|
|
| . |
| ::
|
| Kamis, 16-08-2007 | Asyiknya Sepakbola Daster di Kampung Paopao :: Syaifullah ::
| Para pemain sebelum turun lapangan. Foto: Syaifullah.
Begitu banyak kegiatan warga menyambut ulang tahun kemerdekaan Indonesia. Di kampung dan di kota, tua dan muda, semua ikut bergembira. Sepertinya sudah menjadi tradisi tahunan, saban bulan Agustus, ramailah warga menyelenggarakan berbagai lomba. Di Kampung Paopao, Sungguminasa, Kabupaten Gowa, misalnya, selain diadakan perlombaan olahraga biasa, juga ada pertandingan sepakbola daster. Yakni, para pemainnya harus mengenakan daster, pakaian rumahan ibu dan adik perempuan kita. Citizen reporter Syaifullah yang ikut main dalam pertandingan itu menuliskan laporannya.(p!)
| Hari Sabtu (11/8) pekan lalu, saya mendapat telepon dari ibu, meminta saya mewakili bapak dalam pertandingan sepakbola antar-bapak-bapak se-RT 1 Perumahan Paopao Permai, Sungguminasa, Kabupaten Gowa. Tentu saja saya iyakan, toh saya juga sedang tidak ada kegiatan apa-apa. Selain itu, sudah lama tidak pernah mengikuti kegiatan lomba menjelang HUT Proklamasi. Sejak minggu sebelumnya beberapa acara memang sudah digelar, di antaranya pertandingan bola volli dan domino.
Awalnya saya mengira pertandingan sepakbola ini pertandingan biasa. Saya kaget ketika mendapat penjelasan, kalau ternyata pertandingannya punya aturan khusus: seluruh pemain harus menggunakan daster! Saya jadi ragu. Seumur hidup saya belum pernah memakai pakaian yang identik dengan kaum wanita tersebut, rasanya malu. Namun semangat ikut memeriahkan hari kemerdekaan Indonesia membuat saya menghapuskan rasa ragu dan malu itu, toh saya tidak akan sendirian memakai daster.
Kata ibu, beberapa bapak bingung soal daster ini. Pak Syam, bakal rekan setim saya yang bertubuh tinggi besar agak repot memilih daster yang akan dikenakan. Soalnya istrinya bertubuh kecil mungil. Dari ibu pula saya mendengar beberapa orang peserta sampai meluangkan waktu untuk membeli daster baru demi pertandingan besok.
Hari Minggu pagi sekitar pukul 7 saya sudah siap di lapangan bola mini depan masjid di daerah Paopao. Sebagian peserta sudah siap di lapangan dan sedang melakukan pemanasan. Beberapa orang di antaranya malah sudah siap dengan dasternya. Sekitar setengah jam kemudian lapangan makin ramai oleh para pemain dan penonton yang didominasi kaum wanita. Mungkin ibu-ibu dan para gadis ini penasaran ingin melihat suami atau ayah mereka berdaster. Suatu pemandangan yang tidak bisa ditemui setiap harinya. Setelah briefing sejenak dari pihak panitia, pertandingan pertama pun digelar.
Blok B4 yang saya bela kebetulan mendapatkan jatah bermain lebih awal menghadapi Blok B6. Dengan agak malu-malu saya pun mengenakan daster usang milik ibu. Sengaja saya menggunakan daster itu karena kebetulan istri saya tidak punya daster tua. Sayang kalau pakai daster baru, takut dasternya sobek. Pertandingannya sendiri berjalan lancar. Tapi jangan membayangkan sebuah pertarungan di lapangan hijau yang penuh taktik, kecepatan dan kekuatan seperti layaknya pertandingan sepakbola biasa. Yang tersaji justru sebuah pertandingan yang mengundang gelak tawa.
Anda bisa membayangkan bagaimana lucunya tampang bapak-bapak berbadan subur dan sama sekali tidak seksi, berkulit gelap dan kasar dengan bulu-bulu di tubuhnya menggunakan daster yang sebagian besar bermotif kembang warna-warni. Seorang bapak berkomentar, “ Aih, untungnya banyakji orang yang pake daster juga. Kalau sendiri, biar digajika’ ndak mauja”. Saya yakin memang butuh keberanian lebih bagi kaum pria untuk memakai daster di depan umum tanpa alasan khusus.
Peraturan pertandingan bisa diubah. Foto: Syaifullah.
Sorak-sorai dan gelak tawa dari penonton membuat suasana makin semarak. Aksi bapak-bapak yang sebagian besar jarang bermain sepakbola adalah tontonan yang mengasyikkan. Beberapa pemain tampak kesulitan berlari dengan daster yang panjangnya menutupi sebagian betis, sehingga seringkali mereka harus menarik ujung dasternya. Kalau sudah begini, biasanya penonton berteriak, “Oee...curang.. ndak boleh angkat daster”. Dan tawa pun kembali berderai. Sesekali saya juga tidak dapat menahan tawa melihat betapa semangatnya bapak-bapak itu mengejar bola hingga jatuh terguling-guling. Faktor nafas dan stamina membuat mereka jadi susah menjaga keseimbangan.
Awalnya menurut peraturan yang disepakati, pertandingan dibagi dalam dua babak dengan waktu 2 kali 15 menit. Namun di tengah babak pertama, beberapa pemain meminta agar waktunya dikurangi jadi 2 kali 10 menit saja. “Edede.. matiki ini kalau 15 menit, 10 menit mo...”, kata seorang bapak yang nyaris sudah tidak bisa berlari lagi. Wajahnya penuh keringat, sementara nafasnya ngos-ngosan. Akhirnya karena alasan kemanusiaan, panitia mengubah peraturan. Satu babak hanya berlangsung selama 10 menit. Keputusan ini tentu saja disambut dengan gelak tawa para penonton. Dalam pertandingan resmi, mana ada peraturan yang bisa diubah seperti ini. Namun, kelelahan para pemain rupanya tidak dialami oleh bapak-bapak yang bertugas sebagai kiper. Bahkan dengan santainya, seorang kiper berdiri di depan gawangnya sambil mengisap rokok. Tentu saja komentar lucu dari penonton kembali terlontar, “Oee wasit... kartu kuning itu, wasit. Merokok di lapangan”.
Soal peraturan yang diubah rupanya bukan hanya soal jumlah menit dalam satu babak. Peraturan tendangan sudut pun tidak selamanya diterapkan. Di pertandingan ketiga saat saya menjadi wasit, para pemain rupanya tidak peduli pada perintah saya yang memberikan tendangan sudut untuk salah satu tim. Bapak-bapak itu meneruskan permainan, meninggalkan saya yang terbengong-bengong sendiri. Bahkan peluit yang saya tiup pun rupanya tidak dipedulikan lagi. Momen ini kembali mengundang komentar para penonton. “Wasit, tegasko...”, begitu sebagian penonton berteriak. Saya tidak bisa berbuat banyak, mungkin karena usia saya yang masih muda sehingga mereka tidak menanggapi serius peran saya sebagai wasit. Saya pun hanya bisa geleng-geleng kepala.
Pertandingan makin meriah dengan aksi beberapa bapak yang meniru komentator sepakbola di layar televisi. Menggunakan pengeras suara, mereka melaporkan jalannya pertandingan sambil sesekali memberikan analisa pertandingan layaknya komentator profesional. Sesekali komentar mereka terdengar lucu, misalnya “Ya.. bola dibawa oleh pemain Togo, meliuk-liuk dia melewati pemain Kamerun, tapi sayang sekali saudara-saudara, bolanya telah terlebih dahulu meninggalkan dunia”. Saya yang sementara bermain jadi hilang konsentrasi dan akhirnya ikut tertawa terbahak-bahak.
Sistem pertandingan pun rupanya tidak permanen. Awalnya ditetapkan sistem gugur, tapi entah kenapa di tengah-tengah kejuaraan diubah menjadi sistem kompetisi, di mana semua tim akan bertemu. Beberapa pemain protes ke panitia, tapi kembali mentah. Alasannya, keputusan panitia tidak bisa diganggu-gugat. Jika dalam kejuaraan resmi, hal seperti ini biasanya mengundang reaksi keras bahkan mungkin tindakan anarkis. Tapi hari itu, pemain dan penonton hanya menanggapinya dengan tawa dan protes ringan. Karena jam sudah menunjukkan pukul 10 pagi dan matahari makin panas, disepakati sisa pertandingan akan digelar sore hari, selepas shalat ashar.
Sore harinya tiga sisa pertandingan digelar. Jumlah penonton lebih banyak dari pertandingan di pagi hari. Dari beberapa orang pemain terdengar keluhan tentang rasa pegal dan capek akibat pertandingan sebelumnya. Beberapa bapak bahkan sudah tidak tampak lagi di lapangan, katanya sudah susah bangun. Otot yang pegal akibat kaget setelah lama tidak berolahraga, tentunya membuat sebagian dari mereka lebih memilih beristirahat di rumah.
Setelah melewati seluruh pertandingan, tim kami berhasil keluar sebagai juara dengan nilai tertinggi, hasil dari tiga kali menang dan tidak pernah kalah. Penonton memberikan applaus. Kami pun saling memberi selamat. Aura kebersamaan sangat terasa. Penonton dan pemain pulang dengan hati yang riang, walaupun saya yakin beberapa pemain akan membawa efek pegal untuk waktu yang cukup lama.
Ibu-ibu pun tampaknya tidak keberatan daster milik mereka dikembalikan dalam keadaan kotor dan bahkan sobek. “Aiii... tambahmi ini kerjaanku, pijitki bapaknya nanti malam,” komentar seorang ibu yang disambut tawa oleh ibu-ibu lainnya.(p!)
*Citizen reporter Syaifullah dapat dihubungi melalui email ipulji@yahoo.com
|
| | Jumlah
Komentar (8) |
|
| Komentar :
21-09-2007 Dari : Ipul | ipulji@yahoo.com @p'Ahmar: salam
pa'...iyye sy
ingatji kita jatuh
sampe
berdarah-darah...ter
nyata luka itu
dibawa sampe ujung
barat Indonesia
di'...ck..ck..ck.. 07-09-2007 Dari : Ahmar Djalil | ahmardjalil@yahoo.com saya jauh-jauh
datang dari aceh
hanya untuk sepak
bola daster itu
cess, boro-boro
dapat juara tapi
apaji kudapat
luka-luka ji lutu'ku
karena jatuh, sampai
saya pulang kembali
ke aceh lukaku belum
sembuh...tapi asyik
juga....he. 07-09-2007 Dari : ahmardjalil | ahmardjalil@yahoo.com terima kasih pul...
sudah lama aku tidak
buka panyingkul,
begitu buka saya
penasaran sama judul
berita sepak bola
daster,tau-tau aku
pun terlibat dalam
sepab bola itu. aku
suka buka website
org makassar di
perantauan untuk
mengobati
kerinduan.
saya sampai
luka-luka gara-gara
jatuh, dan lukanya
terpaksa saya bawa
pergi ke aceh,
sampai di Aceh saya
masih kecapean 2
minggu baru lukanya
sembuh.. tapi seru
juga walaupun blok
b5 kurang peserta
terpaksa membantu
blok b6 heee. 04-09-2007 Dari : halfian | halfian_syam@yahoo.com saya sering ke
Goles, kapan-kapan
Goles lawan pao-pao
juga deh :) 16-08-2007 Dari : daeng N | daeng.nuntung@gmail.com Ketawa tengah
malamka'
Lucu...gang!!! lain
kali Pao Pao lawan
Tamarunang deh... 16-08-2007 Dari : pembuat kopi | lakipadada@yahoo.co.id hidoeplah indonesia
raja...merdeka ataoe
mati...... 16-08-2007 Dari : rusle' | muhruslee@gmail.com hehehe. liputan seru
ini ces Pul! 16-08-2007 Dari : Drive C Bersama Bintang | Kurang
seru.............!!!
Pemainnya masih
malu2 pake daster,
malu-maluin. Ada
juga di kampungku
begitu, tapi pake
daster panjang jadi
nda keliatan celana
shortnya. |
|
|
|
|
| ::
CITIZEN REPORTER |
 | (Kamis, 12-07-2007) |  | (Minggu, 29-04-2007) |  | (Selasa, 31-10-2006) |  | (Rabu, 11-10-2006) |  | (Rabu, 16-08-2006) | |
|
Untitled Document
| ::
DUNIA SEGIEMPAT KAREBOSI |
|
Untitled Document
| ::
KONTAK TIM PANYINGKUL! |
Email Redaksi :
redaksi@panyingkul.com
Tim:
yus@panyingkul.com
+62 813 226 80844
Moch. Hasymi
+62 811 955 954
|
|
|