Untitled Document
 


Untitled Document
.KITAKITA
:: Jika Anda di Panyingkul ::
 
 KABAR KITA
 
 BERANDAKITA
Kegilaan, Dari Cinta Mati di Pulau Rajuni Hingga Riwayat Kadang
:: Ivan Firdaus ::
Baba Guru, Mengenang Film Rhoma Irama di Klenteng Galesong
:: Kamaruddin Azis ::
Mengagumi Tenun Troso, Mengenang Tenun Sengkang
:: Suryadin Laoddang ::
Perempuan Besi di Gunung Perak (2-selesai)
:: M. Aan Mansyur ::
Perempuan Besi di Gunung Perak (1)
:: M. Aan Mansyur ::
 
 RISETKITA
Rasa Takut : Yang Dicitrakan, Yang Dipelihara
:: Aria W. Yudhistira ::
Risetkita: Pramoedya versus Sejarah Resmi
:: Nurhady Sirimorok ::
Hikayat Rumpon Nelayan Mandar
:: Muhammad Ridwan Alimuddin ::
Di Makassar Pernah Ada “Negeri Wajo”
:: Nurhady Sirimorok ::
Surat Itu Ditulis Upas kepada September
:: Nurhady Sirimorok ::
 
 BUKUKITA
 
 KATAKOTAKITA
Kenapa si Gondrong yang Maju?
:: Ivan Firdaus dan Mustamin al-Mandary ::
Karena ‘Rewa’ Badan Binasa
:: Sudirman Nasir ::
Yang Okkot, yang Salah Sambung
:: Nursamsu danTusiana Noor Alfisyahr ::
Kandala`ka`, Kusta Bila Dusta
:: Panyingkul ::
Ayo, Si(ng)kat Terussss..!
:: Panyingkul! ::

 
 TAHUKAHKITA
 

.
 ::
Jumat, 01-12-2006 
Lebaran di Rig: Koki Sebagai Imam dan Khatib
:: Amril Taufik Gobel ::


Shalat id di lepas pantai
Foto: Heru Kuswanto.


Pengalaman berlebaran jauh dari keluarga adalah hal yang lazim dirasakan sebagian orang. Tapi bagaimana dengan pengalaman merayakan lebaran di lepas pantai, di atas rig yang terisolasi dari kehidupan luar? Heru Kuswanto, insinyur yang bekerja pada salah satu perusahaan terkait bidang perminyakan, menuturkan pengalamannya, yang kemudian dituliskan oleh citizen reporter Amril Taufiq Gobel. (p!)
 
Gerimis mengguyur ketika kami baru saja akan bersiap-siap melaksanakan shalat Idul Fitri Hari Selasa pagi, 24 Oktober 2006, di atas helipad Nanhai Rig-2 untuk proyek Drilling Genting Oil Natuna, Pte,Ltd yang berada di perairan Natuna Barat Laut (kira-kira 58 jam perjalanan laut dari Batam). Untung saja, gerimis segera reda, namun deru angin yang menerpa helipad rig tak urung membuat rasa dingin yang menggigilkan tubuh. Meskipun demikian, semangat para pekerja di rig itu tidak kendor. Walau jauh dari keluarga, gema takbir, tahlil dan tahmid berkumandang syahdu menikam langit yang perlahan-lahan kian cerah. Matahari muncul malu-malu di balik awan. Wajah-wajah peserta shalat di rig sangat ceria menyambut hari kemenangan di tengah laut yang ombaknya tak letih berdebur di kaki rig.

Saya sendiri pada saat itu tidak mengenakan pakaian yang lazimnya digunakan untuk sholat seperti baju koko atau kopiah, namun memakai pakaian kerja terusan warna merah karena kebetulan usai shalat Idul Fitri, harus mengoperasikan barang yang disewa oleh Genting Oil (Anderdrift). Saya bertindak sebagai teknisi alat tersebut. Beberapa rekan insinyur lain juga mengenakan pakaian serupa karena segera setelah shalat mereka pun akan kembali terjun bekerja mengebor bumi yang saat ini memasuki Sumur ketiga.

Pak Mulyadi yang sehari-harinya bertugas sebagai petugas jasa boga alias kepala koki di Rig Nan-Hai 2 bertindak sebagai khatib sekaligus imam. Beliau mengenakan pakaian putih dan kopiah putih. Ada dua puluh orang peserta sholat id yang dimulai pukul 06.30 pagi. Pak Mulyadi melaksanakan tugasnya dengan baik sebagai imam. Para peserta rig menunaikan ibadah dengan khusyuk ditingkah suara Pak Mulyadi yang dengan lantang melantunkan ayat-ayat suci Al Qur’an tanpa pengeras suara disela-sela deru angin dan mesin.

Pak Mulyadi juga menyampaikan khutbahnya dengan mantap. Materi khutbah yang diperolehnya dari internet malam sebelumnya, berisikan pesan mengenai perlunya kita sebagai manusia senantiasa bersyukur pada Sang Khalik, Allah SWT. Wujud syukur hendaknya diimplementasikan dalam setiap gerak langkah umatnya terutama ketika berinteraksi dengan sesama manusia.

Usai sholat id, kami semua saling bersalam-salaman dan berfoto bersama di dekat anjungan helipad. Wakil dari dari Genting Oil, Mr.Lester Robertson, sudah menginstruksikan juru masak untuk menyiapkan hidangan istimewa buat kru rig yang merayakan hari raya itu. Yang paling istimewa tentu saja adalah hidangan ikan yang kami pancing di malam takbiran, selain hidangan-hidangan hari raya yang lazim seperti opor ayam atau sambal goreng hati. Hasil pancingan itu telah berubah menjadi ikan bakar, ikan goreng bahkan sup ikan. Sungguh sebuah pengalaman berlebaran yang sangat berkesan di atas rig. (p!)

*Citizen reporter Amril Taufik Gobel dapat dihubungi melalui email amriltgobel@gmail.com

| Beri Komentar| Jumlah Komentar (2) |

Komentar :

26-04-2009
Dari : miko | kodoknarsis@yahoo.co.id
waw demi pekrjaan ,,om apa ja sih syarat kerja di rig ???

04-12-2006
Dari : Ntar Lagian | ntrarlagi@mustangs.com
Ruar biasa ! Allahu Akbar.. cari terus minyaknya biar bensin murah di Indonesia.



 :: CITIZEN REPORTER
Makassar di Panyingkul!: Sebuah Persembahan
(Kamis, 12-07-2007)
Ayo Bergabung di Panyingkul!
(Minggu, 29-04-2007)
Catatan Sederhana Para Citizen Reporter
(Selasa, 31-10-2006)
Tentang Citizen Reporter dan Rubrik di Panyingkul!
(Rabu, 11-10-2006)
Riuh Rendah di Panyingkul!
(Rabu, 16-08-2006)

Untitled Document
 :: DUNIA SEGIEMPAT KAREBOSI






 :: PILKADA




 :: ALBUM PUASA 2008




Untitled Document
 :: KONTAK TIM PANYINGKUL!

Email Redaksi :

redaksi@panyingkul.com

Tim:
yus@panyingkul.com
+62 813 226 80844

Moch. Hasymi
+62 811 955 954


© Juni 2006 - Panyingkul.com All Rights Reserved
Desain Web : Nesia Andriana -- Supported by: Yuhardin