|
|
| . |
| ::
|
| Senin, 01-10-2007 | Kisah Keluarga Millar yang Mondok di Rumah Orangtuaku :: A. Hafied A. Gany ::
| Susan Millar (berbaju batik) di rumah kediaman citizen reporter A. Hafied A. Gany memaparkan film hasil rekamannya kepada Radi A. Gany (berbaju kaos putih) Mei 1983. Foto: Dok. Pribadi.
Mengenang 32 tahun hubungan persaudaraan dengan keluarga Millar di Amerika, citizen reporter A. Hafied A. Gany membagi kisah tentang bagaimana kedua keluarga ini bisa saling berhubungan. Diawali dengan kedatangan keluarga muda asal Amerika itu ke Indonesia sejak Desember 1974, hingga masa penantian mereka di Makassar, dan selama setahun kehidupan dan penelitian yang dilakukan di Soppeng.(p!)
| Ungkapan "setiap tamu membawa hikmah", yang semula saya ragukan, ternyata benar belaka. Hingga kini, saya masih saja menuai hikmah tak terputus dari keikhlasan orangtua saya menerima tamu asing mondok di rumahnya, meskipun kejadian itu berlangsung lebih dari tiga puluh tahun silam.
Ini bermula di bulan Juni 1975 ketika orangtua saya yang saat itu menjalani pensiunnya di Watan Soppeng kedatangan tamu yang ingin mondok di rumahnya untuk jangka waktu satu tahun. Mereka adalah sepasang keluarga muda Amerika, Dr. Terry Millar (27), jebolan S3 Matematika Universitas Cornel, dan isterinya Susan Bolyard Millar (25) kandidat doktor antropologi dari universitas yang sama, serta seorang anak perempuan, Jessica Millar, yang baru berumur setahun lebih. Pak Millar, demikian orangtua saya menyapanya sehari-hari, sengaja secara khusus datang untuk mendampingi isteri dan menjaga anak tunggalnya selama sang isteri melakukan penelitiannya di Soppeng.
Meskipun tidak pernah ada komunikasi sebelumya, kedua orangtua saya dengan prinsip "setiap tamu membawa hikmah", tanpa pikir panjang langsung menerima keluarga muda tersebut tinggal bersama serumah, sesumur dan sedapur, tanpa harus membayar sewa secara khusus. "Pokoknya sepanjang Anda sanggup dan mau menerima kami apa adanya, kami sangat senang menerima kehadiran Anda di rumah kami selama anda mau", demikian jawaban ayah saya menegaskan komitmen tersebut.
Dr. Susan Bolyard Millar (menggendong Jessica) di tengah padi menguning diantar ibunda H. Adawiah (memegang tongkat) bersama kerabat dekatnya – sebagai bagian pengumpulan data lapangan untuk menysun desertasi tentang masyarakat Bugis, Agustus 1975. Foto Dok. Pribadi.
Keluarga Millar tiba di Jakarta bulan Desember 1974 setelah dengan penuh lika-liku memperoleh visa dan dengan kecewa mendapati bahwa persetujuan untuk proposal penelitiannya ternyata telah dicabut sebelum dia tiba di Indonesia dengan alasan politik pada saat itu.
Dalam kekecewaan, Bu Susi, demikian Susan dipanggil sehari-hari, diminta membuat proposal ulang. Ia harus menunggu persetujuan formal tersebut baru bisa memulai penelitian lapangannya. Lebih dari itu, selama menunggu tersebut mereka tidak diperbolehkan meninggalkan ibukota provinsi.
Kurang lebih sebulan mereka tinggal di Jakarta dirundung ketidakpastian, akhirnya diputuskan pindah ke Makassar - hanya mereka ketahui dari literatur - sambil menunggu kepastian. Sebagai mahasiswa, mereka merasakan biaya hidup di Makassar cukup tinggi, namun yang paling membuat mereka hampir-hampir putus harapan adalah bahwa izin ulang penelitiannya baru keluar setelah hampir enam bulan menunggu di Makassar.
Pada awalnya penantian tersebut dilihatnya sebagai malapetaka, tetapi mereka akhirnya memutuskan untuk menerima keadaan tersebut sebagai sesuatu anugerah yang tersembunyi, barulah rasa kecewa serta frustasi itu hilang dengan sendirinya.
Selama lima bulan penantian di kota Makassar, keluarga Pak Millar memanfaatkan waktu belajar Bahasa Bugis dari seorang pembimbing, dan selanjutnya mencoba mengembangkan relasi dengan orang-orang Bugis di Makassar yang potensial menjadi nara sumber penelitiannya lebih lanjut.
Bulan-bulan pertama di Makassar, sebagaimana diceriterakan kepada saya belasan tahun kemudian, dilaluinya dengan segala pengorbanan perasaan yang hampir-hampir membuatnya frustasi, khususnya dalam menyesuaikan diri dengan goncangan budaya.
Misalnya, setiap hari Bu Susi harus menggenjot “sepeda jengki” dari tempat mondoknya di Maccini ke rumah pembimbing bahasa Bugisnya di Mariso. Pulangnya pun melalui jalur yang sama. Ia bercerita, hal paling sulit dilaluinya adalah perlakuan kurang sopan dari anak-anak muda yang hampir tidak pernah absen bergerombol di pengkolan jalan yang dilewatinya pulang pergi. Setiap kali lewat, selalu ada sapaan nakal yang tidak dimengertinya. Malah sering anak-anak muda tersebut bergerombol mengikutinya sambil ribut bernyanyi-nyanyi. Beberapa sapaan masih diingatnya sampai sekarang, misalnya Erok lampa kemai cikali?; Kesoki sepedamu nak! Battumi seng Balandaiyya! Dengan perlakuan seperti itu, terkadang Bu Susi ingin melampiaskan rasa marah bahkan hampir patah semangat.
Dia tak habis pikir, “kok anak-anak muda sepertinya tidak ada pekerjaan lain kecuali mengganggu di setiap panyingkulu pagi, sore bahkan malam – menyapa dengan teriakan-teriakan iseng yang tidak sopan pula”. Tapi lama-lama Bu Susi bisa juga bertahan. Ia anggap hal itu adalah bagian dari kehidupannya sebagai orang asing yang sedang terkena goncangan kultural di tengah-tengah lingkungan Bugis - Makassar yang baru dikenalnya. Pokoknya dia analogikan situasinya ini sebagai ungkapan orang Jakarta: lu-lu, gue-gue.
Setelah usulan ulang penelitiannya diterima, pada bulan Juni 1975, berbekal penguasaan Bahasa Bugis, dibantu dengan banyaknya narasumber dan relasi orang Bugis yang dikenalnya selama masa penantian di Makassar, Bu Susi sekeluarga berangkat ke Watan Soppeng, yang akan menjadi medan kerjanya selama setahun berikutnya.
Dari rekomendasi beberapa orang yang dikenalnya di Makassar, keluarga Millar langsung meminta kesediaan kedua orangtua saya untuk menerima mereka tinggal bersama di rumahnya bila berkenan memperlakukannya sebagai anggota keluarga. Orangtua saya menyediakan kamar khusus untuk ditempati mereka sekeluarga. Sementara ibu saya dipercayakan untuk meramu makanan keluarga dan mengatur waktu bersantap sehari-hari sebagaimana layaknya keluarga Bugis di Soppeng. Keluarga Millar memesankan kepada orangtua saya bahwa mereka bertekad untuk melupakan kehidupan budaya rumah tangga Amerika-nya selama berada di Tanah Bugis.
Ketika Bu Susi melakukan penelitiannya sehari-hari, Pak Millar secara rutin pagi dan sore mengambil air keperluan rumah tangga, dengan memanggulnya di bahu (mallempa, Bugis) menggunakan dua kaleng minyak tanah masing-masing ukuran 20 liter, bolak-balik dari sumur Buccello yang berjarak 250 m dari rumah ayah saya. Setiap kali tidak berhenti sampai seluruh bak dan tempayan yang ada penuh dengan air.
Untuk menjaga staminanya, Pak Millar secara rutin melakukan jogging antara Buccello dan Desa Mattabulu di Carawali sejauh tujuh kilometer setiap subuh dan sore menjelang magrib. Pada saat tersebut, anaknya Jessica dijaga oleh pembantu (baby sitter) yang dibawa menyertainya dari Makassar.
Ayah saya sangat mengagumi Pak Millar sebagai manusia terkuat yang pernah dikenalnya. "Baru saja saya menghabiskan rokok yang ketiga, dia sudah kembali lagi berlari dari Carawali. Padahal dulu sewaktu saya masih seumur beliau, jarak itu saya tempuh setidaknya satu setengah jam dengan berkuda,” tutur ayah saya. "Saya tidak habis pikir bagaimana kuatnya memikul air sambil berlari sehingga beberapa saat saja dua bak air dan empat tempayan besar di rumah sudah penuh. Saya belum pernah melihat orang sekuat itu selama hidup saya, jangan-jangan kekuatan orang ini berkaliber dunia". Ketika ayah menceritakan hal ini, saya membatin, penilaian itu mungkin terdistorsi dengan kondisi rata-rata orang di Buccello.
Beberapa belas tahun kemudian di rumah keluarga Pak Millar di Madison, saya baru merasa bersalah telah meremehkan penilaiaan ayah tentang tenaga Pak Millar. Pasalnya, sewaktu kami duduk santai di ruang tamu sehabis bersantap malam, mata saya tertuju pada sebuah piala ukuran besar di atas rak buku. Saya tidak bisa menahan diri tanpa mendekat dan membaca plakat di piala tersebut.
Ternyata itu adalah piala yang diperoleh Pak Millar beberapa tahun sebelumya, sebagai Juara Dunia Water-Melon Seed Spit-Contest yang diselenggarakan di Amerika, diikuti juara-juara dari berbagai negara. Kendati itu hanyalah kontes meludahkan biji semangka (yang dinilai terhadap jaraknya yang terjauh) tapi piala tersebut setidaknya membenarkan observasi ayah bahwa tenaga Pak Millar memang berkaliber dunia.
***
Saya yang waktu itu berugas di Lampung, sejak pertama kali keluarga Pak Millar mondok di rumah orangtua saya sampai mereka kembali ke Amerika, tak pernah sempat mudik ke Soppeng. Padahal, sebelum dan sesudahnya, setiap tahun selalu pulang libur. Oleh sebab itu, saya hanya sempat mendengar cerita tidak putus-putusnya dari ayah dan ibu serta tetangga yang sempat mengenal keluarga Pak Millar. Setiap kali saya perhatikan seolah mereka berebutan menjawab tatkala saya menanyakan ikhwal keluarga Amerika ini.
Dari ibu, yang sudah dianggap oleh Bu Susi sebagai ibunya sendiri, saya banyak sekali mendengar tentang mereka. Serasa tidak habis-habisnya bahan cerita yang keluar dari mulut ibu bahkan ayah saya, dan orang lain di Soppeng kalau berbicara tentang keluarga Pak Millar.
Namun bagi saya, cerita yang sangat menyentuh sanubari, bahkan kemudian memotivasi saya untuk melakukan penelitian ilmiah, adalah semua kebiasaan Bu Susi menulis dan merekam pembicaraan dan segala kejadian sehari-hari di seputar kehidupan sehari-hari orangtua saya. Kalau boleh berkata jujur, di balik kenaifan saya, semua hal yang dilakukan Bu Susi tersebut semula saya anggap hal yang berlebihan dan tidak bermakna untuk dicatat dan diketahui, apa lagi untuk diangkat menjadi topik penelitian yang berkadar ilmiah.
Saya malah berpikir: "Kok begitu sederhanya kegiatan penelitian untuk mendapatkan predikat doktor". Saya memandang bahwa semua hal yang ditanyakan, dicatat dan direkam Bu Susi adalah hal yang sangat biasa, dan tidak suatu materi pun yang saya anggap berbobot ilmiah. Maklum waktu itu, sebagai petugas teknis lapangan di Lampung, saya belum pernah tersentuh dengan budaya penelitian ilmiah.
Baru setahun kemudian setelah membaca disertasi Bu Susi, saya mulai kagum, khususnya pada kepiawaiannya mengangkat kejadian sehari-hari menjadi pendukung hipotesis tentang "kedudukan sosial dan harga diri orang Bugis". Hal yang sebelumnya tidak pernah terbetik dalam hati saya untuk memikirkannya.
Hikmah pertama yang saya petik dari kejadian ini adalah bahwa sebenarnya di sekitar kita sehari-hari tersedia banyak mutiara informasi dan data yang dapat kita poles menjadi obyek penelitian untuk studi apapun yang kita inginkan. Tinggal bagaimana kita melatih kejelian pengamatan sehingga bisa mengungkap fenomena-fenomena tertentu, yang oleh orang awam dianggap hal yang biasa-biasa saja.
Sejak kesadaran tersebut, saya seolah dikucuri dengan dengan semangat dan motivasi yang sangat berarti sehingga benar-benar terdorong untuk melakukan hal yang serupa dengan Bu Susi, khususnya mengidentifikasi isu sehari-hari di sekitar kegiatan kerja saya untuk diramu dan dikemas menjadi bahan studi akademis yang pantas diangkat menjadi penelitian untuk mencari solusi teoritis dan empiris bagi kemasalahatan umat manusia.
Setahun setelah terinspirasi membaca disertasi Bu Susi, saya tiba-tiba menemukan diri terdampar di tengah-tengah aktivitas masyarakat ilmiah sumber daya air di Universitas Southampton, Inggris. Ternyata apapun yang saya ketengahkan di tengah-tengah masyarakat internasional tersebut, saya selalu dapati tidak jauh dari apa yang mereka pikikirkan. Sehingga saya tidak heran bahwa program magister yang umumnya diselesaikan dalam waktu dua tahun, saya rampungkan dalam 15 bulan. Saya sepenuhnya yakin bahwa ini adalah hikmah yang saya peroleh dari tamu orangtua saya yang diterima mondok secara ikhlas di rumahnya – sekalipun sampai tahap terakhir ini saya belum pernah bertemu apalagi berkomunikasi langsung dengan keluarga muda Amerika tersebut.
Buku karangan Dr. Susan Bolyard Millar ditumpuk dengan thesisnya yang menjadi basis penulisan buku tersebut (sampul merah tua) – penelitian dilakukan di Soppeng 1975-1976. Foto: A. Hafied A. Gany.
***
Pada minggu kedua bulan Oktober 1981, setelah menempuh penerbangan 24 jam lebih dari Jakarta dengan Japan Airlines, saya mendarat di Bandara Internasional San Fransisco dalam kondisi yang masih terserang demam "sindroma waktu" (jet-lag) – maklum saat saya tiba pukul dua siang, orang-orang di Jakarta masih sementara terlelap di peraduan, pukul dua dini hari.
Sementara menyelesaikan proses keimigrasian, saya mendengar sayup-sayup sepertinya nama saya (Mr. Gany) disebut-sebut melalui pengeras suara, tapi saya tidak mengerti satu kata pun pengumuman dalam logat pantai barat Amerika yang sangat kental, sekalipun itu diulang-ulang kemudian beberapa kali.
Beberapa saat setelah melewati petugas pabean, saya mengemas barang bawaan dan menunggu di depan pintu keluar bandara, mengharapkan seseorang datang menjemput sesuai penjelasan telepon yang saya terima di Jakarta sebelum berangkat.
Hampir dua jam berdiri, tetap tidak ada tanda-tanda bakal ada yang menjemput, sehingga saya putuskan menelepon petugas universitas. Begitu fokusnya membaca petunjuk di kotak telepon tersebut saya tidak menyadari travel bag di sebelah kaki kanan saya sudah disambar orang. Saya baru menyadarinya seusai menelepon. Untung paspor saya simpan di saku jas, dan uang dollar masih terjahit utuh di kantong celana dalam saya.
Ketika saya melapor ke polisi bandara, Pak Polisi itu malahan membentak: "Ini San Fransisco Bung! Jangan pernah berharap polisi bisa menjaga barang-barang pribadi Anda!" Mendengar hardikan yang tidak saya sangka-sangka tersebut, saya benar-benar semakin menjadi trauma laksana jatuh ketimpa tangga pula, sehingga beberapa hari kemudian setelah mendaftarkan diri di kampus CPU Mil Valley, saya mendapati diri saya tergeletak di kamar Hostel YMCA San Francisco, nyaris tidak berdaya untuk berdiri sekali pun.
Dalam keadaan mengenaskan tersebut saya mencoba menelepon ke Konsulat Jenderal Indonesia untuk menanyakan kalau-kalau bisa numpang konsultasi ke dokter konsulat di San Francisco. Saya malah semakin trauma setelah mendapatkan jawaban bahwa di Konjen tidak ada fasilitas klinik atau dokter khusus. Setiap petugas Konjen wajib memiliki asuransi kesehatan untuk menjaga kalau sewaktu-waktu sakit. Untuk itu saya yang tidak memiliki asuransi kesehatan harus datang sendiri ke RS terdekat dengan membayar tarif berobat non-asuransi – yang sangat mahal, katanya.
Dengan mengumpulkan tenaga yang tersisa, saya mencoba bangkit dari tempat tidur dan berjalan tertatih-tatih menuju ke klinik SFO yang jaraknya hanya satu blok dari Golden Gate Avenue, lokasi saya menginap.
Saya diterima di unit gawat darurat oleh Dr. Fishella, dokter muda yang cantik berwajah Erasia, karena tidak bisa diterima konsultasi umum tanpa perjanjian beberapa hari sebelumya. Setelah memeriksa beberapa titik di dada dan belakang saya, dia lebih lanjut mewawancarai saya menanyakan asal-usul dan kronologi sakit yang saya derita dan menyodorkan saya dua tablet aspirin dan segelas air putih untuk segera saya minum.
Setelah selesai wawancara, memberikan berbagai petunjuk menjaga kesehatan selama bepergian, Dr. Fishella dengan enteng meminta saya kembali berbaring ke Hostel YMCA. “Hanya perlu istirahat, tidak ada apa-apa kok,” katanya. Saya harus merogoh kocek sebesar seratus dollar untuk 20 menit konsultasi, sebuah senyuman manis, dan dua tablet aspirin, dan segera bergegas kembali berbaring di kesepian kamar Hostel YMCA, tidak ada teman, atau kenalan yang bisa diajak berbagi rasa.
Sambil berbaring di tengah kesepian dibayang-bayangi kegelisahan, menjelang tengah malam, saya merasakan seolah-olah ada suara hati yang membisikkan ke telinga saya mengingatkan keberadaan keluarga Pak Millar yang berdomisili di kontinen yang sama. Terasa seperti ada tenaga yang membangunkan saya untuk bagun dan turun mendatangi resepsionis Hostel YMCA, menumpang menghubungi nomor telepon Bu Susi yang sengaja saya catat di lembar belakang pasport, supaya tidak mudah tercecer.
Saya terperangah sejenak tatkala mendengar suara merdu di telepon di ujung sana menjawab dengan nada ceria setelah saya memperkenalkan diri. Meskipun baru untuk pertama kalinya mendengar suara bernada simpatik tersebut, saya memastikan bahwa itu suara Bu Susi. Tanpa tedeng aling-aling saya diundang ke Madison untuk tinggal bersama mereka sekeluarga, setelah saya menceriterakan kondisi dan trauma yang saya alami di San Francisco. Malahan suaminya bersedia membimbing penyelesaian disertasi saya, sambil menumpang di rumahnya.
Dengan segala rasa sungkan, saya benar-benar terpaksa memutuskan keesokan harinya mengurus tiket Bus Greyhound dan memberitahuan jadwal kedatangan saya di Madison melalui telepon. Mereka sekeluarga dengan segala senang hati akan menyambut saya di stasiun bus.
Pada tanggal 20 November 1981, setelah menempuh perjalanan panjang tiga hari dua malam, dengan dua kali terpaan badai salju melewati danau Tahoe, gurun pasir Arizona, Chicago dan Milwokee, saya akhirnya tiba di Stasiun bus Madison tepat pukul 9:30 pagi seperti jadwal rencana.
Saya melihat dari jauh, tatkala bus merapat di emplasmen, sosok suami isteri bersama dua orang anak berbaju dingin tebal, mengawasi satu persatu penumpang turun dari pintu depan bus. Mereka dengan sangat mudah mengenal saya karena tidak ada lagi yang bertipe orang asing menumpang di bus tersebut. Mereka langsung saja mendekat tanpa ragu-ragu merangkul saya dengan sapaan: "wah, anak Tante Dawi dan Puang", begitu mereka memanggil ibu dan ayah saya. "Selamat datang di dunia saudaramu ini", lanjutnya menyapa dengan Bahasa Indonesia seingatnya. Pak Millar langsung memakaikan saya mantel dingin (overcoat) dan sepatu salju, yang sengaja dibawanya untuk saya, dan langsung mengajak pergi, setelah memasukkan koper saya di bagasi mobilnya.
Ketika kami tiba di rumahnya, saya semakin menjadi terharu tatkala saya mencoba berbasa-basi memohon maaf bakal merepotkan mereka sekeluarga. Di luar dugaan saya Pak Millar spontan merespon basa-basi saya mengatakan: "Hafied, jangan sungkan-sungkan, meskipun andaikata Anda datang ke keluarga kami dengan tampang binatang buas, kami sekeluarga tetap akan menerima Anda dengan segala senang hati. Itu belum sepadan dengan jasa orangtua Anda kepada keluarga kami ketika di Soppeng.”
“Pokoknya tinggallah di rumah kami, seperti di rumah sendiri. Anda adalah saudara kami. Kami siap membagi kehidupan Amerika, seperti perlakuan yang pernah kami terima dari kedua orang tua di Soppeng," katanya bertubi-tubi tanpa memberi kesempatan kepada saya menjawab. Saya hanya bisa bungkam seribu bahasa meneteskan air mata haru mendapati kenyataan kekeluargaan ala Bugis di Negeri Paman Sam, yang dalam benak saya semula hanya membayangkan stigma kehidupan orang barat yang individualistis dan acuh tak acuh.
***
Begitu terserapnya saya dalam kehidupan Amerika sejak itu, tidak terasa hampir dua bulan sudah saya tinggal bersama keluarga Pak Millar. Selama itu, saya merasa sebagai bagian dengan keluarga Amerika saudaraku itu. Tidak terhingga betapa banyaknya pembelajaran yang saya terima dari mereka sekeluarga selama menempatkan diri sebagai bagian dari kehidupan kultur Amerika tersebut.
Setidaknya ada dua kegiatan pokok yang saya lakukan secara rutin selama saya tinggal di keluarga Pak Millar – di samping tentunya berbagai kesempatan menikmati kehidupan sosial, menikmati wisata musim dingin, bermain skate di danau beku Mendota - Monona, bermain perang-perangan salju di bawah sinar bulan purnama, bermain ski di bukit salju perdesaan Wisconsin, berburu dan menghias pohon natal, mengikuti rangkaian acara natalan keluarga, observasi kehidupan kampus Universitas Wisconsin, dan kesempatan pesta kumpul-kumpul dengan masyarakat Indonesia di Madison yang sengaja diadakan Bu Susi untuk menghormati kedatangan saya tinggal di rumahnya.
Kegiatan pokok pertama, setiap malam saya duduk bersama membahas thesis saya, sambil saya secara bertahap mengetik bagian-bagian yang sudah dianggapnya final. Kalau saya hitung-hitung, tidak kurang 150 jam total waktu keseluruhan yang saya pakai membahas thesis di bawah bimbingan Pak Millar. Kegiatan rutin kedua adalah setiap hari setelah mereka berangkat kerja dan kedua anaknya berangkat sekolah, saya tinggal sendirian di rumah larut di kesendirian mendalami thesis Bu Susi yang menarik perhatian saya karena menyangkut ikhwal kehidupan orang Bugis. Banyak yang baru saya pahami justru setelah membaca thesis tersebut. Menjelang tengah malam, saya bersama Bu Susi duduk membahas materi yang yang mengungkap hal-hal mengagumkan saya dalam thesis tersebut. Saya secara jujur mengakui telah belajar banyak dari kegiatan kedua ini. Sampai-sampai saya memberikan komentar bahwa: "Terlalu sayang kalau thesis tersebut tidak diterbitkan untuk memberi kesempatan orang lain menyimak isinya yang sangat mengagumkan".
Bersama keluarga Dr. Terry dan Dr. Susan Millar bermain skating di Danau Beku Mendota, Desember 1981. Foto: Dok. Pribadi.
Setahun setelah saya kembali dari Amerika, Bu Susi masih sempat kembali ke Indonesia dan tinggal beberapa bulan di Soppeng untuk suatu penelitian dan mengumpulkan informasi pendukung untuk penerbitan bukunya. Beberapa rekaman film setengah inchi bahan analisis kajian yang belum diolah, dibuatnya selama kunjungan terakhir ini, sempat diputar dan ditunjukkan kepada saya dan kakak saya Radi ketika menginap di rumah saya di Pondok Gede mempersiapkan keberangkatannya kembali ke Amerika. Dia berjanji bahwa saya orang pertama yang akan menerima bukunya setelah terbit nanti.
Sejak saya mengantarkannya pulang melalui Bandara Halim Perdanakusumah di bulan Mei 1983 kami tidak pernah bertemu lagi. Meskipun saya masih beberapa kali berkunjung ke Amerika sesudah itu. Selama itu kami hanya berkomunikasi secara rutin melalui surat menyurat, e-mail dan melalui hubungan telepon tatkala saya berkunjung ke Amerika dan selama saya sekeluarga tinggal di Winnipeg (1989-1993) menyelesaikan progman PhD di Universitas Manitoba Kanada. Saya bahkan masih menerima hikmah dari rekomendasi Pak Millar sebagai Academic Referee (dewan penilai akademis) ketika saya dicalonkan Departemen PU menempuh program doktor interdisipliner di Fakultas Pasca Sarjana Universitas Manitoba, Kanada, yang saya sandang hingga saat ini.
Citizen reporter A. Hafied A. Gany (paling kanan) di rumah Dr. Susan Bolyard Millar (bersama ayah, ibu, anak dan saudara serta kemanakannya yang datang dari Ithaca, New York), santap bersama di malam Natal tahun 1981. Foto: Dok. pribadi.
***
Pada pertengahan bulan Oktober 1989, saya menerima paket titipan khusus dari Amerika, kiriman buku Bu Susi yang baru sebulan terbit. Judulnya, Bugis Weddings – Rituals of Social Location in Modern Indonesia. Buku tersebut berbeda dengan judul thesisnya yakni: Bugis Society: Given by the Wedding Guest. Di sampulnya Bu Susi menuliskan catatan tulis tangan dalam bahasa Indonesia: “Oktober, 1989. Untuk saudaraku yang terhormat, Hafied A. Gany, Terima kasih atas persahabatan dan pertolongan yang paling dihargai! Salam rindu, Susan.
Begitu menerima buku tersebut, saya langsung melalapnya habis hanya sampai keesokan harinya, dan mendapati bahwa buku tersebut menjadi semakin sempurna dibandingkan dengan thesisnya yang pernah saya kupas tuntas di Madison, delapan tahun sebelumya.
Banyak sekali bagian dari buku tersebut membuat saya larut, penuh kekaguman. Namun setidaknya ada lima hal sepanjang proses interaksi panjang kami yang membuat saya meneterskan air mata.
Pertama buku tersebut khusus didedikasikan kepada ayah dan ibu saya. Sayang ibu telah duluan dipanggil menghadap Sang Khalik awal tahun 1988, sehingga tidak sempat menyaksikan penghargaan mulia dari anak angkat Amerikanya ini.
Kedua, saya mendapati catatan khusus buat saya di Bab Pengantar yang ternyata telah memberikan motivasi kepadanya untuk menerbitkan buku itu setelah memberikan banyak masukan selama saya numpang di rumahnya di Madison.
Ketiga, bahwa sekecil apapun kontribusinya, beliau sekeluarga tetap mendambakan dan memberikan apresiasi terhadap kehadiran saya sebagai saudara di lingkungan kehidupannya. Ini secara timbal balik telah saya buktikan, khususnya bahwa keberadaan mereka telah memberikan kontribusi berupa motivasi kepada saya untuk menghayati kehidupan ini dengan hati nurani, dan ini akan berlangsung terus memberikan hikmah kepada satu sama lain, melalui ketergantungan hubungan timbal balik.
Keempat, bahwa kami telah membuktikan betapa mulianya hubungan persaudaraan sesama manusia, tanpa melihat bangsa, ras, golongan, kepercayaan maupun agama.
Kelima, bahwa kesemua faktor tersebut di atas membenarkan kata-kata bijak “setiap tamu akan membawa hikmah”, sepanjang kita menjalaninya dengan hati nurani yang ikhlas, tanpa pamrih.(p!)
*Citizen reporter A. Hafied A. Gany dapat dihubungi melalui email gany@hafied.org
|
| | Jumlah
Komentar (9) |
|
| Komentar :
20-12-2008 Dari : innah | inha_bugis@yahoo.com jadi terharu
membacanya.. 07-10-2007 Dari : mustafa | latafa@yahoo.com mengharukan sekali
cerita ta puang,
saya yakin puang
lagi nangis saat
menuliskan kisah
ini. 07-10-2007 Dari : mastaufik | taufikgany@arcamanik.com agatu kareba daeng,
alekka kasikna
pangelli waju
barutta loni maleppe
tawwe. Degaga putere
ku daeng? 04-10-2007 Dari : Rane | rane@hafied.org Subhanallah!! Sebuah
time tunnel. Bahkan
saya pun tak pernah
dengar cerita dari
bapak sampai
mendetail begini. :)
Bu Susi orangnya
baik hati, selalu
tersenyum dan sangat
bersahabat. Walau
sekejap, saya masih
ingat pertemuan
dengan beliau
sembari menonton
film yang saya tidak
pahami apa.
Paling-paling
sesekali
teriak-teriak karena
melihat wajah yang
saya kenali hehe..
Anyway, saat menulis
ini, mereka, bapak
bersama ibu saya dan
Bu Susi sekeluarga
insya Allah akan
reuni dalam beberapa
hari ke depan.
Semoga menjadi
tulisan lagi..
My regards to the
Millar Family.. :) 04-10-2007 Dari : adi | cahyadii@chevron.com Buku Bu Susi udah
diterbitkan di
Indonesia blum? kalo
blum, giliran pak
hafid untuk
mengusahakannya
terbit di
Indonesia... kalo
udah bisa dibeli
dimana?... 02-10-2007 Dari : virty b'pack | PAK Hafied...
keep writing pak...
and I'll keep
reading...!!! 02-10-2007 Dari : syamsoe | toyota-gue.com Pak Gani, setelah
membaca tulisan
anda, saya jadi
rindu ingin menonton
film little house in
the praire - michael
london ala tvri lagi
... 01-10-2007 Dari : rusle' | muhruslee@gmail.com om Gani, cerita ta
makessing ladde.
Cedde'i napattuttu
wai matakku nataro
akessingenna
caritata. Anu
makessingnge rifegau
akko taulaingnge
padatta rufatau
insya Allah lesu
muatu akessingenna
akko ridi.
tarimakasih maega ye
ceritatta Om.
Mammuare na malampe
sunge'ta na
weddingompi siruntu
Om.(translate: Om
Gani, cerita ini
sungguh menarik dan
menginspirasi.
Hampir bercucuran
air mataku membaca
cerita ini saking
menariknya. Segala
sesuatu yg baik yg
kita berikan ke
orang lain, sesamata
manusia insya Allah
akan dikembalikan
kebaikannya ke diri
kita juga. Terima
kasih atas sharenya
Om. Semoga masih ada
rejeki umur nantinya
kita bertemu lagi.
Amin 01-10-2007 Dari : halfian | kisah hidup yang
sangat menginspirasi |
|
|
|
|
| ::
CITIZEN REPORTER |
 | (Kamis, 12-07-2007) |  | (Minggu, 29-04-2007) |  | (Selasa, 31-10-2006) |  | (Rabu, 11-10-2006) |  | (Rabu, 16-08-2006) | |
|
Untitled Document
| ::
DUNIA SEGIEMPAT KAREBOSI |
|
Untitled Document
| ::
KONTAK TIM PANYINGKUL! |
Email:
redaksi@panyingkul.com
Makassar:
Nilam Indahsari +62 81 241 229 089
M. Aan Mansyur +62 411-586459
Jakarta
Moch. Hasymi +62 811 955 954
|
|
|