Untitled Document
 


Untitled Document
.KITAKITA
:: Jika Anda di Panyingkul ::
 
 KABAR KITA
 
 BERANDAKITA
Kegilaan, Dari Cinta Mati di Pulau Rajuni Hingga Riwayat Kadang
:: Ivan Firdaus ::
Baba Guru, Mengenang Film Rhoma Irama di Klenteng Galesong
:: Kamaruddin Azis ::
Mengagumi Tenun Troso, Mengenang Tenun Sengkang
:: Suryadin Laoddang ::
Perempuan Besi di Gunung Perak (2-selesai)
:: M. Aan Mansyur ::
Perempuan Besi di Gunung Perak (1)
:: M. Aan Mansyur ::
 
 RISETKITA
Rasa Takut : Yang Dicitrakan, Yang Dipelihara
:: Aria W. Yudhistira ::
Risetkita: Pramoedya versus Sejarah Resmi
:: Nurhady Sirimorok ::
Hikayat Rumpon Nelayan Mandar
:: Muhammad Ridwan Alimuddin ::
Di Makassar Pernah Ada “Negeri Wajo”
:: Nurhady Sirimorok ::
Surat Itu Ditulis Upas kepada September
:: Nurhady Sirimorok ::
 
 BUKUKITA
 
 KATAKOTAKITA
Kenapa si Gondrong yang Maju?
:: Ivan Firdaus dan Mustamin al-Mandary ::
Karena ‘Rewa’ Badan Binasa
:: Sudirman Nasir ::
Yang Okkot, yang Salah Sambung
:: Nursamsu danTusiana Noor Alfisyahr ::
Kandala`ka`, Kusta Bila Dusta
:: Panyingkul ::
Ayo, Si(ng)kat Terussss..!
:: Panyingkul! ::

 
 TAHUKAHKITA
 

.
 ::
Senin, 11-02-2008 
Pendidikan Alternatif
Kerjasama Yes, Kompetisi No!
:: Fenny Kristanti ::


Salah satu kegiatan diskusi Youth Camp 2008 di Bulukumba.
Foto: Dokumentasi Rumah Kamu.


Citizen reporter Fenny Kristanti, siswi SMAN 1 Makassar yang mengikuti program Youth Camp 2008 yang diselenggarakan Rumah Kaum Muda, Makassar membagi pengalamannya mengenai pendidikan alternatif yang membuka wawasan dan kesadarannya sebagai seorang pelajar. Salah satu yang dipelajarinya selama sebelas hari tinggal di desa, bahwa kegiatan belajar berbasis kerjasama jauh lebih efektif dan menumbuhkan kepercayaan diri, dibandingkan metode pengajaran yang berbasis kompetisi semata. (p!
 
Wow! Itulah kata yang tepat untuk mengekspresikan perasaan saya. Bersama 19 siswa-siswi SMA dari berbagai sekolah se-Sulsel, saya mengikuti Youth Camp, program tahunan Rumah Kamu (Rumah Kaum Muda), berupa pendidikan alternatif dalam bentuk penelitian lapangan. Ini adalah pengalaman pertama saya mengikuti program penelitian untuk remaja yang dilaksanakan di luar daerah.

Program ini berlangsung dari tanggal 5-16 Januari 2008 lalu. Youth Camp tahun ini mengambil lokasi di Bulukumba. Tepatnya di Dusun Bogo dan Tatturaeng, Kelurahan Ekatiro, Kecamatan Bontotiro, Kabupaten Bulukumba. Untuk mencapai tempat ini, kami menempuh perjalanan sekitar 6 jam dari Makassar. Daerah ini berada di pesisir pantai, namun mata pencaharian penduduknya lebih dominan bertani dan berkebun. Selama 8 hari kami tinggal di dusun tersebut bersama para penduduk yang menjadi orang tua angkat.

Kami dibagi ke dalam beberapa kelompok penelitian sesuai minat masing-masing dan didampingi oleh dua orang fasilitator. Bidang-bidang penelitian untuk Youth Camp 2008 ini adalah sejarah lokal, mata pencaharian, kesehatan lingkungan, pendidikan, dan pemanfaatan SDA (sumber daya alam). Saya sendiri adalah salah satu anggota dari kelompok penelitian bidang pendidikan. Saya dan ketiga orang teman saya; Andi Nurfadillah (SMAN 3 Watan Soppeng), Samriana dan Aksan Surya Wijaya (SMAN 5 Pare-Pare) kemudian mendiskusikan hal apa yang menarik perhatian kami sehingga memilih masuk dalam penelitian bidang pendidikan. Dan pertanyaan yang tepat untuk menggambarkan pusat perhatian kami adalah “Apakah yang diajarkan di sekolah dan fasilitas-fasilitas yang dimiliki oleh sekolah tersebut memiliki benang merah dengan cita-cita siswa itu sendiri?” Untuk menjawab pertanyaan itu maka dibentuklah kelompok penelitian bidang pendidikan.

Sungguh pengalaman yang sangat berkesan bagi saya saat mewawancarai para siswa siswi SDN 138 Basokeng, SMPN 1 Bontotiro, MTsN 1 Bontotiro, dan SMAN 1 Bontotiro. Mewawancarai pelajar berbagai usia! Ini belum pernah terjadi dalam hidup saya. Di sekolah saya di Makassar, saya memang pernah mewawancarai anak SMA. Tapi saya sama sekali belum pernah mewawancarai anak SD. Kata-kata yang kami gunakan haruslah sesederhana mungkin agar mereka dapat mengerti pertanyaan-pertanyaan yang diajukan. Saya juga harus menerapkan model SKSD (sok kenal, sok dekat) dengan anak-anak SD tersebut. Sama halnya dalam mewawancarai siswa dan siswi SMP, MTs dan SMA.

Saat saya dan ketiga orang teman saya datang ke sekolah-sekolah tersebut, kami bagaikan artis yang dikerumuni penggemar. Setiap kami berjalan, rasa-rasanya kami selalu menjadi pusat perhatian. Entah mengapa hal itu bisa terjadi. Mungkin karena sudah ada pengumuman dari pak Camat di sana bahwa kami akan datang ke sekolah-sekolah di desa itu. Atau mungkin karena ada adik angkat kami yang bersekolah di sekolah itu dan menceritakan bahwa kami bukanlah orang dari daerah tersebut.

Dari hasil wawancara, kami mendapatkan banyak informasi yang cukup membuat saya dan teman-teman kaget. Di antaranya mengenai upaya pemerintah setempat untuk mengatasi maraknya penggunaan ponsel. Pak Camat setempat ternyata turun langsung ke sekolah-sekolah menyampaikan sebuah aturan yang melarang siswa-siswi di kecamatan itu membawa ponsel ke sekolah! Banyak hal lainnya yang kami dapatkan dari hasil mewawancarai para siswa itu. Yang jelas, dari hasil obrolan itu tampak bahwa meski mereka tinggal di desa, tapi soal cita-cita dan berbagai informasi gaya hidup, misalnya, mereka tidak kalah dengan pelajar di kota besar.

Apa yang saya dapatkan dari Youth Camp? Saya merasakan suasana belajar yang demikian bebas. Selama 11 hari saya menjadi siswa SMA yang tidak terlalu mementingkan angka-angka yang harus diraih di sekolah formal. Saya belajar mengenal lingkungan, mengasas kemampuanmenjalin hubungan pertemanan, menumbuhkan rasa peduli dan rasa ingin tahu pada lingkungan.

Setelah mengikuti Youth Camp 2008, pandangan saya tentang desa berubah. Tadinya saya berpikir bahwa orang desa itu kotor, jorok, tidak berpendidikan, miskin, dan orang-orangnya seram. Ternyata saya salah! Mereka ramah, bersih dan juga punya rasa ingin tahu tinggi terhadap kami yang pendatang. Tentu yang paling menyenangkan, karena saya memiliki teman dari berbagai daerah. Saya juga senang dengan tradisi membuat jurnal yang diperkenalkan selama program ini.

Saya belajar untuk mendengar orang lain, bukan hanya mau didengar saja, menghargai pendapat orang lain, dan saya juga belajar untuk bersosialisasi dan mandiri di lingkungan dan orang-orang yang baru. Dan yang paling saya suka dalam Youth Camp ini adalah “Kerja sama ,Yes-Kompetisi No!” yang merupakan motto dari Youth Camp ini. Tidak ada perbedaan antara ketua OSIS atau siswa yang selalu mendapat ranking, dengan siswa yang biasa-biasa saja. Pokoknya semua sama, semua harus percaya diri. Terima kasih Youth Camp, Terima kasih Rumah Kamu!

O, ya saat saya kembali ke sekolah, salah seorang guru sempat salah paham tentang Youth Camp yang saya ikuti. Guru itu berpikir saya mengikuti perkemahan salah satu aliran agama ajaran sesat dan ia sungguh mengkhawatirkan keselamatan saya. Ah, mungkin bapak dan ibu guru di sekolah saya perlu diikutkan Youth Camp berikutnya untuk melihat betapa indahnya pendidikan alternatif yang baru saja saya ikuti.(p!)

*Citizen reporter Fenny Kristanti fenny_git2ndgig@yahoo.co.id

| Beri Komentar| Jumlah Komentar (9) |

Komentar :

07-04-2008
Dari : Julius Nadapdap | julius_nadapdap@yahoo.com
wah...wah...wah... kayanya ada yang berubah ya,,,,!!! Hmmm....boleh juga jurnalnya, gitu donkz kan lebih enak nulis jurnal daripada bergulat sama bantal n komik-komik itu semua!?!

14-02-2008
Dari : nyomnyom | nyomanz@yahoo.com
Fenny, hehehe kamu bukan orang pertama yang dianggap 'aneh' setelah pulang dari Youth Camp, bilang saja.. Fenny ikut aliran sesak! Hahahaha

14-02-2008
Dari : Idha |
Fenny, Alangkah bagusnya jika 'infomasi yang membuat kaget' diceritakan lebih lanjut. Apa yang terlalu mengagetkan yang Fenny dan kawan-kawan temui di sekolah selain razia hp? Anyway, jadi pengen balik ke masa SMA . . .

13-02-2008
Dari : budi |
cie feny selamat nah???!!! menyesalka ndak ikut youth camp!! padahal mau skali ka'! cmn sa kira i2 hari masih lama di kumpul formulirnya!akhirnya sampe hari terakhir ndak ku isi2 pi i2 form! terlalu sibuk ka bela wkt i2!! tapi salut deh buat feny!! btw sapa guru yang ko blng khawatir???????????? ???

12-02-2008
Dari : Ivan |
kasitau mi ketua osiska tuk biking Smansa (dan sma2 laen)yot kemp utk anak2 lain, 1 kali tiap 3 bulan mo, dekat2 mo. kalo perlu bikin jg "Mama Camp" didekat YC, biar tenang mamax, ... eh papanya seng di' ? inimikah Fenny alwayssleep? tp dari tulisannya...kayakny a se ndak percaya !

12-02-2008
Dari : fikri |
arrrghghgh,,,,,,msh moka yot kempmpmp...... go feny..go feny...go!!!!

11-02-2008
Dari : kapitipiti | kapitipitie@yahoo.co.jp
Mudah-mudahan juga kalau penulis sudah kembali ke sekolahnya bisa cepat kembali menyesuaikan sistem belajar yang berlaku di sekolahnya. Belajar beradaptasi mulai dari dini menjadi bekal yang sangat penting menuju keberhasilan.Salut untuk semangat penelitiannya !

11-02-2008
Dari : rizal | www.penjelajahwaktu.blogspot.com
asyik sekali kayaknya.. Mau dong ikut kapan2 kalo boleh

11-02-2008
Dari : dandi |
refleksi yang tulus dan menggetarkan, tambah dong...



 :: CITIZEN REPORTER
Makassar di Panyingkul!: Sebuah Persembahan
(Kamis, 12-07-2007)
Ayo Bergabung di Panyingkul!
(Minggu, 29-04-2007)
Catatan Sederhana Para Citizen Reporter
(Selasa, 31-10-2006)
Tentang Citizen Reporter dan Rubrik di Panyingkul!
(Rabu, 11-10-2006)
Riuh Rendah di Panyingkul!
(Rabu, 16-08-2006)

Untitled Document
 :: DUNIA SEGIEMPAT KAREBOSI






 :: PILKADA




 :: ALBUM PUASA 2008




Untitled Document
 :: KONTAK TIM PANYINGKUL!

Email:

redaksi@panyingkul.com

Makassar:

Nilam Indahsari +62 81 241 229 089
M. Aan Mansyur +62 411-586459

Jakarta
Moch. Hasymi  +62 811 955 954



© Juni 2006 - Panyingkul.com All Rights Reserved
Desain Web : Nesia Andriana -- Supported by: Yuhardin