|
|
| . |
| ::
|
| Minggu, 12-11-2006 | Wisata Sejarah Kota Makassar, Masih Menarikkah? :: Meliana Bory ::
| Fort Rotterdam yang menjadi primadona wisata sejarah Makassar Foto: Meliana Bory.
Citizen reporter Meliana Bory mengunjungi sejumlah obyek wisata budaya dan sejarah di wilayah kota Makassar. Di tengah gencarnya budaya liburan ke mal dan pusat perbelanjaan, yang antara lain dipicu oleh derasnya budaya konsumtif yang disuarakan media massa, masih banyakkah warga yang berminat berakhir pekan di tempat wisata budaya dan sejarah? (p!) | Pola hidup konsumtif dan hedonis yang kini melanda sebagian masyarakat Makassar , membuat kunjungan lokasi bersejarah tak lagi menjadi pilihan yang dianggap mengasyikkan. Sebagian besar warga kelas menengah yang ditanya, ke mana menghabiskan akhir pekan, jawaban umumnya adalah: mal dan pusat hiburan. Padahal, di dalam wilayah kota Makassar sendiri, terdapat 18 obyek wisata sejarah dan budaya yang bisa menjadi alternatif kegiatan rekreasi keluarga.
Yang ironis, saat saya menanyakan ke sejumlah orang tentang obyek wisata budaya di kota ini, maka hanya Benteng Rotterdam yang menjadi jawaban populer.
Nah, melalui laporan sederhana ini saya ingin mengajak pembaca mempertimbangkan kembali kegiatan wisata sejarah dan budaya di kota sendiri. Bagi orang tua yang selalu bingung mencari tempat rekreasi keluarga, tidak ada salahnya melihat kembali potensi wisata sejarah dan budaya Makassar untuk menumbuhkan kesadaran pendidikan sejarah. Mengapa tidak sekali-sekali mengubah jadwal ke pusat belanja ke museum? Saya pernah mencoba melakukan wisata budaya dan sejarah selama satu hari, dank arena jarak dari obyek wisata tidak jauh, maka perjalanan saya mempelajari sejarah kota dalam sehari penuh bisa berlangsung mudah dan menyenangkan.
Pertama, saya menuju ke Benteng Somba Opu, yang berlokasi di Jalan Daeng Tata, di wilayah selatan kota. Bagi sebagian warga kota, benteng ini identik dengan pesta rakyat dan pameran. Artinya, hanya ramai dikunjungi bila ada kegiatan seperti itu. Padahal di dalamnya terdapat sejarah yang menarik disimak. Benteng yang berbentuk persegi empat ini memiliki luas 1.500 hektar dan dipagari dengan dinding tebal. Lokasinya yang luas membuatnya sering dijadikan tempat pelaksanaan pameran pembangunan. Di salah satu bagian benteng yang disebut sebagai Baluwara Agung ditempatkan sebuah meriam milik pejuang Indonesia yang disebut “Meriam Anak Makassar" dengan bobot 9.500 kg dan panjang 6 meter. Menurut sejarah, benteng yang dibangun pada abad ke-XV oleh Raja Gowa ke-X Tunipallangga(1548-1566) ini dibangun untuk membentengi kompleks Kerajaan Gowa. Pada pertengahan abad ke-17 benteng ini diratakan dengan tanah oleh VOC bersama sekutunya (24 Juni 1669) dalam Perang Makassar. Namun, pada akhir 1980-an, Benteng Somba Opu ditemukan kembali oleh sekelompok ilmuwan, karena ternyata, perang itu tak menghancurkan keseluruhan dari benteng, sehingga pada tahun 1990 puing-puing tembok benteng diekskavasi dan sebagian direkonstruksi yang kemudian dijadikan Open Air Museum. Kini, selain dijadikan sebagai salah satu tujuan wisata sejarah dan budaya (karena di dalamnya terdapat beberapa rumah adat dari Sulsel) juga terkadang dipakai sebagai tempat rekreasi dan olah raga lari di pagi dan sore hari.
Dari Benteng Somba Opu, saya menuju Rumah Jabatan Wali Kota Makassar, letaknya di Jalan Somba Opu. Mungkin tak banyak yang tahu bahwa Rumah Jabatan Walikota Makassar ini merupakan salah satu bangunan bersejarah peninggalan Belanda yang hingga saat ini masih tetap digunakan. Tapi tentu saja karena tidak terbuka untuk umum, meski didaftar sebagai aset sejarah, orang tak bisa bebas menikmati arsitektur kuno bangunan ini. Dan sayangnya, saya hanya dapat melihat bangunan ini dari luar pagar saja.
Tapi tak apa, karena tak jauh dari rumah jabatan ini, saya bisa dengan mudah menuju Benteng Fort Rotterdam. Letaknya di sudut antara Jalan Riburane dan Jalan Ujungpandang, yang sangat strategis karena dekat dari Pantai Losari, dan juga mudah dijangkau oleh angkutan umum (pete-pete).
Benteng yang dibangun oleh VOC pada tahun 1667 ini merupakan salah satu syarat perjanjian Bongaya dan dinamakan Fort Rotterdam dengan memperingati nama kota kelahiran sang pemenang Perang Makassar, Admiral Speelman. Setelah itu Belanda merombak total benteng ini pada tahun 1673, dan membangun benteng ini kembali dengan mengikuti model benteng pertahanan Eropa abad ke-17. Di dalamnya dibangun gudang niaga, senjata dan ruangan tentara, serta kantor-kantor administrasi militer Belanda. Kini, benteng yang dulunya dikelilingi sebuah parit lebar ini, dikelola oleh Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Makassar dan menjadi salah satu obyek wisata sejarah dan budaya (karena terdapat sebuah perpustakaan yang menyimpan dokumen lengkap tentang sejarah, bahasa dan budaya Sulsel), serta Museum La Galigo.
Dari Benteng Rotterdam, saya pun menuju Monumen Mandala, letaknya di jalur utama , di Jalan Jenderal Sudirman. Monumen ini merupakan salah satu bangunan ciri khas Kota Makassar, dan didirikan untuk memperingati Pembebasan Irian Barat (Papua) dari pendudukan Belanda. Sayang, tempat ini tak dibuka untuk umum, namun halamannya yang luas kerap dijadikan tempat pelaksanaan festival musik. Beberapa waktu lalu, bagian dalam monumen ini terbuka untuk umum. Di lantai dasar monumen ini digambarkan dalam bentuk relief kehidupan masyarakat Sulsel, begitu pun di lantai dua digambarkan pula perjuangan bangsa Indonesia dalam membebaskan Irian Barat. Lalu dengan menggunakan lift kami naik ke lantai paling atas, di ruangan ini terdapat banyak foto-foto mengenai perjuangan pembebasan Irian barat.
Setelah dari Monumen Mandala, saya menuju Katedral Immanuel, letaknya di Jalan Kajaolalido. Mungkin banyak yang tidak tahu, bahwa Gereja Katedral yang selama ini kita kenal juga merupakan salah satu bangunan bersejarah peninggalan Belanda yang masih difungsikan hingga sekarang. Gereja Immanuel hingga saat ini digunakan sebagai tempat ibadah umat Katolik, dan juga sebagai tempat Keuskupan Agung Makassar.
Al Markaz Al Islami juga mendapat rekomendasi sebagai obyek wisata budaya. Foto: Istimewa.
Terakhir saya mengunjungi Mesjid Al-Markaz Al-Islami, letaknya di Jalan. Mesjid Raya. Tempat ibadah dan pusat pengembangan Agama Islam yang terbesar dan termegah di Asia Tenggara ini terdiri atas tiga lantai yang terbuat dari granit. Lantai dasar dibuat untuk perkantoran dan ruang diskusi, lantai dua untuk ruang shalat dengan kapasitas 10.000 jemaah. Sedangkan lantai tiga dibuat dengan bentuk huruf U digunakan untuk ruang shalat wanita. Seluruh dinding mesjid dihiasi dengan ornamen dan kaligrafi. Masjid ini memiliki lima menara yang salah satu diantaranya paling tinggi mencapai 87 meter. Meski bangunan ini relatif baru, namun bagi penggemar arsitektur kota, mesjid ini bisa menjadi pilihan menarik untuk menikmati desain bangunan moderen yang menampilkan keindahan seni ukir kaligrafi dan ornamen khas keislaman lainnya.
Kelima tempat yang saya kunjungi tersebut hanya sebagian kecil saja, karena masih banyak lagi tempat bersejarah dan budaya di kota ini. Setidaknya terdapat 18 lokasi bersejarah yang bisa dikunjungi, antara lain Monumen Wolter Monginsidi, letaknya di Jalan Mesjid Raya. Monumen Wolter Monginsidi didirikan untuk mengenang jasa-jasa perjuangan Wolter Monginsidi dalam mengusir penjajah di Sulsel.
Monumen Korban 40.000 Jiwa, letaknya di Jl. Korban 40 Ribu Jiwa. Monumen ini merupakan salah satu obyek wisata peninggalan sejarah yang dibangun untuk mengenang peristiwa pembantaian massal para pejuang dan tokoh-tokoh masyarakat Sulsel oleh Westerling.
Museum La Galigo, letaknya di Kompleks Benteng Rotterdam . Museum ini menyimpan berbagai benda-benda bersejarah, manuskrip, patung, keramik, pakaian tradisional dan berbagai benda budaya masa lampau dari berbagai etnis di Sulsel. La Galigo sendiri adalah nama Raja Luwu ke-IV, yang juga putra Sawerigading Opunnaware dari hasil perkawinan dengan We Cudai Daeng Risompa dari Kerajaan Cina-Wajo.
Museum Kota, letaknya di Jalan Balaikota. Museum ini dulunya merupakan Kantor Balai Kota Makassar, peninggalan kolonial Belanda. Museum Kota menyimpan dan menggelar banyak foto-foto tempo doeloe Kota makassar, manuskrip, lontara, peta dan benda budaya etnis Bugis Makassar. Selain itu, di dalam museum ini juga terdapat ruangan brankas tempat penyimpanan uang dan dokumen penting pada masa kolonial Belanda, dan mempunyai lorong bawah tanah yang tembus ke pusat kota dan daerah pantai.
Gedung Kesenian Sulawesi Selatan, letaknya di Jalan Riburane No. 15. Gedung ini merupakan salah satu gedung peninggalan pemerintah kolonial Belanda yang dibangun pada tahun 1896 di sebuah tanah lapang di Jalan Prins Hendrik (sekarang Jalan Riburane), dengan gaya bangunan berciri Eropa di abad XIX (Gaya Renaissance). Gedung kesenian ini mulai direnovasi tahun 1999 dan saat ini digunakan sebagai tempat pementasan, kegiatan kesenian dan kebudayaan Sulsel.
Masjid Kuno Arab, letaknya di Jalan Lombok , Kec. Wajo. Masjid ini dibangun 1907, dan hingga saat ini bangunan tua tersebut masih berfungsi sebagai tempat ibadah umat Islam di sekitarnya.
Makam Syekh Yusuf, letaknya di Jalan Syekh Yusuf. Syech Yusuf ada;ah tokoh penyebar agama Islam yang lahir di Gowa, dengan nama Muhammad Yusuf. Nama ini diberikan oleh Sultan Alauddin, Raja Gowa.
Kompleks Makam Raja-Raja Tallo, letaknya di Jalan Sultan Abdullah. Kompleks Makam ini dibangun sekitar abad ke-18, dapat dibuktikan pada ragam hias bangunannya. Bentuk bangunan makam kuno ini mirip konstruksi candi. Pada sebagian dindingnya terdapat kalimat tauhid dalam seni kaligrafi Islam. Di pemakaman ini dikebumikan Raja Tallo ke VII, I Malingkaang Daeng Manyonri yang merupakan Raja Tallo I yang memeluk Agama Islam dengan julukan “Macan Keboka ri Tallo” (Macan Putih dari Tallo), dan dikenal sebagai penyebar Agama Islam ke wilayah Timur seperti Buton, Ternate dan Palu.
Kelenteng Ibu Agung Bahari, letaknya di Jalan Sulawesi . Bangunan ini adalah salah satu dari empat kelenteng yang didirikan di masa awal kedatangan perantau Cina ke Makassar . Kelenteng Ibu Agung Bahari dibangun 1773 sebagai persembahan pada Dewi Ma Co, yang dianggap sebagai pemberi berkah dan keselamatan bagi mereka yang menyeberangi lautan.
Selain itu terdapat juga Monumen Tentara Pelajar, letaknya di Jl. Slamet Riyadi, Monumen Emmy Saelan, di Jalan Monumen Emmy Saelan dan Makam Pangeran Diponegoro, letaknya di Jalan Pangeran Diponegoro No. 55, Kecamatan Wajo, yang posisinya terhimpit jejeran ruko.
Setelah seharian menikmati wisata sejarah dan budaya, saya menyayangkan minimnya layanan paket wisata dan tidak adanya panduan tur yang atraktif. Padahal bisa dibayangkan, bila obyek wisata sejarah ini dikembangkan menjadi sebuah tur dalam kota untuk warga kota sendiri, bukankah bisa menarik minat lebih banyak orang untuk mempelajari kembali sejarah kotanya? Mengapa obyek wisata sejarah dan budaya selama ini seolah hanya ditujukan untuk para pelancong? Mengapa warga kota tidak diajak menengok kembali sejarah kota tempat tinggalnya dengan cara yang menarik? Mengapa tidak ada promosi yang gencar untuk warga kota, seperti iklan mal dan pusat hiburan yang selalu berlomba-lomba menarik konsumen ? (p!)
*Citizen reporter Meliana Bory dapat dihubungi melalui email mhellonk_ftuh@yahoo.com
|
| | Jumlah
Komentar (12) |
|
| Komentar :
13-01-2009 Dari : frans bararuallo | frans.bararuallo@atmajaya.ac.id Sy pernah tinggal di
Makassar (1969 -
1985). Namun kalo
keadaan sekarang
dibanding waktu itu,
ada sisi positif dan
sisi negatifnya.
Yang mencolok adalah
sisi negatif.
Misalnya Airport
Hasanuddin yang
baru, sama sekali
tidak ada ciri
daerahnya, kecuali
namanya. Selain itu,
situs-situs budaya
tidak dipelihara
(Balla' Lompoa Gowa,
Benteng Utung
Pandang, Kuburan
Diponegoro, dan
bahkan Lapangan
Karebosi terancam
hilang). Padahal
kesemua ini
merupakan indikator
utama keunggulan
daerah
(heritage-nya).
Tolong Bp. Gubernur
siapkan perhatian
dan dana
rehabilitasi obyek
wisata seperti ini,
jika boleh diusul
demikian.
Perkembangan kota
yang menjurus ke
Utara Timur Laut dan
Timur berpotensi
merusak ekosistem
daerah padahal
penataan kota lama
kurang mendapat
diperhatikan.
Misalny6a daerah Jl.
Andalan dan Jl.
Baddang sampai ke
Kampus lama UNHAS,
termasuk Jl. Sunu
sekitarnya. Daerah
ini cocoknya
dijadikan kawasan
Bisnis, tetapi malah
dipacu ke
Panakkukang. Biaya
tranportasi pasti
tinggi dan memicu
kemacetan kota,
apalagi demo
mahasiswa.
Seharusnya kota
Makassar dan
Sungguhminahasa (?)
ada jalur penghubung
lewat belakang
(Tello atau Daya)
sehingga lantas di
kota tidak macet.
Itu usulan kedua.
Usulan ketiga
adalah, kampus
sedapat mungkin
tidak disentralisasi
lokasinya tetapi
menyebar sehingga
konflik mahasiswa
atau emosi mahasiswa
dapat terkendali
oleh jarak kampus,
apalagi kampus di
tengah kota atau
berada di jalur
utama pergerakan
ekonomi kota.
Itulah, antara lain
sejumlah hal yang
kiranya boleh
mendapat perhatian
dari unit tata kota
dan gubernur untuk
kepentingan
"daerahta" karaeng.
Terima kasih, semoga
kejaan kota Makassar
bisa kembali seperti
pada jaman Walikota
Daeng Patompo. Banjr
hampir tidak ada,
konflik horizontal
minim, dan emosi
mahasiswa
terkendali, walaupun
pada waktu itu masa
NKK.
Salam,
frs 09-07-2008 Dari : widi neeh...... | widiredhyz_05@yahoo.com k ince...... ajarin
ngejurnal
dunkzzzz,,,salut...s
alut.. ma k
ince,,,klu mw
ngajarin z trktir
coto dh....^^ 09-07-2008 Dari : widi neeh...... | widiredhyz_05@yahoo.com k ince...... ajarin
ngejurnal
dunkzzzz,,,salut...s
alut.. ma k
ince,,,klu mw
ngajarin z trktir
coto dh....^^ 09-07-2008 Dari : redhyz | widiredhyz_05@yahoo.com setuju bwanget ma
Daeng Eja..... knp
gk dilengkapi ma
cerpen2 yg mmbhas
ttg budaya makassar
kita tercinta ini
secara harre gene
kebanyakan cerpen
cerpen yg berkisah
ttg percintaan,
y....bukannya dk
bagus2 ceritanya tpi
setidaknya kita bisa
memproklamirkan
kebudayaan kita
sebagai objek yg gk
cm jd wacana yg kdg
org males bacanya
tapi juga bisa jd
sesuatu yg menarik
abeeez untuk djdikan
bacaan gitu
lohhhh!!!! tul
gk?????!!! 22-05-2008 Dari : Daeng Eja ri Tallo | frans.bararuallo ada baiknya
dilengkapi dengan
cerita pendek
seperti arti kata
makassar, ujung
pandang, dan
gelar-gelar
kebangsawanan di
sul-sel. Kesemua ini
tidak punya wujud
nyata tetapi banyak
yang membutuhkannya.
"Ima -asih". 18-12-2007 Dari : Toni | antonius73@yahoo.com Koreksi: nggak ada
Gereja Katedral
Immanuel. Yang ada
Gereja Katedral di
Jl. Kajaolalido, dan
Gereja Immanuel di
Jl. Balaikota.
Gereja Immanuel
adalah tempat ibadat
umat Protestan,
Katedral tempat
ibadat umat Katolik.
Keuskupan Agung
Makassar tepat
bersisian dengan
Katedral di Jl.
Thamrin. Info
tentang Gereja
Immanuel ada di
Makassar Terkini:
http://www.makassart
erkini.com/artikel-m
akassar-terkini/lamp
au.php
Trims. 29-05-2007 Dari : sea ghost | seaghost@yahoo.com kalau bisa ada
gambar yang lain
lebih artistik krn
itu salah wahana
pengetahuan buat
generasi sekarang 29-05-2007 Dari : sea ghost | http//www.tjperak.co.id alngkah baiknya jika
ditambah lagi detail
gmbr yang lain krn
sdh lama sy pngn
lht gmbr2 mkssr tmpo
dulu lagian sdh 15
thn sy tdk plng 15-11-2006 Dari : reena | met_rheena@yahoo.com baru kodong sa tahu
ternyata banyak ton
ji tempat wisata ta
di' Sa kira tong itu
benteng ji.
eh...tau2nya ada
paeng yang dekat
dengan rumahku.
Tengkyu Mel... sa
tau mi dimana bisa
sa pigi2 jalan2,
meski hanya mau
liat2 ji itu
monumen,
hehehe...salut!!! 14-11-2006 Dari : akbar | sarungbernoda@yahoo.com oo melyana, bantu
sai kodong itu
pemkot promosi kota.
itu dinas pariwisata
kota, apakah mereka
bikin selama ini?
tidak ada brosur
liflet, buku
panduan. pada
sibukji kapang itu
pns-pns dinas
pariwisata pergi
kursus bahasa
inggris? 14-11-2006 Dari : tommy | tompart56@yahoo.com mungkin perlu
ditambahkan lapangan
Karebosi depan
gereja Katedral.
tapi bagus juga
sebab kami
mendapatkan
informasi yang
lengkap untuk
berwisata dalam kota
kalau nanti pulang
kampung. 13-11-2006 Dari : rusle' | muhruslee@yahoo.com bagus liputannya,
hanya kurang
foto2nya...
kadang2 kalo sa
pulang ke mks,
pengennya berkunjung
ke museum atau
bangunan kuna...tp
sayang sekali
informasi nya kadang
ndak lengkap... |
|
|
|
|
| ::
CITIZEN REPORTER |
 | (Kamis, 12-07-2007) |  | (Minggu, 29-04-2007) |  | (Selasa, 31-10-2006) |  | (Rabu, 11-10-2006) |  | (Rabu, 16-08-2006) | |
|
Untitled Document
| ::
DUNIA SEGIEMPAT KAREBOSI |
|
Untitled Document
| ::
KONTAK TIM PANYINGKUL! |
Email Redaksi :
redaksi@panyingkul.com
Tim:
yus@panyingkul.com
+62 813 226 80844
Moch. Hasymi
+62 811 955 954
|
|
|