|
|
| . |
| ::
|
| Kamis, 30-08-2007 | Kukabarkan Demam Baliho di Kendari... :: Arham Rasyid ::
| Citizen reporter Arham Rasyid di Kendari dikenal luas sebagai kartunis dan penulis dengan selera humor yang cerdas. Ketika kota tempat tinggalnya dilanda demam baliho menjelang pemilihan gubernur Sultra, ia dengan humornya yang selalu segar itu mengajak kita tersenyum menikmati tingkah polah para tokoh yang berniat maju bertarung dalam parade baliho. Hasil perburuannya sebagai penikmat baliho, melahirkan liputan yang bisa membuat mengulum senyum bahkan terpingkal. Tim kreatif baliho ada yang mau praktis, ada juga yang sangat kreatif, bahkan hingga yang nekat ke laut. Berikut laporannya. (p!) |
Baliho tak terbantahkan lagi sebagai sarana promosi paling efektif dan paling laris saat ini. Tak perlu menyewa ruangan besar atau memajang di etalase eksklusif. Cukup dengan desain kreatif, susunan kalimat yang menarik perhatian dan mudah dicerna, serta cetakan beresolusi tinggi, lalu kemudian ditebar di lokasi-lokasi strategis. Tinggal pilih, mau yang bayar pajak, atau ilegal. Dan karena populernya sarana promosi ini, kota Kendari juga tidak luput dari demam baliho menyambut pemilihan gubernur Sultra tahun depan.
Di Kendari saat ini sedang hangat sosialisasi visi misi para bakal calon gubernur. Meski belum sampai pada tahap pencalonan resmi, tapi dari berita media massa dan juga kekuatan tebar pesona di sudut-sudut kota melalui baliho, terhitung tak kurang dari lima kandidat kuat yang akan bertarung dengan dukungan partai-partai besar. Jumlah ini bisa bertambah, sebab belum termasuk calon yang masih malu-malu dan berharap melobi partai gurem, ditambah calon yang sekadar iseng, yang mungkin cari nama untuk target jangka panjang.
Sebagai pengguna jalan dan warga biasa, saya pun mau tidak mau menjadi akrab dengan banyak wajah dan jargon di baliho. Apakah saya menikmati parade baliho di Kendarii? Sebagai warga, saya tentu bisa menikmatinya dengan cara sendiri. Bagaimana kalau Anda ikuti petualangan saya menikmati parade baliho ini?
Pertama saya ajak Anda menengok baliho ini,
Baliho Ali Mazi. Foto: Arham Rasyid.
Bapak di baliho itu adalah Ali Mazi, gubernur sekarang hingga berakhir masa jabatan tahun depan, dan akan maju lagi bertarung dalam pemilihan nanti lewat pintu Partai Golkar. Istilah kerennya calon incumbent. Berapa bulan yang lalu sempat dinonaktifkan terkait kasus lama saat ia masih jadi pengacara Hotel Hilton di Jakarta.
Waktu itu posisinya sebagai gubernur otomatis digantikan sementara wakilnya sebagai pelaksana tugas. Setelah diputuskan bebas oleh Mahkamah Agung dan kembali bertugas, pendukungnya tetap setia. Toh yang penting dia punya visi misi.
“Dengan Bukti, Bukan Janji”, begitu pesan yang diusungnya.
Ali Mazi dan timnya pasti bangga dengan slogan itu. Tapi bagi saya saya yang awam ini, sebenarnya tak ada yang istimewa. Alasan saya, bukankah pemimpin memang sewajarnya membuktikan janji, bukan? Jadi, apanya yang istimewa?
Istimewa atau tidak, bagaimana pula dengan slogan pada baliho dibawah ini?
Mengapa mirip judul sinetron ya? Foto: Arham Rasyid.
Jujur saja, saat membaca slogan dari bapak yang sekarang adalah Wakil Ketua DPD RI ini, yang pertama kali terlintas di benak saya adalah sebuah adegan sinetron dimana seorang pria baru saja berbuat kesalahan sehingga tiba-tiba kekasihnya memutuskan hubungan, dan si pria merajuk ingin memperbaiki keadaan sambil bermohon, “Berilah saya kesempatan, sayang..”
Atau bisa juga adegan seorang pemilik rumah yang kedatangan debt collector yang berakting akan menyita rumah serta barang-barang berharga miliknya karena belum dapat menyelesaikan urusan hutang piutang dan berkata, “Berilah saya kesempatan, Pak..”
Soal adegan sinetron dan akting itu sebenarnya tak main-main. Ada hubungan erat. Calon-calon gubernur ini dituntut berakting dengan baik. Jika tak sanggup di dunia nyata, setidaknya untuk sesi pengambilan gambar baliho saja.
Coba lihat calon gubernur Nur Alam dari Partai Amanat Nasional yang lihai berakting di bawah ini dengan mengusung slogan “Pemimpin Sejati Adalah Pelayan Rakyat”
Melayani = Menyapu ya, Pak? Foto: Arham Rasyid.
Mengapa pelayan dianalogikan sebatas tukang sapu? Atau mungkin maksudnya Pembantu Rumah Tangga? Kalo benar begitu, saya pikir Ceriyati dan Parsiti, dua TKW yang didera siksa, mungkin tak akan jadi melompat dari jendela apartemen majikan di Malaysia saking terharunya pada baliho tersebut yang sangat mengangkat derajat kaum mereka.
Dan tampaknya calon gubernur yang satu ini tidak puas dengan satu gaya. Di baliho lainnya ia tampil beda. Kali ini dengan kacamata hitam dan dasi, yang mencitrakan profesional muda. Slogan yang dipilih mirip iklan minuman.
Citra yang muda layak jadi pemimpin bisa tergambar? Foto: Arham Rasyid.
Hm, bagaiamana? Kurang puas? Siapa tahu ada rakyat pemilih yang kurang sreg dengan kaca mata hitam, bagaimana kali ini dengan gaya kacamata hitam dibuka seperti di bawah ini?
Hmmm, ada bakat jadi model? Foto: Arham Rasyid.
Dan betul-betul luar biasa bakat akting calon yang satu ini. Untuk menggaet pemilih perempuan dibuatlah baliho seperti di bawah ini.
Menunjuk apa, Pak? Foto: Arham Rasyid.
Yang pasti, kalau saja saya yang ditunjuk menjadi tim suksesnya, “Posko Relawan Perempuan” yang disuarakan pada baliho di atas ini mungkin akan saya ganti dengan “Posko Relawan Flamboyan”, sesuai dengan gaya modelnya.
Baiklah pembaca kita tinggalkan si calon gubernur Nur Alam yang tampaknya punya bakat jadi model dan bintang iklan. Sekarang mari kita beralih menyimak baliho selanjutnya.
Tidak mubasir. Foto: Arham Rasyid.
Bapak ini bernama Yusran Silondae, jabatannya wakil gubernur Sultra. Sempat menjadi pelaksana tugas gubernur sementara saat gubernur aslinya non aktif mengikuti pemeriksaan dan persidangan di Jakarta.
Rencananya Yusran Silondae juga akan maju bertarung, jadi calon tunggal yang diusung Partai Persatuan Pembangunan. Baliho di atas dibuat saat ia menjabat Pelaksana tugas gubernur, yang disingkat PLT. Tak tanggung-tanggung saat itu dicetak hampir seratusan baliho yang kemudian menyebar mulai di sepanjang jalan-jalan utama seperti Jalan Kendari Beach, Jalan Laode Hadi, hingga masuk ke jalan-jalan pelosok desa terpencil.
Tapi kemudian, saat Gubernur Ali Mazi kembali ke Kendari dan “menyelesaikan” urusan kasus Hotel Hilton di Jakarta, Yusran Silondae pun kembali ke posisi awal sebagai wakil gubernur.
Tapi tim suksesnya tak mau ambil pusing. Tentu tak sedikit biaya yang harus di keluarkan jika saja harus mengganti baliho lagi. Maka coba perhatikan, tulisan “wakil” atau disingkat WKL pada baliho di atas, dibuat manual ala kadarnya dengan cat, sekadar untuk menutupi tulisan PLT. Hemat biaya kan?
Tapi jangan mengira tim kreatif Yusran Silondae kekurangan tenaga desain, karena yang saya lihat, masih banyak baliho lain miliknya yang tersebar dengan tampilan berbeda. Untuk kasus baliho di atas, mungkin tertumbuk di persoalan anggaran saja dan tidak ingin mubazir.
Nah, pembaca budiman dari baliho yang tidak ingin dibuang mubasir seperti pada kasus Yusran Silondae kita lihat kasus yang berbanding terbalik. Di bawah ini adalah baliho Rektor Universitas Haluoleo, Prof. Mahmud Hamudu yang juga pasang ancang-ancang mengincer kursi gubernur. Baliho sang rektor di perempatan Jalan Ahmad Yani dan jalan Budi Utomo modelnya sama persis.
Ancang-ancang sang rektor. Foto: Arham Rasyid.
Asumsi saya, dari segi anggaran, sang rektor tentu tak kekurangan. Buktinya, baliho sejenis ini menjamur di mana-mana, di seantero kota. Tapi yang membuat saya tak habis pikir, kenapa desain baliho Prof. Mahmud hanya satu? Tim kreatifnya benar-benar tak kreatif. Bagaimana mau dibilang kreatif bila baliho itu ternyata hanya menjiplak sampul buku bigorafi sang rektor seperti di bawah ini.
Cukup menjiplak sampul buku ini.. Foto: Arham Rasyid.
Jadi begitulah pembaca yang budiman, kotaku tengah diserbu baliho. Sekarang ini musim tebar pesona para calon gubernur. Baliho memang penting bagi mereka sebagai sarana menyampaikan visi dan misi. Berbagai cara ditempuh agar pesan sang calon pemimpin bisa sampai ke masyarakat. Bahkan dengan jalan memasang baliho di tengah laut seperti yang dilakukan calon gubernur Masie Abunawas di bawah ini.
Janji di tengah Teluk Kendari…. Foto: Arham Rasyid.
Dengan segala daya upaya, saya berusaha membaca pesan baliho itu dari bibir teluk. Sayang tidak terbaca. Hm, kira-kira apa gerangan alasan memasang baliho di perairan dangkal yang notabene bukan tempat lalu lalang transportasi laut? Ditujukan untuk siapa pesan dan janji di baliho itu? Semoga saja bukan untuk makhluk-makhluk laut.
Dan menutup wisata baliho di kota Kendari kali ini, saya tampilkan satu contoh dari beberapa calon yang masih malu-malu. Taruhlah misalnya Gaffar Patappe, mantan Bupati Pangkep Sulsel ini juga menebar stiker di beberapa tempat tertentu. Ia belum memasang baliho seperti calon lainnya.
Saya menemukan stikernya di dinding salah satu warung Coto Makassar. Meski saya tidak bisa menraktir pembaca sekalian untuk makan coto, tapi stiker ini bisalah kita nikmati bersama.
Asal usulnya lengkap deh.. Foto: Arham Rasyid.
Coba perhatikan kalimat di stiker tersebut: “Kelahiran Kendari, Dibesarkan dan Keluarga Besar Kendari-Kolaka” Bisa dicerna maksudnya? Mengertikah Anda pada pesan di balik kata-kata ini?
Nah, pembaca yang budiman sekian dulu jalan-jalan kita menikmati parade baliho di kota Kendari. Ingat, baliho dan janji bisa disebar di mana-mana, tapi keputusan memilih pemimpin jangan sampai hanya bermodal informasi baliho. Telusuri dan kritisi visi dan misi para calon, baru memutuskan pilihan! (p)
*Citizen reporter Arham Rasyid dapat dihubungi melalui email arhamkendari@yahoo.com
|
| | Jumlah
Komentar (13) |
|
| Komentar :
24-11-2007 Dari : raftingmania | amar_a@banpuindo.co.id sepertinya nama yang
cocok bukan
Baliho,..tapi
kendariho,..hehehehe
soalnya Baliho cuma
cocok buat di
bali..... 05-09-2007 Dari : Agatsu | ah! itu mah
sotoshop! :D :D :D 05-09-2007 Dari : Agatsu | ah! itu mah
sotoshop! :D :D :D 03-09-2007 Dari : halim hd. | halimhade@yahoo.com nampaknya sultra
lebih terbuka
potensi
demokratisasi
politiknya ketimbang
sulsel, jika kita
menyaksikan begitu
banyak calon yang
maju. tentu, apa
yang saya sampaikan
ini dengan indikator
'kepemimpinan'.
tapi, dengan
indikator
'kepemimpinan'
mungkin partisipasi
masyarakat akan
lebih banyak,
lantaran lebih
banyak pilihan. kita
harap bahwa
munculnya para calon
itu bukan sekedar
untuk
taktiktuktektok
politik-ekonomi:
bargaining, jualan
sapi untuk
kepentingan pribadi
atau kelompok. 02-09-2007 Dari : Syamsoe | toyota_gue@yahoo.com Huaaa haa haa lucu,
tapi bung, spertix
ini bukan cuma di
sultra kayakx.
Hampir ji jg
disetiap daerah kita
Tapi bagus juga
sieh, ditengah
euforia pilkada
disetiap daerah
setidaknya menambah
apresiasi dan
khasanah profil
calon pemimpin masa
depan
.. sebenarnya di
negeri kita ini
banyakji orang yang
cerdas, pinterrr,
mampu dari segi
kinerja, akhlak yg
baik dan
kredibilitas yg
mumpuni tapi karena
tidak ter "backup"
oleh media akhirnya
kesempatan dan
kemampuan mereka
tidak kita
diketahui. Tapi
kadangkala ada juga
yang sebenarnya
tidak tauji apa2
tapi karena ter"back
up" oleh media,
akhirnya mampu
membentuk opini
publik bahwa
sebenarnya dia bisa
berbuat lebih baik
No Problem bro..
semuanya kembali ke
kita ji, sejauh mana
serta sepandai2 kita
men"jejak kasus"si
track record mereka,
pilihan anda
menentukan masa
depan negeri ini.
sedikit meluangkan
waktu dengan
menelaah kembali
profil dan visi misi
dengan tetap
mengedepankan
pribadi dan akhlak
calon pemimpin
adalah hal yg cukup
baik dalam
menentukan pemimpin
kita.
bravo pilkada 07..
Bijak digaris tak
berpihak.... 30-08-2007 Dari : deen | deen10february@yahoo.com lucu banget.. sy
baru kali ini tahu
bahwa ada baliho
model2 gtu.. bener2
'kreatif'.. 30-08-2007 Dari : fadalays | fitrianiadalay@gmail.com itu yang pake sapu
apa maksudnya??
hahaha...!!!!! 30-08-2007 Dari : fikri | fick_ree@yahoo.co.id hwahahahahahaaaaaa..
....lucuna!!!! 30-08-2007 Dari : hendragunawan | ampunn...nyaris tak
percaya saya, begitu
banyak orang yang
ngebet banget
berkuasa...ckckck... 30-08-2007 Dari : Kapitipiti | kapitipitie@yahoo.co.jp Wah seharusnya para
cagub ini meminta
komentar pengguna
jalan dan warga
biasa seperti Arham
ini sebelum memasang
balihonya. Masak
sebelum jadi
gubernur tidak
sempat turun ke
jalan bertanya-tanya
mencari saran dan
informasi dari
warganya baliho apa
yg sebaiknya
dipasang=apa yg
dimaui warganya.
Takutnya nanti sudah
jadi gubernur,
memang tidak mau
mendengar saran dan
komentar/informasi
dari warganya. 30-08-2007 Dari : ipul | ipulji@yahoo.com hahahaha..
liputannya kreatip
dan tentu saja khas
arham..lucu...eh,
betul yg dibilang
p'Sultan. Gaffar
Patappe ini memang
suka sekali
mengubung2kan yang
bisa dihubungkan.
ah..salam lah buat
p'Gaffar...salam
kenal.. 30-08-2007 Dari : rusle' | muhruslee@gmail.com weh..,mantapna
liputan nya dan
pakakkala abis ko
ces Ham.. kayaknya
banyak sekali
calonnya ya? ndak
kayak di Sulsel
cuman 3 ji (yg
terkenal)...!
salut... 30-08-2007 Dari : Sultan Habnoer | sultan@yps-srk.sch.id He..he..
Kelahiran
kendari..!Ini
namanya
menghubung-hubungkan
yang bisa terhubung.
Waktu mau maju di
Pangkep katanya lama
mengabdi di Pangkep.
Waktu mau maju di
Bone katanya
berdarah Bone.
Ada-ada saja! |
|
|
|
|
| ::
CITIZEN REPORTER |
 | (Kamis, 12-07-2007) |  | (Minggu, 29-04-2007) |  | (Selasa, 31-10-2006) |  | (Rabu, 11-10-2006) |  | (Rabu, 16-08-2006) | |
|
Untitled Document
| ::
DUNIA SEGIEMPAT KAREBOSI |
|
Untitled Document
| ::
KONTAK TIM PANYINGKUL! |
Email Redaksi :
redaksi@panyingkul.com
Tim:
yus@panyingkul.com
+62 813 226 80844
Moch. Hasymi
+62 811 955 954
|
|
|