|
|
| . |
| ::
|
| Rabu, 02-01-2008 | Terompet Tahun Baru, Antara Kongsi, Persaingan dan Hujan :: Muhammad Ruslailang Noertika ::
| Supriadi dan terompetnya. Foto: Muhammad Ruslailang Noertika.
Rabu 2 Januari 2008. Di manakah terompet tahun baru Anda buang? Terompet kertas yang pasti lecek kena hujan, terompet yang hanya dibutuhkan sekejap untuk menciptakan suara pekak sesaat, menemani kita mengganti penanggalan. Di balik yang serba sekejap itu, para pembuat terompet bekerja berhari-hari dan orang-orang yang menjajakannya di seputar pergantian tahun, juga sejak jauh hari berharap hujan tidak turun, agar terompet laris, agar rejeki dapat dibawa pulang. Citizen reporter Muhammad Ruslailang Noertika mewawancarai Supriadi, seorang perantau asal Lamongan yang berjualan terompet di malam pergantian tahun. (p!) | Senja menjelang, merapat ke setiap sudut kota Balikpapan. Senja hari ini adalah senja yang tak biasa, karena disambut dengan bebunyian terompet dan petasan yang silih berganti, dan senyum sumringah anak-anak kecil menyambut tahun yang berganti.
Balikpapan, sebagaimana kota besar lainnya d Indonesia, juga semarak menyambut pergantian tahun. Laki-laki perempuan, anak kecil remaja hingga orang tua punya acara masing-masing menyambut pergantian tahun yang dianggap istimewa. Ada yang mengisi nya dengan bakar jagung, mengunjungi keramaian di pusat kota, atau ada juga yag menghabiskan semalam suntuk di depan TV, menonton acara semarak pergantian tahun yang special dari masing-masing stasiun televisi. Malam tahun baru, sebagaimana malam-malam sebelumnya memang disi dengan hiburan aneka macam.
Terompet Membawa Rejeki
Dalam semarak pergantian tahun, terompet seperti wajib hadir dalam detik-detik menjelang dan sesudah tahun berganti sebagaimana sudah menjadi tradisi. Entah dari mana tradisi ini bermula, yang jelas hingga saat ini jutaan terompet bisa ludes dalam satu atau dua malam menjelang pergantian tahun. Kota dan kampung, menjadi riuh dengan bebunyian dari terompet ini. Tidak ada akan yang merasa gaduh terganggu, karena bebunyiaan itu mewakili keceriaan meninggalkan tahun yang telah dijalani, menggantinya dengan tahun baru yang penuh harapan.
Terompet yang menjadi simbol pergantian tahun kemudian menjadi ladang rezeki buat para pedagang terompet yang biasanya telah bermunculan selepas Natal. Di sepanjang jalan protokol di kota-kota besar, umumnya mudah dijumpai jejeran para pedagang terompet.
Tak terkecuali di Balikpapan, juga mudah ditemui ratusan pedagang terompet yang berjejer di sepanjang jalan di berbagai sudut kota, hingga ke jalan menuju luar kota. Rupanya, rezeki malam tahun baru tidak disia-siakan begitu saja. Pintu rejeki, walaupun hanya berlangsung semalam saja, bisa membawa berkah bagi satu keluarga.
Melayani pembeli Foto: Muhammad Ruslailang Noertika.
Berkongsi
Supriadi, seorang warga Balikpapan asal Lamongan, tidak ketinggalan memanfaatkan momentum tahun baru ini. Lelaki usia 33 tahun yang sehari-harinya berjualan salome, sejenis bakso goreng yang dibumbui saus sambel ini, menyisihkan sebagian besar keuntungannya untuk dijadikan modal berjualan terompet tahun baru. Berkongsi dengan dua rekan lannya, dia membeli sekitar 600 terompet senilai Rp1.500.000 dari seorang pengusaha-pengrajin terompet di Balikpapan. Terompet ini dibeli dengan sistem garansi, sekiranya ada kerusakan atau cacat bisa dikembalikan atau ditukar dengan terompet yang kondisinya baik. Tapi garansi ini hanya berlaku sampai menjelang tahun baru saja. Lewat tahun baru, maka si pengrajin terompet tidak menerima lagi penukaran atau pengembalian. Mungkin karena momen puncak nya sudah berlalu, sehingga tidak mudah lagi menualnya. Menyimpan terompet untuk tahun depannya tidak memungkinkan , apalagi karena terompet ini mudah rusak.
Terompet-terompet yang dibeli dari pengusaha itu kemudian dibagi tiga jumlahnya, disesuaikan dengan jumlah modal yang disetor. Dengan menggantukangkannya pada rangka kayu seperti jemuran berukuran 1x2 meter yang ditempatkan dibelakang motor bebek yang mereka kendarai. Mereka menyebar ke sepanjang jalan yang biasa dilalui oleh keramaian. “Saya tidak mau jauh-jauh berjualan” katanya menjelaskan kenapa memilih Jalan Sukarno Hatta KM 2 sebagai tempat berjualan, yang rupanya hanya sekitar 500 meter dari tempat tinggalnya, di jalan Inpres IV.
“Takut gak banya laku kalau berualan di tempat jauh. Sudah rugi bensin, gak laku pula. Kalau berjualan di sini, biasanya ada juga tetangga yang memilih beli sama saya. Lumayan!” katanya menambahkan alasan. Senja itu, Supriadi memang memilih berjualan di kawasan Kilo 2 Paldam, sebuah jalan poros menuju luar kota, Samarinda.
Untuk jenis terompet yang berbentuk dan ukuran sederhana dijual seharga Rp3.000 – Rp.5000, sedang untuk yang berbentuk saxophone dihargai Rp10.000 – 15.000. Selain terompet, mereka juga berjualan topeng-topengan yang bentunya mirip tokoh kartun superhero yang biasa ditayangkan di televisi. Target pembeli memang umumnya anak-anak dan remaja, karenanya bentuk terompet dan topeng disesuaikan dengan selera segmen tersebut.
Pembeli biasanya lebih memilih membeli terompet pada hari menjelang tahun baru, namun tidak sedikti juga yang membeli sejak malam Natal. Karenanya, umunya para pedagang teromppet memulai berjualan sejak Natal. Tapi tahun ini, menurut Supriadi, dia tidak terlalu ngotot berjualan. Dia hanya berjualan di malam tahun baru saja. Walaupun berjualan hanya satu hari, terompetnya sudah laku lumayan, bersisa 40 terompet saja padahal hari masih senja. Setiap 10 menit, ada saja pengendara mobil atau motor yang singgah di tempat Syarfuddin mangkal, yang kebetulan sedang sangat ramainya.
Merantau
Sambil menghisap rokoknya dengan nikmat, Supriadi bercerita bahwa ia datang ke Balikpapan sejak tahun 1988. Waktu itu ia masih berumur 12 tahun ketika orang tuanya memutuskan bermigrasi dari kampungnya di Jawa Timur, Lamongan. Tak sempat menyelesaikan SMAnya, Supriadi sejak remaja mulai ikut membantu ekonomi keluarga dengan berjualan salome secara berkeliling. Sekali-sekali dia ikut bekerja sebagai tukang di proyek-proyek. Lima tahun silam, ia balik kampung ke Lamongan untuk menikah. Mungkin karena tak tahan sulitnya mencari penghasilan di kampung sendiri, Supriadi kembali ke Balikpapan dan mulai lagi berjualan salome. Berjualan terompet juga dilakoninya saban pergantian tahun. Di malam tahun baru ini, dia bisa meraup rezeki 500ribu, atau hampir sebesar 100% dari modal yang disetor.
Berjualan terompet memang mendatangkan rejeki yang lumayan besar buat Supriadi dan para pedagang lainnya. Namun kerugian juga adalah hal biasa bagi mereka. Makin maraknya pedagang terompet membuat persaingan makin ketat, pintu-pintu rejeki makin sempit buat dibagi dengan banyak pedagang. Apalagi kalau jumlah pembeli tidak banyak. Cuaca juga mempengaruhi besarnya penghasilan mereka. Musuh utama pedagang terompet ini adalah hujan, karena kalau hujan dagangan mereka menjadi tidak laku. Supriadi mencontohkan, tahun lalu ada sekitar 60 terompetnya rusak karena malam tahun baru saat itu diguyur hujan yang deras. Di malam tahun baru, dia pulang ke rumah membawa semua terompetnya yang rusak. Terompet-terompet itu kemudain hanya menjadi kertas dan plastik sampah, tidak bisa diperbaiki atau dikembalikan lagi. Garansi dari pengrajin/pengusaha terompet hanya berlaku sampai menjelang malam tahun baru saja..
“Umur saya masih muda, tapi wajah saya kelihatan tua ya mas? Itu karena hidup saya yang sulit”. Demikian apologi Supriadi ketika menangkap muka heran saya ketika merespon umurnya yng terbilang masih muda, 33 tahun. Mungkin memang wajah yang tirus dan gelap itu adalah pancaran sulitnya hidup yang dijalani oleh Supriadi. Tapi di senja yang ramai itu, saya lebih sering mendapatkan senyum dan sapaan ramah darinya. Hidup yang sulit tentu bukanlah kenyataan yang kemudian harus diterima dengan perasaan tersiksa juga. Hidup sulit tapi hati dibuat bahagia dan tetap rajin berusaha adalah langkah yang lebih bijak menghadapinya. Ketika saya kembali menemuinya beberapa jam kemudian, Supriadi menyapa hangat sambil tersenyum, “Mas, terompet ku tinggal sepuluh. Alhamdulillah” Senyum sumringah merekah dari bibirnya, seakan menyapa malam di akhir 2007 dengan rezeki yang mencerahkan untuk pagi 2008 buat Supriadi dan keluarga, Amin.
Selamat Tahun Baru 2008! (p!)
* Citizen reporter Muhammad Ruslailang Noertika beralamat di http;//daengrusle.com, dapat dihubungi melalui email daengrusle@angingmmmiri.org
|
| | Jumlah
Komentar (7) |
|
| Komentar :
12-04-2008 Dari : mega | megasari_80@yahoo.com tanggal 19 april ini
sekolah saya yang
berada di bintaro
akan mengadakan
pertunjukkan drama
musical yang akan
diperankan leh para
murid tk dan sd.
kami membutuhkan
terompet sebagai
penunjak
pertunjukan.saya
berfikir untuk
menggunakan terompet
berbentuk saxsofon
yang biasanya ada
hanya pada tahun
baru saja. kiranya
ada yang bisa
memberikan info
dimana saya dapat
mendapatkannya dalam
waktu dekat ini,
saya akan sangat
menghargainya.
terima ksaih. 12-04-2008 Dari : mega | megasari_80
03-01-2008 Dari : syamsoe | toyota-gue.com waah, jadi ingat
masa jadul sempat
juga jual trompet
tahon baruan bareng
teman smu dulu..
hasilnya tuk makan
nasi goreng subuh2
di pantai losari
haha, btw kalo tidak
salah di antv juga
pernah memberitakan
bahwa salah satu hal
yang juga cukup
berpotensi
menyebabkan
terjadinya atau
semakin memanasnya
suhu permukaan bumi,
akibat dari unsur
kimiawi yang
dihasilkan oleh
tumpukan sampah dan
kertas.. atau malah
jadi tumpukan sampah
berkas2 meeting saat
pertemuan global
warming di bali
beberapa waktu lalu.
sebuah hal yang
cukup ironis 02-01-2008 Dari : Ipul | ipul.ji@gmail.com buat saya, terompet
dan segala
pernak-pernik
perayaan tahun baru
adalah sebuah ironi
untuk negeri kita.
membakar uang untuk
sbuah kepuasan
mendapatkan suara
yang pekak yang
hanya sementara dan
esoknya menjadi
sampah adalah
sedikit dari
banyaknya
kesia-siaan di
negeri ini. tapi
harus diakui juga,
acara menghambur2kan
uang itu bisa
berguna untuk orang2
seperti Supriadi,
yang justru
mengumpulkan
remah-remah dari
roti2 besar penuh
daging dan lemak
yang dimakan orang
besar...ironi
memang..untuk
dg.Rusle, selamat
broder..tulisan anda
membuka lembaran
tahun yang baru di
2008...pertanda
positif pasti..:) 02-01-2008 Dari : Ivan | ivanfirdaus@hotmail.com Untuk sebuah
momentum perpindahan
tahun, antara
kenangan dan
harapan, di situ ada
momentum mengumpul
uang... dan
menghamburkan uang,
ada luapan 'bahagia'
dan resah! Meski
esoknya, kembali
seperti semula!.
Saya kira Penulis
berhasil membagi
kenangan asam-pahit
Supriadi. 02-01-2008 Dari : rusle | daengrusle@angingmammiri.org Buat tom. Kehidupan
Malam? bukankah
penjual terompet ini
juga bagian dari
riuh nya malam
Balikpapan? Kalau yg
dimaksud adalah
kehidupan dunia
remang-remang di
Balikpapan, kiranya
mungkin bukan
'lubang' yang saya
minati untuk digali.
Sudah terlalu banyak
media mainstream
yang meliputnya,
terkhusus yang di
Kilo 17 itu. Saya
tidak punya nyali
dan iman sekuat
Moammar Emka untuk
menjadikannya lahan
serius untuk
digarap. Maafkan
atas kekurangan
saya. Anda bisa juga
kan menulis topik
itu, apalagi kalo
dunia malam itu
menarik minat anda.
Silahkan kabarkan ke
kami juga, pak Tom! 02-01-2008 Dari : tom | t_pareh@yahoo.co.id sudah banyak juga
tulisan daeng Ruslee
untu panyingkul ,
tapi kali ini masih
ada yang harus di
edit.Oh..ya,kapan
tulisan yang lainnya
mengenai Balikpapan
, utamanya kehidupan
malamnya dan gimana
dengan angkutan
umumnya????Apa daeng
Ruslee,belum
sempat???saya tunggu
tulisan berikutnya |
|
|
|
|
| ::
CITIZEN REPORTER |
 | (Kamis, 12-07-2007) |  | (Minggu, 29-04-2007) |  | (Selasa, 31-10-2006) |  | (Rabu, 11-10-2006) |  | (Rabu, 16-08-2006) | |
|
Untitled Document
| ::
DUNIA SEGIEMPAT KAREBOSI |
|
Untitled Document
| ::
KONTAK TIM PANYINGKUL! |
Email Redaksi :
redaksi@panyingkul.com
Tim:
yus@panyingkul.com
+62 813 226 80844
Moch. Hasymi
+62 811 955 954
|
|
|