|
|
| . |
| ::
|
| Senin, 11-02-2008 | Pendidikan Alternatif Kerjasama Yes, Kompetisi No! :: Fenny Kristanti ::
| Salah satu kegiatan diskusi Youth Camp 2008 di Bulukumba. Foto: Dokumentasi Rumah Kamu.
Citizen reporter Fenny Kristanti, siswi SMAN 1 Makassar yang mengikuti program Youth Camp 2008 yang diselenggarakan Rumah Kaum Muda, Makassar membagi pengalamannya mengenai pendidikan alternatif yang membuka wawasan dan kesadarannya sebagai seorang pelajar. Salah satu yang dipelajarinya selama sebelas hari tinggal di desa, bahwa kegiatan belajar berbasis kerjasama jauh lebih efektif dan menumbuhkan kepercayaan diri, dibandingkan metode pengajaran yang berbasis kompetisi semata. (p! | Wow! Itulah kata yang tepat untuk mengekspresikan perasaan saya. Bersama 19 siswa-siswi SMA dari berbagai sekolah se-Sulsel, saya mengikuti Youth Camp, program tahunan Rumah Kamu (Rumah Kaum Muda), berupa pendidikan alternatif dalam bentuk penelitian lapangan. Ini adalah pengalaman pertama saya mengikuti program penelitian untuk remaja yang dilaksanakan di luar daerah.
Program ini berlangsung dari tanggal 5-16 Januari 2008 lalu. Youth Camp tahun ini mengambil lokasi di Bulukumba. Tepatnya di Dusun Bogo dan Tatturaeng, Kelurahan Ekatiro, Kecamatan Bontotiro, Kabupaten Bulukumba. Untuk mencapai tempat ini, kami menempuh perjalanan sekitar 6 jam dari Makassar. Daerah ini berada di pesisir pantai, namun mata pencaharian penduduknya lebih dominan bertani dan berkebun. Selama 8 hari kami tinggal di dusun tersebut bersama para penduduk yang menjadi orang tua angkat.
Kami dibagi ke dalam beberapa kelompok penelitian sesuai minat masing-masing dan didampingi oleh dua orang fasilitator. Bidang-bidang penelitian untuk Youth Camp 2008 ini adalah sejarah lokal, mata pencaharian, kesehatan lingkungan, pendidikan, dan pemanfaatan SDA (sumber daya alam). Saya sendiri adalah salah satu anggota dari kelompok penelitian bidang pendidikan. Saya dan ketiga orang teman saya; Andi Nurfadillah (SMAN 3 Watan Soppeng), Samriana dan Aksan Surya Wijaya (SMAN 5 Pare-Pare) kemudian mendiskusikan hal apa yang menarik perhatian kami sehingga memilih masuk dalam penelitian bidang pendidikan. Dan pertanyaan yang tepat untuk menggambarkan pusat perhatian kami adalah “Apakah yang diajarkan di sekolah dan fasilitas-fasilitas yang dimiliki oleh sekolah tersebut memiliki benang merah dengan cita-cita siswa itu sendiri?” Untuk menjawab pertanyaan itu maka dibentuklah kelompok penelitian bidang pendidikan.
Sungguh pengalaman yang sangat berkesan bagi saya saat mewawancarai para siswa siswi SDN 138 Basokeng, SMPN 1 Bontotiro, MTsN 1 Bontotiro, dan SMAN 1 Bontotiro. Mewawancarai pelajar berbagai usia! Ini belum pernah terjadi dalam hidup saya. Di sekolah saya di Makassar, saya memang pernah mewawancarai anak SMA. Tapi saya sama sekali belum pernah mewawancarai anak SD. Kata-kata yang kami gunakan haruslah sesederhana mungkin agar mereka dapat mengerti pertanyaan-pertanyaan yang diajukan. Saya juga harus menerapkan model SKSD (sok kenal, sok dekat) dengan anak-anak SD tersebut. Sama halnya dalam mewawancarai siswa dan siswi SMP, MTs dan SMA.
Saat saya dan ketiga orang teman saya datang ke sekolah-sekolah tersebut, kami bagaikan artis yang dikerumuni penggemar. Setiap kami berjalan, rasa-rasanya kami selalu menjadi pusat perhatian. Entah mengapa hal itu bisa terjadi. Mungkin karena sudah ada pengumuman dari pak Camat di sana bahwa kami akan datang ke sekolah-sekolah di desa itu. Atau mungkin karena ada adik angkat kami yang bersekolah di sekolah itu dan menceritakan bahwa kami bukanlah orang dari daerah tersebut.
Dari hasil wawancara, kami mendapatkan banyak informasi yang cukup membuat saya dan teman-teman kaget. Di antaranya mengenai upaya pemerintah setempat untuk mengatasi maraknya penggunaan ponsel. Pak Camat setempat ternyata turun langsung ke sekolah-sekolah menyampaikan sebuah aturan yang melarang siswa-siswi di kecamatan itu membawa ponsel ke sekolah! Banyak hal lainnya yang kami dapatkan dari hasil mewawancarai para siswa itu. Yang jelas, dari hasil obrolan itu tampak bahwa meski mereka tinggal di desa, tapi soal cita-cita dan berbagai informasi gaya hidup, misalnya, mereka tidak kalah dengan pelajar di kota besar.
Apa yang saya dapatkan dari Youth Camp? Saya merasakan suasana belajar yang demikian bebas. Selama 11 hari saya menjadi siswa SMA yang tidak terlalu mementingkan angka-angka yang harus diraih di sekolah formal. Saya belajar mengenal lingkungan, mengasas kemampuanmenjalin hubungan pertemanan, menumbuhkan rasa peduli dan rasa ingin tahu pada lingkungan.
Setelah mengikuti Youth Camp 2008, pandangan saya tentang desa berubah. Tadinya saya berpikir bahwa orang desa itu kotor, jorok, tidak berpendidikan, miskin, dan orang-orangnya seram. Ternyata saya salah! Mereka ramah, bersih dan juga punya rasa ingin tahu tinggi terhadap kami yang pendatang. Tentu yang paling menyenangkan, karena saya memiliki teman dari berbagai daerah. Saya juga senang dengan tradisi membuat jurnal yang diperkenalkan selama program ini.
Saya belajar untuk mendengar orang lain, bukan hanya mau didengar saja, menghargai pendapat orang lain, dan saya juga belajar untuk bersosialisasi dan mandiri di lingkungan dan orang-orang yang baru. Dan yang paling saya suka dalam Youth Camp ini adalah “Kerja sama ,Yes-Kompetisi No!” yang merupakan motto dari Youth Camp ini. Tidak ada perbedaan antara ketua OSIS atau siswa yang selalu mendapat ranking, dengan siswa yang biasa-biasa saja. Pokoknya semua sama, semua harus percaya diri. Terima kasih Youth Camp, Terima kasih Rumah Kamu!
O, ya saat saya kembali ke sekolah, salah seorang guru sempat salah paham tentang Youth Camp yang saya ikuti. Guru itu berpikir saya mengikuti perkemahan salah satu aliran agama ajaran sesat dan ia sungguh mengkhawatirkan keselamatan saya. Ah, mungkin bapak dan ibu guru di sekolah saya perlu diikutkan Youth Camp berikutnya untuk melihat betapa indahnya pendidikan alternatif yang baru saja saya ikuti.(p!)
*Citizen reporter Fenny Kristanti fenny_git2ndgig@yahoo.co.id
|
| | Jumlah
Komentar (9) |
|
| Komentar :
07-04-2008 Dari : Julius Nadapdap | julius_nadapdap@yahoo.com wah...wah...wah...
kayanya ada yang
berubah ya,,,,!!!
Hmmm....boleh juga
jurnalnya, gitu
donkz kan lebih enak
nulis jurnal
daripada bergulat
sama bantal n
komik-komik itu
semua!?! 14-02-2008 Dari : nyomnyom | nyomanz@yahoo.com Fenny, hehehe kamu
bukan orang pertama
yang dianggap 'aneh'
setelah pulang dari
Youth Camp, bilang
saja.. Fenny ikut
aliran sesak!
Hahahaha 14-02-2008 Dari : Idha | Fenny,
Alangkah bagusnya
jika 'infomasi yang
membuat kaget'
diceritakan lebih
lanjut. Apa yang
terlalu mengagetkan
yang Fenny dan
kawan-kawan temui di
sekolah selain razia
hp?
Anyway, jadi pengen
balik ke masa SMA .
. . 13-02-2008 Dari : budi | cie feny selamat
nah???!!!
menyesalka ndak ikut
youth camp!!
padahal mau skali
ka'!
cmn sa kira i2 hari
masih lama di kumpul
formulirnya!akhirnya
sampe hari terakhir
ndak ku isi2 pi i2
form!
terlalu sibuk ka
bela wkt i2!!
tapi salut deh buat
feny!!
btw sapa guru yang
ko blng
khawatir????????????
??? 12-02-2008 Dari : Ivan | kasitau mi ketua
osiska tuk biking
Smansa (dan sma2
laen)yot kemp utk
anak2 lain, 1 kali
tiap 3 bulan mo,
dekat2 mo. kalo
perlu bikin jg "Mama
Camp" didekat YC,
biar tenang mamax,
... eh papanya seng
di' ?
inimikah Fenny
alwayssleep? tp dari
tulisannya...kayakny
a se ndak percaya ! 12-02-2008 Dari : fikri | arrrghghgh,,,,,,msh
moka yot
kempmpmp......
go feny..go
feny...go!!!! 11-02-2008 Dari : kapitipiti | kapitipitie@yahoo.co.jp Mudah-mudahan juga
kalau penulis sudah
kembali ke
sekolahnya bisa
cepat kembali
menyesuaikan sistem
belajar yang berlaku
di sekolahnya.
Belajar beradaptasi
mulai dari dini
menjadi bekal yang
sangat penting
menuju
keberhasilan.Salut
untuk semangat
penelitiannya ! 11-02-2008 Dari : rizal | www.penjelajahwaktu.blogspot.com asyik sekali
kayaknya.. Mau dong
ikut kapan2 kalo
boleh 11-02-2008 Dari : dandi | refleksi yang tulus
dan menggetarkan,
tambah dong... |
|
|
|
|
| ::
CITIZEN REPORTER |
 | (Kamis, 12-07-2007) |  | (Minggu, 29-04-2007) |  | (Selasa, 31-10-2006) |  | (Rabu, 11-10-2006) |  | (Rabu, 16-08-2006) | |
|
Untitled Document
| ::
DUNIA SEGIEMPAT KAREBOSI |
|
Untitled Document
| ::
KONTAK TIM PANYINGKUL! |
Email:
redaksi@panyingkul.com
Makassar:
Nilam Indahsari +62 81 241 229 089
M. Aan Mansyur +62 411-586459
Jakarta
Moch. Hasymi +62 811 955 954
|
|
|