|
|
| . |
| ::
|
| Kamis, 13-12-2007 | Matrawi, Buku dan Sesuap Nasi :: Muhammad Ruslailang Noertika ::
| Matrawi dan buku dagangannya. Foto: Muhammad Ruslailang Noertika.
Ini pemandangan yang lazim di kota-kota besar di Indonesia: pedagang keliling yang menawarkan barang dari pintu ke pintu. Ungkapan “mencari sesuap nasi” mendapatkan perwujudan dalam arti yang sebenar-benarnya dari pedagang kecil seperti ini. Dari Balikpapan, citizen reporter Muhammad Ruslailang Noertika membagi hasil obrolannya berikut ini, dengan seorang penjaja buku keliling, yang mendatangi rumahnya di suatu siang yang panas. (p!) | Di hari yang teramat terik, seorang pedagang keliling mampir di depan pagar rumah saya. Lelaki tua, mengenakan topi rimba, berselendang kain sarung dengan tangan menggenggam buku. Tubuhnya tampak ringkih, kontras dengan suaranya terdengar lantang, “Anak, mau beli buku?”
Ia menggoyang-goyangkan kedua buku yang ada di tangannya. Tentu saja saya kaget, karena di siang yang membakar seperti ini masih ada juga yang berjualan. Yang ditawarkan pun tidak lazim: buku. Biasanya, saya membeli buku di toko buku langganan, dan itupun karena memang ada buku menarik yang direkomendasikan teman.
Tapi seperti melawan kelaziman, kakek tua itu menjajakan buku berkeliling dari rumah ke rumah, berjalan kaki. Saya mempersilakan kakek itu menggelar dagangannya di teras rumah.
Namanya Matrawi, berusia 68 tahun, berasal dari Sumenep, Madura. Menurut penuturannya, menjajakan buku keliling ini dilakoninya sejak tahun 2003 ketika pertama kali menginjakkan kaki di kota Balikpapan. Ia mengaku, sebelumnya dia adalah petani di Sumenep. Hasil bertaninya sebesar Rp25 juta dihabiskan untuk mengurus anaknya masuk AKABRI. Anaknya kini sudah berpangkat Letnan Dua, sambil mengeluarkan dompet dan menunjukkan sebuah foto yang diakuinya sebagai anaknya dengan pakaian militer.
Matrawi bertutur, sebelum ke Balikpapan dia sempat mengikuti pelantikan anaknya di Monas. Katanya dilantik oleh Presiden Megawati Soekarno Putri waktu itu. “Sudah kaya dong, Pak...” saya memancingnya. Matrawi hanya tersenyum dan menggeleng lemah, tak melanjutkan kisah tentang anaknya. Ia memilih mempromosi buku-buku dagangannya. Katanya, buku-buku ini semuanya adalah buku tentang agama Islam; komik nabi-nabi, risalah sholat, al-qur’an dan kumpulan doa-doa, dikirimkan langsung oleh anaknya dari Surabaya. Makanya harganya murah, dibandingkan dengan toko-toko di pasar Klandasan.
Saat saya tanya, harga dari buku-buku tersebut sambil menunjuk beberapa komik kisah nabi yang berukuran kecil dan tipis, pak Matrawi bingung menjawabnya. “Sesuai keikhlasan saja, Nak. Berapa anak mau bayar, yang penting ikhlas”.
Menurutnya, dia menjajakan buku ini bukan untuk mencari untung, tujuannya hanya untuk minta tolong. Sekedar untuk membeli makan saja sehari-harinya, yang dia bilang sebesar Rp7.000 sekali makan.
Selintas saya kemudian membayangkan industri buku di Indonesia yang mungkin memproduksi buku ribuan setiap bulannya, terutama saat booming novel chicklit yang digemari para remaja itu. Dalam setiap produksi buku, menurut berita, disributor dan toko buku kebagian pendapatan hingga 70 persen dari harga buku. Sedang pihak penerbit dan pengarang buku hanya menikmati sisanya. Ditambah dengan biaya produksi yang tidak sedikit, terbayang betapa besar biaya yang dikeluarkan oleh para pembaca.
Lantas, berapa rupiahkah yang bisa dinikmati oleh orang-orang seperti Matrawi yang hanya berharap uang makan saja dari dagangannya itu?
Dalam sehari jualan Matrawi hanya laku paling banyak dua buah, dengan penghasilan paling tinggi Rp35.000. Pernah juga dia menerima Rp50.000, tapi itu hal yang jarang sekali. Penghasilan yang teramat kecil itu, dipakainya untuk menghidupi dirinya bersama istri yang siang itu juga ikut berkeliling menemani Matrawi.
Berdua mereka berjalan kaki menyusuri kampung-kampung di Balikpapan sejak pagi, berangkat dari rumahnya di Gunung Malang. Saat itu, kelihatan mata istrinya yang berjilbab itu berair. Saya tanya kenapa? Pak Matrawi menjawab, istrinya sakit perut sedari tadi. Saat saya ajak makan siang di rumah, dengan halus Matrawi menolak. Mereka memilih melanjutkan perjalanan menyusuri aspal panas, menjajakan buku, menantang hari yang terbakar. (p!)
*Citizen reporter Muhammad Ruslailang Noertika dapat dihubungi melalui email muhruslee@gmail.com
|
| | Jumlah
Komentar (6) |
|
| Komentar :
21-12-2007 Dari : Iis | Florensen_iis@yahoo.co.id Saya kasian juga ma
pak tua itu tapi
saya ga suka dengan
gelagatnya yang
seperti norang
ngotot,tapi
mendengar tentang
cerita anknya saya
jadi kasian juga dah
susah payah
membesarkan anak
begitu dah sukses
jadi lupa deh ma
orang tua,itu jd
pelajran buat yang
baca....Oke,,.. 16-12-2007 Dari : alithia | Kalau saya amati,
kayaknya buku-buku
ayng dijual tidak
sesuai selera saya.
Gimana ya kalau
ketemu sama penjual
buku seperti itu?
Kayaknya memang kita
membeli karena
kasihan saja. Semoga
Pak Matrawi sukses,
kok anaknya tidak
balas budi sama
orang tuanya? 14-12-2007 Dari : deen | deen10february@yahoo.com wah, ini kali
pertama sy tahu ada
penjual buku
keliling.. Thanks
liputannya.. :) 14-12-2007 Dari : tommy | t_ekariau@yahoo.co.id hebat juga
perjuanagn hidup pak
Matrawi,tetapi
"sayang"tidak
diceritakan kenapa
sampai merantau ke
Balikpapan?apa
karena paceklik atau
karena ulah
tengkulak tenaga
kerja garapan? 14-12-2007 Dari : Sultan Habnoer | sultan@yps-srk.sch.id Saya bangga dengan
orang tua seperti
Pak Matrawi, berumur
60 tahun lebih,
tetapi masih mampu
menghidupi dirinya
dengan 'benar', di
tempat lain orang
yang sebaya Pak
Matrawi ini banyak
menggantungkan hidup
dengan belas kasihan
orang lain.
Tapi, kenapa Pak
Matrawi tidak
bersama saja dengan
anaknya yang lulusan
Akabri itu, biar
tidak perlu
membanting tulang di
usia jompo? 13-12-2007 Dari : Ipul | ipul.ji@gmail.com profesi yg dijalani
pak Matrawi memang
agak2 ndak lazim
ya..?, jual
buku..padahal kita
tahu di Indonesia,
minat baca masih
sangat rendah..orang
ke toko buku aja
masih belum tentu
beli, ini malah
didatangi ke
rumahnya..di kantor
juga sering ada
penjual buku kayak
pak Matrawi ini.
trus terang kita2
beli cuma karena
kasihan aja...tapi
salut pada
perjuangan orang2
seperti pak
Matrawi.
|
|
|
|
|
| ::
CITIZEN REPORTER |
 | (Kamis, 12-07-2007) |  | (Minggu, 29-04-2007) |  | (Selasa, 31-10-2006) |  | (Rabu, 11-10-2006) |  | (Rabu, 16-08-2006) | |
|
Untitled Document
| ::
DUNIA SEGIEMPAT KAREBOSI |
|
Untitled Document
| ::
KONTAK TIM PANYINGKUL! |
Email Redaksi :
redaksi@panyingkul.com
Tim:
yus@panyingkul.com
+62 813 226 80844
Moch. Hasymi
+62 811 955 954
|
|
|