Untitled Document
 


Untitled Document
.KITAKITA
:: Jika Anda di Panyingkul ::
 
 KABAR KITA
 
 BERANDAKITA
Kegilaan, Dari Cinta Mati di Pulau Rajuni Hingga Riwayat Kadang
:: Ivan Firdaus ::
Baba Guru, Mengenang Film Rhoma Irama di Klenteng Galesong
:: Kamaruddin Azis ::
Mengagumi Tenun Troso, Mengenang Tenun Sengkang
:: Suryadin Laoddang ::
Perempuan Besi di Gunung Perak (2-selesai)
:: M. Aan Mansyur ::
Perempuan Besi di Gunung Perak (1)
:: M. Aan Mansyur ::
 
 RISETKITA
Rasa Takut : Yang Dicitrakan, Yang Dipelihara
:: Aria W. Yudhistira ::
Risetkita: Pramoedya versus Sejarah Resmi
:: Nurhady Sirimorok ::
Hikayat Rumpon Nelayan Mandar
:: Muhammad Ridwan Alimuddin ::
Di Makassar Pernah Ada “Negeri Wajo”
:: Nurhady Sirimorok ::
Surat Itu Ditulis Upas kepada September
:: Nurhady Sirimorok ::
 
 BUKUKITA
 
 KATAKOTAKITA
Kenapa si Gondrong yang Maju?
:: Ivan Firdaus dan Mustamin al-Mandary ::
Karena ‘Rewa’ Badan Binasa
:: Sudirman Nasir ::
Yang Okkot, yang Salah Sambung
:: Nursamsu danTusiana Noor Alfisyahr ::
Kandala`ka`, Kusta Bila Dusta
:: Panyingkul ::
Ayo, Si(ng)kat Terussss..!
:: Panyingkul! ::

 
 TAHUKAHKITA
 

.
 ::
Kamis, 13-12-2007 
Matrawi, Buku dan Sesuap Nasi
:: Muhammad Ruslailang Noertika ::


Matrawi dan buku dagangannya.
Foto: Muhammad Ruslailang Noertika.


Ini pemandangan yang lazim di kota-kota besar di Indonesia: pedagang keliling yang menawarkan barang dari pintu ke pintu. Ungkapan “mencari sesuap nasi” mendapatkan perwujudan dalam arti yang sebenar-benarnya dari pedagang kecil seperti ini. Dari Balikpapan, citizen reporter Muhammad Ruslailang Noertika membagi hasil obrolannya berikut ini, dengan seorang penjaja buku keliling, yang mendatangi rumahnya di suatu siang yang panas. (p!)
 
Di hari yang teramat terik, seorang pedagang keliling mampir di depan pagar rumah saya. Lelaki tua, mengenakan topi rimba, berselendang kain sarung dengan tangan menggenggam buku. Tubuhnya tampak ringkih, kontras dengan suaranya terdengar lantang, “Anak, mau beli buku?”

Ia menggoyang-goyangkan kedua buku yang ada di tangannya. Tentu saja saya kaget, karena di siang yang membakar seperti ini masih ada juga yang berjualan. Yang ditawarkan pun tidak lazim: buku. Biasanya, saya membeli buku di toko buku langganan, dan itupun karena memang ada buku menarik yang direkomendasikan teman.

Tapi seperti melawan kelaziman, kakek tua itu menjajakan buku berkeliling dari rumah ke rumah, berjalan kaki. Saya mempersilakan kakek itu menggelar dagangannya di teras rumah.

Namanya Matrawi, berusia 68 tahun, berasal dari Sumenep, Madura. Menurut penuturannya, menjajakan buku keliling ini dilakoninya sejak tahun 2003 ketika pertama kali menginjakkan kaki di kota Balikpapan. Ia mengaku, sebelumnya dia adalah petani di Sumenep. Hasil bertaninya sebesar Rp25 juta dihabiskan untuk mengurus anaknya masuk AKABRI. Anaknya kini sudah berpangkat Letnan Dua, sambil mengeluarkan dompet dan menunjukkan sebuah foto yang diakuinya sebagai anaknya dengan pakaian militer.

Matrawi bertutur, sebelum ke Balikpapan dia sempat mengikuti pelantikan anaknya di Monas. Katanya dilantik oleh Presiden Megawati Soekarno Putri waktu itu. “Sudah kaya dong, Pak...” saya memancingnya. Matrawi hanya tersenyum dan menggeleng lemah, tak melanjutkan kisah tentang anaknya. Ia memilih mempromosi buku-buku dagangannya. Katanya, buku-buku ini semuanya adalah buku tentang agama Islam; komik nabi-nabi, risalah sholat, al-qur’an dan kumpulan doa-doa, dikirimkan langsung oleh anaknya dari Surabaya. Makanya harganya murah, dibandingkan dengan toko-toko di pasar Klandasan.

Saat saya tanya, harga dari buku-buku tersebut sambil menunjuk beberapa komik kisah nabi yang berukuran kecil dan tipis, pak Matrawi bingung menjawabnya. “Sesuai keikhlasan saja, Nak. Berapa anak mau bayar, yang penting ikhlas”.

Menurutnya, dia menjajakan buku ini bukan untuk mencari untung, tujuannya hanya untuk minta tolong. Sekedar untuk membeli makan saja sehari-harinya, yang dia bilang sebesar Rp7.000 sekali makan.

Selintas saya kemudian membayangkan industri buku di Indonesia yang mungkin memproduksi buku ribuan setiap bulannya, terutama saat booming novel chicklit yang digemari para remaja itu. Dalam setiap produksi buku, menurut berita, disributor dan toko buku kebagian pendapatan hingga 70 persen dari harga buku. Sedang pihak penerbit dan pengarang buku hanya menikmati sisanya. Ditambah dengan biaya produksi yang tidak sedikit, terbayang betapa besar biaya yang dikeluarkan oleh para pembaca.

Lantas, berapa rupiahkah yang bisa dinikmati oleh orang-orang seperti Matrawi yang hanya berharap uang makan saja dari dagangannya itu?

Dalam sehari jualan Matrawi hanya laku paling banyak dua buah, dengan penghasilan paling tinggi Rp35.000. Pernah juga dia menerima Rp50.000, tapi itu hal yang jarang sekali. Penghasilan yang teramat kecil itu, dipakainya untuk menghidupi dirinya bersama istri yang siang itu juga ikut berkeliling menemani Matrawi.

Berdua mereka berjalan kaki menyusuri kampung-kampung di Balikpapan sejak pagi, berangkat dari rumahnya di Gunung Malang. Saat itu, kelihatan mata istrinya yang berjilbab itu berair. Saya tanya kenapa? Pak Matrawi menjawab, istrinya sakit perut sedari tadi. Saat saya ajak makan siang di rumah, dengan halus Matrawi menolak. Mereka memilih melanjutkan perjalanan menyusuri aspal panas, menjajakan buku, menantang hari yang terbakar. (p!)

*Citizen reporter Muhammad Ruslailang Noertika dapat dihubungi melalui email muhruslee@gmail.com

| Beri Komentar| Jumlah Komentar (6) |

Komentar :

21-12-2007
Dari : Iis | Florensen_iis@yahoo.co.id
Saya kasian juga ma pak tua itu tapi saya ga suka dengan gelagatnya yang seperti norang ngotot,tapi mendengar tentang cerita anknya saya jadi kasian juga dah susah payah membesarkan anak begitu dah sukses jadi lupa deh ma orang tua,itu jd pelajran buat yang baca....Oke,,..

16-12-2007
Dari : alithia |
Kalau saya amati, kayaknya buku-buku ayng dijual tidak sesuai selera saya. Gimana ya kalau ketemu sama penjual buku seperti itu? Kayaknya memang kita membeli karena kasihan saja. Semoga Pak Matrawi sukses, kok anaknya tidak balas budi sama orang tuanya?

14-12-2007
Dari : deen | deen10february@yahoo.com
wah, ini kali pertama sy tahu ada penjual buku keliling.. Thanks liputannya.. :)

14-12-2007
Dari : tommy | t_ekariau@yahoo.co.id
hebat juga perjuanagn hidup pak Matrawi,tetapi "sayang"tidak diceritakan kenapa sampai merantau ke Balikpapan?apa karena paceklik atau karena ulah tengkulak tenaga kerja garapan?

14-12-2007
Dari : Sultan Habnoer | sultan@yps-srk.sch.id
Saya bangga dengan orang tua seperti Pak Matrawi, berumur 60 tahun lebih, tetapi masih mampu menghidupi dirinya dengan 'benar', di tempat lain orang yang sebaya Pak Matrawi ini banyak menggantungkan hidup dengan belas kasihan orang lain. Tapi, kenapa Pak Matrawi tidak bersama saja dengan anaknya yang lulusan Akabri itu, biar tidak perlu membanting tulang di usia jompo?

13-12-2007
Dari : Ipul | ipul.ji@gmail.com
profesi yg dijalani pak Matrawi memang agak2 ndak lazim ya..?, jual buku..padahal kita tahu di Indonesia, minat baca masih sangat rendah..orang ke toko buku aja masih belum tentu beli, ini malah didatangi ke rumahnya..di kantor juga sering ada penjual buku kayak pak Matrawi ini. trus terang kita2 beli cuma karena kasihan aja...tapi salut pada perjuangan orang2 seperti pak Matrawi.



 :: CITIZEN REPORTER
Makassar di Panyingkul!: Sebuah Persembahan
(Kamis, 12-07-2007)
Ayo Bergabung di Panyingkul!
(Minggu, 29-04-2007)
Catatan Sederhana Para Citizen Reporter
(Selasa, 31-10-2006)
Tentang Citizen Reporter dan Rubrik di Panyingkul!
(Rabu, 11-10-2006)
Riuh Rendah di Panyingkul!
(Rabu, 16-08-2006)

Untitled Document
 :: DUNIA SEGIEMPAT KAREBOSI






 :: PILKADA




 :: ALBUM PUASA 2008




Untitled Document
 :: KONTAK TIM PANYINGKUL!

Email Redaksi :

redaksi@panyingkul.com

Tim:
yus@panyingkul.com
+62 813 226 80844

Moch. Hasymi
+62 811 955 954


© Juni 2006 - Panyingkul.com All Rights Reserved
Desain Web : Nesia Andriana -- Supported by: Yuhardin