|
|
| . |
| ::
|
| Senin, 17-09-2007 | Surat Itu Ditulis Upas kepada September :: Nurhady Sirimorok ::
| Surat Upas kepada September; isinya disalahtafsirkan, ditayangkan terbalik di jurnal asing. Foto: Repro/Istimewa.
Kisah seorang budak asal Sulawesi Selatan yang menjalani hukuman gantung di Tanjung Harapan (kini Cape Town) Afrika Selatan. Bermula dari pelarian sekelompok budak yang kemudian membunuh satu keluarga petinggi VOC. Saat itu, VOC memang menguasai Afrika Selatan, sebagaimana mereka menguasai nusantara. Tidak heran jika banyak budak asal Sulawesi Selatan yang dipekerjakan di sana. Dan Upas hanyalah salah seorang di antaranya. Citizen reporter Nurhady Sirimorok merangkum kembali kisah Upas dalam konteks perbudakan dari berbagai sumber.(p!)
| Suatu hari yang murung di bulan Agustus 1760. Di Tanjung Harapan, Afrika Selatan, tali yang menjulur dari tiang gantungan seolah tak sabar menunggu Upas berjalan ke arahnya. Ia akan segera menjemput maut di ujung tali gantungan itu.
Keputusan pengadilan Kolonial di Tanjung Harapan telah menghukum budak asal Sinjai ini bersama dua belas budak lainnya. Mereka adalah, menurut versi pengadilan penjajah itu, komplotan budak pembunuh dan pengacau yang sudah setengah tahun mengganggu tidur para pemilik budak di kawasan yang dikuasai VOC Belanda ini. Adalah sepucuk surat yang ditulis Upas kepada September, juga seorang budak dari Sinjai, yang dianggap sebagai bukti meyakinkan akan keterlibatannya dalam komplotan itu.
Begitulah ringkasan kisah berjudul Upas, September, and the Bugis at the Cape of Good Hope. The Context of a Slave’s Letter, yang muncul di jurnal Archipel terbitan Paris tahun 2005.
Artikel ini ditulis dua orang ahli: Sirtjo Koolhof, ahli sejarah dan sastra Bugis, dan Robert Ross, ahli sejarah perbudakan Afrika Selatan. Mereka bertemu secara kebetulan di Perpustakaan KITLV, Leiden, di mana Sirtjoo bekerja sebagai pustakawan. “Dia perlihatkan pada saya laporan tentang surat seorang budak Bugis pada sebuah majalah terbitan tahun 1930an,” kenang Sirtjoo pada peristiwa yang terjadi di Leiden sekitar enam tahun lalu itu. Setelah beberapa kali diskusi mulailah mereka menyusun artikel yang membahas surat Upas.
Sebagaimana judulnya, artikel ini berusaha membangun konteks di mana surat ini ditulis, mereka membahasnya dalam konteks daerah tujuan, Tanjung Harapan, dan daerah asal, Sulawesi Selatan. Mereka membahas perbudakan di Sulawesi Selatan, lalu lebih spesifik melompat ke (reputasi) budak Bugis di wilayah Tanjung Harapan, Afrika Selatan. Tradisi literasi Bugis pun dikupas sebelum menuju ke pembahasan spesifik tentang surat itu.
Menurut mereka, belum ada tulisan yang benar-benar fokus memberi keterangan memadai tentang konteks penulisan surat tersebut. Prof. J.L.M. Franken, di tahun 1930, mulai membahasnya secara sekilas sebagai contoh surat yang ditulis budak di Kawasan Tanjung, Afrika Selatan; S.A. Rochilin empat tahun berikutnya menulisnya sebagai ‘satu-satunya surat yang pernah ditulis budak kepada penguasa Tanjung di abad 18’ (sebuah kesalahpahaman yang dikoreksi oleh Koolhof dan Ross); Victor de Kock, di tahun 1950, malah menyebutkan surat itu ketika membahas obat-obatan dan prosedur penyembuhan; Robert Ross sendiri, pada tahun 1983, lebih memfokuskan perhatiannya pada proses peradilan budak tersebut; Davids, tahun 1991, menyinggungnya dalam bingkai fenomena literasi di kalangan budak di Afrika Selatan.
***
Sebuah penyataan menyentak untuk memulai diskusi tentang perbudakan di Sulawesi Selatan: “Orang Bugis sendiri menjelma menjadi komoditas: mereka adalah penyumbang budak terbesar di Hindia-Belanda pada abad 18,” dikutip Koolhof dan Ross dari tulisan Anthony Reid dan Heather Sutherland.
Lalu laporan demi laporan berderet menunjukkan jejak perbudakan di Sulawesi Selatan. Ringkasan deskripsi Manuel Pinto (pengelana Portugis) di abad 16, serta Speelman (laksamana VOC) dan Nicholas Gervais (seorang agamawan Perancis) keduanya di abad 17, menjelaskan serba singkat tentang fenomena perbudakan di Sulawesi Selatan. Namun bagi Koolhof dan Ross, perbudakan pada abad berikutnya berlangsung dalam skala yang lebih besar.
Apa yang terjadi pada abad 18 sehingga Sulawesi Selatan menjadi ‘juara’ budak di Hindia Belanda? Laporan Roelof Blok, seorang pejabat Benteng Rotterdam, yang terbit tahun 1799 dan diterjemahkan ke bahasa Inggris tahun 1814, memperlihatkan betapa perbudakan sudah berlangsung begitu gencar dan banal. Jika di abad sebelumnya hanya orang kalah perang yang dijadikan budak, maka pada abad ini orang-orang sudah diculik dari kampungnya untuk dijual dan dijadikan budak. Blok menyebutkan kelompok-kelompok penculik pun sudah terbentuk, dan ia menggambarkan betapa canggihnya kerja mereka.
Hasilnya, Koolhof dan Ross, mengutip Abeyaskere, menyebutkan: “Di Batavia […] 25 persen dari seluruh budak adalah keturunan Bugis.” Bila kita membayangkan betapa banyak suku di Hindia dengan jumlah penduduk cukup besar, maka angka seperempat dari seluruh suplai budak sungguh jumlah yang luar biasa.
Dan kisah suplai budak dari Sulawesi Selatan tidak berakhir di abad 18 saja sebab di abad-abad berikutnya, wilayah ini masih menjadi primadona komoditas yang menguntungkan itu. Kolhoof dan Ross antara lain menyebutkan, James Brook, seorang pengelana Inggris yang kemudian menjadi ‘raja putih’ Serawak, dan Carl Bock, yang singgah di Sulawesi Selatan pada abad 19, juga menuliskan kesannya tentang komoditas ini. Bahkan Abdullah Bin Abdul Kadir Munsyi, dalam autobiografinya yang tersohor Hikayat Abdullah, juga melukiskan secara dramatis nasib budak Bugis yang baru tiba di Singapura pada abad itu.
Sayangnya Koolhof dan Ross tidak membahas tentang siapa yang mensponsori ‘produksi’ budak yang bisa bertahan selama berabad-abad dalam jumlah yang sangat besar itu. Catatan Bigalke (2006) tentang budak Toraja yang dijual bangsawannya untuk ditukar senjata dan amunisi yang disuplai bangsawan Sidenreng, mungkin bisa menjadi salah satu penjelasan mengapa Carl Bock menganggap “kota pelabuhan Parepare adalah sarangnya budak”. Begitu banyaknya budak di Makassar pada masa itu, Karl Marx sekalipun terkesan pada laporan Raffles tentang kota ini, yang punya benteng dengan kantong bawah tanah yang berisi banyak budak.
***
Tentang jumlah budak Bugis di Tanjung, Koolhof dan Ross memperkirakan terdapat sekitar 3.500 hingga 5.000 orang, dan ini sudah cukup untuk membuatnya ‘terlihat’ di antara budak lainnya yang ada di Tanjung. Selain itu, reputasi budak Bugis sebagai tukang rusuh, terlihat dari catatan kejahatan mereka, menambah perhatian orang, terutama para pemilik budak, terhadap mereka.
Selain itu secara universal memang para pemilik budak selalu diliputi kecemasan. “Begitulah tuan-tuan pemilik budak yang jumlahnya selalu lebih sedikit dibandingkan budaknya, mereka selalu dalam ketakutan. Mereka mencari alasan untuk menghukum supaya merasa tenang,” tegas Sirtjoo.
Di awal tahun 1760 sekelompok budak bergabung membentuk kelompok yang melarikan diri dari tuannya. Mereka berkumpul di pegunungan di bawah pimpinan Fortuyn van Bugis. Mereka menghindari kejaran dengan singgah dari pemukiman ke pemukiman. Mereka menghindar di daerah pegunungan yang sulit dijangkau dan sesekali saja turun ke pemukiman. Pada bulan Juli terjadi peristiwa yang membelokkan nasib kelompok ini: mereka membunuh keluarga Michele Smuts, seorang asisten dan akuntan VOC. Budak dari keluarga ini sangat dendam terhadap perlakuannya hingga memfasilitasi pembunuhan. Mereka tidak hanya membunuh Smuts tetapi juga istri beserta seorang anaknya.
Pemerintah Kolonial Tanjung menjawab peristiwa ini dengan memperketat patroli. Pun mereka meminta para pemilik budak melarang budaknya mencari kayu bakar di hutan pegunungan. Namun ini hanya berlangsung dua hari karena akan menyebabkan kedinginan di musim dingin dan kekurangan kayu bakar di dapur.
Saat penyerangan itu terjadi, salah seorang budak, Baatjoe van Bugis, mengalami luka, dan yang menyembuhkannya tidak lain adalah September. Dia tidak hanya merawat luka tetapi juga memberi persediaan makanan kepada kawanan yang sedang melarikan diri itu. September sendiri tak turut dalam pelarian. Kelak menjelang kematiannya, Baatjoe van Bugis, dalam keadaan terluka parah, menyebut nama September sebagai seorang anggota komplotan. Dan hukuman pria lima puluh tahun asal Sinjai itu menjadi lebih berat karena sepucuk surat berhuruf lontara ditemukan di lacinya.
***
Surat yang ditulis Upas kepada September itu kekal melampaui masanya. Surat ini ‘ditemukan’ dari tumpukan arsip oleh Prof. J.L.M. Franken yang sedang melakukan studi tentang peran bahasa Melayu, Portugis dan Belanda di Koloni Tanjung di kurun akhir abad 17 hingga 1772. Hasilnya, tulisan berseri Franken terbit di majalah Afrika Selatan, Die Huisgenoot, pada tahun 1930. Di salah satu edisinya Franken mereproduksi surat Upas secara terbalik. Tentu ini terjadi karena sang guru besar sama sekali tidak mengenali aksara Bugis. Bahkan menurut Sirtjoo dan Ross, nasib surat naas ini berlanjut hingga penerbitan-penerbitan berikutnya di tahun 1953, 1991, 1994 (dua kali): dia diterbitkan dengan kepala surat berada di bawah dan hufur berbaring.
Untung saja Koolhof dan Ross masih bisa melihat naskah asli surat Upas di Arsip Tanjung, Afrika Selatan, dan salinannya ada di Arsip Nasional Belanda di Den Haag. Naskah ini terkumpul dalam satu folder bersama dokumen proses peradilan para budak yang dihukum mati itu.
Lalu apa isi surat itu? Surat ini sebenarnya sangat sederhana: berisi permintaan bantuan Upas yang sudah dua bulan sakit kepada September yang dikenal bisa menyembuhkan penyakit, karena belum ada yang bisa menyembuhkan penyakitnya, karena mereka pernah bertemu dan ngobrol, dan karena September adalah sesama orang Sinjai. Surat beraksara lontara ini kelak, untuk kepentingan proses peradilan, diterjemahkan ke bahasa Melayu dialek Betawi, lalu diterjemahkan lagi ke bahasa Belanda. Malangnya, penulis-penulis yang membahas surat ini kebanyakan bergantung kepada hasil terjemahan yang bermasalah itu.
Menurut Koolhof dan Ross, kesalahpahaman terbesar terjadi di bagian awal dan akhir surat tersebut. Bila membandingkan dengan naskah aslinya — dalam aksara lontara —mereka melihat terjemahan Melayu dari surat itu justru membalikkan fakta bahwa yang menulis surat itu adalah Upas. Terjemahan naskah ini bisa dengan mudah ditafsirkan sebaliknya menjadi, September menulis surat kepada Upas. Dampaknya, September dianggap sebagai gembong komplotan pengacau ini dan menerima hukuman yang mengerikan.
Bagian lain yang bermasalah dari terjemahan Melayu surat ini adalah penyebutan kata seajing atau saudara, yang bisa ditafsirkan sebagai saudara kandung atau kerabat, juga bisa dipakai kepada orang sekampung di perantauan. Dengan menafsirnya sebagai saudara biologis atau kerabat, motif gerakan komplotan ini tentu bisa dianggap semakin kuat. Sehingga mengukuhkan alasan untuk menghukum mati seluruh anggotanya.
“Surat itu ditulis dalam aksara dan bahasa ibu kedua budak itu, Bugis. Tentu mereka tak menyangka bahwa surat lugu permintaan tolong itu berubah menjadi bukti untuk mengetuk palu hukuman mati, dan bahwa surat itu masih didiskusikan hingga dua abad kemudian. September dituduh menjadi kepala komplotan budak (Bugis), dan surat yang ditemukan di lacinya disodorkan sebagai barang bukti,” tulis Koolhof dan Ross.
***
Ketika Boone van Bugis yang melaporkan persembunyian para pelarian tengah menikmati kebebasannya, delapan anggota komplotan itu, ditambah Upas, telah menjalani hukuman gantung. Empat orang lain, yang dianggap gembong komplotan, menjalani hukuman lebih berat. Ujung kaki dan tangan mereka diikat lalu ditarik hingga sobek terpisah dari badan, lalu badannya dilindas roda pedati. Sebuah hukuman yang dipertontonkan di depan umum agar nyali calon pengikut mereka menjadi ciut. Salah satu di antara empat orang itu, January van Macassar, mendapat keringanan dengan dihujani tombak di dadanya agar tak merasakan sakit terlalu lama. Tiga orang lainnya harus merasakan hukuman kejam itu secara utuh, mereka adalah Alexander, January dan September van Bugis.
Komplotan budak itu pada akhirnya dapat ditumpas, tapi surat Upas tampaknya akan abadi.(p!)
*Citizen reporter Nurhady Sirimorok dapat dihubungi melalui email nurhadys@gmail.com
|
| | Jumlah
Komentar (33) |
|
| Komentar :
31-07-2009 Dari : app | palattae09@yahoo.co.id kejamnya masyarakat
dulu,,, utung
sekarang tauw
semuami membaca
lontara.... 31-07-2009 Dari : app | palattae09@yahoo.co.id pantas disana
(afrika) ada
perkampunagan
bugis... 09-05-2009 Dari : lRwntgmpKRa | boptul@bccsaf.com q8S3TM
rtxzbgazhimb,
[url=http://thqrhyxt
vbnb.com/]thqrhyxtvb
nb[/url],
[link=http://ipozqam
gknxf.com/]ipozqamgk
nxf[/link],
http://uccnkfleuozf.
com/ 01-05-2009 Dari : Anwar | Yang benar itu pasti
menang meskipun itu
lamaaaaaaa
sekali.Saya teringat
sewaktu masih
kecil,nenek saya
bercerita. Bahwa
bayak sekampungnya
yg hilang,entah
kemana rimbanya.dan
salah satu jawabanya
ya ini.Perbudakan
manca negara.P 30-06-2008 Dari : Tedhonk | Amazing ...
Seharusnya
"perjalanan budak"
ini bisa di filmkan
dan saya yakin bila
dikemas seperti film
BRAVE HEART, pasti
akan mendapatkan
oscar.
Ternyata bangsa kita
penuh dengan history
yang penuh makna,
sayangnya hanya
sedikit yang
berminat untuk
menggali sejarah
seperti ini.
Well done buat
penulis 15-06-2008 Dari : abdul azis | abdulazismajene@yahoo.com Secara kebetulan aku
juga sekarang
melakukan artistic
research pada
subject ini. Saya
sekarang kuliah MA
Fine Art di MAhku
utrecht,
Netherlands.
Pertengahan agustus
rencana Solo
Exhibition dengan
beberapa video art
yang berhubungan
dengan Upase Letter.
Mudah2an setelah
kembali nanti akhir
agustus aku juga
bisa pameran di
Makassar sebelum
pulang ke kampung
halaman di Tanah
Mandar, SULBAR. Wah
akan seru kayaknya
mengingat ini adalah
bagian history kita
juga.
Salam,
Azis
to Kandeapi 10-04-2008 Dari : rizal | karemx@gmail.com informasi yg
bagus..... 27-02-2008 Dari : Rika Faridah Oeijaya | daeng_basoganteng@yahoo.com Saya sangat kagum
pada tulisanta. 12-02-2008 Dari : ea | Doimiannalipu@yahoo.com membaca reportase
ini saya jadi
teringat roman
Victor Hugo yang
bercerita tentang
teropidana mati,
sehari sebelum ia
dibunuh ia sempat
membuat jurnal.
jurnal yang
mengkritik tentang
hukuman mati dan
penjara yang suram.
je suis heureux lit
votre reportage 20-10-2007 Dari : Muhammad Iqbal | iqbal_m70@yahoo.com kalo ada yang mau
membaca surat Upas
kepada September,
gampangji copy dulu
khan file nya JPG.
setelah itu dibalik
lagi menggunakan
rotate. 20-10-2007 Dari : Muhammad Iqbal | iqbal_m70@yahoo.com
05-10-2007 Dari : halfian | Artikel yang
menarik.
Btw, kayaknya
terbalikki gambar
lampirannya (surat
lontara'nya) 21-09-2007 Dari : Sirtjo | sawerigading@gmail.com Penerbitnya
Indonesia Tera di
Magelang, tahun 2002 21-09-2007 Dari : dandi | Wah, saya lupa nama
penerbitnya, mungkin
bang Aslan masih
ingat, karena dia
juga pernah baca
tuntas buku itu..
buku saya ada di
rumah di makassar
terbungkus dalam
dus..atau di
ininnawa. saya tidak
ingat lagi. 21-09-2007 Dari : halim hd. | halimhade@yahoo.com dandy, dimana buku
tentang
'historiografi
perbudakan' bisa
didapatkan,
penerbitnya apa?
dank u! 21-09-2007 Dari : halim hd. | halimhade@yahoo.com dandy, dimana buku
tentang
'historiografi
perbudakan' bisa
didapatkan,
penerbitnya apa?
dank u! 20-09-2007 Dari : dandi | Pak Mus, ada buku
tulisan Anwar
Toshibo, dosen
sejarah/arkeologi(?)
Unhas, judulnya,
'Historiografi
Perbudakan',
membahas panjang
lebar tentang
perbudakan di
sulawesi selatan.
Mungkin bagus jadi
bahan referensi. 20-09-2007 Dari : Mustamin Al-Mandary | Dandy, tulisanta'
menjadi referensi
pertama saya
mengenai perbudakan
orang Sulawesi di
luar. Selama ini,
saya hanya
mengetahui
perbudakan internal
walaupun tentu
sangat kuat dugaan
adanya orang
Sulawesi yang
diekspor. Ya,
mungkin memang saya
kurang membaca, tapi
tulisan ini
memberikan jejak
itu. Akan lebih
bagus kalo ini
dikembangkan lagi.
Tidak mau membuat
buku tentang ini? 20-09-2007 Dari : Fandi A.S | vandehook_17@yahoo.com saya juga tertarik
dengan nama-nama
mereka !
apa itu hanya nama
samaran saja untuk
menandai mereka oleh
sipengunkap sejarah
atau memang itu nama
mereka ??? 20-09-2007 Dari : Fandi A.S | vandehook_17@yahoo.com saya baru ingat
pepatah "Kebenaran
akan selalu
terungkap"
tapi kebenaran Surat
Upas kpd september
yang abadi itu
sangat..sangat...san
gat...sangat
lamaaaaaaaaaa
terungkapnya!
September yang
seorang baik hati
pasti saat ini
tersenyum lega
setelah hal ini
terungkap! salam
buat September di
akhirat,
tersenyumlah kau
selamanya! 19-09-2007 Dari : arminh | artsuru@gmail.com hal baru bagi orang
bugis lainnya. cuma
saya herannya
melihat nama-nama
budak itu. itu nama
asli mereka, atau
pemberian nama dari
pemilik budak.
jikapun demikian,
pasti akan menarik
lagi mengetahui
alasan pemberian
nama tersebut.
apakah terbukti
memang kalo kemasan
itu sangat
mempengaruhi harga
sesuatu, nama budak
sangat mempengaruhi
harganya. salama ki! 19-09-2007 Dari : arminh | artsuru@gmail.com kayaknya memang
terbalik.... saya
belum baca juga,
langsung liat
fotonya, dan memang
terbalik. 18-09-2007 Dari : dandi | Menurut Sirtjo
Koolhof, nama bulan
itu berasal dari
tanggal pembelian
budak itu. kalau
yang nama
'Alexander' saya
masih perlu nanya
lagi. 18-09-2007 Dari : halim hd. | halimhade@yahoo.com saya membayangkan
anda, dandy menulis
novel. ada novel
yang melodrama
menyinggung soal
perbudakan dan
akhirnya jadi
pahlawan, 'untung
suropati'. numpang
nanya: kenapa
nama-nama mereka
keren-keren, seperti
'alexander',
'january',
'september'.
apa hubungannya
nama-nama itu dengan
posisi mereka
sebagai budak? apa
nama-nama itu
berkaitan dengan
jadwal, waktu
kedatangan mereka,
seperti 'january'
dan 'september',
sedangkan
'alexander'
berkaitan dengan
kepemilikan sang
tuan terhadap
budaknya? tapi, yang
saya tunggu novel
yang agak
akar-rumput. sebab,
selama ini saya baca
banyak naskah drama
yang kalangan atas,
dan terlalu banyak
'pahlawan' yang
sekarang banyak
dihapalkan oleh
banyak orang.
dan 'september', dan
'january' dan
'alexander' akan
lahir dari
konstruksi dan visi
anda. dank u! 18-09-2007 Dari : Ogi Sidenreng | Tulisan yang sangat
bagus. 18-09-2007 Dari : Tjandrape | tanralili@yahoo.co.id terus terang saya
baru mengetahui
bahwa memang benar
orang bugis dahulu
kala juga ada yg
jadi budak2
Balanda.
Saya pernah dengar
hanya dalam kelong2
sinrili' saja yang
tdk punya dasarnya
sebagai acuan. 17-09-2007 Dari : pembuat kopi | lakipadada@yahoo.co.id luar biasa guru
dandi....... 17-09-2007 Dari : Kapitipiti | kapitipitie@yahoo.co.jp Cerita sejarah orang
biasa begini yg
sebenarnya baik
diajarkan pada siswa
tingkat lanjut,
bukan lagi cerita
peperangan dsb yg
hanya cocok untuk
siswa tkt dasar.
Kalau ambil mata
pelajaran sejarah di
LN pada tingkat
lanjut maka tdk ada
lagi hapalan
tahun-tahun tapi yg
ada adalah kisah
orang biasa untuk
dianalisa dan
dijadikan bekal
siswa mengetahui
latar belakang
budayanya. Salut
buat Bung Nurhady yg
mampu menyajikan
kisah ini dgn bahasa
yg enak dan mudah
dimengerti. 17-09-2007 Dari : halim hd. |
17-09-2007 Dari : daeng ammang petta rukka | daeng.ammang@gmail.com selama ini banyak
yang menganggap
bugis bangsa yang
besar atau jumawa
sebagai orang bugis.
terutama saya,
mungkin salah satu
dari sekian. Tulisan
ini serasa menohok
atau paling tidak
menyadarkan kalau
Bugis pun adalah
bangsa budak
terjajah dahulunya,
tidak
sempurna-sempurna
amat. jadi buat
orang bugis yg lain,
yang baca tulisan
ini, terutama yang
andi-andi,...
santai2miki,... itu
juga gelar dari
Belandaji kasian,...
Selamat Berpuasa. 17-09-2007 Dari : editor | naskah asli surat
itu dimuat secara
terbalik di buku
yang dikutip oleh
penulis. itupula
yang direproduksi
untuk tulisan ini
(jadi sudah sesuai
dgn aslinya; yg
memang terbalik). 17-09-2007 Dari : rusle' | muhruslee@gmail.com Surat Upas yang
ditayangkan diatas
kelihatannya
terbalik. Tulisan
itu terbalik. Mohon
konfirmasinya. 17-09-2007 Dari : SM | Menarik sekali
ternyata banyak
cerita2 sejarah yang
kalau tidak digali
sudah menjadi saksi
bisu kehidupan |
|
|
|
|
| ::
CITIZEN REPORTER |
 | (Kamis, 12-07-2007) |  | (Minggu, 29-04-2007) |  | (Selasa, 31-10-2006) |  | (Rabu, 11-10-2006) |  | (Rabu, 16-08-2006) | |
|
Untitled Document
| ::
DUNIA SEGIEMPAT KAREBOSI |
|
Untitled Document
| ::
KONTAK TIM PANYINGKUL! |
Email Redaksi :
redaksi@panyingkul.com
Tim:
yus@panyingkul.com
+62 813 226 80844
Moch. Hasymi
+62 811 955 954
|
|
|