|
|
| . |
| ::
|
| Senin, 22-01-2007 | Orang Bugis Pandai Menyembunyikan Maksud :: M Aan Mansyur ::
| Aksara Lontara.
Puisi Bugis yang terdiri atas beragam jenis, merupakan salah satu kekayaan sastra lokal yang unik, meski kini kian tak dikenali. Salah satunya adalah elong maliung bettuanna, atau sajak-sajak yang menyimpan makna tersembunyi. Citizen reporter M Aan Mansyur melakukan riset atas sejumlah jenis puisi ini, dan mengajak kita menelusuri makna-makna tersembunyi di balik sejumlah elong. (p!)
| Selain La Galigo, epos-mitos Bugis yang bisa jadi adalah karya sastra terpanjang di dunia, mungkin tak banyak lagi karya sastra Bugis yang kita ketahui. Padahal, menurut Roger Tol dalam sebuah artikelnya, selain jumlahnya yang diperkirakan sampai 2.500.000 karya, kualitas karya sastra Bugis sangat menarik untuk terus diperbincangkan.
Salah satu jenis karya sastra Bugis adalah elong. Meskipun secara harfiah elong berarti ‘lagu’, tetapi dalam pembahasan sastra elong dimaksudkan sebagai satu jenis puisi.
Menurut Salim (1990:3-5) sedikitnya ada 14 jenis elong, yang bisa dibedakan menurut isi (keluarga, agama, nasehat dan hiburan), peristiwa (lulabi, perang, pernikahan, melamar, dll) dan kepelikan atau keanehannya (bentuk dan permainan bahasa). Contoh-contoh elong bisa ditemukan dalam beberapa buku yang ditulis oleh Muhammad Salim, Muhammad Sikki, Rahman Daeng Palallo, dan paling komprehensif ditulis oleh B.F Matthes.
Ada sebuah jenis elong yang belum banyak dibahas namun justru sangat menarik yaitu elong maliung bettuanna. Maliung sebenarnya berarti ‘dalam’ dan bettuanna berarti ‘artinya’ atau ‘maknanya’. Frase maliung bettuanna dalam jenis puisi ini berarti ‘susah ditemukan maknanya’. Dengan kata lain, puisi dengan makna tersembunyi (Palallo, 1968, 11:7).
Bukankah semua puisi memang menyembunyikan maknanya? Betul. Tetapi, ternyata ada yang berbeda dalam jenis puisi Bugis ini. Selain menggunakan simbol atau majas tertentu, jenis puisi ini menggunakan satu (permainan) bahasa yang disebut Basa to Bakke’ (yang tidak akan ditemukan dalam jenis puisi lain) untuk menyembunyikan makna. Secara harfiah Basa to Bakke’ berarti bahasa orang-orang Bakke’. Tetapi dalam pengertian puisi ini frase itu berarti permainan bahasa orang-orang Bakke’. Bakke’ di sini merujuk kepada Datu Bakke’ atau Pangeran (dari) Bakke’. Daerah Bakke terletak di Soppeng. Sang pangeran konon dikenal sebagai tokoh yang intelek dan sangat pandai berbahasa. Selain dalam elong maliung bettuanna, Basa to Bakke juga ditemukan dalam puisi sejarah abad ke-20 Tolo’na Arung Labuaja (Tol, 1992, 148:85).
Tiga Langkah Menyingkap Makna
Vopel (1967:3) mengatakan bahwa kemungkinan puisilah bahasa paling rumit di dunia ini. Disebut paling rumit karena puisi menghendaki kepadatan (compactness) dalam pengungkapan. Kepadatan ini tidak hanya tercermin lewat kata-kata yang memiliki bobot makna yang berdaya jangkau lebih luas ketimbang bahasa sehari-hari. Kepadatan juga berperan sebagai pembangun dimensi lapis kedua seperti membangun kesan atau efek imagery, tatanan ritmis di tiap baris, membentuk nada suara sebagai cermin sikap penulis semisal sinis, ironis, atau hiperbolis terhadap pokok persoalan yang diangkat. Dan yang lebih penting juga adalah membangun dimensi lain yang hadir tanpa terlihat karena berada di balik makna literal dan atau di balik bentuk yang dipilih.
Tuntutan-tuntutan seperti itu relatif longgar pada genre sastra lainnya, semisal prosa (cerita pendek, novel) dan drama.
Perhatikan stanza berikut ini:
Kegaena na mumaberrekkeng,
buaja bulu’ede,
lompu’ walennae?
[Mana lebih kau suka,
buaya gunung,
atau lumpur sungai?]
Sepintas lalu bentuk puisi ini mirip haiku, puisi tradisional Jepang. Namun ternyata ada beberapa hal yang membedakannya. Puisi (teka-teki) ini sesungguhnya ingin menyampaikan sebuah makna, yakni: ‘yang mana lebih kau suka, perempuan cerdas atau perempuan cantik?’ Bagaimana bisa sampai begitu?
Bagi yang paham aksara Bugis, tentu masih ingat bahwa aksara Bugis memiliki keunikan. Beberapa keunikan aksara Bugis adalah tidak adanya huruf mati (final velar nasals), glottal stop, dan konsonan rangkap (geminated consonants). Satu silabel (suku kata) jika dibaca bisa menjadi enam jenis silabel. Contohnya, huruf untuk silabel ‘pa’ bisa saja dibaca ‘pa’, ‘ppa’, ‘pang’, ‘ppang’, ‘pa’’, atau ‘ppa’’. Keunikan aksara Bugis inilah yang dieksplorasi oleh permainan Basa to Bakke’ dalam elong maliung bettuanna .
Dalam satu elong yang disebutkan tadi, langkah pertama untuk menyingkap maknanya telah dilakukan. Langkah pertama itu adalah mengidentifikasi pernyataan. Ada dua frase dalam puisi itu yang harus diperhatikan, buaja bulue’ede dan lompu’ walennae. Buaja bulu’ede berarti ‘buaya gunung’ dan lompu’ walennae berarti ‘lumpur sungai’.
Setelah mengidentifikasi pernyataan, langkah kedua adalah menemukan apa rujukan dari pernyataan (frase) yang telah ditemukan. Buaja bulu’ede (buaya gunung) dalam puisi itu merujuk kepada macang (macan) dan lompu’ walannae (lumpur sungai) merujuk kepada kessi’ (pasir).
Jika hanya sampai di sini, puisi itu berarti ‘yang mana yang lebih kau suka, macan atau pasir?’ Tetapi bukanlah itu yang sesungguhnya ingin disampaikan puisi tersebut. Lalu bagaimana caranya agar tiba pada makna sesungguhnya? Kita masih membutuhkan satu langkah lagi.
Dalam tulisan aksara Bugis, kata macang (macan) sama dengan macca’ (cerdas) dan kessi’ (pasir) sama dengan kessing (elok atau cantik). Masing-masing ditulis ‘ma-ca’ dan ‘ke-si’.
Akhirnya makna puisi itu menjadi ‘mana yang lebih kau suka, perempuan cerdas atau perempuan cantik?’ Luar biasa, kan?
Perhatikan beberapa contoh lagi berikut ini:
Gellang riwata’ majjekko,
Anre-anrena to Menre’e,
atena unnyie.
[Tembaga melengkung di ujung,
makanan orang Mandar,
hati kunyit.]
Puisi ini sesungguhnya berarti ‘aku mencintaimu’. Bagaimana bisa demikian? Gellang riwata’ majjekko merujuk kepada meng (kail), anre-anrena to Menre’e merujuk kepada loka (pisang) — konon Orang Bugis dulu menganggap makanan pokok orang Mandar adalah pisang, dan atena unnyie merujuk kepada ridi (kuning). Jika tiga kata itu dituliskan dalam aksara Bugis akan menjadi ‘me-lo-ka-ri-di’. Rangkaian huruf ini bisa juga dibaca melo’ ka ridi (aku mencintaimu).
Tiga lapis menyingkap makna itu bisa diuraikan lebih rinci seperti berikut; lapis pertama, mengenali frase yang menyimpan kiasan (bunyi). Dalam puisi di atas, setiap barisnya menyimpan masing-masing satu frase untuk mengenali kiasan itu; gellang riwata majjekko, anre-anrena to Menre’e, dan atena unnyie. Kiasan dari frase itu, secara berurutan masing-masing; meng (kail), loka (pisang), dan ridi (kuning). Lapis kedua adalah bunyi meng, loka, dan ridi. Bunyi tiga kata itu membawa kita ke lapis selanjutnya, untuk menemukan makna, bunyi meng dalam aksara Bugis ditulis ‘me’, bunyi loka ditulis ‘lo-ka’, dan bunyi ridi ditulis ‘ri-di’.
Untuk menemukan makna elong semua bunyi itu dirangkai menjadi ‘me-lo-ka-ri-di’. Rangkaian bunyi itu jika dibaca menjadi melo’ka ridi yang maknanya ‘aku mencintaimu’.
Jika disederhanakan rumus tiga lapis menyingkap makna sebuah elong maliung bettuanna adalah:
(1) frase ->(2) bunyi -> (3) makna.
Inungeng mapekke’-pekke’
balinna ase’ede,
bali ulu bale.
[Minuman pekat,
kebalikan atas,
kebalikan kepala ikan.]
Setelah melalui proses penyingkapan makna, puisi ini berarti ’saya membencimu’, makna itu ditemukan dari rangkaian kata teng, awa, dan ikko yang jika dituliskan dengan aksara Bugis menjadi ‘te-a-wa-(r)i-ko’, aku tidak mau (benci) padamu. Frase elong itu adalah inungeng mapekke-pekke, balinna ase’ede, dan bali ulu bale. Bunyi yang dihasilkan frase itu adalah teng (teh), awa (bawah), dan ikko (ekor). Bunyi ini jika dituliskan dalam aksara Bugis akan menjadi ‘te-a-wa-(r)i-ko’. Rangkaian aksara Bugis itu bisa juga terbaca teawa (r)iko (aku benci padamu).
Nah, berikut ini satu contoh lagi. Mari kita sama-sama mencoba menemukan makna dari elong tersebut.
Duami uwala sappo,
Wunganna panasae,
Na belo-belona kanukue.
[Dua saja pagarku,
bunga nangka,
dan cat kuku.]
Wunganna panasae merujuk kepada lempu (bunga nangka) jika dituliskan memakai aksara Bugis, kata lempu (bunga nangka) tak berbeda dengan lempu’ (jujur) yaitu ‘le-pu’. Sementara belo-belona kanukue merujuk kepada pacci (daun pewarna kuku) yang jika ditulis sama dengan paccing (bersih) yaitu ‘pa-ci’. Jadi sesungguhnya maksud bait pendek yang mirip haiku itu adalah: hanya dua yang aku jadikan benteng; kejujuran dan kejernihan.
Selain puitis, elong maliung bettuanna juga kelihatan rumit dan berlapis-lapis. Namun jika menemukan rumusnya, puisi ini tidak serumit yang kita duga. Jenis puisi ini betul-betul unik. Sungguh, alangkah pintar orang-orang Bugis (dahulu) menyembunyikan maksudnya. Dan tentu saja, alangkah kreatifnya mereka.
Permainan Bahasa
Sesungguhnya ada pola-pola umum yang paling sering digunakan dalam permainan bahasa orang Bakke. Basa to Bakke biasanya menggunakan tiga macam topik dalam frasenya; 1) yang berhubungan dengan nama daerah atau tempat (geografical), 2) tentang tumbuh-tumbuhan (botanical), dan 3) tentang binatang (zoological). Memang ada beberapa pengecualian, tetapi ketiga topik itulah yang paling sering digunakan.
1. Frase berhubungan dengan nama daerah
Satu contoh frase untuk topik geografis adalah sebagai berikut:
Toddanna Tangka nataro,
toddanna Palangiseng,
nalao purai.
[Di sebelah utara Tangka dia letakkan,
di sebelah utara Palangiseng,
dia akan menyelesaikannya.]
Frase Toddanna Tangka merujuk kepada Lebureng yang juga bisa berarti ‘perawan’ dan frase toddanna Palangiseng merujuk kepada Baringeng yang jika disebut nyaris terdengar ringeng (ringan, murahan). Elong itu kira-kira bermakna, ‘dia mengabaikan seorang perawan lalu menikahi pelacur’. Tangka, Lebureng, Palingeseng, dan Baringeng adalah nama-nama daerah.
Beberapa frase lain yang menggunakan nama-nama daerah adalah:
Masih banyak contoh yang lain untuk frase-frase yang berhubungan dengan nama-nama tempat atau daerah.
2. Frase tumbuh-tumbuhan
Sementara frase-frase yang mengandung tumbuh-tumbuhan, ada beberapa contoh berikut ini:
3. Frase binatang
Dan yang terakhir adalah frase-frase yang berhubungan dengan binatang, di antaranya:
Ternyata bahasa Bugis bisa menjadi permainan yang menarik. Keunikan bahasa seperti itulah yang membuat puisi Bugis menjadi berbeda dibandingkan jenis puisi lainnya. Meski elong maliung bettuanna tak lagi pernah diperkenalkan, meliriknya kembali bisa menjadi alternatif. Puisi Bugis ini bisa menjadi jawaban atas kejenuhan banyak kritikus sastra yang menganggap puisi modern Indonesia diperangkap oleh segelintir nama besar seperti Sapardi Djoko Damono dan Goenawan Mohamad. Kekuatan elong maliung bettuanna adalah ketercapaian dan keseimbangan dua kekuatan, bentuk dan isi, hal yang semakin susah ditemukan oleh penyair kontemporer.
Tak banyak bentuk puisi yang mampu mengawinkan bentuk dan isi seperti yang diperlihatkan oleh elong maliung bettuanna.
Telah disadari oleh para penyair Bugis terdahulu bahwa puisi sangat penting peranannya sehingga harus dibuat sedemikin indahnya. Selain aturan bunyi (fonologi) dan makna (semantik) yang telah dijelaskan di atas, sesungguhnya elong maliung bettuanna juga menarik untuk dilihat dari segi matra (bagan yang digunakan dalam penyusunan baris sajak yang berhubungan dengan jumlah, panjang dan tekanan suku kata), pembentukan kata (morfologi) dan yang tak kalah menarik adalah archaic vocabulary, pemakaian kata-kata Bugis lama yang (mungkin) tak lagi dikenal oleh orang-orang Bugis sekarang ini.
Terbuka banyak pintu untuk masuk dan menikmati elong maliung bettuanna ini. Bagi anda yang ingin menyembunyikan maksud dalam permainan bahasa, tak ada salahnya mengadopsi cara yang digunakan puisi ini. Selain itu, ‘permainan bahasa’ ini mungkin akan membuat Anda mencintai kembali bahasa Bugis. Tapi untuk mencoba mengutak-atik elong, kita dituntut mampu membaca huruf lontara, paham budaya Bugis dan alam pikiran orang Bugis.
Sayang sekali, orang-orang Bugis sekarang tak lagi melihat arti penting sebuah puisi (elong). Berbeda dengan William Shakespeare yang karena puisi signifikan baginya, ia memujinya dalam sebuah soneta yang ia tutup dengan dua baris terakhir: so long as men can breathe or eyes can see,/so long lives this, and this gives lives to thee. Sepanjang manusia masih bernafas, atau mata masih mampu memandang, akan selama itu pula puisi tetap lestari dan ia akan memberimu kehidupan yang bermakna.(p!)
Referensi:
-Fachruddin Ambo Enre, 1983, Ritumpanna Weelenrennge, telaah filologis sebuah Episode Bugis klasik, Jakarta: Universitas Indonesia.
-Goenawan Mohamad, 2004, Setelah Revolusi Tak Ada Lagi, Jakarta: Alvabet.
-Kennedy, J.X, 1991. Literaure: an Introduction to Fiction, Poetry and Drama, (Fifth Edition). New York: harper Collins Publisher.
-Mattulada, 1985, Latoa; satu lukisan analitis terhadap antropologi politik orang Bugis, Yogyakarta: Universitas Gajah Mada
- Muhammad Salim, 1969-71, Transliterasi dan Terjemahan elong Ugi (kajian naskah Bugis), Ujung pandang: Departemen P dan K, Bagian Proyek Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Sulawesi Selatan.
-Muhammad Sikki, dkk, 1978, Terjemahan beberapa naskah lontara Bugis, Ujung Pandang: Balai Penelitian Bahasa.
-Pelras, Christian, 2006, Manusia Bugis, Jakarta: Nalar.
-Perrine, Laurence, 1974, Literatre: Structure, Sound and sense. (Second Edition). New York: Harcourt Brace Javanovisch Inc.
-Rahman Daeng Palallo, 1968, ‘Bahasa Bugis; Dari hal elong maliung bettuanna (pantun jang dalam artinya)’, Bingkisan I.
-Siswantoro, 2002, Apresiasi Puisi-puisi Sastra Inggris, Surakarta: Muhammadiyah University Press.
-Tol, Roger, 1992, ‘Fish Food on a Tree Branch; Hidden Meanings in Bugis Poetry’, Leiden: Bijdragen tot de Taal-land- en Volkenkunde 148 : 82-102.
* Citizen reporter M Aan Mansyur dapat dihubungi melalui email luarkurung@yahoo.co.uk
|
| | Jumlah
Komentar (44) |
|
| Komentar :
24-01-2009 Dari : fuang ammare' | ammarasad.aimar@gmail.com jago memeng tau ogi'
riolo, macca2
lo...., nappa
uwisseng ku engka
pakkoro..... :) 09-11-2008 Dari : Thamrin Daeng malimpo | daeng_thamrin@plasa.com Pekanbaru, November
2008
Selleng maruddani,
Eh sininna
selesurrenkku ya
engkae di tanah
pearantauan(somperan
g, ta' dampengannga
narekko ada-adaku
kurang mekkena law
ri idi maneng.
kokoero saba'
jamange de'na napada
riwetu riolo,
megaini malupai
ade-ade'ta nakotopa
budaya, mellumiki
matuju low ade'na
tau Barat, Eropa,
So I hope you all
the youngster stay
learing more abour
our Culture. any
where.
If you want to shere
with me, you would
sent your mail
to:daeng_tamrin@
plasa.dom.
Oya teman-teman
salam kenal, jika
ada literatur
tentang Bugis boleh
gk kirim-kirim ke
kita. karena kita
diperatauan sangat
jarang sekali
mendengar atau
mengalami adat
istiadat bugis.
Saya bisa berbahasa
Bugis karena saya
pernah Sekolah(SMA)
di Bone -/+ 1 Tahun
jadi rasanya masih
sangat minim tentang
pengetahun tgg
budaya Bugis.
Wassalam
05-10-2008 Dari : ridwan | putra_bgs80@yahoo.com saya bangga punya
keturunan bugis dan
masih menjadi bugis
sejati. tapi saya
sedih dan kurang
bangga dengan
kelakuan segelintir
anak bugis zaman
sekarang.. marilah
kita sama-sama
menjaga nama baik
keturunan dan bangsa
kita bugis 03-07-2008 Dari : |
03-07-2008 Dari : syukri_b | syukri_b@yahoo.com Fappatteppu,puisi
dan elong adalah
sarana komonukasi
orang bugis tempo
dulu.karena dulu
tidak ada
televisi,hp atau
internet.jadi sarana
itulah yang di pakai
menarik nenek kita
dulu mempererat
komunikasi sesama
mereka.saya menduga
ilham itu
terinspirasi oleh
tradisi karawitan di
jawa dan pantun di
tanah melayu.karena
budaya rantau orang
bugis,biasanya kalau
tidak bawa uang
"ya,bawa
carita.tetapi saya
sbg putra,walaupun
di cuci dengan air
sungai mahakam tetap
sebagai orang
bugis,merasa bahwa
saat ini kita
mengalami kemunduran
di bidang
ekonomi.hasil sawah
yang kita nikmati
sekarang bukan hasil
kita,tapi jerih
payah nenek moyang
kita.demikian pula
perdagangan antar
pulau yang pernah di
kuasai nenek moyang
kita sekarang hanya
tinggal
kenangan.melalui
email ini saya mohon
agar kita cari
solusi
bersama.persatuan
dan kebersamaan
dengan ikatan 'siri'
na 'pacce' harus
kita daur
ulang.jangan
terpengaruh dengan
kepentingan politik
sesaat.thank,s
salamaki,topada
salama ri
allabuangetta. 19-06-2008 Dari : ANDI.AMIR .REWA | AMIR AJAA.YAHOO.COM MUNGKING IA TO UGI
PALING BANGNGA
MEMPUNYAI BAHASA
DAERA YANG BEGITU
UNIK YG SUKU KATANYA
MEMPUNYAI BEBERAPA
ARTI YG KADANG KALA
MENYIMPANG ARTI YANG
TERSEMBUNYI DI BALIK
KALIMAT PUISINYA.(IA
MONGROKA DI
SERANG-BANTENG
MAKULIAKA MUPA)TO
MASALLEKA LAGO 02-06-2008 Dari : chenk benk | chenk.benk@gmail.com Saya ingin
mengoreksi tulisan
Roger Tol yang
tentang "basa to
Bakke'".
Rasanya, Roger Tol
terlalu cepat
mengambil
kesimpulan, To Bakke
berada di Soppeng.
Sebab Bakke juga
ternyata ada di Bone
dan merupakan suatu
desa yang sangat
familiar dengan
Kajaolaliddong,
cendikiawan kerajaan
Bone yang sezaman
dengan Arumpone LA
TENRI RAWE BONGKANGE
dan Arump[one LA
ULIYO BOTE’E.
Berjarak kira-kira 7
km ke arah selatan
kota watampone, yang
sebelumnya merupakan
kesatuan dari
wilayah Desa
Wollangi,
Padangloang, Desa
Laliddong dan Desa
Bakke sendiri.
"Tongkat" Kajao
Laiddong pun konon
masih tegak berdiri
di Desa Bakke
sekarang ini.
Yang ingin saya
tanyakan, adaklah
kemungkinan jika
yang dimaksud "basa
to Bakke'" itu
menujuk
Kajaolaliddong
sebagai objek?
Tantangan bagi
sejarawan kita lah
untuk
membuktikannya.
Bukan asal menerima
masukan dari luar,
yang Roger Tol
sendiri belum tentu
pernah menginjakkan
kakinya di
Bakke-Soppeng".
19-05-2008 Dari : idho | mursid_aida@yahoo.com wuih................
...terimakasih atas
ilmu yang begitu
berarti. tetapi yang
jadi masalah kita
bersama adalah
bagaimana
menumbuhkan
kesadaran dikalangan
Tau loloE untuk
mencintai bugis dan
kebugisannya. 19-03-2008 Dari : chang | cokilay@gmail.com ini tulisan luar
biasa cappo. elong
yang familiar sama
saya cuma duami wala
sappo itu. Pesan
untuk tetap jujur
dan bersih di
manapun kita berada.
16-03-2008 Dari : aco | yatimaulana@gmail.com wuih...pintar na
tauwa aan...
terpesona ka baca ki 14-02-2008 Dari : farizal | riszza@yahoo.com saya mmg bangga
mnjadi org
bugis..saya adalah
minoriti bugis dari
johor,
malaysia..saya
bertambah bangga
kerana ada lagi
golongan bugis yg
ingin mempertahankn
bahasa ibunda
tersebut..MENYAMENG
ATI' 06-11-2007 Dari : Arif Rahmat | dmr[at]codena.co.id Mega ladde makkukkue
tau ugi de'
naissengi bettuanna
bicara ugi'e.
Decenna pada macca
maneng moa ma'baca
korang (Al-Qur'an),
tapi yaro lagi
de'naissengi
bettuangiwi.
[tau ugi, ki
juppandang jaji tapi
ki bandung monro] 05-10-2007 Dari : ancaxt | asrar_it@yahoo.com Mantap, kalo bisa
ada forum yang
membahas atau
mempelajari bahasa
bugis yang lebih
dalam lagi. 13-09-2007 Dari : arei | hanzanakBUGIS@gmail.com macca memang tu pale
to ugie riolo-riolo.
lokak sedding
magguru uki na
ugie.wah saya sangat
bangga berasal dari
keturunan
bugis.selleng ku
maneng tu
selessureng to ugie.
MOHAMMAD ASHARI BIN
MALIK. accak ri
MALAYSIA. simpang
empat; kunak; tawau; 04-09-2007 Dari : ugi_borneo | ugi_borneo@yahoo.com bangga punya nenek
moyang bugis, tapi
tidak bangga dengan
kelakuan beberapa
orang bugis
sekarang. 03-09-2007 Dari : Muhammad Iqbal | iqbal_m70@yahoo.com Makanya saya bangga
jadi orang Bugis 15-08-2007 Dari : soeltra | bluishy_gal@yahoo.com tulisannya mnarik..
:) jd manggut2
sndiri,cerdas
mentong pak guruku
;) maksihh...jd
ngerti dikit2 bhs
asalku 13-08-2007 Dari : ahmad | erio_nhrx@yahoo.co.id wah...wah macca
metto tauwwa to
ugi'e
nappai ro ia uisseng
kada engka pale
mappakoro...salut!!
05-08-2007 Dari : arif | aco_bugis@yahoo.com/aco_paotere@plasa.co keren nih
artikelnya,
ini nih yg harus
dipelajari oleh kita
generasi muda
sul-sel.
btw, penulis ini
doctor dibidang
sastra yah?
really two tumbs up
fro him! 09-07-2007 Dari : Abhy | habibi_kid@yahoo.com assalamu alaikum...
Cebbo'ka iya'...
Nappanna engka ubaca
mappakkue...
Salut..salut..salut
salam kenal untuk
semua silesureng
Ogiku ri makassar,
Makkukkue engkaka
okko Pontianak,
tennia pato eganna
Ogi okkoe. Namoni de
nengka nalejjai tana
Ogi (mereka asli
keturunan bugis)tapi
makessing mopa
bicara ogina...
Kita orang Bugis
harus bangga, karena
dimana-mana kita di
hormati orang...
Ewako Sidrap...Hidup
Nene Mallomo..
Malilu sipakainge,
rebba
sipatokkong,Mali
siparappe
Wassalam
22-06-2007 Dari : ammi | epponabacobetta@yahoo.co.id Tanpa terasa
mallinangngi uwwae
matakku.ternyata
sudah lama sy hidup
dikampng halaman
orang.kalau
ditanya"Asal
Mana?dengan bangga
sy menjawab"Bone,sy
orang
bugis".Beberapa
orang manado,memang
masih mengerutkan
dahi
mendengarnya,seakan-
akan masih asing dg
kota tercinta sy
ini.Tp
biarlaah...ini
tanggunp jawab saya
u memberitahu
mereka.Orang bugis
memeng pandai
menyembunyikan
maksud.Maraja Siri. 21-06-2007 Dari : Bugis Turunan | bugisturunan@yahoo.com Orang bugis
dahulukala, macca
mabbicara deceng.
Orang bugiskini
macca bicara-belle.
Orang bugis yang
sedang berkuasa,
macapila belle-na.
Pintar melindungi
siri'na alias kurang
siri', biar konyol
bicaranya yang
penting berjamaah -
menjamah barang yang
bukan haknya.
Orang bugis
dahulukala,
meninggalkan sureq i
la galigo.
Orang bugiskini
meninggalkan Ruko
dan proyek taman
kanak-kanak pantai
losari.
Kalau mau lihat
realitas kekonyolan
birokrasi
pemerintahnya,
lihatlah realitas
lalu- lintas jalanan
kotanya.
Hebat bukan? Tapi
maaf kalau "Aku"
yang lewat dijalanan
kota ini, poraider
selalu menuntun
lalulintasku.
maaf! kota makassar
adalah jelmaan dari
bisikan investor
yang menguntungkan
investornya dan
penguasanya. "Hai
orang miskin pergi
dari kota ini,
karena kota ini di
buat bukan untukmu!"
Maafku 2007,
bugisturunan.
06-06-2007 Dari : ani | harniati_sham@yahoo.com.my iyya'marennuka
na'engka oki
ugi,orang tua ku
bilang idi tau ugi'e
asiriseng mi'ri
onroang ri linoe
apakah itu betul
saya tulis.saya juga
masih bisa baca oki
ugi walaupun di
besarkan di malaysia 29-05-2007 Dari : akhmar | a_akhmar@yahoo.com Beberapa hasil
penelitian puisi
Bugis, seringkali
mengangkat potongan
elong yang Anda
angkat.
Penafsirannya selalu
sama. Apakah puisi
Bugis selalu
menyajikan makna
sama pada setiap
pembacanya? 29-05-2007 Dari : mila | bricmild@yahoo.com salam kenal
teman-teman
makassar.
puisi itu indah..
29-05-2007 Dari : yahya | nakgagana_makassar@yahoo.com daeng aan. sy mo
tanyaki ini cess. sy
pernah dengar salah
satu mungkin ini
juga adalah sebuah
puisi bugis. tapi sy
mo tau maknanya.
mudah2an aan bisa
kasih sy jawabannya
nah. tolong ka
kasi'.
" tellabu matanna
essoe ritengngana
batarae ". 22-05-2007 Dari : ari | ari@muamalatbank.com makessing siseng,
sulessureng !!! 19-05-2007 Dari : sultan arifin | Saya orang Makassar
asli.tapi aku cinta
banget dengan orang
Bugis.Eh, doi ku
orang bugis asli
lho, cakepnya, tapi
kelebihannya adalah
tutur bahasanya alus
banget.Meski doi'
panai'nya mahal
minta ampun, ah aku
tidak gentar, Insya
Allah kulamar tahun
ini. Mohon doa
restunya. 08-05-2007 Dari : hamran sunu | Kak Aan, tulisannya
agak ilmiah. Kalau
sudah begini,Kak Aan
bukan lagi jurnalis
orang biasa, tapi
jurnalis luar biasa!
Salut buat Kak Aan.
Baca tulisannya
bikin minder, betapa
menjadi "orang
biasa" itu bisa
bikin kita merdeka
utuk mengungkapkan
apa pun, yang pelik
dan bersahaja, yang
radikal, atau yang
awam. Tanpa mesti
didikte. 08-05-2007 Dari : mappaware | worowane@yahoo.com Saya tahu orang
Bugis memang
pintar,halus budi
pekertinya,tinggi
rasa
seninya,tercermin
dari elong2nya nan
indah dan memukau.
Makanya identitas
Bugis dgn bangga
saya sandang dengan
bangga hingga hari
ini. Tidak seperti
dengan mayoritas
saudara Bugisku yang
lain,sudah merasa
modern kalau nama
Jawa,nama asing yang
lain yang diberikan
kepada putra
putrinya.
Kasi'na,tau maling
rekeng,mita anu
baru. 16-04-2007 Dari : opik | kurobuta_wombat@yahoo.com luar biasa kak aan
martan mansyur tanpa
"rahim". what next
bro. 15-04-2007 Dari : achank' dj | heryazhar@yahoo.com saya terkesima
ketika membaca
tulisan ini, apalagi
ketika saya membaca
tulisan ini saya
sedang mendengarkan
alunan Tuddung
Pa'ganjara (maaf
kalo saya salah
tulis!). Sungguh
saya langsung malu
merasa sebagai orang
Bugis namun hanya
dapat berbicara
seadanya dalam
bahasa Bugis(tapi
wajar karena saya
besar di kota).
Satu ji moka
bilang..: "Cerdas
ces!" 12-04-2007 Dari : natsir | natsir_battoa@yahoo.com Salam kenal ya aq
asli bugis lho dan
teringat masa smp
dulu kalau diajarin
basa ugi eh teman
teman pada lari
keluar tapi aq malah
senang banget dan
alhamdulillah sampai
saat ini msh bisa
sedikit baca oki ogi
dan terima kasih
pada panyingkul atas
dimuatnya tulisan
seperti ini.Semoga
kedepan lebih banyak
saudara kita yang
mengakses dan
mempelajari basa ugi
10-04-2007 Dari : sm | "E dede sangkama
leba ki dare!"
"Tabe katte, na malo
anne dareka!"
Hahahaa.... 14-02-2007 Dari : anchu | makdika@yahoo.com senag, sangat
senang. very
happy... ada tulisan
tentang aksara
Lontara. Ini adalah
identitas kita,
harusnya patut kita
syukuri moyang kita
telah membuat
pondasi peradaban yg
sangat meodern,
sayangnya
generasinya tidak
menanmkan rasa cinta
pada peradaban nenek
moyang mereka.
Jepang, China,
India, Arab dan
Eropa membangun
peradaban diatas
pondasi yg telah
dibangun nenek
moyang mereka...
Lalu kita.....
Apakah para pembaca
panyingkul juga
masih bisa membaca
peninggalan moyang
mereka? 09-02-2007 Dari : idham | idham_4@yahoo.co.id Saya Bangga sekali
dengan adanya
artikel-artikel
tentang bahasa
bugis,semoga bahasa
bugis tetap lestari
sebagai bahasa
daerah orang bugis
walaupun sekarang
putra-putri
kelahiran bugis
sudah jarang
memperhatikannya.Res
opa Temmangingngi
Malomo Naletei
Pammase Dewata.Ewako
Tau Ogi na
Pangkajene SIDRAP. 23-01-2007 Dari : Rasjid | rasjid.amin@t-online.de Munkin karena masih
terpukau oleh
tulisan Pak Aan,
sampai menulis
alamat yang tidak
lengkap 23-01-2007 Dari : Rasjid | rasjid.amin@t-online. Pembahasan yang
hebat !
Pak AAn, saya salut
atas tulisan anda.
Saya meliwatkan
waktu lebih satu jam
hanya untuk membaca
dan berusaha
mengerti sedikit apa
yang anda sajikan
itu. 23-01-2007 Dari : adda | axedark_doang@yahoo.com Waktu saya masih SD
dan SMP,masih sempat
di ajarkan elong
maliung bettuanna di
atas terutama dalam
pelajaran bahsa
daerah bahkan
selingan di antara
pelajaran-pelajaran
lain,menarik
sekali,bahkan
setelah beberapa
tahun masih teringat
dan sebagian di
antaranya merupakan
nilai-nilai yang di
pegang oleh orang
bugis,mudah-mudahan
sekarang pun elong
maliung bettuanna di
atas masih di
ajarkan ke anak-anak
sehingga nilai-nilai
budaya tetap lestari 23-01-2007 Dari : tommy | tompart56@yahoo.com Membaca tulisan ini
, saya teringat
sewaktu SMP dimana
saya diajarkan
bahasa Bugis ( tahun
1970 an ) oleh ibu
guru yang sangat
disiplin dalam
mengeja lafal2
bahasa Bugis)
Terima kasih
tulisannya,saya
tertawa sendiri
membacanya sebab
teringat saat salah
mengeja huruf dan
cuping telinga yang
jadi sasaran ibu
guru. 22-01-2007 Dari : rahman | massandala_siwali@yahoo.co.id ga nyangka kalau
leluhur kita
ternyata ahli bahasa
juga,,, bangga jadi
orang bugis 22-01-2007 Dari : Sammy Lee | lee_sammy@telpacific.com.au Wah, sungguh ruar
biasa! Kagum dan
bangga saya, Pak
Aaan! Sayang usiaku
sudah terlalu senja.
Rasanya sangat
kepengen menyelidiki
lebih banyak
kekayaan kebudayaan
bangsa kita,
terutama suku bugis.
Wow! Nyata lebih
hebat dari William
Shakespeare punya
karya, di?
Saya teringat banyak
tahun yang lalu,
hehe, mungkin lebih
tepat saya
mengatakan, sudah
lupa tahun berapa
kejadian ini, dan
saya tidak pasti
yang mana, entah
Christian Pelras
atau Roger Tol,
mungkin ada yang
dapat menolong
mengingatkan saya,
tapi satu kali ada
seorang bule yang
badannya berbulu
lebat sekali naik
bis DAMRI dari Jalan
Pelabuhan menuju ke
jalan Maros. Ketika
naik ke bis itu
beberapa ibu-ibu
berbisik kepada satu
sama lain,
"E dede sangkama
leba ki dare!" (Wah,
persis seperti
monyet tampaknya!"
Si Bule itu diam
saja dan duduk di
bangku paling
belakang.
Kemudian ketika tiba
di Jl. Maros dia mau
turun. Melewati
ibu-ibu yang
memberikan komentar
tadi, si tamu asing,
yang rupanya adalah
seorang ahli bahasa
daerah Bugis dan
Makassar, berkata
dengan sangat lancar
dan dengan suara
yang cukup keras
untuk didengar semua
yang dibis itu:
"Tabe katte, na malo
anne dareka!" Saya
perhatikan semua
ibu-ibu itu menjadi
merah dan ada yang
malah pucat mukanya
menahan malu. Saya
boleh bayangkan
mungkin kalu boleh
mereka ingin masuk
kekolong tempat
duduk mereka
bersembunyi waktu
itu. 22-01-2007 Dari : isdah | is_dhot@yahoo.com oh iya, numpang
beken.
Pekenalkan saya
isdah...orang
bugis.
Bangga dong punya
leluhur yang yang
pintar (ternyata)
memainkan "bahasa"
menjadi puisi yang
indah nian...
Nda rugika bergabung
dalam bugis mafia di
tanah melbourne ini. 22-01-2007 Dari : isda | is_dhot@yahoo.com maccamu an,
Mangaku ka iya,
kasian!!!! |
|
|
|
|
| ::
CITIZEN REPORTER |
 | (Kamis, 12-07-2007) |  | (Minggu, 29-04-2007) |  | (Selasa, 31-10-2006) |  | (Rabu, 11-10-2006) |  | (Rabu, 16-08-2006) | |
|
Untitled Document
| ::
DUNIA SEGIEMPAT KAREBOSI |
|
Untitled Document
| ::
KONTAK TIM PANYINGKUL! |
Email:
redaksi@panyingkul.com
Makassar:
Nilam Indahsari +62 81 241 229 089
M. Aan Mansyur +62 411-586459
Jakarta
Moch. Hasymi +62 811 955 954
|
|
|