Untitled Document
 


Untitled Document
.KITAKITA
:: Jika Anda di Panyingkul ::
 
 KABAR KITA
 
 BERANDAKITA
Kegilaan, Dari Cinta Mati di Pulau Rajuni Hingga Riwayat Kadang
:: Ivan Firdaus ::
Baba Guru, Mengenang Film Rhoma Irama di Klenteng Galesong
:: Kamaruddin Azis ::
Mengagumi Tenun Troso, Mengenang Tenun Sengkang
:: Suryadin Laoddang ::
Perempuan Besi di Gunung Perak (2-selesai)
:: M. Aan Mansyur ::
Perempuan Besi di Gunung Perak (1)
:: M. Aan Mansyur ::
 
 RISETKITA
Rasa Takut : Yang Dicitrakan, Yang Dipelihara
:: Aria W. Yudhistira ::
Risetkita: Pramoedya versus Sejarah Resmi
:: Nurhady Sirimorok ::
Hikayat Rumpon Nelayan Mandar
:: Muhammad Ridwan Alimuddin ::
Di Makassar Pernah Ada “Negeri Wajo”
:: Nurhady Sirimorok ::
Surat Itu Ditulis Upas kepada September
:: Nurhady Sirimorok ::
 
 BUKUKITA
 
 KATAKOTAKITA
Kenapa si Gondrong yang Maju?
:: Ivan Firdaus dan Mustamin al-Mandary ::
Karena ‘Rewa’ Badan Binasa
:: Sudirman Nasir ::
Yang Okkot, yang Salah Sambung
:: Nursamsu danTusiana Noor Alfisyahr ::
Kandala`ka`, Kusta Bila Dusta
:: Panyingkul ::
Ayo, Si(ng)kat Terussss..!
:: Panyingkul! ::

 
 TAHUKAHKITA
 

.
 ::
Kamis, 07-06-2007 
Di Mana Gerangan Address-mu?
:: Panyingkul! ::


Papan nama jalan di Makassar.
Foto: Ilham Halimsyah.


Komunitas Panyingkul! yang tergabung dalam mailing list panyingkul@yahoogroups.com, kembali menggelar liputan kolektif, kali ini dengan tema alamat rumah. Warga yang sedang tinggal di luar negeri membandingkan alamat mereka di Makassar dengan di kota tempat mereka sekarang. Sementara yang tinggal di kampung, masih mengandalkan alamat versi “dekat mesjid” daripada nama jalan dan nomor rumah resmi. Berikut rangkumannya. (p!)
 
Rusni Fitri warga Makassar yang saat ini tinggal di Birmingham, Inggris membandingkan alamat rumahnya di dua kota ini. Di Makassar ia pernah tinggal di kawasan Rappokalling, yang disebutnya sebagai “Daerah Texas” alias kawasan yang rawan kejahatan dan perkelahian. Menurut Rusni, di Rappokalling, sebagian lorong rumah penduduk tidak diberi nomor, melainkan nama julukan, semisal “Lorong Sayang”, “Lorong Anda”, dan seterusnya. Usulan nama lorong yang unik ini berasal dari warga yang kemudian disetujui oleh Kepala RT setempat. Berbeda dengan kota tempat tinggalnya sekarang, Birmingham, penomoran rumah dan penataan jalan sangat teratur, sehingga insiden kebingungan mencari alamat rumah tidak sering terjadi. “Kalau mau lebih praktis, tinggal masukkan nomor kode pos kita di Google Map, pasti bisa langsung dapat alamat yang dimaksud,” tutur Rusni.

Sammy Lee, warga yang menghabiskan masa kecil dan remaja di Makassar, yang kini menetap di Sydney, punya cerita lain. Rumahnya di Makassar beralamat lengkap : Jalan Sawerigading Nomor Q8, samping TK Unyil atau versi lainnya: Jalan Sawerigading Q8 Lorong Unyil. Ya, inilah alamat lengkap yang harus disebut oleh Sammy Lee demi menghindari orang salah mengetuk pintu atau mengirim barang ke Jalan Sawerigading Nomor 8!

Sementara di Sydney, meski pemberian nama dan nomor rumah juga tak kalah rumit, namun orang-orang yang mencari alamat terbantu dengan peta jalan yang biasanya selalu ada di mobil mereka. Buku peta setebal bantal ini, yang disebut Sydway itu menjadi modal penting saat bepergian. “Di Sydney dan juga kota-kota lainnya di Australia, banyak nama jalan yang sama, misalnya George Street atau Elizabeth Street, jumlahnya bisa puluhan, tapi terletak di suburb (distrik –ed) yang berbeda-beda. Makanya semua warga selalu mengandalkan Sydway saat mencari alamat. Semua mobil di sini pasti memiliki buku peta jalan,” papar Sammy Lee.

Mencari alamat di kota-kota besar di negara maju memang menjadi hal yang semakin mudah, berkat bantuan peta kota dan teknologi navigasi yang kian canggih. Di Jepang, misalnya, para pengendara mobil sangat tergantung pada navigasi global positioning system (GPS), jadi saat mengendarai mobil, hal yang pertama dilakukan adalah memasukkan alamat yang dituju di dalam layar otomatis yang terpasang di dashboard mobil. Mesin navigasi inilah yang akan menuntun kita mencari alamat, termasuk menginformasikan beberapa rute alternatif yang bisa diambil, serta kondisi lalulintas terkini. Sementara bagi pejalan, bisa menggunakan ponsel dan memilih menu layanan “navitime” yang bisa menuntun kita hingga ke pintu alamat yang dituju!


Layar GPS yang menuntun pengemudi mobil mencari alamat di Jepang.
Foto: Muhammad Ridwan Alimuddin.


Namun, bagi Nesia Andriana, warga Makassar yang tinggal di Shirahata, Kawasaki, Jepang, ia punya tips yang unik mencari alamat di Jepang: perhatikan tiang listrik! Ya, di Jepang, plakat yang berisi nama jalan dan nomor rumah dipasang di tiang listrik. Jadi bila mondar-mandir mencari rumah seorang teman, pastikan memerhatikan tiang listrik di sepanjang sisi jalan. Alamat rumah di Jepang tergolong unik karena jalan kecil umumnya tidak diberi nama, melainkan nomor, dan penulisannya pun diurut mulai dari kodepos, nama kawasan terbesar hingga yang terkecil, seperti: Japan 251-0051, Kanagawa-ken, Fujisawa-shi, Shirahata 4-5-6 House Malonie #2. Alamat ini dibaca: Rumah bernama House Malonie unit 2 (gedung ini terdiri dari 2 rumah), yang terletak di jalan 4-5-6 Shirahata, Fujisawa, Provinsi Kanagawa, Jepang.

Dari Tanah Mandar, Sulawesi Barat, Muhammad Ridwan Alimuddin membagi pengalaman yang berbeda. Alamat rumahnya adalah Jalan Daeng Rioso Nomor 10 Tinambung, Kabupaten Polewali Mandar, Provinsi Sulawesi Barat, Kode Pos 91354. Nah ini alamat untuk mengirim surat atau paket melalui pos. Tapi untuk menitipkan barang melalui orang sekampung atau mobil angkutan umum, ia harus mengubah alamatnya menjadi : “Rumah Iwan yang kuliah di Yogya, di belakang mesjid yang ada dua menaranya, dekat tukang las Haji Nardin". Mengapa demikian? Karena orang di kampung lebih mengenal siapa tetangga atau bangunan umum di dekat rumah, daripada menghapal nomor rumah lengkap dengan kode pos. “Menyebut rumah Iwan yang kuliah di Yogya jauh lebih mudah daripada menyebut nama jalan rumah saya yang resmi,” tuturnya.

Ridwan yang sedang mengurus pelaksanaan Sandeq Race 2007, lomba perahu tradisional Mandar yang digelar setiap tahun, memasang alamat “versi kampung” di poster Sandeq Race, dengan alasan ya itu tadi, agar para nelayan yang ingin mendaftar lomba, lebih mudah mencari rumahnya yang dekat mesjid dan tukang las, daripada mencari nama jalan dan nomor rumahnya.

Bicara soal pemberian nama jalan dan penomoran rumah, Walikota Makassar, Ilham Arief Sirajuddin kepada Panyingkul! menjelaskan bahwa penomoran rumah diatur di tingkat RT/RW, sedangkan penamaan nama jalan didasarkan pada keputusan DPRD, dan terdapat Peraturan Daerah yang mengaturnya.

Barangkali karena pengaturan yang sangat lokal ini pulalah --yang bahkan tergantung pada inisiatif warga setempat-- sehingga Makassar memiliki penulisan alamat yang sangat beragam, mulai dari Lorong Sayang di Rappokalling hingga Lorong Unyil Q8 di Jalan Sawerigading. Di sejumlah jalan, misalnya, ada juga bangunan bernomor “100A Lama” dan “100A Baru”. Mengapa yang nama “100A Baru” tidak ingin mengalah menjadi “101”? Apakah sang pemilik rumah begitu mencintai nomor 100? Entahlah. Satu hal yang pasti, bila Anda ingin mencari alamat rumah di Makassar-- kota yang berhasrat menjadi kota berbasis internet pertama di Indonesia tapi sayangnya belum miliki peta jalan yang lengkap—banyak-banyaklah bertanya pada tukang becak yang mangkal di ujung jalan atau anak-anak muda yang biasanya main gitar di mulut lorong. Bukankah kata pepatah, malu bertanya sesat di jalan? (p!)

*Judul "Di mana gerangan addressmu", adalah kutipan bait puisi karya Moch. Hasymi Ibrahim.

| Beri Komentar| Jumlah Komentar (9) |

Komentar :

01-08-2007
Dari : ipul | ipulji@yahoo.com
saya jadi ingat satu pengalaman di Jakarta. mencari sebuah alamat yang ternyata sangat rumit. bagaimana tidak ?, nama alamatnya : Tebet Barat Dalam 2, Nomor 28 M (ini kalau tidak salah ingat. kata teman saya pertama2 kita musti cari daerah Tebet dulu, baru bagian Barat, trus Bagian luar, baru cari nomor 28, trus cari bagian M..adduhhh capek deeehhhh... klo di Makassar mmg lebih gampang klo menyebutkan ciri2 bangunan ebsar atau t4 terkenal yg ada di sekitar rumah kita...sampai sekarang... yang aneh, dulu ada org yg memberikan alamat tumah dengan embel2 : yang ada kerbau diikat di depan rumahnya, ya untung klo ke sana pas kerbaunya masih diikat, kalau tidak...?, bingung kan..?

20-07-2007
Dari : bluepicko |
Hehehe... just like coincidence... tinggal di kampung, mengharuskan saya menuliskan "samping mess pemda" dibelakang alamat saya sebenarnya. Biar org gampang dapatnya :P waktu msh dimakassar, klo ngirim surat sih nyampe tapi kalo nawar becak pasti ditambhin embel2 "depan serdit" di kampungku di Bone, tambahannya "dekat kantor polisi" Well waktu dikorea, ga pernah pake yg kek gitu, semua penunjuk jalan jelas las las...

13-07-2007
Dari : ruby |
rumahku dulu di makassar nomornya ada dua..jl batuputih no.27(19 lama)..tapi kadang ndak sampe juga suratnya karena ternyata kesasar ke batuputih lorong 19..jadi kadang saya tambai..sampingnya rumah besar kembar / belakang SMKK..baru sampe..

10-07-2007
Dari : rosa shahib | shahibrm@uindy.edu
jadi ingat kalau orang mencari rumah saya di jalan goa ria, sudiang. justru kalau saya berikan alamat resmi, mereka akan bingung tujuh keliling. untuk menyiasati itu, saya lebih memilih untuk memandu orang tersebut dan memberikan ciri-ciri rumah. lain halnya dengan disini (saya berada di amerika serikat saat ini), alamat diatur menurut posisi (block numbers), seperti kampus saya, 1400 East Hanna Avenue, berarti lokasinya berada satu blok ke arah timur (east) dari jalan utama yang membagi jalan itu menjadi dua bagian (timur dan barat).

15-06-2007
Dari : awhink | awhink_dji@yahoo.com
kadang ada juga lho yang memang sengaja menyamarkan alamat aslinya karena alamatnya memang tidak terkenal atau tidak akan pernah terkenal. seperti alamat rumah kami (aku, dkk) di jalan dg. ngadde parang tambung, mks.kadang lebih menyenangi mengatakan belakang kompleks hartako indah. yang bertanya pasti langsung menyebut huruf O berulang kali....

13-06-2007
Dari : dhian rahman | massandala_siwali@yahoo.co.id
sudah berubahmi itu pepatah, bukanmi MALU BERTANYA SESAT D JALAN, tapi, MALU BERTANYA JALAN TERUS.. setahu saya memang orang di kampung lebih sering pake alamatnya dengan mengikutkan nama bangunan tertentu yang dekat dari rumah yg di maksud.

08-06-2007
Dari : r. zena | zenadien@yahoo.com
benar...MALU BERTANYA SESAT DIJALAN..., tapi... bagaimana jika berani bertanya ternyata disesatin...! Kasusnya pernah terjadi di kampus Universiatas Hasanuddin, seseorang sedang berada di sekitaran KOPMA, dan nanya letak FIS...! eeeeeh, malah ditunjukin ke arah perikanan...! khan jadi bingung dan tetap tersesat. Yaaah, yang terpenting adalah berani bertanya sambil hati-hati

07-06-2007
Dari : Kapitipiti | kapitipiti@yahoo.com
Jadi ingat waktu ada acara cari dana jual makanan kotak yang diantar dari rumah ke rumah. Jadi rasakan sendiri bagaimana semrawutnya pengaturan nomor rumah di Makassar. Soalnya saat itu ada perubahan nomor rumah yg tidak berjalan tuntas. Hingga ada yg tidak sampai pesanannya... Bagaimana ya sekarang, apa sistim penomorannya sudah tuntas dan tidak lompat-lompat lagi seperti dulu ?

07-06-2007
Dari : aco bollo | aco@yahoo.com
penomoran dan pelabelan alamat di Makassar merupakan tanda bagaimana penataan kota Makassar yang "susah", dan seiring bertumbuhnya daerah slum (kumuh). Rumah yang berdempet2an dan jalan sempit dan banyaknya lorong adalah signal bahwa tata kota kita memang membuat warganya "susah" untuk melabeli alamatnya sendiri. Semakin kumuh dan padat suatu kawasan maka semakin rumit alamatnya.



 :: CITIZEN REPORTER
Makassar di Panyingkul!: Sebuah Persembahan
(Kamis, 12-07-2007)
Ayo Bergabung di Panyingkul!
(Minggu, 29-04-2007)
Catatan Sederhana Para Citizen Reporter
(Selasa, 31-10-2006)
Tentang Citizen Reporter dan Rubrik di Panyingkul!
(Rabu, 11-10-2006)
Riuh Rendah di Panyingkul!
(Rabu, 16-08-2006)

Untitled Document
 :: DUNIA SEGIEMPAT KAREBOSI






 :: PILKADA




 :: ALBUM PUASA 2008




Untitled Document
 :: KONTAK TIM PANYINGKUL!

Email Redaksi :

redaksi@panyingkul.com

Tim:
yus@panyingkul.com
+62 813 226 80844

Moch. Hasymi
+62 811 955 954


© Juni 2006 - Panyingkul.com All Rights Reserved
Desain Web : Nesia Andriana -- Supported by: Yuhardin