Untitled Document
 


Untitled Document
.KITAKITA
:: Jika Anda di Panyingkul ::
 
 KABAR KITA
 
 BERANDAKITA
Kegilaan, Dari Cinta Mati di Pulau Rajuni Hingga Riwayat Kadang
:: Ivan Firdaus ::
Baba Guru, Mengenang Film Rhoma Irama di Klenteng Galesong
:: Kamaruddin Azis ::
Mengagumi Tenun Troso, Mengenang Tenun Sengkang
:: Suryadin Laoddang ::
Perempuan Besi di Gunung Perak (2-selesai)
:: M. Aan Mansyur ::
Perempuan Besi di Gunung Perak (1)
:: M. Aan Mansyur ::
 
 RISETKITA
Rasa Takut : Yang Dicitrakan, Yang Dipelihara
:: Aria W. Yudhistira ::
Risetkita: Pramoedya versus Sejarah Resmi
:: Nurhady Sirimorok ::
Hikayat Rumpon Nelayan Mandar
:: Muhammad Ridwan Alimuddin ::
Di Makassar Pernah Ada “Negeri Wajo”
:: Nurhady Sirimorok ::
Surat Itu Ditulis Upas kepada September
:: Nurhady Sirimorok ::
 
 BUKUKITA
 
 KATAKOTAKITA
Kenapa si Gondrong yang Maju?
:: Ivan Firdaus dan Mustamin al-Mandary ::
Karena ‘Rewa’ Badan Binasa
:: Sudirman Nasir ::
Yang Okkot, yang Salah Sambung
:: Nursamsu danTusiana Noor Alfisyahr ::
Kandala`ka`, Kusta Bila Dusta
:: Panyingkul ::
Ayo, Si(ng)kat Terussss..!
:: Panyingkul! ::

 
 TAHUKAHKITA
 

.
 ::
Rabu, 02-01-2008 
Terompet Tahun Baru, Antara Kongsi, Persaingan dan Hujan
:: Muhammad Ruslailang Noertika ::


Supriadi dan terompetnya.
Foto: Muhammad Ruslailang Noertika.


Rabu 2 Januari 2008. Di manakah terompet tahun baru Anda buang? Terompet kertas yang pasti lecek kena hujan, terompet yang hanya dibutuhkan sekejap untuk menciptakan suara pekak sesaat, menemani kita mengganti penanggalan. Di balik yang serba sekejap itu, para pembuat terompet bekerja berhari-hari dan orang-orang yang menjajakannya di seputar pergantian tahun, juga sejak jauh hari berharap hujan tidak turun, agar terompet laris, agar rejeki dapat dibawa pulang. Citizen reporter Muhammad Ruslailang Noertika mewawancarai Supriadi, seorang perantau asal Lamongan yang berjualan terompet di malam pergantian tahun. (p!)
 
Senja menjelang, merapat ke setiap sudut kota Balikpapan. Senja hari ini adalah senja yang tak biasa, karena disambut dengan bebunyian terompet dan petasan yang silih berganti, dan senyum sumringah anak-anak kecil menyambut tahun yang berganti.

Balikpapan, sebagaimana kota besar lainnya d Indonesia, juga semarak menyambut pergantian tahun. Laki-laki perempuan, anak kecil remaja hingga orang tua punya acara masing-masing menyambut pergantian tahun yang dianggap istimewa. Ada yang mengisi nya dengan bakar jagung, mengunjungi keramaian di pusat kota, atau ada juga yag menghabiskan semalam suntuk di depan TV, menonton acara semarak pergantian tahun yang special dari masing-masing stasiun televisi. Malam tahun baru, sebagaimana malam-malam sebelumnya memang disi dengan hiburan aneka macam.

Terompet Membawa Rejeki
Dalam semarak pergantian tahun, terompet seperti wajib hadir dalam detik-detik menjelang dan sesudah tahun berganti sebagaimana sudah menjadi tradisi. Entah dari mana tradisi ini bermula, yang jelas hingga saat ini jutaan terompet bisa ludes dalam satu atau dua malam menjelang pergantian tahun. Kota dan kampung, menjadi riuh dengan bebunyian dari terompet ini. Tidak ada akan yang merasa gaduh terganggu, karena bebunyiaan itu mewakili keceriaan meninggalkan tahun yang telah dijalani, menggantinya dengan tahun baru yang penuh harapan.

Terompet yang menjadi simbol pergantian tahun kemudian menjadi ladang rezeki buat para pedagang terompet yang biasanya telah bermunculan selepas Natal. Di sepanjang jalan protokol di kota-kota besar, umumnya mudah dijumpai jejeran para pedagang terompet.

Tak terkecuali di Balikpapan, juga mudah ditemui ratusan pedagang terompet yang berjejer di sepanjang jalan di berbagai sudut kota, hingga ke jalan menuju luar kota. Rupanya, rezeki malam tahun baru tidak disia-siakan begitu saja. Pintu rejeki, walaupun hanya berlangsung semalam saja, bisa membawa berkah bagi satu keluarga.


Melayani pembeli
Foto: Muhammad Ruslailang Noertika.



Berkongsi
Supriadi, seorang warga Balikpapan asal Lamongan, tidak ketinggalan memanfaatkan momentum tahun baru ini. Lelaki usia 33 tahun yang sehari-harinya berjualan salome, sejenis bakso goreng yang dibumbui saus sambel ini, menyisihkan sebagian besar keuntungannya untuk dijadikan modal berjualan terompet tahun baru. Berkongsi dengan dua rekan lannya, dia membeli sekitar 600 terompet senilai Rp1.500.000 dari seorang pengusaha-pengrajin terompet di Balikpapan. Terompet ini dibeli dengan sistem garansi, sekiranya ada kerusakan atau cacat bisa dikembalikan atau ditukar dengan terompet yang kondisinya baik. Tapi garansi ini hanya berlaku sampai menjelang tahun baru saja. Lewat tahun baru, maka si pengrajin terompet tidak menerima lagi penukaran atau pengembalian. Mungkin karena momen puncak nya sudah berlalu, sehingga tidak mudah lagi menualnya. Menyimpan terompet untuk tahun depannya tidak memungkinkan , apalagi karena terompet ini mudah rusak.

Terompet-terompet yang dibeli dari pengusaha itu kemudian dibagi tiga jumlahnya, disesuaikan dengan jumlah modal yang disetor. Dengan menggantukangkannya pada rangka kayu seperti jemuran berukuran 1x2 meter yang ditempatkan dibelakang motor bebek yang mereka kendarai. Mereka menyebar ke sepanjang jalan yang biasa dilalui oleh keramaian. “Saya tidak mau jauh-jauh berjualan” katanya menjelaskan kenapa memilih Jalan Sukarno Hatta KM 2 sebagai tempat berjualan, yang rupanya hanya sekitar 500 meter dari tempat tinggalnya, di jalan Inpres IV.

“Takut gak banya laku kalau berualan di tempat jauh. Sudah rugi bensin, gak laku pula. Kalau berjualan di sini, biasanya ada juga tetangga yang memilih beli sama saya. Lumayan!” katanya menambahkan alasan. Senja itu, Supriadi memang memilih berjualan di kawasan Kilo 2 Paldam, sebuah jalan poros menuju luar kota, Samarinda.

Untuk jenis terompet yang berbentuk dan ukuran sederhana dijual seharga Rp3.000 – Rp.5000, sedang untuk yang berbentuk saxophone dihargai Rp10.000 – 15.000. Selain terompet, mereka juga berjualan topeng-topengan yang bentunya mirip tokoh kartun superhero yang biasa ditayangkan di televisi. Target pembeli memang umumnya anak-anak dan remaja, karenanya bentuk terompet dan topeng disesuaikan dengan selera segmen tersebut.

Pembeli biasanya lebih memilih membeli terompet pada hari menjelang tahun baru, namun tidak sedikti juga yang membeli sejak malam Natal. Karenanya, umunya para pedagang teromppet memulai berjualan sejak Natal. Tapi tahun ini, menurut Supriadi, dia tidak terlalu ngotot berjualan. Dia hanya berjualan di malam tahun baru saja. Walaupun berjualan hanya satu hari, terompetnya sudah laku lumayan, bersisa 40 terompet saja padahal hari masih senja. Setiap 10 menit, ada saja pengendara mobil atau motor yang singgah di tempat Syarfuddin mangkal, yang kebetulan sedang sangat ramainya.

Merantau
Sambil menghisap rokoknya dengan nikmat, Supriadi bercerita bahwa ia datang ke Balikpapan sejak tahun 1988. Waktu itu ia masih berumur 12 tahun ketika orang tuanya memutuskan bermigrasi dari kampungnya di Jawa Timur, Lamongan. Tak sempat menyelesaikan SMAnya, Supriadi sejak remaja mulai ikut membantu ekonomi keluarga dengan berjualan salome secara berkeliling. Sekali-sekali dia ikut bekerja sebagai tukang di proyek-proyek. Lima tahun silam, ia balik kampung ke Lamongan untuk menikah. Mungkin karena tak tahan sulitnya mencari penghasilan di kampung sendiri, Supriadi kembali ke Balikpapan dan mulai lagi berjualan salome. Berjualan terompet juga dilakoninya saban pergantian tahun. Di malam tahun baru ini, dia bisa meraup rezeki 500ribu, atau hampir sebesar 100% dari modal yang disetor.

Berjualan terompet memang mendatangkan rejeki yang lumayan besar buat Supriadi dan para pedagang lainnya. Namun kerugian juga adalah hal biasa bagi mereka. Makin maraknya pedagang terompet membuat persaingan makin ketat, pintu-pintu rejeki makin sempit buat dibagi dengan banyak pedagang. Apalagi kalau jumlah pembeli tidak banyak. Cuaca juga mempengaruhi besarnya penghasilan mereka. Musuh utama pedagang terompet ini adalah hujan, karena kalau hujan dagangan mereka menjadi tidak laku. Supriadi mencontohkan, tahun lalu ada sekitar 60 terompetnya rusak karena malam tahun baru saat itu diguyur hujan yang deras. Di malam tahun baru, dia pulang ke rumah membawa semua terompetnya yang rusak. Terompet-terompet itu kemudain hanya menjadi kertas dan plastik sampah, tidak bisa diperbaiki atau dikembalikan lagi. Garansi dari pengrajin/pengusaha terompet hanya berlaku sampai menjelang malam tahun baru saja..

“Umur saya masih muda, tapi wajah saya kelihatan tua ya mas? Itu karena hidup saya yang sulit”. Demikian apologi Supriadi ketika menangkap muka heran saya ketika merespon umurnya yng terbilang masih muda, 33 tahun. Mungkin memang wajah yang tirus dan gelap itu adalah pancaran sulitnya hidup yang dijalani oleh Supriadi. Tapi di senja yang ramai itu, saya lebih sering mendapatkan senyum dan sapaan ramah darinya. Hidup yang sulit tentu bukanlah kenyataan yang kemudian harus diterima dengan perasaan tersiksa juga. Hidup sulit tapi hati dibuat bahagia dan tetap rajin berusaha adalah langkah yang lebih bijak menghadapinya. Ketika saya kembali menemuinya beberapa jam kemudian, Supriadi menyapa hangat sambil tersenyum, “Mas, terompet ku tinggal sepuluh. Alhamdulillah” Senyum sumringah merekah dari bibirnya, seakan menyapa malam di akhir 2007 dengan rezeki yang mencerahkan untuk pagi 2008 buat Supriadi dan keluarga, Amin.

Selamat Tahun Baru 2008! (p!)

* Citizen reporter Muhammad Ruslailang Noertika beralamat di http;//daengrusle.com, dapat dihubungi melalui email daengrusle@angingmmmiri.org

| Beri Komentar| Jumlah Komentar (7) |

Komentar :

12-04-2008
Dari : mega | megasari_80@yahoo.com
tanggal 19 april ini sekolah saya yang berada di bintaro akan mengadakan pertunjukkan drama musical yang akan diperankan leh para murid tk dan sd. kami membutuhkan terompet sebagai penunjak pertunjukan.saya berfikir untuk menggunakan terompet berbentuk saxsofon yang biasanya ada hanya pada tahun baru saja. kiranya ada yang bisa memberikan info dimana saya dapat mendapatkannya dalam waktu dekat ini, saya akan sangat menghargainya. terima ksaih.

12-04-2008
Dari : mega | megasari_80

03-01-2008
Dari : syamsoe | toyota-gue.com
waah, jadi ingat masa jadul sempat juga jual trompet tahon baruan bareng teman smu dulu.. hasilnya tuk makan nasi goreng subuh2 di pantai losari haha, btw kalo tidak salah di antv juga pernah memberitakan bahwa salah satu hal yang juga cukup berpotensi menyebabkan terjadinya atau semakin memanasnya suhu permukaan bumi, akibat dari unsur kimiawi yang dihasilkan oleh tumpukan sampah dan kertas.. atau malah jadi tumpukan sampah berkas2 meeting saat pertemuan global warming di bali beberapa waktu lalu. sebuah hal yang cukup ironis

02-01-2008
Dari : Ipul | ipul.ji@gmail.com
buat saya, terompet dan segala pernak-pernik perayaan tahun baru adalah sebuah ironi untuk negeri kita. membakar uang untuk sbuah kepuasan mendapatkan suara yang pekak yang hanya sementara dan esoknya menjadi sampah adalah sedikit dari banyaknya kesia-siaan di negeri ini. tapi harus diakui juga, acara menghambur2kan uang itu bisa berguna untuk orang2 seperti Supriadi, yang justru mengumpulkan remah-remah dari roti2 besar penuh daging dan lemak yang dimakan orang besar...ironi memang..untuk dg.Rusle, selamat broder..tulisan anda membuka lembaran tahun yang baru di 2008...pertanda positif pasti..:)

02-01-2008
Dari : Ivan | ivanfirdaus@hotmail.com
Untuk sebuah momentum perpindahan tahun, antara kenangan dan harapan, di situ ada momentum mengumpul uang... dan menghamburkan uang, ada luapan 'bahagia' dan resah! Meski esoknya, kembali seperti semula!. Saya kira Penulis berhasil membagi kenangan asam-pahit Supriadi.

02-01-2008
Dari : rusle | daengrusle@angingmammiri.org
Buat tom. Kehidupan Malam? bukankah penjual terompet ini juga bagian dari riuh nya malam Balikpapan? Kalau yg dimaksud adalah kehidupan dunia remang-remang di Balikpapan, kiranya mungkin bukan 'lubang' yang saya minati untuk digali. Sudah terlalu banyak media mainstream yang meliputnya, terkhusus yang di Kilo 17 itu. Saya tidak punya nyali dan iman sekuat Moammar Emka untuk menjadikannya lahan serius untuk digarap. Maafkan atas kekurangan saya. Anda bisa juga kan menulis topik itu, apalagi kalo dunia malam itu menarik minat anda. Silahkan kabarkan ke kami juga, pak Tom!

02-01-2008
Dari : tom | t_pareh@yahoo.co.id
sudah banyak juga tulisan daeng Ruslee untu panyingkul , tapi kali ini masih ada yang harus di edit.Oh..ya,kapan tulisan yang lainnya mengenai Balikpapan , utamanya kehidupan malamnya dan gimana dengan angkutan umumnya????Apa daeng Ruslee,belum sempat???saya tunggu tulisan berikutnya



 :: CITIZEN REPORTER
Makassar di Panyingkul!: Sebuah Persembahan
(Kamis, 12-07-2007)
Ayo Bergabung di Panyingkul!
(Minggu, 29-04-2007)
Catatan Sederhana Para Citizen Reporter
(Selasa, 31-10-2006)
Tentang Citizen Reporter dan Rubrik di Panyingkul!
(Rabu, 11-10-2006)
Riuh Rendah di Panyingkul!
(Rabu, 16-08-2006)

Untitled Document
 :: DUNIA SEGIEMPAT KAREBOSI






 :: PILKADA




 :: ALBUM PUASA 2008




Untitled Document
 :: KONTAK TIM PANYINGKUL!

Email Redaksi :

redaksi@panyingkul.com

Tim:
yus@panyingkul.com
+62 813 226 80844

Moch. Hasymi
+62 811 955 954


© Juni 2006 - Panyingkul.com All Rights Reserved
Desain Web : Nesia Andriana -- Supported by: Yuhardin