|
|
| . |
| ::
|
| Minggu, 02-12-2007 | Pengalaman dari Dua Diskusi Buku di Makassar :: M Aan Mansyur ::
| Citizen reporter M Aan Mansyur yang juga pengamat perbukuan menuliskan pengalamannya memandu dua diskusi buku di Makassar beberapa waktu lalu. Ia menelisik adanya beragam motivasi yang bisa mendorong orang menghadiri acara perbukuan, sekaligus mengungkap adanya tren selebritas dalam kegiatan-kegiatan itu. Tapi yang menggembirakan adalah bahwa di Makassar, masih selalu ada kegiatan yang terkait dengan perbukuan; penanda bahwa di kota ini kegiatan berpikir belum mati.(p!)
| SAYA selalu bertemu dan berkenalan dengan gadis cantik di acara diskusi buku. Meskipun bukan yang utama, hal itu selalu ikut jadi alasan buat saya hadir di acara diskusi buku. Maka ketika seorang gadis dan dua orang lelaki dengan seragam khusus datang menemui dan meminta saya memandu acara diskusi novel yang baru terbit di Toko Buku Gramedia, saya dengan sangat bersemangat mengiyakannya.
Ini bukan kali pertama saya diminta menjadi pemandu acara diskusi buku di Toko Buku Gramedia. Setiap memandu acara diskusi buku di sana, saya juga selalu dapat bingkisan beberapa eksemplar buku baru. Tentu, itu adalah hal lain yang ikut memotivasi saya. Bayangkan, dapat pengetahuan baru, dapat bingkisan buku, pula bisa punya kenalan gadis manis. Lumayan!
Bulan Jingga dalam Kepala, adalah judul novel yang didiskusikan di Toko Buku Gramedia, Kamis sore, 29 November 2007. Beberapa hari sebelumnya, saya sudah sempat saling berkirim kabar lewat e-mail dengan pengarangnya, M. Fadjroel Rachman dan saling berjanji untuk bertemu. Saya mengenal penulis ini sebelumnya, bukan sebagai novelis, tetapi penyair, esais dan presenter beberapa acara tivi.
Sebelum novel pertama dari rencana trilogi ini terbit, Fadjroel telah menerbitkan beberapa buku. Tahun ini selain novel debutan itu, tiga buku Fadjroel lainnya terbit. Di awal tahun, oleh Bentang, kumpulan puisinya, Dongeng untuk Poppy diterbitkan. Kumpulan puisi ini masuk di jajaran sepuluh nominasi Khatulistiwa Award 2007 kategori puisi. Berselang beberapa bulan kemudian, penerbit Koekoesan milik pasangan Rieke Dyah Pitaloka dan Donny G. Adian menerbitkan kumpulan esainya, Demokrasi tanpa Kaum Demokrat. Hanya seminggu selepas itu Pedoman Indonesia dan Koekoesan menerbitkan versi bahasa Inggris kumpulan esai tersebut. Jauh sebelum keempat buku itu terbit, Fadjroel yang lewat esai-esainya di media nasional dikenal tajam dan berani, telah menerbitkan dua kumpulan puisi; Catatan Bawah Tanah dan Sejarah Lari Tergesa yang juga masuk finalis Khatulistiwa Award 2005.
***
SAAT tiba di Toko Buku Gramedia sebuah tempat di tengah-tengah rak buku telah disiapkan untuk acara diskusi novel yang rencananya juga akan difilmkan. Belasan kursi telah terisi oleh orang yang masing-masing sedang membaca. Tak berselang lama, Fadjroel tiba dan diskusi bermula. Sebuah kalimat, entah dari mana, saya kutip sebagai pembuka diskusi: toko buku adalah sebuah bukti bahwa manusia masih berpikir.
Berdikusi di tengah-tengah kerumunan buku punya aura tersendiri. Meskipun tak banyak orang yang betul-betul hadir di toko buku itu untuk ikut diskusi, namun saya merasa jutaan pasang mata dan telinga ikut hadir dan larut dalam diskusi tersebut.
Fadjroel secara singkat menceritakan proses penulisan novel yang membutuhkan riset berbiaya mahal itu. Fadjroel harus menyambangi beberapa negera untuk melakukan riset; Jerman, Vietnam dan Jepang untuk menyebut beberapa negara. Bulan Jingga dalam Kepala yang disebutnya sebagai fiksi sejarah politik Indonesia dan dunia kontemporer berkisah tentang hiruk-pikuk gerakan mahasiswa Indonesia di abad XX. Anak-anak muda 'idealis dan pemarah' dengan pergulatan batin sebagai manusia kongkret ketika kekerasan silih berganti di tengah pertarungan kekuasaan dan kebebasan. Berlatar istana hingga sel penuh kekerasan di Penjara Nusakambangan, Penjara Sukamiskin, Institut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Indonesia (UI), Kuil Yasukuni Tokyo, horor Hiroshima, Kamp Konsentrasi Nazi Sachsenhausen dan Holocaust Memorial Berlin.
Fadjroel tak memiliki kesulitan berarti untuk mendeskripsikan penjara dan hal-hal di dalamnya. Tentu saja, sebab Fadjreol di tahun 1989 punya pengalaman mendekam di dalam penjara karena melawan rezim Soeharto.
"Bulan Jingga dalam Kepala mengajak Anda bertamasya jiwa ke dunia realis dan surealis tentang tragedi, kerapuhan hidup, serta keserbamungkinan pilihan manusia," kata Fadjroel meniru tulisan yang ada di sampul belakang novelnya.
Diskusi yang berlangsung kurang lebih dua jam itu ramai oleh tanggapan peserta. Ada yang mempertanyakan bauran fakta dan fiksi dalam novel tersebut. Fadjroel memastikan bahwa fakta-fakta sejarah yang ada dalam novel itu adalah benar adanya bahkan pada hal-hal kecil seperti berapa jumlah kuburan di Taman Raya Bogor karena ia menghitungnya sendiri. Meskipun begitu, ia tak menyarankan novel itu dijadikan sebagai rujukan sejarah.
Hingga diskusi berakhir, beberapa peserta masih nampak mengacungkan lengan untuk bertanya. Ketidakpuasan peserta, oleh Fadjroel ditimpali dengan sebuah kalimat sangat klise: silakan beli dan baca sendiri novelnya!
Entah kalimat Fadjroel itu bertuah atau karena Toko Buku Gramedia memberi potongan harga khusus, belasan orang kemudian segera mengambil novel itu dan membayarnya di kasir lalu kembali menemui Fadjroel untuk meminta tanda tangannya.
***
DISKUSI yang hidup di tengah-tengah kerumunan buku di Toko Buku Gramedia, membawa saya mengenang diskusi buku lain. Seminggu sebelumnya, saya juga memandu diskusi buku di kampus Universitas Hasanuddin. Saat itu, Kamis pagi, 22 November 2007, diskusi buku karya Ahyar Anwar, Menidurkan Cinta yang diterbitkan oleh penerbit Nala Cipta Litera milik seorang penyair, Muhary Wahyu Nurba. Nyaris serupa dengan diskusi novel Fadjroel, diskusi buku Ahyar Anwar juga berlangsung di tengah-tengah kerumunan buku dan dihadiri oleh penulisnya.
Diskusi buku Menidurkan Cinta, buku tentang cinta dari sisi filsafat itu, berlangsung di tengah acara Unhas Books Fair 2007 yang digelar oleh Penerbitan Kampus Identitas. Sayang sekali, diskusi buku itu tidak sehidup dengan diskusi novel Bulan Jingga dalam Kepala.
Sayang sekali, buku kumpulan tulisan tentang cinta yang ditulis dengan gaya prosaik oleh Ahyar Anwar, dosen Universitas Negeri Makassar yang dikenal sebagai kritikus sastra ini, tak menuai banyak tanggapan di diskusi pertamanya. Rencananya buku ini akan didiskusikan di berbagai tempat di Makassar.
Menidurkan Cinta adalah buku menarik yang memandang cinta sebagai kepedihan. Buku yang semula adalah tugas akhir Ahyar Anwar saat menempuh pendidikan strata satu di Universitas Gajah Mada ini melukiskan cinta sebagai sesuatu yang berwarna hitam dan abu-abu, bukan merah atau merah jambu. Buku ini mengamini kalimat Schopenhauer: bersiap-siap dan bersahabatlah dengan kesedihan ketika Anda menjalin cinta!
Buku ini mengisahkan kisah-kisah cinta para kaum eksistensialis semacam Sartre, Schopenhauer, Kierkegaard, Nietzsche dan Jasper. Juga mendeskripsikan ulang kisah-kisah cita torehan penulis-penulis besar; Shakespeare, Gibran hingga Marah Rusli. Selain itu cinta yang menyedihkan juga banyak didekati lewat puisi-puisi cinta, kisah-kisah popular film Hollywood, dan lagu-lagu cinta milik Dream Theater dan Bon Jovi.
***
DARI dua diskusi buku yang saya pandu, nampak beberapa persoalan perbukuan di Makassar. Salah satu di antaranya adalah bahwa masyarakat pembaca di Makassar masih sangat menganut paham selebritas. Meski masih perlu diperdebatkan, nampaknya nama Ahyar Anwar kalah populer dari M. Fadjroel Rachman. Kasus yang sama bisa kita lihat saat Andrea Hirata dan para artis yang filmnya dibukukan datang ke Makassar, peserta diskusi membludak. Kita bisa membandingkan dengan diskusi-diskusi buku yang diterbitkan oleh penerbit lokal.
Lihatlah acara-acara yang pernah digelar di bawah bendera Gerakan Makassar Gemar Membaca! Panitia selalu tak percaya diri mengadakan acara perbukuan jika tak menghadirkan satu-dua orang selebriti. Seolah-olah mereka tidak cukup kreatif untuk menggelar sebuah acara yang hidup jika tak ada seorang artis hadir di acara tersebut.
Namun yang menggembirakan dari semua itu adalah bahwa masih ada beberapa komunitas yang mengadakan acara perbukuan. Dan pula, meskipun tidak terlalu banyak, selalu saja ada orang yang datang di peluncuran buku, diskusi buku atau pameran buku. Tentu motivasi mereka datang ke acara itu bisa beragam; membeli buku dengan harga lebih murah, menemani teman, meminta tanda tangan penulis dan artis, sekadar meramaikan, atau ingin bertemu dan berkenalan dengan gadis manis.
Seperti saya, seusai memandu diskusi buku Ahyar Anwar dan Fadjroel Rachman, dari penyelenggara saya mendapatkan beberapa buku gratis dan honor yang bisa buat beli buku. Dan dari peserta saya dapat kenalan gadis manis. Lumayan kan?(p!)
*Citizen reporter M Aan Mansyur dapat dihubungi melalui email aanmansyur@gmail.com
|
| | Jumlah
Komentar (16) |
|
| Komentar :
10-12-2007 Dari : aan | aanmansyur@gmail.com terima kasih, Mas
Rasimin. Saya pikir
bukan sekadar
sepakat bahwa minat
baca itu penting,
semua orang sepakat
dengan itu saya
kira. Tetapi yang
lebih penting adalah
kita harus sepakat
melakukan sesuatu
(sekecil apapun itu)
dalam persoalan
literasi ini. Buat
siapa saja, yang mau
tahu kabar-kabar
buku di Makassar,
termasuk kabar GMGM,
saya pernah buat
sebuah blog khusus
yang menghimpun
kabar2 itu, samai
sekarang masih terus
saya update. Silakan
mampir ke
http://bukudarimakas
sar.blogspot.com/ 10-12-2007 Dari : Mas Rasimin | saya pernah lihat
mas aan waktu ada
bedah novel
tetralogi laskar
pelangi karya andrea
hirata di graha pena
makassar, anda juga
kan yang tidak
sepakat kalo laskar
pelangi itu
difilmkan karna
alasan akan hilang
substansinya seperti
banyak film yang
dibuat berdasarkan
kisah dari sebuah
novel. saya cukup
sependapat dengan
itu. ada juga duta
baca mks yang tampil
dalam talk show
bersama islah
rasyid, di sini saya
salut buat mas aan
dehhhh!!! tentang
gmgm anda bukannya
sinis tapi terlalu
mengada-ada
sepertinya. tapi
dari jawaban mas
aan, setidaknya saya
selaku org yg peduli
pendidikan sudah
merasa lega...salam.
untung ada buta
huruf yg juga kasih
masukan, okey lebih
baik kita sepakat
aja apa yang
dibahasakan
meningkatkan minat
buku itu penting,
juga harus
diseimbangkan dengan
membaca alquran....
terkhusus
panyingkul, keren!!! 09-12-2007 Dari : aan | aanmansyur@gmail.com toko arjuda yang
kita maksud? oke,
dulu saya sering
beli buku di sana.
di makassar ini
tidak kurang dari 32
toko buku.
membicarakan
distribusi buku, ini
rumit sekali.
baru-baru ini ikapi
sulsel ngajak
bincang-bincang
perbukuan khususnya
tentang distribusi
buku di salah satu
ruang di kantor
redaksi kompas biro
makassar. di sana
yang datang ada
penerbit,
distributor,
pengusaha buku (toko
buku), penulis, dan
pembaca. kalau
bicara tentang
buku-buku pelajaran,
biasanya penerbit
itu pintar sekali
menjual langsung ke
sekolah dengan
banyak cara.
termasuk perebutan
lahan di pusat, buku
mana yang diperboleh
dan tidak
diperbolehkan edar
di sekolah. rumit
sekali. kadang-kdang
penerbitlah yang
melakukan riset,
misalnya di sulsel
butuh buku seperti
ini, lalu melaporkan
ke pusat dan pusat
mengeluarkan dana
sekian milyar untuk
buku. dan tentu
penerbit yang paling
dekat dengan
kekuasaanlah yang
dapat proyek itu.
makanya jangan heran
kalau setiap tahun
buku pelajaran
ganti, karena
penerbit setiap
tahun mau untung
besar setiap tahun.
seorang dari
penerbit (lupa
namanya) di
bincang-bincang itu
bilang bahwa satu
judul buku pelajaran
yg diterbitkannya
bisa meraup untung
paling sedikit 200
juta. 08-12-2007 Dari : Syamsoe | toyota-gue.com/ bank Sulsel Salam Kenal. Mas
Aan, dekat rumah
saya ada sebuah toko
buku yang cukup
laris beberapa tahun
terakhir, tepatnya
di area jalan
mappaoddang mks dkt
kampus stiem. toko
tsb menjual buku2
pelajaran, alat
tulis etc. Moka
tanya, apa aan juga
pengamat buku2
pendidikan atau
lebih ke penekanan
sastra?, sebagai
orang yang awam
dalam masalah
perbukuan, saya mau
usul, untuk kembali
menggeliatkan sektor
usaha kecil
khususnya pengusaha
buku
(gapbi-sulsel),giman
a kalo pemerintah
menyalurkan buku
kepengusaha kecil
dulu baru
kemasyarakat, tidak
langsung ke masy..
jadi setidaknya
pengusaha buku tidak
menjadi " mati
suri". bagaimana
anda melihat hal
itu? tq 08-12-2007 Dari : Buta Huruf | udah..udah.. smua
benar,bagusnya anda
berdua diskusi di
milis saja... peace
man, kita ganti
topik. meningkatkan
minat buku itu
penting, juga harus
diseimbangkan dengan
membaca alquran... 07-12-2007 Dari : aan | aanmansyur@gmail.com maaf, maksud saya
hampir 100% rumah
baca itu, bukan
hampir 100 rumah
baca.maaf, sekali
lagi saya memang
nampaknya terlalu
sinis kalau bicara
tentang gmgm. tetapi
saya begitu karena
saya peduli dengan
itu. persoalannya
adalah membaca
koran-koran lokal di
makassar, yang ada
hanya membicarakan
kegiatan gmgm, dan
kabar buruknya tak
pernah disinggung.
makanya, saya agak
sinis. saya mengenal
baik kok beberapa
orang yang aktif di
gmgm. dan kami
sering diskusi
tentang perbukuan.
beberapa kali kami
bahkan undang ke
tempat kami untuk
diskusi, terakhir
mengundang para duta
baca untuk mengajak
mereka membiacarakan
langkah-langkah yang
kira-kira bagu untuk
ditempuh demi
program ini. Maaf,
kalau kata-kataku
terlalu sinis! tak
perlulah saya pikir
cari kamus. salam! 06-12-2007 Dari : Mas Rasimin | saya org pare2 tapi
sejak 5 tahun
terakhir menetap di
makassar (sekedar
publikasi
aja)....satu hal
lagi nih mas aan,
anda mengatakan
hampir 100 rumah
baca yang dibikin
GMGM? tidak salah
tuh mas, bukannya
sebagian adalah
hasil swadaya
masyarakat? kalo
memang GMGM yang uat
semua, fakta dari
mana? lain halnya
lagi ketika anda
mengatakan mati tak
berpenghuni
sekarang, lebih
ektrim lagi nih
kayaknya....tolong
dibedakan antara
betul2 tak
berpenghuni dengan
berpenghuni biarpun
hanya 1 orang
misalnya!!! di sini
saya tidak tahu
pengertian anda yang
berpenghuni itu
mungkin jika ada
orang di dalamya
sampai ratusan atau
ribuan orang! begitu
yah mas aan, kalo
memang begitu,
kayaknya saya mesti
cari kamus besar
bahasa indonesia
lagi
nihhhh....terima
kasih 06-12-2007 Dari : Mas Rasimin | Lihatlah acara-acara
yang pernah digelar
di bawah bendera
Gerakan Makassar
Gemar Membaca!
Panitia selalu tak
percaya diri
mengadakan acara
perbukuan jika tak
menghadirkan
satu-dua orang
selebriti.
Seolah-olah mereka
tidak cukup kreatif
untuk menggelar
sebuah acara yang
hidup jika tak ada
seorang artis hadir
di acara tersebut.
maaf mas aan, saya
kembali copy-paste
penggalan di atas,
saya memang bukanlah
org gmgm, tapi
maslah perkembangan
gmgm, rasanya sering
juga saya ikuti.
nah, saya cuma tidak
sependapat saja
dengan beberapa
baris tulisan anda,
sepertinya, gimana
yah, terlalu ekstrim
kalo saya pikir. di
sini saya akui kalo
anda memang giat
diperbukuan, penulis
juga, mungkin
penerbit juga, tapi
lagi2 bukan masalah
kreatif atau
tidaknya acara yang
dibuat gmgm, justru
ketika anda berkata
bahwa gmgm dinilai
tidak kreatif tanpa
adanya artis,
wahhhh...saya
sendiri merasa
begitu miris
mendengarnya...tidak
adakah kata yang
lebih sopan jika
memang gmgm begitu
adanya? Toh, saya
yakin anda lebih
lihai untuk hal
itu...
mungkin sama halnya
kalo saya bilang mas
aan juga tidak
kreatif menulis buku
tanpa menghadirkan
atau mengambil
kata-kata orang
lain? maaf nih mas
aan, sedikit
perbandingan
saja...tapi sekali
lagi apresiasi anda
sungguh besar
terhadap
perkembangan dunia
kepenulisan
khususnya di
makassar, dan saya
saja yang dari
pare-pare cukup
berterima kasih
untuk hal itu, sebab
saya peduli! terima
kasih
05-12-2007 Dari : aan | aanmansyur@gmail.com mas rasimin, nyaris
semua kegiatan gmgm
saya ikuti. beberapa
kali saya menulis di
media tentang gmgm.
jauh sebelum gmgm
diluncurkan di
makassar saya aktif
di bidang perbukuan
di makassar. coba
sebutkan satu saja
kegiatan gmgm yg
menurut mas rasimin
kreatif dan
betul-betul bisa
disebut gerakan
membaca? satu saja!
bikin rumah baca?
saya datangi
semuanya, hampir 100
rumah baca yg
dibikin gmgm mati
tak berpenghuni
sekarang. beberapa
hari yg lalu satu
orang dari gmgm
meminta hasil riset
saya tentang minat
baca di makassar
untuk acaranya yang
3 desember (yg
datang tantowi)
kemarin. tantow
ceramah di depan
4000 siswa, siswa2
itu bicara tak
memerhatikan mereka
di depan. saya di
sana. waktu gmgm
minta hasil riset
saya, saya bilang
masa gmgm yg punya
gerakan besar itu
tak punya hasil
riset? bayangkan
punya gerakan
seperti itu tapi tak
punya riset tentang
apa yg mereka
lakukan. coba tanya
anak smp dan sma yg
kemarin konon akan
diperbaiki perpus
sekolah mereka.
silakan dicek! saya
sudah tanya banyak
siswa tentang itu.
perpus mereka tetap
sama dengan yg dulu,
kata mereka. tapi
tetap saya merasa
bahwa gmgm itu
penting untuk
didukung.. makanya
saya mengkritiknya
biar bisa lebih
bagus! 04-12-2007 Dari : Mas Rasimin | Rasimin-jgj@yahoo.co.id Lihatlah acara-acara
yang pernah digelar
di bawah bendera
Gerakan Makassar
Gemar Membaca!
Panitia selalu tak
percaya diri
mengadakan acara
perbukuan jika tak
menghadirkan
satu-dua orang
selebriti.
Seolah-olah mereka
tidak cukup kreatif
untuk menggelar
sebuah acara yang
hidup jika tak ada
seorang artis hadir
di acara tersebut.
maaf!!! rasanya saya
kurang setuju dengan
pendapat ini. kenapa
bisa anda langsung
mencap demikian,
padahal dalam
eksistensinya
sendiri GMGM
bukanlah sebuah team
work yang taunya
berkilah dibalik
punggung selebriti
yang anda katakan.
ketika anda
mengikuti tiap
kegiatan yang
berlangsung dan
dilakukan oleh GMGM
sendiri, adapun
mengundang artis
misalnya katon
Bagaskara, Tantowi
Yahya, Art2Tonic,
serta Dian ekawati,
itu karena mereka
punya jalur
relevansi dengan
GMGM. Katon dan
Tantowi, dua2nya
adalah duta baca
nasional yang tentu
sangat penting guna
mensosialisasikan
minat baca,
sementara Art2Tonic
dan Dian ekawati,
bukankah mereka juga
adalah duta baca
makassar? hanya saja
mereka kebetulan
adalah sosok seleb
yang mungkin salah
satunya adalah fans
anda.
dan jika dinilai
GMGM tidak kreatif
tanpa adanya sosok
selebtiti dalam
satu-dua acara yang
dilakukan, rasanya
anda memang kurang
mengikuti
perkembangan GMGM
itu sendiri. terima
kasih..... 03-12-2007 Dari : haerul sohib | herulsohib@yahoo.co.id tidak bisa
dipungkiri lagi,
bahwa buku dapat
meningkatkan
kualitas diri
seseorang, lihat
saja para pemimpin
dunia, pasti dalam
ruangan mereka ada
berbagai koleksi
buku, bukan hanya
mereka, motivator,
politikus,
ekonom,serta
beberapa orang yang
ingin meningkatkan
kualitas dirinya
pasti mencari
buku,bukankah Ayat
yang pertama dari
Alqur'an mewajibkan
kita "bacalah".
tentu ini signal
pertama untuk
mencapai sukses
dunia dan akhirat,
tinggal niat yang
selnjutnya bekerja,
Don't make your life
like "keledai atau
Katak dalam
tempurung" , salam 03-12-2007 Dari : masdar | masdar_026@yahoo.co.id buku adalah mozaik
untuk mendapatkan
norma-norma
kehidupan untuk
mengenal diri kita
yang sesungguhnya. 03-12-2007 Dari : sultan habnoer | sultan@yps-srk.sch.id Wah..minat dong
dapat buku-buku ini.
Pak Ahyar akhirnya
terbitkan buku juga
ya..Selamat Pak!
Aan..
he..he..kamu sudah
untung besar ces.
Dapat buku, honor,
dan lihat cewek
cantik. 02-12-2007 Dari : Rizal | dramrizal@yahoo.co.id Bukan Pengalaman
tapi Bukulah yang
merupakan guru yang
paling baik di dunia
ini. Karena buku
merupakan
kristalisasi
pengalaman-pengalama
n terbaik. 02-12-2007 Dari : i Nuntung | daeng.nuntung@gmail.com untuk tulisan buku
pak Ahyar, sy pikir
"bungkusannya" dan
iklannya yang perlu
dimantapkan. Kalau
tidak bisa lewat
media TV atau koran,
bukankah "lewat"
media mahasiswa bisa
juga? kampus
dikirimi selebaran,
pamflet? Fajroel R
sudah dikenal jauh
sebelum buat novel
itu dan itulah yang
membentuk image
minat datang dan
didukung iklan di
media massa,
tentunya... 02-12-2007 Dari : kapitipiti | kapitipitie@yahoo.co.jp Bacalah buku
banyak-banyak
sebelum kegiatan
berpikir pun
dilarang. |
|
|
|
|
| ::
CITIZEN REPORTER |
 | (Kamis, 12-07-2007) |  | (Minggu, 29-04-2007) |  | (Selasa, 31-10-2006) |  | (Rabu, 11-10-2006) |  | (Rabu, 16-08-2006) | |
|
Untitled Document
| ::
DUNIA SEGIEMPAT KAREBOSI |
|
Untitled Document
| ::
KONTAK TIM PANYINGKUL! |
Email Redaksi :
redaksi@panyingkul.com
Tim:
yus@panyingkul.com
+62 813 226 80844
Moch. Hasymi
+62 811 955 954
|
|
|