Untitled Document
 


Untitled Document
.KITAKITA
:: Jika Anda di Panyingkul ::
 
 KABAR KITA
 
 BERANDAKITA
Kegilaan, Dari Cinta Mati di Pulau Rajuni Hingga Riwayat Kadang
:: Ivan Firdaus ::
Baba Guru, Mengenang Film Rhoma Irama di Klenteng Galesong
:: Kamaruddin Azis ::
Mengagumi Tenun Troso, Mengenang Tenun Sengkang
:: Suryadin Laoddang ::
Perempuan Besi di Gunung Perak (2-selesai)
:: M. Aan Mansyur ::
Perempuan Besi di Gunung Perak (1)
:: M. Aan Mansyur ::
 
 RISETKITA
Rasa Takut : Yang Dicitrakan, Yang Dipelihara
:: Aria W. Yudhistira ::
Risetkita: Pramoedya versus Sejarah Resmi
:: Nurhady Sirimorok ::
Hikayat Rumpon Nelayan Mandar
:: Muhammad Ridwan Alimuddin ::
Di Makassar Pernah Ada “Negeri Wajo”
:: Nurhady Sirimorok ::
Surat Itu Ditulis Upas kepada September
:: Nurhady Sirimorok ::
 
 BUKUKITA
 
 KATAKOTAKITA
Kenapa si Gondrong yang Maju?
:: Ivan Firdaus dan Mustamin al-Mandary ::
Karena ‘Rewa’ Badan Binasa
:: Sudirman Nasir ::
Yang Okkot, yang Salah Sambung
:: Nursamsu danTusiana Noor Alfisyahr ::
Kandala`ka`, Kusta Bila Dusta
:: Panyingkul ::
Ayo, Si(ng)kat Terussss..!
:: Panyingkul! ::

 
 TAHUKAHKITA
 

.
 ::
Kamis, 14-09-2006 
Daeng Mandong, Penjaga Gunung Bawakaraeng
:: Akbar Abu Thalib ::


Bekas longsoran Gunung Bawakaraeng dilihat dari Desa Lengkese. Bencana longsor ini menjadi keprihatinan mendalam Daeng Mandong.
Foto: Ashar Karateng.


Kecintaan terhadap Gunung Bawakaraeng membuat Daeng Mandong mengabdikan seluruh hidupnya untuk menjaga kelestarian kawasan pegunungan di Kabupaten Gowa ini. Citizen reporter Akbar Abu Thalib mewawancarai Daeng Mandong di tengah suasana HUT Proklamasi RI bulan Agustus lalu. Banyak hal menarik yang terungkap dalam perbincangan itu, termasuk honorarium Rp150.000 per bulan yang diterimanya dengan ikhlas sebagai upah menjadi penjaga gunung. (p!)
 
Kamis malam, 17 agustus 2006. Sudah sepekan warga kota Malino, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, memperingati hari kemerdekaan RI yang ke 61. Seperti lazimnya di berbagai tempat di Indonesia, pelbagai lomba hiburan digelar. Ada lomba makan krupuk, lari karung, panjat pinang dan permainan rakyat lainnya. Malam harinya, juga ada pentas seni. Sebuah panggung berukuran enam kali empat didirikan di lapangan sepakbola Malino, dan menjadi saksi tradisi tahunan yang sangat riuh. Semua warga mengambil bagian. Ada yang melantunkan lagu-lagu pop, dangdut bahkan lagu rock. Tentu saja, tak ketinggalan pula pembacaan puisi-pusi perjuangan dan lagu-lagu kebangsaan.

Warga betul-betul menyambut sukacita perhelatan itu. Lomba demi lomba, pentas demi pentas, disambut dengan gelak tawa dan ramai tepuk tangan. Sesekali suitan-suitan nakal hadir di antara keriuhan itu.

Namun, nun jauh dari keramaian pesta itu, tepatnya di kaki Gunung Bawakaraeng, Kabupaten Gowa seorang lelaki paruh baya berdiam dalam sepinya alam pegunungan. Ia sepertinya lebih menikmati suara desir angin gunung, ketimbang bergabung bersama penduduk lainnya, berkumpul menikmati pesta HUT Proklamasi di Malino.

Laki-laki berkulit legam ini menyendiri, menggelisahkan Bawakaraeng. Menurutnya, hanya satu hal yang ia tahu: Gunung Bawakaraeng saat ini dalam kondisi sangat krits. “Saya kasihan sama orang-orang, sama warga desa. Mereka tidak ada yang peduli dengan Bawakaraeng. Padahal, sudah terjadi longsor besar. Saya takut, kemungkinan ada longsor besar susulan,” katanya.

***
Namanya Daeng Mandong. Berusia kurang lebih 50 tahun. Dalam 30 tahun terakhir, ia telah mendedikasikan hidupnya menjaga kelestarian alam Gunung Bawakaraeng. Setiap hari Daeng Mandong melakukan aktivitas menanam bibit pohon di kawasan-kawasan curam gunung purba itu. Bibit pohon yang ditanamnya, antara lain Mahoni, Jati, dan pohon-pohon jenis keras lainnya. Sebelum ditanam, bibit-bibit itu disemai di sekitar rumahnya. Daeng Mandong tak ingat persis berapa jumlah bibit yang sudah ditanamnya. Namun, ia menyebutkan kisaran ribuan batang pohon.

Sebagai bentuk balasan dari hasil jerih payahnya ini, ia mendapat honor dari Dinas Kehutanan Kabupaten Gowa, sebesar Rp150.000 per bulan. Jumlah itu tentu saja tak mencukupi. Namun menurut pengakuan Daeng Mandong, untuk kebutuhan hidupnya, seperti pakaian dan makanan, seringkali diberikan oleh para pendaki yang kebetulan singgah bermalam di rumahnya. Namun jika kebutuhannya sangat mendesak, sekali dalam sepekan, Daeng Mandong pergi berbelanja ke pasar Malino.

Selain menanam bibit pohon, ia menghabiskan malam harinya dengan bercengkrama bersama para pendaki, yang kebanyakan berasal dari kelompok-kelompok pecinta alam. Ia seringkali memberi nasihatnya kepada para anak-anak muda itu, agar tetap menjaga kebersihan lingkungan dan sikap diri, selama melakukan pendakian.

Di pagi hari, sebelum menyemai bibit-bibit pohonnya, Daeng Mandong memiliki kebiasaan naik ke puncak Talung, daratan tertinggi di lembah Ramma. Dari situ, ia memperhatikan jejeran puncak gunung untuk melihat gejala alam yang terjadi. “Dari Talung, kita bisa lihat hampir semua bekas longsoran Bawakaraeng. Kita juga bisa lihat arah longsoran itu,” ujarnya.

Daeng Mandong mengatakan, dirinya tak akan pernah lupa peristiwa longsor di hari Jumat siang, 26 Maret 2004 lalu. Ratusan warga Kampung Lengkese, Desa Manimbahoi, Kecamatan Tinggimoncong, Malino sedang bertani di sawahnya. 32 orang di antaranya tewas tertimbun. Reruntuhan lumpur itu juga menerjang ratusan hektar sawah, rumah serta gedung sekolah.

Saat itu, warga Kampung Lengkese baru saja usai menunaikan shalat Jumat. Sebagian besar laki-laki langsung ke sawah sepulangnya ke rumah. Sebagian lainnya membawa ternak sapi merumput dan sebagian beristirahat atau makan siang lebih dulu di rumah. Menggarap sawah sangat dirindukan warga. Maklum, sekitar dua minggu hujan lebat turun. Karena itu, Jumat yang cerah itu tak ingin mereka sia-siakan, apalagi tanaman padi mereka menjelang panen.

Tak satu pun menduga bahwa sebentar lagi kampung, sawah, kebun, ternak, bahkan keluarga yang mereka cintai dan diri mereka sendiri bakal tertimpa tanah longsor. Tak ada tanda-tanda awal yang biasanya diisyaratkan alam. Ada sedikit tanda, berupa tanah berjatuhan sedikit-sedikit dari tebing, tetapi belum sempat terbaca. Bahkan berselisih hitungan menit sebelum akhirnya kaki hingga sebagian dinding Gunung Bawakaraeng runtuh dan meluluhlantakkan semuanya.

Desa Manimbahoi berada di ngarai, tepat di kaki Gunung Bawakareang, dan di sisi kiri dan kanan hulu Sungai Jeneberang. Menurut Daeng Mandong, ia merasa sedih, karena tak mampu dengan cepat memberitahu warga desa. Gerakan cepat kakinya menuju Desa Manimbahoi, dipotong oleh derasnya longsor yang memiliki panjang 30 kilometer dan ketebalan hingga 400 meter itu. Sebelum peritiwa itu terjadi, ia mendengar suara ledakan yang sangat keras. Diduganya, suara ledakan itu berasal dari tebing gunung bagian bawah yang patah.

***
Daeng Mandong berdiam di Lembah Ramma, tempat yang jauh dari desa terakhir di kaki gunung, Desa Lembanna. Mencapai Lembah Ramma dari Lembanna, hanya bisa dilakukan dengan berjalan kaki, selama kurang lebih lima jam. Medan jalur yang dilalui boleh dikata sangat berat, sempit dengan apitan pepohonan pinus di kedua sisinya. Tempat terpencil itu sebuah lembah yang dikelilingi bukit dan jejeran puncak-puncak Gunung Bawakaraeng.

Komitmen Daeng Mandong begitu kuat. Ia rela meninggalkan desanya, Desa Takappala, dan memilih bertempat tinggal di Lembah Ramma, untuk menjaga totalitas kepeduliannya terhadap lingkungan. Daeng Mandong bercerita, saat itu, 10 tahun lalu, ratusan warga desa mengantarnya ke tempat tinggal yang baru. Bahkan, rumah panggung miliknya juga ikut di boyong, setelah sebelumnya dibongkar dan dipisah-pisahkan.

Rumah panggung itu berukuran empat kali tiga meter. Di dalamnya, terdapat tiga buah ruangan. Ruang tamu yang menyatu dengan dapur, serta sebuah ruang tidur berukuran dua kali satu meter. Jika Daeng Mandong memasak sesuatu, asap perapiannya memenuhi rumah dan mengepul keluar dari lubang-lubang di dinding papan yang rapuh.

Tinggi rumah panggung tidak seberapa. Lantainya, yang terbuat dari papan sedikit tebal, hanya berjarak sekitar semester dari tanah. Namun, ruang itu cukup bagi tiga ekor anjing miliknya, yang sudah dipeliharanya sejak 10 tahun lalu. Binatang-binatang itulah, yang selalu menemani Daeng Mandong dan menjaganya dari serbuan babi hutan, yang kadang menyerang rumah di malam hari.


Kelompok pencinta alam yamg mendaki Gunung Bawakaraeng menjadi sahabat Daeng Mandong
Foto: http://ojifaroz.multiply.com.


Dari lembah itu, Daeng Mandong juga mengawasi aktivitas para peternak di lereng-lereng gunung. Kadang, ia membantu peternak yang merupakan warga dari sejumlah desa yang ada di sekitar kaki gunung, menambatkan binatang ternaknya dan memberikan makan. Sosok Daeng Mandong sangat berarti bagi warga desa. Karena ia menjadi pemberi informasi awal bagi para warga di sekitar kaki gunung, jika terjadi gejala alam yang membahayakan jiwa mereka. Dari informasinya itulah, warga memutuskan apakah akan tetap melakukan kegiatan bertani dan berternak, atau tidak.

Selain warga desa, Daeng Mandong juga ternyata menjadi Rescue Team dadakan, jika ada diantara pendaki Gunung Bawakaraeng yang mengalami musibah. Seperti kehilangan jalur atau tewas karena terjatuh di jurang. Wawa, Ketua Mahasiswa Pencinta Alam STIKOM Fajar, mengisahkan, timnya pernah dibantu Daeng Mandong untuk mencari seorang kawannya yang terjatuh di jurang di kawasan Lembah Loe, sekitar tahun 2002 lalu. “Luar biasa. Hanya dalam sehari, Tata’ Mandong bisa menemukan jenazah kawan saya itu,” ungkap Wawa.

Para pendaki itu sering memanggil Daeng Mandong dengan sebutan Tata’, Bahasa Makassar yang artinya Bapak. Sebutan itu, diartikan sebagai sapaan penghormatan mereka kepada Daeng Mandong.

***
Daeng Mandong bercerita, selain kondisi Gunung Bawakaraeng, masih ada satu hal lagi yang mengganjal pikirannya. Meski sudah 10 tahun, ia masih memikirkan keberadaan istri dan anaknya. Tahun 1986 lalu, Daeng Mandong harus menerima kenyataan pahit. Sang istri, Maniah, menuntut cerai suaminya itu, karena tak tahan dengan kondisi kemiskinan yang dialami keluarga mereka.

Gaji dari pekerjaan Daeng Mandong sebagai penanam bibit pohon, tidak mencukupi untuk kebutuhan keluarga. Maniah, akhirnya pergi dan membawa serta puteri semata wayang mereka, Fatimah, ke Makassar. Perpisahan itu, ternyata makin memompa semangat Daeng Mandong. Di tahun yang sama, ia memutuskan pindah dari desanya di Desa Takappala, dan memilih hidup sendiri di Lembah Ramma.

Sampai saat ini, Daeng Mandong tak mengetahui keberadaan mereka. Laki-laki itu, tetap menyimpan kerinduan. “Punna nakulle sallang, nia se’re wattu, lakuboya ngasengngi,” katanya. Yang artinya, kalau ada waktu saya ingin mencari mereka...(p!)

*Citizen reporter Akbar Abu Thalib dapat dihubungi melalui email akbar_makassar@plasa.com

| Beri Komentar| Jumlah Komentar (14) |

Komentar :

25-11-2008
Dari : dg paricu |
kesan saya paling dalam dgn Tata mandong saat rumahnya dijadikan posko rescue thn 1987 untuk evakuasi korban pendakian dari pengikut salah satu aliran kepercayaan yg menjadikan ritual naik ke puncak sebagai naik haji...bersama tata mandong dan warga desa lain serta anggota polisi kita bahu membahu mengevakuasi 8 korban ..insyaalah jika ada kesempatan akan ke Lembanna mencari dg Mandong..

11-09-2008
Dari : wawa | haswarandi@ymail.com
setelah tata mandong, tata siapa lagi ces...? masih banyak tata dilembanna.

15-12-2007
Dari : Beckha | beckha@gmail.com
Tata' Mandong semestinya lebih dihargai... bantu dengan jaga kelestarian gunung Bawakaraeng.

27-10-2007
Dari : lina | bawakaraengmount@ahoo.com
Dulu saya mengenal banyak daneg Mandong-mandong lain. sayangnya mungkin karena bawakaraeng yang longsor mengikutkan rasa dan kesetiaan daeng-daeng mandong yang lain hingga saat ini mungkin tinggal sebanyak ruas jari saja daeng mandong yang tertinggal. Keep Low man...

20-02-2007
Dari : wiwin | wiwn_fekon@plasa.com
salut buaT daeng mandong. kami akan menyusukmu... dari anak Mapala Ekonomi UNTAN KALBAR

26-11-2006
Dari : alan | perpala.com
salut buat tata', semoga perjuangan tata'-tata' di bwkrg menjadi pemicu semangat para PALA untuk lebih peduli pada bwkrg, bukannya menjadi salah satu perusak karena sampah yang bertebaran di pos2 yang enggan di bawa pulang para "pencinta alam" laknat itu!!!!!

26-11-2006
Dari : alan |

17-09-2006
Dari : Thomas |
Kepedulian daeng Mandong akan kelestarian lingkungan perlu diajukan untuk mendapatkan piagam Adipura.Terima kasih kalau usul aku ini diterima dan dilanjutkan

15-09-2006
Dari : In-aRt | winnie_21060@yahoo.com
ini fotonya Daeng Mandong, tapi tampak belakang...

15-09-2006
Dari : In-aRt | winnie_21060@yahoo.com
Free Image
Hosting at
www.ImageShack.us nih fotonya Daeng Mandong tapi tampak belakang...

14-09-2006
Dari : tante samir | samir_tante@yahoo.com
Kalau kita menggunakan akal sehat, selaku manusia yang hidup dan tahu kehidupan sehari2, tidak ligis orang seperti daeng mandong, kerja keras, diberi gaji Rp.150.000,- perbulan. Uang itu kalau seharian naik pete2 dimakassar, bukan mustahil ablas sehari saya, itu baru pete2 saja. Bagai mana kebutuhan yang lain, ya?

14-09-2006
Dari : Ashar Karateng | ashark@indosat.net.id
sudah hampir lebih dari 10 kali (terakhir 2 minggu lalu) dalam kurun waktu hampir 2 tahun, saya mengunjungi Kampung Lengkese, sebagaimana disebut dalam berita diatas, wilayah pemukiman paling dekat (sekitar 7 km) dari kaki gunung bawakaraeng, yang 2004 lalu paling banyak menderita kerugian dan korban akibat tanah longsor. saya mempunyai beberapa foto di lokasi tersebut. sayang sekali saya belum bisa menulis seperti apa yang Bung AKbar lakukan. mudah2an di hari2 mendatang saya juga bisa menyumbang tulisan. salam.

14-09-2006
Dari : daenk_dede | dede@yahoo.com
Thanks berat buat tata mandong untuk menjaga kelestarian G. bawakaraeng , saya salah seorang Pencinta berat G. Bawakaraeng. Pertama kali naik ke G Bawakaraeng 25 tahun yang lalu semua masih Hijau , buat teman-teman sesama Pecinta Bawakaraeng mari kita sama -sama membantu tata mandong and buat penulis terima kasih atas informasinya , untuk foto dimana daerah yang longsor tolong di ikut sertakan

14-09-2006
Dari : Mr. Didin | xxdidinxx@yahoo.com
Bagus juga ceritax ya .... maju terus



 :: CITIZEN REPORTER
Makassar di Panyingkul!: Sebuah Persembahan
(Kamis, 12-07-2007)
Ayo Bergabung di Panyingkul!
(Minggu, 29-04-2007)
Catatan Sederhana Para Citizen Reporter
(Selasa, 31-10-2006)
Tentang Citizen Reporter dan Rubrik di Panyingkul!
(Rabu, 11-10-2006)
Riuh Rendah di Panyingkul!
(Rabu, 16-08-2006)

Untitled Document
 :: DUNIA SEGIEMPAT KAREBOSI






 :: PILKADA




 :: ALBUM PUASA 2008




Untitled Document
 :: KONTAK TIM PANYINGKUL!

Email Redaksi :

redaksi@panyingkul.com

Tim:
yus@panyingkul.com
+62 813 226 80844

Moch. Hasymi
+62 811 955 954


© Juni 2006 - Panyingkul.com All Rights Reserved
Desain Web : Nesia Andriana -- Supported by: Yuhardin