Untitled Document
 


Untitled Document
.KITAKITA
:: Jika Anda di Panyingkul ::
 
 KABAR KITA
 
 BERANDAKITA
Kegilaan, Dari Cinta Mati di Pulau Rajuni Hingga Riwayat Kadang
:: Ivan Firdaus ::
Baba Guru, Mengenang Film Rhoma Irama di Klenteng Galesong
:: Kamaruddin Azis ::
Mengagumi Tenun Troso, Mengenang Tenun Sengkang
:: Suryadin Laoddang ::
Perempuan Besi di Gunung Perak (2-selesai)
:: M. Aan Mansyur ::
Perempuan Besi di Gunung Perak (1)
:: M. Aan Mansyur ::
 
 RISETKITA
Rasa Takut : Yang Dicitrakan, Yang Dipelihara
:: Aria W. Yudhistira ::
Risetkita: Pramoedya versus Sejarah Resmi
:: Nurhady Sirimorok ::
Hikayat Rumpon Nelayan Mandar
:: Muhammad Ridwan Alimuddin ::
Di Makassar Pernah Ada “Negeri Wajo”
:: Nurhady Sirimorok ::
Surat Itu Ditulis Upas kepada September
:: Nurhady Sirimorok ::
 
 BUKUKITA
 
 KATAKOTAKITA
Kenapa si Gondrong yang Maju?
:: Ivan Firdaus dan Mustamin al-Mandary ::
Karena ‘Rewa’ Badan Binasa
:: Sudirman Nasir ::
Yang Okkot, yang Salah Sambung
:: Nursamsu danTusiana Noor Alfisyahr ::
Kandala`ka`, Kusta Bila Dusta
:: Panyingkul ::
Ayo, Si(ng)kat Terussss..!
:: Panyingkul! ::

 
 TAHUKAHKITA
 

.
 ::
Minggu, 12-11-2006 
Wisata Sejarah Kota Makassar, Masih Menarikkah?
:: Meliana Bory ::


Fort Rotterdam yang menjadi primadona wisata sejarah Makassar
Foto: Meliana Bory.


Citizen reporter Meliana Bory mengunjungi sejumlah obyek wisata budaya dan sejarah di wilayah kota Makassar. Di tengah gencarnya budaya liburan ke mal dan pusat perbelanjaan, yang antara lain dipicu oleh derasnya budaya konsumtif yang disuarakan media massa, masih banyakkah warga yang berminat berakhir pekan di tempat wisata budaya dan sejarah? (p!)
 
Pola hidup konsumtif dan hedonis yang kini melanda sebagian masyarakat Makassar , membuat kunjungan lokasi bersejarah tak lagi menjadi pilihan yang dianggap mengasyikkan. Sebagian besar warga kelas menengah yang ditanya, ke mana menghabiskan akhir pekan, jawaban umumnya adalah: mal dan pusat hiburan. Padahal, di dalam wilayah kota Makassar sendiri, terdapat 18 obyek wisata sejarah dan budaya yang bisa menjadi alternatif kegiatan rekreasi keluarga.

Yang ironis, saat saya menanyakan ke sejumlah orang tentang obyek wisata budaya di kota ini, maka hanya Benteng Rotterdam yang menjadi jawaban populer.

Nah, melalui laporan sederhana ini saya ingin mengajak pembaca mempertimbangkan kembali kegiatan wisata sejarah dan budaya di kota sendiri. Bagi orang tua yang selalu bingung mencari tempat rekreasi keluarga, tidak ada salahnya melihat kembali potensi wisata sejarah dan budaya Makassar untuk menumbuhkan kesadaran pendidikan sejarah. Mengapa tidak sekali-sekali mengubah jadwal ke pusat belanja ke museum? Saya pernah mencoba melakukan wisata budaya dan sejarah selama satu hari, dank arena jarak dari obyek wisata tidak jauh, maka perjalanan saya mempelajari sejarah kota dalam sehari penuh bisa berlangsung mudah dan menyenangkan.

Pertama, saya menuju ke Benteng Somba Opu, yang berlokasi di Jalan Daeng Tata, di wilayah selatan kota. Bagi sebagian warga kota, benteng ini identik dengan pesta rakyat dan pameran. Artinya, hanya ramai dikunjungi bila ada kegiatan seperti itu. Padahal di dalamnya terdapat sejarah yang menarik disimak. Benteng yang berbentuk persegi empat ini memiliki luas 1.500 hektar dan dipagari dengan dinding tebal. Lokasinya yang luas membuatnya sering dijadikan tempat pelaksanaan pameran pembangunan. Di salah satu bagian benteng yang disebut sebagai Baluwara Agung ditempatkan sebuah meriam milik pejuang Indonesia yang disebut “Meriam Anak Makassar" dengan bobot 9.500 kg dan panjang 6 meter. Menurut sejarah, benteng yang dibangun pada abad ke-XV oleh Raja Gowa ke-X Tunipallangga(1548-1566) ini dibangun untuk membentengi kompleks Kerajaan Gowa. Pada pertengahan abad ke-17 benteng ini diratakan dengan tanah oleh VOC bersama sekutunya (24 Juni 1669) dalam Perang Makassar. Namun, pada akhir 1980-an, Benteng Somba Opu ditemukan kembali oleh sekelompok ilmuwan, karena ternyata, perang itu tak menghancurkan keseluruhan dari benteng, sehingga pada tahun 1990 puing-puing tembok benteng diekskavasi dan sebagian direkonstruksi yang kemudian dijadikan Open Air Museum. Kini, selain dijadikan sebagai salah satu tujuan wisata sejarah dan budaya (karena di dalamnya terdapat beberapa rumah adat dari Sulsel) juga terkadang dipakai sebagai tempat rekreasi dan olah raga lari di pagi dan sore hari.

Dari Benteng Somba Opu, saya menuju Rumah Jabatan Wali Kota Makassar, letaknya di Jalan Somba Opu. Mungkin tak banyak yang tahu bahwa Rumah Jabatan Walikota Makassar ini merupakan salah satu bangunan bersejarah peninggalan Belanda yang hingga saat ini masih tetap digunakan. Tapi tentu saja karena tidak terbuka untuk umum, meski didaftar sebagai aset sejarah, orang tak bisa bebas menikmati arsitektur kuno bangunan ini. Dan sayangnya, saya hanya dapat melihat bangunan ini dari luar pagar saja.

Tapi tak apa, karena tak jauh dari rumah jabatan ini, saya bisa dengan mudah menuju Benteng Fort Rotterdam. Letaknya di sudut antara Jalan Riburane dan Jalan Ujungpandang, yang sangat strategis karena dekat dari Pantai Losari, dan juga mudah dijangkau oleh angkutan umum (pete-pete).

Benteng yang dibangun oleh VOC pada tahun 1667 ini merupakan salah satu syarat perjanjian Bongaya dan dinamakan Fort Rotterdam dengan memperingati nama kota kelahiran sang pemenang Perang Makassar, Admiral Speelman. Setelah itu Belanda merombak total benteng ini pada tahun 1673, dan membangun benteng ini kembali dengan mengikuti model benteng pertahanan Eropa abad ke-17. Di dalamnya dibangun gudang niaga, senjata dan ruangan tentara, serta kantor-kantor administrasi militer Belanda. Kini, benteng yang dulunya dikelilingi sebuah parit lebar ini, dikelola oleh Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Makassar dan menjadi salah satu obyek wisata sejarah dan budaya (karena terdapat sebuah perpustakaan yang menyimpan dokumen lengkap tentang sejarah, bahasa dan budaya Sulsel), serta Museum La Galigo.

Dari Benteng Rotterdam, saya pun menuju Monumen Mandala, letaknya di jalur utama , di Jalan Jenderal Sudirman. Monumen ini merupakan salah satu bangunan ciri khas Kota Makassar, dan didirikan untuk memperingati Pembebasan Irian Barat (Papua) dari pendudukan Belanda. Sayang, tempat ini tak dibuka untuk umum, namun halamannya yang luas kerap dijadikan tempat pelaksanaan festival musik. Beberapa waktu lalu, bagian dalam monumen ini terbuka untuk umum. Di lantai dasar monumen ini digambarkan dalam bentuk relief kehidupan masyarakat Sulsel, begitu pun di lantai dua digambarkan pula perjuangan bangsa Indonesia dalam membebaskan Irian Barat. Lalu dengan menggunakan lift kami naik ke lantai paling atas, di ruangan ini terdapat banyak foto-foto mengenai perjuangan pembebasan Irian barat.

Setelah dari Monumen Mandala, saya menuju Katedral Immanuel, letaknya di Jalan Kajaolalido. Mungkin banyak yang tidak tahu, bahwa Gereja Katedral yang selama ini kita kenal juga merupakan salah satu bangunan bersejarah peninggalan Belanda yang masih difungsikan hingga sekarang. Gereja Immanuel hingga saat ini digunakan sebagai tempat ibadah umat Katolik, dan juga sebagai tempat Keuskupan Agung Makassar.


Al Markaz Al Islami juga mendapat rekomendasi sebagai obyek wisata budaya.
Foto: Istimewa.


Terakhir saya mengunjungi Mesjid Al-Markaz Al-Islami, letaknya di Jalan. Mesjid Raya. Tempat ibadah dan pusat pengembangan Agama Islam yang terbesar dan termegah di Asia Tenggara ini terdiri atas tiga lantai yang terbuat dari granit. Lantai dasar dibuat untuk perkantoran dan ruang diskusi, lantai dua untuk ruang shalat dengan kapasitas 10.000 jemaah. Sedangkan lantai tiga dibuat dengan bentuk huruf U digunakan untuk ruang shalat wanita. Seluruh dinding mesjid dihiasi dengan ornamen dan kaligrafi. Masjid ini memiliki lima menara yang salah satu diantaranya paling tinggi mencapai 87 meter. Meski bangunan ini relatif baru, namun bagi penggemar arsitektur kota, mesjid ini bisa menjadi pilihan menarik untuk menikmati desain bangunan moderen yang menampilkan keindahan seni ukir kaligrafi dan ornamen khas keislaman lainnya.

Kelima tempat yang saya kunjungi tersebut hanya sebagian kecil saja, karena masih banyak lagi tempat bersejarah dan budaya di kota ini. Setidaknya terdapat 18 lokasi bersejarah yang bisa dikunjungi, antara lain Monumen Wolter Monginsidi, letaknya di Jalan Mesjid Raya. Monumen Wolter Monginsidi didirikan untuk mengenang jasa-jasa perjuangan Wolter Monginsidi dalam mengusir penjajah di Sulsel.

Monumen Korban 40.000 Jiwa, letaknya di Jl. Korban 40 Ribu Jiwa. Monumen ini merupakan salah satu obyek wisata peninggalan sejarah yang dibangun untuk mengenang peristiwa pembantaian massal para pejuang dan tokoh-tokoh masyarakat Sulsel oleh Westerling.

Museum La Galigo, letaknya di Kompleks Benteng Rotterdam . Museum ini menyimpan berbagai benda-benda bersejarah, manuskrip, patung, keramik, pakaian tradisional dan berbagai benda budaya masa lampau dari berbagai etnis di Sulsel. La Galigo sendiri adalah nama Raja Luwu ke-IV, yang juga putra Sawerigading Opunnaware dari hasil perkawinan dengan We Cudai Daeng Risompa dari Kerajaan Cina-Wajo.

Museum Kota, letaknya di Jalan Balaikota. Museum ini dulunya merupakan Kantor Balai Kota Makassar, peninggalan kolonial Belanda. Museum Kota menyimpan dan menggelar banyak foto-foto tempo doeloe Kota makassar, manuskrip, lontara, peta dan benda budaya etnis Bugis Makassar. Selain itu, di dalam museum ini juga terdapat ruangan brankas tempat penyimpanan uang dan dokumen penting pada masa kolonial Belanda, dan mempunyai lorong bawah tanah yang tembus ke pusat kota dan daerah pantai.

Gedung Kesenian Sulawesi Selatan, letaknya di Jalan Riburane No. 15. Gedung ini merupakan salah satu gedung peninggalan pemerintah kolonial Belanda yang dibangun pada tahun 1896 di sebuah tanah lapang di Jalan Prins Hendrik (sekarang Jalan Riburane), dengan gaya bangunan berciri Eropa di abad XIX (Gaya Renaissance). Gedung kesenian ini mulai direnovasi tahun 1999 dan saat ini digunakan sebagai tempat pementasan, kegiatan kesenian dan kebudayaan Sulsel.

Masjid Kuno Arab, letaknya di Jalan Lombok , Kec. Wajo. Masjid ini dibangun 1907, dan hingga saat ini bangunan tua tersebut masih berfungsi sebagai tempat ibadah umat Islam di sekitarnya.

Makam Syekh Yusuf, letaknya di Jalan Syekh Yusuf. Syech Yusuf ada;ah tokoh penyebar agama Islam yang lahir di Gowa, dengan nama Muhammad Yusuf. Nama ini diberikan oleh Sultan Alauddin, Raja Gowa.

Kompleks Makam Raja-Raja Tallo, letaknya di Jalan Sultan Abdullah. Kompleks Makam ini dibangun sekitar abad ke-18, dapat dibuktikan pada ragam hias bangunannya. Bentuk bangunan makam kuno ini mirip konstruksi candi. Pada sebagian dindingnya terdapat kalimat tauhid dalam seni kaligrafi Islam. Di pemakaman ini dikebumikan Raja Tallo ke VII, I Malingkaang Daeng Manyonri yang merupakan Raja Tallo I yang memeluk Agama Islam dengan julukan “Macan Keboka ri Tallo” (Macan Putih dari Tallo), dan dikenal sebagai penyebar Agama Islam ke wilayah Timur seperti Buton, Ternate dan Palu.

Kelenteng Ibu Agung Bahari, letaknya di Jalan Sulawesi . Bangunan ini adalah salah satu dari empat kelenteng yang didirikan di masa awal kedatangan perantau Cina ke Makassar . Kelenteng Ibu Agung Bahari dibangun 1773 sebagai persembahan pada Dewi Ma Co, yang dianggap sebagai pemberi berkah dan keselamatan bagi mereka yang menyeberangi lautan.

Selain itu terdapat juga Monumen Tentara Pelajar, letaknya di Jl. Slamet Riyadi, Monumen Emmy Saelan, di Jalan Monumen Emmy Saelan dan Makam Pangeran Diponegoro, letaknya di Jalan Pangeran Diponegoro No. 55, Kecamatan Wajo, yang posisinya terhimpit jejeran ruko.

Setelah seharian menikmati wisata sejarah dan budaya, saya menyayangkan minimnya layanan paket wisata dan tidak adanya panduan tur yang atraktif. Padahal bisa dibayangkan, bila obyek wisata sejarah ini dikembangkan menjadi sebuah tur dalam kota untuk warga kota sendiri, bukankah bisa menarik minat lebih banyak orang untuk mempelajari kembali sejarah kotanya? Mengapa obyek wisata sejarah dan budaya selama ini seolah hanya ditujukan untuk para pelancong? Mengapa warga kota tidak diajak menengok kembali sejarah kota tempat tinggalnya dengan cara yang menarik? Mengapa tidak ada promosi yang gencar untuk warga kota, seperti iklan mal dan pusat hiburan yang selalu berlomba-lomba menarik konsumen ? (p!)

*Citizen reporter Meliana Bory dapat dihubungi melalui email mhellonk_ftuh@yahoo.com

| Beri Komentar| Jumlah Komentar (12) |

Komentar :

13-01-2009
Dari : frans bararuallo | frans.bararuallo@atmajaya.ac.id
Sy pernah tinggal di Makassar (1969 - 1985). Namun kalo keadaan sekarang dibanding waktu itu, ada sisi positif dan sisi negatifnya. Yang mencolok adalah sisi negatif. Misalnya Airport Hasanuddin yang baru, sama sekali tidak ada ciri daerahnya, kecuali namanya. Selain itu, situs-situs budaya tidak dipelihara (Balla' Lompoa Gowa, Benteng Utung Pandang, Kuburan Diponegoro, dan bahkan Lapangan Karebosi terancam hilang). Padahal kesemua ini merupakan indikator utama keunggulan daerah (heritage-nya). Tolong Bp. Gubernur siapkan perhatian dan dana rehabilitasi obyek wisata seperti ini, jika boleh diusul demikian. Perkembangan kota yang menjurus ke Utara Timur Laut dan Timur berpotensi merusak ekosistem daerah padahal penataan kota lama kurang mendapat diperhatikan. Misalny6a daerah Jl. Andalan dan Jl. Baddang sampai ke Kampus lama UNHAS, termasuk Jl. Sunu sekitarnya. Daerah ini cocoknya dijadikan kawasan Bisnis, tetapi malah dipacu ke Panakkukang. Biaya tranportasi pasti tinggi dan memicu kemacetan kota, apalagi demo mahasiswa. Seharusnya kota Makassar dan Sungguhminahasa (?) ada jalur penghubung lewat belakang (Tello atau Daya) sehingga lantas di kota tidak macet. Itu usulan kedua. Usulan ketiga adalah, kampus sedapat mungkin tidak disentralisasi lokasinya tetapi menyebar sehingga konflik mahasiswa atau emosi mahasiswa dapat terkendali oleh jarak kampus, apalagi kampus di tengah kota atau berada di jalur utama pergerakan ekonomi kota. Itulah, antara lain sejumlah hal yang kiranya boleh mendapat perhatian dari unit tata kota dan gubernur untuk kepentingan "daerahta" karaeng. Terima kasih, semoga kejaan kota Makassar bisa kembali seperti pada jaman Walikota Daeng Patompo. Banjr hampir tidak ada, konflik horizontal minim, dan emosi mahasiswa terkendali, walaupun pada waktu itu masa NKK. Salam, frs

09-07-2008
Dari : widi neeh...... | widiredhyz_05@yahoo.com
k ince...... ajarin ngejurnal dunkzzzz,,,salut...s alut.. ma k ince,,,klu mw ngajarin z trktir coto dh....^^

09-07-2008
Dari : widi neeh...... | widiredhyz_05@yahoo.com
k ince...... ajarin ngejurnal dunkzzzz,,,salut...s alut.. ma k ince,,,klu mw ngajarin z trktir coto dh....^^

09-07-2008
Dari : redhyz | widiredhyz_05@yahoo.com
setuju bwanget ma Daeng Eja..... knp gk dilengkapi ma cerpen2 yg mmbhas ttg budaya makassar kita tercinta ini secara harre gene kebanyakan cerpen cerpen yg berkisah ttg percintaan, y....bukannya dk bagus2 ceritanya tpi setidaknya kita bisa memproklamirkan kebudayaan kita sebagai objek yg gk cm jd wacana yg kdg org males bacanya tapi juga bisa jd sesuatu yg menarik abeeez untuk djdikan bacaan gitu lohhhh!!!! tul gk?????!!!

22-05-2008
Dari : Daeng Eja ri Tallo | frans.bararuallo
ada baiknya dilengkapi dengan cerita pendek seperti arti kata makassar, ujung pandang, dan gelar-gelar kebangsawanan di sul-sel. Kesemua ini tidak punya wujud nyata tetapi banyak yang membutuhkannya. "Ima -asih".

18-12-2007
Dari : Toni | antonius73@yahoo.com
Koreksi: nggak ada Gereja Katedral Immanuel. Yang ada Gereja Katedral di Jl. Kajaolalido, dan Gereja Immanuel di Jl. Balaikota. Gereja Immanuel adalah tempat ibadat umat Protestan, Katedral tempat ibadat umat Katolik. Keuskupan Agung Makassar tepat bersisian dengan Katedral di Jl. Thamrin. Info tentang Gereja Immanuel ada di Makassar Terkini: http://www.makassart erkini.com/artikel-m akassar-terkini/lamp au.php Trims.

29-05-2007
Dari : sea ghost | seaghost@yahoo.com
kalau bisa ada gambar yang lain lebih artistik krn itu salah wahana pengetahuan buat generasi sekarang

29-05-2007
Dari : sea ghost | http//www.tjperak.co.id
alngkah baiknya jika ditambah lagi detail gmbr yang lain krn sdh lama sy pngn lht gmbr2 mkssr tmpo dulu lagian sdh 15 thn sy tdk plng

15-11-2006
Dari : reena | met_rheena@yahoo.com
baru kodong sa tahu ternyata banyak ton ji tempat wisata ta di' Sa kira tong itu benteng ji. eh...tau2nya ada paeng yang dekat dengan rumahku. Tengkyu Mel... sa tau mi dimana bisa sa pigi2 jalan2, meski hanya mau liat2 ji itu monumen, hehehe...salut!!!

14-11-2006
Dari : akbar | sarungbernoda@yahoo.com
oo melyana, bantu sai kodong itu pemkot promosi kota. itu dinas pariwisata kota, apakah mereka bikin selama ini? tidak ada brosur liflet, buku panduan. pada sibukji kapang itu pns-pns dinas pariwisata pergi kursus bahasa inggris?

14-11-2006
Dari : tommy | tompart56@yahoo.com
mungkin perlu ditambahkan lapangan Karebosi depan gereja Katedral. tapi bagus juga sebab kami mendapatkan informasi yang lengkap untuk berwisata dalam kota kalau nanti pulang kampung.

13-11-2006
Dari : rusle' | muhruslee@yahoo.com
bagus liputannya, hanya kurang foto2nya... kadang2 kalo sa pulang ke mks, pengennya berkunjung ke museum atau bangunan kuna...tp sayang sekali informasi nya kadang ndak lengkap...



 :: CITIZEN REPORTER
Makassar di Panyingkul!: Sebuah Persembahan
(Kamis, 12-07-2007)
Ayo Bergabung di Panyingkul!
(Minggu, 29-04-2007)
Catatan Sederhana Para Citizen Reporter
(Selasa, 31-10-2006)
Tentang Citizen Reporter dan Rubrik di Panyingkul!
(Rabu, 11-10-2006)
Riuh Rendah di Panyingkul!
(Rabu, 16-08-2006)

Untitled Document
 :: DUNIA SEGIEMPAT KAREBOSI






 :: PILKADA




 :: ALBUM PUASA 2008




Untitled Document
 :: KONTAK TIM PANYINGKUL!

Email Redaksi :

redaksi@panyingkul.com

Tim:
yus@panyingkul.com
+62 813 226 80844

Moch. Hasymi
+62 811 955 954


© Juni 2006 - Panyingkul.com All Rights Reserved
Desain Web : Nesia Andriana -- Supported by: Yuhardin