|
|
| . |
| ::
|
| Minggu, 06-05-2007 | Klub Para Ayah, Demi Anak dan Negara :: Farid M. Ibrahim ::
| Lelaki Jepang sebagian besar menyerahkan urusan rumah tangga kepada istri. Waktu untuk bermain bersama anak sangat sedikit. Foto: Farid M Ibrahim.
Mengasuh anak bukan sepenuhnya urusan perempuan. Demikian antara lain tuntutan kesetaraan peran sosial antara laki-laki dan perempuan yang makin kuat didengungkan di mana-mana. Di Jepang, negara yang sistem sosialnya masih sangat patriarkis, tengah berlangsung upaya pemerintah daerah dan sekolah untuk mengajak para ayah lebih berperan mengasuh anak, melalui program Oyaji no Kai atau Klub Para Ayah. Berikut laporan citizen reporter Farid M. Ibrahim. | Di SD Aburamen, di kawasan Meguro, Tokyo, secara berkala berlangsung berbagai kegiatan antara ayah dan para murid, yang diadakan oleh Klub Para Ayah atau Oyaji no Kai. Klub ini semata-mata mengadakan kegiatan untuk para ayah, sebagai respon atas makin minimnya waktu dan perhatian yang diberikan seorang ayah kepada anak-anaknya. Berkebun, mengadakan pertandingan olahraga atau berkemah di halaman sekolah, adalah kegiatan yang sering diadakan.
Selain pihak sekolah, yang turut campur tangan dalam urusan ini adalah pemerintah daerah, yang membantu pembentukan klub semacam ini di berbagai wilayah. Pemerintah Jepang memang resah pada kondisi sosial di mana lelaki sangat minim terlibat dalam urusan pengasuhan anak.
Sebuah riset yang diadakan oleh Kementrian Pendidikan Jepang pada bulan Agustus 2006 menunjukkan bahwa kaum lelaki hanya menghabiskan rata-rata 3,1 jam per hari bersama anak, yang merupakan terendah dibandingkan negara maju lainnya. Sementara para ibu di Jepang, berinteraksi dengan anak minimal 7,6 jam sehari
Michio Kashakuma, pendiri Oyaji no Kai di SD Aburamen adalah sedikit dari kaum lelaki yang sadar betapa pentingnya meluangkan waktu secara khusus bagi anak-anak. Tapi dikatakannya, tidak mudah untuk menarik minat para ayah untuk peduli. Setelah pembentukan klub ini lima tahun lalu, hanya 15 bapak yang mendaftar dan aktif terlibat. Alasan umumnya, “Mereka terlalu lelah bekerja dan ingin betul-betul istirahat di hari Sabtu dan Minggu. Jadi banyak yang tidak bisa bermain dengan anak-anaknya,” jelas Kashakuma.
Dalam enam tahun terakhir, klub para ayah semacam ini memang sudah muncul satu-satu di Jepang. Bahkan dua tahun lalu, telah dideklarasikan sebuah organisasi yang bersifat nasional bernama “Nippon Oyaji”, yang menjadi wadah bertukar informasi antar-klub dan juga untuk menggalakkan kampanye agar kaum lelaki lebih aktif terlibat dalam urusan rumah dan pengasuhan anak.
Salah seorang anggota Oyaji no Kai di SD Aburamen, Masayuki Iwata, menjelaskan bahwa “quality time” antara ayah dan anak adalah penting, dan di dalam klub semacam ini para ayah tidak hanya peduli pada perkembangan anak, tapi juga persoalan lingkungan sekitar, misalnya penyusunan keamanan di jalan bagi anak-anak yang pergi dan pulang sekolah.
Professor Masami Ohinata, pakar sosiologi pada Universitas Keisen University, dalam wawancaranya dengan NHK menjelaskan bahwa kini pola pikir lelaki Jepang yang berusia 20 atau 30-an tahun secara perlahan telah mengalami perubahan. Mereka lebih mudah menerima ide tentang peran setara lelaki dan perempuan di tengah masyarakat, dan lebih terbuka untuk mulai membagi tugas rumah tangga secara adil. “Lelaki Jepang dikenal sebagai pekerja keras sejak dulu. Mereka ibarat lebah pekerja, yang seolah-olah hidup hanya untuk bekerja, dan menomorduakan keluarga. Inilah stereotipenya. Tapi generasi muda sudah mulai berubah.”
Meski di SD Aburamen, klub para ayah anggotanya belumlah begitu banyak, tapi baik Kashakuma dan Iwata --dua ayah yang mengampanyekan kegiatan in-- yakin bahwa semakin lama, masyarakat akan semakin mendukung kegiatan ini. Sementara di sekolah lainnya, misalnya di SD Chuo Higashi, Provinsi Saitama, jumlah ayah yang tergabung dalam klub ini jumlahnya telah melampaui 40 orang. Kegiatan yang menjadi pilihan antara lain memelihara hewan ternak di kandang yang disiapkan sekolah atau berkemah. Di sekolah lain, para ayah setuju mengikuti program yang disebut hachi-san atau delapan-tiga yakni menyempatkan diri terlibat mengantar anak sekolah pada pukul 8 pagi, dan menjemput anak pukul 3 sore. Bila tidak sempat mengantar dan menjemput, para ayah diimbau setidaknya menunjukkan perhatian pada anak setidaknya dua kali sehari, pada waktu berangkat dan sepulang sekolah.
Upaya untuk mengajak kaum lelaki ikut menanggung beban keluarga melalui kegiatan klub para ayah sekilas tampak sederhana. Tapi bila dirunut lebih jauh, Jepang memang mengalami persoalan kependudukan yang luar biasa serius, dan hanya bisa diatasi dengan memberi ruang yang lebih ramah bagi para keluarga untuk membesarkan anak.
Sebagai ilustrasi, lelaki Jepang, khususnya para “salaryman” yang membenamkan diri pada pekerjaan kantor yang bertumpuk dengan jam kerja yang sangat panjang, sudah merasa cukup menjalankan peran sebagai ayah dengan mencari uang kemudian menyerahkan seluruh urusan rumah tangga dan anak kepada isteri. Anggapan bahwa pekerjaan adalah nomor satu, dan keluarga adalah nomor sekian, dalam tingkatan tertentu masih berlaku di tengah masyarakat Jepang.
Di pihak lain, perempuan yang makin mendapatkan kesempatan di ruang publik, tetap harus dihadapkan pada pilihan berat ketika memutuskan berumah tangga dan memiliki anak. Penitipan anak sangat terbatas dan mahal, sementara belum banyak institusi yang sepenuh hati mendukung ibu yang bekerja, dalam bentuk memberikan jam kerja yang fleksibel atau pun kebijakan bekerja dari rumah.
Survei yang diadakan Lembaga Riset Populasi dan Jaminan Sosial Jepang bulan Juni lalu terhadap lebih dari 7.000 perempuan yang telah menikah menunjukkan bahwa lebih dari separuh dari mereka ingin memiliki lebih banyak anak jika suami mereka bersedia ikut terjun dalam urusan rumah tangga dan pengasuhan anak. Bagi pemerintah Jepang, ini lagi-lagi sebuah alarm yang patut diperhatikan dan dicarikan jalan keluar, setelah negara ini pusing tujuh keliling menghadapi rendahnya angka kelahiran dan populasi yang terus menua.
Ancaman ketidakseimbangan populasi bisa menimbulkan berbagai persoalan sosial, dan akar persoalannya pun makin terkuak: beban urusan rumah tangga dan pengasuhan anak yang selama ini ditaruh ke pundak kaum perempuan semata. (p!)
*Citizen reporter Farid M. Ibrahim dapat dihubungi melalui email gakusei70@gmail.com
|
| | Jumlah
Komentar (14) |
|
| Komentar :
07-07-2010 Dari : Rauf | Abdul.Rauf@valeinco.com Artikel yang
menarik, tuntutan
akan standard hidup
yang tinggi di
jepang membuat orang
tua harus bekerja
keras (suami Istri)
sehingga waktu untuk
anak mengurus anak
tidak ada. Salam
untuk Mas
Upik....sukses
selalu 25-09-2009 Dari : Mamba | abdul_rimamba@yahoo.cm Sallang doang
papikatungku,
u'rangi tongi
silajara bos. 08-08-2009 Dari : app | palattae09@yahoo.co.id Dua anak cukup,
Tambah banyak anak
tambah banyak
rejeki........ 09-05-2009 Dari : cOshjNFWztlQhHwjUWZ | wghmrm@mtsbyh.com 6z1R6l
ygdodotaflyx,
[url=http://imkazlst
ryrz.com/]imkazlstry
rz[/url],
[link=http://sbfabdn
fvszn.com/]sbfabdnfv
szn[/link],
http://okoczjczeswa.
com/ 27-03-2009 Dari : tiar | andibachtiar_yusuf@yahoo.com Hai sobat,salam
jumpa. Dari temanmu
dijogja yg lagi
pendidikan.Masih
ingat masa-masa kita
kuliah yang
duduk-duduk didepan
fis III sambil
naksir anak-anak
ekonomi atau
sastra.Kapan balik
kemakassar?
......(udah dulu
yah) 17-01-2009 Dari : zulfikar marzuki ibrahim | zulmaannisa@yahoo.com wow hebat skali
tulisannya daeng
upik...jangankan
dikota besar seperti
jakarta di
makassarPUN untuk
urusan mengurus anak
para ayah seakan
alergi! dan yang
paling lucu apabila
sang anak bisa buat
kagum maka sang
ayahpun dengan
bangganya mengatakan
"SIAPA DULU DONG
BAPAKNYA" dan
sbaliknya jika
sianak buat salah
maka tau sendiri
khan kambing
hitamnya...hehehe...
padahal kalo mau
jujur pembentukan
karakter anak salah
satunya tergantung
dari ke2 orang
tuanya bukan dari
siapa-siapa. bravo
Oyaji no Kai. 10-11-2008 Dari : Arshantika | arshantika@gmail.com yak setuju.....
bikin anak kan
berdua, masa
mengurus anak urusan
istri aja, ya harus
berdua dong..!
Memberi perhatian
pada anak sejak dini
membuat anak akan
membalas memberi
perhatian pada orang
tuanya ketika dia
bisa mandiri dan
orang tuanya sudah
tua/berumur...
(ikutan gabung
dong...) 21-08-2008 Dari : Kusno Kamil | unnoku@yahoo.com Thanks God, sebentar
lagi saya bisa
gabung di klub
ini... sekarang
sedang asyik2nya
jadi house husband
dan nemanin my 5 yrs
daughter di setiap
aktifitasnya.
Kadang2 rasanya
lucu, kalo ngantar
anak main di Kodomo
Room, I am the only
man in the room ....
Tapi hati saya
kembali tenang
ketika mengingat
sabda Rasul : Jika
seorang perempuan
masuk neraka, maka
dia akan menarik 5
laki2 bersamanya,
Suaminya, Bapaknya,
Saudara laki2nya dan
anak laki2nya...
Naudzubillah min
zalik... I HAVE TO
take a part in this
nurturing and caring
role, this is one of
my biggest
responsibilities ...
26-06-2008 Dari : yuan | yuancaem@yahoo.co.id saya sngt setuju
sekali dengan
hal-hal yang seperti
ini karena di mana
bukan hanya
perempuan saja yang
punya tanggung jawab
dalam mengurus anak
tetapi laki-laki pun
punya tanggung jawab
yang besar 14-02-2008 Dari : Aneera | dbe2surabaya@yahoo.com Sudah saatnya para
ayah, daddy, papa,
tata', abi, bapak,
pak, papi untuk
sadar bahwa anak
bukan hanya urusan
ibu, mommy, mama,
amma, ummi, mak,
mami. Toh anak
adalah hasil dari
andil 2 orang
berjenis kelamin
wanita n pria yang
normalnya telah
ber'commitment' tuk
mengarungi bahtera
rumah tangga yang
anggotanya akan ada
kalau normal minimal
1 orang anak.
Zaman sudah menuntut
partisipasi kaum
pria untuk mengasuh
anak, demi
menciptakan keluarga
yang sakinah n cukup
kebutuhan jasmani n
rohani. Sudah banyak
kok yang sudah
menjalaninya tanpa
beban! Malah
menyenangkan, kata
mitra dalam rumah
tangga saya yang
berkarir untuk
pembangunan manusia
Indonesia. 10-12-2007 Dari : sukma | princess.annisa@gmail.com Menyambung komentar
dari Halim, saya
juga termasuk
keluarga muda, punya
1 anak umur 1,7
bulan. Saya dan
suami bekerja
mencukupi kebutuhan
keluarga untuk hidup
di kota metropolitan
Jakarta ini. Saya gk
bisa nitip anak saya
diasuh oleh ortu
atau mertua yang
sekarang ini tinggal
di Makassar seperti
kebanyakan yg
dilakukan oleh
pasangan muda
sekrang. Karena
tidak tega lagi
melihat anak saya di
titipkan di TPA,
akhirnya akhir tahun
ini saya memutuskan
berhenti berkarier
di kantor dan pindah
bekerja di rumah
sehingga bisa dekat
dengan anak saya.
Saya memilih
menjalankan bisnis
online di rumah
sebagai solusi
masalah kami. Semoga
bisa jadi inspirasi
buat keluarga muda
lainnya.
Regards,
Sukmasari
http://www.sukmasari
.blogspot.com/
www.nadirahouse.com 09-05-2007 Dari : agusdaeng | nampaknya seluruh
tatanan masyarakat
sedang retak-retak
dan membentuk diri
kembali mengikuti
alur yang baru dan
lebih
terdiferensiasi,
maka hampir tidak
mungkin kita melihat
pola tunggal yang
dominan mengenai
hubungan pria dan
wanita. kita semua
sedang bergerak ke
arah suatu periode
lahirnya berbagai
struktur keluarga
yang lebih seimbang,
yang di dalamnya
menunjukkan suatu
keanekaragaman
hubungan pria-wanita
yang jauh lebih luas
dan barangkali akan
membuat kejutan pd
masyarakat
tradisionalis. saya
tambaiki
lagi...baru-baru ini
saya juga
menyaksikan sepasang
suami-isteri muda di
sebuah restoran.
sang suami
mengenakan
penggendong bayi di
dadanya. si bayi
nampak seolah sedang
menyusu. Ibunya yang
masih muda belia
duduk di sampingnya.
Ide "menjadi
orangtua" merupakan
tanggung jawab yang
dipikul dan
dinikmati bersama.
jadi bukan hanya di
Jepang, tapi sudah
mulai berakar dan
merambah ke berbagai
wilayah. Cuman perlu
juga pria-wanita
menyadari akan
batasan kodratnya,
agar tidak lahir
tuntutan kesetaraan
gender yg salah
kaprah. 08-05-2007 Dari : nida | miksmaks19@yahoo.co.id SETUJU..he..he...he.
.saya sependapat dgn
urain kak Farid
bahwa beban
pengasuhan anak
hanya di bebankan
pada perempuan
(umumnya
bregitu..tapi ada
juga tawwa FEMINSME
LAKI-LAKI). Dan ,
perlu tambahan
lagi..bahwa kalau
negara mau
memperbanyak
populasi...harus ada
jaminan untuk
kesehatan ibu dan
anak, serta
tunjangan melahirkan
dan rawat pasca
melahirkan. masih
ada lagi, tunjangan
untuk anak 1-3 harus
dijamin negara.
Ok...!!! 06-05-2007 Dari : halim hd. | halimhade@yahoo.com ini bukan mau
bongkar soal
'rahasia keluarga'.
ini bisa juga jadi
bandingan, bahwa di
jakarta juga sudah
banyak terjadi,
bahkan isteri dan
suami jarang ketemu
anak, dan anak
diasuh oleh baby
sitter atau
pengasuh, dan ada
juga anaknya yang
diasuh oleh teve!
itulah yang terjadi
pada sementara
keluarga muda di
jakarta, termasuk
beberapa adik dan
sepupu saya. saya
kaget dengan
kehidupan adik saya
yang profesional,
suami-isteri, yang
harus berangkat ke
kantor dan untuk
menghindari
kemacetan, dia
berangkat pagi-pagi
bersama isterinya,
dan pulang setelah
anak tidur.
bayangkan! itulah
demi 'karier'.
akhirnya anak lebih
akrab dengan baby
sitter, dan tak
jarang baby sitter
menyerahkan sang
anak kepada teve:
nonton bareng! |
|
|
|
|
| ::
CITIZEN REPORTER |
 | (Kamis, 12-07-2007) |  | (Minggu, 29-04-2007) |  | (Selasa, 31-10-2006) |  | (Rabu, 11-10-2006) |  | (Rabu, 16-08-2006) | |
|
Untitled Document
| ::
DUNIA SEGIEMPAT KAREBOSI |
|
Untitled Document
| ::
KONTAK TIM PANYINGKUL! |
Email Redaksi :
redaksi@panyingkul.com
Tim:
yus@panyingkul.com
+62 813 226 80844
Moch. Hasymi
+62 811 955 954
|
|
|