|
|
| . |
| ::
|
| Kamis, 04-01-2007 | Kabar Perantau: Berburu 'Cakar' di Birmingham :: Rusni Fitri ::
| Kawasan Harbourne, di Kota Birmingham, Inggris, terkenal
dengan jejeran
toko yang menjual barang-barang bekas. Foto: Abdullah Sanusi.
Musim dingin sudah tiba lagi di Birmingham, salah satu kota di Inggris. Sepanjang hari kabut menghiasi kota dan suhu hanya bergerak antara 4 hingga minus 2 derajat. Sangat dingin untuk ukuran citizen reporter Rusni Fitri yang di Makassar terbiasa dengan suhu yang menyengat. Inilah pengalamannya mencari baju musim dingin di toko ‘cakar’ (cap karung) di kota itu. (p!) | Tujuan utama saya adalah kawasan Harbourne. Menurut teman, Harbourne adalah tempat yang pas mencari pakaian dan kebutuhan rumah tangga lainnya yang berharga murah. Ada juga charity shop (toko derma) sebagai alternatif. Tentu saja yang diburu adalah barang bekas pakai. Saya jadi ingat ketika di Makassar beberapa kali menyambangi toko yang menjual ‘cakar’. Pakaian bekas jadi idola saat menghadapi harga yang mahal di mal. Atau sebagai alternatif untuk mendapatkan pakaian bermerek dengan harga ‘membumi’.
Harbourne adalah kawasan belanja yang ramai, selain di pusat kota. Ramai deretan toko di sisi kiri dan kanan jalan, ada pula pasar tradisional yang menjual kebutuhan sehari-hari. Toko besar seperti Mark & Spencer bersanding dengan toko derma yang jumlahnya tak sedikit. Khusus toko derma, mereka menawarkan barang yang tidak jauh berbeda baik jenis maupun model dengan toko biasa. Begitu pula dengan harganya. Barang-barang yang dijual adalah barang bekas namun masih layak pakai. Bisa dikatakan hampir tiap hari toko-toko ini ‘buka baru’ (sebuah istilah yang menarik bagi pemburu ‘cakar’ di Makassar).
Toko derma memang banyak dan mudah ditemukan. Di antaranya kelompok Harborne Parish Lands Charity, Cancer Research, PDSA (kelompok pencinta binatang) dan Islamic Relief. Ada juga Oxfam, LSM yang namanya tidak asing di Indonesia. Oxfam adalah organisasi nirlaba yang banyak membantu rehabilitasi di Aceh pascatsunami dan juga negara-negara di Afrika. Di Inggris, Oxfam adalah pelopor charity shop dan memiliki cabang di mana-mana.
Pakaian bekas dengan kualitas dan model yang tak diragukan. Foto: Abdullah Sanusi.
Walaupun dalam kondisi second tapi jangan takut karena kualitas dan model barang-barangnya tidak diragukan. Pemilik toko tetap menyeleksi barang yang layak dijual. Jadi tidak perlu takut dengan sobekan ataupun kancing yang hilang. Soal higienitasnya pun demikian. Mereka memiliki standar baku dan diawasi ketat oleh asosiasi charity shop Inggeris dalam menerima dan menjual barang bekas, khususnya pakaian.
Saya sempat berpikir bahwa pembelinya kebanyakan mahasiswa atau kaum imigran yang ingin berhemat. Namun ternyata masyarakat Inggeris umumnya sudah terbiasa belanja di toko derma. Sekalian berderma mungkin. Sebab menyumbangkan dan membeli barang bekas berarti ikut menyumbang, karena uangnya digunakan untuk kegiatan-kegiatan sosial. Menariknya, pihak toko derma rutin memberikan laporan pertanggungjawaban yang lengkap tentang penerimaan dan penggunaan dana yang mereka kelola.
Soal minat berderma ini tentu saja tak bisa dilepaskan dengan hasrat mendapatkan barang bagus dengan harga yang reasonable. Sebagai perbandingan, saya berhasil mendapatkan jaket musim dingin kualitas standar yang pas dengan harga £3. Sehari sebelumnya, saya lihat di city centre jaket serupa dan baru, harganya sekitar £25 – £30. Belum lagi kalau membandingkan harga buku bekas dengan harga di toko buku. Terkadang dijumpai buku yang masih best seller di toko buku, sementara di toko derma dilego dengan harga tak sampai setengahnya.
Seorang pembeli pulang dengan barang sekantung. Foto: Abdullah Sanusi.
Berjalan di kawasan Harbourne membuat saya teringat Makassar. Di Makassar sendiri, kawasan yang khas menjual barang-barang ‘cakar’ bisa ditemui di beberapa tempat. Misalnya di kawasan niaga Daya, di bekas toko Diamond (Jalan Andalas) dan di Toddopuli. Bedanya, para penjualnya bukanlah dari kelompok organisasi derma, tapi betul-betul kaum pedagang. (p!)
*Citizen reporter Rusni Fitri dapat dihubungi melalui email rusnifitri@yahoo.com
|
| | Jumlah
Komentar (7) |
|
| Komentar :
09-01-2007 Dari : ahmad | ak_syam@yahoo.com ah..kukira saya saja
yang suka menyisir
distro yang menjual
barang cakar.
ternyata di inggris
sana ada juga. yah
da papalah...
btw, yang dikirmi
saya bukan cakar ji
kan kemarin? soalnya
saya sudah
petantang-petenteng
kesana-kemari, kalo
itu barang asli dari
inggris:)
lu pada mesti bae2
ya.. 06-01-2007 Dari : daeng ammang | daeng.ammang@gmail.com bagusan mana cakar
birmingham dengan
cakar 'pasar-cidu'?
di pasar-cidu
gratis,...
dibungkuskan bae2,
baru diantarkan ke
rumah lagi.... kalau
di Birmingham????
salam dari premanna
pasara-cidu.. [] 05-01-2007 Dari : rita | rita_ups@yahoo.com wah2,masih berburu
cakar? kirimin
dulue,kapan dapet
ponakan? 04-01-2007 Dari : dandi | nurhadys@gmail.com kodong, cari'kan
dulue jaket musim
dingin. Soalnya
pilihan di den haag
kurang beragam dan
lebih mahal. Tapi
bagaimana kirimnya
di'. Simpan mi dulu,
nanti saya datang
ambil, punna upa'.
anyway, hidup
cakar.. 04-01-2007 Dari : afdal_dr | hero_bone@yahoo.de Di Germany tempat
seperti ini juga
banyak. Setiap
Bundesland punya
sendiri2 tapi pada
saat2 tertentu saja.
Namanya Flohmarkt..
harganya memang
sangat miring, tapi
harus bisa nawar
kalo mau dapat yang
bagus. Salam dari
Leipzig 04-01-2007 Dari : acunk | sundalbolonk@yahoo.com kau dii...sudah d
negara maju masih
cari cakar... bawaan
dari batangase kali
yeee....haa..haaa
04-01-2007 Dari : aan | aanmansyur@gmail.com tak percaya buku
bisa semurah itu,
soalnya sudah lama
dijanji dikirimkan
buku sampe sekarang
belum dapat...hehehe |
|
|
|
|
| ::
CITIZEN REPORTER |
 | (Kamis, 12-07-2007) |  | (Minggu, 29-04-2007) |  | (Selasa, 31-10-2006) |  | (Rabu, 11-10-2006) |  | (Rabu, 16-08-2006) | |
|
Untitled Document
| ::
DUNIA SEGIEMPAT KAREBOSI |
|
Untitled Document
| ::
KONTAK TIM PANYINGKUL! |
Email:
redaksi@panyingkul.com
Makassar:
Nilam Indahsari +62 81 241 229 089
M. Aan Mansyur +62 411-586459
Jakarta
Moch. Hasymi +62 811 955 954
|
|
|