|
|
| . |
| ::
|
| Senin, 12-11-2007 | Revitalisasi Karebosi Mengurai Kekusutan Sang Nol Kilometer :: Mustamin al-Mandary ::
| Masterplan Karebosi yang menang sayembara. Foto: Koleksi PT Lintas Cipta Desain.
Revitalisasi Karebosi menjadi kontroversi. Suara deru alat berat yang mulai sibuk mengeruk tanah lapangan di jantung kota Makassar itu, sekencang deru kekhawatiran yang berkembang di ruang-ruang diskusi publik. Setelah direvitalisasi, akankah Karebosi tetap menjadi ruang publik yang gratis bagi seluruh lapisan masyarakat? Akankah Karebosi beralih fungsi menjadi sentra komersil semata, sebagaimana kecenderungan pembangunan kota yang terjadi selama ini? Citizen reporter Mustamin al-Mandary yang bermukim di Balikpapan, juga menggelisahkan Karebosi. Kegelisahannya itu yang menjadi inspirasi baginya untuk melakukan wawancara independen dan pengamatan seputar masalah revitalisasi alun-alun yang merupakan nol kilometer Makassar ini. (p!) | Saat ini, lapangan Karebosi yang dianggap sebagai salah satu ruang publik yang paling luas di Makassar, sedang direvitalisasi. Walaupun rencana revitalisasi ini sudah disampaikan oleh pemerintah kota pertengahan tahun 2006 yang lalu, namun respon masyarakat justru baru muncul pada saat pekerjaan revitalisasi itu mulai dilakukan. Sekelompok masyarakat sempat turun ke jalan bulan Oktober lalu, untuk memprotes pekerjaan ini. Akan tetapi, muncul pertanyaan, mengapa protes itu baru dilakukan sekarang? Bahkan diskusi mengenai masalah revitalisasi ini semakin memanas ketika muncul anggapan bahwa ratusan LSM di kota Makassar, yang semestinya melakukan proses kontrol dan menjadi mitra masyarakat dalam mengkritisi kebijakan pemerintah, dianggap tidak melakukan apa-apa.
Bukan sekadar menghentikan banjir?
Dalam beberapa tahun terakhir, lapangan Karebosi sering mengalami banjir jika musim hujan. Pada kondisi banjir yang paling parah, seluruh permukaan lapangan bisa tergenang dan lapangan berubah menjadi danau. Hal ini diakibatkan karena lapangan Karebosi, menurut pengukuran terakhir tahun 2006, berada pada elevasi antara minus 50 – minus 80 cm dari permukaan jalan. Hal lain yang memperparah kondisi ini adalah lapangan Karebosi sendiri diapit oleh jalan raya serta bangunan-bangunan tinggi di keempat sisinya, sehingga air hujan tumpahnya ke lapangan Karebosi. Dengan saluran pembuangan yang ada sekarang, praktis volume air hujan yang cukup tinggi di musim hujan, khususnya di bulan Nopember sampai Januari, bisa menenggelamkan seluruh permukaan lapangan, belum lagi jika hujan deras bersamaan dengan saat pasang permukaan air laut.
Karena itulah, pemerintah kota Makassar berniat melakukan perbaikan. Akan tetapi pemerintah terbentur dengan biaya yang tidak sedikit. Pada rencana pertama, pemerintah ingin menawarkan pekerjaan ini kepada investor, tetapi tentu saja tidak akan ada yang berminat karena tidak adanya nilai ekonomis sebagai return.
Akhirnya pemerintah melakukan sayembara desain revitalisasi lapangan Karebosi pada pertengahan tahun 2006, dengan tujuan mencari masterplan yang jadi acuan pemerintah kota serta diharapkan bisa menggaet investor.
Sayembara ini dimenangkan oleh PT Lintas Cipta Desain (PTLCD) yang memanfaatkan lahan bawah tanah seluas 2,9ha di sisi utara Karebosi 85% sebagai tempat parkir dan 15% sebagai tempat aktivitas ekonomi. Pada presentasi desain di hadapan Walikota Makassar yang dihadiri oleh wakil presiden, Jusuf Kalla, mengemukan keinginan agar pekerjaan ini secepatnya bisa diselesaikan.
Sederhananya, revitalisasi lapangan Karebosi akan menaikkan elevasi lapangan sekitar 40 – 60 cm dari permukaan jalan. Rencana ini akan memanfaatkan metode cut and fill di mana tanah di bawah lapangan akan digunakan untuk menimbun permukaan.
Akan tetapi, desain awal tidak menarik investor karena investasi parkir bawah tanah jauh lebih mahal dibandingkan parkir di atas bangunan sementara alokasi 15% area bawah tanah sebagai tempat aktivitas ekonomi terlalu sedikit. Untuk itulah, desain akhirnya diubah dengan memperluas area aktivitas ekonomis menjadi 40%. Adapun area 60% lainnya akan digunakan sebagai tempat parkir yang akan menampung sekitar 800 kendaraan roda empat, termasuk tempat naik dan turunnya penumpang pete-pete untuk trayek yang melalui jalan Sudirman sehingga diharapkan kemacetan di jalan ini bisa dikurangi.
Seperti yang disampaikan Ihsan Imawan dari PTLCD, praktis tidak ada perubahan akses di permukaan lapangan Karebosi nanti. Penjelasan ini menjawab kemungkinan adanya pembatasan akses publik jika tempat aktifitas ekonomi bawah tanah sudah selesai. “Bahkan, dengan revitalisasi ini, permukaan lapangan Karebosi yang selama ini jarang dimanfaatkan karena tidak terawat dan tidak layak, akan diubah menjadi berbagai sarana olahraga dan aktivitas publik lainnya,” papar alumnus Fakultas Teknik Unhas ini.
Bukan sekadar agar tak banjir lagi?. Foto: Koleksi PT Lintas Cipta Desain.
Kontroversi di Tengah Masyarakat
Salah satu keberatan masyarakat terhadap revitalisasi lapangan Karebosi muncul dari kekhawatiran adanya kemungkinan tempat ini tidak akan bisa lagi dijadikan sebagai ruang publik. Taufik dari Wahana Lingkungan Hidup (Wallhi) Makassar, menekankan bahwa ruang publik seharusnya tidak digabungkan dengan ruang komersil. Dari sisi sejarah, revitalisasi lapangan Karebosi yang di areanya terdapat tujuh kuburan keramat juga menimbulkan kecemasan tersendiri, khususnya masyarakat yang mensakralkan kuburan itu dengan alasan masing-masing.
Dari sisi prosedur, proses tender pekerjaan revitalisasi Karebosi juga dipertanyakan. Ada anggapan bahwa pekerjaan ini dilakukan dengan penunjukan langsung kepada PT Tosan (PTT) milik Bang Hasan yang juga pemilik Makassar Trade Center (MTC). Lebih jauh bahkan ditengarai adanya kemungkinan “kerja sama” dengan group Bosowa yang sebentar lagi membangun menara pencakar langit di salah satu sisi Karebosi, tetapi tidak memiliki lahan parkir yang cukup di tempat itu.
Karena itulah, Walhi Makassar yang juga memayungi LBH berencana melakukan legal standing mengenai revitalisasi Karebosi. Seperti yang disampaikan Taufik, mereka akan mempertanyakan kebijakan pemerintah dalam masalah ini khususnya yang berhubungan dengan tata ruang, lingkungan hidup dan transparansi proses tender proyek. Sampai saat ini, Walhi sendiri belum menerima dokumen Amdal yang semestinya sudah harus rampung sebelum pekerjaan dilakukan.
Rawan dan Hati-hati
Akan tetapi, masalah Karebosi mulai merambah ke wilayah politik, demikian diakui beberapa tokoh Ormas dan LSM di Makassar yang bergerak di bidang hukum dan pembangunan kota. Ketika terjadi demonstrasi dari salah satu organisasi pemuda menentang revitalisasi yang nyaris menimbulkan bentrok fisik beberapa waktu yang lalu, beberapa LSM mengatakan tidak ingin turun ke jalan bersama demonstran itu karena mereka menganggap ada unsur politik yang cukup kental dalam aksi itu.
Namun di sisi yang lain, sejumlah LSM Makassar juga menyadari bahwa “diam”nya mereka justru akan menguntungkan kekuatan politik lain yang mendukung revitalisasi Karebosi. Oleh karena itu, sebagian besar mereka berhati-hati untuk mengambil sikap praktis karena kompleksitas masalah ini di mata mereka.
Perlu pula digarisbawahi disini bahwa walaupun terdapat banyak LSM di Makassar, namun bidang yang mereka kerjakan juga beragam. Seorang tokoh LSM mengakui bahwa mereka tidak ingin terlibat secara langsung dalam reaksi ini karena memang bidang pekerjaan mereka tidak berhubungan langsung dengan masalah ini. Akan tetapi, ia menegaskan bahwa jika sekiranya ada LSM yang bergerak langsung di bidang ini ingin melakukan protes secara hukum, forum LSM Makassar akan memberikan dukungan penuh dan menunjukkan solidaritas.
Klarifikasi
Ihsan dari PTLCD ketika dimintai tanggapan atas reaksi masyarakat dan aktivis LSM, , menyatakan cukup kaget. Ihsan menjelaskan bahwa dari awal mereka terlibat dalam desain ini dan tim penilai dalam lomba desain itu adalah tim yang terdiri wakil pemerintah, lembaga konsultan independen dan LSM. Bahkan pada saat desain mereka terpilih, Ihsan beberapa kali menulis di media lokal dengan harapan ada tanggapan, namun ternyata tidak ada kecuali beberapa tanggapan positif dari pelaku ekonomi yang mendukung upaya itu, semisal Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI). Sebagai tambahan, pemanfaatan ruang bahwa tanah di Karebosi bukanlah yang pertama, tetapi desain itu sebenarnya sudah ada di tempat lain semisal gelanggang pemuda dan olahraga Soemantri di Kuningan Jakarta dan lapangan Merdeka di Kuala Lumpur di Malaysia.
Menanggapi dokumen amdal yang belum lengkap, Ihsan mengatakan bahwa amdal lalu lintas sebenarnya sudah diselesaikan oleh investor yang memenangkan pekerjaan ini dan dari sisi penilaian mereka, tidak ada masalah. Adapun amdal yang diminta oleh Walhi, memang belum selesai. Namun demikian, Inkindo (asosiasi konsultan) yang dirujuk PT Tosan mengatakan bahwa mereka bisa melanjutkan pekerjaan dan dokumen amdalnya dapat disusulkan kemudian.
Soal Tender
Mengenai proses tender, Ihsan mengatakan bahwa tender dilakukan dua kali melalui pemuatan iklan di Media Indonesia dan Ujungpandang Express. Hal ini dilakukan karena pada saat tender pertama, yang mengajukan penawaran hanya satu bidder yakni PT Tosan itu. Namun pada saat sampai pada saat tender kedua penawaran tetap hanya satu bidder, akhirnya diputuskan untuk menyerahkan pekerjaan ini kepada PT Tosan.
Akan tetapi, Taufik dari Walhi mengatakan bahwa sebenarnya dia sudah beberapa kali memberikan tanggapan, bahkan sudah mengirimkan tulisan kritik revitalisasi Karebosi ini sekitar Oktober 2006 lalu ke beberapa harian lokal, tetapi tidak satupun media yang memuatnya. Karenanya, dia menengarai bahwa kemungkinan ada unsur kesengajaan tidak dimuatnya kritik itu. Lembaganya sendiri sudah beberapa kali meminta waktu bertemu dengan pemerintah kota untuk menyampaikan komentar, tetapi mereka belum pernah diberikan waktu sampai penunjukan pelaksana revitalisasi ini.
Beberapa Catatan
Kelihatannya, rencana awal proyek revitalisasi Karebosi tidak tersosialisasi dengan baik. Ini terlihat dari tidak sampainya desain dan rencana pemerintah kota dalam pekerjaan ini. Dalam pandangan penulis, ada dua hal yang mungkin jadi masalahnya; bisa jadi pemerintah tidak memaksimalkan sosialisasi itu, atau mungkin masyarakat tidak terlalu peduli dengan rencana ini ketika pertama kali digulirkan. Pemuatan rencana dan sosialisasi proyek di koran lokal tentu menjadi cara yang efektif, tetapi harus disadari bahwa tidak semua warga membaca koran (yang sama). Di sisi lain, semestinya masyarakat memberikan reaksi dan pandangan dari awal sehingga bisa diakomodir pemerintah dengan memanfaatkan semua saluran yang ada.
Di sinilah pentingnya fungsi dan netralitas media massa. Dugaan Taufik mengenai ketidaknetralan media massa dalam hal ini mungkin saja benar, tetapi media massa, khususnya cetak, bukan satu-satunya saluran. Itulah sebabnya, banyak pihak yang menyesalkan mengapa reaksi beberapa elemen masyarakat baru muncul sekarang justru saat pekerjaan sudah mulai dilakukan.
Hal yang cukup positif adalah bahwa PTLCD ditugaskan untuk mengawal quality control and quality assurance sampai proyek ini selesai. Memang masterplan revitalisasi Karebosi didesain oleh mereka, tetapi detail pemanfaatan ruang komersil sebesar 40% di bawah Karebosi serta Detail Engineering Design dikerjakan oleh investor. Namun demikian, PTLCD tetap memiliki wewenang untuk melakukan review dan berhak menolak rancangan yang menyalahi masterplan.
Sebagai contoh, ketika investor memberikan desain awal ruang bawah tanah yang dibuat oleh PT Arkonin, PTLCD memberikan komentar untuk perbaikan tata udara dan tata cahayanya.
Selain itu, Ihsan mengakui bahwa mereka aktif berdiskusi dengan semua pihak, termasuk LSM, dalam menjalankan tugas mereka dalam proyek ini. Dengan demikian, penulis menganggap bahwa PTLCD bisa menjadi saluran. Seperti halnya saat penulis menanyakan nasib tujuh makam yang berada di lapangan Karebosi, Ihsan menjelaskan bahwa pertengahan Nopember ini akan dilakukan pertemuan dengan keturunan raja-raja Tallo yang dianggap sebagai ahli waris untuk mendiskusikan cara terbaik melestarikan situs ini. Sebenarnya, sesuai dengan desain PTLCD, tujuh makam itu akan dipertahankan di tempat semula, tetapi akan tetap diangkat karena tempatnya akan ditinggikan. Namun demikian, detail pelaksanaannya akan ditentukan oleh ahli waris pemilik makam itu.
Transparansi pelaksanaan pekerjaan ini juga sangat penting. Pemerintah maupun elemen masyarakat Makassar harus sama-sama aktif agar komunikasi dua arah bisa interaktif. Dalam konteks inilah penulis mendukung upaya legal standing yang akan dilakukan oleh Walhi Makassar. Dengan munculnya respon masyarakat yang sebagiannya cenderung negatif, itu sudah cukup menjadi bukti bahwa komunikasi seluruh stakeholder proyek ini, di mana masyarakat juga termasuk di dalamnya, tidak berjalan efektif.
Setiap proyek mestinya dilengkapi dengan dokumen yang lengkap, khususnya studi kelayakan tentang dampak proyek tersebut kepada masyarakat dan lingkungan. Dari sisi project management yang modern, belum lengkapnya amdal pada saat pekerjaan mulai dilakukan, bisa dianggap cacat. Amdal adalah salah satu dokumen yang sangat penting untuk menilai laik tidaknya proyek tersebut. Walaupun mungkin secara legal hal ini dibolehkan, akan tetapi sequence eksekusi proyek yang umum adalah didahulukannya semua dokumen studi kelayakan dan detail desain sebelum pekerjaan pisik dilakukan. Mengapa itu diperlukan? Karena seluruh saran dan komentar harus dirujukkan kepada dokumen-dokumen itu.
Proyek ini tentu saja profitable; karena kalau tidak, tidak akan ada investor yang mau mengerjakannya. Secara mikro, kehadiran tempat komersil di ruang bawah tanah Karebosi juga pasti ikut menggeliatkan aktivitas ekonomi. Namun demikian, kekhawatiran masyarakat bahwa pada akhirnya semua fasilitas yang dibangun dipermukaan Karebosi tidak akan terawat seiring berjalannya waktu sebagaimana yang terjadi di tempat-tempat lain, juga harus dijawab oleh pemerintah. Masyarakat tentu tidak mau jika pada akhirnya Karebosi tidak lagi menjadi ruang publik dan akses masuk ke dalamnya sudah harus dibayar hanya untuk membiayai perawatannya. Jika hal ini terjadi, Karebosi seluruhnya akan berubah menjadi ruang komersil.
Semua pihak masih harus bekerja. Elemen masyarakat harus menggunakan fungsi kontrolnya untuk mengawal kebijakan pemerintah. Dalam kasus Karebosi, transparansi adalah keharusan dan sikap kritis masyarakat sangat diperlukan, maka marilah kita memanfaatkan peran masing-masing secara maksimal untuk menjaga Karebosi tetap menjadi milik warga dan bukan hanya menjadi ladang uang bagi pengusaha saja. Bukankah masyarakat Makassar yang menjadi pemilik sah Karebosi? (p!)
*Citizen reporter Mustamin al-Mandary dapat dihubungi melalui email mustamin.almandary@gmail.com
|
| | Jumlah
Komentar (17) |
|
| Komentar :
20-10-2008 Dari : GOLPUT | GOLPUT@KAPITALISME.COM DILARANG KAMPANYE
BUNG DISINI. PROGRAM
IASMO YANG TELAH
DILAKSANAKAN ADALAH
PROGRAM DARI PUSAT.
JADI BIAR TIDAK ADA
IAS AKAN JALAN JUGA
ITU JALAN TOL,
ANJUNGAN, BANDARA
DAN LAIN 12-09-2008 Dari : KAREBOSIku | KAREBOSIku sayang
KAREBOSIku malang
lihat disini
http://www.mail-arch
ive.com/cikeas@yahoo
groups.com/msg09259.
html 04-09-2008 Dari : Acho | http://idial-care.we.bs/ Diamana semua itu
uang rakyat kah?,
kenapa tidak dipake
untuk memperbaiki
KAREBOSI tanpa ada
bangunan... apakah
ada udang dibalik
batu? 10-07-2008 Dari : jay | jay_mksr@yahoo.com Revitalisasi atau
komersialisasi ???
15-06-2008 Dari : 9 ALASAN MEMILIH IASmo = ILHAM SUPOMO | relawan99mks@.gmail.com SAN MEMILIH IAS
1.PROGRAM Pendidikan
Bersubsidi Penuh
(PENDIDIKAN GRATIS)
TUJUAN :
Meng-GRATIS-kan
PENDIDIKAN untuk
MEMBANGUN MUTU &
Sumber Daya Manusia
Warga Kota Makasssar
dan membantu
Masyarakat Miskin
agar dapat
bersekolah. HASILNYA
: tahun 2006, 15
sekolah telah di
GRATISkan & Thn 2008
ini, ditingkatkan
menjadi 48 sekolah
GRATIS dan pada thn
2009 semua sekolah
sudah dapat
diGRATISkan.
2. PROGRAM PELAYANAN
KESEHATAN GRATIS.
TUJUAN : Memberikan
Pelayanan Kesehatan
Dasar GRATIS. HASIL
: thn 2006 sebanyak
37 Puskesmas
diMakassar telah
melaksanakan
Pelayanan Kesehatan
(berobat) tampa
dipungut Bayaranbagi
warga miskin kota
Makassar. SERTA
GRATIS Rawat INAP
Kelas3 diRS tipe C
Daya karena RS ini
satu-satunya RS
milik Pemerintah
Makassar. SERTA
Membuat Puskesmas
Khusus untuk
penderita HIV/AIDS
diMakassar 2008
3. PROGRAM
PEMBANGUNAN FLY OVER
(Jalan Lingkar)
TUJUAN : Mengatasi
kemacetan Arus lalu
lintas dijalur utama
Makassar targetnya
selesai Akhir thn
2008
HASILNYA : Mendapat
Penghargaan WAHANA
TATA NUGRAHA (kota
tertib lalu
lintasnya).
4. PROGRAM
PEMBANGUNAN RAMAH
LINGKUNGAN
(RUSUNAWA)
Membangun Rumah
Susun Sederhana
(RUSUNAWA) yang
Ramah Lingkungan
dimulai dikecamatan
mariso dan dikawasan
industri Kel. Kapasa
Kec. Biringkanayya.
Tujuan : Agar
Masyarakat Miskin
mendapat hunian yang
layak, sekaligus
mencegah tumbuhnya
wilayah kumuh,
HASILNYA :
Mendapatkan
penghargaan SISTEM
PENANGANAN KUMUH
SECARA NASIONAL dari
Pemerintah Republik
Indonesia,
5. PROGRAM
PEMBANGUNAN TRANS
STUDIO and RESORT
Konsep ini adalah
yang pertama
diIndonesia, Lokasi
di Tanjung Bunga
akan Membangun Arena
Hiburan Indoor,
Hotel, Perkantoran,
Supermaket,Marina
Kafe, dan Tempat
Rekreasi
Pantai,(mengalahkan
ANCOL), Pembangunan
pertama adalah THEME
PARK (arena hiburan
berisi ruang-ruang
hiburan dgn 20 tema
hiburan salahsatu
tema ruangan yaitu
kita dapat merasakan
suasana sedang
mengalami bencana
SUNAMI. seperti
kejadian bencana di
Aceh
6. PROGRAM
REVITALISASI
ANJUNGAN LOSARI &
CIBER CITY
Tujuan :
Memperbaiki,
Memper-INDAH dan
memberikan Space
Publik yang GRATIS
bagi warga sekaligus
mem berikan sebuah
Icon baru kota
Makassar. HASILNYA :
setiap hari Anjungan
Pantai Losari yang
Megah & Indah ramai
dikunjungi warga
Makassar untuk
bersantai sambil
meNikmati
pemandangan Sunset
disore hari,
ditambah dengan
fasilitas GRATIS BER
INTERNET, kerjasama
Ilham dan PT. Telkom
dgn nama Losari
Ciber City.
7. PROGRAM
REVITALISASI Lap.
KAREBOSI
TUJUAN : Memperbaiki
Lapangan Karebosi
SEBAB pada musim
hujan BANJIR & musim
Kemarau Penuh dengan
DEBU serta pada
malam hari dipenuhi
dengan MAKSIAT
(waria), HASILNYA :
Sangat MEGAH, CANTIK
dan INDAH akan
tetapi karena
KURANGNYA PEMAHAMAN
masyarakat, maka
berbagai pandangan
lahir, dimulai
Protes dari kalangan
OKNUM-OKNUM TERTENTU
yang DAHULUNYA
memakai karebosi
untuk kepentingan
PRIBADINYA, hingga
TERKAIT dengan
kepentingan
PEMILIHAN WALIKOTA
2008, BIASALAH
PEMBUSUKAN KAREKTER
terhadap IAS,
berbagai tuduhan dan
fitnah ditujukan
kepadanya, seperti
IAS telah menjual
karebosi, IAS
mendapatkan sesuatu
dari Investor, dan
macam-macam tetapi
demi kemajuan kota
Makassar IAS
menghadapi semua itu
dengan Tenang dan
Arief …. IAS tetap
memberikan pemahaman
yang benar dan
meyerahkan semua
persoalan di jalur
HUKUM, dan terbukti
Aparat HUKUM Polisi
dan KPK tidak
menemukan adanya
Pelanggaran Hukum
diRevitalisasi
Karebosi
Dijaman sekarang
siapa sih yang kebal
dengan HUKUM,,,,,
Camat, Bupati,
Gubernur sekalipun
dimasukkan ke BUIH
(penjara) bila
terbukti melakukan
korupsi. IAS
hanyalah seorang
Walikota Makassar,
kalaupun BETUL ada
pelanggaran korupsi
di Revitalisasi
Karebosi pasti HUKUM
akan ditegakkan.
TETAPI BUKTINYA …….
Revitalisasi
Karebosi tetap
berjalan bahkan
hampir rampung tahun
ini…. Semua Ini
menunjukkan bahwa
IAS tidak melakukan
pelanggaran HUKUM,
IAS hanya berkarya
untuk Makassar agar
kota kita bisa
menjadi kota dunia
yang mempunyai
Icon-icon yang dapat
kita banggakan
sebagai kota yang
maju dan berkembang
.….IAS BAHKAN
BERSUMPAH “Lillahi
Taala, kalau saya
mengharapkan sesuatu
dari Pak Hasan PT.
Tosan(INVESTOR).
Makanya, seluruh
proses ini saya
lakukan SECARA
TERBUKA. Tetapi
apapun pengakuan IAS
sebagian masyarakat
tidak mengerti dan
suka berASUMSI (yang
disebabkan oleh
oknum-oknum yang
telah menyebarkan
berita yang tidak
benar kepada
masyarakat awam,).
Namun IAS sudah
paham, apa yang ia
lakukan benar-benar
Merupakan Tanggung
Jawab baginya Kepada
Tuhan Di Akhirat
Nanti Jika Ada
Sesuatu Yang IAS
Dapatkan Dari Kerja
Sama Itu.
Seandainya
Revitalisasi
Lapangan Karebosi
ini tidak bertepatan
dengan Pemilihan
Walikota 2008 PASTI
tidak sehebat ini
protesnya. Tetapi
karena bertepatan
akan dilaksanakan
PILWALI 2008 maka
beberapa oknum-oknum
tertentu
memfungsikan momen
revitalisasi
karebosi ini sebagai
pembusukan karakter
terhadap Ilham arief
Sirajuddin sabagai
calon kuat yang akan
kembali bertarung
dipemilihan Walikota
Makassar 2008,
Marilah memberikan
kepercayaan kepada
Pemkot untuk
menyelesaikan
revitalisasi ini.
Apa yang telah IAS
lakukan TIDAK AKAN
MERUSAK ESTETIKA DAN
PENATAAN KOTA.
INSYA ALLAH AKAN
MEMBERIKAN MANFAAT
YANG BESAR KEPADA
KITA SEMUA DAN
MASYARAKAT UMUM.
Apalagi, di sana
akan ada RUANG
PUBLIK tampa
dipungut bayaran
yang disiapkan
seperti lapangan
softball, lapangan
futsal, lapangan
sepakbola, lapangan
bola basket,
lapangan tennis,
panggung upacara,
area senam,
skateboard, dan
helipad, area panjat
dinding, playground,
serta jalur
pedesterian.
Menciptakan Lapangan
Pekerjaan sekitar
2.500 org.
3.Menambah PAD Kota
Makasar
CATATAN : Dahulu
Revitalisasi
Anjungan Pantai
LOSARI pun diDEMO,
tetapi setelah
selesai wargapun
menyadari ternyata
IAS Benar Tidak ada
Mall dan pungutan
(bayaran) dan sangat
INDAH MI LOSARI
..TA..BOS.
.
8. PROGRAM
PEMBANGUNAN
a. Pembangunan CCC.
di Tanjung
Bunga,2006
b. RUNWAY (Landasan
Pacu) untuk Take Off
dan Landing
Pesawat.2008
c. Makassar PUSAT
INDUSTRI KAPAL.
(Kesepakatan 15
Walikota se KTI).
d. Kerjasama dengan
Walikota Costanta
(Rumania) Tujuan :
Kerjasama SISTER
CITY (kota kembar)
Rumania Investasi
dibidang Industri
dan perdagangan,
Infastruktur,
pariwisata &
kebudayaan. 2008
e. e-Government
Kerjasama dengan
Kota
Seongnam(Korsel).
Pertukaran Bu daya &
Pengembangan SDM
kedua Kota.2008
f. Kerjasama dengan
Jepang & Australia
Untuk mengolah
Sampah, Sampah jadi
Kompos digarap
australia & Gas
Metan diolah oleh
Jepang, 2008.
g. Pelebaran Jalan
Poros Makassar
h. Pembuatan Jalan
TOL.
9. PROGRAM-PROGRAM
SOSIAL (yang telah
berjalan)
a. Program Makassar
Bersih Tujuan :
Menciptakan Kota Yg
BERSIH dan INDAH,
Aksi Moral ini
mengajak masyarakat
Menjaga Lingkungan
Hidup dengan cara
Membuang Sampah pada
tempatnya.
b.Program ONLINE :
Memantapkan sistem
Administrasi
Kependudukan dukan
berbasis ICT guna
meningkatkan
kualitas pelayanan
masyarakat.contahnya
buat KTP cuman 5
menit dan tidak
Pakai ANTRI lama
lagi bos.
c. Program Akte
Kelahiran GRATIS :
Membantu masyarakat
Miskin dengan
menerbitkan 32.500
AKTE GRATIS dimulai
pada thn 2006.s/d th
2008 d. Program
Gerakan Makassar
Gemar Membaca :
Membangun Mutu SDM
serta Meningkatkan
Minat Baca
Masyarakat Kota
Makassar, dengan
Membangun 14
Perpustakaan di 14
Kecamatan. Hasilnya
: Minat Baca
diMakassar Meningkat
7% membuat Ibu
Negara Presiden RI.
Memberikan Hadiah
DUA UNIT Motor
Pintar Program ini
pula membuat
Perpustakaan
Nasional Indonesia
tersentak &
memberikan
PUSPATALOKA 15-06-2008 Dari : Gugatan Citizen Law Suite Karebosi Dito | relawan99mks@.gmail.com
Tuesday, 10 June
2008
Makassar, Pengadilan
Negeri (PN) Makassar
menolak gugatan
Citizen Law Suite
(CLS) terkait
kebijakan pemerintah
merevitalisasi
Karebosi karena
dinilai menyalahi
aturan.
“Berdasarkan hasil
pemeriksaan dokumen
serta saksi,
revitalisasi
Karebosi memiliki
dasar hukum yang
jelas. Selain
itu,menunjang
pembangunan,
meningkatkan PAD dan
didukung oleh
masyarakat. Sehingga
gugatan CLS atas
revitalisasi
karebosi dinyatakan
ditolak,” kata Hakim
Ketua Ohan
Burhanuddin
didampingi Yulman
serta Syarifuddin
Umar.
Dia menjelaskan,
dalam gugatan CLS,
akibat revitalisasi
Karebosi,
komersialisasi telah
mengubah fungsi asal
lapangan itu sebagai
fasilitas umum dan
lapangan olahraga.
Namun oleh
Hakim,Ohan
menyatakan,revitalis
asi adalah bagian
dari optimalisasi
aset daerah tanpa
mengubah fungsi
sebenarnya.Apalagi
penggugat tidak
memiliki dasar yang
kuat untuk menggugat
dengan alasan
tersebut. Pasalnya,
revitalisasi belum
sepenuhnya selesai.
Ohan Burhanuddin
yang dikonfirmasi
menyatakan,
berdasarkan
surat-surat dan
dokumen serta
pemeriksaan saksi,
revitalisasi
Karebosi memiliki
landasan hukum yang
kuat.Atas rencana
banding penggugat,
pihaknya mendukung
langkah tersebut.
Apalagi CLS diatur
adalah yang pertama
kali di Makassar.
(haryuna rahman-sin) 04-12-2007 Dari : han | barombong16@yahoo.com saya mendukung
revitalisasi-kenapa?
karena dinegara ini
apa yang diinginkan
penguasa itu yang
terjadi-padahal
mayoritas rakyat
sul-sel menolak
rencana itu, kuburan
tujua menjadi
pertanda kalau
KAREBOSI tidak bisa
dirubah. saya
menolak 100% tapi
apadaya saya jadi
frustasi
memikirkannya karena
pasti akan terus
berlanjut. tidak
seperti di negara
barat demokrasi -
kalau mayoritas
menolak- selalu ada
peninjauan ulang. 03-12-2007 Dari : Lembaga Advokasi & Pendidikan Anak Rakya | krmmks@yahoo.co.id
“TUNDA REVITALISASI
LAPANGAN KAREBOSI”
Press Release
Lembaga Advokasi &
Pendidikan Anak
Rakyat (LAPAR)
Sulsel
Kebijakan Pemkot
Makassar
merevitalisasi
lapangan Karebosi
nampaknya perlu
dibicarakan ulang
bersama seluruh
komponen kota ini,
terutama
warga/publik—pemkot
Makassar. Sebab
sampai hari ini,
kelihatan bahwa
terjadi sejumlah
problem terkait
dengan kebijakan
revitalisasi
lapangan Karebosi.
Lembaga Advokasi &
Pendidikan Anak
Rakyat (LAPAR)
Sulsel mencatat
beberapa problem
dari kebijakan
revitalisasi
lapangan Karebosi
yang kini sedang
berlangsung. problem
yang dimaksud
adalah, sebagai
berikut:
1. Publik tidak
dilibatkan dalam
proses
perencanaan—pengambi
lan keputusan
mengenai
revitalisasi
karebosi.
2. Dari kasus
revitalisasi ini,
kecenderungan yang
terbaca adalah
pemkot menjual ruang
publik kota ini ke
pihak pemodal (PT.
Tosan Permai
Lestari) dengan
alasan revitalisasi.
Dokumen Perjanjian
Kerja Sama antara
Pemkot Makassar dan
PT. Tosan Permai
Lestari dapat
ditunjuk sebagai
bukti disini.
3. “Revitalisasi”
bermakna
memaksimalkan fungsi
yang pernah ada
sebelumnya. Namun,
revitalisasi
Karebosi yang
dilakukan saat ini
bukan memaksimalkan
fungsi, melainkan
justeru merubah
fungsi; dari fungsi
ruang publik,
menjadi fungsi ruang
bisnis—komersial.
4. Pro-kontra
revitalisasi yang
kini berlangsung
berpotensi kuat
merusak tatanan
sosial di kota
Makassar, yang bisa
diraba setidaknya
adalah berputensi
kuat melahirkan
konflik kekerasan
dilevel masyarakat
bawah, karena baik
pihak yang pro,
maupun yang kontra
dengan revitalisasi
itu—keduanya
membentuk kelompok
massa dan aktif
unjuk kekuatan.
Kelompok massa yang
tergabung dalam
“Gilas” (Garda Ilham
Arif Sirajuddin)
misalnya, baru-baru
ini mendatangi
Kantor Balaikota
Makassar untuk
menyatakan dukungan
terhadap kebijakan
Walikota Makassar
untuk melakukan
revitalisasi
Karebosi. Makna
lanjutan berjangka
panjang yang dapat
ditemukan adalah,
pembentukan kelompok
massa oleh kubu pro
dan kontra—termasuk
Ilham Arif
Sirajuddin—telah
menanam benih
konflik kekerasan
ditingkat masyarakat
kota Makassar.
Karena itu, Lembaga
Advokasi &
Pendidikan Anak
Rakyat (LAPAR)
Sulsel mengusulkan
beberapa hal sebagai
berikut:
1. Tunda pembangunan
revitalisasi
Karebosi, karena
kebijakan itu kering
legitimasi
sosialnya.
Seharusnya Pemkot
Makassar membangun
konsultasi publik
untuk melihat apakah
publik kota ini
setuju atau tidak
dengan revitalisasi
itu. Apalagi
Karebosi bukanlah
milik Walikota
Makassar, tapi aset
negara (publik kota
adalah bahagian
integral dari
negara) yang
pengawasannya
dibawah kewenangan
Pemerintah Kota.
2. Tunda pembangunan
revitalisasi
Karebosi, karena
kebijakan itu kental
kepentingan
bisnisnya/komersiali
sasi, dan sarat
dengan kepentingan
duit untuk
kekuasaan. Sebab
revitalisasi yang
dijalankan saat ini
sama sekali tidak
mencerminkan
arti—makna
“revitalisasi” yang
sesungguhnya.
3. Tunda pembangunan
revitalisasi
Karebosi dan
hentikan mobilisasi
massa untuk meraih
dukukungan “pro”
atau “kontra”
terhadap kebijakan
revitalisasi itu.
Dalam kadar
tertentu, mobilisasi
massa berpotensi
melahirkan konflik
kekerasan horisontal
antar sesama warga
kota. Sama sekali
tak ada nilai
positif dari konflik
seperti itu.
4. Kepada DPRD Kota
Makassar agar aktif
menjalankan fungsi
kontrolnya, terutama
dalam pelaksanaan
kebijakan
pembangunan Kota
ini, termasuk
kebijakan tentang
revitalisasi
Karebosi. Fungsi
kontrol yang
dimaksud harus
digerakkan atas
dasar kepentingan
seluruh warga kota.
5. Kepada publik
kota Makassar
diserukan untuk
lebih kritis melihat
kebijakan-kebijakan
Pemkot Makassar,
termasuk kebijakan
tentang revitalisasi
Karebosi.
6. Kepada publik
kota Makassar
diserukan untuk
tidak terlalu mudah
dimobilisasi untuk
kepentingan sesaat
oleh pihak-pihak
tertentu. Karena hal
itu justeru malah
berpotensi merusak
hubungan-hubungan
sosial
kemasyarakatan kita
yang selama ini
terbangun secara
normal.
Makassar, 29
Nopember 2007
Lembaga Advokasi &
Pendidikan Anak
Rakyat (LAPAR)
Sulsel
ABDUL KARIM
Direktur
Eksekutif,-
30-11-2007 Dari : masdar | masdar_026@yahoo.co.id setuju karebosi
adalah simbol dan
kebanggaan budaya
bugis-makassar, jadi
kalau di
revitalisasi apa
yang bisa dibanggakn
kelak ?
kasiiiaaaaannnnn....
tidak adami lagi
simbolta', Jadi saya
nda tau'mi apami
kubilang nanti sama
anak-anakku kelak,
kalo mereka bertanya
"apa itu karebosi ?"
di mana letaknya ?"
kasian kotaku apa
lagi yang bisa di
jadikan acuan untuk
mempertahankan
IDENTITAS KITA
?tanya'ma' hanya 2
kata hentikan
Revitalisasi
Karebosi !!!!!!!!!!! 29-11-2007 Dari : arhie_volckert | arhie_gagah@yahoo.co.id masalah tujua
kuburan yang mau
dipindahkan ikuti
saja caranya BONAGA
di filmnya NAGABONAR
2..bags tonji itu
bikin taman di
sekitar kuburan itu
okey 22-11-2007 Dari : rahmat ridho | rahmat_ridho2000@yahoo.com saya tidak setuju
dengan adanya
revitalisasi.karene
itu merupakan bentuk
kapitalisme masa
depan.semestinya
karebosi tetap
ditingkatkan tetapi
tidak merubah total
segala yang ada
disana. 13-11-2007 Dari : LAKIPADADA | LAKIPADADA@YAHOO.CO.ID SETELAH KAREBOSI,
APA LAGI YANG MAU
DIJUAL? PEMERINTAH
TELAH MENGAMBIL
RUANG PUBLIK
KITA....(LAKIPADADA:
LAMA TAK MEMBERI
KOMENTAR) 13-11-2007 Dari : Hijrah Khaerana | hijrah_chubby@yahoo.co.id Karebosi sebagai
simbol dari
Makassar, haruskah
kita melepasnya
hanya demi rupiah
saja? 12-11-2007 Dari : kapitipiti | kapitipitie@yahoo.co.jp Daripada ribut-ribut
sampe bentrok,
memang lebih baik
seperti ini ,
membuat artikel dan
memberi saran. Salut
buat Bung Mustamin. 12-11-2007 Dari : Mustamin Al-Mandary | Ade' Nia, saya
termasuk yang
menolak kuburan 7
itu dipindahkan.
Saya sudah
menyampaikan ini
kepada Pak Ihsan.
Tentang pendapat
dosenta' dari sudut
pandang
sosioekologis, saya
ingin menampiknya
dari sisi
sosiohistoris.
Kuburan itu adalah
sejarah; dan
pemindahannya, atau
perubahan apalah
yang kita lakukan
terhadapnya, akan
mengikis nilai
sejarahnya, minimal
menggerus
orisinalitasnya.
Tentang kuburan di
Makkah yang tidak
diberi nama,
sepengetahuan saya
bukanji karena
sosioekologis itu.
Yang saya tahu,
Makkah itu
didominasi oleh fiqh
Hanbali (yang
menjadi mazhab resmi
kerajaan) dan
pemahaman Wahabi
yang mengharamkan
adanya tanda2
kuburan, bahwa
kuburan harus
diratakan dengan
tanah. Bahkan,
Wahabi dulu
meratakan dengan
tanah maqam pahlawan
Badr dan Uhud
sehingga lokasi
makam itu skrg, yang
sering dikunjungi
oleh jamaah haji,
dipertanyakan
kevalidannya.=======
== Tapi terus
terang, saya senang
dgn lay out plan
PTLCD, mereka
mempertahankan situs
tujua (no. 16). 12-11-2007 Dari : Nia | Tadi malam
diberitakan bahwa
Walikota Makassar
sudah berkunjung ke
Tallo sekaligus
memberikan sumbangan
10 juta rupiah ke
mesjid Tallo. Saya
selalu berpikir
negatif akan
sumbangan pejabat
(pemerintah) yang
dipublikasi, tapi
saya pikir mungkin
sumbangan itu salah
satu cara untuk
melunakkan protes
warga. Kasian, hanya
dengan rupiah
segalanya bisa
tercapai. Menurut
saya, mempertahankan
kuburan itu tidak
terlalu penting jika
memang akan
digunakan untuk
sesuatu yang lebih
bermanfaat. Dosen
saya pernah bilang
saat kuliah tentang
Dinamika Sistem
Sosioekologis (saat
membahas topik
tentang pertumbuhan
penduduk dan
keterbatasan area
pemukiman) bahwa
salah satu hikmah
dari pekuburan yang
ada di Mekah tidak
dikasih identitas,
nama dan sebagainya
agar kuburan tidak
dianggap sesuatu
yang harus
dipertahankan
(entahlah dalam
agama seperti apa
hukumnya, saya pikir
Ustadz lebih tau).
Kita tinggal
menunggu saja hasil
revitalisasi
karebosi. Semoga
tidak menimbulkan
masalah baru. 12-11-2007 Dari : syamsoe | syamsoe.blogspot.com revitalisasi sudah
berjalan. Sudah
dalam proses
pembangunan.. semoga
saja berjalan dengan
lancar, pro kontra
memang muncul dari
berbagai pihak.
Terlepas dari
beberapa hal yang
mungkin sudah
terkait keranah
politik dan
kepentingan bisnis
lainnya, Jika memang
dikemudian hari
nanti ada apa2nya
atau terjadi
kesalahan, baik dari
konsep dan
pengelolaan,
tentunya ini akan
menjadi boomerang
juga bagi mereka.
Sekali lagi kita
tunggu saja.
Pemerintah tentu
sudah
mempertimbangkan
dengan baik, mereka
mengumpulkan
beberapa orang
terbaik untuk
mewujudkan sebuah
karebosi yang lebih
representatif lagi.
Akhirnya selamat
datang Karebosi yang
kita banggakan.
|
|
|
|
|
| ::
CITIZEN REPORTER |
 | (Kamis, 12-07-2007) |  | (Minggu, 29-04-2007) |  | (Selasa, 31-10-2006) |  | (Rabu, 11-10-2006) |  | (Rabu, 16-08-2006) | |
|
Untitled Document
| ::
DUNIA SEGIEMPAT KAREBOSI |
|
Untitled Document
| ::
KONTAK TIM PANYINGKUL! |
Email Redaksi :
redaksi@panyingkul.com
Tim:
yus@panyingkul.com
+62 813 226 80844
Moch. Hasymi
+62 811 955 954
|
|
|