Untitled Document
 


Untitled Document
.KITAKITA
:: Jika Anda di Panyingkul ::
 
 KABAR KITA
 
 BERANDAKITA
Kegilaan, Dari Cinta Mati di Pulau Rajuni Hingga Riwayat Kadang
:: Ivan Firdaus ::
Baba Guru, Mengenang Film Rhoma Irama di Klenteng Galesong
:: Kamaruddin Azis ::
Mengagumi Tenun Troso, Mengenang Tenun Sengkang
:: Suryadin Laoddang ::
Perempuan Besi di Gunung Perak (2-selesai)
:: M. Aan Mansyur ::
Perempuan Besi di Gunung Perak (1)
:: M. Aan Mansyur ::
 
 RISETKITA
Rasa Takut : Yang Dicitrakan, Yang Dipelihara
:: Aria W. Yudhistira ::
Risetkita: Pramoedya versus Sejarah Resmi
:: Nurhady Sirimorok ::
Hikayat Rumpon Nelayan Mandar
:: Muhammad Ridwan Alimuddin ::
Di Makassar Pernah Ada “Negeri Wajo”
:: Nurhady Sirimorok ::
Surat Itu Ditulis Upas kepada September
:: Nurhady Sirimorok ::
 
 BUKUKITA
 
 KATAKOTAKITA
Kenapa si Gondrong yang Maju?
:: Ivan Firdaus dan Mustamin al-Mandary ::
Karena ‘Rewa’ Badan Binasa
:: Sudirman Nasir ::
Yang Okkot, yang Salah Sambung
:: Nursamsu danTusiana Noor Alfisyahr ::
Kandala`ka`, Kusta Bila Dusta
:: Panyingkul ::
Ayo, Si(ng)kat Terussss..!
:: Panyingkul! ::

 
 TAHUKAHKITA
 

.
 ::
Minggu, 02-12-2007 
Pengalaman dari Dua Diskusi Buku di Makassar
:: M Aan Mansyur ::

Citizen reporter M Aan Mansyur yang juga pengamat perbukuan menuliskan pengalamannya memandu dua diskusi buku di Makassar beberapa waktu lalu. Ia menelisik adanya beragam motivasi yang bisa mendorong orang menghadiri acara perbukuan, sekaligus mengungkap adanya tren selebritas dalam kegiatan-kegiatan itu. Tapi yang menggembirakan adalah bahwa di Makassar, masih selalu ada kegiatan yang terkait dengan perbukuan; penanda bahwa di kota ini kegiatan berpikir belum mati.(p!)

SAYA selalu bertemu dan berkenalan dengan gadis cantik di acara diskusi buku. Meskipun bukan yang utama, hal itu selalu ikut jadi alasan buat saya hadir di acara diskusi buku. Maka ketika seorang gadis dan dua orang lelaki dengan seragam khusus datang menemui dan meminta saya memandu acara diskusi novel yang baru terbit di Toko Buku Gramedia, saya dengan sangat bersemangat mengiyakannya.

Ini bukan kali pertama saya diminta menjadi pemandu acara diskusi buku di Toko Buku Gramedia. Setiap memandu acara diskusi buku di sana, saya juga selalu dapat bingkisan beberapa eksemplar buku baru. Tentu, itu adalah hal lain yang ikut memotivasi saya. Bayangkan, dapat pengetahuan baru, dapat bingkisan buku, pula bisa punya kenalan gadis manis. Lumayan!

Bulan Jingga dalam Kepala, adalah judul novel yang didiskusikan di Toko Buku Gramedia, Kamis sore, 29 November 2007. Beberapa hari sebelumnya, saya sudah sempat saling berkirim kabar lewat e-mail dengan pengarangnya, M. Fadjroel Rachman dan saling berjanji untuk bertemu. Saya mengenal penulis ini sebelumnya, bukan sebagai novelis, tetapi penyair, esais dan presenter beberapa acara tivi.

Sebelum novel pertama dari rencana trilogi ini terbit, Fadjroel telah menerbitkan beberapa buku. Tahun ini selain novel debutan itu, tiga buku Fadjroel lainnya terbit. Di awal tahun, oleh Bentang, kumpulan puisinya, Dongeng untuk Poppy diterbitkan. Kumpulan puisi ini masuk di jajaran sepuluh nominasi Khatulistiwa Award 2007 kategori puisi. Berselang beberapa bulan kemudian, penerbit Koekoesan milik pasangan Rieke Dyah Pitaloka dan Donny G. Adian menerbitkan kumpulan esainya, Demokrasi tanpa Kaum Demokrat. Hanya seminggu selepas itu Pedoman Indonesia dan Koekoesan menerbitkan versi bahasa Inggris kumpulan esai tersebut. Jauh sebelum keempat buku itu terbit, Fadjroel yang lewat esai-esainya di media nasional dikenal tajam dan berani, telah menerbitkan dua kumpulan puisi; Catatan Bawah Tanah dan Sejarah Lari Tergesa yang juga masuk finalis Khatulistiwa Award 2005.

***

SAAT tiba di Toko Buku Gramedia sebuah tempat di tengah-tengah rak buku telah disiapkan untuk acara diskusi novel yang rencananya juga akan difilmkan. Belasan kursi telah terisi oleh orang yang masing-masing sedang membaca. Tak berselang lama, Fadjroel tiba dan diskusi bermula. Sebuah kalimat, entah dari mana, saya kutip sebagai pembuka diskusi: toko buku adalah sebuah bukti bahwa manusia masih berpikir.

Berdikusi di tengah-tengah kerumunan buku punya aura tersendiri. Meskipun tak banyak orang yang betul-betul hadir di toko buku itu untuk ikut diskusi, namun saya merasa jutaan pasang mata dan telinga ikut hadir dan larut dalam diskusi tersebut.

Fadjroel secara singkat menceritakan proses penulisan novel yang membutuhkan riset berbiaya mahal itu. Fadjroel harus menyambangi beberapa negera untuk melakukan riset; Jerman, Vietnam dan Jepang untuk menyebut beberapa negara. Bulan Jingga dalam Kepala yang disebutnya sebagai fiksi sejarah politik Indonesia dan dunia kontemporer berkisah tentang hiruk-pikuk gerakan mahasiswa Indonesia di abad XX. Anak-anak muda 'idealis dan pemarah' dengan pergulatan batin sebagai manusia kongkret ketika kekerasan silih berganti di tengah pertarungan kekuasaan dan kebebasan. Berlatar istana hingga sel penuh kekerasan di Penjara Nusakambangan, Penjara Sukamiskin, Institut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Indonesia (UI), Kuil Yasukuni Tokyo, horor Hiroshima, Kamp Konsentrasi Nazi Sachsenhausen dan Holocaust Memorial Berlin.

Fadjroel tak memiliki kesulitan berarti untuk mendeskripsikan penjara dan hal-hal di dalamnya. Tentu saja, sebab Fadjreol di tahun 1989 punya pengalaman mendekam di dalam penjara karena melawan rezim Soeharto.

"Bulan Jingga dalam Kepala mengajak Anda bertamasya jiwa ke dunia realis dan surealis tentang tragedi, kerapuhan hidup, serta keserbamungkinan pilihan manusia," kata Fadjroel meniru tulisan yang ada di sampul belakang novelnya.

Diskusi yang berlangsung kurang lebih dua jam itu ramai oleh tanggapan peserta. Ada yang mempertanyakan bauran fakta dan fiksi dalam novel tersebut. Fadjroel memastikan bahwa fakta-fakta sejarah yang ada dalam novel itu adalah benar adanya bahkan pada hal-hal kecil seperti berapa jumlah kuburan di Taman Raya Bogor karena ia menghitungnya sendiri. Meskipun begitu, ia tak menyarankan novel itu dijadikan sebagai rujukan sejarah.

Hingga diskusi berakhir, beberapa peserta masih nampak mengacungkan lengan untuk bertanya. Ketidakpuasan peserta, oleh Fadjroel ditimpali dengan sebuah kalimat sangat klise: silakan beli dan baca sendiri novelnya!

Entah kalimat Fadjroel itu bertuah atau karena Toko Buku Gramedia memberi potongan harga khusus, belasan orang kemudian segera mengambil novel itu dan membayarnya di kasir lalu kembali menemui Fadjroel untuk meminta tanda tangannya.

***

DISKUSI yang hidup di tengah-tengah kerumunan buku di Toko Buku Gramedia, membawa saya mengenang diskusi buku lain. Seminggu sebelumnya, saya juga memandu diskusi buku di kampus Universitas Hasanuddin. Saat itu, Kamis pagi, 22 November 2007, diskusi buku karya Ahyar Anwar, Menidurkan Cinta yang diterbitkan oleh penerbit Nala Cipta Litera milik seorang penyair, Muhary Wahyu Nurba. Nyaris serupa dengan diskusi novel Fadjroel, diskusi buku Ahyar Anwar juga berlangsung di tengah-tengah kerumunan buku dan dihadiri oleh penulisnya.

Diskusi buku Menidurkan Cinta, buku tentang cinta dari sisi filsafat itu, berlangsung di tengah acara Unhas Books Fair 2007 yang digelar oleh Penerbitan Kampus Identitas. Sayang sekali, diskusi buku itu tidak sehidup dengan diskusi novel Bulan Jingga dalam Kepala.
Sayang sekali, buku kumpulan tulisan tentang cinta yang ditulis dengan gaya prosaik oleh Ahyar Anwar, dosen Universitas Negeri Makassar yang dikenal sebagai kritikus sastra ini, tak menuai banyak tanggapan di diskusi pertamanya. Rencananya buku ini akan didiskusikan di berbagai tempat di Makassar.

Menidurkan Cinta adalah buku menarik yang memandang cinta sebagai kepedihan. Buku yang semula adalah tugas akhir Ahyar Anwar saat menempuh pendidikan strata satu di Universitas Gajah Mada ini melukiskan cinta sebagai sesuatu yang berwarna hitam dan abu-abu, bukan merah atau merah jambu. Buku ini mengamini kalimat Schopenhauer: bersiap-siap dan bersahabatlah dengan kesedihan ketika Anda menjalin cinta!

Buku ini mengisahkan kisah-kisah cinta para kaum eksistensialis semacam Sartre, Schopenhauer, Kierkegaard, Nietzsche dan Jasper. Juga mendeskripsikan ulang kisah-kisah cita torehan penulis-penulis besar; Shakespeare, Gibran hingga Marah Rusli. Selain itu cinta yang menyedihkan juga banyak didekati lewat puisi-puisi cinta, kisah-kisah popular film Hollywood, dan lagu-lagu cinta milik Dream Theater dan Bon Jovi.

***

DARI dua diskusi buku yang saya pandu, nampak beberapa persoalan perbukuan di Makassar. Salah satu di antaranya adalah bahwa masyarakat pembaca di Makassar masih sangat menganut paham selebritas. Meski masih perlu diperdebatkan, nampaknya nama Ahyar Anwar kalah populer dari M. Fadjroel Rachman. Kasus yang sama bisa kita lihat saat Andrea Hirata dan para artis yang filmnya dibukukan datang ke Makassar, peserta diskusi membludak. Kita bisa membandingkan dengan diskusi-diskusi buku yang diterbitkan oleh penerbit lokal.

Lihatlah acara-acara yang pernah digelar di bawah bendera Gerakan Makassar Gemar Membaca! Panitia selalu tak percaya diri mengadakan acara perbukuan jika tak menghadirkan satu-dua orang selebriti. Seolah-olah mereka tidak cukup kreatif untuk menggelar sebuah acara yang hidup jika tak ada seorang artis hadir di acara tersebut.

Namun yang menggembirakan dari semua itu adalah bahwa masih ada beberapa komunitas yang mengadakan acara perbukuan. Dan pula, meskipun tidak terlalu banyak, selalu saja ada orang yang datang di peluncuran buku, diskusi buku atau pameran buku. Tentu motivasi mereka datang ke acara itu bisa beragam; membeli buku dengan harga lebih murah, menemani teman, meminta tanda tangan penulis dan artis, sekadar meramaikan, atau ingin bertemu dan berkenalan dengan gadis manis.

Seperti saya, seusai memandu diskusi buku Ahyar Anwar dan Fadjroel Rachman, dari penyelenggara saya mendapatkan beberapa buku gratis dan honor yang bisa buat beli buku. Dan dari peserta saya dapat kenalan gadis manis. Lumayan kan?(p!)

*Citizen reporter M Aan Mansyur dapat dihubungi melalui email aanmansyur@gmail.com


| Beri Komentar| Jumlah Komentar (16) |

Komentar :

10-12-2007
Dari : aan | aanmansyur@gmail.com
terima kasih, Mas Rasimin. Saya pikir bukan sekadar sepakat bahwa minat baca itu penting, semua orang sepakat dengan itu saya kira. Tetapi yang lebih penting adalah kita harus sepakat melakukan sesuatu (sekecil apapun itu) dalam persoalan literasi ini. Buat siapa saja, yang mau tahu kabar-kabar buku di Makassar, termasuk kabar GMGM, saya pernah buat sebuah blog khusus yang menghimpun kabar2 itu, samai sekarang masih terus saya update. Silakan mampir ke http://bukudarimakas sar.blogspot.com/

10-12-2007
Dari : Mas Rasimin |
saya pernah lihat mas aan waktu ada bedah novel tetralogi laskar pelangi karya andrea hirata di graha pena makassar, anda juga kan yang tidak sepakat kalo laskar pelangi itu difilmkan karna alasan akan hilang substansinya seperti banyak film yang dibuat berdasarkan kisah dari sebuah novel. saya cukup sependapat dengan itu. ada juga duta baca mks yang tampil dalam talk show bersama islah rasyid, di sini saya salut buat mas aan dehhhh!!! tentang gmgm anda bukannya sinis tapi terlalu mengada-ada sepertinya. tapi dari jawaban mas aan, setidaknya saya selaku org yg peduli pendidikan sudah merasa lega...salam. untung ada buta huruf yg juga kasih masukan, okey lebih baik kita sepakat aja apa yang dibahasakan meningkatkan minat buku itu penting, juga harus diseimbangkan dengan membaca alquran.... terkhusus panyingkul, keren!!!

09-12-2007
Dari : aan | aanmansyur@gmail.com
toko arjuda yang kita maksud? oke, dulu saya sering beli buku di sana. di makassar ini tidak kurang dari 32 toko buku. membicarakan distribusi buku, ini rumit sekali. baru-baru ini ikapi sulsel ngajak bincang-bincang perbukuan khususnya tentang distribusi buku di salah satu ruang di kantor redaksi kompas biro makassar. di sana yang datang ada penerbit, distributor, pengusaha buku (toko buku), penulis, dan pembaca. kalau bicara tentang buku-buku pelajaran, biasanya penerbit itu pintar sekali menjual langsung ke sekolah dengan banyak cara. termasuk perebutan lahan di pusat, buku mana yang diperboleh dan tidak diperbolehkan edar di sekolah. rumit sekali. kadang-kdang penerbitlah yang melakukan riset, misalnya di sulsel butuh buku seperti ini, lalu melaporkan ke pusat dan pusat mengeluarkan dana sekian milyar untuk buku. dan tentu penerbit yang paling dekat dengan kekuasaanlah yang dapat proyek itu. makanya jangan heran kalau setiap tahun buku pelajaran ganti, karena penerbit setiap tahun mau untung besar setiap tahun. seorang dari penerbit (lupa namanya) di bincang-bincang itu bilang bahwa satu judul buku pelajaran yg diterbitkannya bisa meraup untung paling sedikit 200 juta.

08-12-2007
Dari : Syamsoe | toyota-gue.com/ bank Sulsel
Salam Kenal. Mas Aan, dekat rumah saya ada sebuah toko buku yang cukup laris beberapa tahun terakhir, tepatnya di area jalan mappaoddang mks dkt kampus stiem. toko tsb menjual buku2 pelajaran, alat tulis etc. Moka tanya, apa aan juga pengamat buku2 pendidikan atau lebih ke penekanan sastra?, sebagai orang yang awam dalam masalah perbukuan, saya mau usul, untuk kembali menggeliatkan sektor usaha kecil khususnya pengusaha buku (gapbi-sulsel),giman a kalo pemerintah menyalurkan buku kepengusaha kecil dulu baru kemasyarakat, tidak langsung ke masy.. jadi setidaknya pengusaha buku tidak menjadi " mati suri". bagaimana anda melihat hal itu? tq

08-12-2007
Dari : Buta Huruf |
udah..udah.. smua benar,bagusnya anda berdua diskusi di milis saja... peace man, kita ganti topik. meningkatkan minat buku itu penting, juga harus diseimbangkan dengan membaca alquran...

07-12-2007
Dari : aan | aanmansyur@gmail.com
maaf, maksud saya hampir 100% rumah baca itu, bukan hampir 100 rumah baca.maaf, sekali lagi saya memang nampaknya terlalu sinis kalau bicara tentang gmgm. tetapi saya begitu karena saya peduli dengan itu. persoalannya adalah membaca koran-koran lokal di makassar, yang ada hanya membicarakan kegiatan gmgm, dan kabar buruknya tak pernah disinggung. makanya, saya agak sinis. saya mengenal baik kok beberapa orang yang aktif di gmgm. dan kami sering diskusi tentang perbukuan. beberapa kali kami bahkan undang ke tempat kami untuk diskusi, terakhir mengundang para duta baca untuk mengajak mereka membiacarakan langkah-langkah yang kira-kira bagu untuk ditempuh demi program ini. Maaf, kalau kata-kataku terlalu sinis! tak perlulah saya pikir cari kamus. salam!

06-12-2007
Dari : Mas Rasimin |
saya org pare2 tapi sejak 5 tahun terakhir menetap di makassar (sekedar publikasi aja)....satu hal lagi nih mas aan, anda mengatakan hampir 100 rumah baca yang dibikin GMGM? tidak salah tuh mas, bukannya sebagian adalah hasil swadaya masyarakat? kalo memang GMGM yang uat semua, fakta dari mana? lain halnya lagi ketika anda mengatakan mati tak berpenghuni sekarang, lebih ektrim lagi nih kayaknya....tolong dibedakan antara betul2 tak berpenghuni dengan berpenghuni biarpun hanya 1 orang misalnya!!! di sini saya tidak tahu pengertian anda yang berpenghuni itu mungkin jika ada orang di dalamya sampai ratusan atau ribuan orang! begitu yah mas aan, kalo memang begitu, kayaknya saya mesti cari kamus besar bahasa indonesia lagi nihhhh....terima kasih

06-12-2007
Dari : Mas Rasimin |
Lihatlah acara-acara yang pernah digelar di bawah bendera Gerakan Makassar Gemar Membaca! Panitia selalu tak percaya diri mengadakan acara perbukuan jika tak menghadirkan satu-dua orang selebriti. Seolah-olah mereka tidak cukup kreatif untuk menggelar sebuah acara yang hidup jika tak ada seorang artis hadir di acara tersebut. maaf mas aan, saya kembali copy-paste penggalan di atas, saya memang bukanlah org gmgm, tapi maslah perkembangan gmgm, rasanya sering juga saya ikuti. nah, saya cuma tidak sependapat saja dengan beberapa baris tulisan anda, sepertinya, gimana yah, terlalu ekstrim kalo saya pikir. di sini saya akui kalo anda memang giat diperbukuan, penulis juga, mungkin penerbit juga, tapi lagi2 bukan masalah kreatif atau tidaknya acara yang dibuat gmgm, justru ketika anda berkata bahwa gmgm dinilai tidak kreatif tanpa adanya artis, wahhhh...saya sendiri merasa begitu miris mendengarnya...tidak adakah kata yang lebih sopan jika memang gmgm begitu adanya? Toh, saya yakin anda lebih lihai untuk hal itu... mungkin sama halnya kalo saya bilang mas aan juga tidak kreatif menulis buku tanpa menghadirkan atau mengambil kata-kata orang lain? maaf nih mas aan, sedikit perbandingan saja...tapi sekali lagi apresiasi anda sungguh besar terhadap perkembangan dunia kepenulisan khususnya di makassar, dan saya saja yang dari pare-pare cukup berterima kasih untuk hal itu, sebab saya peduli! terima kasih

05-12-2007
Dari : aan | aanmansyur@gmail.com
mas rasimin, nyaris semua kegiatan gmgm saya ikuti. beberapa kali saya menulis di media tentang gmgm. jauh sebelum gmgm diluncurkan di makassar saya aktif di bidang perbukuan di makassar. coba sebutkan satu saja kegiatan gmgm yg menurut mas rasimin kreatif dan betul-betul bisa disebut gerakan membaca? satu saja! bikin rumah baca? saya datangi semuanya, hampir 100 rumah baca yg dibikin gmgm mati tak berpenghuni sekarang. beberapa hari yg lalu satu orang dari gmgm meminta hasil riset saya tentang minat baca di makassar untuk acaranya yang 3 desember (yg datang tantowi) kemarin. tantow ceramah di depan 4000 siswa, siswa2 itu bicara tak memerhatikan mereka di depan. saya di sana. waktu gmgm minta hasil riset saya, saya bilang masa gmgm yg punya gerakan besar itu tak punya hasil riset? bayangkan punya gerakan seperti itu tapi tak punya riset tentang apa yg mereka lakukan. coba tanya anak smp dan sma yg kemarin konon akan diperbaiki perpus sekolah mereka. silakan dicek! saya sudah tanya banyak siswa tentang itu. perpus mereka tetap sama dengan yg dulu, kata mereka. tapi tetap saya merasa bahwa gmgm itu penting untuk didukung.. makanya saya mengkritiknya biar bisa lebih bagus!

04-12-2007
Dari : Mas Rasimin | Rasimin-jgj@yahoo.co.id
Lihatlah acara-acara yang pernah digelar di bawah bendera Gerakan Makassar Gemar Membaca! Panitia selalu tak percaya diri mengadakan acara perbukuan jika tak menghadirkan satu-dua orang selebriti. Seolah-olah mereka tidak cukup kreatif untuk menggelar sebuah acara yang hidup jika tak ada seorang artis hadir di acara tersebut. maaf!!! rasanya saya kurang setuju dengan pendapat ini. kenapa bisa anda langsung mencap demikian, padahal dalam eksistensinya sendiri GMGM bukanlah sebuah team work yang taunya berkilah dibalik punggung selebriti yang anda katakan. ketika anda mengikuti tiap kegiatan yang berlangsung dan dilakukan oleh GMGM sendiri, adapun mengundang artis misalnya katon Bagaskara, Tantowi Yahya, Art2Tonic, serta Dian ekawati, itu karena mereka punya jalur relevansi dengan GMGM. Katon dan Tantowi, dua2nya adalah duta baca nasional yang tentu sangat penting guna mensosialisasikan minat baca, sementara Art2Tonic dan Dian ekawati, bukankah mereka juga adalah duta baca makassar? hanya saja mereka kebetulan adalah sosok seleb yang mungkin salah satunya adalah fans anda. dan jika dinilai GMGM tidak kreatif tanpa adanya sosok selebtiti dalam satu-dua acara yang dilakukan, rasanya anda memang kurang mengikuti perkembangan GMGM itu sendiri. terima kasih.....

03-12-2007
Dari : haerul sohib | herulsohib@yahoo.co.id
tidak bisa dipungkiri lagi, bahwa buku dapat meningkatkan kualitas diri seseorang, lihat saja para pemimpin dunia, pasti dalam ruangan mereka ada berbagai koleksi buku, bukan hanya mereka, motivator, politikus, ekonom,serta beberapa orang yang ingin meningkatkan kualitas dirinya pasti mencari buku,bukankah Ayat yang pertama dari Alqur'an mewajibkan kita "bacalah". tentu ini signal pertama untuk mencapai sukses dunia dan akhirat, tinggal niat yang selnjutnya bekerja, Don't make your life like "keledai atau Katak dalam tempurung" , salam

03-12-2007
Dari : masdar | masdar_026@yahoo.co.id
buku adalah mozaik untuk mendapatkan norma-norma kehidupan untuk mengenal diri kita yang sesungguhnya.

03-12-2007
Dari : sultan habnoer | sultan@yps-srk.sch.id
Wah..minat dong dapat buku-buku ini. Pak Ahyar akhirnya terbitkan buku juga ya..Selamat Pak! Aan.. he..he..kamu sudah untung besar ces. Dapat buku, honor, dan lihat cewek cantik.

02-12-2007
Dari : Rizal | dramrizal@yahoo.co.id
Bukan Pengalaman tapi Bukulah yang merupakan guru yang paling baik di dunia ini. Karena buku merupakan kristalisasi pengalaman-pengalama n terbaik.

02-12-2007
Dari : i Nuntung | daeng.nuntung@gmail.com
untuk tulisan buku pak Ahyar, sy pikir "bungkusannya" dan iklannya yang perlu dimantapkan. Kalau tidak bisa lewat media TV atau koran, bukankah "lewat" media mahasiswa bisa juga? kampus dikirimi selebaran, pamflet? Fajroel R sudah dikenal jauh sebelum buat novel itu dan itulah yang membentuk image minat datang dan didukung iklan di media massa, tentunya...

02-12-2007
Dari : kapitipiti | kapitipitie@yahoo.co.jp
Bacalah buku banyak-banyak sebelum kegiatan berpikir pun dilarang.



 :: CITIZEN REPORTER
Makassar di Panyingkul!: Sebuah Persembahan
(Kamis, 12-07-2007)
Ayo Bergabung di Panyingkul!
(Minggu, 29-04-2007)
Catatan Sederhana Para Citizen Reporter
(Selasa, 31-10-2006)
Tentang Citizen Reporter dan Rubrik di Panyingkul!
(Rabu, 11-10-2006)
Riuh Rendah di Panyingkul!
(Rabu, 16-08-2006)

Untitled Document
 :: DUNIA SEGIEMPAT KAREBOSI






 :: PILKADA




 :: ALBUM PUASA 2008




Untitled Document
 :: KONTAK TIM PANYINGKUL!

Email Redaksi :

redaksi@panyingkul.com

Tim:
yus@panyingkul.com
+62 813 226 80844

Moch. Hasymi
+62 811 955 954


© Juni 2006 - Panyingkul.com All Rights Reserved
Desain Web : Nesia Andriana -- Supported by: Yuhardin