|
|
| . |
| ::
|
| Jumat, 05-06-2009 | Mengagumi Tenun Troso, Mengenang Tenun Sengkang :: Suryadin Laoddang ::
| Salah seorang penenun di Troso. Foto : Suryadin Laoddang.
Citizen reporter Suryadin Laoddang yang berasal dari kota tenun Sengkang, seolah mengalami de javu saat mendengarkan suara alat tenun di Troso, sentra kain tenun tradisional di Jepara. Ia mengajak kita menelusuri kehidupan pengusaha kain tenun beserta pasang surutnya dan upaya bertahan di tengah kelangkaan benang serta seretnya permintaan. Tulisan ini dilatari sebuah kebetulan yang menyenangkan, sebagai pria yang akrab dengan “kletek-keletek” suara alat tenun nun di Wajo, ia ternyata menyunting perempuan Troso yang berasal dari keluarga pengusaha tenun. (p!) | Tanda bahwa saya akan memasuki sentra tenun, tampak jelas. Lepas dari pasar Pecangaan, persis di samping utara Masjid Walisongo, gerbang selamat datang berdiri kokoh. Inilah pintu gerbang bertuliskan “Selamat Datang di Sentra Tenun Troso” yang menyambut. Hiasannya bernuasa kain tenun ikat tradisional. Ya, inilah Troso, desa tenun yang terletak 15 kilometer sebelum kota Jepara.
Bagi banyak orang Troso mungkin nama asing. Berbeda dengan Jepara, kota kelahiran Pahlawan Nasional R.A Kartini yang mahsyur dalam sejarah dan juga dikenal dengan sebutan kota ukir. Tapi wawasan saya bertambah setelah istri saya, Ida Masruroh, mengajak berlibur ke desa kelahirannya. Ini dia sentra tenun yang penuh pesona itu: Troso.
“Ketatak tak tak”, “ketatak tak tak”, “ketatak tak tak”, “ketatak tak tak”. Suara itu membuat tidur terusik. Ingatan menerawang jauh ke kota kelahiran: Sengkang. Suara serupa kerap saya dengar di kampung halaman. Suara khas Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM), suara yang juga membangkitkan rasa rindupada ibunda tercinta.
Suara itu berasal dari rumah H. Sofwan Sukri, yang berdempetan dengan ruang kerja para penenun yang terletak di pojok jalan desa. Para pekerja berseliweran membawa benang dan kain hasil tenunan. Waktu menunjukkan pukul 7 pagi, tapi para pekerja sudah siap di mesin masing-masing. Rutinitas dimulai dengan membuka plastik selubung dan dan membersihkan perangkat-perangkat tenun dari debu.
Cahaya matahari menerobos dari balik lembaran atap transparan yang terselip di antara genteng. Atap ruang initak dipasangi plafond. Dengan berlantaikan tanah yang sudah dipadatkan, ruang kerja ini cukup sejuk bagi para pekerja, meski ada juga pekerja yang bertelanjang dada, dan berpeluh keringat. “Bekerja tanpa baju ini sih sudah tradisi saya dari dulu Mas”, komentar Sukarlan (33) yang tercatat sudah 13 tahun bekerja di Industri Tenun milik Pak Kaji Sofwan (Panggilan akrab para pekerja pada sang pemilik H. Sofwan Sukri). Para pekerja sendiri umumnya adalah penduduk dari desa Troso dan desa sekitarnya. Mengingat desa Troso merupakan salah satu basis organisasi masyarakat Nahdatul Ulama (NU), maka di desa ini juga banyak terdapat Pondok Pesanteren dan sekolah formal bernafaskan Islam. Ini pulalah yang menjadi alasan, munculnya istilah “Kamisan” bagi para pekerja saat menerima gaji mingguan, esok Jum’at masyarakat Troso libur total dari segala aktifitas kerja dan sekolah. Ini berbeda dengan kota lain di Pulau Jawa yang mengenal istilah “Setunan” untuk penerimaan gaji pada hari Sabtu.
Selain kamar mandi dan dapur khusus bagi pekerja, ruang berukuran 12 x 8 Meter ini juga ternyata “Full Music”. Lagu-lagu dangdut dari Rhoma Irama setiap hari menyambangi telinga para pekerja, kadang juga diputar lagu Iwan Fals.
Berbeda dengan ATBM di Wajo – Sulsel, selain memproduksi kain sutera ATBM, di Troso juga memproduksi kain katun, filamen, rayon, bahkan serat tumbuhan. Meski kebutuhan akan benang sangat tinggi, tapi sayang para pengrajin kadang harus gigit jari karena langka dan mahalnya bahan baku. Saat ini, bahan baku tersebut harus diimpor dari China. Para pengrajin seringkali harus ke kota Bandung untuk berburu bahan baku. Itupun harus “berebut” dengan para perajin batik dari Pekalongan dan Solo. Sementara bahan baku berupa serat tumbuhan seperti serat nenas, serat kulit pisang, serat eceng gondok, serat pandan, atau lidi kelapa didatangkan dari kota Tegal atau kota Salatiga Jawa Tengah. Pewarna kain atau alat bantu kerja lainnya umumnya mudah didapatkan di kota Kudus atau kota Semarang.
Proses pembuatan kain dimulai dengan memindahkan helai-helai benang dari gulungan besar ke gulungan plastik berukuran lebih kecil yang disebut pedati plastik. Pedati-pedati ini kemudian dipasang pada rangka gulir untuk selanjutnya dipindai berlapis dengan alat yang disebut “bum”, proses ini disebut “ngebum”. Benang-benang yang telah masuk dalam has bum kemudian dipindahkan ke mesin tenun. Proses “ngebum” ternyata tidak dilakukan di ruang kerja milik Pak Kaji Sofwan. Tetapi dilakukan di rumah adik kandungnya Lek Shodiq (56). Saat bertandang ke sana, Lek Shodiq sedang asyik memutar mesin bum-nya. Hari ini ia diminta kakaknya untuk membuat dua jenis gulungan, yakni gulungan dengan 80 kali putaran dan 140 putaran. Setiap putaran setidaknya berukuran 2 meter benang, sehingga masing-masing gulungan akan menghasilkan 160 Meter dan 280 Meter kain.
Lek Shodiq asyik “ngebum”. Foto : Suryadin Laoddang.
Proses ini memerlukan ketekunan dan ketelitian, tidak jarang ada benang yang putus sehingga harus diurai dan disambung kembali. Uniknya penyambungan benang putus tidak memerlukan simpul ikatan, tetapi cukup mengaitkan benang yang putus ke benang sampingnya dengan cara diplintir. Untuk memudahkan pekerjaan, mesin ini dilengkapi alat penghitung putaran analog, yang bekerja seiring dengan berputarnya has mesin bum itu sendiri.
Selain kain polos, tenunan Jepara juga mengenal tenun ikat. Disebut kain ikat, karena proses pewarnaannya dibantu dengan cara mengikat, lebih tepatnya dibebat. Benang-benang polos setelah diuntai seukuran gengaman tangang, pada bagian yang tidak ingin diwarnai dibebat dengan tali rafia. Untaian benang tersebut selanjutnya diwarnai dengan cara direbus sesuai warna yang dikehendaki. Jika bagian yang tidak dibebat tadi hendak diwarnai lagi, maka bebatan tali rafianya dibuka, sedangkan bagian yang sudah diwarnai sebelumnya gantian dibebat. Selanjutnya proses pewarnaan diulangi kembali. Sebelum dilakukan proses pewarnaan kedua dan seterus, benang hasil perwarnaan pertama harus dijemur terlebih dahulu.
Hasil dari tenun ikat ini sering disebut motif ikat Jepara. Warna hitam, putih, ungu dan merah adalah warna dominan yang sering ditemui. Ini merupakan motif tradisional khas Troso Jepara. Ini pulalah yang menjadi alasan sehingga motif ikat ini dipilih untuk dipajangkan pada pintu gerbang desa Troso.
Hari itu, setelah menikmati makan siang dengan hidangan laut, hasil racikan Bu Kaji Solekhah (istri pak Kaji), obrolan dilanjutkan dengan keluh kesah Pak Kaji tentang pasar kain yang akhir-akhir ini lesu. Para pembeli sering telat membayar tagihan, adapula yang memberi cek atau giro kosong. Ini diperparah dengan kondisi jalan di jalur Pantai Utara (Pantura) sepanjang Kota Kudus hingga kota Tuban yang rusak, membuat pemasaran terhambat. Baginya kondisi jalan ini turut mempengaruhi kelancaran bisnisnya. Karena tidak mengerti apa-apa, saya hanya bisa manggut-manggut.
Sementara di sudut lain meja makan, telah tertata potongan-potongan kain hasil tenunan minggu ini yang siap dikirim ke Jepara. Uniknya, Pak Kaji ternyata lebih senang mengantarkan langsung kain-kain tersebut ke Bali. Lebih enak di hati, katanya. Dengan menggunakan fasilitas bis malam, saban minggu ia berangkat ke Bali. Setibanya di Pulau Dewata, ia menyewa sepeda motor untuk mengantar dan menawarkan pesanan ke Ubung, Ubud, Legian, Kuta dan pasar Sukawati. Sementara untuk pesanan ke Kota Pekalongan diurus oleh saudara iparnya. Begitupula di Yogyakarta pesanan kain ditangani oleh anak dan menantunya. Tidak jarang para pembali dari Solo, Klaten, Yogyakarta, Jember, Tasikmalaya dan kota Jepara sendiri datang langsung ke rumah Pak Kaji Sofwan. Tinggal tanya di mana rumah Pak Kaji Sofwan, semua tukang ojek yang mangkal di pintu gerbang desa Troso, siap mengantar.
Kain pesanan yang siap dipasarkan. Foto: Suryadin Laoddang
Berdiri sejak tahun 1989, dengan nama Industri Tenun Ikat Tradisional Pusaka Jaya, Usaha Pak Kaji Sofwan sedikitnya telah mempekerjakan 20 Orang, belum termasuk pekerja yang mengerjakan pesanan di rumah masing-masing. Sejak kasus Bom Bali I dan II, omset penjualan turun drastis. Untuk itulah, sejak tahun 2009 berbagai inovasi dilakukan oleh Pak Kaji, salah satunya dengan memberi merek pada hasil tenunannya. Merek A.Z Fin adalah merek yang diambil dari nama putranya Ahmad Zainal Arifin. Selain itu, kain produksinya juga sudah diberi kemasan tersendiri, adanya kemasan ini memberi kesan berkelas pada kain dengan merek A.Z Fin ini. Untuk menyasar pasar dan pembeli baru, ia juga mulai memproduksi taplak meja dan hiasan dinding dari kain atau kombinasi antara tenun ikat dan lidi daun kelapa.
Kain tenun serasi dengan perabot ukiran jati. Foto: Suryadin Laoddang.
Kediaman Pak Kaji Sofwan yang pada awal usahnya hanyalah rumah berdinding gedek bambu dan papan, kini telah berubah menjadi bangunan permanen dengan 6 kamar tidur, ruang makan, ruang keluarga, dan garasi. Sebagaimana rumah orang Jepara pada umumnya, perabotnya terbuat dari kayu Jati hasil ukiran khas Jepara. Perabot-perabot tersebut ternyata sangat pas jika diaplikasikan dengan kain hasil tenunan pak Kaji sendiri. Ruang tamu dengan taplak kain tenun bermotif batik Jawa-Bali dan taplak dari lidi daun kelapa adalah buktinya. Hal ini ditemui pula pada meja makan, dan seprei dan selimut. Tak ketinggalan pada busana keluarga besar Pak Kaji Sofwan sendiri.
Di usianya yang ke-58 Pak Kaji Sofwan masih terlihat segar bugar, meski rokok Dji Sam Soe tidak pernah lepas dari jarinya. “Cukup saya yang jadi perokok, anak dan cucu-cucu saya nanti tidak boleh mewarisi kebiasaan buruk ini”, itu pesan beliau yang menurut putrinya, sering diungkapkan. Ayah 8 anak dan kakek dari 4 cucu ini bertekad untuk terus mempertahankan usaha tenunnya. Ia ikut mengabadikan nama Troso sebagai sentra tenun. (p!)
*Citizen reporter Suryadin Laoddang dapat dihubungi melalui email adinwajo@yahoo.com
|
| | Jumlah
Komentar (3) |
|
| Komentar :
24-10-2009 Dari : Retty | mmargret67@yahoo.com Menarik sekali kisah
dan komentar yang
masuk. Sebenarnya
tenunan Sulawesi
sendiri ada desain
khusus atau tidak
ya? Yang saya tahu
hanya penggunaan
warna baju bodo
untuk gadis-gadis
beda dari yang
digunakan ibu-ibu... 02-08-2009 Dari : app | palattae09@yahoo.co.id kreatifitasnya
penduduk di jawa
memang maju...
di banding di
sulawesi.
10-06-2009 Dari : halim hd. | halimhade@yahoo.com troso itu jagoan
repro. tenun sumba,
tenun bali, tenun
dari berbagai daerah
lainnya bisa digarap
oleh mereka. tahun
1980-an merupakan
puncak dari
perkembangan
industri rumah di
troso.
saya punya cerita
yang agak lucu.
suatu hari, tahun
1980-an, bersama
linus suryadi ag
(penyair)dan widodo
asmara (fotografer)
mampir ke rumah
direktur perusahaan
koran suara
pembaharuan. di
ruang tamu yang
artistik itu banyak
banget tenun sebagai
bagian dari dekorasi
ruang tamu, ruang
makan, ruang depan.
dan juga dijadikan
lambaran untuk dipan
antik serta kursi.
pikiran saya spontan
saja, saya tanya
kepada pak W, beli
di troso? pak W
tanya balik, di mana
itu troso? saya
bilang, di pantura
jateng. dengan rasa
agak tersinggung,
pak W menjelaskan
bahwa semua tenunnya
beli di bali, dan
semuanya asli,
tandasnya. saya agak
malu, karena telah
"menuduh" pak W yang
kayaraya itu membeli
barang "tiruan".
tapi, dalam hati
saya, saya yakin
yang dibeli oleh pak
W itu semuanya
bikinan troso.
karena karakter
warna serta "bau"
atau "aroma" tenun
yang berbeda dengan
sumba. dan rekan
saya, widodo asmara
juga setuju dengan
saya, ketika kami
balik ke wisma seni
di taman ismail
marzuki, dia bilang:
saya jutga punya
feeling pak W kena
tipu art shop di
denpasar. |
|
|
|
|
| ::
CITIZEN REPORTER |
 | (Kamis, 12-07-2007) |  | (Minggu, 29-04-2007) |  | (Selasa, 31-10-2006) |  | (Rabu, 11-10-2006) |  | (Rabu, 16-08-2006) | |
|
Untitled Document
| ::
DUNIA SEGIEMPAT KAREBOSI |
|
Untitled Document
| ::
KONTAK TIM PANYINGKUL! |
Email Redaksi :
redaksi@panyingkul.com
Tim:
yus@panyingkul.com
+62 813 226 80844
Moch. Hasymi
+62 811 955 954
|
|
|