|
|
| . |
| ::
|
| Kamis, 07-06-2007 | Di Mana Gerangan Address-mu? :: Panyingkul! ::
| Papan nama jalan di Makassar. Foto: Ilham Halimsyah.
Komunitas Panyingkul! yang tergabung dalam mailing list panyingkul@yahoogroups.com, kembali menggelar liputan kolektif, kali ini dengan tema alamat rumah. Warga yang sedang tinggal di luar negeri membandingkan alamat mereka di Makassar dengan di kota tempat mereka sekarang. Sementara yang tinggal di kampung, masih mengandalkan alamat versi “dekat mesjid” daripada nama jalan dan nomor rumah resmi. Berikut rangkumannya. (p!) | Rusni Fitri warga Makassar yang saat ini tinggal di Birmingham, Inggris membandingkan alamat rumahnya di dua kota ini. Di Makassar ia pernah tinggal di kawasan Rappokalling, yang disebutnya sebagai “Daerah Texas” alias kawasan yang rawan kejahatan dan perkelahian. Menurut Rusni, di Rappokalling, sebagian lorong rumah penduduk tidak diberi nomor, melainkan nama julukan, semisal “Lorong Sayang”, “Lorong Anda”, dan seterusnya. Usulan nama lorong yang unik ini berasal dari warga yang kemudian disetujui oleh Kepala RT setempat. Berbeda dengan kota tempat tinggalnya sekarang, Birmingham, penomoran rumah dan penataan jalan sangat teratur, sehingga insiden kebingungan mencari alamat rumah tidak sering terjadi. “Kalau mau lebih praktis, tinggal masukkan nomor kode pos kita di Google Map, pasti bisa langsung dapat alamat yang dimaksud,” tutur Rusni.
Sammy Lee, warga yang menghabiskan masa kecil dan remaja di Makassar, yang kini menetap di Sydney, punya cerita lain. Rumahnya di Makassar beralamat lengkap : Jalan Sawerigading Nomor Q8, samping TK Unyil atau versi lainnya: Jalan Sawerigading Q8 Lorong Unyil. Ya, inilah alamat lengkap yang harus disebut oleh Sammy Lee demi menghindari orang salah mengetuk pintu atau mengirim barang ke Jalan Sawerigading Nomor 8!
Sementara di Sydney, meski pemberian nama dan nomor rumah juga tak kalah rumit, namun orang-orang yang mencari alamat terbantu dengan peta jalan yang biasanya selalu ada di mobil mereka. Buku peta setebal bantal ini, yang disebut Sydway itu menjadi modal penting saat bepergian. “Di Sydney dan juga kota-kota lainnya di Australia, banyak nama jalan yang sama, misalnya George Street atau Elizabeth Street, jumlahnya bisa puluhan, tapi terletak di suburb (distrik –ed) yang berbeda-beda. Makanya semua warga selalu mengandalkan Sydway saat mencari alamat. Semua mobil di sini pasti memiliki buku peta jalan,” papar Sammy Lee.
Mencari alamat di kota-kota besar di negara maju memang menjadi hal yang semakin mudah, berkat bantuan peta kota dan teknologi navigasi yang kian canggih. Di Jepang, misalnya, para pengendara mobil sangat tergantung pada navigasi global positioning system (GPS), jadi saat mengendarai mobil, hal yang pertama dilakukan adalah memasukkan alamat yang dituju di dalam layar otomatis yang terpasang di dashboard mobil. Mesin navigasi inilah yang akan menuntun kita mencari alamat, termasuk menginformasikan beberapa rute alternatif yang bisa diambil, serta kondisi lalulintas terkini. Sementara bagi pejalan, bisa menggunakan ponsel dan memilih menu layanan “navitime” yang bisa menuntun kita hingga ke pintu alamat yang dituju!
Layar GPS yang menuntun pengemudi mobil mencari alamat di Jepang. Foto: Muhammad Ridwan Alimuddin.
Namun, bagi Nesia Andriana, warga Makassar yang tinggal di Shirahata, Kawasaki, Jepang, ia punya tips yang unik mencari alamat di Jepang: perhatikan tiang listrik! Ya, di Jepang, plakat yang berisi nama jalan dan nomor rumah dipasang di tiang listrik. Jadi bila mondar-mandir mencari rumah seorang teman, pastikan memerhatikan tiang listrik di sepanjang sisi jalan. Alamat rumah di Jepang tergolong unik karena jalan kecil umumnya tidak diberi nama, melainkan nomor, dan penulisannya pun diurut mulai dari kodepos, nama kawasan terbesar hingga yang terkecil, seperti: Japan 251-0051, Kanagawa-ken, Fujisawa-shi, Shirahata 4-5-6 House Malonie #2. Alamat ini dibaca: Rumah bernama House Malonie unit 2 (gedung ini terdiri dari 2 rumah), yang terletak di jalan 4-5-6 Shirahata, Fujisawa, Provinsi Kanagawa, Jepang.
Dari Tanah Mandar, Sulawesi Barat, Muhammad Ridwan Alimuddin membagi pengalaman yang berbeda. Alamat rumahnya adalah Jalan Daeng Rioso Nomor 10 Tinambung, Kabupaten Polewali Mandar, Provinsi Sulawesi Barat, Kode Pos 91354. Nah ini alamat untuk mengirim surat atau paket melalui pos. Tapi untuk menitipkan barang melalui orang sekampung atau mobil angkutan umum, ia harus mengubah alamatnya menjadi : “Rumah Iwan yang kuliah di Yogya, di belakang mesjid yang ada dua menaranya, dekat tukang las Haji Nardin". Mengapa demikian? Karena orang di kampung lebih mengenal siapa tetangga atau bangunan umum di dekat rumah, daripada menghapal nomor rumah lengkap dengan kode pos. “Menyebut rumah Iwan yang kuliah di Yogya jauh lebih mudah daripada menyebut nama jalan rumah saya yang resmi,” tuturnya.
Ridwan yang sedang mengurus pelaksanaan Sandeq Race 2007, lomba perahu tradisional Mandar yang digelar setiap tahun, memasang alamat “versi kampung” di poster Sandeq Race, dengan alasan ya itu tadi, agar para nelayan yang ingin mendaftar lomba, lebih mudah mencari rumahnya yang dekat mesjid dan tukang las, daripada mencari nama jalan dan nomor rumahnya.
Bicara soal pemberian nama jalan dan penomoran rumah, Walikota Makassar, Ilham Arief Sirajuddin kepada Panyingkul! menjelaskan bahwa penomoran rumah diatur di tingkat RT/RW, sedangkan penamaan nama jalan didasarkan pada keputusan DPRD, dan terdapat Peraturan Daerah yang mengaturnya.
Barangkali karena pengaturan yang sangat lokal ini pulalah --yang bahkan tergantung pada inisiatif warga setempat-- sehingga Makassar memiliki penulisan alamat yang sangat beragam, mulai dari Lorong Sayang di Rappokalling hingga Lorong Unyil Q8 di Jalan Sawerigading. Di sejumlah jalan, misalnya, ada juga bangunan bernomor “100A Lama” dan “100A Baru”. Mengapa yang nama “100A Baru” tidak ingin mengalah menjadi “101”? Apakah sang pemilik rumah begitu mencintai nomor 100? Entahlah. Satu hal yang pasti, bila Anda ingin mencari alamat rumah di Makassar-- kota yang berhasrat menjadi kota berbasis internet pertama di Indonesia tapi sayangnya belum miliki peta jalan yang lengkap—banyak-banyaklah bertanya pada tukang becak yang mangkal di ujung jalan atau anak-anak muda yang biasanya main gitar di mulut lorong. Bukankah kata pepatah, malu bertanya sesat di jalan? (p!)
*Judul "Di mana gerangan addressmu", adalah kutipan bait puisi karya Moch. Hasymi Ibrahim.
|
| | Jumlah
Komentar (9) |
|
| Komentar :
01-08-2007 Dari : ipul | ipulji@yahoo.com saya jadi ingat satu
pengalaman di
Jakarta. mencari
sebuah alamat yang
ternyata sangat
rumit. bagaimana
tidak ?, nama
alamatnya : Tebet
Barat Dalam 2, Nomor
28 M (ini kalau
tidak salah ingat.
kata teman saya
pertama2 kita musti
cari daerah Tebet
dulu, baru bagian
Barat, trus Bagian
luar, baru cari
nomor 28, trus cari
bagian M..adduhhh
capek deeehhhh...
klo di Makassar mmg
lebih gampang klo
menyebutkan ciri2
bangunan ebsar atau
t4 terkenal yg ada
di sekitar rumah
kita...sampai
sekarang... yang
aneh, dulu ada org
yg memberikan alamat
tumah dengan embel2
: yang ada kerbau
diikat di depan
rumahnya, ya untung
klo ke sana pas
kerbaunya masih
diikat, kalau
tidak...?, bingung
kan..? 20-07-2007 Dari : bluepicko | Hehehe...
just like
coincidence...
tinggal di kampung,
mengharuskan saya
menuliskan "samping
mess pemda"
dibelakang alamat
saya sebenarnya.
Biar org gampang
dapatnya :P
waktu msh
dimakassar, klo
ngirim surat sih
nyampe tapi kalo
nawar becak pasti
ditambhin embel2
"depan serdit"
di kampungku di
Bone, tambahannya
"dekat kantor
polisi"
Well waktu dikorea,
ga pernah pake yg
kek gitu, semua
penunjuk jalan jelas
las las... 13-07-2007 Dari : ruby | rumahku dulu di
makassar nomornya
ada dua..jl
batuputih no.27(19
lama)..tapi kadang
ndak sampe juga
suratnya karena
ternyata kesasar ke
batuputih lorong
19..jadi kadang saya
tambai..sampingnya
rumah besar kembar /
belakang SMKK..baru
sampe.. 10-07-2007 Dari : rosa shahib | shahibrm@uindy.edu jadi ingat kalau
orang mencari rumah
saya di jalan goa
ria, sudiang. justru
kalau saya berikan
alamat resmi, mereka
akan bingung tujuh
keliling. untuk
menyiasati itu, saya
lebih memilih untuk
memandu orang
tersebut dan
memberikan ciri-ciri
rumah. lain halnya
dengan disini (saya
berada di amerika
serikat saat ini),
alamat diatur
menurut posisi
(block numbers),
seperti kampus saya,
1400 East Hanna
Avenue, berarti
lokasinya berada
satu blok ke arah
timur (east) dari
jalan utama yang
membagi jalan itu
menjadi dua bagian
(timur dan barat). 15-06-2007 Dari : awhink | awhink_dji@yahoo.com kadang ada juga lho
yang memang sengaja
menyamarkan alamat
aslinya karena
alamatnya memang
tidak terkenal atau
tidak akan pernah
terkenal. seperti
alamat rumah kami
(aku, dkk) di jalan
dg. ngadde parang
tambung, mks.kadang
lebih menyenangi
mengatakan belakang
kompleks hartako
indah. yang bertanya
pasti langsung
menyebut huruf O
berulang kali.... 13-06-2007 Dari : dhian rahman | massandala_siwali@yahoo.co.id sudah berubahmi itu
pepatah, bukanmi
MALU BERTANYA SESAT
D JALAN, tapi, MALU
BERTANYA JALAN
TERUS.. setahu saya
memang orang di
kampung lebih sering
pake alamatnya
dengan mengikutkan
nama bangunan
tertentu yang dekat
dari rumah yg di
maksud. 08-06-2007 Dari : r. zena | zenadien@yahoo.com benar...MALU
BERTANYA SESAT
DIJALAN..., tapi...
bagaimana jika
berani bertanya
ternyata
disesatin...!
Kasusnya pernah
terjadi di kampus
Universiatas
Hasanuddin,
seseorang sedang
berada di sekitaran
KOPMA, dan nanya
letak FIS...!
eeeeeh, malah
ditunjukin ke arah
perikanan...! khan
jadi bingung dan
tetap tersesat.
Yaaah, yang
terpenting adalah
berani bertanya
sambil hati-hati
07-06-2007 Dari : Kapitipiti | kapitipiti@yahoo.com Jadi ingat waktu ada
acara cari dana jual
makanan kotak yang
diantar dari rumah
ke rumah. Jadi
rasakan sendiri
bagaimana
semrawutnya
pengaturan nomor
rumah di Makassar.
Soalnya saat itu ada
perubahan nomor
rumah yg tidak
berjalan tuntas.
Hingga ada yg tidak
sampai pesanannya...
Bagaimana ya
sekarang, apa sistim
penomorannya sudah
tuntas dan tidak
lompat-lompat lagi
seperti dulu ? 07-06-2007 Dari : aco bollo | aco@yahoo.com penomoran dan
pelabelan alamat di
Makassar merupakan
tanda bagaimana
penataan kota
Makassar yang
"susah", dan seiring
bertumbuhnya daerah
slum (kumuh). Rumah
yang berdempet2an
dan jalan sempit dan
banyaknya lorong
adalah signal bahwa
tata kota kita
memang membuat
warganya "susah"
untuk melabeli
alamatnya sendiri.
Semakin kumuh dan
padat suatu kawasan
maka semakin rumit
alamatnya. |
|
|
|
|
| ::
CITIZEN REPORTER |
 | (Kamis, 12-07-2007) |  | (Minggu, 29-04-2007) |  | (Selasa, 31-10-2006) |  | (Rabu, 11-10-2006) |  | (Rabu, 16-08-2006) | |
|
Untitled Document
| ::
DUNIA SEGIEMPAT KAREBOSI |
|
Untitled Document
| ::
KONTAK TIM PANYINGKUL! |
Email Redaksi :
redaksi@panyingkul.com
Tim:
yus@panyingkul.com
+62 813 226 80844
Moch. Hasymi
+62 811 955 954
|
|
|