|
|
| . |
| ::
|
| Jumat, 01-02-2008 | Karena ‘Rewa’ Badan Binasa :: Sudirman Nasir ::
| Bersiap menyuntik putaw karena ‘rewa’? Foto: Dokumentasi LSM Metamorfoso.
Terminologi ‘rewa’ dalam sosiologi linguistik Bahasa Makassar sering diasosiasikan dengan maskulinitas. Orang ‘rewa’ menjadi ideal yang merasuki pikir, tindak, dan perilaku lelaki Makassar, terutama di masa pertumbuhan usianya sebagai remaja. Citizen reporter Sudirman Nasir, ahli kesehatan masyarakat yang kini menempuh pendidikan doktoralnya di Univeritas Melbourne, Australia, mengulas konsep ‘rewa’ yang ternyata bisa membuat badan binasa.(p!)
| Mari bermain-main dengan kata ‘rewa’, sebuah konsep dalam bahasa Makassar yang mengusung makna maskulinitas dalam perilaku hidup sehari-hari.
Mengapa ada baiknya kita berpusing-pusing memikirkan dan menulis kata dan konsep ‘rewa’ ini? Alasannya bisa dibuat praktis dan gampang saja. Karena bagi mereka yang lahir, tumbuh dan hidup di Makassar, kata ‘rewa’ sangatlah akrab. Ia, bisa jadi, sering didengar dan dipakai oleh mereka yang tidak lahir dan tumbuh di kota ini, namun sempat singgah dalam waktu agak lama di Makassar, bergaul dengan banyak orang di kota ini, dan mampu memahami atau menggunakan Bahasa Indonesia dialek Makassar.
Kata ini jelas sekali berasal dari Bahasa Makassar, sesuatu yang mungkin menjadi alasan mengapa Kabupaten Gowa pernah (masih?) memasang slogan ‘Rewako Gowa’. Saya tak tahu pasti alasan pemerintah Kabupaten Gowa memilih slogan di atas, namun kemungkinan ada kaitannya dengan ingatan bersama mengenai kebesaran dan ketangguhan Kerajaan Gowa di masa lampau. Namun kini kata ‘rewa’ agaknya sudah keluar dari sangkar Bahasa Makassar, dan menjadi milik sebagian besar orang (terlepas dari sukunya) yang memiliki kedekatan fisik dan batin dengan Makassar.
Kata ini agaknya memiliki kedekatan dengan kata ‘bura’ne’ (laki-laki, Bahasa Makassar). Secara maknawi, kedekatan kata ‘rewa’ dan ‘bura’ne’ lebih jelas, karena ‘rewa’ tampaknya merupakan ungkapan paling nyata maskulinitas lokal di Makassar, atau mungkin Sulawesi Selatan.
Ungkapan sehari-hari seperti ‘rewana itu orang’ atau teriakan ‘rewako PSM’ (klub sepakbola kebanggaan Makassar/Sulawesi Selatan), memiliki makna maskulin, jantan, laki-laki. Maknanya bisa direntang jauh; berani, tangguh, pantang menyerah, tidak takut menghadapi bahaya atau risiko.
Makna kata ‘rewa’ di atas sekilas memiliki kualitas baik dan positif. Namun benarkah selalu demikian? Lewat percakapan dan pengalaman sehari-hari, tidak terlalu sulit menengarai kata dan konsep ‘rewa’ ini bisa merugikan, merusak dan berdampak negatif.
Mari mengenang masa-masa kecil atau remaja kita di Makassar! Mungkin banyak di antara kita (terutama kalangan laki-laki) yang pernah terpaksa atau sukarela (atau kombinasi keduanya) bertindak bodoh demi meraih predikat ‘rewa’. Waktu di sekolah dasar dulu, mungkin anda pernah ditantang dengan kata ini; ‘rewako lawanki?’. ‘Kalau takutko berarti kau kawe-kawe’. ‘Kalau takutko berarti tena lasonu’. Pada dua kalimat terakhir, kata dan konsep ‘rewa’ yang maskulin itu dikontraskan dengan kata kawe-kawe (transeksual, yang sering diberi label lemah dan rendah) sekaligus dikaitkan dengan kata laso (penis, lambang kelelakian). Banyak di antara kita yang mungkin terpaksa berkelahi dan menanggung kesakitan akibat kata ‘rewa’ itu.
Selaku anak remaja laki-laki yang tumbuh di lorong Tamamaung, Makassar, pada akhir tahun 1980-an, saya pertama kali terpaksa menenggak minuman beralkohol, secara langsung maupun tidak langsung, untuk menghindarkan diri dari predikat ‘tidak rewa’. Atau untuk mendapatkan pengakuan bahwa saya pun mampu memberanikan diri menenggak minuman memabukkan itu. Itu antara lain demi mendapatkan pengakuan bahwa saya tidak takut mencoba sesuatu yang baru dan mengambil risiko. Pengalaman saya ini tentu bukan sesuatu yang unik. Banyak di antara kita yang pernah mengalaminya. Mungkin bahkan banyak di antara pembaca yang mengalami hal-hal yang jauh lebih dramatis yang terkait dengan upaya meraih predikat ‘rewa’ itu.
Ironisnya, hampir di semua budaya dan tempat, mengambil risiko (kadang risiko itu bisa berujung pada kesakitan bahkan kematian), khususnya bagi anak laki-laki, dianggap sesuatu yang normal. Dalam literatur Barat mengenai anak-anak muda laki-laki dan perilaku berisiko/bermasalah, fenomena ini lazim disebut boys being boys.
Namun Badan Kesehatan Dunia (WHO), terutama sejak dua dasawarsa lalu, mulai menyadari maskulinitas sebagai faktor risiko kesakitan maupun kematian. Data sosial kesehatan WHO (2004) menunjukkan, angka kesakitan dan kematian laki-laki dalam rentang umur 15 sampai 24 tahun jauh lebih tinggi daripada perempuan, juga jauh lebih tinggi daripada laki-laki yang rentang umurnya lebih tua.
Tingginya angka itu sangat terkait dengan tingginya kejadian perilaku berisiko pada laki-laki berumur 15-24 tahun. Perilaku berisiko itu seperti keterlibatan dalam tindak kekerasan (perkelahian menggunakan senjata), penggunaan alkohol, narkotika dan psikotropika, perilaku seks tidak aman (berganti-ganti pasangan tanpa menggunakan kondom), atau penggunaan kendaraan bermotor dengan kecepatan tinggi yang banyak berakhir dengan kematian prematur.
Hasil penelitian Gary T Barker yang dipublikasikan dalam buku ‘Dying to be Men: Youth, Masculinity and Social Exclusion’ (Routledge, 2005) menunjukkan pentingnya peran maskulinitas dalam memicu perilaku berisiko di atas di kalangan anak muda laki-laki dari kelas sosial-ekonomi bawah.bahwa pada laki-laki berumur 15-24 tahun di Amerika Serikat, Brasil, negara-negara Karibia, Nigeria, dan Afrika Selatan.
Sayang sekali penelitian mengenai konsep dan dampak maskulinitas di Indonesia masih sangat sedikit. Dede Utomo, ahli sosiologi Universitas Airlangga, tampaknya merupakan penulis berkebangsaan Indonesia pertama yang mengulas secara cukup rinci maskulinitas lokal di Indonesia dalam ‘Masculinity in Indonesia; Genders, Sexualities and Identitities in a Changing Society’ (sebuah bab dalam buku ‘Framing the Sexual Subjcet; The Politics of Gender, Sexuality and Power, editor Richard Parker, Regina Barbosa dan Peter Aggleton, halaman 45-59). Hanya saja sebagaimana banyak tulisan mengenai Indonesia, fokus Utomo lebih banyak pada konsep maskulinitas di Jawa. Sejak beberapa tahun terakhir beberapa ahli tentang Indonesia seperti Pamela Nilam dan Marshal Clark mulai meramaikan literatur mengenai maskulinitas di Indonesia. Namun selain Utomo, belum banyak peneliti dan penulis berkebangsaan Indonesia yang mempublikasikan hasil penelitian mengenai maskulinitas ini.
Peletak batu pertama mengenai teori maskulinitas ini adalah Robert William Connell (ia kemudian lebih memilih nama Raewyn Connell), ahli sosiologi berkebangsaan Australia. Connell dalam ‘Masculinities’ (1995) terutama memperkenalkan teori ‘hegemonic masculinity’ dengan menekankan bahwa sebagian besar orang dipaksa/terpaksa untuk memerankan peran gender sesuai jenis kelaminnya dan kemudian sesuai dengan status sosial ekonominya. Laki-laki dipaksa/terpaksa memerankan peran maskulin, tangguh dan independen secara ekonomi, berani mengambil risiko dan menghadapi bahaya.
Benar bahwa dalam kenyataan sehari-hari, banyak perempuan yang juga menjalani ideal-ideal maskulin di atas, namun di banyak tempat laki-laki yang gagal memerankan ideal-ideal maskulin itu akan mendapatkan stigma lebih berat dari lingkungannya. Peran dan ideal maskulin di atas (terutama dalam hubungannya dengan kemandirian ekonomi) sejak beberapa dasawarsa terakhir semakin berat bagi banyak kalangan laki-laki, antara lain karena feminisasi peluang kerja (semakin banyaknya peluang kerja bagi kaum perempuan) dan semakin tingginya derajat pendidikan, keterampilan keterserapan kalangan perempuan dalam pasar tenaga kerja.
Sumbangan lain Connell yang sangat penting adalah pengaitan antara ideologi maskulin itu dengan status sosial ekonomi. Menurut Connell, banyak di antara laki-laki dari kalangan sosial-ekonomi rendah mendapatkan kesulitan besar untuk mewujudkan ideal-ideal maskulin lewat pekerjaan dan karir yang mapan, lalu karena itu terseret mewujudkan impian-impian maskulinnya lewat perilaku-perilaku berisiko seperti kekerasan, keterlibatan dalam tindak-tindak kriminal dan anti sosial, pengunaan alkohol dan narkotika yang kemudian mengakibatkan banyaknya kesakitan maupun kematian. Connell menyebut perilaku-perilaku itu sebagai ‘hipermasculinity’.
Penelitian lapangan saya di Makassar tahun 2005 lalu terhadap pengguna narkotika suntik yang mengakses program penanggulangan dampak buruk (harm reduction program) Yayasan Metamorfosa dan Puskesmas Ujungpandang Baru juga menunjukkan adanya keterkaitan antara konsep maskulinitas (rewa) dengan inisiasi penggunaan alkohol dan narkotika. Semua informan dalam penelitian ini mengakui riwayat penggunaan narkotika (drug career) mereka tidak dimulai dengan penyuntikan heroin (putaw). Mereka tiba pada tahap sebagai pengguna problematik (problematic users, pengguna narkotik yang telah secara nyata mengalami ketergantungan dan dampak kesehatan dan sosial yang merugikan) setelah mencoba berbagai jenis narkotika.
Paradoks maskulinitas (rewa) pada informan-informan penelitian lapangan di atas tampak cukup jelas. Banyak di antara mereka memulai perilaku berisikonya demi mewujudkan ideal-ideal maskulin (rewa), yang kemudian berakhir pada kenyataan yang jauh dari maskulin. Sebagian besar informan dalam penelitian ini adalah penganggur dan setengah penganggur, beberapa di antaranya mengidap HIV dan hepatitis C, yang membuat mereka semakin sulit mewujudkan ‘hegemonic masculinity’ seperti yang dipaparkan Connell. Kenyataan bahwa sebagian besar dari mereka berasal dari kalangan ekonomi bawah membuat mereka semakin sulit keluar dari lingkaran kecanduan, lingkaran kemiskinan dan lingkaran penyakit. Pada titik ini semakin kelihatan bahwa pringatan UNAIDS (Badan PBB untuk penanggulangan HIV/AIDS) semakin menjadi kenyataan. Epidemi HIV/AIDS (yang terutama menular lewat hubungan seksual tidak aman dan penggunaan jarum suntik tidak steril) kian menjadi penyakit kalangan miskin.
Kemiskinan, penyakit dan ketergantungan, jelas bukan ideal-ideal maskulin. Sayang sekali masih sangat banyak orang di Makassar dan di banyak tempat lain di dunia, yang terjerat dalam lingkaran kemalangan itu. Sayang sekali program-program sosial-ekonomi maupun kesehatan masyarakat yang berkelanjutan untuk mengurangi lingkaran kemalangan itu masih terlalu sedikit.
Jadi para lelaki Makassar tetaplah ‘rewa’ asal jangan sampai badan binasa.(p!)
*Citizen reporter Sudirman Nasir dapat dihubungi melalui email sudirmannasir@yahoo.com
|
| | Jumlah
Komentar (38) |
|
| Komentar :
13-04-2010 Dari : Itungji kowdonk | daengitung@yahoo.co.uk Rewa tidak hanya
dimliki laki2,
kowdonk tapi
perempuan juga.
sejarah mencatat
bahwa gowa pernah di
perintah oleh
perempuan yang Rewa.
rewa jangan kita
mengambil secara
terminologi saja.
tapi lihat sejarah
kenapa dulu Orang
makassar Rewa,
karena punya siri,
mempertahankan harga
diri dari sebuah
konspirasi
contohnya. atau
kebenaran yang di
yakini orang
makassar sebagai
tanda perlawanan
secara lisan.
Gowa mangambil
falsafah itu, karena
ada makna
tersendiri, apakah
salah jika sebuah
pemerintahan
mengunakan simbol
lisan sebagai
pengobar rakyatnya?
Rewa karena narkoba
atau Miras, itu
sangatlah tidak
layak lagi dijadikan
ukuran. jadi marilah
kita bersama-sama
menjaga keluarga
kita jangan sampai
mereka secara tidak
sengaja ikut
lingkungan atau
mereka di cekoki
oleh orang yang
tidak bertanggung
jawab.
Wassalam. 08-10-2009 Dari : A. Tri Abdiawan | triabdee@gmail.com Tetaplah "Rewa" asal
jgn sampai badan
binasa..
23-07-2009 Dari : App | palattae09@yahoo.co.id rewa mentong
anaknya,!
mantap itu untuk di
jadikan
contoh,,,sebagai
akibat dari barang
haram itu. 07-07-2009 Dari : iyan | iyanarafah@ymail.com bedakan rewa' sama
tolo............hari
ginie masih pke
begitu?terlambatki
gaul
kasihan............. 09-01-2009 Dari : aswar | bissappu@yahoo.com asal jangko
pa'bambangang na
tolo 04-01-2009 Dari : Uttang | uttank_madda2000@yahoo.com Rewa!!!! Hari
gini,,,! Coba beng
pi di kandang
buayaya sama macanga
puna nia rewa..! 24-12-2008 Dari : Didin_Tampan_se_jawa-bali (eh makassar j | didincakep@yahoo,.com rewa? tara didi
kokko jambu...!!
na rewai anjo tu
balloranga,punna
sibuntulukmo siagang
tau barania, aih
lari tommi..!! 17-12-2008 Dari : dhani | danone_e0z@yahoo.com ayo rewa !!!!
dipukul satu kali
balas satu kali
ditappe satu kali
Tappe satu kali
TP JANGAN REWA
DULUAN
Klo tidak membalas
JANGAN karena
ballorang tp karena
mengharapkan
kesabaran dan Ridha
ALLAH.
18-11-2008 Dari : perantau | Rewako Makassar,
Alangkah indahnya
jika katte ngaseng
menggunakan slogan
Rewako Makassar
dalam arti Jayalah
Makassar.
27-08-2008 Dari : Moch. Suaib | kutubsuaib@yahoo.com Saat ini, REWA-nya
dalam hal-hal
positif aja. Rewa
melawan Kemiskinan
dan Kebodohan, Rewa
melawan Narkoba,
Rewa memberantas
Korupsi. Tks, Bung
Sudi (dahulu SHN).
Salam, MS. 27-08-2008 Dari : Moch. Suaib | k
08-08-2008 Dari : Wahyu_Wayne | wahyu_Ext@yahoo.com Rewa' Meqi Sebelum
Rewa' itu Dilarang 02-08-2008 Dari : abdillah | abdillah_almandary@yahoo.co.id Rewa, Rewa! Ta[i
liatko dulu siapa
dirimu. 14-07-2008 Dari : martin cs | mcs@gmail.com nakke teaia tu rewa
mingka dg.Rewa
purinangku, jadi
jangan macam-macam 14-07-2008 Dari : martin cs | m
09-07-2008 Dari : Sirun Muyassirun | seeroon@gmail.com Nakke rewa tonja
gang, tapi tena ku
rewa-rewa jangang..
Rewako Makassar!
Bangkitlah
Makassar!
Ayo Indonesia!
Be Positif! 02-06-2008 Dari : vanya | vanyacinta@yahoo.com Ya,,
aMpUn
RewA TuH 07-05-2008 Dari : halfian | saya membacanya juga
disini kanda :-)
di Sulsel narkoba mi
ini di penyumbang
HIVAIDS terbesar,
bukannya seks bebas,
beda dengan papua.
Say Rewa to Fight
Narkoba 10-04-2008 Dari : ayanti lelengpui | ayanti lelengpui@yahoo.co.id allei rewa.kanre mi
rewanu na nu
mate.bajikangngang
ni kana ballorang
dari pada rewa tolo2
hehe..... 07-04-2008 Dari : indah | indahdisini@gmail.com Rewako Gowa! 04-03-2008 Dari : | ededede..inika
rewa-rewa tolo´ 27-02-2008 Dari : www.tribun-timur.com | tribuntimurcom@yahoo.com Semoga Dg Rewa
insyaf dan tidak
lagi menggunakan
narkoba. Sallang ku
di' sama DG rewa. 25-02-2008 Dari : ahmad | http://achfan.multiply.com ck..ck..ck..rewa
deh...
22-02-2008 Dari : Dg Sirua | waris_an@hotmail.com bukan hanya kita p'
penulis yg pernah
mengalami yg
demikian. sy jg
pernah....hhehe 21-02-2008 Dari : fahmi | fahmi_aja@yahoo.com you rewa you repot 18-02-2008 Dari : nico | nitrical@gmail.com narkoba?? iya minjo
nikana
pa'bambangngang 'na
tolo....... 13-02-2008 Dari : dedetz | jeng_daya@yahoo.com hidup hanya sekali
mari jadikan hidup
lebih berarti.ok
cess 04-02-2008 Dari : Sudirman Nasir | sudirmannasir@yahoo.com Thanks Emma, Rizal,
Syamsoe...
Emma, sayangnya
seperti masalah
sosial lainnya, no
quick fix solution
untuk mencegah daya
rusak rewa negatif
ini. Maskulinitas
negatif seperti ini
terkait dengan
keterpinggiran
sosial ekonomi
(socio-economic
deprivation).
Mengatasi
keterpinggiran
ekonomi itu,
khususnya
peningkatan akses ke
lapangan kerja,
berpeluang
menguranginya. Meski
harus diingat bahwa
ini tidak linier.
Masalahnya,mewujudka
n hal di atas sangat
tidak mudah dalam
kondisi ekonomi dan
pemerintahan yang
lamban seperti
sekarang.
Rizal, di negara2
Barat, maslulinitas
seperti itu sering
disebut working
class
masculinity....Tapi
ini tentu saja bukan
fenomena khas
Barat.....Di manapun
(dalam gradasi
berbeda) ada...
Syamsoe, karena agak
sulit berharap ke
pemerintah dalam
waktu dekat
ini...saya
memimpikan program
community
development di area
kumuh perkotaan yang
peka pada kebutuhan
anak-anak muda
laki-laki unemployed
and/or underemployed
itu...Beberapa waktu
lalu di Melbourne
ini kita ketemu
perwakilan
Australia-Indonesia
Partnership di bawah
AusAID, dan diskusi
mengenai kemungkinan
hibah untuk program
community
development seperti
itu....Jalan masih
panjang untuk
mewujudkannya....Ya,
kasian
memang.....Kalau
ingat informan2
penelitian di atas,
saya sering merasa
bersalah.....Sebelum
program di atas bisa
jalan, banyak di
antara mereka yang
mungkin sakit
(berbagai macam
penyakit),
ditangkap/dipenjara,
atau malah
meninggal.... 02-02-2008 Dari : syamsoe | syamsoe.blogspot.com tulisan yang bagus..
putaw yang kumau
hehe...kayak iklan
saja...tapi
sebenarnya kasian
juga beberapa teman
kita, semoga saja
cepat menyadari
bahwa hal tsb tidak
baik untuk
kesehatan..hanya
malah akan menyakiti
diri sendiri saja 02-02-2008 Dari : rizal | www.penjelajahwaktu.blogspot.com saya rasa di barat
juga ada hal seperti
ini. Pernah nonton
Back to the future
tidak? Di situ juga
digambarakan seperti
ini. Orang yang
tadinya berkeras
tidak mau melakukan
sesuatu, tapi hanya
karena dibilang
"pengecut", maka dia
tiba-tiba berbalik
180 derajat. 02-02-2008 Dari : emma | - bagaimana
menyadarkan
mereka,membuka mata
mereka kalau usaha
mereka mengejar
maskulinitas itu
akan berujung pada
kondisi yang amat
jauh dari
maskulinitas itu
sendiri? 01-02-2008 Dari : Sudirman Nasir | sudirmannasir@yahoo.com Thanks Indra, Dg
Nuntung, Ivan,
Kapiti...
Indra, apa kabar?
Iya, saya sempat
mikir2 waktu nulis
esai di atas, mau
pakai transgender
atau transeksual...
Saya akhirnya pakai
yang terakhir, bukan
dalam pengertian
yang ganti kelamin,
tapi lebih karena
kesan pemujaan
mereka pada
phallus/penis
(simbol
maskulinitas) dan
kesan misogynist
mereka....Pemujaan
penis yang
berlebihan dan sikap
anti
perempuan/feminin
tampaknya memang
juga menjadi bagian
utama
hipermasculinity...P
enis pada awalnya
adalah bentukan
biologis (seks),
meskipun kemudian
ternyata dampaknya
menerabas jauh ke
luar batas2
biologi...
Dg Nuntung, biar
mami anak lorong,
perlu tong
aktualisasi diri::)
Thanks
Bro....Kayaknya
kapan-kapan saya
perlu konsultasi
soal aspek
linguistik rewa ini
dengan
kita...Kira-kira
sepupu dengan kata
barani atau warani?
Kapiti, rewa untuk
mengatakan tidak
dan menghindari
perilaku berisiko
itu dalam literatur
disebut 'resilience'
...Saya masih mikir2
gimana pasnya kalau
diterjemahkan dalam
Bahasa
Indonesia...Ada
ide?
Ivan, iya yah,
kenapa tidak ada Dg
Lu'mu untuk
laki-laki?
01-02-2008 Dari : Indrawati Ammann | indra_didi@yahoo.com Sangat menarik.
memang banyak
"kekacauan"(baca,
kekerasan) yang
terjadi di dunia ini
akibat dari pada
paham machoisme,
dalam hal ini
negative machoism.
karena tidak semua
sifat dan ciri
kejantanan itu
positif.Begitu pula
dengan sifat
feminim.Karena itu
harus pandai-pandai
memilah dan memilih
sifat maskulin dan
sifat feminim yang
seharusnya dimiliki
atau baik diadopsi,
misalnya mengadopsi
sifat2 yang positif
saja dari kedua
gender ini, dan
tentu bukan yang
dimaksud dengan
menjadi 'banci'
(tidak bermaksud
mendiskriminasi kaum
ini).
Sudi, apa yang kau
maksud kata kawe
kawe sama dengan
banci atau bencong?
kalau ya, berarti
kaum ini bisa
diistilahkan
transgender. namun
apabila mereka telah
mengubah (melalui
operasi)kelaminnya
berarti
transeksual.Atau
adakah sebutan yang
lebih tepat untuk
transeksual ini
dalam bahasa
makassar? 01-02-2008 Dari : Nuntung | daeng.nuntung@gmail.com Broder Ivan, daeng
"Rewa" itu bukan ke
rewa atau borro, di
eja atau dipanggil
daeng Rewa'. Merujuk
ke "rewata le'ba
laloa"?. daeng
Bundu' itu terkait
dengan perlawanan
terhadap kebatilan
bedengna...(kapang!) 01-02-2008 Dari : Ivan | ivanfirdaus@hotmail.com Yang parah kalau
'Rewa' di tambah
'pojiale' spt kata
ka' Yahya di':).
Itumi mungkin na
banyak dikasi nama
Daeng Rewa, Dg
Tompo, Dg Bundu,
dll, tidak ada itu
Dg Lu'mu'
(lembut)dan Dg Bau'
untuk bura'ne,
baineji. Dalam
budaya Makassar juga
dikenal pakaian
'Kabura'neang'
(pakaian laki2) yg
berisi ajaran
tentang ;
kepemimpinan,
kearifan, siri' na
pacce, beladiri
(mis; kaka'ballang
dan manca'), hingga
bagaimana bura'ne
diatas ranjang.
Namun yg umum
diketahui ttg
kabura'neang hanya
identik dgn
'kekebalan'. Jadi
patut disayangkan
kalau maskulinitas
orang bugis-makassar
(Sulawesi)
berkembang ke arah
yang negatif. Saya
ingat pesan ayah
saya (yg entah
kenapa diberi nama
Daeng Dewa), bahwa
bura'ne itu harus
menjaga 3 ujung ;
ujung mata, ujung
badik, dan ujung
(maaf) kemaluan.
Antekamma ? 01-02-2008 Dari : kapitipiti | kapitipitie@yahoo.co.jp Jadi ingat teman
"rewa" di SMP yg
membawa minuman
keras kemasan kecil
di sekolah(pengedar
dan pabriknya
darimana yah?) dan
mengajak teman-teman
lain utk ikut
membeli. Akhirnya
teman "rewa"
tersebut babak
belur dihajar teman
lain yg marah karena
suka dipeluk dari
belakang teman
tersebut.
Entah sudah
ditertibkan atau
belum pengedaran
barang terlarang di
sekolah-sekolah,
untuk selamat dalam
pergaulan perlu juga
sikap "rewa" untuk
tidak takut
dibilangi
"kawe-kawe" dan
sejenisnya demi
menghindari hal-hal
yg terlarang. 01-02-2008 Dari : Nuntung | daeng.nuntung@gmail.com Jika dikaitkan teori
Maslow, bisa jadi
"Rewa" ini mengacu
kepada tingkatan
ketiga motivasi,
"aktualisasi diri".
Namun jika ditelisik
lebih jauh,
semestinya sikap
"rewa" hanya tumbuh
pada orang-orang
yang sudah mapan
secara ekonomi dan
secure secara
sosial. Dari situlah
kemudian prinsip
rewa (gentle?)bisa
diaktualisasikan
dengan baik dan
terarah. Melihat
kasus-kasus yg
diurai rekan Sudi,
ironis sekali karena
yang rewa adalah
orang-orang yang
miskin secara
ekonomi. Yang paling
bertanggung jawab
adalah siapa yang
bermain atau dalang
dibalik distribusi
itu semua, pasti
orang KAYA, orang yg
punya MODAL, KUASA,
yang menyuplai
obat-obatan
terlarang, putaw,
spoit, shabu dst... 01-02-2008 Dari : da |
|
|
|
|
|
| ::
CITIZEN REPORTER |
 | (Kamis, 12-07-2007) |  | (Minggu, 29-04-2007) |  | (Selasa, 31-10-2006) |  | (Rabu, 11-10-2006) |  | (Rabu, 16-08-2006) | |
|
Untitled Document
| ::
DUNIA SEGIEMPAT KAREBOSI |
|
Untitled Document
| ::
KONTAK TIM PANYINGKUL! |
Email Redaksi :
redaksi@panyingkul.com
Tim:
yus@panyingkul.com
+62 813 226 80844
Moch. Hasymi
+62 811 955 954
|
|
|