Untitled Document
 


Untitled Document
.KITAKITA
:: Jika Anda di Panyingkul ::
 
 KABAR KITA
 
 BERANDAKITA
Kegilaan, Dari Cinta Mati di Pulau Rajuni Hingga Riwayat Kadang
:: Ivan Firdaus ::
Baba Guru, Mengenang Film Rhoma Irama di Klenteng Galesong
:: Kamaruddin Azis ::
Mengagumi Tenun Troso, Mengenang Tenun Sengkang
:: Suryadin Laoddang ::
Perempuan Besi di Gunung Perak (2-selesai)
:: M. Aan Mansyur ::
Perempuan Besi di Gunung Perak (1)
:: M. Aan Mansyur ::
 
 RISETKITA
Rasa Takut : Yang Dicitrakan, Yang Dipelihara
:: Aria W. Yudhistira ::
Risetkita: Pramoedya versus Sejarah Resmi
:: Nurhady Sirimorok ::
Hikayat Rumpon Nelayan Mandar
:: Muhammad Ridwan Alimuddin ::
Di Makassar Pernah Ada “Negeri Wajo”
:: Nurhady Sirimorok ::
Surat Itu Ditulis Upas kepada September
:: Nurhady Sirimorok ::
 
 BUKUKITA
 
 KATAKOTAKITA
Kenapa si Gondrong yang Maju?
:: Ivan Firdaus dan Mustamin al-Mandary ::
Karena ‘Rewa’ Badan Binasa
:: Sudirman Nasir ::
Yang Okkot, yang Salah Sambung
:: Nursamsu danTusiana Noor Alfisyahr ::
Kandala`ka`, Kusta Bila Dusta
:: Panyingkul ::
Ayo, Si(ng)kat Terussss..!
:: Panyingkul! ::

 
 TAHUKAHKITA
 

.
 ::
Senin, 14-08-2006 
Karebosi Pagi, Karebosi Sore
:: Irayani Queencyputri ::


Alun-alun kota Makassar : Karebosi.
Foto : Basrul Haq.


Citizen reporter Irayani Queencyputri, menghabiskan satu harian di Karebosi untuk melaporkan bagaimana suasana pagi dan sore di alun-alun kota Makassar tersebut. Banyak cerita menarik yang direkamnya dalam tulisan ini. (p!)
 
Berbekal pengalaman menyenangkan bersantai di alun-alun kota Malang yang sejuk dan apik beberapa waktu lalu, saya memutuskan menghabiskan suatu hari libur di Karebosi di awal April. Orang-orang merujuk Karebosi sebagai alun-alun kota Makassar. Lapangan ini adalah nol kilometer-nya Makassar. Para pakar tata kota menyebutnya sebagai daerah resapan air yang sangat penting. Sementara bagi penggemar olahraga, Karebosi adalah kata kunci, yang menjadi kawah penggodokan atlet berbagai cabang olahraga. Adapun bagi saya, Karebosi selama ini hanya sebuah nama, yang mengingatkan bentangan lapangan luas, yang dikepung bangunan yang terus tumbuh di keempat sisinya. Di hari libur itu, saya ingin menjadi bagian orang-orang di Karebosi, mungkin ikut bersorak bersama suporter PSM atau sekadar duduk menonton penjual obat.

Pagi itu Karebosi menggeliat sangat awal, di saat jalan masih lengang, di saat jejeran gedung perkantoran, toko, bank, sekolah dan Makassar Trade Center (MTC) masih senyap. Di tengah cuaca yang cerah, tampak orang-orang bermain basket, tenis, sepakbola, maupun hanya sekedar jogging mengelilingi lapangan.

Di sisi selatan banyak orang yang menonton tim Persatuan Sepakbola Makassar (PSM) sedang latihan. Sehari sebelumnya, PSM mengalahkan Persmin Minahasa sehingga sorak sorai dukungan dari pertandingan semalam yang berlangsung di Stadion Mattoanging, bergema lagi di Karebosi pagi ini. Kelompok Suporter Fanatik PSM Karebosi yang berdiri di tepi lapangan melontarkan seruan-seruan untuk menyemangati tim juku eja itu.


Kakek dan cucu turut menikmati suasana pagi Karebosi.
Foto : Irayani Queencyputri.


Suasana sisi selatan lapangan Karebosi yang ditumbuhi pohon palem, yang masing-masingnya dengan jarak tanam kira-kira 50 meter per pohonnya. menghadirkan suasana yang cukup teduh dan rindang. Ramai sekali orang-orang berbagai usia yang joging di sisi selatan ini. Ada yang joging satu keluarga, berpasangan, atau bahkan sendiri. Bahkan pagi itu ada seorang kakek yang sambil menggendong cucu terlihat bersemangat berlari menyusuri lapangan.


Patung Ramang, ideal sebagai patokan tempat bertemu.
Foto : Irayani Queencyputri.


Saya berjalan pelan menyusuri sisi selatan menuju arah utara yang merupakan gerbang utama Karebosi. Gerbang ini ditandai oleh patung Pa`raga dan patung Ramang, tokoh legendaris persepakbolaan Makassar. Di bawah patung Ramang terlihat segerombolan anak-anak yang nampaknya masih SMU. Semuanya duduk di atas sadel motor, seperti sedang menunggu. Mungkin, mereka berjanji berkumpul di Karebosi, sebelum berangkat ke suatu tempat lainnya. Lokasi Karebosi yang strategis memang pilihan tempat bertemu yang paling tepat.. Siapa yang tidak kenal Karebosi? Tentu mudah berjanji bertemu di sini.

Tidak jauh dari serombongan anak muda tadi, terdapat sebuah gerobak yang ramai dengan pengunjung. Ini sisi lain Karebosi di pagi hari: jajanan pagi. Dan pagi ini yang hadir adalah bubur kacang hijau (di gerobaknya tertulis "Kacang Ijo").

Dengan bermodal 1.500 rupiah per mangkuk, pengunjung sudah bisa menikmati bubur kacang hijau yang ditambahkan ketan hitam dan santan. Ramai orang yang menyantap sarapan kacang hijau. Ada yang memutuskan sarapan kacang hijau setelah berolahraga, tapi ada juga yang sengaja datang hanya untuk menikmati semangkuk bubur.
“Setiap pagi saya makan di sini, buburnya enak,” kata Amir (32), seorang pegawai PLN, yang kantornya terletak tak jauh dari lapangan. Sang penjual bubur sudah empat tahun berjualan di Lapangan Karebosi ini, setiap pagi sampai menjelang malam dia pasti mangkal di sini.

Selain penjual bubur tadi, terdapat sejumlah pedagang makanan dan minuman lainnya di sekitar gerbang utama ini. Mereka mengakui, dalam setahun terakhir, pembeli tidak lagi ramai karena sebagian dari sisi utara-selatan Karebosi telah ditutup dan pedagang kaki lima dilarang lagi beroperasi di sana. “Saya dengar-dengar di tempat ini mau dibangun rumah untuk pemain PSM...”, kata salah seorang penjual minuman dingin.


Etalase kegiatan dan prestasi Makassar Football School.
Foto : Irayani Queencyputri.


Saya lalu kembali ke sisi selatan lapangan Karebosi. Di sudut lapangan pertigaan Jalan R.A. Kartini dan Jalan Kajaolaliddo, ada beberapa hal yang menarik perhatian. Terdapat dua papan etalase tempat foto-foto, dan satu rak etalase besar yang menyimpan banyak piala. Ternyata pojok itu digunakan sebagai pusat kegiatan Makassar Football School (MFS), yang murid-muridnya telah mengharumkan nama bangsa di sebuah pertandingan internasional. Bahkan salah satu dari pemainnya, Irvin Museng, diberitakan diajak untuk bergabung dengan Ajax Amsterdam.

Lelah berkeliling, saya memutuskan untuk membeli sebotol air mineral 600ml dan meneguknya sambil duduk di salah satu bangku dekat pojok merah tempat mangkal Kelompok Suporter Fanatik PSM Karebosi tadi. Kerumunan suporter telah bubar, PSM telah selesai berlatih. Di sebelah kanan saya ada seorang anak muda yang sedang membaca koran, dan di sebelah kiri saya ada sepasang insan yang lagi mesra-mesranya membaca sms d layar telepon genggam.

Apa yang bisa saya simpulkan sementara setelah menyusuri sisi selatan dan utara lapangan ini? Sambil menenggak air mineral, saya tiba pada kesimpulan: Karebosi lebih tepat disebut sebagai tempat olahraga. Harapan tentang alun-alun yang apik, ruang terbuka yang riuh rendah dengan orang-orang yang ingin bersantai, belum hadir setelah saya menghabiskan waktu kurang lebih dua jam di sini.

Saat mengamati delapan ekor angsa yang berkeliaran di tengah lapangan, tidak jauh dari tempat tim PSM tadi berlatih, saya tiba-tiba terusik oleh suara-suara yang saling sahut menyahut, yang terdengar jelas. Rupanya sepasang kekasih yang tadinya terlihat mesra sambil membaca sms di layar telepon genggam mereka itu, kini beradu argumen. Kisahnya tak jauh beda dari sinetron yang menghiasi layar kaca kita: perempuan yang merajuk minta dinikahi, sementara sang pria mengaku belum siap. Sang perempuan nekat, meminta bukti kesungguhan cinta dengan mengajak hidup bersama.
Begitu kisah dramatis ini berakhir yang ditandai dengan deruman motor yang membawa keduanya pergi, ternyata menyusul kisah dramatis lainnya: seorang bapak tiba datang di dekat saya dan mengajak “kencan”. Di tengah langkah bergegas untuk menyelamatkan diri dari keisengan sang bapak tadi, saya sepertinya tengah membaca salah satu halaman kisah percintaan warga kota yang tercatat di lembar buku harian bernama Karebosi. Jam di pergelangan tangan menunjukkan pukul 10.15 pagi dan saya telah menyaksikan catatan harian tentang fanatisme suporter PSM, semangat dan disiplin tim PSM yang meski baru saja menangguk kemenangan semalam lalu, kini harus kembali berlatih, daya juang pedagang kaki lima yang hadir sejak pagi-pagi sekali, dan rombongan orang-orang yang tampak berbahagia menikmati olahraga pagi, dan sepasang kekasih yang bertengkar di tepi lapangan. Sebuah pagi yang sederhana dan bersahaja.


Salah satu gerobak jajanan sore Karebosi.
Foto : Irayani Queencyputri.


Berangkat dengan asumsi bahwa suasana alun-alun kota barangkali saja hadir di sore hari, kembali saya menjejakkan kaki di Lapangan Karebosi. Betul kata para pedagang kaki lima pagi tadi, bahwa di sore hari memang lebih ramai. Para penjual mulai memenuhi daerah pintu gerbang utama Karebosi.


Pedagang arloji yang setia dengan profesinya.
Foto : Irayani Queencyputri.


Begitu tiba di sisi utara, perhatian saya tertuju pada seorang pria tua. Dari raut wajahnya dapat terlihat bahwa ia keturunan India. Sejak 1998 pria lanjut usia yang bernama Pak Ibrahim ini menjual arloji. Sebelumnya bahkan pernah berdagang di Manado. Ia mengambil tempat tepat di depan papan etalase “Gerakan Makassar Gemar Membaca” yang bila diperhatikan dengan seksama, artikel-artikel dalam papan itu sudah mulai menguning dimakan waktu dan tak pernah diperbaharui. Sudut-sudut lembaran artikel itu ada yang sudah terlepas dan lapuk.


Pertandingan catur, turut meramaikan Karebosi.
Foto : Irayani Queencyputri.


Berjalan sedikit ke arah alun-alun, di belakang alun-alun terlihat 6 pasang meja beserta kursi. Inilah sudut bagi para penggemar catur. Sejak menjelang siang hingga menjelang malam, tempat ini dijadikan tempat berkumpulnya para pencinta olahraga otak ini. Di setiap meja terdapat dua papan catur, sehingga 12 pasang pemain bisa bermain bersamaan. Apakah mereka bermain catur sekadar iseng? Ternyata tidak, ungkap salah seorang pemain catur yang bernama Pak Bobo.

Permainan yang dilakukan dihitung menggunakan timer yang merupakan standar permainan catur profesional. Pak Bobo, yang cukup terkenal di kalangan pecatur di Makassar, menyebut tempat ini sebagai basecamp catur Karebosi. Dia juga menyebutkan beberapa tempat di Makassar ini yang merupakan tempat para pecinta catur berkumpul dan bermain. Salah satunya Kafe Ozone di lantai lima Makassar Trade Centre yang terletak di seberang lapangan Karebosi itu.

Pak Bobo yang mempunyai istri empat ini ternyata bukan orang biasa. Ia sudah pernah mengharumkan nama Makassar ke beberapa daerah di Indonesia untuk mengikuti pertandingan catur. “Di tempat ini, semua bisa datang. Siapa saja yang ingin main catur, silakan. Banyak yang datang ke sini sepulang dari kerja, mampir dulu main catur lalu pulang,” demikian penjelasannya.

Menatap ke arah lapangan, seperti pagi tadi, aktivitas olahraga tetap mendominasi. Terutama olahraga sepakbola. Dan yang paling menarik perhatian, tentu saja sejumlah pemain PSM yang kembali berlatih lagi di lapangan khusus mereka. Juga tampak anak-anak kecil berseragam warna merah. “Mereka murid-murid MFS yang lagi latihan,” celetuk salah satu pengunjung di lapangan tersebut.

Saya lalu memutuskan berpindah ke sisi barat lapangan. Di sana terlihat kesibukan yang tidak biasa. Ada empat tiang bambu yang terpancang di sana beserta kerumunan orang ditingkahi dengan ramainya suara-suara teriakan.

Ketika saya mendekati, ternyata ada permainan unik yang tengah berlangsung. Pertandingan ini memakai sepasang burung merpati. Burung merpati jantan dibawa sampai ke daerah pelabuhan, kemudian dilepaskan dengan harapan burung merpati jantan tersebut akan terbang untuk bertemu dengan betinanya, yang menunggu gelisah di Karebosi.

Empat tiang yang dipancang dijadikan sebagai batas, dan burung merpati yang datang harus datang dari arah atas, tanpa boleh mengenai sisi-sisi batas yang sudah dipancang itu. Burung merpati yang tercepat datang dan tepat masuknya adalah pemenang, dan terus dipertandingkan babak penyisihan berikutnya hingga menemukan pemenang utamanya. “Jagoan hari ini yaitu Daeng Kebo,” tutur salah satu penonton pertandingan burung balap tersebut sambil menunjuk ke arah sepasang burung merpati berwarna putih bersih.

Betul kata para pedagang kaki lima, di sore hari Karebosi lebih semarak. Selain orang-orang yang menggiring bola, ada pemain catur, dan peserta lomba burung balap. Dan saat kembali ke sisi utara lapangan, saya harus menambah catatan: penjual obat pun telah mulai beraksi. Sore itu, sang penjual obat berkoar-koar mempromosikan dagangannya yang dijamin bisa meningkatkan kejantanan pria. Dengan topik promosi seperti ini, tentu saja saya menjadi aneh sebagai penonton wanita satu-satunya di antara sejumlah pria yang menyaksikan dengan antusias.

Sore hari memang lebih semarak. Penjaja makanan pun makin ramai, termasuk penjual bubur kacang hijau yang telah mulai berjualan sejak pagi tadi, masih bertahan di sana.

Tak jauh dari tempat saya berdiri, terlihat penjual rujak Karebosi ramai dirubung pembeli. Kata orang, rujak Karebosi yang laris itu telah mampu membuat pemiliknya naik haji beberapa tahun yang lalu.


Penjual rujak di Karebosi yang sukses
dengan dagannya.
Foto : Irayani Queencyputri.


Sore sebentar lagi tuntas, dan saya menyaksikan orang-orang sedang berkemas-kemas pulang. Si tukang obat memasukkan barang dagangannya ke kardus besar, lalu dinaikkan ke atas kereta beroda. Dengan dibantu oleh dua orang anak-anak ia menyimpan aset dagangannya itu di dalam sebuah pos jaga yang berdiri melekat pada pembatas daerah yang tertutup --ini dihapus nesia), dekat dari letak gerobak penjual bubur kacang hijau yang menjual tadi pagi. Setelah memastikan barang dagangannya telah tersimpan dengan benar, penjual obat tadi pergi menghampiri sebuah warung dan bercanda dengan ibu penjaga warung. Dia bercerita tentang seorang pembeli yang membeli obatnya tapi terburu-buru hingga lupa dengan uang kembaliannya. “Takut ki ketahuan barangkali,” ibu penjaga warung itu menimpali.

Lapangan mulai sepi saat azan magrib berkumandang. Empat tiang bambu untuk pertandingan burung balap sudah diturunkan. Dekat pos jaga tempat penyimpanan barang dagangan penjual obat tadi terlihat seorang tukang becak yang sedang beristirahat di atas becaknya sambil bercanda ria dengan kedua anaknya yang masih balita.

Tak jauh dari situ berdiri sebuah papan bertuliskan “Jagalah Kebersihan dan Keindahan Lapangan Karebosi".

Sayangnya, hanya dua langkah dari situ terdapat tumpukan sampah yang kelihatannya sudah lama teronggok.

Setelah senja usai, saya bergegas meninggalkan lapangan yang menyimpan kisah orang-orang biasa itu, orang-orang yang mencari hidup, atau yang sekadar melepas lelah, yang menyalurkan hobi, atau yang bersungguh-sungguh berlatih mewujudkan obsesi sebagai atlet tangguh. (p!)

*) Citizen reporter Irayani Queencyputri, adalah sarjana Kedokteran Gigi Universitas Hasanuddin - Makassar, dapat dihubungi melalui email rara79@gmail.com

| Beri Komentar| Jumlah Komentar (27) |

Komentar :

03-01-2009
Dari : wahyu | wahyuJK@gmail.com
laporan yang bagus, bagus, bagus.. Tapi itu duluuuu. sekarang pemandangan itu tidak akan kita bisa liat lagi.. Karebosi-ku nasibmu...

22-12-2008
Dari : Noeel | Saribattang_bontang@yahoo.co.id
Kangenku sama karebosi............ .

17-11-2008
Dari : saharullah | sahar_timikaq@yahoo.com
wey makassar masih jorok kah???

14-06-2008
Dari : KAREBOSI..FITNAH PALING KEJI TERHADAP IA |
Nasionalisme tanpa Menghakimi (Nurmal Idrus ) Kamis (15/5) sore, kita disuguhi sebuah tontonan menarik nan heroik ketika Pia Zebadiah Cs, secara dramatis menyingkirkan Tim Jerman dengan skor 3-1 di babak Semifinal Piala Uber, di Jakarta. Target semifinal yang dibebankan kepada mereka terlampaui dengan maju ke babak final. Betul-betul heroik. Inilah nasionalisme yang sesungguhnya. Kata yang selalu dibanggakan oleh banyak orang tetapi dengan tindakan yang tak jelas, dipertontonkan oleh srikandi-srikandi ini. Nasionalisme yang nyata, membawa keharuman bagi negeri ini. Disaat mereka berjuang mati-matian membela nama Indonesia, di lain sisi banyak dari kita yang tak memahami arti nasionalisme itu. Malah, para politikus itu lebih banyak mengeritik dan terkesan menjelek-jelekkan negeri ini dan daerah mereka sendiri. Dalam konteks jelang Pilwali Makassar, nasionalisme itu seperti sudah terkotori dengan banyak sekali kampanye negatif yang tujuannya untuk saling menjatuhkan. Tak ada lagi kecintaan dan kebanggaan pada daerah kita ini. Persoalan-persoalan perkotaan yang dipolitisir dan dibuat dramatis menjadi bagian dari kampanye negatif. Seakan-akan, tak ada lagi kerja-kerja bagus dari pemerintah kota. Semua yang dilakukan pemerintah kota seolah-olah salah dan hanya kemudaratan yang terjadi. Kemiskinan dipolitisir, dengan mengapungkan isu kelaparan sebagai jualan kampanye. Sungguh sebuah cara-cara yang tak fair dalam upaya mencapai kemenangan. Padahal, selama ini kita hidup dan makan di kota ini. Kita tak bisa memungkiri kita termanjakan dengan kemajuan kota ini. Semua bisa didapat dengan mudah, terutama mereka yang punya duit seperti para penggiat kampanye negatif itu. Bertahun-tahun, kita menikmati kemewahan itu dan mengabaikan banyak warga lain yang tertindas. Maka, sungguh sebuah keironian ketika kemudian ada di antara mereka yang tiba-tiba menjadi pahlawan kesiangan, untuk memberantas kemiskinan. Pertanyaaan sekarang, mengapa baru saat ini mereka berteriak-teriak untuk hal itu. Padahal, bertahun-tahun kemiskinan itu menjadi pemandangan sehari-hari. Lalu, mengapa baru sekarang mereka mau mengurusinya. Maka, jangan pernah disalahkan jika ada yang menyatakan bahwa semua itu karena adanya maksud tersembunyi. Karena sebuah tujuan singkat, meraih kekuasaan. Sesungguhnya, cara-cara seperti itu adalah cara-cara yang tak diridhai karena dilakukan dengan tidak fair.

25-04-2008
Dari : Agoes | es_potenk@yahoo.com
makassar.......my city!!!! karebosi.......my humz!!!! ( hallah ap lagy ini )

07-12-2007
Dari : evan | erioevan@gmail.com
ck..ck...Bu Rara betul2.... berkeliling Karebosi untuk sebuah tulisan yang menyenangkan !... that's a nice report !

29-11-2007
Dari : bustam | bustam_cool@plasa.com
Itu gambar kalo sa bilang bagusmi,tapi kasi tongi sike'de' basa mangkasara.... biar kita orang MAKASSAR yg jauh dari makassar ttp ingat sama makassarta' tercinta.....anu klo bza ditambai sama gambarna pantai losari,pabbalu pisang epek,n pabbalu2 lainnya.salam juga buat semua saudara2ta' di makassar,SI ANAK SI PAMMANAKKANG.......m ariki di' salm juga buat anis di php sama temangku di ikip.....mariki' di' bustam,temanggung,ja wa tengah

14-11-2007
Dari : asgaf Bekasi | asgafasapa@yahoo.co.id
yg merasa dirinya bencong sory2 aja jangan tersinggung yah bukannya gw apa gitu, bencong2 yg ada di karebosi itu di basmi aja dr pd kotor2in kota makasar,gw juga org makasar tp tinggal di jakarta merasa prihatin

03-11-2007
Dari : phi@n marsose, Graha Raya | sfy_saleh@yahoo.co.id
Ra, dipojok Karebosi yg ada pertunjukan tukang obat, ada pohon beringin besar (masih ada gak ya) konon disitu ada terowongan yang tembus sampai ke benteng Rotterdam sebagai jalan rahasia, mungkin buat kabur kali. Coba dong ditelisik. Antara th 70 - 80an Karebosi itu tempatku main sehari-hari karena rumahku dekat situ.Jadi dulu aku ini Pakkammi'na Karebosi hehehe

30-10-2007
Dari : saharullah | aminmuhammadamin@yahoo.com
hai! muax aq kangen banget mah kampung ku melihat lapangan karebosi aq tinggal di antang raya komp.panakukang mas IIsalam u mua warga kota makassar

08-09-2007
Dari : Muhammad Iqbal | iqbal_m70@yahoo.com
Rara... kalau malam hari masih banyak bencongkah di Lapangan Karebosi?

06-09-2007
Dari : deen | deen10february@yahoo.com
betul2..serasa seharian di karebosi :).nice

24-08-2007
Dari : Lorong buntu |
mauka tanya ces...! masih adai ka itu penjual pallu basa di Karebosi pas di panyingkul? kasika infona Rara saya tungguki itu jawabanya.

23-08-2007
Dari : parapatang | bisatonji@internux.web.id
Ass, mantapki tawwa gambarna! tp ada yg mo dikoreksi, poto paraga bukan potona Ramang Rara tp yang lagi nendang tawwa. Koreksiki di'. Krn webna asli mks, ya kshki sikedde bahasa daerah Spy ada tong karakterna. Pake bhs indonesia tp okkotzki atw tdk karuan tata bhsnya kan malu2 jaki jg toh!:). Sa kasi'ki saranna : liputki bede' PSM Makassar, biar mamo 2 barisji infona yg penting ada. Key! Ewako!!!!!!!!

10-06-2007
Dari : halfian | halfian_syam@yahoo.com
wah irayani ini rara kan ? ha ha, baru perhatikan baik-baik padahal fotonya sudah aku pinjem posting di blog ku. Makasih ces, terus berkarya, tulisannya bagus.

07-06-2007
Dari : aChiE | aChMaD_CiCi@yahoo.com
jd kangen makassar ni,bisa g minta foto2 kota makassar????

24-04-2007
Dari : biSoT | b150t@plasa.com
Wah, terus tokang obatnya tau'ah... "Hayyoo yang jauh mendekat...yang dekat jangan injak garis " wkkkk salam

20-04-2007
Dari : H@lim | info@amsracingparts.com
Kalo bisa Karebosi diulas juga dong chordnigtlive-nya..m ungkin masih ada "...." disana ? ...maybe.H@lim-Tange rang

14-03-2007
Dari : aldy | aldy.ygc@gmail.com
sayang..ya tidak sampe malam..padahal pada malam hari kehidupan di karebosi tidak kalah uniknya pada pagi atau soe hari....

25-01-2007
Dari : takbir i'L TzAr 09 | takbir09@yahoo.com
mau ka koreksi sedikit apa nda salah tulis itu untuk foto patungnya Ramang???Perasaan Ramang yang disebelahnya lagi dech bukan yg maen "Raga" itu tapi lagi nendang Bola...Kalo memang benar,minta tolong diperbaiki supaya Indonesia tau Ramang gitu,coz selama ini kita yg di Indonesia timur sedikit di lupakan ma org disini(JKT+Jawa).... ok Boss??Sa suka ini website walau jauh dari mks tapi serasa di MKS ka....

18-01-2007
Dari : dedhy | dedy_rcti@yahoo.com
wah....wah... fotonya T O P banget/lain kali kalau motret jangan lupa Fotonya ALDO BARETTO/tunggu aja sore hari kalau dia lagi latihan....kalau kaga hujan seh....!!! EWAKO PSM

23-12-2006
Dari : aswin |
karebosi menurut saya adalah suatu portal makassar masa lalu dan masa sekarang akan tetapi keadaannya sekarang sangat memprihatinkan karena adanya kegiatan2 masyarakat tetapi tidak memperhatikan aspek lingkungannya.slamat berjuang

22-11-2006
Dari : nandar | asmunandar@gmail.com
pasti ngambil poto karebosinya dr MTC kan...? hehehehe....soalnya sy jg pernah ambil poto dr situ

22-09-2006
Dari : erwin saputra | erwinsaputraunm@yahoo.com
Salam kenal Saya Erwin dari Komunitas Rumpun Bambu Universitas Negeri Makassar. Tulisannya boleh juga!!! Bisa nda bagi2 pengalaman ke kami2 di UNM? CP sy 081342301113 Flexi (0411)5230618

22-09-2006
Dari : eva | afazuva@yahoo.com
Dari BALI ke "BaLi" lagi, liburnya gak sekedar libur tapi menghasilkan bo'. Tulisannya bagus banget, viasualisasinya kena banget. Memang Karebosi belum bisa jadi alun2 t4 bersantai dan melepas kejenuhan coz bisa2 kena bola PSM yang nyasar...hi..hi..hi. . Miss u kak rara, kapan balik ke kandea?

15-09-2006
Dari : Auliah Putry | bungaditepianjalan@yahoo.co.id
ah....mbak rara memang punya kreativitas yang tinggi :) jadi iri deh melihat tulisannya terus menulis yah mbak...........

05-09-2006
Dari : amt | amuhlis@gmail.com
Tulisan yang menarik, tapi mungkin lebih menarik lagi kalau ada 'peta' yang bisa memberikan gambaran lokasi2 yang penulis amati... :)



 :: CITIZEN REPORTER
Makassar di Panyingkul!: Sebuah Persembahan
(Kamis, 12-07-2007)
Ayo Bergabung di Panyingkul!
(Minggu, 29-04-2007)
Catatan Sederhana Para Citizen Reporter
(Selasa, 31-10-2006)
Tentang Citizen Reporter dan Rubrik di Panyingkul!
(Rabu, 11-10-2006)
Riuh Rendah di Panyingkul!
(Rabu, 16-08-2006)

Untitled Document
 :: DUNIA SEGIEMPAT KAREBOSI






 :: PILKADA




 :: ALBUM PUASA 2008




Untitled Document
 :: KONTAK TIM PANYINGKUL!

Email:

redaksi@panyingkul.com

Makassar:

Nilam Indahsari +62 81 241 229 089
M. Aan Mansyur +62 411-586459

Jakarta
Moch. Hasymi  +62 811 955 954



© Juni 2006 - Panyingkul.com All Rights Reserved
Desain Web : Nesia Andriana -- Supported by: Yuhardin