Untitled Document
 


Untitled Document
.KITAKITA
:: Jika Anda di Panyingkul ::
 
 KABAR KITA
 
 BERANDAKITA
Kegilaan, Dari Cinta Mati di Pulau Rajuni Hingga Riwayat Kadang
:: Ivan Firdaus ::
Baba Guru, Mengenang Film Rhoma Irama di Klenteng Galesong
:: Kamaruddin Azis ::
Mengagumi Tenun Troso, Mengenang Tenun Sengkang
:: Suryadin Laoddang ::
Perempuan Besi di Gunung Perak (2-selesai)
:: M. Aan Mansyur ::
Perempuan Besi di Gunung Perak (1)
:: M. Aan Mansyur ::
 
 RISETKITA
Rasa Takut : Yang Dicitrakan, Yang Dipelihara
:: Aria W. Yudhistira ::
Risetkita: Pramoedya versus Sejarah Resmi
:: Nurhady Sirimorok ::
Hikayat Rumpon Nelayan Mandar
:: Muhammad Ridwan Alimuddin ::
Di Makassar Pernah Ada “Negeri Wajo”
:: Nurhady Sirimorok ::
Surat Itu Ditulis Upas kepada September
:: Nurhady Sirimorok ::
 
 BUKUKITA
 
 KATAKOTAKITA
Kenapa si Gondrong yang Maju?
:: Ivan Firdaus dan Mustamin al-Mandary ::
Karena ‘Rewa’ Badan Binasa
:: Sudirman Nasir ::
Yang Okkot, yang Salah Sambung
:: Nursamsu danTusiana Noor Alfisyahr ::
Kandala`ka`, Kusta Bila Dusta
:: Panyingkul ::
Ayo, Si(ng)kat Terussss..!
:: Panyingkul! ::

 
 TAHUKAHKITA
 

.
 ::
Senin, 12-11-2007 
Revitalisasi Karebosi
Mengurai Kekusutan Sang Nol Kilometer
:: Mustamin al-Mandary ::


Masterplan Karebosi yang menang sayembara.
Foto: Koleksi PT Lintas Cipta Desain.


Revitalisasi Karebosi menjadi kontroversi. Suara deru alat berat yang mulai sibuk mengeruk tanah lapangan di jantung kota Makassar itu, sekencang deru kekhawatiran yang berkembang di ruang-ruang diskusi publik. Setelah direvitalisasi, akankah Karebosi tetap menjadi ruang publik yang gratis bagi seluruh lapisan masyarakat? Akankah Karebosi beralih fungsi menjadi sentra komersil semata, sebagaimana kecenderungan pembangunan kota yang terjadi selama ini? Citizen reporter Mustamin al-Mandary yang bermukim di Balikpapan, juga menggelisahkan Karebosi. Kegelisahannya itu yang menjadi inspirasi baginya untuk melakukan wawancara independen dan pengamatan seputar masalah revitalisasi alun-alun yang merupakan nol kilometer Makassar ini. (p!)
 
Saat ini, lapangan Karebosi yang dianggap sebagai salah satu ruang publik yang paling luas di Makassar, sedang direvitalisasi. Walaupun rencana revitalisasi ini sudah disampaikan oleh pemerintah kota pertengahan tahun 2006 yang lalu, namun respon masyarakat justru baru muncul pada saat pekerjaan revitalisasi itu mulai dilakukan. Sekelompok masyarakat sempat turun ke jalan bulan Oktober lalu, untuk memprotes pekerjaan ini. Akan tetapi, muncul pertanyaan, mengapa protes itu baru dilakukan sekarang? Bahkan diskusi mengenai masalah revitalisasi ini semakin memanas ketika muncul anggapan bahwa ratusan LSM di kota Makassar, yang semestinya melakukan proses kontrol dan menjadi mitra masyarakat dalam mengkritisi kebijakan pemerintah, dianggap tidak melakukan apa-apa.

Bukan sekadar menghentikan banjir?
Dalam beberapa tahun terakhir, lapangan Karebosi sering mengalami banjir jika musim hujan. Pada kondisi banjir yang paling parah, seluruh permukaan lapangan bisa tergenang dan lapangan berubah menjadi danau. Hal ini diakibatkan karena lapangan Karebosi, menurut pengukuran terakhir tahun 2006, berada pada elevasi antara minus 50 – minus 80 cm dari permukaan jalan. Hal lain yang memperparah kondisi ini adalah lapangan Karebosi sendiri diapit oleh jalan raya serta bangunan-bangunan tinggi di keempat sisinya, sehingga air hujan tumpahnya ke lapangan Karebosi. Dengan saluran pembuangan yang ada sekarang, praktis volume air hujan yang cukup tinggi di musim hujan, khususnya di bulan Nopember sampai Januari, bisa menenggelamkan seluruh permukaan lapangan, belum lagi jika hujan deras bersamaan dengan saat pasang permukaan air laut.

Karena itulah, pemerintah kota Makassar berniat melakukan perbaikan. Akan tetapi pemerintah terbentur dengan biaya yang tidak sedikit. Pada rencana pertama, pemerintah ingin menawarkan pekerjaan ini kepada investor, tetapi tentu saja tidak akan ada yang berminat karena tidak adanya nilai ekonomis sebagai return.

Akhirnya pemerintah melakukan sayembara desain revitalisasi lapangan Karebosi pada pertengahan tahun 2006, dengan tujuan mencari masterplan yang jadi acuan pemerintah kota serta diharapkan bisa menggaet investor.

Sayembara ini dimenangkan oleh PT Lintas Cipta Desain (PTLCD) yang memanfaatkan lahan bawah tanah seluas 2,9ha di sisi utara Karebosi 85% sebagai tempat parkir dan 15% sebagai tempat aktivitas ekonomi. Pada presentasi desain di hadapan Walikota Makassar yang dihadiri oleh wakil presiden, Jusuf Kalla, mengemukan keinginan agar pekerjaan ini secepatnya bisa diselesaikan.

Sederhananya, revitalisasi lapangan Karebosi akan menaikkan elevasi lapangan sekitar 40 – 60 cm dari permukaan jalan. Rencana ini akan memanfaatkan metode cut and fill di mana tanah di bawah lapangan akan digunakan untuk menimbun permukaan.

Akan tetapi, desain awal tidak menarik investor karena investasi parkir bawah tanah jauh lebih mahal dibandingkan parkir di atas bangunan sementara alokasi 15% area bawah tanah sebagai tempat aktivitas ekonomi terlalu sedikit. Untuk itulah, desain akhirnya diubah dengan memperluas area aktivitas ekonomis menjadi 40%. Adapun area 60% lainnya akan digunakan sebagai tempat parkir yang akan menampung sekitar 800 kendaraan roda empat, termasuk tempat naik dan turunnya penumpang pete-pete untuk trayek yang melalui jalan Sudirman sehingga diharapkan kemacetan di jalan ini bisa dikurangi.

Seperti yang disampaikan Ihsan Imawan dari PTLCD, praktis tidak ada perubahan akses di permukaan lapangan Karebosi nanti. Penjelasan ini menjawab kemungkinan adanya pembatasan akses publik jika tempat aktifitas ekonomi bawah tanah sudah selesai. “Bahkan, dengan revitalisasi ini, permukaan lapangan Karebosi yang selama ini jarang dimanfaatkan karena tidak terawat dan tidak layak, akan diubah menjadi berbagai sarana olahraga dan aktivitas publik lainnya,” papar alumnus Fakultas Teknik Unhas ini.


Bukan sekadar agar tak banjir lagi?.
Foto: Koleksi PT Lintas Cipta Desain.


Kontroversi di Tengah Masyarakat
Salah satu keberatan masyarakat terhadap revitalisasi lapangan Karebosi muncul dari kekhawatiran adanya kemungkinan tempat ini tidak akan bisa lagi dijadikan sebagai ruang publik. Taufik dari Wahana Lingkungan Hidup (Wallhi) Makassar, menekankan bahwa ruang publik seharusnya tidak digabungkan dengan ruang komersil. Dari sisi sejarah, revitalisasi lapangan Karebosi yang di areanya terdapat tujuh kuburan keramat juga menimbulkan kecemasan tersendiri, khususnya masyarakat yang mensakralkan kuburan itu dengan alasan masing-masing.

Dari sisi prosedur, proses tender pekerjaan revitalisasi Karebosi juga dipertanyakan. Ada anggapan bahwa pekerjaan ini dilakukan dengan penunjukan langsung kepada PT Tosan (PTT) milik Bang Hasan yang juga pemilik Makassar Trade Center (MTC). Lebih jauh bahkan ditengarai adanya kemungkinan “kerja sama” dengan group Bosowa yang sebentar lagi membangun menara pencakar langit di salah satu sisi Karebosi, tetapi tidak memiliki lahan parkir yang cukup di tempat itu.

Karena itulah, Walhi Makassar yang juga memayungi LBH berencana melakukan legal standing mengenai revitalisasi Karebosi. Seperti yang disampaikan Taufik, mereka akan mempertanyakan kebijakan pemerintah dalam masalah ini khususnya yang berhubungan dengan tata ruang, lingkungan hidup dan transparansi proses tender proyek. Sampai saat ini, Walhi sendiri belum menerima dokumen Amdal yang semestinya sudah harus rampung sebelum pekerjaan dilakukan.

Rawan dan Hati-hati
Akan tetapi, masalah Karebosi mulai merambah ke wilayah politik, demikian diakui beberapa tokoh Ormas dan LSM di Makassar yang bergerak di bidang hukum dan pembangunan kota. Ketika terjadi demonstrasi dari salah satu organisasi pemuda menentang revitalisasi yang nyaris menimbulkan bentrok fisik beberapa waktu yang lalu, beberapa LSM mengatakan tidak ingin turun ke jalan bersama demonstran itu karena mereka menganggap ada unsur politik yang cukup kental dalam aksi itu.

Namun di sisi yang lain, sejumlah LSM Makassar juga menyadari bahwa “diam”nya mereka justru akan menguntungkan kekuatan politik lain yang mendukung revitalisasi Karebosi. Oleh karena itu, sebagian besar mereka berhati-hati untuk mengambil sikap praktis karena kompleksitas masalah ini di mata mereka.

Perlu pula digarisbawahi disini bahwa walaupun terdapat banyak LSM di Makassar, namun bidang yang mereka kerjakan juga beragam. Seorang tokoh LSM mengakui bahwa mereka tidak ingin terlibat secara langsung dalam reaksi ini karena memang bidang pekerjaan mereka tidak berhubungan langsung dengan masalah ini. Akan tetapi, ia menegaskan bahwa jika sekiranya ada LSM yang bergerak langsung di bidang ini ingin melakukan protes secara hukum, forum LSM Makassar akan memberikan dukungan penuh dan menunjukkan solidaritas.

Klarifikasi
Ihsan dari PTLCD ketika dimintai tanggapan atas reaksi masyarakat dan aktivis LSM, , menyatakan cukup kaget. Ihsan menjelaskan bahwa dari awal mereka terlibat dalam desain ini dan tim penilai dalam lomba desain itu adalah tim yang terdiri wakil pemerintah, lembaga konsultan independen dan LSM. Bahkan pada saat desain mereka terpilih, Ihsan beberapa kali menulis di media lokal dengan harapan ada tanggapan, namun ternyata tidak ada kecuali beberapa tanggapan positif dari pelaku ekonomi yang mendukung upaya itu, semisal Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI). Sebagai tambahan, pemanfaatan ruang bahwa tanah di Karebosi bukanlah yang pertama, tetapi desain itu sebenarnya sudah ada di tempat lain semisal gelanggang pemuda dan olahraga Soemantri di Kuningan Jakarta dan lapangan Merdeka di Kuala Lumpur di Malaysia.

Menanggapi dokumen amdal yang belum lengkap, Ihsan mengatakan bahwa amdal lalu lintas sebenarnya sudah diselesaikan oleh investor yang memenangkan pekerjaan ini dan dari sisi penilaian mereka, tidak ada masalah. Adapun amdal yang diminta oleh Walhi, memang belum selesai. Namun demikian, Inkindo (asosiasi konsultan) yang dirujuk PT Tosan mengatakan bahwa mereka bisa melanjutkan pekerjaan dan dokumen amdalnya dapat disusulkan kemudian.

Soal Tender
Mengenai proses tender, Ihsan mengatakan bahwa tender dilakukan dua kali melalui pemuatan iklan di Media Indonesia dan Ujungpandang Express. Hal ini dilakukan karena pada saat tender pertama, yang mengajukan penawaran hanya satu bidder yakni PT Tosan itu. Namun pada saat sampai pada saat tender kedua penawaran tetap hanya satu bidder, akhirnya diputuskan untuk menyerahkan pekerjaan ini kepada PT Tosan.

Akan tetapi, Taufik dari Walhi mengatakan bahwa sebenarnya dia sudah beberapa kali memberikan tanggapan, bahkan sudah mengirimkan tulisan kritik revitalisasi Karebosi ini sekitar Oktober 2006 lalu ke beberapa harian lokal, tetapi tidak satupun media yang memuatnya. Karenanya, dia menengarai bahwa kemungkinan ada unsur kesengajaan tidak dimuatnya kritik itu. Lembaganya sendiri sudah beberapa kali meminta waktu bertemu dengan pemerintah kota untuk menyampaikan komentar, tetapi mereka belum pernah diberikan waktu sampai penunjukan pelaksana revitalisasi ini.

Beberapa Catatan
Kelihatannya, rencana awal proyek revitalisasi Karebosi tidak tersosialisasi dengan baik. Ini terlihat dari tidak sampainya desain dan rencana pemerintah kota dalam pekerjaan ini. Dalam pandangan penulis, ada dua hal yang mungkin jadi masalahnya; bisa jadi pemerintah tidak memaksimalkan sosialisasi itu, atau mungkin masyarakat tidak terlalu peduli dengan rencana ini ketika pertama kali digulirkan. Pemuatan rencana dan sosialisasi proyek di koran lokal tentu menjadi cara yang efektif, tetapi harus disadari bahwa tidak semua warga membaca koran (yang sama). Di sisi lain, semestinya masyarakat memberikan reaksi dan pandangan dari awal sehingga bisa diakomodir pemerintah dengan memanfaatkan semua saluran yang ada.

Di sinilah pentingnya fungsi dan netralitas media massa. Dugaan Taufik mengenai ketidaknetralan media massa dalam hal ini mungkin saja benar, tetapi media massa, khususnya cetak, bukan satu-satunya saluran. Itulah sebabnya, banyak pihak yang menyesalkan mengapa reaksi beberapa elemen masyarakat baru muncul sekarang justru saat pekerjaan sudah mulai dilakukan.

Hal yang cukup positif adalah bahwa PTLCD ditugaskan untuk mengawal quality control and quality assurance sampai proyek ini selesai. Memang masterplan revitalisasi Karebosi didesain oleh mereka, tetapi detail pemanfaatan ruang komersil sebesar 40% di bawah Karebosi serta Detail Engineering Design dikerjakan oleh investor. Namun demikian, PTLCD tetap memiliki wewenang untuk melakukan review dan berhak menolak rancangan yang menyalahi masterplan.

Sebagai contoh, ketika investor memberikan desain awal ruang bawah tanah yang dibuat oleh PT Arkonin, PTLCD memberikan komentar untuk perbaikan tata udara dan tata cahayanya.

Selain itu, Ihsan mengakui bahwa mereka aktif berdiskusi dengan semua pihak, termasuk LSM, dalam menjalankan tugas mereka dalam proyek ini. Dengan demikian, penulis menganggap bahwa PTLCD bisa menjadi saluran. Seperti halnya saat penulis menanyakan nasib tujuh makam yang berada di lapangan Karebosi, Ihsan menjelaskan bahwa pertengahan Nopember ini akan dilakukan pertemuan dengan keturunan raja-raja Tallo yang dianggap sebagai ahli waris untuk mendiskusikan cara terbaik melestarikan situs ini. Sebenarnya, sesuai dengan desain PTLCD, tujuh makam itu akan dipertahankan di tempat semula, tetapi akan tetap diangkat karena tempatnya akan ditinggikan. Namun demikian, detail pelaksanaannya akan ditentukan oleh ahli waris pemilik makam itu.

Transparansi pelaksanaan pekerjaan ini juga sangat penting. Pemerintah maupun elemen masyarakat Makassar harus sama-sama aktif agar komunikasi dua arah bisa interaktif. Dalam konteks inilah penulis mendukung upaya legal standing yang akan dilakukan oleh Walhi Makassar. Dengan munculnya respon masyarakat yang sebagiannya cenderung negatif, itu sudah cukup menjadi bukti bahwa komunikasi seluruh stakeholder proyek ini, di mana masyarakat juga termasuk di dalamnya, tidak berjalan efektif.

Setiap proyek mestinya dilengkapi dengan dokumen yang lengkap, khususnya studi kelayakan tentang dampak proyek tersebut kepada masyarakat dan lingkungan. Dari sisi project management yang modern, belum lengkapnya amdal pada saat pekerjaan mulai dilakukan, bisa dianggap cacat. Amdal adalah salah satu dokumen yang sangat penting untuk menilai laik tidaknya proyek tersebut. Walaupun mungkin secara legal hal ini dibolehkan, akan tetapi sequence eksekusi proyek yang umum adalah didahulukannya semua dokumen studi kelayakan dan detail desain sebelum pekerjaan pisik dilakukan. Mengapa itu diperlukan? Karena seluruh saran dan komentar harus dirujukkan kepada dokumen-dokumen itu.

Proyek ini tentu saja profitable; karena kalau tidak, tidak akan ada investor yang mau mengerjakannya. Secara mikro, kehadiran tempat komersil di ruang bawah tanah Karebosi juga pasti ikut menggeliatkan aktivitas ekonomi. Namun demikian, kekhawatiran masyarakat bahwa pada akhirnya semua fasilitas yang dibangun dipermukaan Karebosi tidak akan terawat seiring berjalannya waktu sebagaimana yang terjadi di tempat-tempat lain, juga harus dijawab oleh pemerintah. Masyarakat tentu tidak mau jika pada akhirnya Karebosi tidak lagi menjadi ruang publik dan akses masuk ke dalamnya sudah harus dibayar hanya untuk membiayai perawatannya. Jika hal ini terjadi, Karebosi seluruhnya akan berubah menjadi ruang komersil.

Semua pihak masih harus bekerja. Elemen masyarakat harus menggunakan fungsi kontrolnya untuk mengawal kebijakan pemerintah. Dalam kasus Karebosi, transparansi adalah keharusan dan sikap kritis masyarakat sangat diperlukan, maka marilah kita memanfaatkan peran masing-masing secara maksimal untuk menjaga Karebosi tetap menjadi milik warga dan bukan hanya menjadi ladang uang bagi pengusaha saja. Bukankah masyarakat Makassar yang menjadi pemilik sah Karebosi? (p!)

*Citizen reporter Mustamin al-Mandary dapat dihubungi melalui email mustamin.almandary@gmail.com

| Beri Komentar| Jumlah Komentar (17) |

Komentar :

20-10-2008
Dari : GOLPUT | GOLPUT@KAPITALISME.COM
DILARANG KAMPANYE BUNG DISINI. PROGRAM IASMO YANG TELAH DILAKSANAKAN ADALAH PROGRAM DARI PUSAT. JADI BIAR TIDAK ADA IAS AKAN JALAN JUGA ITU JALAN TOL, ANJUNGAN, BANDARA DAN LAIN

12-09-2008
Dari : KAREBOSIku |
KAREBOSIku sayang KAREBOSIku malang lihat disini http://www.mail-arch ive.com/cikeas@yahoo groups.com/msg09259. html

04-09-2008
Dari : Acho | http://idial-care.we.bs/
Diamana semua itu uang rakyat kah?, kenapa tidak dipake untuk memperbaiki KAREBOSI tanpa ada bangunan... apakah ada udang dibalik batu?

10-07-2008
Dari : jay | jay_mksr@yahoo.com
Revitalisasi atau komersialisasi ???

15-06-2008
Dari : 9 ALASAN MEMILIH IASmo = ILHAM SUPOMO | relawan99mks@.gmail.com
SAN MEMILIH IAS 1.PROGRAM Pendidikan Bersubsidi Penuh (PENDIDIKAN GRATIS) TUJUAN : Meng-GRATIS-kan PENDIDIKAN untuk MEMBANGUN MUTU & Sumber Daya Manusia Warga Kota Makasssar dan membantu Masyarakat Miskin agar dapat bersekolah. HASILNYA : tahun 2006, 15 sekolah telah di GRATISkan & Thn 2008 ini, ditingkatkan menjadi 48 sekolah GRATIS dan pada thn 2009 semua sekolah sudah dapat diGRATISkan. 2. PROGRAM PELAYANAN KESEHATAN GRATIS. TUJUAN : Memberikan Pelayanan Kesehatan Dasar GRATIS. HASIL : thn 2006 sebanyak 37 Puskesmas diMakassar telah melaksanakan Pelayanan Kesehatan (berobat) tampa dipungut Bayaranbagi warga miskin kota Makassar. SERTA GRATIS Rawat INAP Kelas3 diRS tipe C Daya karena RS ini satu-satunya RS milik Pemerintah Makassar. SERTA Membuat Puskesmas Khusus untuk penderita HIV/AIDS diMakassar 2008 3. PROGRAM PEMBANGUNAN FLY OVER (Jalan Lingkar) TUJUAN : Mengatasi kemacetan Arus lalu lintas dijalur utama Makassar targetnya selesai Akhir thn 2008 HASILNYA : Mendapat Penghargaan WAHANA TATA NUGRAHA (kota tertib lalu lintasnya). 4. PROGRAM PEMBANGUNAN RAMAH LINGKUNGAN (RUSUNAWA) Membangun Rumah Susun Sederhana (RUSUNAWA) yang Ramah Lingkungan dimulai dikecamatan mariso dan dikawasan industri Kel. Kapasa Kec. Biringkanayya. Tujuan : Agar Masyarakat Miskin mendapat hunian yang layak, sekaligus mencegah tumbuhnya wilayah kumuh, HASILNYA : Mendapatkan penghargaan SISTEM PENANGANAN KUMUH SECARA NASIONAL dari Pemerintah Republik Indonesia, 5. PROGRAM PEMBANGUNAN TRANS STUDIO and RESORT Konsep ini adalah yang pertama diIndonesia, Lokasi di Tanjung Bunga akan Membangun Arena Hiburan Indoor, Hotel, Perkantoran, Supermaket,Marina Kafe, dan Tempat Rekreasi Pantai,(mengalahkan ANCOL), Pembangunan pertama adalah THEME PARK (arena hiburan berisi ruang-ruang hiburan dgn 20 tema hiburan salahsatu tema ruangan yaitu kita dapat merasakan suasana sedang mengalami bencana SUNAMI. seperti kejadian bencana di Aceh 6. PROGRAM REVITALISASI ANJUNGAN LOSARI & CIBER CITY Tujuan : Memperbaiki, Memper-INDAH dan memberikan Space Publik yang GRATIS bagi warga sekaligus mem berikan sebuah Icon baru kota Makassar. HASILNYA : setiap hari Anjungan Pantai Losari yang Megah & Indah ramai dikunjungi warga Makassar untuk bersantai sambil meNikmati pemandangan Sunset disore hari, ditambah dengan fasilitas GRATIS BER INTERNET, kerjasama Ilham dan PT. Telkom dgn nama Losari Ciber City. 7. PROGRAM REVITALISASI Lap. KAREBOSI TUJUAN : Memperbaiki Lapangan Karebosi SEBAB pada musim hujan BANJIR & musim Kemarau Penuh dengan DEBU serta pada malam hari dipenuhi dengan MAKSIAT (waria), HASILNYA : Sangat MEGAH, CANTIK dan INDAH akan tetapi karena KURANGNYA PEMAHAMAN masyarakat, maka berbagai pandangan lahir, dimulai Protes dari kalangan OKNUM-OKNUM TERTENTU yang DAHULUNYA memakai karebosi untuk kepentingan PRIBADINYA, hingga TERKAIT dengan kepentingan PEMILIHAN WALIKOTA 2008, BIASALAH PEMBUSUKAN KAREKTER terhadap IAS, berbagai tuduhan dan fitnah ditujukan kepadanya, seperti IAS telah menjual karebosi, IAS mendapatkan sesuatu dari Investor, dan macam-macam tetapi demi kemajuan kota Makassar IAS menghadapi semua itu dengan Tenang dan Arief …. IAS tetap memberikan pemahaman yang benar dan meyerahkan semua persoalan di jalur HUKUM, dan terbukti Aparat HUKUM Polisi dan KPK tidak menemukan adanya Pelanggaran Hukum diRevitalisasi Karebosi Dijaman sekarang siapa sih yang kebal dengan HUKUM,,,,, Camat, Bupati, Gubernur sekalipun dimasukkan ke BUIH (penjara) bila terbukti melakukan korupsi. IAS hanyalah seorang Walikota Makassar, kalaupun BETUL ada pelanggaran korupsi di Revitalisasi Karebosi pasti HUKUM akan ditegakkan. TETAPI BUKTINYA ……. Revitalisasi Karebosi tetap berjalan bahkan hampir rampung tahun ini…. Semua Ini menunjukkan bahwa IAS tidak melakukan pelanggaran HUKUM, IAS hanya berkarya untuk Makassar agar kota kita bisa menjadi kota dunia yang mempunyai Icon-icon yang dapat kita banggakan sebagai kota yang maju dan berkembang .….IAS BAHKAN BERSUMPAH “Lillahi Taala, kalau saya mengharapkan sesuatu dari Pak Hasan PT. Tosan(INVESTOR). Makanya, seluruh proses ini saya lakukan SECARA TERBUKA. Tetapi apapun pengakuan IAS sebagian masyarakat tidak mengerti dan suka berASUMSI (yang disebabkan oleh oknum-oknum yang telah menyebarkan berita yang tidak benar kepada masyarakat awam,). Namun IAS sudah paham, apa yang ia lakukan benar-benar Merupakan Tanggung Jawab baginya Kepada Tuhan Di Akhirat Nanti Jika Ada Sesuatu Yang IAS Dapatkan Dari Kerja Sama Itu. Seandainya Revitalisasi Lapangan Karebosi ini tidak bertepatan dengan Pemilihan Walikota 2008 PASTI tidak sehebat ini protesnya. Tetapi karena bertepatan akan dilaksanakan PILWALI 2008 maka beberapa oknum-oknum tertentu memfungsikan momen revitalisasi karebosi ini sebagai pembusukan karakter terhadap Ilham arief Sirajuddin sabagai calon kuat yang akan kembali bertarung dipemilihan Walikota Makassar 2008, Marilah memberikan kepercayaan kepada Pemkot untuk menyelesaikan revitalisasi ini. Apa yang telah IAS lakukan TIDAK AKAN MERUSAK ESTETIKA DAN PENATAAN KOTA. INSYA ALLAH AKAN MEMBERIKAN MANFAAT YANG BESAR KEPADA KITA SEMUA DAN MASYARAKAT UMUM. Apalagi, di sana akan ada RUANG PUBLIK tampa dipungut bayaran yang disiapkan seperti lapangan softball, lapangan futsal, lapangan sepakbola, lapangan bola basket, lapangan tennis, panggung upacara, area senam, skateboard, dan helipad, area panjat dinding, playground, serta jalur pedesterian. Menciptakan Lapangan Pekerjaan sekitar 2.500 org. 3.Menambah PAD Kota Makasar CATATAN : Dahulu Revitalisasi Anjungan Pantai LOSARI pun diDEMO, tetapi setelah selesai wargapun menyadari ternyata IAS Benar Tidak ada Mall dan pungutan (bayaran) dan sangat INDAH MI LOSARI ..TA..BOS. . 8. PROGRAM PEMBANGUNAN a. Pembangunan CCC. di Tanjung Bunga,2006 b. RUNWAY (Landasan Pacu) untuk Take Off dan Landing Pesawat.2008 c. Makassar PUSAT INDUSTRI KAPAL. (Kesepakatan 15 Walikota se KTI). d. Kerjasama dengan Walikota Costanta (Rumania) Tujuan : Kerjasama SISTER CITY (kota kembar) Rumania Investasi dibidang Industri dan perdagangan, Infastruktur, pariwisata & kebudayaan. 2008 e. e-Government Kerjasama dengan Kota Seongnam(Korsel). Pertukaran Bu daya & Pengembangan SDM kedua Kota.2008 f. Kerjasama dengan Jepang & Australia Untuk mengolah Sampah, Sampah jadi Kompos digarap australia & Gas Metan diolah oleh Jepang, 2008. g. Pelebaran Jalan Poros Makassar h. Pembuatan Jalan TOL. 9. PROGRAM-PROGRAM SOSIAL (yang telah berjalan) a. Program Makassar Bersih Tujuan : Menciptakan Kota Yg BERSIH dan INDAH, Aksi Moral ini mengajak masyarakat Menjaga Lingkungan Hidup dengan cara Membuang Sampah pada tempatnya. b.Program ONLINE : Memantapkan sistem Administrasi Kependudukan dukan berbasis ICT guna meningkatkan kualitas pelayanan masyarakat.contahnya buat KTP cuman 5 menit dan tidak Pakai ANTRI lama lagi bos. c. Program Akte Kelahiran GRATIS : Membantu masyarakat Miskin dengan menerbitkan 32.500 AKTE GRATIS dimulai pada thn 2006.s/d th 2008 d. Program Gerakan Makassar Gemar Membaca : Membangun Mutu SDM serta Meningkatkan Minat Baca Masyarakat Kota Makassar, dengan Membangun 14 Perpustakaan di 14 Kecamatan. Hasilnya : Minat Baca diMakassar Meningkat 7% membuat Ibu Negara Presiden RI. Memberikan Hadiah DUA UNIT Motor Pintar Program ini pula membuat Perpustakaan Nasional Indonesia tersentak & memberikan PUSPATALOKA

15-06-2008
Dari : Gugatan Citizen Law Suite Karebosi Dito | relawan99mks@.gmail.com
Tuesday, 10 June 2008 Makassar, Pengadilan Negeri (PN) Makassar menolak gugatan Citizen Law Suite (CLS) terkait kebijakan pemerintah merevitalisasi Karebosi karena dinilai menyalahi aturan. “Berdasarkan hasil pemeriksaan dokumen serta saksi, revitalisasi Karebosi memiliki dasar hukum yang jelas. Selain itu,menunjang pembangunan, meningkatkan PAD dan didukung oleh masyarakat. Sehingga gugatan CLS atas revitalisasi karebosi dinyatakan ditolak,” kata Hakim Ketua Ohan Burhanuddin didampingi Yulman serta Syarifuddin Umar. Dia menjelaskan, dalam gugatan CLS, akibat revitalisasi Karebosi, komersialisasi telah mengubah fungsi asal lapangan itu sebagai fasilitas umum dan lapangan olahraga. Namun oleh Hakim,Ohan menyatakan,revitalis asi adalah bagian dari optimalisasi aset daerah tanpa mengubah fungsi sebenarnya.Apalagi penggugat tidak memiliki dasar yang kuat untuk menggugat dengan alasan tersebut. Pasalnya, revitalisasi belum sepenuhnya selesai. Ohan Burhanuddin yang dikonfirmasi menyatakan, berdasarkan surat-surat dan dokumen serta pemeriksaan saksi, revitalisasi Karebosi memiliki landasan hukum yang kuat.Atas rencana banding penggugat, pihaknya mendukung langkah tersebut. Apalagi CLS diatur adalah yang pertama kali di Makassar. (haryuna rahman-sin)

04-12-2007
Dari : han | barombong16@yahoo.com
saya mendukung revitalisasi-kenapa? karena dinegara ini apa yang diinginkan penguasa itu yang terjadi-padahal mayoritas rakyat sul-sel menolak rencana itu, kuburan tujua menjadi pertanda kalau KAREBOSI tidak bisa dirubah. saya menolak 100% tapi apadaya saya jadi frustasi memikirkannya karena pasti akan terus berlanjut. tidak seperti di negara barat demokrasi - kalau mayoritas menolak- selalu ada peninjauan ulang.

03-12-2007
Dari : Lembaga Advokasi & Pendidikan Anak Rakya | krmmks@yahoo.co.id
“TUNDA REVITALISASI LAPANGAN KAREBOSI” Press Release Lembaga Advokasi & Pendidikan Anak Rakyat (LAPAR) Sulsel Kebijakan Pemkot Makassar merevitalisasi lapangan Karebosi nampaknya perlu dibicarakan ulang bersama seluruh komponen kota ini, terutama warga/publik—pemkot Makassar. Sebab sampai hari ini, kelihatan bahwa terjadi sejumlah problem terkait dengan kebijakan revitalisasi lapangan Karebosi. Lembaga Advokasi & Pendidikan Anak Rakyat (LAPAR) Sulsel mencatat beberapa problem dari kebijakan revitalisasi lapangan Karebosi yang kini sedang berlangsung. problem yang dimaksud adalah, sebagai berikut: 1. Publik tidak dilibatkan dalam proses perencanaan—pengambi lan keputusan mengenai revitalisasi karebosi. 2. Dari kasus revitalisasi ini, kecenderungan yang terbaca adalah pemkot menjual ruang publik kota ini ke pihak pemodal (PT. Tosan Permai Lestari) dengan alasan revitalisasi. Dokumen Perjanjian Kerja Sama antara Pemkot Makassar dan PT. Tosan Permai Lestari dapat ditunjuk sebagai bukti disini. 3. “Revitalisasi” bermakna memaksimalkan fungsi yang pernah ada sebelumnya. Namun, revitalisasi Karebosi yang dilakukan saat ini bukan memaksimalkan fungsi, melainkan justeru merubah fungsi; dari fungsi ruang publik, menjadi fungsi ruang bisnis—komersial. 4. Pro-kontra revitalisasi yang kini berlangsung berpotensi kuat merusak tatanan sosial di kota Makassar, yang bisa diraba setidaknya adalah berputensi kuat melahirkan konflik kekerasan dilevel masyarakat bawah, karena baik pihak yang pro, maupun yang kontra dengan revitalisasi itu—keduanya membentuk kelompok massa dan aktif unjuk kekuatan. Kelompok massa yang tergabung dalam “Gilas” (Garda Ilham Arif Sirajuddin) misalnya, baru-baru ini mendatangi Kantor Balaikota Makassar untuk menyatakan dukungan terhadap kebijakan Walikota Makassar untuk melakukan revitalisasi Karebosi. Makna lanjutan berjangka panjang yang dapat ditemukan adalah, pembentukan kelompok massa oleh kubu pro dan kontra—termasuk Ilham Arif Sirajuddin—telah menanam benih konflik kekerasan ditingkat masyarakat kota Makassar. Karena itu, Lembaga Advokasi & Pendidikan Anak Rakyat (LAPAR) Sulsel mengusulkan beberapa hal sebagai berikut: 1. Tunda pembangunan revitalisasi Karebosi, karena kebijakan itu kering legitimasi sosialnya. Seharusnya Pemkot Makassar membangun konsultasi publik untuk melihat apakah publik kota ini setuju atau tidak dengan revitalisasi itu. Apalagi Karebosi bukanlah milik Walikota Makassar, tapi aset negara (publik kota adalah bahagian integral dari negara) yang pengawasannya dibawah kewenangan Pemerintah Kota. 2. Tunda pembangunan revitalisasi Karebosi, karena kebijakan itu kental kepentingan bisnisnya/komersiali sasi, dan sarat dengan kepentingan duit untuk kekuasaan. Sebab revitalisasi yang dijalankan saat ini sama sekali tidak mencerminkan arti—makna “revitalisasi” yang sesungguhnya. 3. Tunda pembangunan revitalisasi Karebosi dan hentikan mobilisasi massa untuk meraih dukukungan “pro” atau “kontra” terhadap kebijakan revitalisasi itu. Dalam kadar tertentu, mobilisasi massa berpotensi melahirkan konflik kekerasan horisontal antar sesama warga kota. Sama sekali tak ada nilai positif dari konflik seperti itu. 4. Kepada DPRD Kota Makassar agar aktif menjalankan fungsi kontrolnya, terutama dalam pelaksanaan kebijakan pembangunan Kota ini, termasuk kebijakan tentang revitalisasi Karebosi. Fungsi kontrol yang dimaksud harus digerakkan atas dasar kepentingan seluruh warga kota. 5. Kepada publik kota Makassar diserukan untuk lebih kritis melihat kebijakan-kebijakan Pemkot Makassar, termasuk kebijakan tentang revitalisasi Karebosi. 6. Kepada publik kota Makassar diserukan untuk tidak terlalu mudah dimobilisasi untuk kepentingan sesaat oleh pihak-pihak tertentu. Karena hal itu justeru malah berpotensi merusak hubungan-hubungan sosial kemasyarakatan kita yang selama ini terbangun secara normal. Makassar, 29 Nopember 2007 Lembaga Advokasi & Pendidikan Anak Rakyat (LAPAR) Sulsel ABDUL KARIM Direktur Eksekutif,-

30-11-2007
Dari : masdar | masdar_026@yahoo.co.id
setuju karebosi adalah simbol dan kebanggaan budaya bugis-makassar, jadi kalau di revitalisasi apa yang bisa dibanggakn kelak ? kasiiiaaaaannnnn.... tidak adami lagi simbolta', Jadi saya nda tau'mi apami kubilang nanti sama anak-anakku kelak, kalo mereka bertanya "apa itu karebosi ?" di mana letaknya ?" kasian kotaku apa lagi yang bisa di jadikan acuan untuk mempertahankan IDENTITAS KITA ?tanya'ma' hanya 2 kata hentikan Revitalisasi Karebosi !!!!!!!!!!!

29-11-2007
Dari : arhie_volckert | arhie_gagah@yahoo.co.id
masalah tujua kuburan yang mau dipindahkan ikuti saja caranya BONAGA di filmnya NAGABONAR 2..bags tonji itu bikin taman di sekitar kuburan itu okey

22-11-2007
Dari : rahmat ridho | rahmat_ridho2000@yahoo.com
saya tidak setuju dengan adanya revitalisasi.karene itu merupakan bentuk kapitalisme masa depan.semestinya karebosi tetap ditingkatkan tetapi tidak merubah total segala yang ada disana.

13-11-2007
Dari : LAKIPADADA | LAKIPADADA@YAHOO.CO.ID
SETELAH KAREBOSI, APA LAGI YANG MAU DIJUAL? PEMERINTAH TELAH MENGAMBIL RUANG PUBLIK KITA....(LAKIPADADA: LAMA TAK MEMBERI KOMENTAR)

13-11-2007
Dari : Hijrah Khaerana | hijrah_chubby@yahoo.co.id
Karebosi sebagai simbol dari Makassar, haruskah kita melepasnya hanya demi rupiah saja?

12-11-2007
Dari : kapitipiti | kapitipitie@yahoo.co.jp
Daripada ribut-ribut sampe bentrok, memang lebih baik seperti ini , membuat artikel dan memberi saran. Salut buat Bung Mustamin.

12-11-2007
Dari : Mustamin Al-Mandary |
Ade' Nia, saya termasuk yang menolak kuburan 7 itu dipindahkan. Saya sudah menyampaikan ini kepada Pak Ihsan. Tentang pendapat dosenta' dari sudut pandang sosioekologis, saya ingin menampiknya dari sisi sosiohistoris. Kuburan itu adalah sejarah; dan pemindahannya, atau perubahan apalah yang kita lakukan terhadapnya, akan mengikis nilai sejarahnya, minimal menggerus orisinalitasnya. Tentang kuburan di Makkah yang tidak diberi nama, sepengetahuan saya bukanji karena sosioekologis itu. Yang saya tahu, Makkah itu didominasi oleh fiqh Hanbali (yang menjadi mazhab resmi kerajaan) dan pemahaman Wahabi yang mengharamkan adanya tanda2 kuburan, bahwa kuburan harus diratakan dengan tanah. Bahkan, Wahabi dulu meratakan dengan tanah maqam pahlawan Badr dan Uhud sehingga lokasi makam itu skrg, yang sering dikunjungi oleh jamaah haji, dipertanyakan kevalidannya.======= == Tapi terus terang, saya senang dgn lay out plan PTLCD, mereka mempertahankan situs tujua (no. 16).

12-11-2007
Dari : Nia |
Tadi malam diberitakan bahwa Walikota Makassar sudah berkunjung ke Tallo sekaligus memberikan sumbangan 10 juta rupiah ke mesjid Tallo. Saya selalu berpikir negatif akan sumbangan pejabat (pemerintah) yang dipublikasi, tapi saya pikir mungkin sumbangan itu salah satu cara untuk melunakkan protes warga. Kasian, hanya dengan rupiah segalanya bisa tercapai. Menurut saya, mempertahankan kuburan itu tidak terlalu penting jika memang akan digunakan untuk sesuatu yang lebih bermanfaat. Dosen saya pernah bilang saat kuliah tentang Dinamika Sistem Sosioekologis (saat membahas topik tentang pertumbuhan penduduk dan keterbatasan area pemukiman) bahwa salah satu hikmah dari pekuburan yang ada di Mekah tidak dikasih identitas, nama dan sebagainya agar kuburan tidak dianggap sesuatu yang harus dipertahankan (entahlah dalam agama seperti apa hukumnya, saya pikir Ustadz lebih tau). Kita tinggal menunggu saja hasil revitalisasi karebosi. Semoga tidak menimbulkan masalah baru.

12-11-2007
Dari : syamsoe | syamsoe.blogspot.com
revitalisasi sudah berjalan. Sudah dalam proses pembangunan.. semoga saja berjalan dengan lancar, pro kontra memang muncul dari berbagai pihak. Terlepas dari beberapa hal yang mungkin sudah terkait keranah politik dan kepentingan bisnis lainnya, Jika memang dikemudian hari nanti ada apa2nya atau terjadi kesalahan, baik dari konsep dan pengelolaan, tentunya ini akan menjadi boomerang juga bagi mereka. Sekali lagi kita tunggu saja. Pemerintah tentu sudah mempertimbangkan dengan baik, mereka mengumpulkan beberapa orang terbaik untuk mewujudkan sebuah karebosi yang lebih representatif lagi. Akhirnya selamat datang Karebosi yang kita banggakan.



 :: CITIZEN REPORTER
Makassar di Panyingkul!: Sebuah Persembahan
(Kamis, 12-07-2007)
Ayo Bergabung di Panyingkul!
(Minggu, 29-04-2007)
Catatan Sederhana Para Citizen Reporter
(Selasa, 31-10-2006)
Tentang Citizen Reporter dan Rubrik di Panyingkul!
(Rabu, 11-10-2006)
Riuh Rendah di Panyingkul!
(Rabu, 16-08-2006)

Untitled Document
 :: DUNIA SEGIEMPAT KAREBOSI






 :: PILKADA




 :: ALBUM PUASA 2008




Untitled Document
 :: KONTAK TIM PANYINGKUL!

Email Redaksi :

redaksi@panyingkul.com

Tim:
yus@panyingkul.com
+62 813 226 80844

Moch. Hasymi
+62 811 955 954


© Juni 2006 - Panyingkul.com All Rights Reserved
Desain Web : Nesia Andriana -- Supported by: Yuhardin