Untitled Document
 


Untitled Document
.KITAKITA
:: Jika Anda di Panyingkul ::
 
 KABAR KITA
 
 BERANDAKITA
Kegilaan, Dari Cinta Mati di Pulau Rajuni Hingga Riwayat Kadang
:: Ivan Firdaus ::
Baba Guru, Mengenang Film Rhoma Irama di Klenteng Galesong
:: Kamaruddin Azis ::
Mengagumi Tenun Troso, Mengenang Tenun Sengkang
:: Suryadin Laoddang ::
Perempuan Besi di Gunung Perak (2-selesai)
:: M. Aan Mansyur ::
Perempuan Besi di Gunung Perak (1)
:: M. Aan Mansyur ::
 
 RISETKITA
Rasa Takut : Yang Dicitrakan, Yang Dipelihara
:: Aria W. Yudhistira ::
Risetkita: Pramoedya versus Sejarah Resmi
:: Nurhady Sirimorok ::
Hikayat Rumpon Nelayan Mandar
:: Muhammad Ridwan Alimuddin ::
Di Makassar Pernah Ada “Negeri Wajo”
:: Nurhady Sirimorok ::
Surat Itu Ditulis Upas kepada September
:: Nurhady Sirimorok ::
 
 BUKUKITA
 
 KATAKOTAKITA
Kenapa si Gondrong yang Maju?
:: Ivan Firdaus dan Mustamin al-Mandary ::
Karena ‘Rewa’ Badan Binasa
:: Sudirman Nasir ::
Yang Okkot, yang Salah Sambung
:: Nursamsu danTusiana Noor Alfisyahr ::
Kandala`ka`, Kusta Bila Dusta
:: Panyingkul ::
Ayo, Si(ng)kat Terussss..!
:: Panyingkul! ::

 
 TAHUKAHKITA
 

.
 ::
Senin, 17-09-2007 
Surat Itu Ditulis Upas kepada September
:: Nurhady Sirimorok ::


Surat Upas kepada September;
isinya disalahtafsirkan, ditayangkan terbalik di jurnal asing.
Foto: Repro/Istimewa.

Kisah seorang budak asal Sulawesi Selatan yang menjalani hukuman gantung di Tanjung Harapan (kini Cape Town) Afrika Selatan. Bermula dari pelarian sekelompok budak yang kemudian membunuh satu keluarga petinggi VOC. Saat itu, VOC memang menguasai Afrika Selatan, sebagaimana mereka menguasai nusantara. Tidak heran jika banyak budak asal Sulawesi Selatan yang dipekerjakan di sana. Dan Upas hanyalah salah seorang di antaranya. Citizen reporter Nurhady Sirimorok merangkum kembali kisah Upas dalam konteks perbudakan dari berbagai sumber.(p!)

 
Suatu hari yang murung di bulan Agustus 1760. Di Tanjung Harapan, Afrika Selatan, tali yang menjulur dari tiang gantungan seolah tak sabar menunggu Upas berjalan ke arahnya. Ia akan segera menjemput maut di ujung tali gantungan itu.

Keputusan pengadilan Kolonial di Tanjung Harapan telah menghukum budak asal Sinjai ini bersama dua belas budak lainnya. Mereka adalah, menurut versi pengadilan penjajah itu, komplotan budak pembunuh dan pengacau yang sudah setengah tahun mengganggu tidur para pemilik budak di kawasan yang dikuasai VOC Belanda ini. Adalah sepucuk surat yang ditulis Upas kepada September, juga seorang budak dari Sinjai, yang dianggap sebagai bukti meyakinkan akan keterlibatannya dalam komplotan itu.

Begitulah ringkasan kisah berjudul Upas, September, and the Bugis at the Cape of Good Hope. The Context of a Slave’s Letter, yang muncul di jurnal Archipel terbitan Paris tahun 2005.

Artikel ini ditulis dua orang ahli: Sirtjo Koolhof, ahli sejarah dan sastra Bugis, dan Robert Ross, ahli sejarah perbudakan Afrika Selatan. Mereka bertemu secara kebetulan di Perpustakaan KITLV, Leiden, di mana Sirtjoo bekerja sebagai pustakawan. “Dia perlihatkan pada saya laporan tentang surat seorang budak Bugis pada sebuah majalah terbitan tahun 1930an,” kenang Sirtjoo pada peristiwa yang terjadi di Leiden sekitar enam tahun lalu itu. Setelah beberapa kali diskusi mulailah mereka menyusun artikel yang membahas surat Upas.

Sebagaimana judulnya, artikel ini berusaha membangun konteks di mana surat ini ditulis, mereka membahasnya dalam konteks daerah tujuan, Tanjung Harapan, dan daerah asal, Sulawesi Selatan. Mereka membahas perbudakan di Sulawesi Selatan, lalu lebih spesifik melompat ke (reputasi) budak Bugis di wilayah Tanjung Harapan, Afrika Selatan. Tradisi literasi Bugis pun dikupas sebelum menuju ke pembahasan spesifik tentang surat itu.

Menurut mereka, belum ada tulisan yang benar-benar fokus memberi keterangan memadai tentang konteks penulisan surat tersebut. Prof. J.L.M. Franken, di tahun 1930, mulai membahasnya secara sekilas sebagai contoh surat yang ditulis budak di Kawasan Tanjung, Afrika Selatan; S.A. Rochilin empat tahun berikutnya menulisnya sebagai ‘satu-satunya surat yang pernah ditulis budak kepada penguasa Tanjung di abad 18’ (sebuah kesalahpahaman yang dikoreksi oleh Koolhof dan Ross); Victor de Kock, di tahun 1950, malah menyebutkan surat itu ketika membahas obat-obatan dan prosedur penyembuhan; Robert Ross sendiri, pada tahun 1983, lebih memfokuskan perhatiannya pada proses peradilan budak tersebut; Davids, tahun 1991, menyinggungnya dalam bingkai fenomena literasi di kalangan budak di Afrika Selatan.

***

Sebuah penyataan menyentak untuk memulai diskusi tentang perbudakan di Sulawesi Selatan: “Orang Bugis sendiri menjelma menjadi komoditas: mereka adalah penyumbang budak terbesar di Hindia-Belanda pada abad 18,” dikutip Koolhof dan Ross dari tulisan Anthony Reid dan Heather Sutherland.

Lalu laporan demi laporan berderet menunjukkan jejak perbudakan di Sulawesi Selatan. Ringkasan deskripsi Manuel Pinto (pengelana Portugis) di abad 16, serta Speelman (laksamana VOC) dan Nicholas Gervais (seorang agamawan Perancis) keduanya di abad 17, menjelaskan serba singkat tentang fenomena perbudakan di Sulawesi Selatan. Namun bagi Koolhof dan Ross, perbudakan pada abad berikutnya berlangsung dalam skala yang lebih besar.

Apa yang terjadi pada abad 18 sehingga Sulawesi Selatan menjadi ‘juara’ budak di Hindia Belanda? Laporan Roelof Blok, seorang pejabat Benteng Rotterdam, yang terbit tahun 1799 dan diterjemahkan ke bahasa Inggris tahun 1814, memperlihatkan betapa perbudakan sudah berlangsung begitu gencar dan banal. Jika di abad sebelumnya hanya orang kalah perang yang dijadikan budak, maka pada abad ini orang-orang sudah diculik dari kampungnya untuk dijual dan dijadikan budak. Blok menyebutkan kelompok-kelompok penculik pun sudah terbentuk, dan ia menggambarkan betapa canggihnya kerja mereka.

Hasilnya, Koolhof dan Ross, mengutip Abeyaskere, menyebutkan: “Di Batavia […] 25 persen dari seluruh budak adalah keturunan Bugis.” Bila kita membayangkan betapa banyak suku di Hindia dengan jumlah penduduk cukup besar, maka angka seperempat dari seluruh suplai budak sungguh jumlah yang luar biasa.

Dan kisah suplai budak dari Sulawesi Selatan tidak berakhir di abad 18 saja sebab di abad-abad berikutnya, wilayah ini masih menjadi primadona komoditas yang menguntungkan itu. Kolhoof dan Ross antara lain menyebutkan, James Brook, seorang pengelana Inggris yang kemudian menjadi ‘raja putih’ Serawak, dan Carl Bock, yang singgah di Sulawesi Selatan pada abad 19, juga menuliskan kesannya tentang komoditas ini. Bahkan Abdullah Bin Abdul Kadir Munsyi, dalam autobiografinya yang tersohor Hikayat Abdullah, juga melukiskan secara dramatis nasib budak Bugis yang baru tiba di Singapura pada abad itu.

Sayangnya Koolhof dan Ross tidak membahas tentang siapa yang mensponsori ‘produksi’ budak yang bisa bertahan selama berabad-abad dalam jumlah yang sangat besar itu. Catatan Bigalke (2006) tentang budak Toraja yang dijual bangsawannya untuk ditukar senjata dan amunisi yang disuplai bangsawan Sidenreng, mungkin bisa menjadi salah satu penjelasan mengapa Carl Bock menganggap “kota pelabuhan Parepare adalah sarangnya budak”. Begitu banyaknya budak di Makassar pada masa itu, Karl Marx sekalipun terkesan pada laporan Raffles tentang kota ini, yang punya benteng dengan kantong bawah tanah yang berisi banyak budak.

***

Tentang jumlah budak Bugis di Tanjung, Koolhof dan Ross memperkirakan terdapat sekitar 3.500 hingga 5.000 orang, dan ini sudah cukup untuk membuatnya ‘terlihat’ di antara budak lainnya yang ada di Tanjung. Selain itu, reputasi budak Bugis sebagai tukang rusuh, terlihat dari catatan kejahatan mereka, menambah perhatian orang, terutama para pemilik budak, terhadap mereka.

Selain itu secara universal memang para pemilik budak selalu diliputi kecemasan. “Begitulah tuan-tuan pemilik budak yang jumlahnya selalu lebih sedikit dibandingkan budaknya, mereka selalu dalam ketakutan. Mereka mencari alasan untuk menghukum supaya merasa tenang,” tegas Sirtjoo.

Di awal tahun 1760 sekelompok budak bergabung membentuk kelompok yang melarikan diri dari tuannya. Mereka berkumpul di pegunungan di bawah pimpinan Fortuyn van Bugis. Mereka menghindari kejaran dengan singgah dari pemukiman ke pemukiman. Mereka menghindar di daerah pegunungan yang sulit dijangkau dan sesekali saja turun ke pemukiman. Pada bulan Juli terjadi peristiwa yang membelokkan nasib kelompok ini: mereka membunuh keluarga Michele Smuts, seorang asisten dan akuntan VOC. Budak dari keluarga ini sangat dendam terhadap perlakuannya hingga memfasilitasi pembunuhan. Mereka tidak hanya membunuh Smuts tetapi juga istri beserta seorang anaknya.

Pemerintah Kolonial Tanjung menjawab peristiwa ini dengan memperketat patroli. Pun mereka meminta para pemilik budak melarang budaknya mencari kayu bakar di hutan pegunungan. Namun ini hanya berlangsung dua hari karena akan menyebabkan kedinginan di musim dingin dan kekurangan kayu bakar di dapur.

Saat penyerangan itu terjadi, salah seorang budak, Baatjoe van Bugis, mengalami luka, dan yang menyembuhkannya tidak lain adalah September. Dia tidak hanya merawat luka tetapi juga memberi persediaan makanan kepada kawanan yang sedang melarikan diri itu. September sendiri tak turut dalam pelarian. Kelak menjelang kematiannya, Baatjoe van Bugis, dalam keadaan terluka parah, menyebut nama September sebagai seorang anggota komplotan. Dan hukuman pria lima puluh tahun asal Sinjai itu menjadi lebih berat karena sepucuk surat berhuruf lontara ditemukan di lacinya.

***

Surat yang ditulis Upas kepada September itu kekal melampaui masanya. Surat ini ‘ditemukan’ dari tumpukan arsip oleh Prof. J.L.M. Franken yang sedang melakukan studi tentang peran bahasa Melayu, Portugis dan Belanda di Koloni Tanjung di kurun akhir abad 17 hingga 1772. Hasilnya, tulisan berseri Franken terbit di majalah Afrika Selatan, Die Huisgenoot, pada tahun 1930. Di salah satu edisinya Franken mereproduksi surat Upas secara terbalik. Tentu ini terjadi karena sang guru besar sama sekali tidak mengenali aksara Bugis. Bahkan menurut Sirtjoo dan Ross, nasib surat naas ini berlanjut hingga penerbitan-penerbitan berikutnya di tahun 1953, 1991, 1994 (dua kali): dia diterbitkan dengan kepala surat berada di bawah dan hufur berbaring.

Untung saja Koolhof dan Ross masih bisa melihat naskah asli surat Upas di Arsip Tanjung, Afrika Selatan, dan salinannya ada di Arsip Nasional Belanda di Den Haag. Naskah ini terkumpul dalam satu folder bersama dokumen proses peradilan para budak yang dihukum mati itu.

Lalu apa isi surat itu? Surat ini sebenarnya sangat sederhana: berisi permintaan bantuan Upas yang sudah dua bulan sakit kepada September yang dikenal bisa menyembuhkan penyakit, karena belum ada yang bisa menyembuhkan penyakitnya, karena mereka pernah bertemu dan ngobrol, dan karena September adalah sesama orang Sinjai. Surat beraksara lontara ini kelak, untuk kepentingan proses peradilan, diterjemahkan ke bahasa Melayu dialek Betawi, lalu diterjemahkan lagi ke bahasa Belanda. Malangnya, penulis-penulis yang membahas surat ini kebanyakan bergantung kepada hasil terjemahan yang bermasalah itu.

Menurut Koolhof dan Ross, kesalahpahaman terbesar terjadi di bagian awal dan akhir surat tersebut. Bila membandingkan dengan naskah aslinya — dalam aksara lontara —mereka melihat terjemahan Melayu dari surat itu justru membalikkan fakta bahwa yang menulis surat itu adalah Upas. Terjemahan naskah ini bisa dengan mudah ditafsirkan sebaliknya menjadi, September menulis surat kepada Upas. Dampaknya, September dianggap sebagai gembong komplotan pengacau ini dan menerima hukuman yang mengerikan.

Bagian lain yang bermasalah dari terjemahan Melayu surat ini adalah penyebutan kata seajing atau saudara, yang bisa ditafsirkan sebagai saudara kandung atau kerabat, juga bisa dipakai kepada orang sekampung di perantauan. Dengan menafsirnya sebagai saudara biologis atau kerabat, motif gerakan komplotan ini tentu bisa dianggap semakin kuat. Sehingga mengukuhkan alasan untuk menghukum mati seluruh anggotanya.

“Surat itu ditulis dalam aksara dan bahasa ibu kedua budak itu, Bugis. Tentu mereka tak menyangka bahwa surat lugu permintaan tolong itu berubah menjadi bukti untuk mengetuk palu hukuman mati, dan bahwa surat itu masih didiskusikan hingga dua abad kemudian. September dituduh menjadi kepala komplotan budak (Bugis), dan surat yang ditemukan di lacinya disodorkan sebagai barang bukti,” tulis Koolhof dan Ross.

***

Ketika Boone van Bugis yang melaporkan persembunyian para pelarian tengah menikmati kebebasannya, delapan anggota komplotan itu, ditambah Upas, telah menjalani hukuman gantung. Empat orang lain, yang dianggap gembong komplotan, menjalani hukuman lebih berat. Ujung kaki dan tangan mereka diikat lalu ditarik hingga sobek terpisah dari badan, lalu badannya dilindas roda pedati. Sebuah hukuman yang dipertontonkan di depan umum agar nyali calon pengikut mereka menjadi ciut. Salah satu di antara empat orang itu, January van Macassar, mendapat keringanan dengan dihujani tombak di dadanya agar tak merasakan sakit terlalu lama. Tiga orang lainnya harus merasakan hukuman kejam itu secara utuh, mereka adalah Alexander, January dan September van Bugis.

Komplotan budak itu pada akhirnya dapat ditumpas, tapi surat Upas tampaknya akan abadi.(p!)

*Citizen reporter Nurhady Sirimorok dapat dihubungi melalui email nurhadys@gmail.com


| Beri Komentar| Jumlah Komentar (33) |

Komentar :

31-07-2009
Dari : app | palattae09@yahoo.co.id
kejamnya masyarakat dulu,,, utung sekarang tauw semuami membaca lontara....

31-07-2009
Dari : app | palattae09@yahoo.co.id
pantas disana (afrika) ada perkampunagan bugis...

09-05-2009
Dari : lRwntgmpKRa | boptul@bccsaf.com
q8S3TM rtxzbgazhimb, [url=http://thqrhyxt vbnb.com/]thqrhyxtvb nb[/url], [link=http://ipozqam gknxf.com/]ipozqamgk nxf[/link], http://uccnkfleuozf. com/

01-05-2009
Dari : Anwar |
Yang benar itu pasti menang meskipun itu lamaaaaaaa sekali.Saya teringat sewaktu masih kecil,nenek saya bercerita. Bahwa bayak sekampungnya yg hilang,entah kemana rimbanya.dan salah satu jawabanya ya ini.Perbudakan manca negara.P

30-06-2008
Dari : Tedhonk |
Amazing ... Seharusnya "perjalanan budak" ini bisa di filmkan dan saya yakin bila dikemas seperti film BRAVE HEART, pasti akan mendapatkan oscar. Ternyata bangsa kita penuh dengan history yang penuh makna, sayangnya hanya sedikit yang berminat untuk menggali sejarah seperti ini. Well done buat penulis

15-06-2008
Dari : abdul azis | abdulazismajene@yahoo.com
Secara kebetulan aku juga sekarang melakukan artistic research pada subject ini. Saya sekarang kuliah MA Fine Art di MAhku utrecht, Netherlands. Pertengahan agustus rencana Solo Exhibition dengan beberapa video art yang berhubungan dengan Upase Letter. Mudah2an setelah kembali nanti akhir agustus aku juga bisa pameran di Makassar sebelum pulang ke kampung halaman di Tanah Mandar, SULBAR. Wah akan seru kayaknya mengingat ini adalah bagian history kita juga. Salam, Azis to Kandeapi

10-04-2008
Dari : rizal | karemx@gmail.com
informasi yg bagus.....

27-02-2008
Dari : Rika Faridah Oeijaya | daeng_basoganteng@yahoo.com
Saya sangat kagum pada tulisanta.

12-02-2008
Dari : ea | Doimiannalipu@yahoo.com
membaca reportase ini saya jadi teringat roman Victor Hugo yang bercerita tentang teropidana mati, sehari sebelum ia dibunuh ia sempat membuat jurnal. jurnal yang mengkritik tentang hukuman mati dan penjara yang suram. je suis heureux lit votre reportage

20-10-2007
Dari : Muhammad Iqbal | iqbal_m70@yahoo.com
kalo ada yang mau membaca surat Upas kepada September, gampangji copy dulu khan file nya JPG. setelah itu dibalik lagi menggunakan rotate.

20-10-2007
Dari : Muhammad Iqbal | iqbal_m70@yahoo.com

05-10-2007
Dari : halfian |
Artikel yang menarik. Btw, kayaknya terbalikki gambar lampirannya (surat lontara'nya)

21-09-2007
Dari : Sirtjo | sawerigading@gmail.com
Penerbitnya Indonesia Tera di Magelang, tahun 2002

21-09-2007
Dari : dandi |
Wah, saya lupa nama penerbitnya, mungkin bang Aslan masih ingat, karena dia juga pernah baca tuntas buku itu.. buku saya ada di rumah di makassar terbungkus dalam dus..atau di ininnawa. saya tidak ingat lagi.

21-09-2007
Dari : halim hd. | halimhade@yahoo.com
dandy, dimana buku tentang 'historiografi perbudakan' bisa didapatkan, penerbitnya apa? dank u!

21-09-2007
Dari : halim hd. | halimhade@yahoo.com
dandy, dimana buku tentang 'historiografi perbudakan' bisa didapatkan, penerbitnya apa? dank u!

20-09-2007
Dari : dandi |
Pak Mus, ada buku tulisan Anwar Toshibo, dosen sejarah/arkeologi(?) Unhas, judulnya, 'Historiografi Perbudakan', membahas panjang lebar tentang perbudakan di sulawesi selatan. Mungkin bagus jadi bahan referensi.

20-09-2007
Dari : Mustamin Al-Mandary |
Dandy, tulisanta' menjadi referensi pertama saya mengenai perbudakan orang Sulawesi di luar. Selama ini, saya hanya mengetahui perbudakan internal walaupun tentu sangat kuat dugaan adanya orang Sulawesi yang diekspor. Ya, mungkin memang saya kurang membaca, tapi tulisan ini memberikan jejak itu. Akan lebih bagus kalo ini dikembangkan lagi. Tidak mau membuat buku tentang ini?

20-09-2007
Dari : Fandi A.S | vandehook_17@yahoo.com
saya juga tertarik dengan nama-nama mereka ! apa itu hanya nama samaran saja untuk menandai mereka oleh sipengunkap sejarah atau memang itu nama mereka ???

20-09-2007
Dari : Fandi A.S | vandehook_17@yahoo.com
saya baru ingat pepatah "Kebenaran akan selalu terungkap" tapi kebenaran Surat Upas kpd september yang abadi itu sangat..sangat...san gat...sangat lamaaaaaaaaaa terungkapnya! September yang seorang baik hati pasti saat ini tersenyum lega setelah hal ini terungkap! salam buat September di akhirat, tersenyumlah kau selamanya!

19-09-2007
Dari : arminh | artsuru@gmail.com
hal baru bagi orang bugis lainnya. cuma saya herannya melihat nama-nama budak itu. itu nama asli mereka, atau pemberian nama dari pemilik budak. jikapun demikian, pasti akan menarik lagi mengetahui alasan pemberian nama tersebut. apakah terbukti memang kalo kemasan itu sangat mempengaruhi harga sesuatu, nama budak sangat mempengaruhi harganya. salama ki!

19-09-2007
Dari : arminh | artsuru@gmail.com
kayaknya memang terbalik.... saya belum baca juga, langsung liat fotonya, dan memang terbalik.

18-09-2007
Dari : dandi |
Menurut Sirtjo Koolhof, nama bulan itu berasal dari tanggal pembelian budak itu. kalau yang nama 'Alexander' saya masih perlu nanya lagi.

18-09-2007
Dari : halim hd. | halimhade@yahoo.com
saya membayangkan anda, dandy menulis novel. ada novel yang melodrama menyinggung soal perbudakan dan akhirnya jadi pahlawan, 'untung suropati'. numpang nanya: kenapa nama-nama mereka keren-keren, seperti 'alexander', 'january', 'september'. apa hubungannya nama-nama itu dengan posisi mereka sebagai budak? apa nama-nama itu berkaitan dengan jadwal, waktu kedatangan mereka, seperti 'january' dan 'september', sedangkan 'alexander' berkaitan dengan kepemilikan sang tuan terhadap budaknya? tapi, yang saya tunggu novel yang agak akar-rumput. sebab, selama ini saya baca banyak naskah drama yang kalangan atas, dan terlalu banyak 'pahlawan' yang sekarang banyak dihapalkan oleh banyak orang. dan 'september', dan 'january' dan 'alexander' akan lahir dari konstruksi dan visi anda. dank u!

18-09-2007
Dari : Ogi Sidenreng |
Tulisan yang sangat bagus.

18-09-2007
Dari : Tjandrape | tanralili@yahoo.co.id
terus terang saya baru mengetahui bahwa memang benar orang bugis dahulu kala juga ada yg jadi budak2 Balanda. Saya pernah dengar hanya dalam kelong2 sinrili' saja yang tdk punya dasarnya sebagai acuan.

17-09-2007
Dari : pembuat kopi | lakipadada@yahoo.co.id
luar biasa guru dandi.......

17-09-2007
Dari : Kapitipiti | kapitipitie@yahoo.co.jp
Cerita sejarah orang biasa begini yg sebenarnya baik diajarkan pada siswa tingkat lanjut, bukan lagi cerita peperangan dsb yg hanya cocok untuk siswa tkt dasar. Kalau ambil mata pelajaran sejarah di LN pada tingkat lanjut maka tdk ada lagi hapalan tahun-tahun tapi yg ada adalah kisah orang biasa untuk dianalisa dan dijadikan bekal siswa mengetahui latar belakang budayanya. Salut buat Bung Nurhady yg mampu menyajikan kisah ini dgn bahasa yg enak dan mudah dimengerti.

17-09-2007
Dari : halim hd. |

17-09-2007
Dari : daeng ammang petta rukka | daeng.ammang@gmail.com
selama ini banyak yang menganggap bugis bangsa yang besar atau jumawa sebagai orang bugis. terutama saya, mungkin salah satu dari sekian. Tulisan ini serasa menohok atau paling tidak menyadarkan kalau Bugis pun adalah bangsa budak terjajah dahulunya, tidak sempurna-sempurna amat. jadi buat orang bugis yg lain, yang baca tulisan ini, terutama yang andi-andi,... santai2miki,... itu juga gelar dari Belandaji kasian,... Selamat Berpuasa.

17-09-2007
Dari : editor |
naskah asli surat itu dimuat secara terbalik di buku yang dikutip oleh penulis. itupula yang direproduksi untuk tulisan ini (jadi sudah sesuai dgn aslinya; yg memang terbalik).

17-09-2007
Dari : rusle' | muhruslee@gmail.com
Surat Upas yang ditayangkan diatas kelihatannya terbalik. Tulisan itu terbalik. Mohon konfirmasinya.

17-09-2007
Dari : SM |
Menarik sekali ternyata banyak cerita2 sejarah yang kalau tidak digali sudah menjadi saksi bisu kehidupan



 :: CITIZEN REPORTER
Makassar di Panyingkul!: Sebuah Persembahan
(Kamis, 12-07-2007)
Ayo Bergabung di Panyingkul!
(Minggu, 29-04-2007)
Catatan Sederhana Para Citizen Reporter
(Selasa, 31-10-2006)
Tentang Citizen Reporter dan Rubrik di Panyingkul!
(Rabu, 11-10-2006)
Riuh Rendah di Panyingkul!
(Rabu, 16-08-2006)

Untitled Document
 :: DUNIA SEGIEMPAT KAREBOSI






 :: PILKADA




 :: ALBUM PUASA 2008




Untitled Document
 :: KONTAK TIM PANYINGKUL!

Email Redaksi :

redaksi@panyingkul.com

Tim:
yus@panyingkul.com
+62 813 226 80844

Moch. Hasymi
+62 811 955 954


© Juni 2006 - Panyingkul.com All Rights Reserved
Desain Web : Nesia Andriana -- Supported by: Yuhardin