|
|
| . |
| ::
|
| Sabtu, 24-10-2009 | Menggugat Makassar yang Modern Tapi Tak Manusiawi :: Syaifullah Ahmad Faisal ::
| Judul:
Makassar dari jendela pete-pete : catatan seorang pengguna jalan
Penulis:
Winarni K.S
Penerbit:
Panyingkul!
Cetakan:
Pertama, Juli 2009
| Sebelum membahas buku ini, saya sebelumnya ingin bertanya dulu kepada Anda yang tinggal di Makassar minimal dalam kurun waktu 10 tahun belakangan ini, atau anda orang Makassar yang lama tinggal di luar Makassar dan baru saja berkunjung kembali ke kota Anging Mammiri ini.
Pertanyaan pertama saya, benarkah Makassar sekarang sudah lebih maju dan modern ?
Pertanyaan kedua saya, apakah Makassar sudah lebih manusiawi dan lebih nyaman untuk warganya ?
Untuk pertanyaan pertama saya yakin hampir semua dari Anda akan menjawab : Ya. Setidaknya bila melihat secara kasat mata betapa dalam kurun waktu 10 tahun belakangan ini Makassar telah benar-benar berubah makin maju dan modern. Tidak percaya ? Mari kita hitung jumlah gedung megah dan menggambarkan kemajuan Makassar. Kita mulai menghitung dari jumlah mal yang berdiri di berbagai penjuru kota, mulai dari daerah Tanjung Bunga di wilayah selatan hingga di utara kota, di daerah Tamalanrea. Jumlahnya terus bertambah.
Nah, berikutnya mari kita lihat betapa megahnya bandara Sultan Hasanuddin yang baru, kemudian masukkan juga proyek revitalisasi Karebosi yang menuai kontroversi, proyek anjungan Losari yang megah dan tentu jangan lupakan proyek jalan layang yang sebentar lagi akan beroperasi. Bukti-bukti di atas tentu belum termasuk beberapa bangunan jangkung yang lantainya terdiri dari bilangan dua digit.
Kurang bukti apalagi coba kalau kita katakan bahwa Makassar memang telah jauh lebih maju dan modern dibandingkan dengan – misalnya – 10 tahun yang lalu ?.
Nah, sekarang untuk pertanyaan kedua. Benarkah Makassar sudah lebih manusiawi dan lebih nyaman bagi semua lapisan warga? Jawaban untuk pertanyaan ini mungkin beragam, saya yakin itu. Makassar memang makin maju dan modern, tapi untuk dibilang makin manusiawi dan nyaman rasanya masih bisa diperdebatkan.
Titik kemacetan makin bertambah, genangan air di jalan raya saat musim hujan juga terus bertambah, masalah transportasi massal yang rumit bak benang kusut, hingga masalah parkir yang belum terpecahkan. Oh, maaf saya lupa memasukkan panasnya cuaca kota yang makin menguras keringat. Jadi, benarkah Makassar lebih manusiawi dan nyaman setelah kita yakin Makassar makin maju dan modern ?
Bila kita mau merenung sejenak saja dan mulai membandingkan Makassar tahun 2009 dengan Makassar 10 tahun yang lalu, saya yakin banyak dari kita yang mengeluh dan mungkin menyadari kalau ada yang salah atau mungkin kurang tepat dari perkembangan kota ini. Salah seorang yang merasakannya adalah Winarni.
Winarni adalah seorang mahasiswa (sebentar lagi mantan mahasiswa) jurusan perencanaan wilayah kota di Fakultas Teknik Unhas. Berbekal ilmu yang didapatnya di bangku kuliah, dia membandingkan antara teori, berderet-deret bacaan dan artikel tentang tata kota yang dilahapnya selama kuliah dengan kenyataan yang dilihat dan dirasakannya di kota tempat dia lahir dan hidup sehari-hari. Winarni menyadari ada beberapa hal yang sesuai dengan apa yang dipelajari atau dibacanya. Winarni kemudian memilih untuk menuliskan keresahannya, menumpahkan sederet pertanyaan dan mungkin saja kekesalannya pada kebijakan-kebijakan penataan kota yang dianggapnya tak benar.
Lewat buku “Makassar dari Jendela Pete-pete”, Winarni banyak menulis tentang berbagai aspek tata kota yang dirasakannya selama ini. Ia mencatat tentang perubahan yang terjadi pada daerah Panakkukang, daerah yang dulunya hanya berupa rawa dan lahan tak produktif yang kini telah berubah menjadi primadona kawasan bisnis. Winarni pun mencatat tentang berbagai perubahan mendasar yang terjadi pada kota Makassar. Tentang mal yang terus bertambah, tentang ruko yang tumbuh tak terkendali, tentang jumlah pete-pete yang terus membengkak dan tidak seimbang dengan jumlah penumpang dan tentang apa saja, bahkan tentang nasib para pejalan kaki yang makin terpinggirkan dan trotoarnya hilang direnggut pihak lain. Winarni dengan rajinnya mencatat dan mencurahkan perasaannya, mirip seorang remaja yang mengisi buku harian.
Namun, ada satu hal yang membedakan Winarni dengan remaja lainnya. Winarni bicara dengan fakta dan dasar yang kuat. Dalam setiap bab tulisannya, Winarni selalu mengikutsertakan data, baik yang berupa angka-angka maupun yang berupa analisa dan teori yang dirangkumnya dari berbagai sumber, sehingga “curhatannya” kemudian terasa berbau ilmiah. Kumpulan tulisannya ini menjadi rujukan yang pas untuk para akademisi ataupun orang-orang yang ingin tahu banyak tentang tata kota.
Bukan hanya masalah-masalah berat yang jadi pokok tulisan Inart (begitu gadis ini menulis nama kecilnya), beberapa hal yang bersifat ringan dan personal pun dibahasnya. Simak tulisan tentang makin sempitnya lahan untuk bermain layangan yang memaksa anak-anak bergeser ke jalan raya hanya untuk sekedar menerbangkan layang-layangnya. Inartpun tak lupa menuliskan keresahannya tentang jati diri para remaja yang mungkin makin terkikis karena ramainya ikon-ikon produk modern yang sepenuhnya adalah produk import, juga tentang bagaimana pandangan para remaja di pasar tradisional tentang mall yang hari ini sudah bertebaran di berbagai sudut kota Makassar. Tak lupa Inartpun bercerita tentang sebuah pusat perbelanjaan baru yang tumbuh di tengah kawasan yang dulunya diperuntukkan sebagai kawasan pendidikan. Meski tak langsung namun dalam tulisan itu Inart terlihat kuatir akan dampak yang mungkin terjadi pada para pelajar dan mahasiswa di sekitar pusat perbelanjaan tersebut. Ah, Inart juga rupanya mempertanyakan proyek Center Point Of Indonesia (CPI) yang dirasakannya tak lebih dari sebuah proyek ambisius milik para pejabat.
Dalam setiap tulisannya Inart seakan membuka sebuah ruang dialog yang luas dengan kita para pembacanya. Inart mengajak kita merenungi arah perkembangan kota Makassar, mempertanyakan banyak hal terkait perubahan dan perkembangan tersebut dan mungkin sebagian orang akan tertantang untuk mendebat atau minimal mendiskusikan isi catatan Inart. Ini yang membuat saya merasa Inart adalah seorang mahasiswa yang cerdas.
Buku ini tidak hanya relevan untuk warga kota Makassar saja,tapi bisa menjadi rujukan untuk siapa saja yang tinggal di kota mana saja. Buku ini bisa jadi cermin bagaimana seorang warga berbicara tentang kota yang diakrabinya sekian lama. Orang di luar Makassarpun bisa membandingkan perbandingan kota tempat tinggalnya dengan kota Makassar seperti yang diceritakan Inart di buku ini. Karenanya tanpa ragu-ragu saya bisa mengatakan kalau buku ini adalah sebuah buku yang pantas menjadi rujukan untuk para warga kota di mana saja berada, bukan hanya mereka yang tinggal dan akrab dengan Makassar.
Satu hal lagi yang membuat Inart sang penulis menjadi istimewa adalah karena melalui buku ini ia ingin menunjukkan sebuah perlawanan terhadap sebuah tradisi turun temurun yang entah sudah berapa jauh mengakar. Inart mempersembahkan buku ini sebagai hadiah bagi dosen dan almamaternya, Inart keluar dari pakem selama ini bahwa mahasiswa yang baru lulus akan menyetor parsel berisi buah atau jenis makanan dan minuman lainnya kepada dosen mereka. Inart mempersembahkan sebuah parsel yang isinya berbeda, parsel yang isinya lebih ilmiah dan tentu lebih mencerdaskan, atau meminjam istilah Habudi di Republik Mimpi maka parsel Inart adalah parsel yang high tech.
Inart memanfaatkan hak bicaranya sebagai warga kota dengan cara membukukan buah pikiran, hasil analisa dan mungkin sekedar curhatan tentang kotanya. Seandainya saja para pejabat dan pengambil keputusan mau membuka telinga lebar-lebar untuk menampung suara-suara warga kota seperti yang disuarakan Inart maka saya yakin kota Makassar akan tumbuh semakin maju dan modern serta nyaman dan manusiawi pada saat bersamaan.
Mungkinkah suatu hari nanti kita bisa menjawab pertanyaan kedua saya di paragraf awal di atas dengan jawaban “YA” dengan suara mantap ? Mudah-mudahan. (p!)
*Citizen reporter Syaifullah Ahmad Faisal dapat dihubungi melalui email ipul.ji@gmail.com
|
| | Jumlah
Komentar (4) |
|
| Komentar :
27-10-2009 Dari : syukri-b | syukri_b@yahoo.com Saya juga jengkel
melihat perkembangan
kota Makassar yang
seolah-olah
berkiblat ke
Jakarta.ayo orang
Bugis-Makassar
bersatu mengarahkan
tata kota agar
kemajuan tidak
meninggalkan
ciri,karakter dan
budaya
Bugis-Makassar.jadi
kalau kita pulang
kampung kenangan
masa lalu tentang
angin mammiri tetap
kita nikmati. 26-10-2009 Dari : Bocah petualang | ucokbolang@rocketmail.com Kenal ni sm
pnulisx... kyakx
anak MAPALA 09
unhas..
mantaapp..mantaapp.. 26-10-2009 Dari : kapitipiti | Salut untuk
kepedulian dan
kepekaannya. Hanya
orang yg cinta
Makassar bisa
menulis buku ini! 25-10-2009 Dari : hem | bwithm@gmail.com pada tahun2 yg akan
datang 60% penduduk
dunia akan tinggal
dikota. kalau
kapasitas kota saat
itu tdk memadai
dangan sendirinya
akan meluas, tarolah
maros, sgmnsa,
takalar akan menjadi
satu kota
(megapolitan).
perkembangan kota
mks saat ini jauh
dari ideal dan di
luar dari proporsi,
dan bayangan
megapolitan mungkin
akan menjadi
realitas dan hal ini
bukan suatu yg
positif ditinjau
dari banyak segi;
sistim alam,
ekonomi,
sosial/kejiwaan dll
dan juga jazirah
selatan sulawesi
tidaklah luas untuk
menopang apa yg
disebut
megapolitan-bandingk
an dgn misalnya
daratan cina,
amerika atau
australia dsb.
PENDEKATAN ILMU ABAD
20&21
abad 20 ditandai
dengan buasnya
aplikasi sains
hampir dlm segala
hal, tak terkecuali
pengembangan kota.
kota
chicago,AS-diabad
silam, penuh dgn
jalan layang pada
akhirnya dirontokkan
satu
persatu(sisa-+30%)de
mi tuntutan abad 21
yaitu green and eco
friendly
entity(hijau dan
bersahabat alam)
BERKIBLAT KE JEPANG
sulawesi selatan
butuh zinkanzen atau
kereta peluru.
minimal
menghubungkan
pare2-mks &
mks-bulukkumba dan
kota2 diantaranya;
menghemat waktu,
tempat&biaya.
bayangkan pare2 ke
mks ditempuh cuma
1jam. artinya tdk
perlu tgl dikota utk
bekerja dikota. ini
batu pijakan awal yg
vital untuk
menghindari syndrom
megapolitan. kereta
peluru akan
menghubungkan kota
satu dan lainnya
super cepat, tdk
lebih lama sentral
ke daya naik pt2.
UTOPIA(impian)
dengan hadirnya
zinkanzen, hal lain
tentang civil bisa
didorong lebih maju.
pembuatan
high-way(jln bebas
hambatan bedakan dgn
jln toll)bisa
digunakan lebih kepd
plesir/kesenangan
drpd semata
penghubung, artinya
200+km/jm bukan hal
yg tabu. didlm kota
mks antara satu
wilayah besar dan
lainnya seharusnya
dipisahkan oleh
green-belt(pemisah
alami). penghapusan
pt2 diganti dgn
light-rail/kereta
ringan atau bus
berjadwal.Premis"sai
ns dan teknologi
melahirkan kultur
baru selalu" |
|
|
|
|
| ::
CITIZEN REPORTER |
 | (Kamis, 12-07-2007) |  | (Minggu, 29-04-2007) |  | (Selasa, 31-10-2006) |  | (Rabu, 11-10-2006) |  | (Rabu, 16-08-2006) | |
|
Untitled Document
| ::
DUNIA SEGIEMPAT KAREBOSI |
|
Untitled Document
| ::
KONTAK TIM PANYINGKUL! |
Email Redaksi :
redaksi@panyingkul.com
Tim:
yus@panyingkul.com
+62 813 226 80844
Moch. Hasymi
+62 811 955 954
|
|
|