Untitled Document
 


Untitled Document
.KITAKITA
:: Jika Anda di Panyingkul ::
 
 KABAR KITA
 
 BERANDAKITA
Kegilaan, Dari Cinta Mati di Pulau Rajuni Hingga Riwayat Kadang
:: Ivan Firdaus ::
Baba Guru, Mengenang Film Rhoma Irama di Klenteng Galesong
:: Kamaruddin Azis ::
Mengagumi Tenun Troso, Mengenang Tenun Sengkang
:: Suryadin Laoddang ::
Perempuan Besi di Gunung Perak (2-selesai)
:: M. Aan Mansyur ::
Perempuan Besi di Gunung Perak (1)
:: M. Aan Mansyur ::
 
 RISETKITA
Rasa Takut : Yang Dicitrakan, Yang Dipelihara
:: Aria W. Yudhistira ::
Risetkita: Pramoedya versus Sejarah Resmi
:: Nurhady Sirimorok ::
Hikayat Rumpon Nelayan Mandar
:: Muhammad Ridwan Alimuddin ::
Di Makassar Pernah Ada “Negeri Wajo”
:: Nurhady Sirimorok ::
Surat Itu Ditulis Upas kepada September
:: Nurhady Sirimorok ::
 
 BUKUKITA
 
 KATAKOTAKITA
Kenapa si Gondrong yang Maju?
:: Ivan Firdaus dan Mustamin al-Mandary ::
Karena ‘Rewa’ Badan Binasa
:: Sudirman Nasir ::
Yang Okkot, yang Salah Sambung
:: Nursamsu danTusiana Noor Alfisyahr ::
Kandala`ka`, Kusta Bila Dusta
:: Panyingkul ::
Ayo, Si(ng)kat Terussss..!
:: Panyingkul! ::

 
 TAHUKAHKITA
 

.
 ::
Senin, 22-01-2007 
Orang Bugis Pandai Menyembunyikan Maksud
:: M Aan Mansyur ::


Aksara Lontara.


Puisi Bugis yang terdiri atas beragam jenis, merupakan salah satu kekayaan sastra lokal yang unik, meski kini kian tak dikenali. Salah satunya adalah elong maliung bettuanna, atau sajak-sajak yang menyimpan makna tersembunyi. Citizen reporter M Aan Mansyur melakukan riset atas sejumlah jenis puisi ini, dan mengajak kita menelusuri makna-makna tersembunyi di balik sejumlah elong. (p!)

 
Selain La Galigo, epos-mitos Bugis yang bisa jadi adalah karya sastra terpanjang di dunia, mungkin tak banyak lagi karya sastra Bugis yang kita ketahui. Padahal, menurut Roger Tol dalam sebuah artikelnya, selain jumlahnya yang diperkirakan sampai 2.500.000 karya, kualitas karya sastra Bugis sangat menarik untuk terus diperbincangkan.

Salah satu jenis karya sastra Bugis adalah elong. Meskipun secara harfiah elong berarti ‘lagu’, tetapi dalam pembahasan sastra elong dimaksudkan sebagai satu jenis puisi.

Menurut Salim (1990:3-5) sedikitnya ada 14 jenis elong, yang bisa dibedakan menurut isi (keluarga, agama, nasehat dan hiburan), peristiwa (lulabi, perang, pernikahan, melamar, dll) dan kepelikan atau keanehannya (bentuk dan permainan bahasa). Contoh-contoh elong bisa ditemukan dalam beberapa buku yang ditulis oleh Muhammad Salim, Muhammad Sikki, Rahman Daeng Palallo, dan paling komprehensif ditulis oleh B.F Matthes.

Ada sebuah jenis elong yang belum banyak dibahas namun justru sangat menarik yaitu elong maliung bettuanna. Maliung sebenarnya berarti ‘dalam’ dan bettuanna berarti ‘artinya’ atau ‘maknanya’. Frase maliung bettuanna dalam jenis puisi ini berarti ‘susah ditemukan maknanya’. Dengan kata lain, puisi dengan makna tersembunyi (Palallo, 1968, 11:7).

Bukankah semua puisi memang menyembunyikan maknanya? Betul. Tetapi, ternyata ada yang berbeda dalam jenis puisi Bugis ini. Selain menggunakan simbol atau majas tertentu, jenis puisi ini menggunakan satu (permainan) bahasa yang disebut Basa to Bakke’ (yang tidak akan ditemukan dalam jenis puisi lain) untuk menyembunyikan makna. Secara harfiah Basa to Bakke’ berarti bahasa orang-orang Bakke’. Tetapi dalam pengertian puisi ini frase itu berarti permainan bahasa orang-orang Bakke’. Bakke’ di sini merujuk kepada Datu Bakke’ atau Pangeran (dari) Bakke’. Daerah Bakke terletak di Soppeng. Sang pangeran konon dikenal sebagai tokoh yang intelek dan sangat pandai berbahasa. Selain dalam elong maliung bettuanna, Basa to Bakke juga ditemukan dalam puisi sejarah abad ke-20 Tolo’na Arung Labuaja (Tol, 1992, 148:85).

Tiga Langkah Menyingkap Makna
Vopel (1967:3) mengatakan bahwa kemungkinan puisilah bahasa paling rumit di dunia ini. Disebut paling rumit karena puisi menghendaki kepadatan (compactness) dalam pengungkapan. Kepadatan ini tidak hanya tercermin lewat kata-kata yang memiliki bobot makna yang berdaya jangkau lebih luas ketimbang bahasa sehari-hari. Kepadatan juga berperan sebagai pembangun dimensi lapis kedua seperti membangun kesan atau efek imagery, tatanan ritmis di tiap baris, membentuk nada suara sebagai cermin sikap penulis semisal sinis, ironis, atau hiperbolis terhadap pokok persoalan yang diangkat. Dan yang lebih penting juga adalah membangun dimensi lain yang hadir tanpa terlihat karena berada di balik makna literal dan atau di balik bentuk yang dipilih.

Tuntutan-tuntutan seperti itu relatif longgar pada genre sastra lainnya, semisal prosa (cerita pendek, novel) dan drama.
Perhatikan stanza berikut ini:

Kegaena na mumaberrekkeng,
buaja bulu’ede,
lompu’ walennae?


[Mana lebih kau suka,
buaya gunung,
atau lumpur sungai?]

Sepintas lalu bentuk puisi ini mirip haiku, puisi tradisional Jepang. Namun ternyata ada beberapa hal yang membedakannya. Puisi (teka-teki) ini sesungguhnya ingin menyampaikan sebuah makna, yakni: ‘yang mana lebih kau suka, perempuan cerdas atau perempuan cantik?’ Bagaimana bisa sampai begitu?

Bagi yang paham aksara Bugis, tentu masih ingat bahwa aksara Bugis memiliki keunikan. Beberapa keunikan aksara Bugis adalah tidak adanya huruf mati (final velar nasals), glottal stop, dan konsonan rangkap (geminated consonants). Satu silabel (suku kata) jika dibaca bisa menjadi enam jenis silabel. Contohnya, huruf untuk silabel ‘pa’ bisa saja dibaca ‘pa’, ‘ppa’, ‘pang’, ‘ppang’, ‘pa’’, atau ‘ppa’’. Keunikan aksara Bugis inilah yang dieksplorasi oleh permainan Basa to Bakke’ dalam elong maliung bettuanna .

Dalam satu elong yang disebutkan tadi, langkah pertama untuk menyingkap maknanya telah dilakukan. Langkah pertama itu adalah mengidentifikasi pernyataan. Ada dua frase dalam puisi itu yang harus diperhatikan, buaja bulue’ede dan lompu’ walennae. Buaja bulu’ede berarti ‘buaya gunung’ dan lompu’ walennae berarti ‘lumpur sungai’.

Setelah mengidentifikasi pernyataan, langkah kedua adalah menemukan apa rujukan dari pernyataan (frase) yang telah ditemukan. Buaja bulu’ede (buaya gunung) dalam puisi itu merujuk kepada macang (macan) dan lompu’ walannae (lumpur sungai) merujuk kepada kessi’ (pasir).
Jika hanya sampai di sini, puisi itu berarti ‘yang mana yang lebih kau suka, macan atau pasir?’ Tetapi bukanlah itu yang sesungguhnya ingin disampaikan puisi tersebut. Lalu bagaimana caranya agar tiba pada makna sesungguhnya? Kita masih membutuhkan satu langkah lagi.

Dalam tulisan aksara Bugis, kata macang (macan) sama dengan macca’ (cerdas) dan kessi’ (pasir) sama dengan kessing (elok atau cantik). Masing-masing ditulis ‘ma-ca’ dan ‘ke-si’.
Akhirnya makna puisi itu menjadi ‘mana yang lebih kau suka, perempuan cerdas atau perempuan cantik?’ Luar biasa, kan?

Perhatikan beberapa contoh lagi berikut ini:

Gellang riwata’ majjekko,
Anre-anrena to Menre’e,
atena unnyie.


[Tembaga melengkung di ujung,
makanan orang Mandar,
hati kunyit.]

Puisi ini sesungguhnya berarti ‘aku mencintaimu’. Bagaimana bisa demikian? Gellang riwata’ majjekko merujuk kepada meng (kail), anre-anrena to Menre’e merujuk kepada loka (pisang) — konon Orang Bugis dulu menganggap makanan pokok orang Mandar adalah pisang, dan atena unnyie merujuk kepada ridi (kuning). Jika tiga kata itu dituliskan dalam aksara Bugis akan menjadi ‘me-lo-ka-ri-di’. Rangkaian huruf ini bisa juga dibaca melo’ ka ridi (aku mencintaimu).

Tiga lapis menyingkap makna itu bisa diuraikan lebih rinci seperti berikut; lapis pertama, mengenali frase yang menyimpan kiasan (bunyi). Dalam puisi di atas, setiap barisnya menyimpan masing-masing satu frase untuk mengenali kiasan itu; gellang riwata majjekko, anre-anrena to Menre’e, dan atena unnyie. Kiasan dari frase itu, secara berurutan masing-masing; meng (kail), loka (pisang), dan ridi (kuning). Lapis kedua adalah bunyi meng, loka, dan ridi. Bunyi tiga kata itu membawa kita ke lapis selanjutnya, untuk menemukan makna, bunyi meng dalam aksara Bugis ditulis ‘me’, bunyi loka ditulis ‘lo-ka’, dan bunyi ridi ditulis ‘ri-di’.

Untuk menemukan makna elong semua bunyi itu dirangkai menjadi ‘me-lo-ka-ri-di’. Rangkaian bunyi itu jika dibaca menjadi melo’ka ridi yang maknanya ‘aku mencintaimu’.

Jika disederhanakan rumus tiga lapis menyingkap makna sebuah elong maliung bettuanna adalah:
(1) frase ->(2) bunyi -> (3) makna.

Inungeng mapekke’-pekke’
balinna ase’ede,
bali ulu bale.


[Minuman pekat,
kebalikan atas,
kebalikan kepala ikan.]

Setelah melalui proses penyingkapan makna, puisi ini berarti ’saya membencimu’, makna itu ditemukan dari rangkaian kata teng, awa, dan ikko yang jika dituliskan dengan aksara Bugis menjadi ‘te-a-wa-(r)i-ko’, aku tidak mau (benci) padamu. Frase elong itu adalah inungeng mapekke-pekke, balinna ase’ede, dan bali ulu bale. Bunyi yang dihasilkan frase itu adalah teng (teh), awa (bawah), dan ikko (ekor). Bunyi ini jika dituliskan dalam aksara Bugis akan menjadi ‘te-a-wa-(r)i-ko’. Rangkaian aksara Bugis itu bisa juga terbaca teawa (r)iko (aku benci padamu).

Nah, berikut ini satu contoh lagi. Mari kita sama-sama mencoba menemukan makna dari elong tersebut.

Duami uwala sappo,
Wunganna panasae,
Na belo-belona kanukue.


[Dua saja pagarku,
bunga nangka,
dan cat kuku.]




Wunganna panasae merujuk kepada lempu (bunga nangka) jika dituliskan memakai aksara Bugis, kata lempu (bunga nangka) tak berbeda dengan lempu’ (jujur) yaitu ‘le-pu’. Sementara belo-belona kanukue merujuk kepada pacci (daun pewarna kuku) yang jika ditulis sama dengan paccing (bersih) yaitu ‘pa-ci’. Jadi sesungguhnya maksud bait pendek yang mirip haiku itu adalah: hanya dua yang aku jadikan benteng; kejujuran dan kejernihan.

Selain puitis, elong maliung bettuanna juga kelihatan rumit dan berlapis-lapis. Namun jika menemukan rumusnya, puisi ini tidak serumit yang kita duga. Jenis puisi ini betul-betul unik. Sungguh, alangkah pintar orang-orang Bugis (dahulu) menyembunyikan maksudnya. Dan tentu saja, alangkah kreatifnya mereka.

Permainan Bahasa
Sesungguhnya ada pola-pola umum yang paling sering digunakan dalam permainan bahasa orang Bakke. Basa to Bakke biasanya menggunakan tiga macam topik dalam frasenya; 1) yang berhubungan dengan nama daerah atau tempat (geografical), 2) tentang tumbuh-tumbuhan (botanical), dan 3) tentang binatang (zoological). Memang ada beberapa pengecualian, tetapi ketiga topik itulah yang paling sering digunakan.

1. Frase berhubungan dengan nama daerah

Satu contoh frase untuk topik geografis adalah sebagai berikut:

Toddanna Tangka nataro,
toddanna Palangiseng,
nalao purai.


[Di sebelah utara Tangka dia letakkan,
di sebelah utara Palangiseng,
dia akan menyelesaikannya.]

Frase Toddanna Tangka merujuk kepada Lebureng yang juga bisa berarti ‘perawan’ dan frase toddanna Palangiseng merujuk kepada Baringeng yang jika disebut nyaris terdengar ringeng (ringan, murahan). Elong itu kira-kira bermakna, ‘dia mengabaikan seorang perawan lalu menikahi pelacur’. Tangka, Lebureng, Palingeseng, dan Baringeng adalah nama-nama daerah.

Beberapa frase lain yang menggunakan nama-nama daerah adalah:




Masih banyak contoh yang lain untuk frase-frase yang berhubungan dengan nama-nama tempat atau daerah.

2. Frase tumbuh-tumbuhan

Sementara frase-frase yang mengandung tumbuh-tumbuhan, ada beberapa contoh berikut ini:




3. Frase binatang

Dan yang terakhir adalah frase-frase yang berhubungan dengan binatang, di antaranya:




Ternyata bahasa Bugis bisa menjadi permainan yang menarik. Keunikan bahasa seperti itulah yang membuat puisi Bugis menjadi berbeda dibandingkan jenis puisi lainnya. Meski elong maliung bettuanna tak lagi pernah diperkenalkan, meliriknya kembali bisa menjadi alternatif. Puisi Bugis ini bisa menjadi jawaban atas kejenuhan banyak kritikus sastra yang menganggap puisi modern Indonesia diperangkap oleh segelintir nama besar seperti Sapardi Djoko Damono dan Goenawan Mohamad. Kekuatan elong maliung bettuanna adalah ketercapaian dan keseimbangan dua kekuatan, bentuk dan isi, hal yang semakin susah ditemukan oleh penyair kontemporer.

Tak banyak bentuk puisi yang mampu mengawinkan bentuk dan isi seperti yang diperlihatkan oleh elong maliung bettuanna.

Telah disadari oleh para penyair Bugis terdahulu bahwa puisi sangat penting peranannya sehingga harus dibuat sedemikin indahnya. Selain aturan bunyi (fonologi) dan makna (semantik) yang telah dijelaskan di atas, sesungguhnya elong maliung bettuanna juga menarik untuk dilihat dari segi matra (bagan yang digunakan dalam penyusunan baris sajak yang berhubungan dengan jumlah, panjang dan tekanan suku kata), pembentukan kata (morfologi) dan yang tak kalah menarik adalah archaic vocabulary, pemakaian kata-kata Bugis lama yang (mungkin) tak lagi dikenal oleh orang-orang Bugis sekarang ini.

Terbuka banyak pintu untuk masuk dan menikmati elong maliung bettuanna ini. Bagi anda yang ingin menyembunyikan maksud dalam permainan bahasa, tak ada salahnya mengadopsi cara yang digunakan puisi ini. Selain itu, ‘permainan bahasa’ ini mungkin akan membuat Anda mencintai kembali bahasa Bugis. Tapi untuk mencoba mengutak-atik elong, kita dituntut mampu membaca huruf lontara, paham budaya Bugis dan alam pikiran orang Bugis.

Sayang sekali, orang-orang Bugis sekarang tak lagi melihat arti penting sebuah puisi (elong). Berbeda dengan William Shakespeare yang karena puisi signifikan baginya, ia memujinya dalam sebuah soneta yang ia tutup dengan dua baris terakhir: so long as men can breathe or eyes can see,/so long lives this, and this gives lives to thee. Sepanjang manusia masih bernafas, atau mata masih mampu memandang, akan selama itu pula puisi tetap lestari dan ia akan memberimu kehidupan yang bermakna.(p!)


Referensi:
-Fachruddin Ambo Enre, 1983, Ritumpanna Weelenrennge, telaah filologis sebuah Episode Bugis klasik, Jakarta: Universitas Indonesia.

-Goenawan Mohamad, 2004, Setelah Revolusi Tak Ada Lagi, Jakarta: Alvabet.

-Kennedy, J.X, 1991. Literaure: an Introduction to Fiction, Poetry and Drama, (Fifth Edition). New York: harper Collins Publisher.

-Mattulada, 1985, Latoa; satu lukisan analitis terhadap antropologi politik orang Bugis, Yogyakarta: Universitas Gajah Mada

- Muhammad Salim, 1969-71, Transliterasi dan Terjemahan elong Ugi (kajian naskah Bugis), Ujung pandang: Departemen P dan K, Bagian Proyek Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Sulawesi Selatan.

-Muhammad Sikki, dkk, 1978, Terjemahan beberapa naskah lontara Bugis, Ujung Pandang: Balai Penelitian Bahasa.

-Pelras, Christian, 2006, Manusia Bugis, Jakarta: Nalar.

-Perrine, Laurence, 1974, Literatre: Structure, Sound and sense. (Second Edition). New York: Harcourt Brace Javanovisch Inc.

-Rahman Daeng Palallo, 1968, ‘Bahasa Bugis; Dari hal elong maliung bettuanna (pantun jang dalam artinya)’, Bingkisan I.

-Siswantoro, 2002, Apresiasi Puisi-puisi Sastra Inggris, Surakarta: Muhammadiyah University Press.

-Tol, Roger, 1992, ‘Fish Food on a Tree Branch; Hidden Meanings in Bugis Poetry’, Leiden: Bijdragen tot de Taal-land- en Volkenkunde 148 : 82-102.



* Citizen reporter M Aan Mansyur dapat dihubungi melalui email luarkurung@yahoo.co.uk


| Beri Komentar| Jumlah Komentar (44) |

Komentar :

24-01-2009
Dari : fuang ammare' | ammarasad.aimar@gmail.com
jago memeng tau ogi' riolo, macca2 lo...., nappa uwisseng ku engka pakkoro..... :)

09-11-2008
Dari : Thamrin Daeng malimpo | daeng_thamrin@plasa.com
Pekanbaru, November 2008 Selleng maruddani, Eh sininna selesurrenkku ya engkae di tanah pearantauan(somperan g, ta' dampengannga narekko ada-adaku kurang mekkena law ri idi maneng. kokoero saba' jamange de'na napada riwetu riolo, megaini malupai ade-ade'ta nakotopa budaya, mellumiki matuju low ade'na tau Barat, Eropa, So I hope you all the youngster stay learing more abour our Culture. any where. If you want to shere with me, you would sent your mail to:daeng_tamrin@ plasa.dom. Oya teman-teman salam kenal, jika ada literatur tentang Bugis boleh gk kirim-kirim ke kita. karena kita diperatauan sangat jarang sekali mendengar atau mengalami adat istiadat bugis. Saya bisa berbahasa Bugis karena saya pernah Sekolah(SMA) di Bone -/+ 1 Tahun jadi rasanya masih sangat minim tentang pengetahun tgg budaya Bugis. Wassalam

05-10-2008
Dari : ridwan | putra_bgs80@yahoo.com
saya bangga punya keturunan bugis dan masih menjadi bugis sejati. tapi saya sedih dan kurang bangga dengan kelakuan segelintir anak bugis zaman sekarang.. marilah kita sama-sama menjaga nama baik keturunan dan bangsa kita bugis

03-07-2008
Dari : |

03-07-2008
Dari : syukri_b | syukri_b@yahoo.com
Fappatteppu,puisi dan elong adalah sarana komonukasi orang bugis tempo dulu.karena dulu tidak ada televisi,hp atau internet.jadi sarana itulah yang di pakai menarik nenek kita dulu mempererat komunikasi sesama mereka.saya menduga ilham itu terinspirasi oleh tradisi karawitan di jawa dan pantun di tanah melayu.karena budaya rantau orang bugis,biasanya kalau tidak bawa uang "ya,bawa carita.tetapi saya sbg putra,walaupun di cuci dengan air sungai mahakam tetap sebagai orang bugis,merasa bahwa saat ini kita mengalami kemunduran di bidang ekonomi.hasil sawah yang kita nikmati sekarang bukan hasil kita,tapi jerih payah nenek moyang kita.demikian pula perdagangan antar pulau yang pernah di kuasai nenek moyang kita sekarang hanya tinggal kenangan.melalui email ini saya mohon agar kita cari solusi bersama.persatuan dan kebersamaan dengan ikatan 'siri' na 'pacce' harus kita daur ulang.jangan terpengaruh dengan kepentingan politik sesaat.thank,s salamaki,topada salama ri allabuangetta.

19-06-2008
Dari : ANDI.AMIR .REWA | AMIR AJAA.YAHOO.COM
MUNGKING IA TO UGI PALING BANGNGA MEMPUNYAI BAHASA DAERA YANG BEGITU UNIK YG SUKU KATANYA MEMPUNYAI BEBERAPA ARTI YG KADANG KALA MENYIMPANG ARTI YANG TERSEMBUNYI DI BALIK KALIMAT PUISINYA.(IA MONGROKA DI SERANG-BANTENG MAKULIAKA MUPA)TO MASALLEKA LAGO

02-06-2008
Dari : chenk benk | chenk.benk@gmail.com
Saya ingin mengoreksi tulisan Roger Tol yang tentang "basa to Bakke'". Rasanya, Roger Tol terlalu cepat mengambil kesimpulan, To Bakke berada di Soppeng. Sebab Bakke juga ternyata ada di Bone dan merupakan suatu desa yang sangat familiar dengan Kajaolaliddong, cendikiawan kerajaan Bone yang sezaman dengan Arumpone LA TENRI RAWE BONGKANGE dan Arump[one LA ULIYO BOTE’E. Berjarak kira-kira 7 km ke arah selatan kota watampone, yang sebelumnya merupakan kesatuan dari wilayah Desa Wollangi, Padangloang, Desa Laliddong dan Desa Bakke sendiri. "Tongkat" Kajao Laiddong pun konon masih tegak berdiri di Desa Bakke sekarang ini. Yang ingin saya tanyakan, adaklah kemungkinan jika yang dimaksud "basa to Bakke'" itu menujuk Kajaolaliddong sebagai objek? Tantangan bagi sejarawan kita lah untuk membuktikannya. Bukan asal menerima masukan dari luar, yang Roger Tol sendiri belum tentu pernah menginjakkan kakinya di Bakke-Soppeng".

19-05-2008
Dari : idho | mursid_aida@yahoo.com
wuih................ ...terimakasih atas ilmu yang begitu berarti. tetapi yang jadi masalah kita bersama adalah bagaimana menumbuhkan kesadaran dikalangan Tau loloE untuk mencintai bugis dan kebugisannya.

19-03-2008
Dari : chang | cokilay@gmail.com
ini tulisan luar biasa cappo. elong yang familiar sama saya cuma duami wala sappo itu. Pesan untuk tetap jujur dan bersih di manapun kita berada.

16-03-2008
Dari : aco | yatimaulana@gmail.com
wuih...pintar na tauwa aan... terpesona ka baca ki

14-02-2008
Dari : farizal | riszza@yahoo.com
saya mmg bangga mnjadi org bugis..saya adalah minoriti bugis dari johor, malaysia..saya bertambah bangga kerana ada lagi golongan bugis yg ingin mempertahankn bahasa ibunda tersebut..MENYAMENG ATI'

06-11-2007
Dari : Arif Rahmat | dmr[at]codena.co.id
Mega ladde makkukkue tau ugi de' naissengi bettuanna bicara ugi'e. Decenna pada macca maneng moa ma'baca korang (Al-Qur'an), tapi yaro lagi de'naissengi bettuangiwi. [tau ugi, ki juppandang jaji tapi ki bandung monro]

05-10-2007
Dari : ancaxt | asrar_it@yahoo.com
Mantap, kalo bisa ada forum yang membahas atau mempelajari bahasa bugis yang lebih dalam lagi.

13-09-2007
Dari : arei | hanzanakBUGIS@gmail.com
macca memang tu pale to ugie riolo-riolo. lokak sedding magguru uki na ugie.wah saya sangat bangga berasal dari keturunan bugis.selleng ku maneng tu selessureng to ugie. MOHAMMAD ASHARI BIN MALIK. accak ri MALAYSIA. simpang empat; kunak; tawau;

04-09-2007
Dari : ugi_borneo | ugi_borneo@yahoo.com
bangga punya nenek moyang bugis, tapi tidak bangga dengan kelakuan beberapa orang bugis sekarang.

03-09-2007
Dari : Muhammad Iqbal | iqbal_m70@yahoo.com
Makanya saya bangga jadi orang Bugis

15-08-2007
Dari : soeltra | bluishy_gal@yahoo.com
tulisannya mnarik.. :) jd manggut2 sndiri,cerdas mentong pak guruku ;) maksihh...jd ngerti dikit2 bhs asalku

13-08-2007
Dari : ahmad | erio_nhrx@yahoo.co.id
wah...wah macca metto tauwwa to ugi'e nappai ro ia uisseng kada engka pale mappakoro...salut!!

05-08-2007
Dari : arif | aco_bugis@yahoo.com/aco_paotere@plasa.co
keren nih artikelnya, ini nih yg harus dipelajari oleh kita generasi muda sul-sel. btw, penulis ini doctor dibidang sastra yah? really two tumbs up fro him!

09-07-2007
Dari : Abhy | habibi_kid@yahoo.com
assalamu alaikum... Cebbo'ka iya'... Nappanna engka ubaca mappakkue... Salut..salut..salut salam kenal untuk semua silesureng Ogiku ri makassar, Makkukkue engkaka okko Pontianak, tennia pato eganna Ogi okkoe. Namoni de nengka nalejjai tana Ogi (mereka asli keturunan bugis)tapi makessing mopa bicara ogina... Kita orang Bugis harus bangga, karena dimana-mana kita di hormati orang... Ewako Sidrap...Hidup Nene Mallomo.. Malilu sipakainge, rebba sipatokkong,Mali siparappe Wassalam

22-06-2007
Dari : ammi | epponabacobetta@yahoo.co.id
Tanpa terasa mallinangngi uwwae matakku.ternyata sudah lama sy hidup dikampng halaman orang.kalau ditanya"Asal Mana?dengan bangga sy menjawab"Bone,sy orang bugis".Beberapa orang manado,memang masih mengerutkan dahi mendengarnya,seakan- akan masih asing dg kota tercinta sy ini.Tp biarlaah...ini tanggunp jawab saya u memberitahu mereka.Orang bugis memeng pandai menyembunyikan maksud.Maraja Siri.

21-06-2007
Dari : Bugis Turunan | bugisturunan@yahoo.com
Orang bugis dahulukala, macca mabbicara deceng. Orang bugiskini macca bicara-belle. Orang bugis yang sedang berkuasa, macapila belle-na. Pintar melindungi siri'na alias kurang siri', biar konyol bicaranya yang penting berjamaah - menjamah barang yang bukan haknya. Orang bugis dahulukala, meninggalkan sureq i la galigo. Orang bugiskini meninggalkan Ruko dan proyek taman kanak-kanak pantai losari. Kalau mau lihat realitas kekonyolan birokrasi pemerintahnya, lihatlah realitas lalu- lintas jalanan kotanya. Hebat bukan? Tapi maaf kalau "Aku" yang lewat dijalanan kota ini, poraider selalu menuntun lalulintasku. maaf! kota makassar adalah jelmaan dari bisikan investor yang menguntungkan investornya dan penguasanya. "Hai orang miskin pergi dari kota ini, karena kota ini di buat bukan untukmu!" Maafku 2007, bugisturunan.

06-06-2007
Dari : ani | harniati_sham@yahoo.com.my
iyya'marennuka na'engka oki ugi,orang tua ku bilang idi tau ugi'e asiriseng mi'ri onroang ri linoe apakah itu betul saya tulis.saya juga masih bisa baca oki ugi walaupun di besarkan di malaysia

29-05-2007
Dari : akhmar | a_akhmar@yahoo.com
Beberapa hasil penelitian puisi Bugis, seringkali mengangkat potongan elong yang Anda angkat. Penafsirannya selalu sama. Apakah puisi Bugis selalu menyajikan makna sama pada setiap pembacanya?

29-05-2007
Dari : mila | bricmild@yahoo.com
salam kenal teman-teman makassar. puisi itu indah..

29-05-2007
Dari : yahya | nakgagana_makassar@yahoo.com
daeng aan. sy mo tanyaki ini cess. sy pernah dengar salah satu mungkin ini juga adalah sebuah puisi bugis. tapi sy mo tau maknanya. mudah2an aan bisa kasih sy jawabannya nah. tolong ka kasi'. " tellabu matanna essoe ritengngana batarae ".

22-05-2007
Dari : ari | ari@muamalatbank.com
makessing siseng, sulessureng !!!

19-05-2007
Dari : sultan arifin |
Saya orang Makassar asli.tapi aku cinta banget dengan orang Bugis.Eh, doi ku orang bugis asli lho, cakepnya, tapi kelebihannya adalah tutur bahasanya alus banget.Meski doi' panai'nya mahal minta ampun, ah aku tidak gentar, Insya Allah kulamar tahun ini. Mohon doa restunya.

08-05-2007
Dari : hamran sunu |
Kak Aan, tulisannya agak ilmiah. Kalau sudah begini,Kak Aan bukan lagi jurnalis orang biasa, tapi jurnalis luar biasa! Salut buat Kak Aan. Baca tulisannya bikin minder, betapa menjadi "orang biasa" itu bisa bikin kita merdeka utuk mengungkapkan apa pun, yang pelik dan bersahaja, yang radikal, atau yang awam. Tanpa mesti didikte.

08-05-2007
Dari : mappaware | worowane@yahoo.com
Saya tahu orang Bugis memang pintar,halus budi pekertinya,tinggi rasa seninya,tercermin dari elong2nya nan indah dan memukau. Makanya identitas Bugis dgn bangga saya sandang dengan bangga hingga hari ini. Tidak seperti dengan mayoritas saudara Bugisku yang lain,sudah merasa modern kalau nama Jawa,nama asing yang lain yang diberikan kepada putra putrinya. Kasi'na,tau maling rekeng,mita anu baru.

16-04-2007
Dari : opik | kurobuta_wombat@yahoo.com
luar biasa kak aan martan mansyur tanpa "rahim". what next bro.

15-04-2007
Dari : achank' dj | heryazhar@yahoo.com
saya terkesima ketika membaca tulisan ini, apalagi ketika saya membaca tulisan ini saya sedang mendengarkan alunan Tuddung Pa'ganjara (maaf kalo saya salah tulis!). Sungguh saya langsung malu merasa sebagai orang Bugis namun hanya dapat berbicara seadanya dalam bahasa Bugis(tapi wajar karena saya besar di kota). Satu ji moka bilang..: "Cerdas ces!"

12-04-2007
Dari : natsir | natsir_battoa@yahoo.com
Salam kenal ya aq asli bugis lho dan teringat masa smp dulu kalau diajarin basa ugi eh teman teman pada lari keluar tapi aq malah senang banget dan alhamdulillah sampai saat ini msh bisa sedikit baca oki ogi dan terima kasih pada panyingkul atas dimuatnya tulisan seperti ini.Semoga kedepan lebih banyak saudara kita yang mengakses dan mempelajari basa ugi

10-04-2007
Dari : sm |
"E dede sangkama leba ki dare!" "Tabe katte, na malo anne dareka!" Hahahaa....

14-02-2007
Dari : anchu | makdika@yahoo.com
senag, sangat senang. very happy... ada tulisan tentang aksara Lontara. Ini adalah identitas kita, harusnya patut kita syukuri moyang kita telah membuat pondasi peradaban yg sangat meodern, sayangnya generasinya tidak menanmkan rasa cinta pada peradaban nenek moyang mereka. Jepang, China, India, Arab dan Eropa membangun peradaban diatas pondasi yg telah dibangun nenek moyang mereka... Lalu kita..... Apakah para pembaca panyingkul juga masih bisa membaca peninggalan moyang mereka?

09-02-2007
Dari : idham | idham_4@yahoo.co.id
Saya Bangga sekali dengan adanya artikel-artikel tentang bahasa bugis,semoga bahasa bugis tetap lestari sebagai bahasa daerah orang bugis walaupun sekarang putra-putri kelahiran bugis sudah jarang memperhatikannya.Res opa Temmangingngi Malomo Naletei Pammase Dewata.Ewako Tau Ogi na Pangkajene SIDRAP.

23-01-2007
Dari : Rasjid | rasjid.amin@t-online.de
Munkin karena masih terpukau oleh tulisan Pak Aan, sampai menulis alamat yang tidak lengkap

23-01-2007
Dari : Rasjid | rasjid.amin@t-online.
Pembahasan yang hebat ! Pak AAn, saya salut atas tulisan anda. Saya meliwatkan waktu lebih satu jam hanya untuk membaca dan berusaha mengerti sedikit apa yang anda sajikan itu.

23-01-2007
Dari : adda | axedark_doang@yahoo.com
Waktu saya masih SD dan SMP,masih sempat di ajarkan elong maliung bettuanna di atas terutama dalam pelajaran bahsa daerah bahkan selingan di antara pelajaran-pelajaran lain,menarik sekali,bahkan setelah beberapa tahun masih teringat dan sebagian di antaranya merupakan nilai-nilai yang di pegang oleh orang bugis,mudah-mudahan sekarang pun elong maliung bettuanna di atas masih di ajarkan ke anak-anak sehingga nilai-nilai budaya tetap lestari

23-01-2007
Dari : tommy | tompart56@yahoo.com
Membaca tulisan ini , saya teringat sewaktu SMP dimana saya diajarkan bahasa Bugis ( tahun 1970 an ) oleh ibu guru yang sangat disiplin dalam mengeja lafal2 bahasa Bugis) Terima kasih tulisannya,saya tertawa sendiri membacanya sebab teringat saat salah mengeja huruf dan cuping telinga yang jadi sasaran ibu guru.

22-01-2007
Dari : rahman | massandala_siwali@yahoo.co.id
ga nyangka kalau leluhur kita ternyata ahli bahasa juga,,, bangga jadi orang bugis

22-01-2007
Dari : Sammy Lee | lee_sammy@telpacific.com.au
Wah, sungguh ruar biasa! Kagum dan bangga saya, Pak Aaan! Sayang usiaku sudah terlalu senja. Rasanya sangat kepengen menyelidiki lebih banyak kekayaan kebudayaan bangsa kita, terutama suku bugis. Wow! Nyata lebih hebat dari William Shakespeare punya karya, di? Saya teringat banyak tahun yang lalu, hehe, mungkin lebih tepat saya mengatakan, sudah lupa tahun berapa kejadian ini, dan saya tidak pasti yang mana, entah Christian Pelras atau Roger Tol, mungkin ada yang dapat menolong mengingatkan saya, tapi satu kali ada seorang bule yang badannya berbulu lebat sekali naik bis DAMRI dari Jalan Pelabuhan menuju ke jalan Maros. Ketika naik ke bis itu beberapa ibu-ibu berbisik kepada satu sama lain, "E dede sangkama leba ki dare!" (Wah, persis seperti monyet tampaknya!" Si Bule itu diam saja dan duduk di bangku paling belakang. Kemudian ketika tiba di Jl. Maros dia mau turun. Melewati ibu-ibu yang memberikan komentar tadi, si tamu asing, yang rupanya adalah seorang ahli bahasa daerah Bugis dan Makassar, berkata dengan sangat lancar dan dengan suara yang cukup keras untuk didengar semua yang dibis itu: "Tabe katte, na malo anne dareka!" Saya perhatikan semua ibu-ibu itu menjadi merah dan ada yang malah pucat mukanya menahan malu. Saya boleh bayangkan mungkin kalu boleh mereka ingin masuk kekolong tempat duduk mereka bersembunyi waktu itu.

22-01-2007
Dari : isdah | is_dhot@yahoo.com
oh iya, numpang beken. Pekenalkan saya isdah...orang bugis. Bangga dong punya leluhur yang yang pintar (ternyata) memainkan "bahasa" menjadi puisi yang indah nian... Nda rugika bergabung dalam bugis mafia di tanah melbourne ini.

22-01-2007
Dari : isda | is_dhot@yahoo.com
maccamu an, Mangaku ka iya, kasian!!!!



 :: CITIZEN REPORTER
Makassar di Panyingkul!: Sebuah Persembahan
(Kamis, 12-07-2007)
Ayo Bergabung di Panyingkul!
(Minggu, 29-04-2007)
Catatan Sederhana Para Citizen Reporter
(Selasa, 31-10-2006)
Tentang Citizen Reporter dan Rubrik di Panyingkul!
(Rabu, 11-10-2006)
Riuh Rendah di Panyingkul!
(Rabu, 16-08-2006)

Untitled Document
 :: DUNIA SEGIEMPAT KAREBOSI






 :: PILKADA




 :: ALBUM PUASA 2008




Untitled Document
 :: KONTAK TIM PANYINGKUL!

Email:

redaksi@panyingkul.com

Makassar:

Nilam Indahsari +62 81 241 229 089
M. Aan Mansyur +62 411-586459

Jakarta
Moch. Hasymi  +62 811 955 954



© Juni 2006 - Panyingkul.com All Rights Reserved
Desain Web : Nesia Andriana -- Supported by: Yuhardin