Untitled Document
 


Untitled Document
.KITAKITA
:: Jika Anda di Panyingkul ::
 
 KABAR KITA
 
 BERANDAKITA
Kegilaan, Dari Cinta Mati di Pulau Rajuni Hingga Riwayat Kadang
:: Ivan Firdaus ::
Baba Guru, Mengenang Film Rhoma Irama di Klenteng Galesong
:: Kamaruddin Azis ::
Mengagumi Tenun Troso, Mengenang Tenun Sengkang
:: Suryadin Laoddang ::
Perempuan Besi di Gunung Perak (2-selesai)
:: M. Aan Mansyur ::
Perempuan Besi di Gunung Perak (1)
:: M. Aan Mansyur ::
 
 RISETKITA
Rasa Takut : Yang Dicitrakan, Yang Dipelihara
:: Aria W. Yudhistira ::
Risetkita: Pramoedya versus Sejarah Resmi
:: Nurhady Sirimorok ::
Hikayat Rumpon Nelayan Mandar
:: Muhammad Ridwan Alimuddin ::
Di Makassar Pernah Ada “Negeri Wajo”
:: Nurhady Sirimorok ::
Surat Itu Ditulis Upas kepada September
:: Nurhady Sirimorok ::
 
 BUKUKITA
 
 KATAKOTAKITA
Kenapa si Gondrong yang Maju?
:: Ivan Firdaus dan Mustamin al-Mandary ::
Karena ‘Rewa’ Badan Binasa
:: Sudirman Nasir ::
Yang Okkot, yang Salah Sambung
:: Nursamsu danTusiana Noor Alfisyahr ::
Kandala`ka`, Kusta Bila Dusta
:: Panyingkul ::
Ayo, Si(ng)kat Terussss..!
:: Panyingkul! ::

 
 TAHUKAHKITA
 

.
 ::
Senin, 24-09-2007 
Budi yang Mendamba Toleransi Agama
:: Budi Parabang ::


Budi Parabang di tengah memegang Buku Nyanyian
dalam kebaktian di Gereja Advent Sudiang.
Foto: Andarias P.



Pengantar Redaksi:
Kami menerima surat dari seorang siswa SMAN 1 Makassar, Budi Parabang, penganut Kristen Advent yang mendambakan toleransi beragama secara nyata. Surat ini kami tayangkan sebagai bentuk renungan Ramadan bagi mayoritas umat Islam di tanah air, yang tengah menjalankan ibadah puasa. Selama puasa, begitu banyak toleransi yang ditunjukkan pihak lain atas nama “menghormati orang yang berpuasa”, mulai dari rumah makan yang dihimbau tidak buka secara mencolok di siang hari, ditutupnya hiburan malam, hingga diblokirnya ruas jalan saat pelaksanaan salat tarwih. Mari sejenak kita melihat, bagaimana toleransi yang didamba pemeluk agama lainnya. Budi Parabang bercerita dalam suratnya berikut ini. (p!)
 
Nama saya Budi Parabang, tapi teman-teman sering memanggil saya dengan sebutan Gendu’. Mungkin karena bentuk tubuh saya yang tergolong gendut. Saya adalah bungsu dari 3 bersaudara. Umur saya 16 tahun dan saat ini sedang menuntut ilmu di SMA Negeri 1 Makassar atau yang lebih dikenal dengan Smansa. Setelah berjuang selama setahun akhirnya saya bisa duduk di kelas IPA, tepatnya di kelas XI IPA 4. Saya adalah salah seorang penganut agama Kristen Advent, salah satu agama yang terdengar asing bagi teman-teman saya. Memang populasi kami di Indonesia tergolong sedikit, hanya sekitar 500 jiwa.. Tapi Kristen Advent bukanlah agama lokal melainkan universal atau mendunia.

Dalam Advent, banyak ajaran yang mungkin sedikit berbeda dengan agama Kristen yang lain, namun sebenarnya kami memiliki Alkitab yang sama. Yang membedakan adalah penafsirannya. Advent memiliki banyak larangan, seperti: merokok, minum minuman beralkohol, makan makanan haram(seperti anjing,babi dan sebagainya). Selain itu ada pula hal-hal yang dianjurkan seperti menjadi vegetarian, tidak memakai anting-anting bagi perempuan, serta tidak minum teh dan kopi, sebab berdasarkan hasil riset, dalam kopi terdapat kafein dan di dalam teh terdapat nikotin yang dapat membahayakan tubuh.

Para pemuka agama kami selalu menyeru-nyerukan akan hal ini sebab dalam kitab tertulis: “Tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang diam di dalam kamu,maka muliakanlah Allah dengan tubuhmu!”. Atas dasar itulah kami disarankan untuk merawat tubuh dari apapun yang dapat merusaknya. Tapi semuanya itu seolah-olah bukan lagi menjadi beban malah menjadi kebiasaan jika dijalankan dengan sungguh-sungguh. Mungkin sebagian orang akan berpikir betapa susahnya menjalani kehidupan seperti itu, tapi sebenarnya bagi saya pribadi itu bukan hal sulit, karena sejak kecil kami sudah terdidik dengan ajaran seperti itu.

Satu hal lagi yang menjadi ciri atau identitas Kristen Advent, yaitu kami beribadah pada hari Sabtu (ber-sabat), bukan hari minggu layaknya Kristen lain. Hari kebaktian kami dikenal dengan Sabat. Sabat terhitung mulai dari matahari tenggelam di hari Jumat sampai pada matahari tenggelam di hari Sabtu. Satu hari itu dikhususkan untuk Tuhan, tiada aktivitas lain kecuali yang berbau rohani. Jadi jika hari Sabat tiba, kami tidak dibenarkan untuk berbelanja, belajar (kecuali belajar dari alkitab), menonton, bahkan memasak. Makanya sebelum Sabat datang, keluarga kami selalu memasak makanan dalam porsi lebih.

Sungguh sebuah pemandangan yang cukup kontras dibandingkan dengan teman-teman lain yang setiap hari Sabtu pergi ke sekolah, bukannya ke tempat ibadah. Di Smansa sendiri,penganut agama Kristen Advent cuma 2 orang yang tidak lain saya dan kakak saya, Heri. Kakak saya sekarang duduk di bangku kelas XII dan sedang mempersiapkan diri menghadapi Ujian Akhir Nasional (UAN). Tapi sebetulnya sudah banyak alumni Smansa yang beragama Advent.

Sebelum menginjakkan kaki di Smansa, Heri sudah sangat sering bercerita kepada saya tentang keadaan di sekolah itu. Dan sebelum memutuskan mendaftar di Smansa, Heri berkata,“Tidak gampang untuk tetap eksis di Smansa dengan keadaan kita yang seperti ini, dibutuhkan kesabaran dan semangat yang tinggi dan semua keputusan ada di tanganmu. Kamu yang mengambil keputusan artinya kamu harus siap menghadapi segala konsekuensinya.” Dan omongan kakak saya benar-benar saya rasakan sekarang.

Saat memasuki bangku kelas X SMU, saya ditempatkan di kelas X-7. Sempat ada kesulitan memberitahu teman-teman tentang keadaan saya yang tidak bisa masuk sekolah setiap hari Sabtu karena harus mengikuti kebaktian di gereja. Awalnya ada beberapa dari mereka memandang sebelah mata keberadaan saya, bahkan tak jarang cerita miring yang mengatakan saya beragama aneh, fanatik, malah ada yang bilang: “Enaknya tidak belajar tiap hari Sabtu”, dan masih banyak lagi.

Suatu kali seorang pembimbing bertanya, “Memang sama sekali tidak boleh ke sekolah kah?” Lantas saya menjawab, “Ibadah itu bukan satu hal yang bisa ditunda-tunda Bu.”

Selang satu setengah bulan belajar, saya merasa teman-teman mulai menerima keberadaan saya, malah mereka selalu mendukung saya. Misalnya saja untuk pelajaran di hari Sabtu yang tidak saya ikuti, mereka dengan senang hati mau meminjamkan catatan, bahkan mengajari sampai mengerti. Di situlah saya merasa bahwa biarpun kami adalah kaum minoritas bukan berarti kami disisihkan oleh teman-teman. Tapi salah seorang teman kelas di kelas X-7 pernah berkomentar, “Setengah matimu itu tidak masuk kelas setiap hari Sabtu, apalagi kalau ada ulangan! Daripada susah-susah, lebih baik kamu pindah agama. Daripada banyak angka merahmu! Bagaimana?”

Namun menurut saya, toleransi tampaknya tak berlaku rata bagi setiap guru. Saya tidak tahu mengapa mereka seolah menutup mata. Dalam lingkungan sekolah, saya merasa kejelasan yang diberikan belum pasti sehingga membuat saya bagaikan anak ayam yang kehilangan induknya, tidak tahu harus berbuat apa. Atas dasar itu saya dan ayah mengurus surat izin dari pihak gereja untuk diberikan kepada Kepala Sekolah dan guru-guru yang mengajar di hari Sabtu.

Saat memberikan surat itu kepada Drs Herman Hading Mpd, kepala sekolah saya, ia berkomentar: “Saya pribadi mengizinkan tapi kamu harus bicara dengan guru-gurumu. Juga usahakan tugasmu masuk terus! Soal kehadiran, negosiasikan dengan guru-guru bidang studimu.”

Lantas saya pun menghubungi guru-guru saya satu persatu. Namun yang saya dapatkan dari mereka hanya komentar yang tidak jelas arahnya. Saya sungguh merasa stres saat itu apalagi ada mata pelajaran yang cuma ada di hari Sabtu, seperti Sejarah dan Kesenian. Akhirnya saya memutuskan melupakan itu semua dan membuat kebijakan sendiri dalam artian tidak memikirkan pelajaran di hari Sabtu.

Dan bisa ditebak apa yang terjadi, pada saat pembagian rapor di akhir semester 1, ada 2 mata pelajaran yang mendapat nilai merah. Ayah saya marah besar saat itu. Guru-guru saya memang mengizinkan saya beribadah tapi tidak memberikan solusi yang baik untuk nilai-nilai saya. Contohnya saja, saya pernah disuruh guru kesenian untuk memperbaiki nilai-nilai saya yang merah lantaran tugas-tugas saya tidak pernah masuk di hari Sabtu dengan membeli buku yang harganya lebih Rp200.000. Saya tidak tahu buku apa yang bisa semahal itu karena saya hanya disuruh menyetor uang dan guru saya sendiri yang membelinya. Tapi setelah nilai saya keluar di rapor, saya tetap saja mendapat nilai merah tepatnya 27.


Rapor pun merah di semester 1.
Foto: Budi Parabang.


Akhirnya di semester 2 saya mencoba memperbaiki kesalahan. Saya mulai menyetor tugas-tugas dan mulai aktif mencari guru saya. Namun sedikit susah menemui guru bidang studi yang mengajar di hari Sabtu untuk meminta tugas-tugas tambahan.Tapi akhirnya saya bisa melewati itu semua dan nilai saya membaik di saat penerimaan rapor di semester 2. Akhirnya saya bisa juga naik ke kelas XI dan masuk ke kelas IPA setelah melewati penjaringan yang ketat.

Tapi saya menemukan kendala baru di kelas XI ini. Masih ada seorang guru yang sama sekali tidak mau memberikan sedikit kelonggaran beribadah di hari Sabtu. Begitu mengetahui bahwa saya adalah seorang penganut Kristen Advent, guru itu pun memanggil saya dan berkata: “Jadi setiap hari Sabtu Anda tidak masuk dalam kelas saya? Wah, bagaimana itu? Kalau saya sendiri tidak bisa memberikan izin karena kehadiran Anda nanti akan sangat jauh di bawah standar kehadiran! Ini bukan sekolah agama, ini sekolah umum! Tapi nantilah saya bicarakan lagi dengan kepala sekolah.”

Saya pun hanya terdiam mendengar hal itu dan langsung kembali ke tempat duduk. Tapi di tempat duduk saya termenung dan berkata dalam hati: “Saya kira Indonesia adalah negara yang rakyatnya bebas memeluk agama dan beribadah sesuai agama yang dianutnya. Namun sekarang ini saya merasa hal itu tak berlaku terhadap saya. Saya merasa terdiskriminasikan.”Tapi saya terus berdoa di kamar saya agar suatu saat diberikan kelonggaran oleh guru tersebut.

Heri kakak saya yang duduk di kelas XII, sekarang sedang mengurus surat izinnya juga dan kami sama-sama berharap bahwa kami bisa terus belajar sambil menjalankan ibadah sesuai agama yang kami anut. Di sekolah ini saya mendapat banyak pelajaran hidup yang tidak pernah saya dapatkan di SD dan SMP dulu.Sewaktu SD, saya bersekolah di SD Advent begitupun SMP, saya bersekolah di SMP Advent yang bernaung di satu yayasan yang sama yaitu Yayasan Pendidikan Advent Durian Makassar. Letaknya juga masih dalam suatu kawasan yang sama. Dulu di sana, setiap Sabtu kami di liburkan. Ya jelaslah! Namanya juga sekolah Advent. Jadi saya dengan leluasa ke gereja dan beribadah bersama keluarga.

Hingga saat ini saya berharap guru-guru saya bisa membuat kebijakan yang berpihak pada kami. Kebijakan yang memberikan izin lebih mudah sehingga tidak usah mengurus surat izin tiap semester, bahkan setiap perubahan jadwal pelajaran hari Sabtu serta dapat memberikan solusi yang terbaik bagi nilai-nilai kami. Sehingga saya tidak lagi merasa tersisihkan. Meskipun kami kaum minoritas bukan berarti kami tidak punya hak yang sama layaknya siswa lain. (p!)

*Budi Parabang dapat dihubungi melalui email aldi_atarashi@yahoo.com

| Beri Komentar| Jumlah Komentar (36) |

Komentar :

26-12-2008
Dari : cracker | cracker@xploit.biz
wew.. ada budi parabang ka?? haha :D napa bsa ko dsini?? situs ap ine ka... hahahaaahahahaa :D nanti saya hack de ini situs...

20-04-2008
Dari : DRS.SYARIF.SITUMORANG | situmoranggumil@yahoo.co.id
BUDI PARABANG KAMU TERMASUK TELAH MENGALAMI PENDERITAAN YANG DIRASAKAN YESUS YAKIN LAH MEMANG MASIH BANYAK BANGSA KITA BELUM MENGHAYATI UUD 45 PSL 29 TTG KEBEBASAN BERAGAMA. SEGALA PERKARA DAPAT KUTANGGUNG DIDALAM DIA YANG MEMBERI KEKUATAN PADAKU( PILIPI 3:13) TAPI KEYAKINANMU ITU JANGAN SIA-SIAKAN DENGAN BERHURA-HURA. ADVENT BUKAN HANYA 500JIWA TETAPI 23 JT SEKARANG DAN TELAH EXIS DIMANA2.HATIMU YG PERLU ADA TETAP DALAM YESUS. ORANG LUAR TIDAK MENGERTI HUKUM KE IV.TENTENG HARI SABAT. TETAPI MEREKA SUDAH MENGETAHUI DARI PENDERITAAN YANG KAU ALAMI INGAT UPAHMU BESAR DISORGA. TUHAN KIRANYA MEMBERKATI KAMU DAN KELUARGAMU.

20-01-2008
Dari : La Mellong | kojinuri@yahoo.com
Saya lebih parah kodong. Waktu di SD Katolik Garuda, disuruh ikut liturgi Natal kalo tidak bisa dikeluarkan dari sekolah, na mau dekat-dekat juga lebaran.baru saya ini Islam.Apalah kata dunia? Sekarang siapa yang lebih tidak toleran?

20-01-2008
Dari : Mumu |
Sebenarnya permasalahan kamu terlalu didramatisir. Bukannya jadwal di sekolah-sekolah umum biasanya bisa disediakan khusus? Kayaknya yang perlu proses toleransi ya kamu dengan penganut Kristen lain di SMANSA, bukankah sudah ada hari khusus buat Kristen yang mau melakukan ibadah di sekolah? Jadi jangan seakan-akan menuduh umat di luar Kristen yang menyebabkan kondisi kamu demikian. Padahal fakta banyak dimana orang-orang Islam sekolah di Gamaliel, Katolik Garuda, SMP Advent, justru diwajibkan ikut pelajaran agama KRISTEn dan tidak diberi toleransi untuk mengumpulkan nilai agama menurut agama yang mereka yakini.Saya salah satunya, sebagai alumni SMP Advent Dato Museng, saya diwajibkan belajar agama Kristen, dan tidak bisa mengumpulkan nilai agama Islam yang saya anut. Tapi Alhamdulillah, dengan hidayah saya jadi lebih paham tentang advent, salah satunya (bukan bercanda) bukankah dalam advent diajarkan untuk tidak memakai baju dengan jahitan ,sulaman, dan berkancing? Hihihi , jadi aneh kan? Kalo gitu kita mau pake apa? Sory men, bukannya memanaskan suasana, knodisi kamu masih lebih beruntungd aripada aku, kamu masih bisa memiliki nilai agama dari Gereja Advent setempat, sementara saya kodong? Dipaksa ikut belajar agama Advent, padahal saya ini orang Islam. Semua ada hikmahnya, jalani saja hidup, kebenaran pasti akan datang.

07-12-2007
Dari : Finda | www.finesaylove@yahoo.co.id
Bud, di sekolah (SMAN 4 MAnado) aku waktu SMA dulu, aku juga punya temen seagama kayak kamu. Bedanya sekolah kami memberika tolerasi bagi dia untuk menjalankan ibadah tiap hari sabtu dengan syarat, pelajaran guru harus bisa terus diikuti. Memang dia pernah curhat kalo itu gak mudah, but mau apalagi sedangkan keputusan untuk masuk ke sekolah kita itu udah jadi keputusan dia sendiri. Sebenarnya, minta kamu untuk pindah sekolah adalah saran yang gak baik, tapi kamu mungkin memang tak cocok sekolah disitu (bukan karena tingkat prestasi kamu tapi lebih pada keadaan guru2-x) Pihak sekolah seharusnya bisa lebih bijak. kepsek sebenarnya memiliki peran penting. bagaimana dia akan bernego dengan pihak guru guna membahas masalah kamu. guru juga hendaknya bisa memberi solusi terbaik. ya... kalo kayak gini, ibaratnya "guru kencing berdiri, murid kencing berlari" Ini dia yg wajib dituntaskan Dinas Pendidikan Nasional. bagaimana kita bisa disebut negara ber bineka tunggal ika kalo masalah agama aja gak ada toleransinya. ya gak? So, kamu tetep semangat aja. semua ada balasannya, itu kan yg dijanjikan Tuhan? Sorry aku telat komennya, coz baru baca sekarang!! Semangat dech buat kamu!! God_bless

16-10-2007
Dari : amanda | karuniamanda_lovely@yahoo.com
wah....keren keren skali tulisannya!!! btw pasti ortu mu bangga sama kau!!! berani demi kejujuran!!tetap semangat!! amanda!!

30-09-2007
Dari : Juwita Mangalik | juwita_mangalik@yahoo.com
Sabat ya.....Tuhan itu adil kok

30-09-2007
Dari : Juwita Mangalik | juwita_mangalik@yahoo.com
Chayoo...dek,sabar ya dek...emang hidup itu penuh dengan tantangan,dengan adanya tantangan itu dapat membuat kita lebih dewasa dalam berpikir, berkata2,dan dalam bertindak..hehheheh. .hidup itu indah kok...entar satu saat orang2 yang gituin kamu akan tersingkir kok..jauh dari mu...Chayooooo ...Chayooo

27-09-2007
Dari : Hendra anak Daya choy |
Salam, Budi. Kebetulan keluargaku juga ada yg kristen adven, tinggal di jalan bali, barangkali ko kenal. di keluarga besarku ada tradisi, kalo lebaran mereka main ke rumah rame-rame, dan kalo natal/imlek gantian kami yang makanmi kering sepuas-puasnya soalnya dijamin halal, hehehe. oh, ya, denominasi advent memang sedikit jumlahnya meskipun gereja advent dalam pandangan pribadi saya juga salah satu gereja primitif/tertua yang silsilah ajarannya sampai ke James, saudara Kristus, yang melanjutkan kepemimpinan gereja jerusalem pertama kali. nah., karena minoritasnya ajaran advent ini, saya pikir kalo gurumu "salah tingkah", maklum sejak kecilnya dulu tahunya kalo hari ibadah kristen itu pasti hari minggu...di lain pihak, ini juga bukti ke"kikuk"an para pendidik kita yang tidak cukup kreatif berhadapan dengan "birokrasi pendidikan". saranku toh, sebagai mantan smansa juga, kalo rekomendasi gereja dan bicara baik-baik memang tidak mempan dan ko terancam tidak lulus, lampirkan saja surat terakhirmu ke smansa dengan tembusan komnas ham....sukses nah ces

27-09-2007
Dari : Nyomnyom |
Untuk orang yang terlahir dari keluarga berbeda agama dan hidup dilingkungan yang berbeda juga..saya terbiasa untuk hidup dalam toleransi dan membiasakan diri untuk menerima perbedaan dengan hati lapang. Agama memang sering membuat pro-kontra dalam suatu perkara. Bahkan ada yg bilang 'agama seringkali dijadikan alat anti agama (lain)..' Benar yang dikata Kapitipiti, masalah diskriminasi itu terjadi di semua tempat, soal menjadi mayoritas atau minoritas itu kan tergantung kita sedang berada dimana, dan bagi saya sama saja... Mau jadi mayoritas atau minoritas, tentunya tak sepantasnya kita bertindak diskriminatif. Saya sering dikira pemeluk agama tertentu oleh kawan lain, dan dengan tak sengaja dia menceritakan kejelekan agama tertentu yang kebetulan saya anut, tapi saya tak marah. Itu kan pendapat dia. Sering juga koq orang dari agama saya bercerita kejelekan agama lain. Jadi, kembali lagi seperti yang banyak orang bilang, itu ulah orang-orang yang belum 'tinggi' ilmu kanuragannya..hehehe So, Budi..tetap rajin beribadah dan tetap menulis !!

26-09-2007
Dari : Ince Dian AA | indi3_ciraz@plasa.com
Ya, Bang Halim. Bagus memang tulisannya BUDI. Saya jadi teringat ketika kita semua ketemu di Gedung Kesenian. Si IQBAL pindah sekolah beberapa hari stelahnya. Dia sekarang sudah di SMAN 21 MKS. Tapi, kemarin dah ketmu. Katanya, nanti pi baru dia ikut nulis di Panyingkul!

26-09-2007
Dari : Agus Mardhika | mardhika-mu@yahoo.com
@ Bung IPUL.. Aya-aya waee... komentarnya anda bung.. bagaimana kalau komentarnya saya balik... "Salah sendiri kenapa masuk sekolah umum.. kenapa tidak masuk sekolah advent jadi tiap hari sabtu bisa beribadah.." jadi bung ipul pikir dulu sebelum memberikan komentar yah.. Untuk Budi.. permasalahan anda bukan hanya sebatas toleransi beragama, tetapi ada juga peraturan sekolah yang harus dipatuhi. mungkin hal inilah yang harus Anda kejar dan cari mengapa kok anda tidak bisa mendapatkan toleransi tersebut, cari solusinya, kalau anda minta tambahan hari atau hari penganti, belum tentu gurunya bersedia, jadi harus ada win-win solusion, anda harus bertemu dengan pihak yang terkait, kepala sekolah dan guru dan tentu saja harus dengan orang tua anda. Anda tidak boleh egois dengan menyatakan pihak sekolah tidak memberikan toleransi, bagaimana dengan pihak sekolah ??, ada peraturan disini yang dilanggar yaitu masalah kehadiran.. Karena masalah anda bukan hanya "Toleransi" tetapi ada juga "Peraturan Sekolah"

25-09-2007
Dari : Choel | choel@mallarangeng.com
Mungkin saatnya melakukan aksi nyata dan pressure group mengenai ini. Jangan hanya sekedar jadi wacana kita. Bisakah ada yg tolong utk dapatkan nomer HP-nya pak Herman Kepala Sekolah SMA 1 itu? Data2 diatas sdh cukup lengkap utk membuat case ke beliau.

25-09-2007
Dari : zainil bahri | besar_tinggi@yahoo.com
tetap semangat fren...kalo memang itu kepercayaan agama, loe mesti yakinkan bahwa hak beragama itu ada dalam prinsip hidup umat manusia dan tentunya udah diatur di dalam perundang-undangan negara kesatuan republik indonesia. tetap semangat !!!

24-09-2007
Dari : halim hd. | halimhade@yahoo.com
hei, budi, fenny, ince, fikri, en bbrp orang lagi, oohh, saya lupa nama-nama mereka. oyaaa, dimana itu si 'kutubuku' iqbal? halo, hallooo, dian ince dimana iqbal? gimana iqbal dengan ekonomi internasional-nya? ada buku lain yang bisa diceritakan? dear budi, tulisanmu bagus. walaupun ada masalah. dan sekarang kamu saksikan 'pro-kontra' yang nanti bisa memperkaya pengalamanmu. dan soal itu bukan hanya masalah dirimu saja. tapi juga masalah semua orang. saya katakan semua orang, artinya yang menjadi 'korban' bukan hanya kamu yang disebut beragama advent, juga mereka yang berada disekitarmu, apapun agamanya.

24-09-2007
Dari : i Noentoeng |
Prihatin dan bisa menjadi sebuah pembelajaran yang baik. Setahuku, terkait issu ini, dulu juga ada kawan kelas II A2-2 namanya Henry(?)(biasa dipanggil Angko...) Saya kelas 1-11 (86), II A2-2 (kebanyakan kawan non muslim). katanya penganut Advent juga, dan memang jarang masuk kalo sabtu namun tetapji naik kelas dan menurutku dia bisa beradaptasi.... waktu itu pak Herman H masih guru olahraga. Terlepas dari apakah ini terkait dengan kebebasan beragama atau tidak, toh di Indonesia telah ada satu aturan nasional, misalnya kalau hari Jumat, sekolah NEGERI hanya sampai jam 11. dan Ahad LIBUR; Bukankah ini sudah, menunjukkan bahwa Aturan lebih prefer ke MUSLIM dan NASRANI secara umum? Masa saya di Smansa, menurutku secara umum sekolah ini sangat menghargai perbedaan, Persoalan mau libur istimewa utk BUDI P, pada SETIAP hari SABTU, memang sangat terkait dengan aturan KHUSUS yang diterapkan oleh guru yang bersangkutan dan tentu saja SANG KEPSEK Herman Hading. Karena Tidak mungkin sekolah libur pada hari Sabtu, nanti dikira melanggar kesepakatan nasional. Hehehe..... Kurang tepat juga utk memberi garis merah ke Smansa hanya karena "oknum guru" karena ini terkait dengan sistem pendidkan nasional. Menurut pikiran saya, sebaiknya memang sebelum masuk ke sekolah2 umum, mesti dipahami prosedur, ketentuan-ketentuan, dan hari-hari sekolah.. termasuk hal-hal yang membatasi ritual atau praktek-praktek ibadah karena sangat prinsip. Jangan lupa juga bahwa sistem pendidikan nasional mengakui SEKOLAH UMUM NEGERI dan sekolah "BERBANDEROL" AGAMA.....Coba tengok..... Mohon maaf kalau kurang berkenan. Kamaruddin Azis/Banda Aceh

24-09-2007
Dari : hatta | hattaboer@yahoo.com
Turut simpati dengan diskriminasi yang kau hadapi nah Budi.. (mudah2an diskriminasi seperti ini bukan kasus gunung es) Gimana kalo kita rame2 kirim surat dukungan buat Budi ke Kepala Sekolah & guru2 di SMANSA.. Mungkin aja mereka bisa melunak. Sabar dan tabah ya Budi. Dan juga tetap menulis.. ^_^

24-09-2007
Dari : fenny | fenny_git2ndgig@yahoo.co.id
yo, bucchan! akhirnya impianmu terkabul! jadi ndak nangis2 mi ko lagi di midori, "iii, blum di publish tulisanku! jelek ki belah!" hehehe... bucchan, sedihnya kisah hidupmu yg sbenarx di skul di'! fikri bilang, "so sad!" smoga harapanmu agar pihak skul n guru2 mengerti terkabul. amiiin... tapi kan ada ji anak2 x-7 yg slalu ada u/ "gendu'"! trutama i2 kakakmu...rina! tenang mi ko hari trakhir skul kita pergi ca***! ganbatte ne, bucchan! be patient n keep smiling!

24-09-2007
Dari : Dey Agusta | deyagusta@yahoo.com
Bahan masukan untuk Diknas saya kira. Tapi kalau memang sikap Herman Hading yang bekas guru OR dan kebetulan jadi Kepsek seperti yang diceritakan, saya juga menyesalinya. Seharusnya seorang Kepsek bisa memberikan solusi yang riel untuk anak didiknya, bukan hanya menghitung berapa uang yang masuk setiap tahun ajaran baru. Saya juga menanyakan bagaimana fungsi guru BP di SMANSA yang waktu saya sekolah di sana bisa jadi tempat curhat apa saja. Kalau memang sekolah tidak bisa membantu, saya kira IKA SMANSA perlu bergerak... Bagaimana Agus (Arifin Nu'mang)?

24-09-2007
Dari : Luna Vidia Matulessy | lunavidya@gmail.com
Tulisan ini membuat saya terharu: pertama, karena saya kembali menemukan semangat seseorang untuk terus belajar, dengan mempertaruhkan keyakinan imannya, yang ke dua karena dalam semangat untuk terus mendapatkan pendidikan, gendu' dan orang tuanya tidak punya cuup keberanian untuk menempuh langkah 'radikal' : sekolah rumah!

24-09-2007
Dari : bombong | pettapuangimbang@yahoo.com
terlalu dramatiski bahasamu de, itumi konsekwensi yang sudah kmu pilih sendiri, dgn diterimanya kmu di sekolahmu itu salah satu bentuk toleransi, dan sa pikir suatu agama harusnya mentoleransi umatnya untuk urusan ibadah. dalam islam ada namanya rukhsah atau keringanan. masa dalam agamamu tidak ada rukhsah. mintalah kebijaksanaan kepada yang terhormat pendeta. insya allah pasti di kasi deeee..

24-09-2007
Dari : Ipul | ipulji@yahoo.com
bung Agus, menurut saya..salah sendiri, sudah tau dirinya Muslim koq mau masuk sekolah Advent...kan sekolah umum ato sekolah khusus muslim juga banyak, yang berkualitas juga ndak kalah banyak...jadi kalo menurut saya, masalah Budi ini harus dilihat dari kacamata yang proporsional. sekolah umum, artinya sekolah yang memang untuk semua golongan, tanpa ada diskriminasi ato semacamnya..bukan cuma buat kaum yg beragama Advent, juga buat kaum muslim yg kebetulan jadi minoritas..namanya sekolah umum ya untuk umum....Budi, kalo sampe besok Budi dapat perlakuan kurang menyenangkan dari sekolah karena tuilsan ini, lapor sama k'Ruslee ya..pokoknya lapor saja, soal tindakannya apa, ya nggak tau...hehehe, salam Budi..tetap semangat yak..jangan pernah patah semangat...

24-09-2007
Dari : Agus Mardhika | mardhika_mu@yahoo.com
Cukup menyentuh juga, tapi sewaktu anda sekolah di SD,SMP Advent bagaimana perlakukan sekolah anda terhadap orang muslim, setahu saya dan perngalaman beberapa teman saya yang muslim dan bersekolah di sekolah kristen, mereka DIWAJIBKAN untuk masuk kekelas pada waktu pelajaran agama kristen, dan juga harus mengikuti ulangan dan bahkan ada ujian prakteknya, apakah ini yang namanya toleransi..???? kalau disekolah umum, jelas itu oknum, tapi klo disekolah kristen.. memang itu yang diwajibkan oleh sekolah, betuuuull...???

24-09-2007
Dari : daeng ammang | daeng.ammang@gmail.com
jangan peduli dengan komentar-komentar yang bisa bikin kamu tersinggung,... saya pikir kamu harus protes kalau guru-guru di hari sabtu tidak mau kompromi,... bikin deal: ada tugas pengganti atau sesi belajar-mengajar di luar hari sabtu itu,... cobalah mengakrabkan diri dengan guru,... kalau misalnya masih belum berubah,... saya sependapat dengan Pak Herman,... kebetulan Om-kuji juga,... tetap semangat! saranku juga: jangan terlalu peduli dengan angka-angka di raport-mu, itu hanya angka!

24-09-2007
Dari : herlina | hsuciati@yahoo.com
hi Ardi..kapan balik ke Mks, smoga kalo' sdh aktif di kampus kejadian kayak teman kita itu ndak kejadian lagi ya..sy yakin kamu,suhe', ibe'dll bisa buat perubahan itu. Soal kasus teman kt dulu pihak jurusan meminta surat keterangan kebakaran/kerusakan rumahnya dr pihak kepolisian nah pas ngurus surat2 itu dia kesulitan, dan parahnya masalah dia pendam sendiri & memutuskan untuk Drop Out,waktu teman2 dr himpunan tau masalahnya , seingatku dulu beberapa kawan sempat mendatangi lagi & menawarkan bantuan u/ngurus2 ke kantor polisi & jg kawan yang lain menawarkan bantuan u/buat ulang beberapa tugas2 itu, tapi dia menolak & sepertinya dia sdh patah arang. Ini jg yang kayaknya dialami Budi, masalah dipendam sendiri, kalo' dia share sm temen2 sekolahnya yang lain tidak tertutup kemungkinan banyak yang akan bantu meski beda agama. So meski tetap berat tapi khan ndak sendiri lagi...

24-09-2007
Dari : herlina | hsuciati@yahoo.com
hi, sy alumni smansa '94, dulu waktu kelas 1-6 ada teman sekelas yang jg Advent cm waktu itu kayaknya ndak dipersulit seperti ini, kalo' ada tugas or ulangan pas hr sabtu dia ikut susulan di hari lain ketika jam istirahat or stlh jam sekolah di ruang guru. Coba cr referensi lain dr Debdikbud or Depag soal diakuinya Advent di Indonesia & jadikan tambahan referensi u/menguatkan ijin dr Gereja. btw itu jg yang kami lakukan dl waktu beredar larangan berjilbab disekolah,meskipun akhirnya diijinkan tetap sj tiap pagi dirazia oleh guru BP (lambang osis hrs keliatan, baju harus dimasukkan,rok hrs model span,dll). Setuju dgn Rusle', kalo tulisan Budi ini resikonya besar sekali, mengingat Kepala Sekolahnya sekarang (dulu wakasek kami) pernah ngeluarin siswi kelas 3Fis3, 2 bulan sebelum UAN hanya karena "joke"nya di Mading yang "menyinggung" beberapa guru Smansa.Smoga ndak kejadian lg ya... Keep fighting de'...

24-09-2007
Dari : arif | aco_bugis@yahoo.com/aco_paotere@plasa.co
wah keren tulisanta budi, sisi lain dari realitas sosial perkotaan, ironis krn dunia pendidikan masih ada yg seperti itu, tapi kenyataan ini tidak terjadi di mksr ato indo saja cessss, pernah dengar kasus pelajar muslimah di london? anak ini memenangkan kasus di pengadilan negeri london atas sekolahnya sendiri krn dilarang pake jilbab disekolahnya. so teorinya, dimanapun anda berada dan siapapun suku, ras maupun agama anda selama anda minoritas maka perlakuan yg tidak enak pasti anda akan temui, tapi ini bkn justifikasi, sy juga tdk setuju dgn diskrimansi, say no to racism just good and fun football, loh kok lari kesana. hehehehhehe.

24-09-2007
Dari : Amril TG | amriltg@gmail.com
Budi, salut atas tulisanmu yang menggugah dan menyentak kesadaran kita semua terutama dalam hal toleransi beragama di dunia pendidikan. Sungguh, tulisan ini telah membuka mata kita bahwa dunia pendidikan kita masih ada praktek diskriminasi bagi peserta didik dalam menjalankan ibadah keagamaannya. Terimakasih atas sharingnya yang mencerahkan ini. Maju terus, Budi (kamu mengingatkan saya pada nama adik kandung saya)!.

24-09-2007
Dari : fikri lagi cika' |
we,....keep writing nawh, yakinka bagus lagi tulisanmu selanjutnya, SMANGA"!!!!!

24-09-2007
Dari : fikri |
budiiiiii.....bagusn ya tulisanmu!!!!! salutka!!!!!btw,se-T RAGIS itukah hidupmu slama ini????SedihQ,hicks. ..hicks..hicks....t' nyata kw pandai menyimpan masalahmu di GENDU"??? yg jlas skali lagi,bagus skali tulisanmu,nyesalka slama ini suruhko pindah agama,biar pun itu just kiddingji,hwahahahaa aa.....

24-09-2007
Dari : Idha |
Dear Budi, Saya ikut sedih atas apa yang menimpa dirimu namun lebih sedih lagi terhadap kepicikan guru-guru di sekolahmu yang menjadikan 'kehadiran' siswa di sekolah sebagai salah satu syarat utama untuk mendapatkan nilai yang baik agar dapat naik kelas. Sangat disayangkan karena beliau-beliau sebagai pendidik merupakan salah satu garda depan untuk membentuk pola pikir anak bangsa untuk menjadi lebih toleran dan egaliter. Sayang sekali di jaman tehnologi ini, masih banyak yang tidak memanfaatkannya secara maksimum. Misalnya untuk memberikan catatan pada Budi atau tugas-tugas yang dapat dia kerjakan pada hari Minggu atau hari lainnya. Terlalu terpaku pada kuota 'kehadiran' atau tidak mau memanfaatkan tehnologi ... terserah mi deh ...

24-09-2007
Dari : Kapitipiti | kapitipitie@yahoo.co.jp
Masalah ini juga mungkin dihadapi mahasiswa Muslim di negara dgn minoritas Islam pada saat akan menuaikan shalat Jum'ah yg kebetulan bentrokan dgn jadwal kuliah. Identik juga dengan masalah tdk boleh mengenakan jilbab di sejumlah sekolah-sekolah. Jadi masalah toleransi ini bukan cuma terjadi di Indonesia tapi hampir terjadi di seluruh dunia. Mungkinkah perlu suatu badan dunia yg mengatur adanya peraturan khusus yg menjamin kebebasan beribadah tanpa perlu mengorbankan pendidikan penganut agama tersebut...?

24-09-2007
Dari : Mustamin Al-Mandary |
Saya turut merasakan sedihta' De' Budi, tapi begitulah wajah bangsa kita. Hak-hak minoritas masih sering diabaikan. Pendidikan, sering juga tidak toleran, seperti kasusta' ini. Tapi kita harus tetapi berusaha untuk membukakan mata orang lain. Agama memang urusan personal, tetapi semestinya setiap orang harus mengerti kebutuhan personal orang lain, dan penghormatan harus ditegakkan dalam konteks itu. Mungkin alumni SMA-1 Mks bisa membantu Ade' Budi ini? Salam, Mus

24-09-2007
Dari : Aco Bollo | aco@yahoo.com
satu lagi, ketika diakan pra-jabatan untuk CPNS di Makassar sekitar bulan juli-Agsutus tahun 2005, seorang CPNS yang juga beragama Advent, dinyatakan tidak lulus hanya karena izin meninggalkan lokasi prajabatan setiap sabtu pagi. Alasannya kehadirannya tidak mencukupi standar. Ini juga sangat disayangkan mengapa ada pejabat diklat yang berpikiran sangat tidak manusiawi dan tidak toleran.

24-09-2007
Dari : rusle' (ex SMANSA) | muhruslee@gmail.com
Ketika saya kuliah di ITB, ada teman saya yang juga beragama advent. Setiap sabtu, saat ada kuliah, bisa dipastikan dia tidak hadir karena alasan yang sama dgn yg dipaparkan adik Budi diatas. Tapi di ITB, dia bisa tetap mengikuti kuliah yg tertinggal dgn meminjam catatan dan ketidakhadirannya dimaklumi oleh dosen ybs. Di level itu, kami merasa kampus memberikan kemudahan dan toleransi yg sangat wajar. Membaca penuturan Budi di sini, sebagai alumni Smansa, saya sedikit gelisah dan khawatir sebenarnya. Tempo hari saya sudah ingatkan kak Ly ttg bahaya yang akan dihadapi Budi jikalau tulisan ini dianggap guru2 di Smansa sebagai pembocoran yg tidak menyenangkan. Tapi saya yakin, sebagaimana teman2 lain, insya Allah tulisan ini mudah2an akan dan dpt dibaca dan diperlakukan sebagai sebuah renungan yang mendalam akan arti sebuah pendidikan. Pendidikan bukanlah hanya untuk melumuri otak dengan isi buku, tapi juga tentang bagaimana mengaplikasikan ilmu dengan cerdas, termasuk mensiasati perbedaan. Salama'ki Budi, semoga sukses belajarnya. Mudah2an para guru bisa memberi kan hak yang semestinya tidak perlu diminta-minta, apalagi mengemis. Thanks for share.

24-09-2007
Dari : ardy | ardyarsyad@yahoo.com
Sebagai muslim, saya merasa malu dengan kelakuan gurunya Budi yang tidak menghormati keyakinan seseorang. Apalagi disertai pemerasan dan penipuan pula. Saya teringat dengan seorang kawan yang dia seorang Cina dan mengalami musibah berupa kebakaran rumah semasa kerusuhan rasial Makassar 1997. Alhasil, seluruh catatan tugas, dan kartu2 tugas besar sebagai mahasiswa teknik sipil Unhas habis terbakar. Sewaktu teman ini mengurus agar diberi kelonggaran untuk mendapatkan penggatian kartu tugas dari Jurusan di kampus, dari pihak jurusan waktu itu tidak akomodatif, dan malah memberikan banyak kesulitan. Hasilnya, teman saya ini memilih drop out padahal udah di semester 6. Ini bukti, bahwa agama dan ras masih belum dihormati oleh kita yang mengaku muslim.



 :: CITIZEN REPORTER
Makassar di Panyingkul!: Sebuah Persembahan
(Kamis, 12-07-2007)
Ayo Bergabung di Panyingkul!
(Minggu, 29-04-2007)
Catatan Sederhana Para Citizen Reporter
(Selasa, 31-10-2006)
Tentang Citizen Reporter dan Rubrik di Panyingkul!
(Rabu, 11-10-2006)
Riuh Rendah di Panyingkul!
(Rabu, 16-08-2006)

Untitled Document
 :: DUNIA SEGIEMPAT KAREBOSI






 :: PILKADA




 :: ALBUM PUASA 2008




Untitled Document
 :: KONTAK TIM PANYINGKUL!

Email Redaksi :

redaksi@panyingkul.com

Tim:
yus@panyingkul.com
+62 813 226 80844

Moch. Hasymi
+62 811 955 954


© Juni 2006 - Panyingkul.com All Rights Reserved
Desain Web : Nesia Andriana -- Supported by: Yuhardin