|
|
| . |
| ::
|
| Senin, 14-08-2006 | Karebosi Pagi, Karebosi Sore :: Irayani Queencyputri ::
| Alun-alun kota Makassar : Karebosi. Foto : Basrul Haq.
Citizen reporter Irayani Queencyputri, menghabiskan satu harian di Karebosi untuk melaporkan bagaimana suasana pagi dan sore di alun-alun kota Makassar tersebut. Banyak cerita menarik yang direkamnya dalam tulisan ini. (p!) | Berbekal pengalaman menyenangkan bersantai di alun-alun kota Malang yang sejuk dan apik beberapa waktu lalu, saya memutuskan menghabiskan suatu hari libur di Karebosi di awal April. Orang-orang merujuk Karebosi sebagai alun-alun kota Makassar. Lapangan ini adalah nol kilometer-nya Makassar. Para pakar tata kota menyebutnya sebagai daerah resapan air yang sangat penting. Sementara bagi penggemar olahraga, Karebosi adalah kata kunci, yang menjadi kawah penggodokan atlet berbagai cabang olahraga. Adapun bagi saya, Karebosi selama ini hanya sebuah nama, yang mengingatkan bentangan lapangan luas, yang dikepung bangunan yang terus tumbuh di keempat sisinya. Di hari libur itu, saya ingin menjadi bagian orang-orang di Karebosi, mungkin ikut bersorak bersama suporter PSM atau sekadar duduk menonton penjual obat.
Pagi itu Karebosi menggeliat sangat awal, di saat jalan masih lengang, di saat jejeran gedung perkantoran, toko, bank, sekolah dan Makassar Trade Center (MTC) masih senyap. Di tengah cuaca yang cerah, tampak orang-orang bermain basket, tenis, sepakbola, maupun hanya sekedar jogging mengelilingi lapangan.
Di sisi selatan banyak orang yang menonton tim Persatuan Sepakbola Makassar (PSM) sedang latihan. Sehari sebelumnya, PSM mengalahkan Persmin Minahasa sehingga sorak sorai dukungan dari pertandingan semalam yang berlangsung di Stadion Mattoanging, bergema lagi di Karebosi pagi ini. Kelompok Suporter Fanatik PSM Karebosi yang berdiri di tepi lapangan melontarkan seruan-seruan untuk menyemangati tim juku eja itu.
Kakek dan cucu turut menikmati suasana pagi Karebosi. Foto : Irayani Queencyputri.
Suasana sisi selatan lapangan Karebosi yang ditumbuhi pohon palem, yang masing-masingnya dengan jarak tanam kira-kira 50 meter per pohonnya. menghadirkan suasana yang cukup teduh dan rindang. Ramai sekali orang-orang berbagai usia yang joging di sisi selatan ini. Ada yang joging satu keluarga, berpasangan, atau bahkan sendiri. Bahkan pagi itu ada seorang kakek yang sambil menggendong cucu terlihat bersemangat berlari menyusuri lapangan.
Patung Ramang, ideal sebagai patokan tempat bertemu. Foto : Irayani Queencyputri.
Saya berjalan pelan menyusuri sisi selatan menuju arah utara yang merupakan gerbang utama Karebosi. Gerbang ini ditandai oleh patung Pa`raga dan patung Ramang, tokoh legendaris persepakbolaan Makassar. Di bawah patung Ramang terlihat segerombolan anak-anak yang nampaknya masih SMU. Semuanya duduk di atas sadel motor, seperti sedang menunggu. Mungkin, mereka berjanji berkumpul di Karebosi, sebelum berangkat ke suatu tempat lainnya. Lokasi Karebosi yang strategis memang pilihan tempat bertemu yang paling tepat.. Siapa yang tidak kenal Karebosi? Tentu mudah berjanji bertemu di sini.
Tidak jauh dari serombongan anak muda tadi, terdapat sebuah gerobak yang ramai dengan pengunjung. Ini sisi lain Karebosi di pagi hari: jajanan pagi. Dan pagi ini yang hadir adalah bubur kacang hijau (di gerobaknya tertulis "Kacang Ijo").
Dengan bermodal 1.500 rupiah per mangkuk, pengunjung sudah bisa menikmati bubur kacang hijau yang ditambahkan ketan hitam dan santan. Ramai orang yang menyantap sarapan kacang hijau. Ada yang memutuskan sarapan kacang hijau setelah berolahraga, tapi ada juga yang sengaja datang hanya untuk menikmati semangkuk bubur.
“Setiap pagi saya makan di sini, buburnya enak,” kata Amir (32), seorang pegawai PLN, yang kantornya terletak tak jauh dari lapangan. Sang penjual bubur sudah empat tahun berjualan di Lapangan Karebosi ini, setiap pagi sampai menjelang malam dia pasti mangkal di sini.
Selain penjual bubur tadi, terdapat sejumlah pedagang makanan dan minuman lainnya di sekitar gerbang utama ini. Mereka mengakui, dalam setahun terakhir, pembeli tidak lagi ramai karena sebagian dari sisi utara-selatan Karebosi telah ditutup dan pedagang kaki lima dilarang lagi beroperasi di sana. “Saya dengar-dengar di tempat ini mau dibangun rumah untuk pemain PSM...”, kata salah seorang penjual minuman dingin.
Etalase kegiatan dan prestasi Makassar Football School. Foto : Irayani Queencyputri.
Saya lalu kembali ke sisi selatan lapangan Karebosi. Di sudut lapangan pertigaan Jalan R.A. Kartini dan Jalan Kajaolaliddo, ada beberapa hal yang menarik perhatian. Terdapat dua papan etalase tempat foto-foto, dan satu rak etalase besar yang menyimpan banyak piala. Ternyata pojok itu digunakan sebagai pusat kegiatan Makassar Football School (MFS), yang murid-muridnya telah mengharumkan nama bangsa di sebuah pertandingan internasional. Bahkan salah satu dari pemainnya, Irvin Museng, diberitakan diajak untuk bergabung dengan Ajax Amsterdam.
Lelah berkeliling, saya memutuskan untuk membeli sebotol air mineral 600ml dan meneguknya sambil duduk di salah satu bangku dekat pojok merah tempat mangkal Kelompok Suporter Fanatik PSM Karebosi tadi. Kerumunan suporter telah bubar, PSM telah selesai berlatih. Di sebelah kanan saya ada seorang anak muda yang sedang membaca koran, dan di sebelah kiri saya ada sepasang insan yang lagi mesra-mesranya membaca sms d layar telepon genggam.
Apa yang bisa saya simpulkan sementara setelah menyusuri sisi selatan dan utara lapangan ini? Sambil menenggak air mineral, saya tiba pada kesimpulan: Karebosi lebih tepat disebut sebagai tempat olahraga. Harapan tentang alun-alun yang apik, ruang terbuka yang riuh rendah dengan orang-orang yang ingin bersantai, belum hadir setelah saya menghabiskan waktu kurang lebih dua jam di sini.
Saat mengamati delapan ekor angsa yang berkeliaran di tengah lapangan, tidak jauh dari tempat tim PSM tadi berlatih, saya tiba-tiba terusik oleh suara-suara yang saling sahut menyahut, yang terdengar jelas. Rupanya sepasang kekasih yang tadinya terlihat mesra sambil membaca sms di layar telepon genggam mereka itu, kini beradu argumen. Kisahnya tak jauh beda dari sinetron yang menghiasi layar kaca kita: perempuan yang merajuk minta dinikahi, sementara sang pria mengaku belum siap. Sang perempuan nekat, meminta bukti kesungguhan cinta dengan mengajak hidup bersama.
Begitu kisah dramatis ini berakhir yang ditandai dengan deruman motor yang membawa keduanya pergi, ternyata menyusul kisah dramatis lainnya: seorang bapak tiba datang di dekat saya dan mengajak “kencan”. Di tengah langkah bergegas untuk menyelamatkan diri dari keisengan sang bapak tadi, saya sepertinya tengah membaca salah satu halaman kisah percintaan warga kota yang tercatat di lembar buku harian bernama Karebosi. Jam di pergelangan tangan menunjukkan pukul 10.15 pagi dan saya telah menyaksikan catatan harian tentang fanatisme suporter PSM, semangat dan disiplin tim PSM yang meski baru saja menangguk kemenangan semalam lalu, kini harus kembali berlatih, daya juang pedagang kaki lima yang hadir sejak pagi-pagi sekali, dan rombongan orang-orang yang tampak berbahagia menikmati olahraga pagi, dan sepasang kekasih yang bertengkar di tepi lapangan. Sebuah pagi yang sederhana dan bersahaja.
Salah satu gerobak jajanan sore Karebosi. Foto : Irayani Queencyputri.
Berangkat dengan asumsi bahwa suasana alun-alun kota barangkali saja hadir di sore hari, kembali saya menjejakkan kaki di Lapangan Karebosi. Betul kata para pedagang kaki lima pagi tadi, bahwa di sore hari memang lebih ramai. Para penjual mulai memenuhi daerah pintu gerbang utama Karebosi.
Pedagang arloji yang setia dengan profesinya. Foto : Irayani Queencyputri.
Begitu tiba di sisi utara, perhatian saya tertuju pada seorang pria tua. Dari raut wajahnya dapat terlihat bahwa ia keturunan India. Sejak 1998 pria lanjut usia yang bernama Pak Ibrahim ini menjual arloji. Sebelumnya bahkan pernah berdagang di Manado. Ia mengambil tempat tepat di depan papan etalase “Gerakan Makassar Gemar Membaca” yang bila diperhatikan dengan seksama, artikel-artikel dalam papan itu sudah mulai menguning dimakan waktu dan tak pernah diperbaharui. Sudut-sudut lembaran artikel itu ada yang sudah terlepas dan lapuk.
Pertandingan catur, turut meramaikan Karebosi. Foto : Irayani Queencyputri.
Berjalan sedikit ke arah alun-alun, di belakang alun-alun terlihat 6 pasang meja beserta kursi. Inilah sudut bagi para penggemar catur. Sejak menjelang siang hingga menjelang malam, tempat ini dijadikan tempat berkumpulnya para pencinta olahraga otak ini. Di setiap meja terdapat dua papan catur, sehingga 12 pasang pemain bisa bermain bersamaan. Apakah mereka bermain catur sekadar iseng? Ternyata tidak, ungkap salah seorang pemain catur yang bernama Pak Bobo.
Permainan yang dilakukan dihitung menggunakan timer yang merupakan standar permainan catur profesional. Pak Bobo, yang cukup terkenal di kalangan pecatur di Makassar, menyebut tempat ini sebagai basecamp catur Karebosi. Dia juga menyebutkan beberapa tempat di Makassar ini yang merupakan tempat para pecinta catur berkumpul dan bermain. Salah satunya Kafe Ozone di lantai lima Makassar Trade Centre yang terletak di seberang lapangan Karebosi itu.
Pak Bobo yang mempunyai istri empat ini ternyata bukan orang biasa. Ia sudah pernah mengharumkan nama Makassar ke beberapa daerah di Indonesia untuk mengikuti pertandingan catur. “Di tempat ini, semua bisa datang. Siapa saja yang ingin main catur, silakan. Banyak yang datang ke sini sepulang dari kerja, mampir dulu main catur lalu pulang,” demikian penjelasannya.
Menatap ke arah lapangan, seperti pagi tadi, aktivitas olahraga tetap mendominasi. Terutama olahraga sepakbola. Dan yang paling menarik perhatian, tentu saja sejumlah pemain PSM yang kembali berlatih lagi di lapangan khusus mereka. Juga tampak anak-anak kecil berseragam warna merah. “Mereka murid-murid MFS yang lagi latihan,” celetuk salah satu pengunjung di lapangan tersebut.
Saya lalu memutuskan berpindah ke sisi barat lapangan. Di sana terlihat kesibukan yang tidak biasa. Ada empat tiang bambu yang terpancang di sana beserta kerumunan orang ditingkahi dengan ramainya suara-suara teriakan.
Ketika saya mendekati, ternyata ada permainan unik yang tengah berlangsung. Pertandingan ini memakai sepasang burung merpati. Burung merpati jantan dibawa sampai ke daerah pelabuhan, kemudian dilepaskan dengan harapan burung merpati jantan tersebut akan terbang untuk bertemu dengan betinanya, yang menunggu gelisah di Karebosi.
Empat tiang yang dipancang dijadikan sebagai batas, dan burung merpati yang datang harus datang dari arah atas, tanpa boleh mengenai sisi-sisi batas yang sudah dipancang itu. Burung merpati yang tercepat datang dan tepat masuknya adalah pemenang, dan terus dipertandingkan babak penyisihan berikutnya hingga menemukan pemenang utamanya. “Jagoan hari ini yaitu Daeng Kebo,” tutur salah satu penonton pertandingan burung balap tersebut sambil menunjuk ke arah sepasang burung merpati berwarna putih bersih.
Betul kata para pedagang kaki lima, di sore hari Karebosi lebih semarak. Selain orang-orang yang menggiring bola, ada pemain catur, dan peserta lomba burung balap. Dan saat kembali ke sisi utara lapangan, saya harus menambah catatan: penjual obat pun telah mulai beraksi. Sore itu, sang penjual obat berkoar-koar mempromosikan dagangannya yang dijamin bisa meningkatkan kejantanan pria. Dengan topik promosi seperti ini, tentu saja saya menjadi aneh sebagai penonton wanita satu-satunya di antara sejumlah pria yang menyaksikan dengan antusias.
Sore hari memang lebih semarak. Penjaja makanan pun makin ramai, termasuk penjual bubur kacang hijau yang telah mulai berjualan sejak pagi tadi, masih bertahan di sana.
Tak jauh dari tempat saya berdiri, terlihat penjual rujak Karebosi ramai dirubung pembeli. Kata orang, rujak Karebosi yang laris itu telah mampu membuat pemiliknya naik haji beberapa tahun yang lalu.
Penjual rujak di Karebosi yang sukses dengan dagannya. Foto : Irayani Queencyputri.
Sore sebentar lagi tuntas, dan saya menyaksikan orang-orang sedang berkemas-kemas pulang. Si tukang obat memasukkan barang dagangannya ke kardus besar, lalu dinaikkan ke atas kereta beroda. Dengan dibantu oleh dua orang anak-anak ia menyimpan aset dagangannya itu di dalam sebuah pos jaga yang berdiri melekat pada pembatas daerah yang tertutup --ini dihapus nesia), dekat dari letak gerobak penjual bubur kacang hijau yang menjual tadi pagi. Setelah memastikan barang dagangannya telah tersimpan dengan benar, penjual obat tadi pergi menghampiri sebuah warung dan bercanda dengan ibu penjaga warung. Dia bercerita tentang seorang pembeli yang membeli obatnya tapi terburu-buru hingga lupa dengan uang kembaliannya. “Takut ki ketahuan barangkali,” ibu penjaga warung itu menimpali.
Lapangan mulai sepi saat azan magrib berkumandang. Empat tiang bambu untuk pertandingan burung balap sudah diturunkan. Dekat pos jaga tempat penyimpanan barang dagangan penjual obat tadi terlihat seorang tukang becak yang sedang beristirahat di atas becaknya sambil bercanda ria dengan kedua anaknya yang masih balita.
Tak jauh dari situ berdiri sebuah papan bertuliskan “Jagalah Kebersihan dan Keindahan Lapangan Karebosi".
Sayangnya, hanya dua langkah dari situ terdapat tumpukan sampah yang kelihatannya sudah lama teronggok.
Setelah senja usai, saya bergegas meninggalkan lapangan yang menyimpan kisah orang-orang biasa itu, orang-orang yang mencari hidup, atau yang sekadar melepas lelah, yang menyalurkan hobi, atau yang bersungguh-sungguh berlatih mewujudkan obsesi sebagai atlet tangguh. (p!)
*) Citizen reporter Irayani Queencyputri, adalah sarjana Kedokteran Gigi Universitas Hasanuddin - Makassar, dapat dihubungi melalui email rara79@gmail.com
|
| | Jumlah
Komentar (28) |
|
| Komentar :
05-05-2010 Dari : Muhammad Syukur | hai_khur@yahoo.com " Makassar telah
hilang.." 03-01-2009 Dari : wahyu | wahyuJK@gmail.com laporan yang bagus,
bagus, bagus.. Tapi
itu duluuuu.
sekarang pemandangan
itu tidak akan kita
bisa liat lagi..
Karebosi-ku
nasibmu... 22-12-2008 Dari : Noeel | Saribattang_bontang@yahoo.co.id Kangenku sama
karebosi............
. 17-11-2008 Dari : saharullah | sahar_timikaq@yahoo.com wey makassar masih
jorok kah???
14-06-2008 Dari : KAREBOSI..FITNAH PALING KEJI TERHADAP IA | Nasionalisme tanpa
Menghakimi
(Nurmal Idrus )
Kamis (15/5) sore,
kita disuguhi sebuah
tontonan menarik nan
heroik ketika Pia
Zebadiah Cs, secara
dramatis
menyingkirkan Tim
Jerman dengan skor
3-1 di babak
Semifinal Piala
Uber, di Jakarta.
Target semifinal
yang dibebankan
kepada mereka
terlampaui dengan
maju ke babak final.
Betul-betul heroik.
Inilah nasionalisme
yang sesungguhnya.
Kata yang selalu
dibanggakan oleh
banyak orang tetapi
dengan tindakan yang
tak jelas,
dipertontonkan oleh
srikandi-srikandi
ini. Nasionalisme
yang nyata, membawa
keharuman bagi
negeri ini. Disaat
mereka berjuang
mati-matian membela
nama Indonesia, di
lain sisi banyak
dari kita yang tak
memahami arti
nasionalisme itu.
Malah, para
politikus itu lebih
banyak mengeritik
dan terkesan
menjelek-jelekkan
negeri ini dan
daerah mereka
sendiri. Dalam
konteks jelang
Pilwali Makassar,
nasionalisme itu
seperti sudah
terkotori dengan
banyak sekali
kampanye negatif
yang tujuannya untuk
saling menjatuhkan.
Tak ada lagi
kecintaan dan
kebanggaan pada
daerah kita ini.
Persoalan-persoalan
perkotaan yang
dipolitisir dan
dibuat dramatis
menjadi bagian dari
kampanye negatif.
Seakan-akan, tak ada
lagi kerja-kerja
bagus dari
pemerintah kota.
Semua yang dilakukan
pemerintah kota
seolah-olah salah
dan hanya
kemudaratan yang
terjadi. Kemiskinan
dipolitisir, dengan
mengapungkan isu
kelaparan sebagai
jualan kampanye.
Sungguh sebuah
cara-cara yang tak
fair dalam upaya
mencapai kemenangan.
Padahal, selama ini
kita hidup dan makan
di kota ini. Kita
tak bisa memungkiri
kita termanjakan
dengan kemajuan kota
ini. Semua bisa
didapat dengan
mudah, terutama
mereka yang punya
duit seperti para
penggiat kampanye
negatif itu.
Bertahun-tahun, kita
menikmati kemewahan
itu dan mengabaikan
banyak warga lain
yang tertindas.
Maka, sungguh sebuah
keironian ketika
kemudian ada di
antara mereka yang
tiba-tiba menjadi
pahlawan kesiangan,
untuk memberantas
kemiskinan.
Pertanyaaan
sekarang, mengapa
baru saat ini mereka
berteriak-teriak
untuk hal itu.
Padahal,
bertahun-tahun
kemiskinan itu
menjadi pemandangan
sehari-hari. Lalu,
mengapa baru
sekarang mereka mau
mengurusinya. Maka,
jangan pernah
disalahkan jika ada
yang menyatakan
bahwa semua itu
karena adanya maksud
tersembunyi. Karena
sebuah tujuan
singkat, meraih
kekuasaan.
Sesungguhnya,
cara-cara seperti
itu adalah cara-cara
yang tak diridhai
karena dilakukan
dengan tidak fair.
25-04-2008 Dari : Agoes | es_potenk@yahoo.com makassar.......my
city!!!!
karebosi.......my
humz!!!!
( hallah ap lagy ini
) 07-12-2007 Dari : evan | erioevan@gmail.com ck..ck...Bu Rara
betul2....
berkeliling Karebosi
untuk sebuah tulisan
yang menyenangkan
!...
that's a nice report
! 29-11-2007 Dari : bustam | bustam_cool@plasa.com Itu gambar kalo sa
bilang bagusmi,tapi
kasi tongi sike'de'
basa mangkasara....
biar kita orang
MAKASSAR yg jauh
dari makassar ttp
ingat sama
makassarta'
tercinta.....anu klo
bza ditambai sama
gambarna pantai
losari,pabbalu
pisang epek,n
pabbalu2
lainnya.salam juga
buat semua
saudara2ta' di
makassar,SI ANAK SI
PAMMANAKKANG.......m
ariki di' salm juga
buat anis di php
sama temangku di
ikip.....mariki' di'
bustam,temanggung,ja
wa tengah 14-11-2007 Dari : asgaf Bekasi | asgafasapa@yahoo.co.id yg merasa dirinya
bencong sory2 aja
jangan tersinggung
yah bukannya gw apa
gitu, bencong2 yg
ada di karebosi itu
di basmi aja dr pd
kotor2in kota
makasar,gw juga org
makasar tp tinggal
di jakarta merasa
prihatin 03-11-2007 Dari : phi@n marsose, Graha Raya | sfy_saleh@yahoo.co.id Ra, dipojok Karebosi
yg ada pertunjukan
tukang obat, ada
pohon beringin besar
(masih ada gak ya)
konon disitu ada
terowongan yang
tembus sampai ke
benteng Rotterdam
sebagai jalan
rahasia, mungkin
buat kabur kali.
Coba dong ditelisik.
Antara th 70 - 80an
Karebosi itu
tempatku main
sehari-hari karena
rumahku dekat
situ.Jadi dulu aku
ini Pakkammi'na
Karebosi hehehe 30-10-2007 Dari : saharullah | aminmuhammadamin@yahoo.com hai! muax aq kangen
banget mah kampung
ku melihat lapangan
karebosi aq tinggal
di antang raya
komp.panakukang mas
IIsalam u mua warga
kota makassar
08-09-2007 Dari : Muhammad Iqbal | iqbal_m70@yahoo.com Rara... kalau malam
hari masih banyak
bencongkah di
Lapangan Karebosi? 06-09-2007 Dari : deen | deen10february@yahoo.com betul2..serasa
seharian di karebosi
:).nice 24-08-2007 Dari : Lorong buntu | mauka tanya ces...!
masih adai ka itu
penjual pallu basa
di Karebosi pas di
panyingkul? kasika
infona Rara saya
tungguki itu
jawabanya.
23-08-2007 Dari : parapatang | bisatonji@internux.web.id Ass, mantapki tawwa
gambarna! tp ada yg
mo dikoreksi, poto
paraga bukan potona
Ramang Rara tp yang
lagi nendang tawwa.
Koreksiki di'. Krn
webna asli mks, ya
kshki sikedde bahasa
daerah Spy ada tong
karakterna. Pake bhs
indonesia tp
okkotzki atw tdk
karuan tata bhsnya
kan malu2 jaki jg
toh!:). Sa kasi'ki
saranna : liputki
bede' PSM Makassar,
biar mamo 2 barisji
infona yg penting
ada. Key!
Ewako!!!!!!!! 10-06-2007 Dari : halfian | halfian_syam@yahoo.com wah irayani ini rara
kan ? ha ha, baru
perhatikan baik-baik
padahal fotonya
sudah aku pinjem
posting di blog ku.
Makasih ces, terus
berkarya, tulisannya
bagus. 07-06-2007 Dari : aChiE | aChMaD_CiCi@yahoo.com jd kangen makassar
ni,bisa g minta
foto2 kota
makassar???? 24-04-2007 Dari : biSoT | b150t@plasa.com Wah, terus tokang
obatnya tau'ah...
"Hayyoo yang jauh
mendekat...yang
dekat jangan injak
garis " wkkkk
salam 20-04-2007 Dari : H@lim | info@amsracingparts.com Kalo bisa Karebosi
diulas juga dong
chordnigtlive-nya..m
ungkin masih ada
"...." disana ?
...maybe.H@lim-Tange
rang 14-03-2007 Dari : aldy | aldy.ygc@gmail.com sayang..ya tidak
sampe malam..padahal
pada malam hari
kehidupan di
karebosi tidak kalah
uniknya pada pagi
atau soe hari.... 25-01-2007 Dari : takbir i'L TzAr 09 | takbir09@yahoo.com mau ka koreksi
sedikit apa nda
salah tulis itu
untuk foto patungnya
Ramang???Perasaan
Ramang yang
disebelahnya lagi
dech bukan yg maen
"Raga" itu tapi lagi
nendang Bola...Kalo
memang benar,minta
tolong diperbaiki
supaya Indonesia tau
Ramang gitu,coz
selama ini kita yg
di Indonesia timur
sedikit di lupakan
ma org
disini(JKT+Jawa)....
ok Boss??Sa suka ini
website walau jauh
dari mks tapi serasa
di MKS ka.... 18-01-2007 Dari : dedhy | dedy_rcti@yahoo.com wah....wah...
fotonya T O P
banget/lain kali
kalau motret jangan
lupa Fotonya ALDO
BARETTO/tunggu aja
sore hari kalau dia
lagi
latihan....kalau
kaga hujan
seh....!!! EWAKO PSM 23-12-2006 Dari : aswin | karebosi menurut
saya adalah suatu
portal makassar masa
lalu dan masa
sekarang akan tetapi
keadaannya sekarang
sangat
memprihatinkan
karena adanya
kegiatan2 masyarakat
tetapi tidak
memperhatikan aspek
lingkungannya.slamat
berjuang 22-11-2006 Dari : nandar | asmunandar@gmail.com pasti ngambil poto
karebosinya dr MTC
kan...?
hehehehe....soalnya
sy jg pernah ambil
poto dr situ 22-09-2006 Dari : erwin saputra | erwinsaputraunm@yahoo.com Salam kenal
Saya Erwin dari
Komunitas Rumpun
Bambu Universitas
Negeri Makassar.
Tulisannya boleh
juga!!!
Bisa nda bagi2
pengalaman ke kami2
di UNM?
CP sy 081342301113
Flexi (0411)5230618 22-09-2006 Dari : eva | afazuva@yahoo.com Dari BALI ke "BaLi"
lagi, liburnya gak
sekedar libur tapi
menghasilkan bo'.
Tulisannya bagus
banget,
viasualisasinya kena
banget. Memang
Karebosi belum bisa
jadi alun2 t4
bersantai dan
melepas kejenuhan
coz bisa2 kena bola
PSM yang
nyasar...hi..hi..hi.
.
Miss u kak rara,
kapan balik ke
kandea? 15-09-2006 Dari : Auliah Putry | bungaditepianjalan@yahoo.co.id ah....mbak rara
memang punya
kreativitas yang
tinggi :)
jadi iri deh
melihat tulisannya
terus menulis yah
mbak........... 05-09-2006 Dari : amt | amuhlis@gmail.com Tulisan yang
menarik, tapi
mungkin lebih
menarik lagi kalau
ada 'peta' yang bisa
memberikan gambaran
lokasi2 yang penulis
amati... :) |
|
|
|
|
| ::
CITIZEN REPORTER |
 | (Kamis, 12-07-2007) |  | (Minggu, 29-04-2007) |  | (Selasa, 31-10-2006) |  | (Rabu, 11-10-2006) |  | (Rabu, 16-08-2006) | |
|
Untitled Document
| ::
DUNIA SEGIEMPAT KAREBOSI |
|
Untitled Document
| ::
KONTAK TIM PANYINGKUL! |
Email Redaksi :
redaksi@panyingkul.com
Tim:
yus@panyingkul.com
+62 813 226 80844
Moch. Hasymi
+62 811 955 954
|
|
|