Untitled Document
 


Untitled Document
.KITAKITA
:: Jika Anda di Panyingkul ::
 
 KABAR KITA
 
 BERANDAKITA
Kegilaan, Dari Cinta Mati di Pulau Rajuni Hingga Riwayat Kadang
:: Ivan Firdaus ::
Baba Guru, Mengenang Film Rhoma Irama di Klenteng Galesong
:: Kamaruddin Azis ::
Mengagumi Tenun Troso, Mengenang Tenun Sengkang
:: Suryadin Laoddang ::
Perempuan Besi di Gunung Perak (2-selesai)
:: M. Aan Mansyur ::
Perempuan Besi di Gunung Perak (1)
:: M. Aan Mansyur ::
 
 RISETKITA
Rasa Takut : Yang Dicitrakan, Yang Dipelihara
:: Aria W. Yudhistira ::
Risetkita: Pramoedya versus Sejarah Resmi
:: Nurhady Sirimorok ::
Hikayat Rumpon Nelayan Mandar
:: Muhammad Ridwan Alimuddin ::
Di Makassar Pernah Ada “Negeri Wajo”
:: Nurhady Sirimorok ::
Surat Itu Ditulis Upas kepada September
:: Nurhady Sirimorok ::
 
 BUKUKITA
 
 KATAKOTAKITA
Kenapa si Gondrong yang Maju?
:: Ivan Firdaus dan Mustamin al-Mandary ::
Karena ‘Rewa’ Badan Binasa
:: Sudirman Nasir ::
Yang Okkot, yang Salah Sambung
:: Nursamsu danTusiana Noor Alfisyahr ::
Kandala`ka`, Kusta Bila Dusta
:: Panyingkul ::
Ayo, Si(ng)kat Terussss..!
:: Panyingkul! ::

 
 TAHUKAHKITA
 

.
 ::
Senin, 27-08-2007 
Seribu “Daeng”, Seribu Harapan
:: Panyingkul! ::

Warga Makassar akrab dengan “Coto Makassar Asuhan Daeng Tunru” sementara penggemar kuliner di Jakarta fasih menyebut “Konro Bakar Mamink Daeng Tata”. Kepada pengayuh becak, kita menawar harga, “Berapa sampai pasar, Daeng?” Nun jauh di perantauan, tidak sedikit orang Bugis-Makassar melestarikan sebutan “Daeng” untuk menegaskan identitas mereka. Bagi masyarakat Bugis, panggilan “Daeng” terbatas untuk merujuk pada seseorang yang dituakan. Tapi bagi masyarakat Makassar, Daeng juga adalah nama khusus atau disebut paddaengang, cerminan harapan yang luhur. Seperti apakah pengunaan nama daeng ini di tengah masyarakat Makassar? Berikut rangkuman laporan sejumlah citizen reporter mengenai paddaengang.(p!)
 


Di kalangan masyarakat Makassar, gelar daeng atau paddaengang disebut sebagai areng alusu’ (nama halus), yang penulisannya disandingkan dengan nama resmi. Inti pemberian gelar ini adalah menyematkan harapan agar si penyandang nama menempuh hidup sesuai makna paddaengangnya.

Mari kita simak penuturan Kamaruddin daeng Nuntung, citizen reporter yang sekarang bekerja di Banda Aceh. Ia bercerita bahwa di Kabupaten Takalar, keluarga besarnya masih menjaga ketat tradisi paddaengang. Ia mendapatkan gelar Daeng Nuntung ketika berusia 12 tahun, saat akan disunat.

Nama Kamaruddin yang disandangnya diresmikan saat pelaksanaan aqiqah, yang dalam bahasa Makassarnya disebut a’caru caru. Pada saat aqiqah ini juga sudah diancang-ancang sebuah nama daeng untuknya dengan meminta masukan dari nenek dan kakek di keluarga besar. Nama daeng biasanya diusulkan dari nama nenek, kakek dan buyut baik dari garis ayah maupun ibu.

Gelarannya sebagai Daeng Nuntung kemudian diresmikan saat ia dikhitan, tepatnya sebulan sebelum masuk ke SMP di Galesong, Takalar. Tahapan a’gau gau (khitanan) secara tradisional di tanah Galesong terdiri dari tiga, yakni barazanji, penammatan Al Quran, dan sebuah tahapan yang disebut Atta’ba di mana sumbangan dari pihak keluarga bagi yang anak dikhitan disebutkan. Pada proses atta’ba inilah diumumkan tentang pemberian nama “Daeng Nuntung” bagi Kamaruddin.

Atta’ba yang dipandu seorang Imam itu mengumumkan: “Anne alloa nia ngaseng maki mae, para bija, purina, cikali, nenek , dato’na iya ngaseng niaka di kamponga battumaki ri patta’bakanna i Kamarudding daeng Nuntung.”

Artinya: ”Hari ini datanglah ke sini, keluarga, om, sepupu, nenek dan kakek, semua yang ada di kampung datanglah ri pattabbakanna Kamaruddin daeng Nuntung.”


Kamaruddin meneruskan tradisi pemberian gelar daeng di keluarganya. Ketiga anaknya bahkan telah mendapatkan paddaengangnya ketika diaqiqah, masing-masing Intan daeng Ngintang, Khalid Adam daeng Ngalli dan Aisyah Sofianita daeng Te’ne. Nama-nama tersebut diambil dari nama kakek dan nenek di keluarga besar.

“Saya tetap meneruskan tradisi paddaengang ini karena ingin mengingat sejarah keluarga sekaligus juga menjadikan gelar itu sebagai bentangan harapan dan doa bagi anak-anak saya,” tutur Kamaruddin.

Beberapa paddaengang yang populer digunakan dapat dilihat pada tabel di bawah ini.










Sempat Malu
Sementara itu citizen reporter Syaifullah daeng Bella dari Kabupaten Gowa mengaku mulai tertarik menelusuri tradisi paddaengang di keluarganya ketika beranjak remaja. Ia menanyakan tradisi paddaengang ini kepada salah seorang neneknya.

“Katanya jaman dulu pemberian gelar daeng diberikan setelah sang bayi lahir. Biasanya yang paling berhak memberi nama daeng tersebut adalah kakek atau nenek langsung dari si bayi. Biiasanya juga nama daeng-nya akan lebih populer dari nama aslinya, dalam artian keluarga maupun orang-orang terdekat akan hanya memanggil nama daeng-nya saja tanpa menyebut nama aslinya. namun di jaman sekarang pemberian gelar daeng tersebut diberikan kepada anak yang sudah beranjak remaja, sebagian besar hanya formalitas saja dan tidak terlalu melekat seperti kebiasaan orang jaman dahulu.”

Tentang acara khusus untuk pemberian nama daeng, di keluarga Syaifullah pada dasarnya tidak memerlukan ritual khusus selain diumumkan pada saat sang bayi diaqiqah. Yang menarik karena ia mengamati anak muda Makassar zaman sekarang meski masih banyak yang punya nama daeng pemberian kakek dan nenek, tapi sayangnya terlalu sedikit dari mereka yang mau memakai atau sekedar menuliskan nama daengnya.

“Kebanyakan anak muda sekarang menganggap pemakaian nama daeng sudah terlalu "jadul" (jaman dulu –istilah ketinggalan jaman –ed), kampungan dan tidak intelek. Apalagi bila melihat kenyataan jaman sekarang, nama daeng diasosiasikan dengan masyarakat kelas bawah seperti tukang becak, tukang batu, dan lain-lain. Saya sendiri mendapat nama daeng Bella (artinya jauh) dari nenek saya, nama ini diambil dari nama bapak beliau yang mati digorok pemberontak tahun 50-an. Kata nenek saya, beliau ini orangnya tegas, kukuh dalam pendiriannya dan suka menolong yang lemah dan beliau berharap saya bisa memiliki sifat yang sama,” tutur Syaifullah.

Banggakah ia dengan nama daengnya itu? Syaifullah mengaku ia cukup bangga dengan nama ini, “Tapi sayangnya nama ini terdengar agak feminin, sehingga kemudian saya tidak pernah menuliskannya lagi karena malu. Sampai sekarang nenek saya masih sering memanggil saya dengan nama Daeng Bella. Sementara nenek memberi gelar istri saya yang orang Jawa, Daeng Pajja karena kulitnya yang hitam manis. Pemberian nama daeng untuk istri saya ini tanpa acara ritual khusus.”

Egaliter vs Bangga
Lain lagi dengan Zohra Andi Baso Karaeng Intang yang lahir di tengah keluarga bangsawan di kabupaten Pangkep. Ia bercerita bahwa di tengah keluarga dan sahabat dekatnya ia memang dipanggil “Karaeng Intang”. Intang adalah gelar daeng yang disematkan kepada aktivis gerakan perempuan ini. Sekarang ia merasa jengah dengan panggilan itu.

“Zaman sudah berubah. Di keluarga besar kami sudah ditradisikan menyebut Tante, Om, Kakek, Nenek, Kakak dan bukannya melestarikan panggilan yang sangat hirarkis itu. Dahulu, pemberlakuannya di kalangan bangsawan sangat ketat. Salah panggil bisa dianggap tidak tahu adat. Anak laki-laki mendapatkan gelar daeng saat ia disunat, sementara anak perempuan menyandang gelar daengnya saat haid pertama. Tapi ada juga anak-anak yang telah mendapatkan gelarnya sejak bayi. Nama daeng ini diambil dari nama leluhur kami. Tapi sekarang saya lebih nyaman dengan panggilan yang mencerminkan kesetaraan, sikap egaliter,” tutur Zohra.

Repot menghapal gelaran daeng setiap anggota keluarga dan sanak famili dirasakan citizen reporter Yusrianti daeng Lantiq, yang besar di tengah keluarga bangsawan Jeneponto. “Orang tua saya sangat menjaga tata krama panggilan daeng di tengah keluarga kami. Tapi bagi anak-anak muda, ini merepotkan sekali. Bila bergaul dengan sepupu yang lain, rasanya ada jarak untuk mengingat nama daeng, nama asli, nama kecil. Bila salah sebut, kami dicap tidak sopan,” tuturnya.

Tapi setelah beranjak dewasa dan kemudian merantau ke Jakarta, Yusrianti kemudian “back to basic” dalam soal panggilan daeng ini. Ia menyebut gelaran daengnya setiap kali memperkenalkan namanya. Meski sulit bagi lidah orang luar Makassar melafal nama Lantiq yang artinya penyambung, pemersatu, atau lebih kerennya lagi “fasilitator”. Bagi rekan-rekannya yang sulit mengingat nama daengnya itu, ia tidak keberatan dipanggilan “Daeng Yus”.

“Dulu saya berpikir, penggunaan paddaengang ini bikin susah saja dan erat kaitannya dengan identitas kelas di dalam masyarakat Makassar. Kalangan bangsawan sangat mengagungkan gelaran seperti ini, termasuk keluarga saya. Nama paddaengang pertama saya adalah Daeng Sunggu, tapi saya protes dan merasa kurang cocok, apalagi ada juga tetangga bernama Daeng Sunggu yang perangainya kurang disuka warga lain. Saya ogah menggunakan nama itu. Sewaktu kuliah juga saya enggan menggunakan nama daeng saya, kesannya kuno… Tapi sekarang, saya malah bangga memperkenalkan diri sebagai Daeng Lantiq.. kedengarannya unik, dan ciri khas Makassarnya kuat. Bagi yang sulit mengucapkannya, saya bahkan mengusulkan memanggil saya DELLA, singkatan Daeng Lantiq, lebih gaya lagi kan?”

Di luar Sulsel, banyak orang Bugis-Makassar yang juga memelihara nama paddaengang atau bahkan menyematkan gelar “daeng” di depan nama mereka sebagai identitas. Menurut citizen reporter Ismail S. Wekke di Kuala Lumpur, kata “daeng” sangat populer digunakan baik di Pekanbaru, Singapura dan Malaysia.

“Saya bertemu Daeng Ayyub di Pekanbaru pada awal bulan Mei. Kemudian ada yang pakai nama Daeng Mappisammeng di Malaysia yang baru-baru ini diwisuda di Universiti Kebanggsaan Malaysia (UKM) dan saudara kita di Malaysia yang berketurunan Bugis sangat gembira jika dipanggil dengan gelaran daeng-nya. Saya kenal Daeng Gassing di kawasan Bandar Baru Bangi, Kuala Lumpur. Di Singapura, beberapa orang Bugis yang saya temui selalu memperkenalkan nama paddaengannya kalau dia sudah tahu saya ini orang Bugis.”

Katanya, di tanah rantau di negeri jiran ini, sesama orang Bugis (semua orang yang dari tanah Sulawesi Selatan disebut Bugis walaupun suku Makassar) lebih senang saling memanggil dengan nama paddaengang atau menyapa dengan kata “daeng” di depan nama masing-masing.

Karena gelar daeng ini diambil dari bahasa Makassar, tentu ada catatan khusus agar berhati-hati menggunakannya di daerah lain. Ambil contoh Daeng Maling. Dalam bahasa Makassar, Maling artinya "orang yang peduli". Tapi harus lihat-lihat situasi juga menyerukan nama ini di daerah lain. Bila meneriakkan nama ini di Jakarta, bisa-bisa barabe kena gebuk … (p!)


*Topik Gelar Daeng atau Paddaengang ini telah didiskusikan selama bulan Agustus di mailing list panyingkul@yahoogroups.com
Bagi Anda yang berminat bergabung silakan mengirim email kosong ke subscribe-panyingkul@yahoogroups.com

*Tabel disusun oleh Yusrianti Y. Puntodjaf Lantiq dan Syaifullah.


| Beri Komentar| Jumlah Komentar (40) |

Komentar :

15-06-2010
Dari : opik | kurobuta_wombat@yahoo.co.id
@ maha dipta, aku juga punya sahabat orang jogja asli namanya Daeng aditya mas nugroho. mungkin masih ada hubungannya dengan pasukan daeng-daeng, Karunrung-trunojoyo, maaf saya juga kurang info ... sepertinya alasan pemberian nama RSU di tamalanrea makassar (RS wahidi Sudirohusodo) bisa menjawab pertanyaan teman mahadipta.

05-11-2009
Dari : gilang | www.gil@ngbgs.com
aq gilang tngl d rangtauang di kota palangka raya kalteng , asal sy bugis sidrap , tp org yg knl aq org bugis panggilangya daeng gilang , pdhl aq bkn bgs makassar

05-11-2009
Dari : gilang | www.gila@ngbgs.com
aq gilang tingal di rangtauaxg di kalteng palangka raya , orng yg knl aq org bugis panggilangnya daeng gilang , padhl aq bkn org bugis makassar , tp aq bugis sidrap

22-07-2009
Dari : maha dipta | mahadipta@rocketmail.com
eh ku nak jogja pi bapaKu rang bugis,,trs di belakang nama ku da daeng lau,,tuh pa yah artinya

27-05-2009
Dari : sofyan saleh | sfy_saleh@yahoo.co.id
Saya perantau Maccasares. Ketika menikah dgn gadis Palembang saya menasbihkan isteri untuk memanggil saya sehari-hari dgn Daeng (bukan abang, kakak, yayang). Anak saya ( 2) dan isteri saya diberi paddaengang oleh Neneknya di Makassar masing2: Daeng Ngai, Daeng Kanang dan isteri Daeng Baji. Bangga luarbiasa. Tapi saya sendiri sdh lupa siapa nama Daeng saya ya?

09-05-2009
Dari : aMwWdNWhbfAcogKXVfz | haaprk@hzokiy.com
eJid4v kotvoxkpgadi, [url=http://ehkjwzrk hyhp.com/]ehkjwzrkhy hp[/url], [link=http://xmmwbxn fzkly.com/]xmmwbxnfz kly[/link], http://vaqhgdjbjzcm. com/

21-04-2009
Dari : Fadly Hidayat | DaengSuluminfadly@Yahoo_co.id
Daeng!!! Suatu kata yang sangat menarik dan bagus untuk di telusuri sejarahnya bagi kaum muda sekarang yg kadang-kadang lupa akan sejarah bangsangya sendiri. dari sana kita dapat memetik pelajaran dan mengerti akan arti kehidupan.

20-12-2008
Dari : Muslimin B Putra | musliminbputra@yahoo.com
Nama paddaengang bagi saya lebih merupakan identitas bersosial. Meski saya lahir dari keluarga kelas menengah dari strata sosial di Jeneponto dgn gelar DAENG LALO,gelar daeng lebih merupakan simbol.Istri saya pun diberi paddaengan oleh keluarga besar saya padahal dia berasal marga Gobel dari Gorontalo.Ketika anak saya lahir di Bekasi dan Depok, keduanya langsung saya beri paddaengan sebagai simbol orang yang berasal dari Makassar.

28-11-2008
Dari : linda daeng sunggu | lindha.cute@yahoo.com
ai......ada qt loepa ....,dimana qt taro dg sayang,padahal itumi yang paling sering orang uca.......z jg bangga punya pa'd

28-11-2008
Dari : linda dg sunggugg dg. |

09-09-2008
Dari : marsahid daeng mangka | mangka.yahoo.com
saya setuju dengan rachmat dg. tayang, makanya budaya kita banyak dirampas negara lain nasaba' yang punya budaya sendiri sudah tidak mau mengakuinya. jangan malu dipanggil daeng karna itulah kita dan bukan mereka. tabe' daeng..

09-09-2008
Dari : marsahid daeng mangka | mangka.yahoo.com
ucapan terima kasih buat panyingkul yang telah mempersatukan kita.jujur, saya sangat bangga jika dipanggil daeng apalagi di perantauan, kita bisa cepat saling mengenal jika paddaengang kita tetap melekat. tabe' daeng

15-08-2008
Dari : Irwan Saide | saideirwan@yahoo.co.id
BRAVO BRAVO for all of your team...cuma itu aja sih koment dari saya...yang jelas saya harapin sekali melangkah pasti akan sampai tujuannya. O'ya kenalin dulu kali diri saya sapa? saya IWANG "nickname" asal dari cumi2 makassar berkampung di soppeng dan sekarang sedng berkarir diibukota. yang mau kenal lebih jauh ato mgkn udah pernah kenal tapi kelihangan kontak so plz i wllcome to all u for be my friends. Salama Po'

09-08-2008
Dari : DAENG SIJAYA | DAENG@SIJAYA.COM
DIUCAPKAN TERIMA KASIH KPD PANYINGKUL SBG SARANA INFORMASI DAN SILATURRAHIM BG WARGA YG PUNYA IKATAN BATHIN DG MAKASSAR.RASA BANGGA DAN TERHARU SETELAH MEMBACA KESAN DAN PENDAPAT YG ADA DIPANYINGKUL.TABE TARIMA KASIH

11-07-2008
Dari : ANDIK ABD WAHAB BIN ANDEK MA PIASEK | NAZLI AK @ PROTON.COM.MY
as...kum aga kareba yeh maneng,salam perkenalan utk semua,saya asli bugis dari benut pontian johor,cuma bertugas di kuala lumpur,ingin berkenalan dgn semua org bugis tak kira dimana berada ber kelapangan boleh hubungi saya, 017 271 5581 bye

08-05-2008
Dari : khrisna pabichara daeng marewa | khrisnapabichara@gmail.com
saya bangga di perantauan dengan identitas yang khas. tanpa 'daeng' saja,'pabichara' sudah identik dengan Makassar, apalagi jika ditambah 'daeng'. kesan 'jadul'? ah, dalam hemat saya malah terkesan klasik, antik. dipanggil'daeng'? siapa takut!

08-05-2008
Dari : hamsin | hamsin_kdl@yahoo.co.id
aga kareba...slam kenal kalau ada waktu jalan-jalan mampir di web. saya www.hamsin.wordpress .com....saya pingin banget tukar wawasan dan pengetahuan mengenai perantau bugis

05-05-2008
Dari : rafiuddin | rafy_dcc@yahoo.com
apalah arti sebuah Daeng, saya rasa sudah jelas, nasional sudah tau sulsel, bugis-makassar identik dengan sebutan Daeng, yang paling penting kita orang sulsel mamahami nilai-nilai luhur budaya kita yang selalu menghargai siapa pun, atau dari suku manapun..(sudahmi dulu ces,! cape ka menulis..)

05-04-2008
Dari : ahmad mustaqir daeng nippi | amusthoqir09@yahoo.com
saya juga orang makassar ya lagi dirantau.. saya beristrikan orang luar sulsel, tp sangat bangga dan suka dengan semua yg berbau makassar termasuk nama2 orang yang makassar.. katanya berkarakter dan unik.. saat ini istri saya lagi hamil 6 bulan (anak pertama), dan sangat ingin kelak anak itu diberi nama yg nge-makassar gitu katanya. mohon temans yg punya koleksi nama2 makassar bisa di share.sangat kami harapkan.tnx b4..!!

17-03-2008
Dari : rikania09 | rikania09@yahoo.co.id
Oomku nikah ma org padang, trus itu tanteku panggil Oomku dgn sebutan Daeng...hehehe...luc u dengarnya.... tapi bangga juga...

18-02-2008
Dari : http://puang07.blogdetik.com |
saya baru tau ternyata daeng itu bukan gelar sarjana, selama ini orang menulisnya Dg (saya pikir Dokter gigi) malumaki dii,

25-12-2007
Dari : Dg. Sayu |
Bukannya Dg. Siama itu nama laki-laki?

07-12-2007
Dari : Abdullah Daeng Rangka | mangkasaraka@yahoo.com
ada pengalaman unik yang pernah saya alami, ketika pertama kali memasuki STM di Makassar, kenalan dengan teman2 yang semula saya kira mereka dari pulau jawa, setelah lebih akrab ternyata mereka itu asalnya dari bugis, (pada waktu itu jaman kekuasaan pak harto) trus saya beritau teman bahwa saya kira dia itu orang jawa karena namanya suryanto, trus anto jawab gini; saya diberi nama itu kata orang tuanya anto supaya mudah dapat kerjaan ketika selesai sekolah, sebab rata2 pegawai negeri berasal dari suku jawa. Padahal mestinya kita pe-de dengan ciri khas kita, Semoga setelah era reformasi ini tiap anak bangsa dan orang tua mereka lebih pe-de dengan budaya sendiri, salah-satunya dengan menyandang nama paddaengang sebagai ciri khas dan harapan generasi Makassar

22-11-2007
Dari : |
Coba kita simak nama-nama di bawah ini, saya kira sangat elegan juga ==================== ======= LA UMMASA PETTA PANRE BESSIE LA SALIU KERANG PELUA WE BENRIGAU MALLAJANGNGE RI CINA LA TENRI SUKKI MAPPAJUNGE LA ULIO BOTOE MATINROE RI ITTERUNG LA TENRI RAWE BONGKANGE MATINROE RI GUCINNA LA ICCA MATINROE RI ADDENENNA LA PATTAWE MATINROE RI BETTUNG LA TENRI TUPPU MATINROE RI SIDENRENG LA TENRI RUWA SULTAN ADAM MATINROE RI BANTAENG LA TENRI PALE MATINROE RI RI TALLO LA MADDAREMMENG MATINROE RI BUKAKA LA TENRI WAJI ARUNG AWANG MATINROE RI SIANG ( PANGKEP) LA TENRI TATTA DAENG SERANG MALAMPEE GEMMENA ARUNG PALAKKA LA PATAU MATANNA TIKKA MATINROE RI NAGAULENG BATARI TOJA SULTAN SAINAB SAKIYATUDDING LA PADASSAJATI TO APPAWARE SULTAN SULAEMAN PETTA RI JALLOE LA PAREPPA TO SAPPEWALI SULTAN ISMAIL MATINROE RI SOMBA OPU LA PANAONGI TO PAWAWOI ARUNG MAMPU KARAENG BISEI BATARI TOJA DATU TALAGA ARUNG TIMURUNG LA TEMMASSONGE TO APPAWALI SULTAN ABDUL RAZAK MATINROE RI MALIMONGENG LA TENRI TAPPU SULTAN ACHMAD SALEH MATINROE RI ROMPEGADING TO APPATUNRU SULTAN ISMAIL MUHTAJUDDIN MATINROE RI LALENG BATA I MANI RATU ARUNG DATA SULTAN RAJITUDDIN MATINROE RI KESSI LA MAPPASELING SULTAN ADAM NAJAMUDDIN MATINROE RI SALASSANA LA PARENRENGI SULTAN AKHMAD MUHIDDIN ARUNG PUGI MATINROE RI AJANG BENTENG WE TENRI WARU SULTANAH UMMULHUDA PANCAITANAH, BESSE KAJUARA PELAINGI PASEMPE ACHMAD SINGKERUKKA SULTAN ACHMAD IDRIS MATINROE RI PACCING FATIMA BANRI DATU CITTA MATINROE RI BOLAMPARENA LAWAWOWOI KARAENG SIGERI MATINROE RI BANDUNG LAMAPPANYUKKI SULTAN IBRAHIM MATINROE RI GOWA

09-11-2007
Dari : suta d. pasinring | sayazach@yahoo.com
saya dengan bpk jawa tetapi rasa2nya jiwa saya lebih banyak bugisnya, (btw, saya lebih lancar berbahasa bugis daripada bahasa jawa)lalu ketika pulang makassar saya bertemu dengan orang yg cukup berumur dan memberi saran agar saya menggunakan nama daeng di belakang nama saya. Kebetulan nenek saya punya nama bugis yakni pasinring yg kata orangtua tadi berarti 'penyampai pesan' sehingga saya mulai menggunakan nama suta d. pasinring (dengan 'D' bisa berarti daeng atau nama bapak saya dawud he....he...)

08-11-2007
Dari : baseri | basri_marzuki@yahoo.com
Dulu waktu masih di kampung saya sungkan sekali dipanggil Daeng Nambung, tapi setelah di luar Sulsel, rasanya jadi rindu dengan panggilan itu kembali.

04-11-2007
Dari : ranting |
saya teringat seorang kawan yang sangat menyembunyikan paddaengannya. suatu hari ketika berkunjung kerumahnya, saya tak sengaja mendengar ia dpanggil dengan nama Aci( singkatan dari Dg. Ngasih). berkali-kali saya diminta merahasiakan namanya, dengan alasan malu kedengaran kampungan

27-10-2007
Dari : imtihanah | iffahzh_97@yahoo.co.id
Saya bukan asli orang makassar karena dalam darah saya ada darah padang tapi ketika saya di tanya asal saya,dengan sangat bangga saya mengatakan asli makasar tentunya dengan memperkenalkan diri memakai nama "daeng".Dan suami saya yang asli yogya pun mendapat paddaengan dari orang tua saya, begitu pun dengan kedua jagoan saya, dan saya membiasakan memanggil mereka dgn nama "daengnya". Apakah karena di rantau ( saya menetap di Riau )sehingga ada kebanggaan tersendiri akan identitas tsb ? Saya hanya berprinsip anak-anak saya harus tahu dan mengenal kampung ibunya karena kalau bukan saya siapa lagi yg akan memperkenalkan mereka tentang Makassar ?

11-10-2007
Dari : |

11-10-2007
Dari : JALANI MUHAMMAD NOOR | jalani@memwire.com
Aga kareba sappo, Menarik cerita berkaitan dengan daeng,Mahu tanya kalau namanya Daeng Pata'puk,Daeng Pattiroi,Daeng Toa,Daeng Abbasek dan Daeng Ulleh itu apa maknanya ya? Sekian Assalamualaikum.

27-09-2007
Dari : mohammad ashari bin malik | HanzanakBUGIS@gmail.com.
asaalamualaikum semua selessureng ku ya maneng sompung ugi e. wah nappang na engka u baca passeleng daeng. terima kasih kepada yang sudi berkongsi maklumat. kepada semua pelayar internet klu ada teks mengenai bangsa kiti muat aja d laman ini. sekian dulu dari saya anak ugi ri malaysia.

19-09-2007
Dari : Syamsu Salewangan Daeng Gajang | syamsusalewangan@yahoo.com
Salah satu kelemahan & kesalahan terbesar suku-suku bangsa di Sul Sel adalah cenderung menghilangkan identitas budayanya yang boleh jadi sebenarnya adalah spirit bagi mereka untuk survive. Yang melestarikan justru anak keturunan bugis dan makassar di rantau yang telah turun temurun membentuk komunitas baru. Sebagai contoh di Bima, Dompu dan Sumbawa yang walaupun mereka telah menjadi suku tersendiri, namun mereka dengan sangat bangga mengakui bahwa asal usul nenek moyangnya adalah dari gowa, bone, luwu, jeneponto, selayar dll. Khusus suku mbojo (bima - dompu) juga menggunakan 'DAENG' untuk memanggil orang yang dituakan. Tetapi akibat pengaruh lidah setempat mungkin akhirnya berubah menjadi 'DAE'. Misalnya seseoarang bernama HASAN maka akan dipanggil DAE SAO atau Syaiful akan dipanggil DAE IFU. Jadi saatnya anak muda khusunya Makassar untuk mau melestarikan budaya kita sendiri.

04-09-2007
Dari : Muhammad Iqbal | iqbal_m70@yahoo.com
saya orang Bugis dirantau sangat bangga dipanggil Daeng oleh rekan2 kerja, teman dan tetangga saya. mereka memanggil saya Daeng Iqbal.

01-09-2007
Dari : Nico Todoer | nictodoer@yahoo.com
Dg. Kammisi' = Lahirnya Hari Kamis Dg. Salasa = Lahirnya hari Selasa Dg. Juma' = Lahirnya hari Jumat Sattu = Yang ini bukan daeng, kalo' nda salah orang Toraja. Minggus = yang ini juga' dulu jual nyo'nyang dilorong kecil depan SMANSA...........

01-09-2007
Dari : Daeng Nombong |
skenap mesti malu gunakan adat sendiri..selama itu baik nda papaji di pake.org jawa pk mas,mba,neng,dsb.org betawi pk mpo,oneng,dsb.orang malaysia pk datuk,dsb..masa kita orang bugis-mks mau kalah tren ma mereka.. ayoooooo maju terus daeng

29-08-2007
Dari : Asnawi Rizal Dg Sirua | rizal-84@hotmail.com
Saya akui sendiri bahwa banyak yang malu menggunakan nama "paddaengang" hal ini disebabkan karena gelar-gelar daeng telah mengalami perubahan,dulu gelar daeng hanya untuk para bangsawan tetapi sekarang lebih dialamatkan pada pekerja-pekerja kasar (Tukang Becak). ini semua adalah warisan settingan penjajah Belanda. oleh sebab itu harus ada upaya kolektif dan penyadaran massal agar rasa malu yang terlanjur mendarahdaging dalam lubuk hati orang-orang Sul-Sel bisa ditepis dengan kebanggaan terhadap identitas lokal kita. Mangkasara rewako

29-08-2007
Dari : Ipul | ipulji@yahoo.com
oo..iyye tawwa, dilupaki kasi masuk namanya daeng Marowa..padahal artinya bagus tawwa, meramaikan...tapi memang, bapak yg satu ini sy kenal suka meramaikan suasana...salama' ki daeng..

29-08-2007
Dari : @ef | marowa@gmail.com
Hiks..., Dg Marowa gak ada. Tapi yang pasti, ulasannya muantaB. selamat rong!

27-08-2007
Dari : Rachmat Dg Tayang | bapaknayla05@yahoo.com
Saya setuju pendapatnya barombong,bahwa kenapa mesti malu dgn"Padaengan'ta"Ora ng luar negeri aja bangga dgn namanya contoh Tanaka,watanabe,suzu ki(JEPANG)Kim,Lee,pa rk,som dll(korea)

27-08-2007
Dari : koji | barombong16@yahoo.com
Catatan yang dituliskan oleh Nesia Adriana, kalau boleh saya katakan-brilian. Nama merupakan bagian dari kebudayaan-salah satu unsur penting penanda kebudayaan itu sendiri. tidak usah jauh melirik ke kebudayaan lain, di sulawesi selatan sendiri-Tana Toraja misalnya, pemberian nama-nama mereka masih kuat melekat pada unsur kedaerahan mereka. Apakah orang Toraja sadar tentang pentingnya menjaga kebudayaannya dengan memberikan nama daerah kepada anak mereka ataukah refleks saja, masih perlu pengkajian yang lebih jauh-namun saya secara pribadi tertarik akan fenomena ini. Hampir setiap orang Toraja yang saya temui memakai nama daerah, sebut saja seperti; Limbo, Sarung allo dsb.-tidak sedikit yang memakai nama dari sumber budaya keristen tapi nama daerah mereka selalu mengikuti contohnya; Ebenizer landa, Nicodemus Buttulola dsb. Trend di atas masih dapat kita jumpai di sebahagian kelompok etnis Bugis, Makassar, Mandar dan Massenrempulu. Namun saya ragu akan kelangsungan ini, fenomena yang terjadi sekarang adalah kita semakin jauh dari kebudayaan kita sendiri (dalam hal pemberian nama). Sebagai ukuran, saya lahir di tahun 1978 dengan nama Hartawan dari suku Bugis-Makassar, berarti pada tahun 1978 penamaan selain nama daerah sudah ada-setidaknya dalam kasus saya. Dari yang saya amati, pemberian nama condong kepada arti-arti dari bahasa yang sudah mati dari bahasa sansekerta-parsi kuno contohnya; Surya, Budi, Harta?, Khan, Muallim dsb. Dari sumber yunani-roma kuno diantaranya; Nova, Febri, Agus, Desi?, Mona dsb.Dari sebutan Inggris/Eropa/Intern asional(tidak jarang akar dari nama tersebut juga bersumber dari yunani-roma kuno)seperti; Jony, Max, Charles dsb. Tidak sedikit juga pemberian nama-nama berbau jawa seperti; Murni, Harianto, Siswanto, Wardiman, Sudirman dsb. padahal mereka semua orang sulawesi selatan. Ada apa dengan laBase/iBaso, Indo Logo, Besse, Acce, Senggong, Tinri, Tandri, Mappa, Kacong, Sangkala, kenapa nama-nama yang berkarakter tersebut tidak digunakan untuk memanggil anak-anak kita-ataukah kita butuh daftar nama-namanya dulu?...siapa yang bisa datang dengan daftar tersebut?...Please. NB: Budaya Arab, dalam hal ini nama-nama Arab, sudah menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam budaya sulawesi selatan-ini telah menjadi budaya itu sendiri.



 :: CITIZEN REPORTER
Makassar di Panyingkul!: Sebuah Persembahan
(Kamis, 12-07-2007)
Ayo Bergabung di Panyingkul!
(Minggu, 29-04-2007)
Catatan Sederhana Para Citizen Reporter
(Selasa, 31-10-2006)
Tentang Citizen Reporter dan Rubrik di Panyingkul!
(Rabu, 11-10-2006)
Riuh Rendah di Panyingkul!
(Rabu, 16-08-2006)

Untitled Document
 :: DUNIA SEGIEMPAT KAREBOSI






 :: PILKADA




 :: ALBUM PUASA 2008




Untitled Document
 :: KONTAK TIM PANYINGKUL!

Email Redaksi :

redaksi@panyingkul.com

Tim:
yus@panyingkul.com
+62 813 226 80844

Moch. Hasymi
+62 811 955 954


© Juni 2006 - Panyingkul.com All Rights Reserved
Desain Web : Nesia Andriana -- Supported by: Yuhardin