|
|
| . |
| ::
|
| Kamis, 21-09-2006 | Orang-orang yang Bertahan di Tana Tumbang :: Ashar Karateng ::
| Daeng Manggu menolak pindah dari Kampung Lengkese yang rawan longsor Foto: Ashar Karateng.
Korban bencana tanah longsor Gunung Bawakaraeng tahun 2004, hingga kini ternyata masih bertahan di sekitar lokasi bekas longsoran. Sejumlah pihak, mulai kalangan LSM, peneliti, hingga Pemda setempat telah berupaya memindahkan mereka, tapi gagal. Dibujuk, dijelaskan baik-baik, bahkan hingga sedikit diancam dan ditakut-takuti, tidak membuat 20 kepala keluarga (KK) rela meninggalkan tanah yang mereka cintai. Citizen reporter Ashar Karateng beberapa kali mengunjungi kampung itu, dan menuliskan laporannya. (p!) | Ini kisah para pemberani, yang memilih bertahan hidup di daerah rawan longsor. Kisah orang-orang kampung Lengkese, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan. Hiduplah di dusun itu Daeng Manggu, tetua kampung, dengan isterinya. Anak-anaknya sudah berkeluarga dan hidup di rumah yang lain. Penduduk kampung yang hanya 75 KK kian berkurang tatkala bencana itu menerjang, tiba-tiba. Kini, tersisa 20 KK, setelah sebagian yang selamat mengikuti kebijakan relokasi penduduk pascabencana.
Menurut data resmi Pemda Gowa, bencana longsor Maret 2004 itu menyebabkan sedikitnya 33 orang tewas, terkuburnya 800 ekor ternak, 12 unit rumah, satu sekolah dasar, 160 hektare persawahan, 160 hektare tanaman persawahan, 270 hektare areal perkebunan, 300.000 bibit pohon, jalan desa sepanjang 3.000 meter, dan satu masjid.
Daeng Manggu menolak pindah. Ia kukuh pada pendiriannya. Lebih baik mati daripada meninggalkan Lengkese, katanya. Dengan bahasa Makassar, ia berkata, “Punna nipassaki assulu tauwa, bajikangangi sitebba-tebba tauwa” (kalau orang dipaksa meninggalkan kampung, lebih baik baku-parang saja). Aparat setempat dengan pertimbangan kekhawatiran akan keselamatan warganya, dengan tegas telah meminta mereka pindah ke lokasi perkampungan baru, sekitar 60 km dari kampung ini. Tapi sikap Daeng Manggu yang diikuti sebagian warga lainnya, tetap tak berubah.
Berbagai pihak pun telah datang, mulai dari instansi pemerintah, perguruan tinggi, dan lembaga penelitian. Tapi tidak satu pun yang mampu menjawab pertanyaan sederhana dari penduduk, “Apakah masih akan terjadi longsor berikutnya?” Mereka menyaksikan bagaimana orang-orang luar datang silih berganti, sebagian di antaranya pekerja proyek bantuan luar negeri dengan berbagai macam peralatan yang mereka tidak ketahui untuk apa. Semua mengisyaratkan bagaimana berisikonya tempat itu, tapi terhadap pertanyaan apakah masih akan terjadi longsor susulan, tidak ada yang berani menjawab. Paling-paling argumentasi yang didengar penduduk adalah, “lokasi ini sangat berisiko tinggi, karena itu, sebaiknya anda pindah”.
Sikap kukuh Daeng Manggu terdengar juga oleh Bupati Gowa Ichsan Yasin Limpo. Beberapa waktu lalu, ia kedatangan tamu, seorang pegawai Pemda Gowa, membawa uang sebesar Rp500.000. Sang tamu pun menyampaikan pesan Pak Bupati, “Tolong berikan uang ini kepada seorang orangtua yang tidak mau pindah”. Banggalah Daeng Manggu atas pemberian itu, karena ia merasa sikapnya akhirnya diakui juga oleh pemerintah. Secara administratif, lokasi kampung Lengkese sudah dianggap tidak ada, dan diganti dengan perkampungan baru. Daeng Manggu mengatakan, “Tidak selamanya orang keras itu tidak baik”. Baginya, bukan nilai uangnya yang utama, tapi pengakuan bahwa toh di kampung ini masih ada penduduk yang bertahan. Toh hampir semua kebutuhan sehari-hari penduduk terpenuhi secara swadaya di kampung ini.
Hingga 31 Agustus lalu, saat terakhir saya mengunjungi Lengkese, ada 9 KK lagi yang telah kembali ke kampung setelah melihat bahwa prospek di tempat relokasi tidak menentu dan sebagian lagi melihat bahwa Lengkese tidaklah sepenuhnya berbahaya untuk dihuni.
***
Pertama kali saya menuju kampung ini pada Oktober 2004, enam bulan setelah terjadinya tanah longsor. Kunjungan terakhir Agustus lalu, saya datang bersama kawan-kawan dari sebuah kelompok kecil di Malino, yaitu Lembaga Pemerhati Lingkungan Karang Puang (LPL-KP). Kami ingin melihat bagaimana mereka mampu bertahan dalam suasana yang sebenarnya cukup mencekam, apalagi memasuki musim hujan tahun ini.
Kondisi jalan perkampungan, sempit dan berbatu. Dari arah Malino ke Lengkese, terbentanglah pegunungan di sisi kanan, sementara di kiri jalan adalah lembah dan ngarai yang sangat dalam. Di bawah sana, tampak Sungai Jeneberang mengalir dengan derasnya. Dengan mobil, dibutuhkan setidaknya sejam dari Kota Malino untuk mencapai kampung yang berjarak hanya 10 km. Dengan motor bisa setengah jam. Selain ojek motor yang mulai tersedia beberapa waktu terakhir, tidak ada kendaraan umum ke Lengkese. Penduduk harus berjalan kaki ke ibukota desa untuk berbelanja sesuatu di hari-hari pasar yang dua kali seminggu. Mereka tidak mengeluh karena harus jalan kaki. Mereka terbiasa seperti ini. Bagi pendatang, kesan pertama biasanya adalah betapa sulitnya menjangkau kampung ini dengan penuh perjuangan. Ada yang bilang, “Menuju Lengkese, jangankan manusia, kuda pun menangis baru sampai ke tujuan”.
Jalan menuju Kampung Lengkese yang berbatu Foto: Ashar Karateng.
Bekas longsoran Gunung Bawakaraeng tampak dari Kampung Lengkese. Foto: Ashar Karateng.
Bekas tanah longsoran (orang Lengkese menyebutnya sebagai tana tumbang), terlihat jelas dari kampung yang terletak di Desa Manimbahoi, Kecamatan Parigi ini – sebelumnya Kecamatan Tinggimoncong. Diperkirakan sekitar dua milyar kubik lumpur menimbun banyak lahan dan mengalir ke bawah mengikuti alur Sungai Jeneberang sampai ke Bendungan Bili-Bili sejauh sekitar 40 km. Besarnya volume longsoran saat ini mengakibatkan banyak masalah pada pendangkalan di sepanjang aliran sungai dan bahkan pada bendungan itu sendiri, yang mengundang keprihatinan banyak pihak.
Sekitar 200 hektar lahan sawah dan kebun tertimbun tanah longsor. Meski sebagian lahan telah tertimbun, namun sawah dan kebun yang tersisa masih cukup untuk mereka kelola. Warga yang kehilangan lahan sama sekali, akan dibantu oleh warga lain yang mempunyai lahan, dengan sistem ”tesang” atau bagi hasil yang sudah menjadi cara untuk saling membantu sejak lama.
Hasil perkebunan utama adalah kopi. Terdapat tiga jenis kopi yaitu”tojeng”, jenis kopi setempat, serta kopi arabika dan robusta, yang diperkenalkan kepada mereka pada jaman Belanda. Untuk konsumsi mereka mengolah sendiri kopi robusta dan kopi tojeng. Sedangkan kopi arabika, di samping karena jumlah pohon dan produksinya banyak, mereka jual. Selain itu, mereka merasa kopi arabika terlalu keras untuk diminum. Dapat dikatakan, penghasilan utama penduduk berasal dari komoditas ini, yang mereka panen sekali dalam setahun. Hasil pertanian dan perkebunan lain (seperti padi, sayuran, madu, dll), mereka simpan dan konsumsi sendiri. Bahkan mereka juga menanam tembakau dalam skala terbatas untuk konsumsi sendiri. Dengan melihat kemandirian kampung ini, standar kemiskinan yang hanya melihat cash flow pendapatan masyarakat atau dengan standar orang miskin Bank Dunia yang 1,05 dollar AS per hari, tidak berlaku lagi. Kalau datang bertamu ke kampung ini, hampir bisa dipastikan anda akan membawa pulang oleh-oleh kopi tubruk asli, sayur paku atau gelang-gelang, madu, yang dihadiahkan penduduk dengan ikhlas.
***
Kampung Lengkese dulunya memiliki fasilitas listrik, tapi diputus ketika terjadi longsor dan sampai sekarang belum dipasang kembali oleh PLN. Ini tidak membuat mereka mengutuki kegelapan malam. Orang-orang Lengkese pun belajar dari musibah. Kelompok kecil tadi (LPL-KP), memfasilitasi penduduk bagaimana cara mengamankan diri jika terjadi bencana berikutnya. Bagi mereka, bukanlah tempat yang berisiko yang menjadi masalah, tapi bagaimana menghadapinya jika bencana itu terjadi.
Karena itu, mereka belajar bagaimana tanda awal terjadinya bencana longsor, bagaimana menyampaikannya jika tanda-tanda itu ada, siapa yang bertugas memantau, ke mana mereka harus melarikan diri jika bencana itu terjadi, dan bagaimana menolong orang yang tua, ibu hamil, atau yang luka jika bencana terjadi. Intinya adalah bagaimana mereka menyiapkan diri dan bagaimana merorganisir masyarakat jika bencana terjadi.
Pascalongsor, penduduk membangun tempat pemantauan untuk mendeteksi kemungkinan adanya longsor susulan. Lokasi pemantauan, dijadikan tempat kumpul masyarakat berbagi cerita selepas berkebun dan sawah. Persis di bawah bangunan ini, tertimbun sebuah sekolah dasar jarak jauh. Murid-murid pindah sekolah ke ibukota desa dan menumpang di sebuah sanggar tani. Tidak ada kerisauan bagi mereka tentang jauhnya jarak atau sekolah yang seadanya.
Tempat pemantauan bencana longsor yang dibangun penduduk Foto: Ashar Karateng.
Daeng Mandong, sosok penjaga Gunung Bawakaraeng, adalah informan paling penting bagi masyarakat Lengkese saat ini. Ia yang menjadi pemberi tanda pertama yang selanjutnya dikomunikasikan dengan cara yang mereka sudah sepakati. Di antaranya memukul kentongan sebagai tanda adanya bahaya yang mengancam. Jadi kalau ke Lengkese, jangan sembarang memukul kentongan. Bisa-bisa itu dianggap sebagai tanda harus lari menyelamatkan diri.
Dalam kunjungan saya yang terakhir, setelah hampir setahun mereka belajar menyiapkan diri menghadapi bencana, musim panen kopi telah berakhir, musim tanam padi telah usai. Kini mereka menyongsong musim hujan, sebuah musim yang mungkin harus diantisipasi. Semoga mereka bisa aman dari segala bencana.(p!)
*Citizen reporter Ashar Karateng dapat dihubungi melalui email ashark@indosat.net.id
|
| | Jumlah
Komentar (1) |
|
| Komentar :
21-09-2006 Dari : ruslee | muhruslee@yahoo.com kadang kearifan dari
pengalaman hidup
dalam alam bisa
mengalahkan logika
sekolahan,
daeng Mangu yang
sudah mendiami dusun
Lengkese nyari
seabad pasti punya
nalar yang logis
menghadapi bencana,
mungkin secara
matematis kita
mengenal 'cycle
period' or periode
ulang bencana...
hal ini yang
menjadikan si 'keras
tapi baik' ini
memilih bertahan
hidup di ambang
bencana, sebagaimana
Mbah Maridjan di
lereng Merapi...
mari menghormati
kearifan lokal, yang
justru bisa
memberikan pelajaran
teramat berharga
bagi kita kaum muda
yang kadang sok tahu
:p
selamat berpuasa,
marhaban ya sahru
ramadhan...
selamat datang bulan
kebaikan... |
|
|
|
|
| ::
CITIZEN REPORTER |
 | (Kamis, 12-07-2007) |  | (Minggu, 29-04-2007) |  | (Selasa, 31-10-2006) |  | (Rabu, 11-10-2006) |  | (Rabu, 16-08-2006) | |
|
Untitled Document
| ::
DUNIA SEGIEMPAT KAREBOSI |
|
Untitled Document
| ::
KONTAK TIM PANYINGKUL! |
Email Redaksi :
redaksi@panyingkul.com
Tim:
yus@panyingkul.com
+62 813 226 80844
Moch. Hasymi
+62 811 955 954
|
|
|