Untitled Document
 


Untitled Document
.KITAKITA
:: Jika Anda di Panyingkul ::
 
 KABAR KITA
 
 BERANDAKITA
Kegilaan, Dari Cinta Mati di Pulau Rajuni Hingga Riwayat Kadang
:: Ivan Firdaus ::
Baba Guru, Mengenang Film Rhoma Irama di Klenteng Galesong
:: Kamaruddin Azis ::
Mengagumi Tenun Troso, Mengenang Tenun Sengkang
:: Suryadin Laoddang ::
Perempuan Besi di Gunung Perak (2-selesai)
:: M. Aan Mansyur ::
Perempuan Besi di Gunung Perak (1)
:: M. Aan Mansyur ::
 
 RISETKITA
Rasa Takut : Yang Dicitrakan, Yang Dipelihara
:: Aria W. Yudhistira ::
Risetkita: Pramoedya versus Sejarah Resmi
:: Nurhady Sirimorok ::
Hikayat Rumpon Nelayan Mandar
:: Muhammad Ridwan Alimuddin ::
Di Makassar Pernah Ada “Negeri Wajo”
:: Nurhady Sirimorok ::
Surat Itu Ditulis Upas kepada September
:: Nurhady Sirimorok ::
 
 BUKUKITA
 
 KATAKOTAKITA
Kenapa si Gondrong yang Maju?
:: Ivan Firdaus dan Mustamin al-Mandary ::
Karena ‘Rewa’ Badan Binasa
:: Sudirman Nasir ::
Yang Okkot, yang Salah Sambung
:: Nursamsu danTusiana Noor Alfisyahr ::
Kandala`ka`, Kusta Bila Dusta
:: Panyingkul ::
Ayo, Si(ng)kat Terussss..!
:: Panyingkul! ::

 
 TAHUKAHKITA
 

.
 ::
Minggu, 06-05-2007 
Klub Para Ayah, Demi Anak dan Negara
:: Farid M. Ibrahim ::


Lelaki Jepang sebagian besar menyerahkan urusan rumah tangga kepada istri.
Waktu untuk bermain bersama anak sangat sedikit.
Foto: Farid M Ibrahim.


Mengasuh anak bukan sepenuhnya urusan perempuan. Demikian antara lain tuntutan kesetaraan peran sosial antara laki-laki dan perempuan yang makin kuat didengungkan di mana-mana. Di Jepang, negara yang sistem sosialnya masih sangat patriarkis, tengah berlangsung upaya pemerintah daerah dan sekolah untuk mengajak para ayah lebih berperan mengasuh anak, melalui program Oyaji no Kai atau Klub Para Ayah. Berikut laporan citizen reporter Farid M. Ibrahim.
 

Di SD Aburamen, di kawasan Meguro, Tokyo, secara berkala berlangsung berbagai kegiatan antara ayah dan para murid, yang diadakan oleh Klub Para Ayah atau Oyaji no Kai. Klub ini semata-mata mengadakan kegiatan untuk para ayah, sebagai respon atas makin minimnya waktu dan perhatian yang diberikan seorang ayah kepada anak-anaknya. Berkebun, mengadakan pertandingan olahraga atau berkemah di halaman sekolah, adalah kegiatan yang sering diadakan.

Selain pihak sekolah, yang turut campur tangan dalam urusan ini adalah pemerintah daerah, yang membantu pembentukan klub semacam ini di berbagai wilayah. Pemerintah Jepang memang resah pada kondisi sosial di mana lelaki sangat minim terlibat dalam urusan pengasuhan anak.

Sebuah riset yang diadakan oleh Kementrian Pendidikan Jepang pada bulan Agustus 2006 menunjukkan bahwa kaum lelaki hanya menghabiskan rata-rata 3,1 jam per hari bersama anak, yang merupakan terendah dibandingkan negara maju lainnya. Sementara para ibu di Jepang, berinteraksi dengan anak minimal 7,6 jam sehari

Michio Kashakuma, pendiri Oyaji no Kai di SD Aburamen adalah sedikit dari kaum lelaki yang sadar betapa pentingnya meluangkan waktu secara khusus bagi anak-anak. Tapi dikatakannya, tidak mudah untuk menarik minat para ayah untuk peduli. Setelah pembentukan klub ini lima tahun lalu, hanya 15 bapak yang mendaftar dan aktif terlibat. Alasan umumnya, “Mereka terlalu lelah bekerja dan ingin betul-betul istirahat di hari Sabtu dan Minggu. Jadi banyak yang tidak bisa bermain dengan anak-anaknya,” jelas Kashakuma.

Dalam enam tahun terakhir, klub para ayah semacam ini memang sudah muncul satu-satu di Jepang. Bahkan dua tahun lalu, telah dideklarasikan sebuah organisasi yang bersifat nasional bernama “Nippon Oyaji”, yang menjadi wadah bertukar informasi antar-klub dan juga untuk menggalakkan kampanye agar kaum lelaki lebih aktif terlibat dalam urusan rumah dan pengasuhan anak.

Salah seorang anggota Oyaji no Kai di SD Aburamen, Masayuki Iwata, menjelaskan bahwa “quality time” antara ayah dan anak adalah penting, dan di dalam klub semacam ini para ayah tidak hanya peduli pada perkembangan anak, tapi juga persoalan lingkungan sekitar, misalnya penyusunan keamanan di jalan bagi anak-anak yang pergi dan pulang sekolah.

Professor Masami Ohinata, pakar sosiologi pada Universitas Keisen University, dalam wawancaranya dengan NHK menjelaskan bahwa kini pola pikir lelaki Jepang yang berusia 20 atau 30-an tahun secara perlahan telah mengalami perubahan. Mereka lebih mudah menerima ide tentang peran setara lelaki dan perempuan di tengah masyarakat, dan lebih terbuka untuk mulai membagi tugas rumah tangga secara adil. “Lelaki Jepang dikenal sebagai pekerja keras sejak dulu. Mereka ibarat lebah pekerja, yang seolah-olah hidup hanya untuk bekerja, dan menomorduakan keluarga. Inilah stereotipenya. Tapi generasi muda sudah mulai berubah.”

Meski di SD Aburamen, klub para ayah anggotanya belumlah begitu banyak, tapi baik Kashakuma dan Iwata --dua ayah yang mengampanyekan kegiatan in-- yakin bahwa semakin lama, masyarakat akan semakin mendukung kegiatan ini. Sementara di sekolah lainnya, misalnya di SD Chuo Higashi, Provinsi Saitama, jumlah ayah yang tergabung dalam klub ini jumlahnya telah melampaui 40 orang. Kegiatan yang menjadi pilihan antara lain memelihara hewan ternak di kandang yang disiapkan sekolah atau berkemah. Di sekolah lain, para ayah setuju mengikuti program yang disebut hachi-san atau delapan-tiga yakni menyempatkan diri terlibat mengantar anak sekolah pada pukul 8 pagi, dan menjemput anak pukul 3 sore. Bila tidak sempat mengantar dan menjemput, para ayah diimbau setidaknya menunjukkan perhatian pada anak setidaknya dua kali sehari, pada waktu berangkat dan sepulang sekolah.


Upaya untuk mengajak kaum lelaki ikut menanggung beban keluarga melalui kegiatan klub para ayah sekilas tampak sederhana. Tapi bila dirunut lebih jauh, Jepang memang mengalami persoalan kependudukan yang luar biasa serius, dan hanya bisa diatasi dengan memberi ruang yang lebih ramah bagi para keluarga untuk membesarkan anak.

Sebagai ilustrasi, lelaki Jepang, khususnya para “salaryman” yang membenamkan diri pada pekerjaan kantor yang bertumpuk dengan jam kerja yang sangat panjang, sudah merasa cukup menjalankan peran sebagai ayah dengan mencari uang kemudian menyerahkan seluruh urusan rumah tangga dan anak kepada isteri. Anggapan bahwa pekerjaan adalah nomor satu, dan keluarga adalah nomor sekian, dalam tingkatan tertentu masih berlaku di tengah masyarakat Jepang.

Di pihak lain, perempuan yang makin mendapatkan kesempatan di ruang publik, tetap harus dihadapkan pada pilihan berat ketika memutuskan berumah tangga dan memiliki anak. Penitipan anak sangat terbatas dan mahal, sementara belum banyak institusi yang sepenuh hati mendukung ibu yang bekerja, dalam bentuk memberikan jam kerja yang fleksibel atau pun kebijakan bekerja dari rumah.

Survei yang diadakan Lembaga Riset Populasi dan Jaminan Sosial Jepang bulan Juni lalu terhadap lebih dari 7.000 perempuan yang telah menikah menunjukkan bahwa lebih dari separuh dari mereka ingin memiliki lebih banyak anak jika suami mereka bersedia ikut terjun dalam urusan rumah tangga dan pengasuhan anak. Bagi pemerintah Jepang, ini lagi-lagi sebuah alarm yang patut diperhatikan dan dicarikan jalan keluar, setelah negara ini pusing tujuh keliling menghadapi rendahnya angka kelahiran dan populasi yang terus menua.

Ancaman ketidakseimbangan populasi bisa menimbulkan berbagai persoalan sosial, dan akar persoalannya pun makin terkuak: beban urusan rumah tangga dan pengasuhan anak yang selama ini ditaruh ke pundak kaum perempuan semata. (p!)

*Citizen reporter Farid M. Ibrahim dapat dihubungi melalui email gakusei70@gmail.com

| Beri Komentar| Jumlah Komentar (14) |

Komentar :

07-07-2010
Dari : Rauf | Abdul.Rauf@valeinco.com
Artikel yang menarik, tuntutan akan standard hidup yang tinggi di jepang membuat orang tua harus bekerja keras (suami Istri) sehingga waktu untuk anak mengurus anak tidak ada. Salam untuk Mas Upik....sukses selalu

25-09-2009
Dari : Mamba | abdul_rimamba@yahoo.cm
Sallang doang papikatungku, u'rangi tongi silajara bos.

08-08-2009
Dari : app | palattae09@yahoo.co.id
Dua anak cukup, Tambah banyak anak tambah banyak rejeki........

09-05-2009
Dari : cOshjNFWztlQhHwjUWZ | wghmrm@mtsbyh.com
6z1R6l ygdodotaflyx, [url=http://imkazlst ryrz.com/]imkazlstry rz[/url], [link=http://sbfabdn fvszn.com/]sbfabdnfv szn[/link], http://okoczjczeswa. com/

27-03-2009
Dari : tiar | andibachtiar_yusuf@yahoo.com
Hai sobat,salam jumpa. Dari temanmu dijogja yg lagi pendidikan.Masih ingat masa-masa kita kuliah yang duduk-duduk didepan fis III sambil naksir anak-anak ekonomi atau sastra.Kapan balik kemakassar? ......(udah dulu yah)

17-01-2009
Dari : zulfikar marzuki ibrahim | zulmaannisa@yahoo.com
wow hebat skali tulisannya daeng upik...jangankan dikota besar seperti jakarta di makassarPUN untuk urusan mengurus anak para ayah seakan alergi! dan yang paling lucu apabila sang anak bisa buat kagum maka sang ayahpun dengan bangganya mengatakan "SIAPA DULU DONG BAPAKNYA" dan sbaliknya jika sianak buat salah maka tau sendiri khan kambing hitamnya...hehehe... padahal kalo mau jujur pembentukan karakter anak salah satunya tergantung dari ke2 orang tuanya bukan dari siapa-siapa. bravo Oyaji no Kai.

10-11-2008
Dari : Arshantika | arshantika@gmail.com
yak setuju..... bikin anak kan berdua, masa mengurus anak urusan istri aja, ya harus berdua dong..! Memberi perhatian pada anak sejak dini membuat anak akan membalas memberi perhatian pada orang tuanya ketika dia bisa mandiri dan orang tuanya sudah tua/berumur... (ikutan gabung dong...)

21-08-2008
Dari : Kusno Kamil | unnoku@yahoo.com
Thanks God, sebentar lagi saya bisa gabung di klub ini... sekarang sedang asyik2nya jadi house husband dan nemanin my 5 yrs daughter di setiap aktifitasnya. Kadang2 rasanya lucu, kalo ngantar anak main di Kodomo Room, I am the only man in the room .... Tapi hati saya kembali tenang ketika mengingat sabda Rasul : Jika seorang perempuan masuk neraka, maka dia akan menarik 5 laki2 bersamanya, Suaminya, Bapaknya, Saudara laki2nya dan anak laki2nya... Naudzubillah min zalik... I HAVE TO take a part in this nurturing and caring role, this is one of my biggest responsibilities ...

26-06-2008
Dari : yuan | yuancaem@yahoo.co.id
saya sngt setuju sekali dengan hal-hal yang seperti ini karena di mana bukan hanya perempuan saja yang punya tanggung jawab dalam mengurus anak tetapi laki-laki pun punya tanggung jawab yang besar

14-02-2008
Dari : Aneera | dbe2surabaya@yahoo.com
Sudah saatnya para ayah, daddy, papa, tata', abi, bapak, pak, papi untuk sadar bahwa anak bukan hanya urusan ibu, mommy, mama, amma, ummi, mak, mami. Toh anak adalah hasil dari andil 2 orang berjenis kelamin wanita n pria yang normalnya telah ber'commitment' tuk mengarungi bahtera rumah tangga yang anggotanya akan ada kalau normal minimal 1 orang anak. Zaman sudah menuntut partisipasi kaum pria untuk mengasuh anak, demi menciptakan keluarga yang sakinah n cukup kebutuhan jasmani n rohani. Sudah banyak kok yang sudah menjalaninya tanpa beban! Malah menyenangkan, kata mitra dalam rumah tangga saya yang berkarir untuk pembangunan manusia Indonesia.

10-12-2007
Dari : sukma | princess.annisa@gmail.com
Menyambung komentar dari Halim, saya juga termasuk keluarga muda, punya 1 anak umur 1,7 bulan. Saya dan suami bekerja mencukupi kebutuhan keluarga untuk hidup di kota metropolitan Jakarta ini. Saya gk bisa nitip anak saya diasuh oleh ortu atau mertua yang sekarang ini tinggal di Makassar seperti kebanyakan yg dilakukan oleh pasangan muda sekrang. Karena tidak tega lagi melihat anak saya di titipkan di TPA, akhirnya akhir tahun ini saya memutuskan berhenti berkarier di kantor dan pindah bekerja di rumah sehingga bisa dekat dengan anak saya. Saya memilih menjalankan bisnis online di rumah sebagai solusi masalah kami. Semoga bisa jadi inspirasi buat keluarga muda lainnya. Regards, Sukmasari http://www.sukmasari .blogspot.com/ www.nadirahouse.com

09-05-2007
Dari : agusdaeng |
nampaknya seluruh tatanan masyarakat sedang retak-retak dan membentuk diri kembali mengikuti alur yang baru dan lebih terdiferensiasi, maka hampir tidak mungkin kita melihat pola tunggal yang dominan mengenai hubungan pria dan wanita. kita semua sedang bergerak ke arah suatu periode lahirnya berbagai struktur keluarga yang lebih seimbang, yang di dalamnya menunjukkan suatu keanekaragaman hubungan pria-wanita yang jauh lebih luas dan barangkali akan membuat kejutan pd masyarakat tradisionalis. saya tambaiki lagi...baru-baru ini saya juga menyaksikan sepasang suami-isteri muda di sebuah restoran. sang suami mengenakan penggendong bayi di dadanya. si bayi nampak seolah sedang menyusu. Ibunya yang masih muda belia duduk di sampingnya. Ide "menjadi orangtua" merupakan tanggung jawab yang dipikul dan dinikmati bersama. jadi bukan hanya di Jepang, tapi sudah mulai berakar dan merambah ke berbagai wilayah. Cuman perlu juga pria-wanita menyadari akan batasan kodratnya, agar tidak lahir tuntutan kesetaraan gender yg salah kaprah.

08-05-2007
Dari : nida | miksmaks19@yahoo.co.id
SETUJU..he..he...he. .saya sependapat dgn urain kak Farid bahwa beban pengasuhan anak hanya di bebankan pada perempuan (umumnya bregitu..tapi ada juga tawwa FEMINSME LAKI-LAKI). Dan , perlu tambahan lagi..bahwa kalau negara mau memperbanyak populasi...harus ada jaminan untuk kesehatan ibu dan anak, serta tunjangan melahirkan dan rawat pasca melahirkan. masih ada lagi, tunjangan untuk anak 1-3 harus dijamin negara. Ok...!!!

06-05-2007
Dari : halim hd. | halimhade@yahoo.com
ini bukan mau bongkar soal 'rahasia keluarga'. ini bisa juga jadi bandingan, bahwa di jakarta juga sudah banyak terjadi, bahkan isteri dan suami jarang ketemu anak, dan anak diasuh oleh baby sitter atau pengasuh, dan ada juga anaknya yang diasuh oleh teve! itulah yang terjadi pada sementara keluarga muda di jakarta, termasuk beberapa adik dan sepupu saya. saya kaget dengan kehidupan adik saya yang profesional, suami-isteri, yang harus berangkat ke kantor dan untuk menghindari kemacetan, dia berangkat pagi-pagi bersama isterinya, dan pulang setelah anak tidur. bayangkan! itulah demi 'karier'. akhirnya anak lebih akrab dengan baby sitter, dan tak jarang baby sitter menyerahkan sang anak kepada teve: nonton bareng!



 :: CITIZEN REPORTER
Makassar di Panyingkul!: Sebuah Persembahan
(Kamis, 12-07-2007)
Ayo Bergabung di Panyingkul!
(Minggu, 29-04-2007)
Catatan Sederhana Para Citizen Reporter
(Selasa, 31-10-2006)
Tentang Citizen Reporter dan Rubrik di Panyingkul!
(Rabu, 11-10-2006)
Riuh Rendah di Panyingkul!
(Rabu, 16-08-2006)

Untitled Document
 :: DUNIA SEGIEMPAT KAREBOSI






 :: PILKADA




 :: ALBUM PUASA 2008




Untitled Document
 :: KONTAK TIM PANYINGKUL!

Email Redaksi :

redaksi@panyingkul.com

Tim:
yus@panyingkul.com
+62 813 226 80844

Moch. Hasymi
+62 811 955 954


© Juni 2006 - Panyingkul.com All Rights Reserved
Desain Web : Nesia Andriana -- Supported by: Yuhardin