|
|
| . |
| ::
|
| Jumat, 28-09-2007 | Berapa Ongkos ke M`Tos? :: Syaifullah ::
| M`tos, magnet baru di Tamalanrea Foto: Syaifullah.
Sudahkah Anda ke M`Tos? Barangkali ini salah satu pertanyaan yang kerap dilontarkan warga Makassar sejak tiga hari lalu. Ya, sebuah mal baru, di tepi sungai Tello, yang jaraknya hanya sepelemparan batu dari sejumlah kampus perguruan tinggi di Tamalanrea. Mal terbaru, mal terbesar, bernama Makassar Town Square disingkat M`Tos, yang menjadi pembicaraan. Citizen reporter Syaifullah menyajikan laporan hari pertama soft-opening mal ini dilengkapi dengan uraian mengenai sejumlah aspek lingkungan dan tata kota terkait kehadiran tempat belanja baru ini. (p!) | Matahari bersinar dengan garangnya di atas kota Makassar siang itu. Jam menunjukkan pukul 1.15 siang. Biasanya di siang hari yang panas terik seperti ini, apalagi di bulan Ramadan, orang-orang lebih memilih berdiam diri di dalam ruangan. Tapi siang itu ratusan orang nampak penuh semangat meluangkan waktu untuk berdesak-desakan mengunjungi sebuah mal yang baru buka untuk pertama kalinya di hari Rabu tanggal 26 september.
Makassar Town Square (M`Tos) yang berlokasi di daerah Tamalanrea, tidak jauh dari jembatan sungai Tello seketika menjadi magnet yang sangat kuat, yang mampu menarik minat ratusan warga Makassar dan sekitarnya. Suasana keramaian mulai tampak beberapa meter setelah melewati jembatan Tello.
Kendaraan tertahan di depan M’Tos sehingga membentuk barisan yang panjang, baik yang ke arah pusat kota maupun ke arah Tamalanrea. Dalam situasi yang semrawut itu, hanya ada seorang polisi yang tampak sibuk mengatur lalu lintas. Sang polisi tampak kepayahan, mengingat para pengguna jalan yang sebagian besar tampak tidak sabar menunggu giliran antri untuk masuk ataupun keluar dari M’Tos.
Memicu kontroversi
Pembangunan M’Tos ini sempat mengundang perbedaan pendapat dari berbagai pihak. Beberapa pihak mengkritik kebijakan pemerintah kota Makassar yang memberi izin pembangunan mal skala besar di kawasan Tamalanrea yang dalam tata kota Makassar sebenarnya dijadikan sebagai kawasan pendidikan. Apalagi kawasan tempat berdirinya M’Tos ini berada cukup dekat dengan daerah aliran sungai Tello serta otomatis jadi kawasan hijau dan daerah resapan air. Warga sekitar utamanya yang berada di BTN Antara, BTN Asal Mula dan pondokan mahasiswa nampaknya harus jauh lebih waspada pada ancaman banjir di musim hujan mendatang.
Selain itu timbul juga kekhawatiran akan bertambahnya titik kemacetan di kawasan Tamalanrea. Pihak DPRD Makassar jauh-jauh hari sudah mengungkapkan kekhawatiran ini. Sementara itu dari pihak Dinas Perhubungan Kota Makassar, terdengar kabar kalau pihak M’Tos belum pernah mengajukan permohonan untuk dibuatkan rekayasa lalu lintas dalam upaya mencegah kemacetan (Harian Fajar 24/9). Kendati demikian, Kadishub Kota Makassar mengaku, kemungkinan besar di depan M`tos akan dibuat median jalan, sebagai salah satu upaya mengantisipasi macet. Hanya saja, lanjut dia, median jalan itu baru dibangun setelah pelebaran jalan rampung dilakukan Dinas Pekerjaan Umum dan Prasarana Wilayah.
Macet parah. Foto: Syaifullah.
Konsep baru
Sebenarnya apa yang dimaksud Town Square?Apa bedanya dengan mal lainnya?. Konsep Town Square sendiri pertama kali digunakan dalam studi perkotaan. Town Square (atau bisa juga disebut town center) merupakan lokasi (a place), bagian dari kota (wilayah urban) tempat berkumpulnya berbagai aktivitas masyarakat mulai dari bersosialisasi, bisnis, perdagangan hingga hiburan, sampai skala tertentu. Konsep town square ini kemudian diadopsi menjadi pusat-pusat perbelanjaan yang berfungsi ganda sebagai tempat pertemuan (meeting point) yang mengakomodasi berbagai kebutuhan para pengunjungnya. Menurut para ahli, perbedaan secara fisik antara Mall, Trade Center dan Town Square adalah bahwa Mall dan Trade Centre lebih merupakan bangunan tertutup (enclosed) sedangkan Town Square memiliki ruang-ruang publik yang terbuka atau semi open space. Pada kasus M’Tos, ruang publiknya yang terbuka dapat dilihat di lantai 2 yang menghadap ke depan.
Makassar Town Square yang dibangun oleh PT.Jakarta Intiland ini menempati lahan seluas 2,4 hektar dengan luas bangunan mencapai 30 ribu meter persegi yang terdiri atas tiga lantai dengan total investasi sekitar Rp. 300 miliar. Penyewa terbesar (anchor tenant) di M’Tos ini adalah Ramayana, perusahaan ritel yang terkenal sebagai salah satu penyedia produk fashion terbesar di Indonesia dengan sasaran utama masyarakat kelas menengah. Ramayana menyewa 2 lantai dengan total luas sekitar 8,6 meter persegi. Di lantai satu Ramayana menghadirkan konsep hipermarket yang menyediakan berbagai kebutuhan pokok rumah tangga, sedangkan di lantai dua Grand Ramayana menghadirkan produk-produk fashion.
Selain Ramayana berbagai tenant lain juga ikut ambil bagian meramaikan M’Tos, termasuk beberapa cafe dan penyedia produk kuliner yang meramaikan food court di lantai 2.
Pembangunan M’Tos memang agak dikebut menjelang bulan Ramadan tahun ini. Alasannya mudah ditebak, tentu saja untuk menangkap momentum Ramadhan dan Idul Fitri yang bagi sebagian besar warga dijadikan ajang belanja besar-besaran. Siasat seperti ini bukan hal baru lagi, tahun 1999 Mall Ratu Indah juga melakukan hal yang sama, memaksakan diri membuka mal di bulan Ramadan walaupun belum selesai 100%. Gowa Trading Center (GTC) di kawasan Tanjung Bunga, Mal Panakkukang dan Panakkukang Square juga sama saja, mereka tidak mau menyia-nyiakan sedikitpun momentum Ramadan.
Sebagai mana umumnya mal yang baru buka, M’Tos dalam hal ini Ramayana tentu saja memberikan berbagai promosi besar-besaran untuk menarik minat pengunjung, salah satunya adalah program diskon 50%+20% untuk beberapa produk fashion. Entah karena promosi itu atau bukan, ratusan warga memadati M’Tos sejak pagi hari. Matahari siang yang panas pun tampaknya tak menyurutkan niat warga, malah sepertinya jumlah yang datang makin banyak karena sebagian besar pegawai negeri maupun karyawan swasta sudah pulang kantor.
Pengunjung berkerumun di meja kasir Ramayana Foto: Syaifullah.
Dari pengamatan sekilas, saya mendapati bahwa sebagian besar warga yang datang adalah warga yang bermukim di sekitar Tamalanrea, Daya,Sudiang, Tello, Panaikang, dan Antang, bahkan beberapa ada yang sengaja datang jauh-jauh dari Maros. Seorang warga yang tinggal di daerah Daya mengungkapkan kegembiraannya dengan kehadiran M’Tos di Tamalanrea. Hal itu berarti apabila ingin berbelanja ke mal, dia dan keluarga tidak perlu susah payah jauh-jauh ke daerah Panakkukang apalagi ke Jl. Ratulangi. Si bapak yang kebetulan datang sendirian karena langsung mampir sepulang dari kantor, tampak antusias meneliti harga-harga berbagai produk fashion dan kemudian sampai pada kesimpulan kalau harganya memang agak murah dibanding harga di mal yang lain.
Tampaknya banyak orang yang sependapat dengan bapak ini. Buktinya sebagian besar pengunjung dengan penuh semangat rela berdesak-desakan memilih-milih produk busana yang ditempatkan di wadah khusus dan diberi label diskon hingga 70 persen tersebut. Para pelayan toko dan satpam tampak sangat kerepotan mengantisipasi keramaian yang timbul, khususnya di depan kasir saat sebagian besar pembeli berebut untuk dilayani. Selain pengunjung yang datang dengan maksud berbelanja itu, banyak juga pengunjung yang tampaknya hanya ingin cuci mata, sebagian besar adalah remaja. Mereka lebih banyak berdiri bergerombol di railing tangga sambil bercengkerama.
Suasana ramai ini bukan hanya terlihat di area perbelanjaan. Di area food court pun terlihat banyak pengunjung yang duduk menikmati makanan dan minuman secara terbuka, tak peduli ini bulan Ramadan.
Karakteristik pengunjung yang sebagian besar golongan menengah memberikan pemandangan yang cukup unik. Di beberapa sudut tampak beberapa ibu dan bapak yang dengan cueknya duduk selonjoran sambil bersandar di tembok setelah lelah berbelanja, ada juga yang tampak menyusui anaknya yang masih kecil. Sebagian malah tidur-tiduran di lantai seakan-akan di rumah sendiri. Pemandangan seperti ini mungkin tidak akan kita temukan di Mal Panakkukang atau Panakkukang Square.
Istirahat dan tiduran di emperan mal setelah lelah berbelanja. Foto: Syaifullah.
Sementara itu suasana yang sangat berbeda di Toko Harapan Baru yang terletak tidak jauh dari M’Tos. Menurut informasi seorang teman, hari-hari sebelumnya Harapan Baru cukup ramai dipadati pengunjung, maklum toko tersebut masih tergolong baru juga. Siang itu, nampak suasana sepi terlihat dari pelataran Harapan Baru yang biasanya juga dipadati kendaraan yang parkir. Ini satu bukti bahwa magnet M’Tos ternyata memang sangat kuat menyedot pengunjung.
Semakin tinggi matahari, semakin M’Tos terlihat makin ramai. Jalan di depan M’Tos pun terlihat makin semrawut. Kendaraan merayap sangat pelan untuk bisa keluar dari perangkap kemacetan. Dalam perjalanan pulang ke daerah Antang saya bisa melihat kemacetan panjang hingga ke Jalan Dr. Leimena di dekat pertigaan ke arah Jalan Abdullah Dg. Sirua. Bila tidak ada antisipasi segera, kemacetan ini akan makin parah di kemudian hari.
Dalam perjalan pulang, teringat celutukan seorang teman yang setiap hari melewati Jalan Perintis Kemerdekaan, saat melihat kemacetan di depan M’Tos, “ Aiihhh..tambah siksama’ ini pulang nanti...”. Dan memang kenyataannya, hingga pukul 10 malam hari itu, kawasan sekitar jembatan Tello, pertigaan jalan menuju Antang dan akses ke pusat kota melalui Jalan Urip Sumihardjo, macet parah.
Nah pembaca, kalau ada yang bertanya berapa ongkos ke M`tos? Ongkos sosial akibat macet dan kesemrawutan tata kota, serta ancaman banjir di sekitar sungai Tello, jelas tak sebanding dengan ongkos nominal membayar transportasi dan memborong barang dagangan yang diskon besar-besaran di mal paling baru di kota Makassar! (p!)
*Citizen reporter Syaifullah dapat dihubungi melalui email ipulji@yahoo.com
Baca juga: M`Tos, Si Centil di Kawasan Pendidikan
|
| | Jumlah
Komentar (17) |
|
| Komentar :
19-09-2009 Dari : bong | bong@yahoo.co.id ihhh orang makassar
kulitnya hitam jelek
kampungan lagi 17-10-2008 Dari : Accul | zzzttt_03@yahoo.com kehadiran Makassar
Town Square atau
lebiH d knl oleh
warga makasar dgn
sebutan (M`Tos),akan
memberi dampak yg
positif bagi warga
makasar,terlebih
lagi bagi warga
makasar yg bermukim
di wilayah
tamalanrea,sudiang
dan sekitaX,karna
warga tdk repot2 lg
untuk menempuh
perjalanan yg jauh
untuk berbelanja
segala keperluan yg
dibutuhkan,karna
(M'Tos)telah
menyediakan berbagai
macam keparluan2
kita.....,
hmmmm.....saran buat
pengelolah M'tos
agar lebih lagi
meningkatkan
pelayanannya bagi
pegunjung,agar
pengunjung merasa
nyaman berbelanjah d
sana....,tak lupa
juga buat karyawan n
SPGnya
wwtttzzzzzz......MAn
is-manis
bo........,,
He...he...hee...
Sukses Terus BuAt
'Makassar Town
Square
(M'Tos)...........
"Makassar bisa
Tonji"
"M'Tos bisa
Tonji" 07-11-2007 Dari : cakepalam | cakepalam@gmail.com macet memang, tp
khan bagus tonji
tawwa apalagi adami
juga counter Hpnya d
Lt. 3 jadi tidak
cape'2meki lagi ke
kota kl mo beli Hp
...... 19-10-2007 Dari : aidhia | sama, matos hanya
merupakan satu
masalah yang membuat
makassar menjadi
satu kota yang
semakin penuh
polemik trauble
masalah
03-10-2007 Dari : Labora | boraq_cambuq@yahoo.com Hebatnyami Makassar.
adami juga
TOS-TOS-nya. kalo di
Jakarta yang
terkenal: CITOS
(cilandak town
square), tahun depan
adami juga mungkin
GOTOS (goa town
Square) atau JOTOS
(jenneponto town
square) hehehe.
Ewako! 02-10-2007 Dari : hendra anak Daya choy | saran saya,
mahasiswa/lembaga
pendidikan/masyaraka
t yang merasa
terganggu disekitar
MTos bisa
berkoordinasi dgn
YLBH untuk
mengajukan Class
Action kepada pemda
dan pengelola
mall.... 02-10-2007 Dari : sugi' | Saya akan semakin
rindu bisa
bertandang ke
Inninawa neh.. sudah
ngeri ama lalu
lintasnya, sekarang
harus berjuang
melewati kemacetan
pula.. copetttt
deh!
01-10-2007 Dari : halfian | dulu waktu kecil,
bangga sekalika
kalau di kotata
banyak mall-mall.
Dari sudut mata
kanak-kanakku,
kehadiran mall-mall
adalah simbol
kemajuan kotata.
Tapi,ternyata ..
hanya simbol semu. 01-10-2007 Dari : Firman | Saya sepakat kalau
M'Tos disebut mal
terbaru, tapi kalau
mal terbesar,
kayaknya perlu
dibandingkan dengan
Mall Panakkukang
atau GTC... Perasaan
M'Tos tidak
luas-luas amat. 30-09-2007 Dari : cang | accang89@yahoo.com Maupi diapa. Pak
wali mungkin
meyakini budaya
permissif, bahwa
masyarakat akan
maklum dan terbiasa
dengan kemacetan.
Toh, ini atas nama
Makassar
Megapolitan. Jadi
pengen merasakan
keringat, sumpek dan
sumpah serapah
sesama pengguna
jalan. 29-09-2007 Dari : asri | azsri@yahoo.co.id Belum pernahpa ke
situ,tapi seharusnya
pemkot bisa berpikir
berapa ongkos yang
dikeluarkan warga
ta'karna ada
M'Tos.Jangki karena
yang dipikir
berapami na dapat
pemkot kalo ada
M'tos.padahal kan
Tamalanrea sudah
dikenal dengan
kawasan pendidikan
dan perumahan,kenapa
sedeng ditambah jadi
pusat hiburan
belanja,nassami
tambah macet!Balle
ballemi itu M'tos
kalo kehadirannya
tidak menambah
kemacetan Kota
Makassar
ta.Buktinya.....?! 28-09-2007 Dari : Anak Tamalanrea | Walikota memang
hebat. Beberapa wkt
lalu saat bicara
soal tata ruang,
panjang lebar dia
katakan bahwa
tamalanrea akan jadi
pusat pendidikan
(tapi ada m'tos yg
tak tentu masuk
bagian mana dari
pendidikan),
pettarani jadi pusat
perkantoran (tapi
ada satu hotel
berdiri tanpa jelas
maksdunya), sudirman
jadi pusat bisnis
sampe sekolah mau
digusur, dll. Semua
alasan kemacetan
dibantahnya dan
selalu punya kilah.
Soal Amdal, itu
bagian perguruan
tinggi yg biasa kasi
laporan independen.
Nah, soal M'tos ini,
kayaknya ada
perguruan tinggi yg
selau percaya mitos
dan akhirnya lebih
memilih menyetujui
pembangunan mall di
tamalanrea daripada
perbaikan saluran
air dan pelebaran
daerah resapan air.
Atau masyarakat kita
yang suka mitos jadi
sebab terbangunnya
m'tos? Pak walikota
seharusnya bisa
menjelaskan mitos
ini. 28-09-2007 Dari : amril | amriltg@gmail.com Ipul Daeng Gassing,
sebuah liputan yang
sangat memikat.
Komplit dengan ironi
yang menyertai
pembangunan Mall
Baru ini. Wah, jadi
penasaran nih pengen
kesana. 28-09-2007 Dari : Mus | Sedih dengan
pertanyaan di
paragraf terakhir.
Saya teringat dengan
teman2 saya di Bumi
Bung Permai. Dulu
disana ndak apa2ji.
Setelah dibangun
STMIK, pesantren PM,
ruko di Tello t4
empang dulu, dll,
pasti banjir kalo
musim hujan. Nah,
dengan M'Tos ini,
ndak adami harapanG
kasianG. 28-09-2007 Dari : syamsoe | Toyota_gue@yahoo.com hari pa besok yach
soft openingnya?
sepertinya daya beli
masyrkat makassar
terlihat bgus untuk
dijadikan lahan
bisnis oleh pihak
investor. smakin
banyak bangunan2
baru nantinya dikota
mks. graha pena,
trans dan kalla
tower, flyover,
bosowa tower, ka, de
ell ell. Konsentrasi
masyarakat kota pada
di libur tidak
mutlak di karebosi
atau pantai losari
saja, di tunggu
action pemerintah
untuk juga menambah
taman kota atau
public space yg
lebih "hijau"
sedikit 28-09-2007 Dari : rusle' | muhruslee@gmail.com Liputan bagus dg
Gassing. Saya heran
kenapa ndak pake
singkatan Maktoz
saja ya, yg bisa
berkonotasikan
'deadful' utk
kawasan pendidikan
ini. Untungnya
jauhji dari Panampu,
jadi ndak
termotivasi jeka
untuk pergi kesana
kalo mudik. He2.
Terus nanti abis itu
M'Toz apami lagi di
pikirannya Pejabat
Kota Makassar?
mungkin sekalian
biking Waterpark,
kawasan niaga,
kawasan etc.... 28-09-2007 Dari : I Noentoeng | daeng.nuntung@gmail.com Well done
Pul...Rencana besar
dan mulia Prof Ahmad
Amiruddin tentang
Tamalanrea telah
dibiaskan oleh
pemerintah kota
Makassar....Uang
punya mau? |
|
|
|
|
| ::
CITIZEN REPORTER |
 | (Kamis, 12-07-2007) |  | (Minggu, 29-04-2007) |  | (Selasa, 31-10-2006) |  | (Rabu, 11-10-2006) |  | (Rabu, 16-08-2006) | |
|
Untitled Document
| ::
DUNIA SEGIEMPAT KAREBOSI |
|
Untitled Document
| ::
KONTAK TIM PANYINGKUL! |
Email Redaksi :
redaksi@panyingkul.com
Tim:
yus@panyingkul.com
+62 813 226 80844
Moch. Hasymi
+62 811 955 954
|
|
|