|
|
| . |
| ::
|
| Minggu, 04-11-2007 | Karebosi, Sebuah Perenungan :: Muhammad Ridwan Alimuddin ::
| Karebosi yang tengah direvitalisasi. Foto: Muhammad Basrul.
Setelah mengitari sudut lapangan Karebosi dengan berbekal perdebatan seru di warung kopi, di mailing-list dan di atas angkot mengenai revitalisasi lapangan ini, citizen reporter Muhammad Ridwan Alimuddin menurunkan catatan reflektif dan serangkaian foto Karebosi berikut ini. Foto-foto ini diambil pada hari Sabtu 3 November 2007. Sementara foto utama di atas direkam oleh fotografer dari Performa, Muhammad Basrul pada tanggal 1 November 2007.(p!) | Hampir semua kota di Jawa punya alun-alun. Yang paling terkenal adalah Alun-alun di Yogyakarta: Alun-alun Selatan dan Alun-alun Utara. Di antara keduanya berdiri Keraton Yogyakarta. Alun-alun Utara paling sering dijadikan tempat menggelar acara besar, mulai dari rapat akbar sewaktu gerakan reformasi 1998 sampai lokasi pameran pada saat perayaan Sekaten. Sedangkan Alun-alun Selatan lebih banyak dikenal sebagai tempat rekreasi murah meriah. Ada atraksi menarik di sana, bernama "berjalan sambil
tutup mata di antara dua pohon beringin". Turis lokal selalu membanjiri alun-alun ini tiap malam. Di alun-alun tersebut, orang-orang mencoba melintasi dua pohon beringin dengan mata ditutup kain. Ada yang lolos, ada yang tak bisa melaluinya, dan ada yang menabrak pagar pohon beringin.
Konon, dua sisi alun-alun berlawanan sifatnya: kebaikan dan keburukan. Bila di sisi barat terdapat mesjid, timurnya penjara, sebagaimana yang terdapat di alun-alun utara Yogya, di sisi barat terdapat Mesjid Kauman, mesjid keraton.
Tahun 2005-2006 marak wacana revitalisasi Alun-alun Utara, yaitu membangun tempat parkir bawah tanah untuk menampung kendaraan pengunjung alun-alun dan juga lokasi-lokasi wisata di sekitar alun-alun, seperti Malioboro. Kontan ide pemerintah kota menimbulkan polemik masyarakat Yogyakarta.
Yang tidak setuju berdasarkan pada alasan mistik, mengatakan bahwa alun-alun itu bukan tempat sembarangan. Yang setuju berpikir pragmatis saja, "Kan bagian bawahnya saja yang digunakan dan tak merusak bagian atas alun-alun."
Polemik alun-alun di Yogyakarta kala itu mirip dengan polemik seputar revitalisasi Karebosi yang sekarang memicu kontroversi. Pemkot Makassar menjelaskan bahwa revitalisasi Karebosi tidak akan menghilangkan fungsinya sebagai public space. Tapi rencana membangun “tempat belanja di bagian bawah Karebosi mendapat kecaman dan menimbulkan kekhawatiran banyak kalangan.
Sama halnya dengan alun-alun Yogyakarta, di tengah lapangan Karebosi juga ada tujuh kuburan yang diliputi berbagai cerita mistik.
Yang membedakan polemik Alun-Alun Yogyakarta dan Karebosi, karena sekarang di Makassar sebagian masyarakat ribut mendengar rencana mal di bawah tanah yang akan dibangun di atas lahan Karebosi. Investor yang menggelontorkan dana milyaran rupiah untuk revitalisasi ini, mendapat hak pengelolaan lapangan tersebut selama 30 tahun, termasuk membangun fasilitas belanja di bawah tanah.
Mari kita lihat kondisi Karebosi sekarang. Di sekeliling Karebosi terdapat barisan perkantoran, hotel, mal, bank,gedung SD, rumah dinas rektor Unhas, dan sebentar lagi sebuah menara perkantoran. Gemuruh pembangunan sudah lama mengepung alun-alun kota ini.
Bagi saya pribadi, kecuali tujuh kuburan yang ada di tengah lapangan, tak ada kekhasan lain di lapangan Karebosi. Siang-sore jadi tempat latihan bola dan area publik, di sisi utara ada komunitas pencinta catur dan kadang hadir penjual obat di dekat pohon beringin besar di dekat patung Ramang. Malam harinya menjadi tempat mangkal para waria. Warga Makassar juga tidak punya tradisi umum tumpah ruah hingga memadati ke alun-alun kota ini, seperti yang terjadi di alun-alun Yogyakarta. Yang datang ke Karebosi, mereka yang punya urusan saja: mulai dari yang bermain bola, berolahraga, dan lainnya. Jarang terlihat orang-orang yang sengaja datang ke Karebosi untuk menggelar tikar dan berpiknik. Mengapa? Karena sebagai public space kenyamanan dan kelayakan Karebosi sangat jauh dari memadai.
Karebosi memang malang, karena ditakdirkan berada di kota metropolis yang tradisi pelestarian situs-situs budayanya amat minim. Sekarang, bila pengelolaan alun-alun yang jadi nol kilometer Makassar itu jatuh ke tangan seorang investor, apakah fungsi ruang terbukanya yang ramah, nyaman dan gratis bisa dipertahankan? Ini yang perlu kita kritisi.
Bila investor yang mengelola hanya berorientasi bisnis, kita patut mempertajam pengawasan publik. Bukan apanya, pembangunan fisik di kota Makassar terus berlangsung, dari mal hingga fly-over dibangun susul menyusul, tapi visi melestarikan wajah manusiawi kota, kenyamanan sarana publik yang bisa dinikmati segala lapisan warga, menjadi hal yang makin sulit ditemukan di Makassar.
Karebosi telah lama menjadi saksi pengalih-fungsian bangunan-bangunan penting yang mengelilinginya. Di sisi utara-timur ada Makassar Trade Center (MTC). Di sisi timur menara tinggi milik Bosowa Group sedang dibangun. Sisi utaranya sudah sejak lama berdiri jajaran pertokoan dan perkantoran. Satu-satunya bangunan bersejarah yang bertahan adalah gedung Pengadilan Negeri di Jalan RA Kartini.
Karebosi sendiri tidak ikut serta dalam pembangunan menderu di sekelilingnya. Perubahan masif yang terjadi di sekelilingnya diakui atau tidak, telah membuat Karebosi seperti sesuatu yang tidak menjadi bagian pembangunan kotanya sendiri. Pemkot Makassar tentu berpikir, karena sekeliling Karebosi telah mentereng, harusnya Karebosi jangan dibiarkan kumuh berdebu.
Tapi Pemkot Makassar mestinya membalikkan pertanyaan revitalisasi ini kepada diri sendiri: mengapa niat mulianya merevitalisasi Karebosi justru berbuah kecaman? Apa yang salah dalam hal ini? Walikota Makassar saya kira perlu juga memahami kondisi psikologis masyarakat kota yang trauma melihat deru pembangunan tanpa kendali. Walikota juga perlu mendengar keresahan publik.
Warga kota menyimpan trauma pembangunan bernama: kelemahan dalam perawatan dan pembangunan berkelanjutan. Revitalisasi Karebosi yang berlangsung saat ini adalah cerminan dari "budaya" kita, bahwa kita senang mengubah-ubah, senang terhadap proyek-proyek mercusuar, bangga akan bangunan-bangunan megah, haus memperdagangkan lahan dan aset, tapi tak telaten merawat.
Ambil contoh Monumen Mandala, yang letaknya tak jauh dari Karebosi. Dinding monumen itu lumutan, areal di sekelilingnya yang seharusnya bisa dimanfaatkan masyarakat sebagai ruang publik, tak digunakan maksimal. Mari tengok juga Taman Mini Sulawesi Selatan di Somba Opu, sungguh malah nasib situs budaya itu. Keresahan warga juga muncul karena tidak adanya bukti sebelumnya bahwa pihak pemerintah kita piawai dalam pengembangan dan melihara sarana publik. Membangun dan merawat adalah dua hal yang seharusnya tak terpisahkan.
Sebaliknya, bagi kelompok warga yang resah dan menangisi nasib Karebosi, ayo tunjukkan perlawanan pada kebijakan pemerintah yang dinilai merugikan rakyat, tunjukkan bukti apa saja hal yang dinilai tidak sehat pada proses revitalisasi Karebosi ini. Penyadaran masyarakat atas masalah perkotaan ini hendaknya jangan hanya di kelompok diskusi terbatas (di kampus, mailing-list di internet, atau di warung kopi).
Harus adalah langkah nyata dan padu dari warga, LSM, media dan kelompok independen. Kalau kita memang prihatin pada Karebosi, ayo kita bergerak. Paling tidak, langkah minimal yang bisa dilakukan dalam waktu dekat adalah mengimbangi dua poster propaganda yang tertempel di pagar proyek sekeliling Karebosi, berbunyi: “Jika tak direvitalisasi Karebosi akan pasrah terus terhadap "bosi" (hujan) alias selalu banjir; setelah revitalisasi, wajah Karebosi akan "seperti ini" (merujuk pada gambar desain revitalisasi). (p!)
Argumen Pemkot Makassar, mengapa Karebosi direvitalisasi. Foto: Muhammad Ridwan Alimuddin.
Pengerukan yang tengah berlangsung. Foto: Muhammad Ridwan Alimuddin.
Alat berat yang beraksi. Foto: Muhammad Ridwan Alimuddin.
Sekelilingnya ditutupi seng dan poster penjelasan revitalisasi. Foto: Muhammad Ridwan Alimuddin.
Satu demi satu bangunan dirubuhkan. Foto: Muhammad Ridwan Alimuddin.
Patung Ramang, pesebak bola legendaris, masih menjadi saksi. Foto: Muhammad Ridwan Alimuddin.
Janji Walikota. Akankah ditepati? Foto: Muhammad Ridwan Alimuddin.
*Citizen reporter Muhammad Ridwan Alimuddin dapat dihubungi melalui email sandeqlopi@yahoo.com
|
| | Jumlah
Komentar (7) |
|
| Komentar :
14-06-2008 Dari : Nasionalisme tanpa Menghakimi | relawan99mks@.gmail.com Dikutip oleh
Relawan99
(Nurmal Idrus )
Kamis (15/5) sore,
kita disuguhi sebuah
tontonan menarik nan
heroik ketika Pia
Zebadiah Cs, secara
dramatis
menyingkirkan Tim
Jerman dengan skor
3-1 di babak
Semifinal Piala
Uber, di Jakarta.
Target semifinal
yang dibebankan
kepada mereka
terlampaui dengan
maju ke babak final.
Betul-betul heroik.
Inilah nasionalisme
yang sesungguhnya.
Kata yang selalu
dibanggakan oleh
banyak orang tetapi
dengan tindakan yang
tak jelas,
dipertontonkan oleh
srikandi-srikandi
ini. Nasionalisme
yang nyata, membawa
keharuman bagi
negeri ini. Disaat
mereka berjuang
mati-matian membela
nama Indonesia, di
lain sisi banyak
dari kita yang tak
memahami arti
nasionalisme itu.
Malah, para
politikus itu lebih
banyak mengeritik
dan terkesan
menjelek-jelekkan
negeri ini dan
daerah mereka
sendiri. Dalam
konteks jelang
Pilwali Makassar,
nasionalisme itu
seperti sudah
terkotori dengan
banyak sekali
kampanye negatif
yang tujuannya untuk
saling menjatuhkan.
Tak ada lagi
kecintaan dan
kebanggaan pada
daerah kita ini.
Persoalan-persoalan
perkotaan yang
dipolitisir dan
dibuat dramatis
menjadi bagian dari
kampanye negatif.
Seakan-akan, tak ada
lagi kerja-kerja
bagus dari
pemerintah kota.
Semua yang dilakukan
pemerintah kota
seolah-olah salah
dan hanya
kemudaratan yang
terjadi. Kemiskinan
dipolitisir, dengan
mengapungkan isu
kelaparan sebagai
jualan kampanye.
Sungguh sebuah
cara-cara yang tak
fair dalam upaya
mencapai kemenangan.
Padahal, selama ini
kita hidup dan makan
di kota ini. Kita
tak bisa memungkiri
kita termanjakan
dengan kemajuan kota
ini. Semua bisa
didapat dengan
mudah, terutama
mereka yang punya
duit seperti para
penggiat kampanye
negatif itu.
Bertahun-tahun, kita
menikmati kemewahan
itu dan mengabaikan
banyak warga lain
yang tertindas.
Maka, sungguh sebuah
keironian ketika
kemudian ada di
antara mereka yang
tiba-tiba menjadi
pahlawan kesiangan,
untuk memberantas
kemiskinan.
Pertanyaaan
sekarang, mengapa
baru saat ini mereka
berteriak-teriak
untuk hal itu.
Padahal,
bertahun-tahun
kemiskinan itu
menjadi pemandangan
sehari-hari. Lalu,
mengapa baru
sekarang mereka mau
mengurusinya. Maka,
jangan pernah
disalahkan jika ada
yang menyatakan
bahwa semua itu
karena adanya maksud
tersembunyi. Karena
sebuah tujuan
singkat, meraih
kekuasaan.
Sesungguhnya,
cara-cara seperti
itu adalah cara-cara
yang tak diridhai
karena dilakukan
dengan tidak fair.
05-06-2008 Dari : Relawan99 | relawan99mks@gmail.com Antaranggota Pemuda
Pancasila Bentrok di
Depan Rumah Walkot
Buat halaman ini
dalam format PDF
Cetak halaman ini
KESRA--17 OKTOBER:
Bentrokan
antaranggota Pemuda
Pancasila pecah di
depan rumah jabatan
Walikota Makassar di
Jl Penghibur,
Makassar, Rabu
(17/10) pukul 13.05
wita. Bentrokan itu
diwarnai adu mulut
dan aksi saling
lempar batu antara
dua kelompok.
Akibatnya, satu
orang terluka karena
dikeroyok pendukung
salah satu kelompok
dan kaca depan
sebuah mobil
Daihatsu Espass
pecah terkena
lemparan baru kedua
kubu yang bertikai.
Dua kelompok Pemuda
Pancasila yang
bertikai ini adalah
Pemuda Pancasila
yang koordinir Diza
Rasyid Ali
berhadapan dengan
Pemuda Pancasila
yang dikoordinir
Susuman Halim.
Kelompok Diza adalah
kelompok yang
menolak revitalisasi
Lapangan Karebosi,
Makassar, sementara
kelompok Susuman
Halim adalah
kelompok yang
mendukung semua
kebijakan Walikota
Makassar, termasuk
revitalisassi
Lapanagan Karebosi
tersebut.
Sebelum terjadi
bentrokan di depan
rumah Walikota
Makassar Ilham Arif
Sirajuddin, Pemuda
Pancasila yang
dikoordinir Diza
berunjuk rasa dan
membongkar semua
pagar seng yang baru
dibuat sehari
sebelumnya sebagai
pertanda dimulainya
revitalisasi
lapangan karebosi,
Makassar yang
terletak tepat di
jantung Kota
Makassar.
Usai membongkar
semua pagar di tepi
lapangan karebosi,
kelompok Diza
bermaksud
melanjutkan aksi di
depan rumah jabatan
Walikota Makassar.
Setiba di rumah itu,
kelompok Diza
disambut orasi
kelompok Susuman
yang menyesalkan
permintaan ganti
rugi oleh Diza
karena revitalisasi
lapangan karebosi
tersebut.
"Tidak ada alasan
Diza meminta ganti
rugi, lapangan yang
mereka gunakan
sekarang itu bantuan
Walikota, bukan
milik pribadi. Jadi
permintaan itu tidak
masuk akal," jelas
Susuman.
Mendengar ucapan
tersebut, kelompok
Diza geram, dan
pecahlah bentrokan
tersebut. Tapi
kemudian bentrokan
tersebut dapat
dihentikan oleh
sejumlah Polisi
Pamong Praja yang
berjaga di rumah
Walikota Makassar
dan kedua
kelompokpun
masing-masing
meninggalkan rumah
jabatan Walikota.
Akibatnya, kini,
polisi masih
berjaga-jaga di
rumah jabatan
walikota, karena
dikhawatirkan
terjadi bentrokan
susulan. mo/pd)
05-06-2008 Dari : Relawan99 | relawan99mks@gmail.com PROGRAM REVITALISASI
Lap. KAREBOSI
TUJUAN : Memperbaiki
Lapangan Karebosi
SEBAB pada musim
hujan BANJIR & musim
Kemarau Penuh dengan
DEBU serta pada
malam hari dipenuhi
dengan MAKSIAT
(waria), HASILNYA :
Sangat MEGAH, CANTIK
dan INDAH akan
tetapi karena
KURANGNYA PEMAHAMAN
masyarakat, maka
berbagai pandangan
lahir, dimulai
Protes dari kalangan
OKNUM-OKNUM TERTENTU
yang DAHULUNYA
memakai karebosi
untuk kepentingan
PRIBADINYA, hingga
TERKAIT dengan
kepentingan
PEMILIHAN WALIKOTA
2008, BIASALAH
PEMBUSUKAN KAREKTER
terhadap IAS,
berbagai tuduhan dan
fitnah ditujukan
kepadanya, seperti
IAS telah menjual
karebosi, IAS
mendapatkan sesuatu
dari Investor, dan
macam-macam tetapi
demi kemajuan kota
Makassar IAS
menghadapi semua itu
dengan Tenang dan
Arief …. IAS tetap
memberikan pemahaman
yang benar dan
meyerahkan semua
persoalan di jalur
HUKUM, dan terbukti
Aparat HUKUM Polisi
dan KPK tidak
menemukan adanya
Pelanggaran Hukum
diRevitalisasi
Karebosi
Dijaman sekarang
siapa sih yang kebal
dengan HUKUM,,,,,
Camat, Bupati,
Gubernur sekalipun
dimasukkan ke BUIH
(penjara) bila
terbukti melakukan
korupsi. IAS
hanyalah seorang
Walikota Makassar,
kalaupun BETUL ada
pelanggaran korupsi
di Revitalisasi
Karebosi pasti HUKUM
akan ditegakkan.
TETAPI BUKTINYA …….
Revitalisasi
Karebosi tetap
berjalan bahkan
hampir rampung tahun
ini…. Semua Ini
menunjukkan bahwa
IAS tidak melakukan
pelanggaran HUKUM,
IAS hanya berkarya
untuk Makassar agar
kota kita bisa
menjadi kota dunia
yang mempunyai
Icon-icon yang dapat
kita banggakan
sebagai kota yang
maju dan berkembang
.….IAS BAHKAN
BERSUMPAH “Lillahi
Taala, kalau saya
mengharapkan sesuatu
dari Pak Hasan PT.
Tosan(INVESTOR).
Makanya, seluruh
proses ini saya
lakukan SECARA
TERBUKA. Tetapi
apapun pengakuan IAS
sebagian masyarakat
tidak mengerti dan
suka berASUMSI (yang
disebabkan oleh
oknum-oknum yang
telah menyebarkan
berita yang tidak
benar kepada
masyarakat awam,).
Namun IAS sudah
paham, apa yang ia
lakukan benar-benar
Merupakan Tanggung
Jawab baginya Kepada
Tuhan Di Akhirat
Nanti Jika Ada
Sesuatu Yang IAS
Dapatkan Dari Kerja
Sama Itu.
Seandainya
Revitalisasi
Lapangan Karebosi
ini tidak bertepatan
dengan Pemilihan
Walikota 2008 PASTI
tidak sehebat ini
protesnya. Tetapi
karena bertepatan
akan dilaksanakan
PILWALI 2008 maka
beberapa oknum-oknum
tertentu
memfungsikan momen
revitalisasi
karebosi ini sebagai
pembusukan karakter
terhadap Ilham arief
Sirajuddin sabagai
calon kuat yang akan
kembali bertarung
dipemilihan Walikota
Makassar 2008,
Marilah memberikan
kepercayaan kepada
Pemkot untuk
menyelesaikan
revitalisasi ini.
Apa yang telah IAS
lakukan TIDAK AKAN
MERUSAK ESTETIKA DAN
PENATAAN KOTA.
INSYA ALLAH AKAN
MEMBERIKAN MANFAAT
YANG BESAR KEPADA
KITA SEMUA DAN
MASYARAKAT UMUM.
Apalagi, di sana
akan ada RUANG
PUBLIK tampa
dipungut bayaran
yang disiapkan
seperti lapangan
softball, lapangan
futsal, lapangan
sepakbola, lapangan
bola basket,
lapangan tennis,
panggung upacara,
area senam,
skateboard, dan
helipad, area panjat
dinding, playground,
serta jalur
pedesterian.
Menciptakan Lapangan
Pekerjaan sekitar
2.500 org.
3.Menambah PAD Kota
Makasar
CATATAN : Dahulu
Revitalisasi
Anjungan Pantai
LOSARI pun diDEMO,
tetapi setelah
selesai wargapun
menyadari ternyata
IAS Benar Tidak ada
Mall dan pungutan
(bayaran) dan sangat
INDAH MI LOSARI
..TA..BOS. 06-11-2007 Dari : la panre | lapanre@gmail.com para investor
membisik
pemkot,jadilah
proyek revitalisasi
karebosi. keuntungan
dibagi, setengah
masuk kantong kiri,
setengahnya lagi ke
kantong kanan, maaf!
tidak untukmu sobat.
siapa yang peduli
masa depan...?
anda boleh protes,
tapi proyek jalan
terussss.....
kumusnahkan image
historis pantai
losari yang dibangun
oleh PKL sebagai
restoran terpanjang
didunia, dan kini
kujadikan play
group, karna
masyarakat kota kan
seperti kanak kanak.
kalaupun protes, kan
juga protes kanak
kanak. ah...! SD
Sudirman sereammi
Bosowa. kan SD masih
kakaknya kanak
kanak. Kekuasaan ada
masanya bung!,
mumpung deh!
jaditongko walikota
punna nia
ongkoso'nu.
05-11-2007 Dari : dei | diego_dong@yahoo.com Wah, mau dong di
kirimi foto Karebosi
tempo doloe. Supaya
kita warga Makassar
tahu betul bahwa
Karebosi adalah
nyawa Makassar. 05-11-2007 Dari : Mustamin Al-Mandary | Pertanyaan2 Iwan,
baik yang ditujukan
kepada Pak Wali,
maupun yang
ditujukan kepada
masyarakat, harus
dicarikan
jawabannya. Kalau
saya, bagusnya
sebenarnya kita
berdiskusi dengan
planner dan designer
Karebosi itu,
bagaimana wajahnya,
bagian2nya bagaimana
peruntukannya; dari
sisi lingkungan,
apakah sudah ada
study kelayakannya;
dan lain2... Pasti
bagus sekali kalo
ini dielaborasi
lebih jauh. Makasih
foto2nya Iwan...
04-11-2007 Dari : Muhammad Ridwan Thahir | info@muhammadridwanthahir.com "KEMBALIKAN
KAREBOSIKU PADAKU"
itulah mungkin
slogan yang bisa
dilontarkan buat
Masyarakat Makassar
yang khawatir akan
nasib Karebosi
kedepan.
Saya banyak membaca
dan melihat
foto-foto Karebosi
jaman dulu di Negeri
Belanda ketika
Karebosi betul-betul
menjadi Ruang Publik
Masa itu. Suasana
yang romantis itu
mungkin takkan
pernah kembali lagi,
apalagi dengan
adanya revitalisasi
yang mengkomersilkan
Karebosi sebagai
Ruang Bisnis.
Mengambil contoh
kota Amsterdam yang
punya alun-alun
tersohor di dunia
"DAM" yang
dikunjungi jutaan
orang setiap
tahunnya, karena
apa? Pusat Kota
Amsterdam (Centrum)
dijaga utuh seperti
600 tahun yang lalu.
Jadi berjalan-jalan
di alun-alun itu
terasa waktu
berhenti ke arah 600
tahun yang lalu,
penuh misteri.
Suasana itu yang
diminati para
pengunjung DAM ini.
Andaikan Pusat Kota
Lama Makassar dijaga
dan tidak diubah
seperti 100 tahun
yang lalu, mungkin
suasananya akan sama
kota Amsterdam
sekarang.
Terakhir, Jangan
menangis Karebosiku,
bila kembang tak
mekar hari ini
untukmu. Bintang
Peruntungan akan
datang untukmu suatu
waktu kelak.
Salam Musim Gugur
dari Negeri Bunga
Tulip dan Keju.[MRT] |
|
|
|
|
| ::
CITIZEN REPORTER |
 | (Kamis, 12-07-2007) |  | (Minggu, 29-04-2007) |  | (Selasa, 31-10-2006) |  | (Rabu, 11-10-2006) |  | (Rabu, 16-08-2006) | |
|
Untitled Document
| ::
DUNIA SEGIEMPAT KAREBOSI |
|
Untitled Document
| ::
KONTAK TIM PANYINGKUL! |
Email Redaksi :
redaksi@panyingkul.com
Tim:
yus@panyingkul.com
+62 813 226 80844
Moch. Hasymi
+62 811 955 954
|
|
|