Tidak jarang para pembali dari Solo, Klaten, Yogyakarta, Jember, Tasikmalaya dan kota Jepara sendiri datang langsung ke rumah Pak Kaji Sofwan. Tinggal tanya di mana rumah Pak Kaji Sofwan, semua tukang ojek yang mangkal di pintu gerbang desa Troso, siap mengantar.


Kain pesanan yang siap dipasarkan.
Foto: Suryadin Laoddang




Berdiri sejak tahun 1989, dengan nama Industri Tenun Ikat Tradisional Pusaka Jaya, Usaha Pak Kaji Sofwan sedikitnya telah mempekerjakan 20 Orang, belum termasuk pekerja yang mengerjakan pesanan di rumah masing-masing. Sejak kasus Bom Bali I dan II, omset penjualan turun drastis. Untuk itulah, sejak tahun 2009 berbagai inovasi dilakukan oleh Pak Kaji, salah satunya dengan memberi merek pada hasil tenunannya. Merek A.Z Fin adalah merek yang diambil dari nama putranya Ahmad Zainal Arifin. Selain itu, kain produksinya juga sudah diberi kemasan tersendiri, adanya kemasan ini memberi kesan berkelas pada kain dengan merek A.Z Fin ini. Untuk menyasar pasar dan pembeli baru, ia juga mulai memproduksi taplak meja dan hiasan dinding dari kain atau kombinasi antara tenun ikat dan lidi daun kelapa.


Kain tenun serasi dengan perabot ukiran jati.
Foto: Suryadin Laoddang.





Kediaman Pak Kaji Sofwan yang pada awal usahnya hanyalah rumah berdinding gedek bambu dan papan, kini telah berubah menjadi bangunan permanen dengan 6 kamar tidur, ruang makan, ruang keluarga, dan garasi. Sebagaimana rumah orang Jepara pada umumnya, perabotnya terbuat dari kayu Jati hasil ukiran khas Jepara. Perabot-perabot tersebut ternyata sangat pas jika diaplikasikan dengan kain hasil tenunan pak Kaji sendiri. Ruang tamu dengan taplak kain tenun bermotif batik Jawa-Bali dan taplak dari lidi daun kelapa adalah buktinya. Hal ini ditemui pula pada meja makan, dan seprei dan selimut. Tak ketinggalan pada busana keluarga besar Pak Kaji Sofwan sendiri.

Di usianya yang ke-58 Pak Kaji Sofwan masih terlihat segar bugar, meski rokok Dji Sam Soe tidak pernah lepas dari jarinya. “Cukup saya yang jadi perokok, anak dan cucu-cucu saya nanti tidak boleh mewarisi kebiasaan buruk ini”, itu pesan beliau yang menurut putrinya, sering diungkapkan. Ayah 8 anak dan kakek dari 4 cucu ini bertekad untuk terus mempertahankan usaha tenunnya. Ia ikut mengabadikan nama Troso sebagai sentra tenun. (p!)

*Citizen reporter Suryadin Laoddang dapat dihubungi melalui email adinwajo@yahoo.com

| Beri Komentar| Jumlah Komentar (3) |

Komentar :

24-10-2009
Dari : Retty | mmargret67@yahoo.com
Menarik sekali kisah dan komentar yang masuk. Sebenarnya tenunan Sulawesi sendiri ada desain khusus atau tidak ya? Yang saya tahu hanya penggunaan warna baju bodo untuk gadis-gadis beda dari yang digunakan ibu-ibu...

02-08-2009
Dari : app | palattae09@yahoo.co.id
kreatifitasnya penduduk di jawa memang maju... di banding di sulawesi.

10-06-2009
Dari : halim hd. | halimhade@yahoo.com
troso itu jagoan repro. tenun sumba, tenun bali, tenun dari berbagai daerah lainnya bisa digarap oleh mereka. tahun 1980-an merupakan puncak dari perkembangan industri rumah di troso. saya punya cerita yang agak lucu. suatu hari, tahun 1980-an, bersama linus suryadi ag (penyair)dan widodo asmara (fotografer) mampir ke rumah direktur perusahaan koran suara pembaharuan. di ruang tamu yang artistik itu banyak banget tenun sebagai bagian dari dekorasi ruang tamu, ruang makan, ruang depan. dan juga dijadikan lambaran untuk dipan antik serta kursi. pikiran saya spontan saja, saya tanya kepada pak W, beli di troso? pak W tanya balik, di mana itu troso? saya bilang, di pantura jateng. dengan rasa agak tersinggung, pak W menjelaskan bahwa semua tenunnya beli di bali, dan semuanya asli, tandasnya. saya agak malu, karena telah "menuduh" pak W yang kayaraya itu membeli barang "tiruan". tapi, dalam hati saya, saya yakin yang dibeli oleh pak W itu semuanya bikinan troso. karena karakter warna serta "bau" atau "aroma" tenun yang berbeda dengan sumba. dan rekan saya, widodo asmara juga setuju dengan saya, ketika kami balik ke wisma seni di taman ismail marzuki, dia bilang: saya jutga punya feeling pak W kena tipu art shop di denpasar.



 :: CITIZEN REPORTER
Makassar di Panyingkul!: Sebuah Persembahan
(Kamis, 12-07-2007)
Ayo Bergabung di Panyingkul!
(Minggu, 29-04-2007)
Catatan Sederhana Para Citizen Reporter
(Selasa, 31-10-2006)
Tentang Citizen Reporter dan Rubrik di Panyingkul!
(Rabu, 11-10-2006)
Riuh Rendah di Panyingkul!
(Rabu, 16-08-2006)

Untitled Document
 :: DUNIA SEGIEMPAT KAREBOSI






 :: PILKADA




 :: ALBUM PUASA 2008




Untitled Document
 :: KONTAK TIM PANYINGKUL!

Email Redaksi :

redaksi@panyingkul.com

Tim:
yus@panyingkul.com
+62 813 226 80844

Moch. Hasymi
+62 811 955 954


© Juni 2006 - Panyingkul.com All Rights Reserved
Desain Web : Nesia Andriana -- Supported by: Yuhardin