Untitled Document
 


Untitled Document
.KITAKITA
:: Jika Anda di Panyingkul ::
 
 KABAR KITA
 
 BERANDAKITA
Kegilaan, Dari Cinta Mati di Pulau Rajuni Hingga Riwayat Kadang
:: Ivan Firdaus ::
Baba Guru, Mengenang Film Rhoma Irama di Klenteng Galesong
:: Kamaruddin Azis ::
Mengagumi Tenun Troso, Mengenang Tenun Sengkang
:: Suryadin Laoddang ::
Perempuan Besi di Gunung Perak (2-selesai)
:: M. Aan Mansyur ::
Perempuan Besi di Gunung Perak (1)
:: M. Aan Mansyur ::
 
 RISETKITA
Rasa Takut : Yang Dicitrakan, Yang Dipelihara
:: Aria W. Yudhistira ::
Risetkita: Pramoedya versus Sejarah Resmi
:: Nurhady Sirimorok ::
Hikayat Rumpon Nelayan Mandar
:: Muhammad Ridwan Alimuddin ::
Di Makassar Pernah Ada “Negeri Wajo”
:: Nurhady Sirimorok ::
Surat Itu Ditulis Upas kepada September
:: Nurhady Sirimorok ::
 
 BUKUKITA
 
 KATAKOTAKITA
Kenapa si Gondrong yang Maju?
:: Ivan Firdaus dan Mustamin al-Mandary ::
Karena ‘Rewa’ Badan Binasa
:: Sudirman Nasir ::
Yang Okkot, yang Salah Sambung
:: Nursamsu danTusiana Noor Alfisyahr ::
Kandala`ka`, Kusta Bila Dusta
:: Panyingkul ::
Ayo, Si(ng)kat Terussss..!
:: Panyingkul! ::

 
 TAHUKAHKITA
 

.
 ::
Minggu, 04-11-2007 
Karebosi, Sebuah Perenungan
:: Muhammad Ridwan Alimuddin ::


Karebosi yang tengah direvitalisasi.
Foto: Muhammad Basrul.


Setelah mengitari sudut lapangan Karebosi dengan berbekal perdebatan seru di warung kopi, di mailing-list dan di atas angkot mengenai revitalisasi lapangan ini, citizen reporter Muhammad Ridwan Alimuddin menurunkan catatan reflektif dan serangkaian foto Karebosi berikut ini. Foto-foto ini diambil pada hari Sabtu 3 November 2007. Sementara foto utama di atas direkam oleh fotografer dari Performa, Muhammad Basrul pada tanggal 1 November 2007.(p!)
 
Hampir semua kota di Jawa punya alun-alun. Yang paling terkenal adalah Alun-alun di Yogyakarta: Alun-alun Selatan dan Alun-alun Utara. Di antara keduanya berdiri Keraton Yogyakarta. Alun-alun Utara paling sering dijadikan tempat menggelar acara besar, mulai dari rapat akbar sewaktu gerakan reformasi 1998 sampai lokasi pameran pada saat perayaan Sekaten. Sedangkan Alun-alun Selatan lebih banyak dikenal sebagai tempat rekreasi murah meriah. Ada atraksi menarik di sana, bernama "berjalan sambil tutup mata di antara dua pohon beringin". Turis lokal selalu membanjiri alun-alun ini tiap malam. Di alun-alun tersebut, orang-orang mencoba melintasi dua pohon beringin dengan mata ditutup kain. Ada yang lolos, ada yang tak bisa melaluinya, dan ada yang menabrak pagar pohon beringin.

Konon, dua sisi alun-alun berlawanan sifatnya: kebaikan dan keburukan. Bila di sisi barat terdapat mesjid, timurnya penjara, sebagaimana yang terdapat di alun-alun utara Yogya, di sisi barat terdapat Mesjid Kauman, mesjid keraton.

Tahun 2005-2006 marak wacana revitalisasi Alun-alun Utara, yaitu membangun tempat parkir bawah tanah untuk menampung kendaraan pengunjung alun-alun dan juga lokasi-lokasi wisata di sekitar alun-alun, seperti Malioboro. Kontan ide pemerintah kota menimbulkan polemik masyarakat Yogyakarta.

Yang tidak setuju berdasarkan pada alasan mistik, mengatakan bahwa alun-alun itu bukan tempat sembarangan. Yang setuju berpikir pragmatis saja, "Kan bagian bawahnya saja yang digunakan dan tak merusak bagian atas alun-alun."

Polemik alun-alun di Yogyakarta kala itu mirip dengan polemik seputar revitalisasi Karebosi yang sekarang memicu kontroversi. Pemkot Makassar menjelaskan bahwa revitalisasi Karebosi tidak akan menghilangkan fungsinya sebagai public space. Tapi rencana membangun “tempat belanja di bagian bawah Karebosi mendapat kecaman dan menimbulkan kekhawatiran banyak kalangan.

Sama halnya dengan alun-alun Yogyakarta, di tengah lapangan Karebosi juga ada tujuh kuburan yang diliputi berbagai cerita mistik.

Yang membedakan polemik Alun-Alun Yogyakarta dan Karebosi, karena sekarang di Makassar sebagian masyarakat ribut mendengar rencana mal di bawah tanah yang akan dibangun di atas lahan Karebosi. Investor yang menggelontorkan dana milyaran rupiah untuk revitalisasi ini, mendapat hak pengelolaan lapangan tersebut selama 30 tahun, termasuk membangun fasilitas belanja di bawah tanah.

Mari kita lihat kondisi Karebosi sekarang. Di sekeliling Karebosi terdapat barisan perkantoran, hotel, mal, bank,gedung SD, rumah dinas rektor Unhas, dan sebentar lagi sebuah menara perkantoran. Gemuruh pembangunan sudah lama mengepung alun-alun kota ini.

Bagi saya pribadi, kecuali tujuh kuburan yang ada di tengah lapangan, tak ada kekhasan lain di lapangan Karebosi. Siang-sore jadi tempat latihan bola dan area publik, di sisi utara ada komunitas pencinta catur dan kadang hadir penjual obat di dekat pohon beringin besar di dekat patung Ramang. Malam harinya menjadi tempat mangkal para waria. Warga Makassar juga tidak punya tradisi umum tumpah ruah hingga memadati ke alun-alun kota ini, seperti yang terjadi di alun-alun Yogyakarta. Yang datang ke Karebosi, mereka yang punya urusan saja: mulai dari yang bermain bola, berolahraga, dan lainnya. Jarang terlihat orang-orang yang sengaja datang ke Karebosi untuk menggelar tikar dan berpiknik. Mengapa? Karena sebagai public space kenyamanan dan kelayakan Karebosi sangat jauh dari memadai.

Karebosi memang malang, karena ditakdirkan berada di kota metropolis yang tradisi pelestarian situs-situs budayanya amat minim. Sekarang, bila pengelolaan alun-alun yang jadi nol kilometer Makassar itu jatuh ke tangan seorang investor, apakah fungsi ruang terbukanya yang ramah, nyaman dan gratis bisa dipertahankan? Ini yang perlu kita kritisi.

Bila investor yang mengelola hanya berorientasi bisnis, kita patut mempertajam pengawasan publik. Bukan apanya, pembangunan fisik di kota Makassar terus berlangsung, dari mal hingga fly-over dibangun susul menyusul, tapi visi melestarikan wajah manusiawi kota, kenyamanan sarana publik yang bisa dinikmati segala lapisan warga, menjadi hal yang makin sulit ditemukan di Makassar.

Karebosi telah lama menjadi saksi pengalih-fungsian bangunan-bangunan penting yang mengelilinginya. Di sisi utara-timur ada Makassar Trade Center (MTC). Di sisi timur menara tinggi milik Bosowa Group sedang dibangun. Sisi utaranya sudah sejak lama berdiri jajaran pertokoan dan perkantoran. Satu-satunya bangunan bersejarah yang bertahan adalah gedung Pengadilan Negeri di Jalan RA Kartini.

Karebosi sendiri tidak ikut serta dalam pembangunan menderu di sekelilingnya. Perubahan masif yang terjadi di sekelilingnya diakui atau tidak, telah membuat Karebosi seperti sesuatu yang tidak menjadi bagian pembangunan kotanya sendiri. Pemkot Makassar tentu berpikir, karena sekeliling Karebosi telah mentereng, harusnya Karebosi jangan dibiarkan kumuh berdebu.

Tapi Pemkot Makassar mestinya membalikkan pertanyaan revitalisasi ini kepada diri sendiri: mengapa niat mulianya merevitalisasi Karebosi justru berbuah kecaman? Apa yang salah dalam hal ini? Walikota Makassar saya kira perlu juga memahami kondisi psikologis masyarakat kota yang trauma melihat deru pembangunan tanpa kendali. Walikota juga perlu mendengar keresahan publik.

Warga kota menyimpan trauma pembangunan bernama: kelemahan dalam perawatan dan pembangunan berkelanjutan. Revitalisasi Karebosi yang berlangsung saat ini adalah cerminan dari "budaya" kita, bahwa kita senang mengubah-ubah, senang terhadap proyek-proyek mercusuar, bangga akan bangunan-bangunan megah, haus memperdagangkan lahan dan aset, tapi tak telaten merawat.

Ambil contoh Monumen Mandala, yang letaknya tak jauh dari Karebosi. Dinding monumen itu lumutan, areal di sekelilingnya yang seharusnya bisa dimanfaatkan masyarakat sebagai ruang publik, tak digunakan maksimal. Mari tengok juga Taman Mini Sulawesi Selatan di Somba Opu, sungguh malah nasib situs budaya itu. Keresahan warga juga muncul karena tidak adanya bukti sebelumnya bahwa pihak pemerintah kita piawai dalam pengembangan dan melihara sarana publik. Membangun dan merawat adalah dua hal yang seharusnya tak terpisahkan.

Sebaliknya, bagi kelompok warga yang resah dan menangisi nasib Karebosi, ayo tunjukkan perlawanan pada kebijakan pemerintah yang dinilai merugikan rakyat, tunjukkan bukti apa saja hal yang dinilai tidak sehat pada proses revitalisasi Karebosi ini. Penyadaran masyarakat atas masalah perkotaan ini hendaknya jangan hanya di kelompok diskusi terbatas (di kampus, mailing-list di internet, atau di warung kopi).

Harus adalah langkah nyata dan padu dari warga, LSM, media dan kelompok independen. Kalau kita memang prihatin pada Karebosi, ayo kita bergerak. Paling tidak, langkah minimal yang bisa dilakukan dalam waktu dekat adalah mengimbangi dua poster propaganda yang tertempel di pagar proyek sekeliling Karebosi, berbunyi: “Jika tak direvitalisasi Karebosi akan pasrah terus terhadap "bosi" (hujan) alias selalu banjir; setelah revitalisasi, wajah Karebosi akan "seperti ini" (merujuk pada gambar desain revitalisasi). (p!)


Argumen Pemkot Makassar, mengapa Karebosi direvitalisasi.
Foto: Muhammad Ridwan Alimuddin.



Pengerukan yang tengah berlangsung.
Foto: Muhammad Ridwan Alimuddin.



Alat berat yang beraksi.
Foto: Muhammad Ridwan Alimuddin.



Sekelilingnya ditutupi seng dan poster penjelasan revitalisasi.
Foto: Muhammad Ridwan Alimuddin.



Satu demi satu bangunan dirubuhkan.
Foto: Muhammad Ridwan Alimuddin.



Patung Ramang, pesebak bola legendaris, masih menjadi saksi.
Foto: Muhammad Ridwan Alimuddin.



Janji Walikota. Akankah ditepati?
Foto: Muhammad Ridwan Alimuddin.


*Citizen reporter Muhammad Ridwan Alimuddin dapat dihubungi melalui email sandeqlopi@yahoo.com

| Beri Komentar| Jumlah Komentar (7) |

Komentar :

14-06-2008
Dari : Nasionalisme tanpa Menghakimi | relawan99mks@.gmail.com
Dikutip oleh Relawan99 (Nurmal Idrus ) Kamis (15/5) sore, kita disuguhi sebuah tontonan menarik nan heroik ketika Pia Zebadiah Cs, secara dramatis menyingkirkan Tim Jerman dengan skor 3-1 di babak Semifinal Piala Uber, di Jakarta. Target semifinal yang dibebankan kepada mereka terlampaui dengan maju ke babak final. Betul-betul heroik. Inilah nasionalisme yang sesungguhnya. Kata yang selalu dibanggakan oleh banyak orang tetapi dengan tindakan yang tak jelas, dipertontonkan oleh srikandi-srikandi ini. Nasionalisme yang nyata, membawa keharuman bagi negeri ini. Disaat mereka berjuang mati-matian membela nama Indonesia, di lain sisi banyak dari kita yang tak memahami arti nasionalisme itu. Malah, para politikus itu lebih banyak mengeritik dan terkesan menjelek-jelekkan negeri ini dan daerah mereka sendiri. Dalam konteks jelang Pilwali Makassar, nasionalisme itu seperti sudah terkotori dengan banyak sekali kampanye negatif yang tujuannya untuk saling menjatuhkan. Tak ada lagi kecintaan dan kebanggaan pada daerah kita ini. Persoalan-persoalan perkotaan yang dipolitisir dan dibuat dramatis menjadi bagian dari kampanye negatif. Seakan-akan, tak ada lagi kerja-kerja bagus dari pemerintah kota. Semua yang dilakukan pemerintah kota seolah-olah salah dan hanya kemudaratan yang terjadi. Kemiskinan dipolitisir, dengan mengapungkan isu kelaparan sebagai jualan kampanye. Sungguh sebuah cara-cara yang tak fair dalam upaya mencapai kemenangan. Padahal, selama ini kita hidup dan makan di kota ini. Kita tak bisa memungkiri kita termanjakan dengan kemajuan kota ini. Semua bisa didapat dengan mudah, terutama mereka yang punya duit seperti para penggiat kampanye negatif itu. Bertahun-tahun, kita menikmati kemewahan itu dan mengabaikan banyak warga lain yang tertindas. Maka, sungguh sebuah keironian ketika kemudian ada di antara mereka yang tiba-tiba menjadi pahlawan kesiangan, untuk memberantas kemiskinan. Pertanyaaan sekarang, mengapa baru saat ini mereka berteriak-teriak untuk hal itu. Padahal, bertahun-tahun kemiskinan itu menjadi pemandangan sehari-hari. Lalu, mengapa baru sekarang mereka mau mengurusinya. Maka, jangan pernah disalahkan jika ada yang menyatakan bahwa semua itu karena adanya maksud tersembunyi. Karena sebuah tujuan singkat, meraih kekuasaan. Sesungguhnya, cara-cara seperti itu adalah cara-cara yang tak diridhai karena dilakukan dengan tidak fair.

05-06-2008
Dari : Relawan99 | relawan99mks@gmail.com
Antaranggota Pemuda Pancasila Bentrok di Depan Rumah Walkot Buat halaman ini dalam format PDF Cetak halaman ini KESRA--17 OKTOBER: Bentrokan antaranggota Pemuda Pancasila pecah di depan rumah jabatan Walikota Makassar di Jl Penghibur, Makassar, Rabu (17/10) pukul 13.05 wita. Bentrokan itu diwarnai adu mulut dan aksi saling lempar batu antara dua kelompok. Akibatnya, satu orang terluka karena dikeroyok pendukung salah satu kelompok dan kaca depan sebuah mobil Daihatsu Espass pecah terkena lemparan baru kedua kubu yang bertikai. Dua kelompok Pemuda Pancasila yang bertikai ini adalah Pemuda Pancasila yang koordinir Diza Rasyid Ali berhadapan dengan Pemuda Pancasila yang dikoordinir Susuman Halim. Kelompok Diza adalah kelompok yang menolak revitalisasi Lapangan Karebosi, Makassar, sementara kelompok Susuman Halim adalah kelompok yang mendukung semua kebijakan Walikota Makassar, termasuk revitalisassi Lapanagan Karebosi tersebut. Sebelum terjadi bentrokan di depan rumah Walikota Makassar Ilham Arif Sirajuddin, Pemuda Pancasila yang dikoordinir Diza berunjuk rasa dan membongkar semua pagar seng yang baru dibuat sehari sebelumnya sebagai pertanda dimulainya revitalisasi lapangan karebosi, Makassar yang terletak tepat di jantung Kota Makassar. Usai membongkar semua pagar di tepi lapangan karebosi, kelompok Diza bermaksud melanjutkan aksi di depan rumah jabatan Walikota Makassar. Setiba di rumah itu, kelompok Diza disambut orasi kelompok Susuman yang menyesalkan permintaan ganti rugi oleh Diza karena revitalisasi lapangan karebosi tersebut. "Tidak ada alasan Diza meminta ganti rugi, lapangan yang mereka gunakan sekarang itu bantuan Walikota, bukan milik pribadi. Jadi permintaan itu tidak masuk akal," jelas Susuman. Mendengar ucapan tersebut, kelompok Diza geram, dan pecahlah bentrokan tersebut. Tapi kemudian bentrokan tersebut dapat dihentikan oleh sejumlah Polisi Pamong Praja yang berjaga di rumah Walikota Makassar dan kedua kelompokpun masing-masing meninggalkan rumah jabatan Walikota. Akibatnya, kini, polisi masih berjaga-jaga di rumah jabatan walikota, karena dikhawatirkan terjadi bentrokan susulan. mo/pd)

05-06-2008
Dari : Relawan99 | relawan99mks@gmail.com
PROGRAM REVITALISASI Lap. KAREBOSI TUJUAN : Memperbaiki Lapangan Karebosi SEBAB pada musim hujan BANJIR & musim Kemarau Penuh dengan DEBU serta pada malam hari dipenuhi dengan MAKSIAT (waria), HASILNYA : Sangat MEGAH, CANTIK dan INDAH akan tetapi karena KURANGNYA PEMAHAMAN masyarakat, maka berbagai pandangan lahir, dimulai Protes dari kalangan OKNUM-OKNUM TERTENTU yang DAHULUNYA memakai karebosi untuk kepentingan PRIBADINYA, hingga TERKAIT dengan kepentingan PEMILIHAN WALIKOTA 2008, BIASALAH PEMBUSUKAN KAREKTER terhadap IAS, berbagai tuduhan dan fitnah ditujukan kepadanya, seperti IAS telah menjual karebosi, IAS mendapatkan sesuatu dari Investor, dan macam-macam tetapi demi kemajuan kota Makassar IAS menghadapi semua itu dengan Tenang dan Arief …. IAS tetap memberikan pemahaman yang benar dan meyerahkan semua persoalan di jalur HUKUM, dan terbukti Aparat HUKUM Polisi dan KPK tidak menemukan adanya Pelanggaran Hukum diRevitalisasi Karebosi Dijaman sekarang siapa sih yang kebal dengan HUKUM,,,,, Camat, Bupati, Gubernur sekalipun dimasukkan ke BUIH (penjara) bila terbukti melakukan korupsi. IAS hanyalah seorang Walikota Makassar, kalaupun BETUL ada pelanggaran korupsi di Revitalisasi Karebosi pasti HUKUM akan ditegakkan. TETAPI BUKTINYA ……. Revitalisasi Karebosi tetap berjalan bahkan hampir rampung tahun ini…. Semua Ini menunjukkan bahwa IAS tidak melakukan pelanggaran HUKUM, IAS hanya berkarya untuk Makassar agar kota kita bisa menjadi kota dunia yang mempunyai Icon-icon yang dapat kita banggakan sebagai kota yang maju dan berkembang .….IAS BAHKAN BERSUMPAH “Lillahi Taala, kalau saya mengharapkan sesuatu dari Pak Hasan PT. Tosan(INVESTOR). Makanya, seluruh proses ini saya lakukan SECARA TERBUKA. Tetapi apapun pengakuan IAS sebagian masyarakat tidak mengerti dan suka berASUMSI (yang disebabkan oleh oknum-oknum yang telah menyebarkan berita yang tidak benar kepada masyarakat awam,). Namun IAS sudah paham, apa yang ia lakukan benar-benar Merupakan Tanggung Jawab baginya Kepada Tuhan Di Akhirat Nanti Jika Ada Sesuatu Yang IAS Dapatkan Dari Kerja Sama Itu. Seandainya Revitalisasi Lapangan Karebosi ini tidak bertepatan dengan Pemilihan Walikota 2008 PASTI tidak sehebat ini protesnya. Tetapi karena bertepatan akan dilaksanakan PILWALI 2008 maka beberapa oknum-oknum tertentu memfungsikan momen revitalisasi karebosi ini sebagai pembusukan karakter terhadap Ilham arief Sirajuddin sabagai calon kuat yang akan kembali bertarung dipemilihan Walikota Makassar 2008, Marilah memberikan kepercayaan kepada Pemkot untuk menyelesaikan revitalisasi ini. Apa yang telah IAS lakukan TIDAK AKAN MERUSAK ESTETIKA DAN PENATAAN KOTA. INSYA ALLAH AKAN MEMBERIKAN MANFAAT YANG BESAR KEPADA KITA SEMUA DAN MASYARAKAT UMUM. Apalagi, di sana akan ada RUANG PUBLIK tampa dipungut bayaran yang disiapkan seperti lapangan softball, lapangan futsal, lapangan sepakbola, lapangan bola basket, lapangan tennis, panggung upacara, area senam, skateboard, dan helipad, area panjat dinding, playground, serta jalur pedesterian. Menciptakan Lapangan Pekerjaan sekitar 2.500 org. 3.Menambah PAD Kota Makasar CATATAN : Dahulu Revitalisasi Anjungan Pantai LOSARI pun diDEMO, tetapi setelah selesai wargapun menyadari ternyata IAS Benar Tidak ada Mall dan pungutan (bayaran) dan sangat INDAH MI LOSARI ..TA..BOS.

06-11-2007
Dari : la panre | lapanre@gmail.com
para investor membisik pemkot,jadilah proyek revitalisasi karebosi. keuntungan dibagi, setengah masuk kantong kiri, setengahnya lagi ke kantong kanan, maaf! tidak untukmu sobat. siapa yang peduli masa depan...? anda boleh protes, tapi proyek jalan terussss..... kumusnahkan image historis pantai losari yang dibangun oleh PKL sebagai restoran terpanjang didunia, dan kini kujadikan play group, karna masyarakat kota kan seperti kanak kanak. kalaupun protes, kan juga protes kanak kanak. ah...! SD Sudirman sereammi Bosowa. kan SD masih kakaknya kanak kanak. Kekuasaan ada masanya bung!, mumpung deh! jaditongko walikota punna nia ongkoso'nu.

05-11-2007
Dari : dei | diego_dong@yahoo.com
Wah, mau dong di kirimi foto Karebosi tempo doloe. Supaya kita warga Makassar tahu betul bahwa Karebosi adalah nyawa Makassar.

05-11-2007
Dari : Mustamin Al-Mandary |
Pertanyaan2 Iwan, baik yang ditujukan kepada Pak Wali, maupun yang ditujukan kepada masyarakat, harus dicarikan jawabannya. Kalau saya, bagusnya sebenarnya kita berdiskusi dengan planner dan designer Karebosi itu, bagaimana wajahnya, bagian2nya bagaimana peruntukannya; dari sisi lingkungan, apakah sudah ada study kelayakannya; dan lain2... Pasti bagus sekali kalo ini dielaborasi lebih jauh. Makasih foto2nya Iwan...

04-11-2007
Dari : Muhammad Ridwan Thahir | info@muhammadridwanthahir.com
"KEMBALIKAN KAREBOSIKU PADAKU" itulah mungkin slogan yang bisa dilontarkan buat Masyarakat Makassar yang khawatir akan nasib Karebosi kedepan. Saya banyak membaca dan melihat foto-foto Karebosi jaman dulu di Negeri Belanda ketika Karebosi betul-betul menjadi Ruang Publik Masa itu. Suasana yang romantis itu mungkin takkan pernah kembali lagi, apalagi dengan adanya revitalisasi yang mengkomersilkan Karebosi sebagai Ruang Bisnis. Mengambil contoh kota Amsterdam yang punya alun-alun tersohor di dunia "DAM" yang dikunjungi jutaan orang setiap tahunnya, karena apa? Pusat Kota Amsterdam (Centrum) dijaga utuh seperti 600 tahun yang lalu. Jadi berjalan-jalan di alun-alun itu terasa waktu berhenti ke arah 600 tahun yang lalu, penuh misteri. Suasana itu yang diminati para pengunjung DAM ini. Andaikan Pusat Kota Lama Makassar dijaga dan tidak diubah seperti 100 tahun yang lalu, mungkin suasananya akan sama kota Amsterdam sekarang. Terakhir, Jangan menangis Karebosiku, bila kembang tak mekar hari ini untukmu. Bintang Peruntungan akan datang untukmu suatu waktu kelak. Salam Musim Gugur dari Negeri Bunga Tulip dan Keju.[MRT]



 :: CITIZEN REPORTER
Makassar di Panyingkul!: Sebuah Persembahan
(Kamis, 12-07-2007)
Ayo Bergabung di Panyingkul!
(Minggu, 29-04-2007)
Catatan Sederhana Para Citizen Reporter
(Selasa, 31-10-2006)
Tentang Citizen Reporter dan Rubrik di Panyingkul!
(Rabu, 11-10-2006)
Riuh Rendah di Panyingkul!
(Rabu, 16-08-2006)

Untitled Document
 :: DUNIA SEGIEMPAT KAREBOSI






 :: PILKADA




 :: ALBUM PUASA 2008




Untitled Document
 :: KONTAK TIM PANYINGKUL!

Email Redaksi :

redaksi@panyingkul.com

Tim:
yus@panyingkul.com
+62 813 226 80844

Moch. Hasymi
+62 811 955 954


© Juni 2006 - Panyingkul.com All Rights Reserved
Desain Web : Nesia Andriana -- Supported by: Yuhardin