|
|
| . |
| ::
|
| Kamis, 19-07-2007 | Pengalaman Nonton Bareng di Bus Kota Jakarta :: Amril Taufik Gobel ::
| Nonton bareng di bus kota. Foto: Amril Taufik Gobel.
Karena tak ingin melewatkan peluang menyaksikan perjuangan Tim Indonesia dalam Piala Asia, citizen reporter Amril Taufik Gobel rela merogoh kocek naik bus yang dilengkapi televisi. Penumpang bus yang gemar infotainment mesti mengalah. Berikut kutipan catatan nonton bareng di atas bus. (p!) | BERBEDA seperti hari-hari biasanya, sepulang dari kantor hari Rabu (18/7), saya begitu memendam harapan dapat bertemu dan akhirnya ikut dengan “shuttle bus” Nomor 121 A jurusan Blok M-Kota Jababeka Cikarang. Dari tiga alternatif angkutan umum dengan rute Blok M menuju ke rumah saya di kawasan Perumahan Cikarang Baru Kota Jababeka, hanya bus ini saja yang menyediakan fasilitas televisi untuk ditonton oleh para penumpangnya. Meski untuk itu, kompensasinya adalah tarifnya relatif lebih mahal dari dua bus angkutan alternatif lainnya. Kebanyakan para penumpang bus ini adalah pekerja komuter yang bekerja di Jakarta namun berdomisili di Cikarang.
Harapan saya terkabul. Tepat Pukul 17.35, bis 121 A melintas tepat di depan halte bus yang berada di depan Wisma Mulia Jalan Gatot Subroto, Jakarta Selatan di mana saya telah menunggu kurang lebih sepuluh menit lamanya. Ketika naik dan duduk di kursi penumpang di baris kelima dari depan, saya sudah merasakan aura histeria yang demikian besar dari kurang lebih 30 orang penumpang menyaksikan tayangan siaran langsung laga sepakbola babak Penyisihan Group D Piala Asia antara Indonesia melawan Korea Selatan. Semua mata tertuju pada televisi 14 inchi yang dipasang diposisi tengah depan tepat diatas bahu kiri sang supir.
Saya bersyukur, pertandingan itu ternyata baru saja dimulai. “Ini partai hidup mati. Indonesia mesti menang dalam pertandingan ini jika ingin lolos ke babak berikutnya,” gumam seorang lelaki separuh baya yang duduk disamping saya dengan mata tak lepas kearah TV yang kualitas gambarnya sangat jelek dan bergoyang-goyang karena penangkapan sinyal gambar yang pas-pasan dari antene TV darurat di bis tersebut.
Saya manggut-manggut mengiyakan. Bambang Pamungkas dkk yang tergabung dalam Timnas Sepakbola Indonesia memang mesti bekerja ekstra keras memenangkan pertandingan ini terlebih disaksikan oleh kurang lebih seratus ribu penonton pendukungnya di Stadiun Utama Senayan serta Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono dan istri. Dapat dipastikan pertandingan ini akan berjalan seru dan ngotot karena partai ini sangat menentukan apakah kedua tim ini bisa lolos ke babak selanjutnya atau tidak.
Sebenarnya, ini adalah kali kedua saya menikmati acara “nonton bareng tak sengaja” pertandingan sepak bola Piala Asia diatas shuttle bis Blok M-Kota Jababeka Cikarang. Pada Hari Selasa sore (10/7) saya menjadi peserta nonton bareng laga sepakbola di atas bis antara Indonesia melawan Bahrain. Ada kejadian lucu yang sempat terjadi.
Ketika itu seorang ibu, penggemar rutin acara Infotainment di salah satu TV swasta bersikeras agar acara kegemarannya yang ditayangkan dalam kesempatan tersebut. Sang kondektur bis kebingungan memilih saluran TV terlebih ada desakan sebagian besar penumpang meminta justru tayangan sepakbola yang ditampilkan. Namun sang ibu yang kebetulan duduk tepat dibelakang supir tampaknya lebih mendominasi dan bersikeras agar pilihannya yang ditayangkan.
Seorang bapak yang kira-kira umurnya hampir sama dengan ibu itu maju kedepan dan tampil sebagai “pahlawan” bagi kami semua, para penggila bola. “Bu, Ibu..Plis ya..kalau mau nonton gossip selebriti bisa kapan-kapan dan masih ada tayangan ulangnya. Kalau nonton bola Piala Asia apalagi kalau diadakan di Indonesia itu jarang-jarang lho , bu. Jadi tolong ibu mengalah sedikit, apalagi sekarang Tim Indonesia yang main. Kita semua sebagai sesama bangsa mesti mendukung tim sepakbola kita sendiri,” ujar sang Bapak tadi ke Ibu penggemar Infotainment dengan suara pelan berusaha membujuk si Ibu yang ketika itu melipat tangannya didada dan menoleh angkuh ke arah luar jendela bis.
Saya tertawa geli menyaksikan “aksi teatrikal” itu. Dari arah belakang terdengar teriakan kencang,”Ayoo,,Pak ganti aja!.Pertandingannya udah mulai dari tadi!”. Sang Bapak kemudian meraih remote control ditangan si kondektur yang masih terlihat bingung lalu merubah saluran TV ke pertandingan sepakbola antara Indonesia melawan Bahrain. Spontan khalayak pemirsa pecandu bola di bis itu, termasuk saya tentu saja, bertepuk riang. Sang ibu dengan wajah bersungut-sungut akhirnya pasrah –meski tak rela—menonton tayangan sepakbola yang berakhir dengan kemenangan Indonesia 2-1 atas Bahrain.
Kini momen itu terulang kembali. Meski sampai tak ada insiden dramatis seperti sebelumnya, saya merasakan gejolak “heboh”melanda seisi bis. Di menit 38, saat Elie Aiboy, striker Indonesia asal Papua “menusuk” jantung pertahanan Korea Selatan, kami semua menahan napas. “Elie .ayooo..bikin Gol!,” teriak seorang penonton dibelakang saya. Ia ternyata sudah berdiri diatas bangku bis sembari mengacungkan tinju ke udara.. Kami tegang. Dan ketika Elie gagal “mengeksekusi” padahal ia memiliki jarak tembak dan peluang yang cukup memadai, spontan helaan nafas kecewa dari para penonton terdengar. “Wah, sayang banget ya Mas. Coba saja Elie bisa lebih tenang dengan mengocek bola lebih dulu didepan gawang seperti waktu melawan Arab Saudi tempo hari, mungkin dia bisa bikin gol,” komentar lelaki yang duduk disamping saya. Kembali saya manggut-manggut setuju dengan mata tak lepas dari layar TV. Bis kami melaju pelan disela-sela kemacetan di tol Pancoran.
Dari semua penumpang di bis memang tidak semua secara serius dan antusias menyaksikan pertandingan sepakbola di TV. Seorang gadis berjilbab yang duduk di baris ketiga dari depan dengan tenang membaca bukunya. Sama sekali tidak terganggu oleh hiruk pikuk supporter Indonesia dadakan didalam bis. Tak jauh dari gadis itu duduk seorang lelaki muda malah lelap tertidur di bawah hembusan AC dan tidak menggubris kehebohan yang terjadi selama acara “nonton bareng” dadakan itu.
Serangan Timnas Korea Selatan dikubu pertahanan Indonesia begitu gencar. Namun berkat kelihaian kiper Markus Horison yang menggantikan Yandry Pitoy, peluang gol dari timnas negeri ginseng sekaligus semifinalis Piala Dunia 2002 itu dapat ditepis. Seorang penonton di baris kedua depan berteriak kencang setiap kali kiper yang memperkuat PSMS Medan itu ber-“jibaku” menghadang serangan Korsel. “Bagus Markus!,” begitu serunya.
Akhirnya gempuran intens Korsel memberikan hasil. Bola datar pendek yang disodorkan Lee Chun Soo dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh Kim Jung Woo. Tendangan keras pemain bernomor punggung 17 itu kemudian menggetarkan jala gawang Markus Horison. 1-0 untuk Korea Selatan!.
Seketika kami semua terdiam. Hening. Hanya deru suara bis melaju kencang melewati kawasan Cawang mendekati Jatiwaringin. Tidak ada sorakan atau teriakan spontan. Kami seperti merasakan duka dan kepahitan yang dialami Timnas Indonesia yang dilatih dibawah asuhan pelatih Ivan Venkov Kolev asal Bulgaria itu.
Semangat kami bangkit lagi saat sang Striker Elie membuka kembali peluang gol dibabak pertama. Ia melakukan penetrasi dari sudut kiri kotak penalty Korsel. Kawalan bek lawan berhasil dilewatinya. Kembali kami tegang dan menahan nafas. Saya mendengar penonton di belakang saya menggeram gregetan. “Eliee…ayooo,” suaranya lirih, lebih mirip rintihan memelas seorang kekasih yang tak ingin ditinggal pergi sang pacar. Saya menggigit bibir. Ini kesempatan besar untuk membuat imbang posisi. Sayang sekali, umpan silang datar pemain asal Papua ini tak ada yang menyambut. Kami kembali mendesah kecewa.
Korsel makin rajin menggempur pertahanan Indonesia. Nampak jelas, kualitas permainan tim yang dilatih oleh Peter Verbeek itu masih di atas timnas kita. Meskipun begitu, saya mengaku salut atas kegigihan Timnas Indonesia yang bertahan mati-matian dan juga seringkali melakukan serangan mendadak ke jantung pertahanan Korsel walau akhirnya gagal.
Saat babak kedua memasuki menit ke 65, bis yang saya tumpangi dan menjadi ajang nonton bareng dadakan itu akhirnya sampai ke tujuan akhirnya, Perumahan Cikarang Baru. Sebuah perjalanan mengesankan nonton bareng diatas bis selama kurang lebih satu setengah jam. Saya melanjutkan menonton tayangan seru itu dirumah, setelah lebih dulu melakukan kompromi mesra dengan istri tercinta yang ketika itu sedang menonton tayangan sinetron kegemarannya.(p!)
*Citizen reporter Amril Taufik Gobel dapat dihubungi melalui email amriltgobel@gmail.com dan memiliki blog di www.amriltgobel.net
|
| | Jumlah
Komentar (5) |
|
| Komentar :
20-07-2007 Dari : awal_blue | awal_mbojo@yahoo.com wah,..sepertinya
ashyik tuh nonton
bareng di bus kota.
saya jadi kepengen
nih rasanya kayak
gimana!!!
BTW, Indonesia kalah
lagi ya...tapi salut
buat tim merah putih
mereka sudah
berjuang maksismal
ko.
salam kenal buat mas
amril 20-07-2007 Dari : odhy | adhyvsky02@gmail.com kodong ivan
kolev....gagal
kodong bawa
indonesia ke
perempat final..
tp ka` kassa memang
tong korsel
bela..untung ji na
masih bisa indonesia
imbangi
salut buat bambang
pamungkas cs ..bang
amril juga
20-07-2007 Dari : DoNi | mazdoni@yahoo.com Wow....ternyata
semangat ribuan
supporter indonesia
yg menyaksikan
langsung di GELORA
BUNG KARNO antara
INDONESIA vs KOREA
tidak kalah serunya
dengan supporter
yang menyaksikan
langsung di atas BUS
jurusan Blok
M-CIKARANG. Namun
sangat disayangkan
Pak Amril, Timnas
kita lagi-lagi kalah
atas KOREA (0:1)... 20-07-2007 Dari : rusle' | muhruslee@gmail.com menarik sekali kang
Amril, paling ndak
dengan nonton bareng
di bus umum, para
preman, copet, dan
kucing garong bisa
berhenti sejenak
mendukung timnas
Indonesia. Asal
sopir nya tetap
fokus menyetir, apa
jadinya kalo sopir
ikutan nonton
juga..he2 19-07-2007 Dari : wawan | danu_mas@yahoo.com kapan ya team
Indonesia bisa team
yang bisa mengukir
prestasi bukan
frustasi setelah
menonton.masa nyari
11 orang saja dari
200 jt penduduk
indonesia gak ada
seh... |
|
|
|
|
| ::
CITIZEN REPORTER |
 | (Kamis, 12-07-2007) |  | (Minggu, 29-04-2007) |  | (Selasa, 31-10-2006) |  | (Rabu, 11-10-2006) |  | (Rabu, 16-08-2006) | |
|
Untitled Document
| ::
DUNIA SEGIEMPAT KAREBOSI |
|
Untitled Document
| ::
KONTAK TIM PANYINGKUL! |
Email Redaksi :
redaksi@panyingkul.com
Tim:
yus@panyingkul.com
+62 813 226 80844
Moch. Hasymi
+62 811 955 954
|
|
|