|
|
| . |
| ::
|
| Senin, 24-09-2007 | Budi yang Mendamba Toleransi Agama :: Budi Parabang ::
| Budi Parabang di tengah memegang Buku Nyanyian dalam kebaktian di Gereja Advent Sudiang. Foto: Andarias P.
Pengantar Redaksi:
Kami menerima surat dari seorang siswa SMAN 1 Makassar, Budi Parabang, penganut Kristen Advent yang mendambakan toleransi beragama secara nyata. Surat ini kami tayangkan sebagai bentuk renungan Ramadan bagi mayoritas umat Islam di tanah air, yang tengah menjalankan ibadah puasa. Selama puasa, begitu banyak toleransi yang ditunjukkan pihak lain atas nama “menghormati orang yang berpuasa”, mulai dari rumah makan yang dihimbau tidak buka secara mencolok di siang hari, ditutupnya hiburan malam, hingga diblokirnya ruas jalan saat pelaksanaan salat tarwih. Mari sejenak kita melihat, bagaimana toleransi yang didamba pemeluk agama lainnya. Budi Parabang bercerita dalam suratnya berikut ini. (p!) | Nama saya Budi Parabang, tapi teman-teman sering memanggil saya dengan sebutan Gendu’. Mungkin karena bentuk tubuh saya yang tergolong gendut. Saya adalah bungsu dari 3 bersaudara. Umur saya 16 tahun dan saat ini sedang menuntut ilmu di SMA Negeri 1 Makassar atau yang lebih dikenal dengan Smansa. Setelah berjuang selama setahun akhirnya saya bisa duduk di kelas IPA, tepatnya di kelas XI IPA 4. Saya adalah salah seorang penganut agama Kristen Advent, salah satu agama yang terdengar asing bagi teman-teman saya. Memang populasi kami di Indonesia tergolong sedikit, hanya sekitar 500 jiwa.. Tapi Kristen Advent bukanlah agama lokal melainkan universal atau mendunia.
Dalam Advent, banyak ajaran yang mungkin sedikit berbeda dengan agama Kristen yang lain, namun sebenarnya kami memiliki Alkitab yang sama. Yang membedakan adalah penafsirannya. Advent memiliki banyak larangan, seperti: merokok, minum minuman beralkohol, makan makanan haram(seperti anjing,babi dan sebagainya). Selain itu ada pula hal-hal yang dianjurkan seperti menjadi vegetarian, tidak memakai anting-anting bagi perempuan, serta tidak minum teh dan kopi, sebab berdasarkan hasil riset, dalam kopi terdapat kafein dan di dalam teh terdapat nikotin yang dapat membahayakan tubuh.
Para pemuka agama kami selalu menyeru-nyerukan akan hal ini sebab dalam kitab tertulis: “Tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang diam di dalam kamu,maka muliakanlah Allah dengan tubuhmu!”. Atas dasar itulah kami disarankan untuk merawat tubuh dari apapun yang dapat merusaknya. Tapi semuanya itu seolah-olah bukan lagi menjadi beban malah menjadi kebiasaan jika dijalankan dengan sungguh-sungguh. Mungkin sebagian orang akan berpikir betapa susahnya menjalani kehidupan seperti itu, tapi sebenarnya bagi saya pribadi itu bukan hal sulit, karena sejak kecil kami sudah terdidik dengan ajaran seperti itu.
Satu hal lagi yang menjadi ciri atau identitas Kristen Advent, yaitu kami beribadah pada hari Sabtu (ber-sabat), bukan hari minggu layaknya Kristen lain. Hari kebaktian kami dikenal dengan Sabat. Sabat terhitung mulai dari matahari tenggelam di hari Jumat sampai pada matahari tenggelam di hari Sabtu. Satu hari itu dikhususkan untuk Tuhan, tiada aktivitas lain kecuali yang berbau rohani. Jadi jika hari Sabat tiba, kami tidak dibenarkan untuk berbelanja, belajar (kecuali belajar dari alkitab), menonton, bahkan memasak. Makanya sebelum Sabat datang, keluarga kami selalu memasak makanan dalam porsi lebih.
Sungguh sebuah pemandangan yang cukup kontras dibandingkan dengan teman-teman lain yang setiap hari Sabtu pergi ke sekolah, bukannya ke tempat ibadah. Di Smansa sendiri,penganut agama Kristen Advent cuma 2 orang yang tidak lain saya dan kakak saya, Heri. Kakak saya sekarang duduk di bangku kelas XII dan sedang mempersiapkan diri menghadapi Ujian Akhir Nasional (UAN). Tapi sebetulnya sudah banyak alumni Smansa yang beragama Advent.
Sebelum menginjakkan kaki di Smansa, Heri sudah sangat sering bercerita kepada saya tentang keadaan di sekolah itu. Dan sebelum memutuskan mendaftar di Smansa, Heri berkata,“Tidak gampang untuk tetap eksis di Smansa dengan keadaan kita yang seperti ini, dibutuhkan kesabaran dan semangat yang tinggi dan semua keputusan ada di tanganmu. Kamu yang mengambil keputusan artinya kamu harus siap menghadapi segala konsekuensinya.” Dan omongan kakak saya benar-benar saya rasakan sekarang.
Saat memasuki bangku kelas X SMU, saya ditempatkan di kelas X-7. Sempat ada kesulitan memberitahu teman-teman tentang keadaan saya yang tidak bisa masuk sekolah setiap hari Sabtu karena harus mengikuti kebaktian di gereja. Awalnya ada beberapa dari mereka memandang sebelah mata keberadaan saya, bahkan tak jarang cerita miring yang mengatakan saya beragama aneh, fanatik, malah ada yang bilang: “Enaknya tidak belajar tiap hari Sabtu”, dan masih banyak lagi.
Suatu kali seorang pembimbing bertanya, “Memang sama sekali tidak boleh ke sekolah kah?” Lantas saya menjawab, “Ibadah itu bukan satu hal yang bisa ditunda-tunda Bu.”
Selang satu setengah bulan belajar, saya merasa teman-teman mulai menerima keberadaan saya, malah mereka selalu mendukung saya. Misalnya saja untuk pelajaran di hari Sabtu yang tidak saya ikuti, mereka dengan senang hati mau meminjamkan catatan, bahkan mengajari sampai mengerti. Di situlah saya merasa bahwa biarpun kami adalah kaum minoritas bukan berarti kami disisihkan oleh teman-teman. Tapi salah seorang teman kelas di kelas X-7 pernah berkomentar, “Setengah matimu itu tidak masuk kelas setiap hari Sabtu, apalagi kalau ada ulangan! Daripada susah-susah, lebih baik kamu pindah agama. Daripada banyak angka merahmu! Bagaimana?”
Namun menurut saya, toleransi tampaknya tak berlaku rata bagi setiap guru. Saya tidak tahu mengapa mereka seolah menutup mata. Dalam lingkungan sekolah, saya merasa kejelasan yang diberikan belum pasti sehingga membuat saya bagaikan anak ayam yang kehilangan induknya, tidak tahu harus berbuat apa. Atas dasar itu saya dan ayah mengurus surat izin dari pihak gereja untuk diberikan kepada Kepala Sekolah dan guru-guru yang mengajar di hari Sabtu.
Saat memberikan surat itu kepada Drs Herman Hading Mpd, kepala sekolah saya, ia berkomentar: “Saya pribadi mengizinkan tapi kamu harus bicara dengan guru-gurumu. Juga usahakan tugasmu masuk terus! Soal kehadiran, negosiasikan dengan guru-guru bidang studimu.”
Lantas saya pun menghubungi guru-guru saya satu persatu. Namun yang saya dapatkan dari mereka hanya komentar yang tidak jelas arahnya. Saya sungguh merasa stres saat itu apalagi ada mata pelajaran yang cuma ada di hari Sabtu, seperti Sejarah dan Kesenian. Akhirnya saya memutuskan melupakan itu semua dan membuat kebijakan sendiri dalam artian tidak memikirkan pelajaran di hari Sabtu.
Dan bisa ditebak apa yang terjadi, pada saat pembagian rapor di akhir semester 1, ada 2 mata pelajaran yang mendapat nilai merah. Ayah saya marah besar saat itu. Guru-guru saya memang mengizinkan saya beribadah tapi tidak memberikan solusi yang baik untuk nilai-nilai saya. Contohnya saja, saya pernah disuruh guru kesenian untuk memperbaiki nilai-nilai saya yang merah lantaran tugas-tugas saya tidak pernah masuk di hari Sabtu dengan membeli buku yang harganya lebih Rp200.000. Saya tidak tahu buku apa yang bisa semahal itu karena saya hanya disuruh menyetor uang dan guru saya sendiri yang membelinya. Tapi setelah nilai saya keluar di rapor, saya tetap saja mendapat nilai merah tepatnya 27.
Rapor pun merah di semester 1. Foto: Budi Parabang.
Akhirnya di semester 2 saya mencoba memperbaiki kesalahan. Saya mulai menyetor tugas-tugas dan mulai aktif mencari guru saya. Namun sedikit susah menemui guru bidang studi yang mengajar di hari Sabtu untuk meminta tugas-tugas tambahan.Tapi akhirnya saya bisa melewati itu semua dan nilai saya membaik di saat penerimaan rapor di semester 2. Akhirnya saya bisa juga naik ke kelas XI dan masuk ke kelas IPA setelah melewati penjaringan yang ketat.
Tapi saya menemukan kendala baru di kelas XI ini. Masih ada seorang guru yang sama sekali tidak mau memberikan sedikit kelonggaran beribadah di hari Sabtu. Begitu mengetahui bahwa saya adalah seorang penganut Kristen Advent, guru itu pun memanggil saya dan berkata: “Jadi setiap hari Sabtu Anda tidak masuk dalam kelas saya? Wah, bagaimana itu? Kalau saya sendiri tidak bisa memberikan izin karena kehadiran Anda nanti akan sangat jauh di bawah standar kehadiran! Ini bukan sekolah agama, ini sekolah umum! Tapi nantilah saya bicarakan lagi dengan kepala sekolah.”
Saya pun hanya terdiam mendengar hal itu dan langsung kembali ke tempat duduk. Tapi di tempat duduk saya termenung dan berkata dalam hati: “Saya kira Indonesia adalah negara yang rakyatnya bebas memeluk agama dan beribadah sesuai agama yang dianutnya. Namun sekarang ini saya merasa hal itu tak berlaku terhadap saya. Saya merasa terdiskriminasikan.”Tapi saya terus berdoa di kamar saya agar suatu saat diberikan kelonggaran oleh guru tersebut.
Heri kakak saya yang duduk di kelas XII, sekarang sedang mengurus surat izinnya juga dan kami sama-sama berharap bahwa kami bisa terus belajar sambil menjalankan ibadah sesuai agama yang kami anut. Di sekolah ini saya mendapat banyak pelajaran hidup yang tidak pernah saya dapatkan di SD dan SMP dulu.Sewaktu SD, saya bersekolah di SD Advent begitupun SMP, saya bersekolah di SMP Advent yang bernaung di satu yayasan yang sama yaitu Yayasan Pendidikan Advent Durian Makassar. Letaknya juga masih dalam suatu kawasan yang sama. Dulu di sana, setiap Sabtu kami di liburkan. Ya jelaslah! Namanya juga sekolah Advent. Jadi saya dengan leluasa ke gereja dan beribadah bersama keluarga.
Hingga saat ini saya berharap guru-guru saya bisa membuat kebijakan yang berpihak pada kami. Kebijakan yang memberikan izin lebih mudah sehingga tidak usah mengurus surat izin tiap semester, bahkan setiap perubahan jadwal pelajaran hari Sabtu serta dapat memberikan solusi yang terbaik bagi nilai-nilai kami. Sehingga saya tidak lagi merasa tersisihkan. Meskipun kami kaum minoritas bukan berarti kami tidak punya hak yang sama layaknya siswa lain. (p!)
*Budi Parabang dapat dihubungi melalui email aldi_atarashi@yahoo.com
|
| | Jumlah
Komentar (36) |
|
| Komentar :
26-12-2008 Dari : cracker | cracker@xploit.biz wew..
ada budi parabang
ka??
haha :D
napa bsa ko dsini??
situs ap ine ka...
hahahaaahahahaa :D
nanti saya hack de
ini situs... 20-04-2008 Dari : DRS.SYARIF.SITUMORANG | situmoranggumil@yahoo.co.id BUDI PARABANG KAMU
TERMASUK TELAH
MENGALAMI
PENDERITAAN YANG
DIRASAKAN YESUS
YAKIN LAH MEMANG
MASIH BANYAK BANGSA
KITA BELUM
MENGHAYATI UUD 45
PSL 29 TTG KEBEBASAN
BERAGAMA. SEGALA
PERKARA DAPAT
KUTANGGUNG DIDALAM
DIA YANG MEMBERI
KEKUATAN PADAKU(
PILIPI 3:13) TAPI
KEYAKINANMU ITU
JANGAN SIA-SIAKAN
DENGAN BERHURA-HURA.
ADVENT BUKAN HANYA
500JIWA TETAPI 23 JT
SEKARANG DAN TELAH
EXIS DIMANA2.HATIMU
YG PERLU ADA TETAP
DALAM YESUS. ORANG
LUAR TIDAK MENGERTI
HUKUM KE IV.TENTENG
HARI SABAT. TETAPI
MEREKA SUDAH
MENGETAHUI DARI
PENDERITAAN YANG KAU
ALAMI INGAT UPAHMU
BESAR DISORGA. TUHAN
KIRANYA MEMBERKATI
KAMU DAN KELUARGAMU.
20-01-2008 Dari : La Mellong | kojinuri@yahoo.com Saya lebih parah
kodong. Waktu di SD
Katolik Garuda,
disuruh ikut liturgi
Natal kalo tidak
bisa dikeluarkan
dari sekolah, na mau
dekat-dekat juga
lebaran.baru saya
ini Islam.Apalah
kata dunia? Sekarang
siapa yang lebih
tidak toleran? 20-01-2008 Dari : Mumu | Sebenarnya
permasalahan kamu
terlalu
didramatisir.
Bukannya jadwal di
sekolah-sekolah umum
biasanya bisa
disediakan khusus?
Kayaknya yang perlu
proses toleransi ya
kamu dengan penganut
Kristen lain di
SMANSA, bukankah
sudah ada hari
khusus buat Kristen
yang mau melakukan
ibadah di sekolah?
Jadi jangan
seakan-akan menuduh
umat di luar Kristen
yang menyebabkan
kondisi kamu
demikian.
Padahal fakta banyak
dimana orang-orang
Islam sekolah di
Gamaliel, Katolik
Garuda, SMP Advent,
justru diwajibkan
ikut pelajaran agama
KRISTEn dan tidak
diberi toleransi
untuk mengumpulkan
nilai agama menurut
agama yang mereka
yakini.Saya salah
satunya, sebagai
alumni SMP Advent
Dato Museng, saya
diwajibkan belajar
agama Kristen, dan
tidak bisa
mengumpulkan nilai
agama Islam yang
saya anut.
Tapi Alhamdulillah,
dengan hidayah saya
jadi lebih paham
tentang advent,
salah satunya (bukan
bercanda) bukankah
dalam advent
diajarkan untuk
tidak memakai baju
dengan jahitan
,sulaman, dan
berkancing? Hihihi ,
jadi aneh kan? Kalo
gitu kita mau pake
apa?
Sory men, bukannya
memanaskan suasana,
knodisi kamu masih
lebih beruntungd
aripada aku, kamu
masih bisa memiliki
nilai agama dari
Gereja Advent
setempat, sementara
saya kodong? Dipaksa
ikut belajar agama
Advent, padahal saya
ini orang Islam.
Semua ada hikmahnya,
jalani saja hidup,
kebenaran pasti akan
datang. 07-12-2007 Dari : Finda | www.finesaylove@yahoo.co.id Bud, di sekolah
(SMAN 4 MAnado) aku
waktu SMA dulu, aku
juga punya temen
seagama kayak kamu.
Bedanya sekolah kami
memberika tolerasi
bagi dia untuk
menjalankan ibadah
tiap hari sabtu
dengan syarat,
pelajaran guru harus
bisa terus diikuti.
Memang dia pernah
curhat kalo itu gak
mudah, but mau
apalagi sedangkan
keputusan untuk
masuk ke sekolah
kita itu udah jadi
keputusan dia
sendiri.
Sebenarnya, minta
kamu untuk pindah
sekolah adalah saran
yang gak baik, tapi
kamu mungkin memang
tak cocok sekolah
disitu (bukan karena
tingkat prestasi
kamu tapi lebih pada
keadaan guru2-x)
Pihak sekolah
seharusnya bisa
lebih bijak. kepsek
sebenarnya memiliki
peran penting.
bagaimana dia akan
bernego dengan pihak
guru guna membahas
masalah kamu.
guru juga hendaknya
bisa memberi solusi
terbaik. ya... kalo
kayak gini,
ibaratnya "guru
kencing berdiri,
murid kencing
berlari"
Ini dia yg wajib
dituntaskan Dinas
Pendidikan Nasional.
bagaimana kita bisa
disebut negara ber
bineka tunggal ika
kalo masalah agama
aja gak ada
toleransinya. ya
gak?
So, kamu tetep
semangat aja. semua
ada balasannya, itu
kan yg dijanjikan
Tuhan?
Sorry aku telat
komennya, coz baru
baca sekarang!!
Semangat dech buat
kamu!!
God_bless 16-10-2007 Dari : amanda | karuniamanda_lovely@yahoo.com wah....keren keren
skali tulisannya!!!
btw pasti ortu mu
bangga sama kau!!!
berani demi
kejujuran!!tetap
semangat!!
amanda!! 30-09-2007 Dari : Juwita Mangalik | juwita_mangalik@yahoo.com Sabat ya.....Tuhan
itu adil kok 30-09-2007 Dari : Juwita Mangalik | juwita_mangalik@yahoo.com Chayoo...dek,sabar
ya dek...emang hidup
itu penuh dengan
tantangan,dengan
adanya tantangan itu
dapat membuat kita
lebih dewasa dalam
berpikir,
berkata2,dan dalam
bertindak..hehheheh.
.hidup itu indah
kok...entar satu
saat orang2 yang
gituin kamu akan
tersingkir kok..jauh
dari mu...Chayooooo
...Chayooo 27-09-2007 Dari : Hendra anak Daya choy | Salam, Budi.
Kebetulan keluargaku
juga ada yg kristen
adven, tinggal di
jalan bali,
barangkali ko kenal.
di keluarga besarku
ada tradisi, kalo
lebaran mereka main
ke rumah rame-rame,
dan kalo natal/imlek
gantian kami yang
makanmi kering
sepuas-puasnya
soalnya dijamin
halal, hehehe. oh,
ya, denominasi
advent memang
sedikit jumlahnya
meskipun gereja
advent dalam
pandangan pribadi
saya juga salah satu
gereja
primitif/tertua yang
silsilah ajarannya
sampai ke James,
saudara Kristus,
yang melanjutkan
kepemimpinan gereja
jerusalem pertama
kali. nah., karena
minoritasnya ajaran
advent ini, saya
pikir kalo gurumu
"salah tingkah",
maklum sejak
kecilnya dulu
tahunya kalo hari
ibadah kristen itu
pasti hari
minggu...di lain
pihak, ini juga
bukti ke"kikuk"an
para pendidik kita
yang tidak cukup
kreatif berhadapan
dengan "birokrasi
pendidikan". saranku
toh, sebagai mantan
smansa juga, kalo
rekomendasi gereja
dan bicara baik-baik
memang tidak mempan
dan ko terancam
tidak lulus,
lampirkan saja surat
terakhirmu ke smansa
dengan tembusan
komnas ham....sukses
nah ces 27-09-2007 Dari : Nyomnyom | Untuk orang yang
terlahir dari
keluarga berbeda
agama dan hidup
dilingkungan yang
berbeda juga..saya
terbiasa untuk hidup
dalam toleransi dan
membiasakan diri
untuk menerima
perbedaan dengan
hati lapang. Agama
memang sering
membuat pro-kontra
dalam suatu perkara.
Bahkan ada yg bilang
'agama seringkali
dijadikan alat anti
agama (lain)..'
Benar yang dikata
Kapitipiti, masalah
diskriminasi itu
terjadi di semua
tempat, soal menjadi
mayoritas atau
minoritas itu kan
tergantung kita
sedang berada
dimana, dan bagi
saya sama saja...
Mau jadi mayoritas
atau minoritas,
tentunya tak
sepantasnya kita
bertindak
diskriminatif. Saya
sering dikira
pemeluk agama
tertentu oleh kawan
lain, dan dengan tak
sengaja dia
menceritakan
kejelekan agama
tertentu yang
kebetulan saya anut,
tapi saya tak marah.
Itu kan pendapat
dia. Sering juga koq
orang dari agama
saya bercerita
kejelekan agama
lain. Jadi, kembali
lagi seperti yang
banyak orang bilang,
itu ulah orang-orang
yang belum 'tinggi'
ilmu
kanuragannya..hehehe
So, Budi..tetap
rajin beribadah dan
tetap menulis !!
26-09-2007 Dari : Ince Dian AA | indi3_ciraz@plasa.com Ya, Bang Halim.
Bagus memang
tulisannya BUDI.
Saya jadi teringat
ketika kita semua
ketemu di Gedung
Kesenian. Si IQBAL
pindah sekolah
beberapa hari
stelahnya. Dia
sekarang sudah di
SMAN 21 MKS. Tapi,
kemarin dah ketmu.
Katanya, nanti pi
baru dia ikut nulis
di Panyingkul! 26-09-2007 Dari : Agus Mardhika | mardhika-mu@yahoo.com @ Bung IPUL..
Aya-aya waee...
komentarnya anda
bung.. bagaimana
kalau komentarnya
saya balik...
"Salah sendiri
kenapa masuk sekolah
umum.. kenapa tidak
masuk sekolah advent
jadi tiap hari sabtu
bisa beribadah.."
jadi bung ipul pikir
dulu sebelum
memberikan komentar
yah..
Untuk Budi..
permasalahan anda
bukan hanya sebatas
toleransi beragama,
tetapi ada juga
peraturan sekolah
yang harus dipatuhi.
mungkin hal inilah
yang harus Anda
kejar dan cari
mengapa kok anda
tidak bisa
mendapatkan
toleransi tersebut,
cari solusinya,
kalau anda minta
tambahan hari atau
hari penganti, belum
tentu gurunya
bersedia, jadi harus
ada win-win
solusion, anda harus
bertemu dengan pihak
yang terkait, kepala
sekolah dan guru dan
tentu saja harus
dengan orang tua
anda.
Anda tidak boleh
egois dengan
menyatakan pihak
sekolah tidak
memberikan
toleransi, bagaimana
dengan pihak sekolah
??, ada peraturan
disini yang
dilanggar yaitu
masalah kehadiran..
Karena masalah anda
bukan hanya
"Toleransi" tetapi
ada juga "Peraturan
Sekolah" 25-09-2007 Dari : Choel | choel@mallarangeng.com Mungkin saatnya
melakukan aksi nyata
dan pressure group
mengenai ini. Jangan
hanya sekedar jadi
wacana kita. Bisakah
ada yg tolong utk
dapatkan nomer
HP-nya pak Herman
Kepala Sekolah SMA 1
itu?
Data2 diatas sdh
cukup lengkap utk
membuat case ke
beliau. 25-09-2007 Dari : zainil bahri | besar_tinggi@yahoo.com tetap semangat
fren...kalo memang
itu kepercayaan
agama, loe mesti
yakinkan bahwa hak
beragama itu ada
dalam prinsip hidup
umat manusia dan
tentunya udah
diatur di dalam
perundang-undangan
negara kesatuan
republik indonesia.
tetap semangat !!! 24-09-2007 Dari : halim hd. | halimhade@yahoo.com hei, budi, fenny,
ince, fikri, en bbrp
orang lagi, oohh,
saya lupa nama-nama
mereka. oyaaa,
dimana itu si
'kutubuku' iqbal?
halo, hallooo, dian
ince dimana iqbal?
gimana iqbal dengan
ekonomi
internasional-nya?
ada buku lain yang
bisa diceritakan?
dear budi, tulisanmu
bagus. walaupun ada
masalah. dan
sekarang kamu
saksikan
'pro-kontra' yang
nanti bisa
memperkaya
pengalamanmu. dan
soal itu bukan hanya
masalah dirimu saja.
tapi juga masalah
semua orang. saya
katakan semua orang,
artinya yang menjadi
'korban' bukan hanya
kamu yang disebut
beragama advent,
juga mereka yang
berada disekitarmu,
apapun agamanya. 24-09-2007 Dari : i Noentoeng | Prihatin dan bisa
menjadi sebuah
pembelajaran yang
baik.
Setahuku, terkait
issu ini, dulu juga
ada kawan kelas II
A2-2 namanya
Henry(?)(biasa
dipanggil Angko...)
Saya kelas 1-11
(86), II A2-2
(kebanyakan kawan
non muslim). katanya
penganut Advent
juga, dan memang
jarang masuk kalo
sabtu namun tetapji
naik kelas dan
menurutku dia bisa
beradaptasi....
waktu itu pak Herman
H masih guru
olahraga.
Terlepas dari apakah
ini terkait dengan
kebebasan beragama
atau tidak, toh di
Indonesia telah ada
satu aturan
nasional, misalnya
kalau hari Jumat,
sekolah NEGERI hanya
sampai jam 11. dan
Ahad LIBUR; Bukankah
ini sudah,
menunjukkan bahwa
Aturan lebih prefer
ke MUSLIM dan
NASRANI secara umum?
Masa saya di Smansa,
menurutku secara
umum sekolah ini
sangat menghargai
perbedaan, Persoalan
mau libur istimewa
utk BUDI P, pada
SETIAP hari SABTU,
memang sangat
terkait dengan
aturan KHUSUS yang
diterapkan oleh guru
yang bersangkutan
dan tentu saja SANG
KEPSEK Herman
Hading. Karena Tidak
mungkin sekolah
libur pada hari
Sabtu, nanti dikira
melanggar
kesepakatan
nasional.
Hehehe.....
Kurang tepat juga
utk memberi garis
merah ke Smansa
hanya karena "oknum
guru" karena ini
terkait dengan
sistem pendidkan
nasional. Menurut
pikiran saya,
sebaiknya memang
sebelum masuk ke
sekolah2 umum, mesti
dipahami prosedur,
ketentuan-ketentuan,
dan hari-hari
sekolah.. termasuk
hal-hal yang
membatasi ritual
atau praktek-praktek
ibadah karena sangat
prinsip.
Jangan lupa juga
bahwa sistem
pendidikan nasional
mengakui SEKOLAH
UMUM NEGERI dan
sekolah
"BERBANDEROL"
AGAMA.....Coba
tengok.....
Mohon maaf kalau
kurang berkenan.
Kamaruddin
Azis/Banda Aceh 24-09-2007 Dari : hatta | hattaboer@yahoo.com Turut simpati dengan
diskriminasi yang
kau hadapi nah
Budi.. (mudah2an
diskriminasi seperti
ini bukan kasus
gunung es)
Gimana kalo kita
rame2 kirim surat
dukungan buat Budi
ke Kepala Sekolah &
guru2 di SMANSA..
Mungkin aja mereka
bisa melunak.
Sabar dan tabah ya
Budi.
Dan juga tetap
menulis..
^_^ 24-09-2007 Dari : fenny | fenny_git2ndgig@yahoo.co.id yo, bucchan!
akhirnya impianmu
terkabul! jadi ndak
nangis2 mi ko lagi
di midori, "iii,
blum di publish
tulisanku! jelek ki
belah!"
hehehe... bucchan,
sedihnya kisah
hidupmu yg sbenarx
di skul di'! fikri
bilang, "so sad!"
smoga harapanmu agar
pihak skul n guru2
mengerti terkabul.
amiiin...
tapi kan ada ji
anak2 x-7 yg slalu
ada u/ "gendu'"!
trutama i2
kakakmu...rina!
tenang mi ko hari
trakhir skul kita
pergi ca***!
ganbatte ne,
bucchan! be patient
n keep smiling! 24-09-2007 Dari : Dey Agusta | deyagusta@yahoo.com Bahan masukan untuk
Diknas saya kira.
Tapi kalau memang
sikap Herman Hading
yang bekas guru OR
dan kebetulan jadi
Kepsek seperti yang
diceritakan, saya
juga menyesalinya.
Seharusnya seorang
Kepsek bisa
memberikan solusi
yang riel untuk anak
didiknya, bukan
hanya menghitung
berapa uang yang
masuk setiap tahun
ajaran baru. Saya
juga menanyakan
bagaimana fungsi
guru BP di SMANSA
yang waktu saya
sekolah di sana bisa
jadi tempat curhat
apa saja. Kalau
memang sekolah tidak
bisa membantu, saya
kira IKA SMANSA
perlu bergerak...
Bagaimana Agus
(Arifin Nu'mang)? 24-09-2007 Dari : Luna Vidia Matulessy | lunavidya@gmail.com Tulisan ini membuat
saya terharu:
pertama, karena saya
kembali menemukan
semangat seseorang
untuk terus belajar,
dengan
mempertaruhkan
keyakinan imannya,
yang ke dua karena
dalam semangat untuk
terus mendapatkan
pendidikan, gendu'
dan orang tuanya
tidak punya cuup
keberanian untuk
menempuh langkah
'radikal' : sekolah
rumah!
24-09-2007 Dari : bombong | pettapuangimbang@yahoo.com terlalu dramatiski
bahasamu de, itumi
konsekwensi yang
sudah kmu pilih
sendiri, dgn
diterimanya kmu di
sekolahmu itu salah
satu bentuk
toleransi, dan sa
pikir suatu agama
harusnya
mentoleransi umatnya
untuk urusan ibadah.
dalam islam ada
namanya rukhsah atau
keringanan. masa
dalam agamamu tidak
ada rukhsah.
mintalah
kebijaksanaan kepada
yang terhormat
pendeta. insya allah
pasti di kasi
deeee.. 24-09-2007 Dari : Ipul | ipulji@yahoo.com bung Agus, menurut
saya..salah sendiri,
sudah tau dirinya
Muslim koq mau masuk
sekolah Advent...kan
sekolah umum ato
sekolah khusus
muslim juga banyak,
yang berkualitas
juga ndak kalah
banyak...jadi kalo
menurut saya,
masalah Budi ini
harus dilihat dari
kacamata yang
proporsional.
sekolah umum,
artinya sekolah yang
memang untuk semua
golongan, tanpa ada
diskriminasi ato
semacamnya..bukan
cuma buat kaum yg
beragama Advent,
juga buat kaum
muslim yg kebetulan
jadi
minoritas..namanya
sekolah umum ya
untuk umum....Budi,
kalo sampe besok
Budi dapat perlakuan
kurang menyenangkan
dari sekolah karena
tuilsan ini, lapor
sama k'Ruslee
ya..pokoknya lapor
saja, soal
tindakannya apa, ya
nggak tau...hehehe,
salam Budi..tetap
semangat yak..jangan
pernah patah
semangat... 24-09-2007 Dari : Agus Mardhika | mardhika_mu@yahoo.com Cukup menyentuh
juga, tapi sewaktu
anda sekolah di
SD,SMP Advent
bagaimana perlakukan
sekolah anda
terhadap orang
muslim, setahu saya
dan perngalaman
beberapa teman saya
yang muslim dan
bersekolah di
sekolah kristen,
mereka DIWAJIBKAN
untuk masuk kekelas
pada waktu pelajaran
agama kristen, dan
juga harus mengikuti
ulangan dan bahkan
ada ujian
prakteknya, apakah
ini yang namanya
toleransi..????
kalau disekolah
umum, jelas itu
oknum, tapi klo
disekolah kristen..
memang itu yang
diwajibkan oleh
sekolah,
betuuuull...??? 24-09-2007 Dari : daeng ammang | daeng.ammang@gmail.com jangan peduli dengan
komentar-komentar
yang bisa bikin kamu
tersinggung,... saya
pikir kamu harus
protes kalau
guru-guru di hari
sabtu tidak mau
kompromi,... bikin
deal: ada tugas
pengganti atau sesi
belajar-mengajar di
luar hari sabtu
itu,... cobalah
mengakrabkan diri
dengan guru,...
kalau misalnya masih
belum berubah,...
saya sependapat
dengan Pak
Herman,... kebetulan
Om-kuji juga,...
tetap semangat!
saranku juga: jangan
terlalu peduli
dengan angka-angka
di raport-mu, itu
hanya angka! 24-09-2007 Dari : herlina | hsuciati@yahoo.com hi Ardi..kapan balik
ke Mks, smoga kalo'
sdh aktif di kampus
kejadian kayak teman
kita itu ndak
kejadian lagi ya..sy
yakin kamu,suhe',
ibe'dll bisa buat
perubahan itu.
Soal kasus teman kt
dulu pihak jurusan
meminta surat
keterangan
kebakaran/kerusakan
rumahnya dr pihak
kepolisian nah pas
ngurus surat2 itu
dia kesulitan, dan
parahnya masalah dia
pendam sendiri &
memutuskan untuk
Drop Out,waktu
teman2 dr himpunan
tau masalahnya ,
seingatku dulu
beberapa kawan
sempat mendatangi
lagi & menawarkan
bantuan u/ngurus2 ke
kantor polisi & jg
kawan yang lain
menawarkan bantuan
u/buat ulang
beberapa tugas2 itu,
tapi dia menolak &
sepertinya dia sdh
patah arang.
Ini jg yang kayaknya
dialami Budi,
masalah dipendam
sendiri, kalo' dia
share sm temen2
sekolahnya yang lain
tidak tertutup
kemungkinan banyak
yang akan bantu
meski beda agama. So
meski tetap berat
tapi khan ndak
sendiri lagi...
24-09-2007 Dari : herlina | hsuciati@yahoo.com hi, sy alumni smansa
'94, dulu waktu
kelas 1-6 ada teman
sekelas yang jg
Advent cm waktu itu
kayaknya ndak
dipersulit seperti
ini, kalo' ada tugas
or ulangan pas hr
sabtu dia ikut
susulan di hari lain
ketika jam istirahat
or stlh jam sekolah
di ruang guru.
Coba cr referensi
lain dr Debdikbud or
Depag soal diakuinya
Advent di Indonesia
& jadikan tambahan
referensi
u/menguatkan ijin dr
Gereja. btw itu jg
yang kami lakukan dl
waktu beredar
larangan berjilbab
disekolah,meskipun
akhirnya diijinkan
tetap sj tiap pagi
dirazia oleh guru BP
(lambang osis hrs
keliatan, baju harus
dimasukkan,rok hrs
model span,dll).
Setuju dgn Rusle',
kalo tulisan Budi
ini resikonya besar
sekali, mengingat
Kepala Sekolahnya
sekarang (dulu
wakasek kami) pernah
ngeluarin siswi
kelas 3Fis3, 2 bulan
sebelum UAN hanya
karena "joke"nya di
Mading yang
"menyinggung"
beberapa guru
Smansa.Smoga ndak
kejadian lg ya...
Keep fighting de'... 24-09-2007 Dari : arif | aco_bugis@yahoo.com/aco_paotere@plasa.co wah keren tulisanta
budi, sisi lain dari
realitas sosial
perkotaan, ironis
krn dunia pendidikan
masih ada yg seperti
itu, tapi kenyataan
ini tidak terjadi di
mksr ato indo saja
cessss, pernah
dengar kasus
pelajar muslimah di
london? anak ini
memenangkan kasus di
pengadilan negeri
london atas
sekolahnya sendiri
krn dilarang pake
jilbab disekolahnya.
so teorinya,
dimanapun anda
berada dan siapapun
suku, ras maupun
agama anda selama
anda minoritas maka
perlakuan yg tidak
enak pasti anda akan
temui, tapi ini bkn
justifikasi, sy juga
tdk setuju dgn
diskrimansi, say no
to racism just good
and fun football,
loh kok lari kesana.
hehehehhehe. 24-09-2007 Dari : Amril TG | amriltg@gmail.com Budi, salut atas
tulisanmu yang
menggugah dan
menyentak kesadaran
kita semua terutama
dalam hal toleransi
beragama di dunia
pendidikan. Sungguh,
tulisan ini telah
membuka mata kita
bahwa dunia
pendidikan kita
masih ada praktek
diskriminasi bagi
peserta didik dalam
menjalankan ibadah
keagamaannya.
Terimakasih atas
sharingnya yang
mencerahkan ini.
Maju terus, Budi
(kamu mengingatkan
saya pada nama adik
kandung saya)!. 24-09-2007 Dari : fikri lagi cika' | we,....keep writing
nawh, yakinka bagus
lagi tulisanmu
selanjutnya,
SMANGA"!!!!! 24-09-2007 Dari : fikri | budiiiiii.....bagusn
ya tulisanmu!!!!!
salutka!!!!!btw,se-T
RAGIS itukah hidupmu
slama
ini????SedihQ,hicks.
..hicks..hicks....t'
nyata kw pandai
menyimpan masalahmu
di GENDU"??? yg jlas
skali lagi,bagus
skali
tulisanmu,nyesalka
slama ini suruhko
pindah agama,biar
pun itu just
kiddingji,hwahahahaa
aa..... 24-09-2007 Dari : Idha | Dear Budi,
Saya ikut sedih atas
apa yang menimpa
dirimu namun lebih
sedih lagi terhadap
kepicikan guru-guru
di sekolahmu yang
menjadikan
'kehadiran' siswa di
sekolah sebagai
salah satu syarat
utama untuk
mendapatkan nilai
yang baik agar dapat
naik kelas.
Sangat disayangkan
karena beliau-beliau
sebagai pendidik
merupakan salah satu
garda depan untuk
membentuk pola pikir
anak bangsa untuk
menjadi lebih
toleran dan
egaliter.
Sayang sekali di
jaman tehnologi ini,
masih banyak yang
tidak
memanfaatkannya
secara maksimum.
Misalnya untuk
memberikan catatan
pada Budi atau
tugas-tugas yang
dapat dia kerjakan
pada hari Minggu
atau hari lainnya.
Terlalu terpaku pada
kuota 'kehadiran'
atau tidak mau
memanfaatkan
tehnologi ...
terserah mi deh
...
24-09-2007 Dari : Kapitipiti | kapitipitie@yahoo.co.jp Masalah ini juga
mungkin dihadapi
mahasiswa Muslim di
negara dgn minoritas
Islam pada saat akan
menuaikan shalat
Jum'ah yg kebetulan
bentrokan dgn jadwal
kuliah. Identik juga
dengan masalah tdk
boleh mengenakan
jilbab di sejumlah
sekolah-sekolah.
Jadi masalah
toleransi ini bukan
cuma terjadi di
Indonesia tapi
hampir terjadi di
seluruh dunia.
Mungkinkah perlu
suatu badan dunia yg
mengatur adanya
peraturan khusus yg
menjamin kebebasan
beribadah tanpa
perlu mengorbankan
pendidikan penganut
agama tersebut...? 24-09-2007 Dari : Mustamin Al-Mandary | Saya turut merasakan
sedihta' De' Budi,
tapi begitulah wajah
bangsa kita. Hak-hak
minoritas masih
sering diabaikan.
Pendidikan, sering
juga tidak toleran,
seperti kasusta'
ini. Tapi kita harus
tetapi berusaha
untuk membukakan
mata orang lain.
Agama memang urusan
personal, tetapi
semestinya setiap
orang harus mengerti
kebutuhan personal
orang lain, dan
penghormatan harus
ditegakkan dalam
konteks itu. Mungkin
alumni SMA-1 Mks
bisa membantu Ade'
Budi ini? Salam, Mus 24-09-2007 Dari : Aco Bollo | aco@yahoo.com satu lagi, ketika
diakan pra-jabatan
untuk CPNS di
Makassar sekitar
bulan juli-Agsutus
tahun 2005, seorang
CPNS yang juga
beragama Advent,
dinyatakan tidak
lulus hanya karena
izin meninggalkan
lokasi prajabatan
setiap sabtu pagi.
Alasannya
kehadirannya tidak
mencukupi standar.
Ini juga sangat
disayangkan mengapa
ada pejabat diklat
yang berpikiran
sangat tidak
manusiawi dan tidak
toleran. 24-09-2007 Dari : rusle' (ex SMANSA) | muhruslee@gmail.com Ketika saya kuliah
di ITB, ada teman
saya yang juga
beragama advent.
Setiap sabtu, saat
ada kuliah, bisa
dipastikan dia tidak
hadir karena alasan
yang sama dgn yg
dipaparkan adik Budi
diatas. Tapi di ITB,
dia bisa tetap
mengikuti kuliah yg
tertinggal dgn
meminjam catatan dan
ketidakhadirannya
dimaklumi oleh dosen
ybs. Di level itu,
kami merasa kampus
memberikan kemudahan
dan toleransi yg
sangat wajar.
Membaca penuturan
Budi di sini,
sebagai alumni
Smansa, saya sedikit
gelisah dan khawatir
sebenarnya. Tempo
hari saya sudah
ingatkan kak Ly ttg
bahaya yang akan
dihadapi Budi
jikalau tulisan ini
dianggap guru2 di
Smansa sebagai
pembocoran yg tidak
menyenangkan. Tapi
saya yakin,
sebagaimana teman2
lain, insya Allah
tulisan ini mudah2an
akan dan dpt dibaca
dan diperlakukan
sebagai sebuah
renungan yang
mendalam akan arti
sebuah pendidikan.
Pendidikan bukanlah
hanya untuk melumuri
otak dengan isi
buku, tapi juga
tentang bagaimana
mengaplikasikan ilmu
dengan cerdas,
termasuk mensiasati
perbedaan. Salama'ki
Budi, semoga sukses
belajarnya. Mudah2an
para guru bisa
memberi kan hak yang
semestinya tidak
perlu diminta-minta,
apalagi mengemis.
Thanks for share. 24-09-2007 Dari : ardy | ardyarsyad@yahoo.com Sebagai muslim, saya
merasa malu dengan
kelakuan gurunya
Budi yang tidak
menghormati
keyakinan seseorang.
Apalagi disertai
pemerasan dan
penipuan pula. Saya
teringat dengan
seorang kawan yang
dia seorang Cina dan
mengalami musibah
berupa kebakaran
rumah semasa
kerusuhan rasial
Makassar 1997.
Alhasil, seluruh
catatan tugas, dan
kartu2 tugas besar
sebagai mahasiswa
teknik sipil Unhas
habis terbakar.
Sewaktu teman ini
mengurus agar diberi
kelonggaran untuk
mendapatkan
penggatian kartu
tugas dari Jurusan
di kampus, dari
pihak jurusan waktu
itu tidak
akomodatif, dan
malah memberikan
banyak kesulitan.
Hasilnya, teman saya
ini memilih drop out
padahal udah di
semester 6. Ini
bukti, bahwa agama
dan ras masih belum
dihormati oleh kita
yang mengaku muslim. |
|
|
|
|
| ::
CITIZEN REPORTER |
 | (Kamis, 12-07-2007) |  | (Minggu, 29-04-2007) |  | (Selasa, 31-10-2006) |  | (Rabu, 11-10-2006) |  | (Rabu, 16-08-2006) | |
|
Untitled Document
| ::
DUNIA SEGIEMPAT KAREBOSI |
|
Untitled Document
| ::
KONTAK TIM PANYINGKUL! |
Email Redaksi :
redaksi@panyingkul.com
Tim:
yus@panyingkul.com
+62 813 226 80844
Moch. Hasymi
+62 811 955 954
|
|
|