Untitled Document
 


Untitled Document
.KITAKITA
:: Jika Anda di Panyingkul ::
 
 KABAR KITA
 
 BERANDAKITA
Kegilaan, Dari Cinta Mati di Pulau Rajuni Hingga Riwayat Kadang
:: Ivan Firdaus ::
Baba Guru, Mengenang Film Rhoma Irama di Klenteng Galesong
:: Kamaruddin Azis ::
Mengagumi Tenun Troso, Mengenang Tenun Sengkang
:: Suryadin Laoddang ::
Perempuan Besi di Gunung Perak (2-selesai)
:: M. Aan Mansyur ::
Perempuan Besi di Gunung Perak (1)
:: M. Aan Mansyur ::
 
 RISETKITA
Rasa Takut : Yang Dicitrakan, Yang Dipelihara
:: Aria W. Yudhistira ::
Risetkita: Pramoedya versus Sejarah Resmi
:: Nurhady Sirimorok ::
Hikayat Rumpon Nelayan Mandar
:: Muhammad Ridwan Alimuddin ::
Di Makassar Pernah Ada “Negeri Wajo”
:: Nurhady Sirimorok ::
Surat Itu Ditulis Upas kepada September
:: Nurhady Sirimorok ::
 
 BUKUKITA
 
 KATAKOTAKITA
Kenapa si Gondrong yang Maju?
:: Ivan Firdaus dan Mustamin al-Mandary ::
Karena ‘Rewa’ Badan Binasa
:: Sudirman Nasir ::
Yang Okkot, yang Salah Sambung
:: Nursamsu danTusiana Noor Alfisyahr ::
Kandala`ka`, Kusta Bila Dusta
:: Panyingkul ::
Ayo, Si(ng)kat Terussss..!
:: Panyingkul! ::

 
 TAHUKAHKITA
 

.
 ::
Kamis, 04-01-2007 
Kabar Perantau:
Berburu 'Cakar' di Birmingham
:: Rusni Fitri ::


Kawasan Harbourne, di Kota Birmingham, Inggris, terkenal dengan jejeran
toko yang menjual barang-barang bekas.
Foto: Abdullah Sanusi.


Musim dingin sudah tiba lagi di Birmingham, salah satu kota di Inggris. Sepanjang hari kabut menghiasi kota dan suhu hanya bergerak antara 4 hingga minus 2 derajat. Sangat dingin untuk ukuran citizen reporter Rusni Fitri yang di Makassar terbiasa dengan suhu yang menyengat. Inilah pengalamannya mencari baju musim dingin di toko ‘cakar’ (cap karung) di kota itu. (p!)
 
Tujuan utama saya adalah kawasan Harbourne. Menurut teman, Harbourne adalah tempat yang pas mencari pakaian dan kebutuhan rumah tangga lainnya yang berharga murah. Ada juga charity shop (toko derma) sebagai alternatif. Tentu saja yang diburu adalah barang bekas pakai. Saya jadi ingat ketika di Makassar beberapa kali menyambangi toko yang menjual ‘cakar’. Pakaian bekas jadi idola saat menghadapi harga yang mahal di mal. Atau sebagai alternatif untuk mendapatkan pakaian bermerek dengan harga ‘membumi’.

Harbourne adalah kawasan belanja yang ramai, selain di pusat kota. Ramai deretan toko di sisi kiri dan kanan jalan, ada pula pasar tradisional yang menjual kebutuhan sehari-hari. Toko besar seperti Mark & Spencer bersanding dengan toko derma yang jumlahnya tak sedikit. Khusus toko derma, mereka menawarkan barang yang tidak jauh berbeda baik jenis maupun model dengan toko biasa. Begitu pula dengan harganya. Barang-barang yang dijual adalah barang bekas namun masih layak pakai. Bisa dikatakan hampir tiap hari toko-toko ini ‘buka baru’ (sebuah istilah yang menarik bagi pemburu ‘cakar’ di Makassar).

Toko derma memang banyak dan mudah ditemukan. Di antaranya kelompok Harborne Parish Lands Charity, Cancer Research, PDSA (kelompok pencinta binatang) dan Islamic Relief. Ada juga Oxfam, LSM yang namanya tidak asing di Indonesia. Oxfam adalah organisasi nirlaba yang banyak membantu rehabilitasi di Aceh pascatsunami dan juga negara-negara di Afrika. Di Inggris, Oxfam adalah pelopor charity shop dan memiliki cabang di mana-mana.


Pakaian bekas dengan kualitas dan model yang tak diragukan.
Foto: Abdullah Sanusi.


Walaupun dalam kondisi second tapi jangan takut karena kualitas dan model barang-barangnya tidak diragukan. Pemilik toko tetap menyeleksi barang yang layak dijual. Jadi tidak perlu takut dengan sobekan ataupun kancing yang hilang. Soal higienitasnya pun demikian. Mereka memiliki standar baku dan diawasi ketat oleh asosiasi charity shop Inggeris dalam menerima dan menjual barang bekas, khususnya pakaian.

Saya sempat berpikir bahwa pembelinya kebanyakan mahasiswa atau kaum imigran yang ingin berhemat. Namun ternyata masyarakat Inggeris umumnya sudah terbiasa belanja di toko derma. Sekalian berderma mungkin. Sebab menyumbangkan dan membeli barang bekas berarti ikut menyumbang, karena uangnya digunakan untuk kegiatan-kegiatan sosial. Menariknya, pihak toko derma rutin memberikan laporan pertanggungjawaban yang lengkap tentang penerimaan dan penggunaan dana yang mereka kelola.

Soal minat berderma ini tentu saja tak bisa dilepaskan dengan hasrat mendapatkan barang bagus dengan harga yang reasonable. Sebagai perbandingan, saya berhasil mendapatkan jaket musim dingin kualitas standar yang pas dengan harga £3. Sehari sebelumnya, saya lihat di city centre jaket serupa dan baru, harganya sekitar £25 – £30. Belum lagi kalau membandingkan harga buku bekas dengan harga di toko buku. Terkadang dijumpai buku yang masih best seller di toko buku, sementara di toko derma dilego dengan harga tak sampai setengahnya.


Seorang pembeli pulang dengan barang sekantung.
Foto: Abdullah Sanusi.


Berjalan di kawasan Harbourne membuat saya teringat Makassar. Di Makassar sendiri, kawasan yang khas menjual barang-barang ‘cakar’ bisa ditemui di beberapa tempat. Misalnya di kawasan niaga Daya, di bekas toko Diamond (Jalan Andalas) dan di Toddopuli. Bedanya, para penjualnya bukanlah dari kelompok organisasi derma, tapi betul-betul kaum pedagang. (p!)

*Citizen reporter Rusni Fitri dapat dihubungi melalui email rusnifitri@yahoo.com

| Beri Komentar| Jumlah Komentar (7) |

Komentar :

09-01-2007
Dari : ahmad | ak_syam@yahoo.com
ah..kukira saya saja yang suka menyisir distro yang menjual barang cakar. ternyata di inggris sana ada juga. yah da papalah... btw, yang dikirmi saya bukan cakar ji kan kemarin? soalnya saya sudah petantang-petenteng kesana-kemari, kalo itu barang asli dari inggris:) lu pada mesti bae2 ya..

06-01-2007
Dari : daeng ammang | daeng.ammang@gmail.com
bagusan mana cakar birmingham dengan cakar 'pasar-cidu'? di pasar-cidu gratis,... dibungkuskan bae2, baru diantarkan ke rumah lagi.... kalau di Birmingham???? salam dari premanna pasara-cidu.. []

05-01-2007
Dari : rita | rita_ups@yahoo.com
wah2,masih berburu cakar? kirimin dulue,kapan dapet ponakan?

04-01-2007
Dari : dandi | nurhadys@gmail.com
kodong, cari'kan dulue jaket musim dingin. Soalnya pilihan di den haag kurang beragam dan lebih mahal. Tapi bagaimana kirimnya di'. Simpan mi dulu, nanti saya datang ambil, punna upa'. anyway, hidup cakar..

04-01-2007
Dari : afdal_dr | hero_bone@yahoo.de
Di Germany tempat seperti ini juga banyak. Setiap Bundesland punya sendiri2 tapi pada saat2 tertentu saja. Namanya Flohmarkt.. harganya memang sangat miring, tapi harus bisa nawar kalo mau dapat yang bagus. Salam dari Leipzig

04-01-2007
Dari : acunk | sundalbolonk@yahoo.com
kau dii...sudah d negara maju masih cari cakar... bawaan dari batangase kali yeee....haa..haaa

04-01-2007
Dari : aan | aanmansyur@gmail.com
tak percaya buku bisa semurah itu, soalnya sudah lama dijanji dikirimkan buku sampe sekarang belum dapat...hehehe



 :: CITIZEN REPORTER
Makassar di Panyingkul!: Sebuah Persembahan
(Kamis, 12-07-2007)
Ayo Bergabung di Panyingkul!
(Minggu, 29-04-2007)
Catatan Sederhana Para Citizen Reporter
(Selasa, 31-10-2006)
Tentang Citizen Reporter dan Rubrik di Panyingkul!
(Rabu, 11-10-2006)
Riuh Rendah di Panyingkul!
(Rabu, 16-08-2006)

Untitled Document
 :: DUNIA SEGIEMPAT KAREBOSI






 :: PILKADA




 :: ALBUM PUASA 2008




Untitled Document
 :: KONTAK TIM PANYINGKUL!

Email:

redaksi@panyingkul.com

Makassar:

Nilam Indahsari +62 81 241 229 089
M. Aan Mansyur +62 411-586459

Jakarta
Moch. Hasymi  +62 811 955 954



© Juni 2006 - Panyingkul.com All Rights Reserved
Desain Web : Nesia Andriana -- Supported by: Yuhardin