| Apa itu Gerakan Makassar Gemar Membaca?
Gerakan ini adalah upaya menumbuhkan tradisi membaca. Saya yakin sumber daya manusia yang berkualitas lahir dari masyarakat yang gemar membaca.
Konkretnya seperti apa?
Berupa pembukaan taman bacaan di 14 Kecamatan di Makassar. Saya sadar masyarakat kita banyak yang tidak mampu beli buku, jadi diharapkan mereka bisa datang membaca ke taman bacaan. Ada sebuah tim survai yang membantu saya mendapatkan masukan tentang jenis bacaan yang dibutuhkan dan di lokasi mana saja yang butuh taman bacaan.
Bagaimana membuat masyarakat tertarik ke taman-taman bacaan?
Ya kami sosialisasikan, kami terus-menerus mengumumkan tentang kehadiran taman bacaan ini. Saya juga mendapat laporan bahwa di Makassar sudah berdiri sekitar 60 taman bacaan yang diprakarsai warga masyarakat. Selain itu ada juga satu mobil perpustakaan keliling milik Pemerintah Kota Makassar, dan bersama satu unit mobil lainnya milik Pemerintah Provinsi. Sambutan terhadap perpustakaan keliling ini cukup bagus. Setiap hari tercatat 60-80 pengunjung perpustakaan keliling.
Apakah anda sendiri gemar membaca?
Ya, tentu saja saya gemar membaca. Masak saya mengajak masyarakat membaca kalau saya sendiri tidak membaca…
Buku apa yang sedang atau terakhir anda baca?
Ya, adalah beberapa..
Bisa diceritakan isi buku yang terakhir anda baca?
Begini, saya kan membutuhkan banyak informasi terbaru, kalau ada yang menarik langsung saya input ke dalam communicator (serial telepon seluler dengan fasilitas multimedia keluaran Nokia –red). Saya membutuhkan informasi ini untuk digunakan dalam pidato misalnya. Nah, ini saya dapatkan dari buku-buku yang saya baca.
Jadi buku yang Anda baca, tepatnya…
Ya bermacam-macam, ada politik, kiat praktis, dan juga buku-buku agama.
Soal spanduk dan baliho Makassar Gemar Membaca yang dipasang di sejumlah sudut kota, apakah cukup efektif merangsang minat baca masyarakat?
Itu untuk sosialisasinya. Tahun ini saya akan mulai mengadakan lomba menulis, ini akan jadi langkah yang efektif. Bukankah menulis dan membaca adalah kegiatan yang tak terpisahkan.
Mengapa Anda tidak turun langsung ke masyarakat membaca buku di tengah anak-anak sekolah, misalnya? Gerakan literasi di luar negeri banyak mengandalkan pendekatan langsung, bukan seremonial.
Wah, itu menarik. Akan saya lakukan cara seperti itu. Saya kira bisa dirancang pendekatan yang lebih merakyat seperti itu. Saya kira bisa dimulai..
Jadi Anda akan ke sekolah-sekolah membacakan satu atau dua cerita bagi anak-anak?
Kenapa tidak? Saya akan melakukannya dalam waktu dekat. Dalam perjalanan ke luar negeri, misalnya sewaktu ke Jepang dan sejumlah negara Eropa, saya melihat orang-orang begitu gemar membaca. Saya juga terpikir, bagaimana caranya membuat warga Makassar bisa seperti itu….
Di mana anda mendapatkan buku-buku? Apakah Anda ke toko buku?
Ya, sekali sebulan saya ke toko buku…
Siapa penulis favorit Anda?
Ada beberapa, tapi tidak ada yang spesifik.(p!)
====
Pewawancara: Lily Yulianti Farid
Panyingkul! menyelenggarakan kegiatan “Tanya Pak Wali” untuk menampung pertanyaan masyarakat luas yang kemudian ditanyakan langsung kepada Walikota Makassar Ilham Arief Sirajuddin. Anda dapat berpartisipasi dengan mengirimkan pertanyaan melalui email: redaksi@panyingkul.com Pertanyaan yang diajukan selama wawancara didasarkan pada pertanyaan-pertanyaan yang dikirim masyarakat dan dihimpun Panyingkul! secara langsung. Hasil wawancara akan ditayangkan sebulan sekali. (p!)
|