Untitled Document
 


Untitled Document
.KITAKITA
:: Jika Anda di Panyingkul ::
 
 KABAR KITA
 
 BERANDAKITA
Kegilaan, Dari Cinta Mati di Pulau Rajuni Hingga Riwayat Kadang
:: Ivan Firdaus ::
Baba Guru, Mengenang Film Rhoma Irama di Klenteng Galesong
:: Kamaruddin Azis ::
Mengagumi Tenun Troso, Mengenang Tenun Sengkang
:: Suryadin Laoddang ::
Perempuan Besi di Gunung Perak (2-selesai)
:: M. Aan Mansyur ::
Perempuan Besi di Gunung Perak (1)
:: M. Aan Mansyur ::
 
 RISETKITA
Rasa Takut : Yang Dicitrakan, Yang Dipelihara
:: Aria W. Yudhistira ::
Risetkita: Pramoedya versus Sejarah Resmi
:: Nurhady Sirimorok ::
Hikayat Rumpon Nelayan Mandar
:: Muhammad Ridwan Alimuddin ::
Di Makassar Pernah Ada “Negeri Wajo”
:: Nurhady Sirimorok ::
Surat Itu Ditulis Upas kepada September
:: Nurhady Sirimorok ::
 
 BUKUKITA
 
 KATAKOTAKITA
Kenapa si Gondrong yang Maju?
:: Ivan Firdaus dan Mustamin al-Mandary ::
Karena ‘Rewa’ Badan Binasa
:: Sudirman Nasir ::
Yang Okkot, yang Salah Sambung
:: Nursamsu danTusiana Noor Alfisyahr ::
Kandala`ka`, Kusta Bila Dusta
:: Panyingkul ::
Ayo, Si(ng)kat Terussss..!
:: Panyingkul! ::

 
 TAHUKAHKITA
 

.
 ::
Jumat, 29-02-2008 
Unhas: Tawuran Lagi, Lagi-lagi Tawuran
:: Ismawan AS ::


Mahasiswa Universitas Hasanuddin tawuran lagi.
Foto: Fahmi Ali.



Upaya mewujudkan Universitas Hasanuddin (unhas) menjadi universitas kelas dunia rupanya isapan jempol belaka. Tawuran jadi citra yang tak bisa hilang. Cerita tentang tawuran di kampus itu bukan lagi hal langka, seperti yang terjadi pekan ini. Hampir setiap tahun, aksi saling serang menandai konflik antarfakultas. Biasanya diawali dengan saling ejek, adu jotos. Lalu tak lama kemudian massa berkumpul dan terjadilah aksi lempar batu. Batu-batu melayang menandai aksi ini seperti dilaporkan citizen reporter Ismwan AS.(p!)

 
Mahasiswa yang tergabung dalam FIS bersatu (gabungan mahasiswa Fisip, Ekonomi, Hukum, dan Sastra) bertahan di areal Baruga A.P. Pettarani. Sedangkan mahasiswa dari Fak. Teknik berada di pelataran kantor koperasi dan perpustakaan. Seperti sebuah “perang“ pada film-film kolosal, aksi ini dikomandoi oleh pimpinan mahasiswa. Seruan “satu, dua, tiga,…serbu,” jadi patokan untuk menyerang. Maka secara bersamaan semua mahasiswa yang ada di garis depan melempar batu. Setelah itu dilanjutkan oleh mahasiswa di barisan kedua. Kadang-kadang mereka juga melempar secara bersamaan. Tak ketinggalan mahasiswi juga ambil bagian dalam perang. Mereka menyuplai batu pada kawannya yang laki-laki sembari memberi semangat.

Tak lama kemudian, pihak birokrat kampus datang ke lokasi. Meski sudah diminta mundur oleh rektor dan pembantunya. Namun, aksi lempar batu tak juga berhenti. Malah, seakan ingin memerlihatkan kehebatannya. Mahasiswa makin bersemangat. Pada akhirnya, pejabat kampus hanya bisa jadi penonton dan geleng-geleng kepala.

Lempar batu sedikit reda jika petugas kepolisian datang ke lokasi. Bersenjata AK 47 dan pistol di tangan, pihak keamanan ini langsung masuk ke tengah. Meski begitu, lempar batu tiba-tiba kembali dimulai. Polisi kadang jadi sasaran batu. Tembakan peringatan satu-satunya seruan untuk berhenti. Namun, ketika polisi melakukan tembakan peringatan, mahasiswa malah bertepuk tangan dan berseru ’’Huuuh...,”. Sekitar dua jam, aksi tawuran ini biasa terjadi. Tembakan peringatan polisi pun jadi senjata ampuh membubarkan tawuran. Setelah semua selesai, kini saatnya menghitung kerugian.


Rektor Unhas Prof Idris Paturusi (tengah).
Foto: Fahmi Ali.



Dibayar mahal
Korban yang berjatuhan di kedua belah pihak dilarikan ke rumah sakit. Unit Gawat Darurat Rumah Sakit Wahidin Sudiro Husodo biasanya penuh dengan korban tawuran. Tak hanya itu, kerusakan fasilitas kampus buah hasil tawuran. Batuan, bertebaran di pelataran Perpustakaan dan TPB. Bahkan serpihan kaca dan darah terlihat berceceraan di koridor samping Perpustakaan.

Puluhan juta rupiah kembali dikeluarkan pihak birokrasi untuk merenovasi fasilitas yang rusak. Selain itu, biaya pengobatan mahasiswa yang cidera ditanggung masing-masing fakultas. Kisarannya sampai jutaan rupiah. Tak hanya itu, pihak polisi yang menjaga kampus setelah tawuran dibiayai hingga puluhan juta. Tengok saja, tawuran Mahsiswa Fisip-Teknik Desember 2004 lalu besarnya uang keamanannya hingga Rp 30 juta. Tawuran Teknik- Mipa 2005 sekitar Rp. 10 Juta, Hukum – Sospol Rp.16 Juta, dan Teknik-Sospol 2005 lalu juga mencapai Rp40 Juta.

Jutaan rupiah tersebut hanya untuk biaya makan dan akomodasi polisi selama menjaga kampus. Semakin lama mereka (polisi, red) di kampus, maka kocek yang dikeluarkan birokrat terus bertambah. Andai saja tawuran tak terjadi, maka dana puluhan juta itu dimanfaatkan untuk kegiatan organisasi.

Citra buruk
Tak hanya kerugian materil yang diperoleh dari tawuran. Melainkan dapat menciptakan citra buruk bagi Unhas yang notabene kampus terkemuka di Indonesia Timur. Ironis memang, saat Unhas dinobatkan pada peringkat ke-7 kampus terbaik di Indonesia versi majalah Asia Globe. Dan Rektor Idrus Paturusi mencangakan visi Unhas menuju kelas dunia. Malah tawuran yang muncul dan mencitrakan wajah sebenarnya kampus ini.

Nasi sudah jadi bubur, pandangan negatif terhadap mahasiswa dan kampus ini terus bermunculan. Simpati masyarakat pun mulai pudar. Ada yang takut anaknya masuk ke Unhas. Keluhanan juga datang dari alumni. Pasalnya akibat tawuran, ketakutan atas perusahaan-perusahan yang mulai mempertimbangkan untuk menerima lulusan Unhas.

Mahasiswa juga berpandangan hal ini merusak nama baik almamater. Bahkan merasa terancam jika nantinya sudah jadi alumni.”Kasus seperti ini membuat citra buruk buat Unhas. Dampaknya nanti kalau sudah jadi alumni, susah dapat kerja,” sela Agus, Mahasiswa Teknik 2005. Sama halnya dengan Memel, Mahasiswa Hukum 2003. Ia beranggapan jika hal ini membuat Unhas terkenal dengan tawurannya. ”Makanya wajar kalau berkenalan dengan orang lain dan kita mengatakan sebagai alumni Unhas, pasti responnya tawuran!” ujarnya.

Seruan untuk menghentikan aksi seperti itu terus berdatangan. Amril Taufik Gobel, Mantan Sekum Sema Fakultas Teknik tahun 92 menyerukan agar ketololan itu jangan diulangi. Hal sama dengan Hidayat, Mahasiswa Fisip 2005, yang mengatakan sebaiknya mahasiswa sadar akan perannya sebagai penjaga nilai kebenaran, intelektual dan moralitas. Bukan melakukan prilaku yang tak mencerminkan sebagai mahasiswa.


Polisi berupaya melerai tawuran.
Foto: Fahmi Ali



Akar penyebab
Tawuran yang kerap terjadi tiap tahunnya tak begitu saja terjadi. Selalu saja ada intrik yang jadi pemicu. Sekali sumbu itu dibakar, maka tawuran akan pecah. Sejak tahun 1992, tawuran sering terjadi saat penerimaan mahasiswa baru. Selama masa penerimaan tersebut, mahasiswa senior menanamkan doktrin yang berlebihan. Semangat yang dibangun juga bukan keunhasan, melainkan semangat kefakultasan.

Persoalan arogansi jadi hal yang paling kuat memicu terjadinya tawuran. Ada anggapan mahasiswa jika fakultasnya merupakan yang terbaik, terkuat. Dan menganggap fakultas lain berada di bawahnya. Doktrin inilah yang dijaga dan diwariskan ke yunior yang baru masuk. Sehingga jika ada yang bermasalah, maka akan diselesaikan dengan pengerahan massa. Arogansi ini menjadi dinding pemisah yang sampai saat ini tak dapat diselesaikan.

Pejabat kampus tak tegas, sikap inilah yang membuat mahasiswa tak juga jera. Tawuran yang kerap terjadi sudah dianggap biasa oleh mahasiswa. Pasalnya, setelah itu tak ada tindak lanjut dari pihak birokrasi untuk menghukum pelaku. Bahkan, tawuran dijadikan ajang untuk menghibur diri dan lari dari stress akibat fustasi menghadapi beban akademik yang terlalu berat.

Ruang untuk diskusi semakin berkurang. Malahan pejabat kampus melarang diskusi yang dilakukan oleh aktivis mahasiswa. Beberapa diskusi mahasiswa dilarang bahkan sampai dibubarkan. Akibatnya, komunikasi antar mahasiswa Unhas jadi makin buntu. Pun, ruang terbuka jika ingin digunakan untuk diskusi mesti mendapat izin resmi dari pejabat kampus. Dan tentunya melewati birokrasi yang panjang.

Dosen juga malas mengajar. Seperti diungkapkan Dahlan Abubakar, Humas Unhas, di media lokal. Salah satu penyebab tawuran karena dosen yang malas mengajar. Padahal sudah ada tambahan gaji Rp25.000 setiap jam tatap muka. Di satu sisi pihak universitas tak tegas menindak dosen yang mangkir mengajar. Makanya mahasiswa punya waktu yang lowong. Dan tak ada aktivitas akademik. Hal ini tentunya rentan menyebabkan gesekan antar mahasiswa.

Jika saja pimpinan Universitas tegas memerhatikan kasus ini, maka tawuran tentunya tak akan berlangsung terus menerus. Banyak cara yang bisa dilakukan untuk meredam aksi ini. Kuncinya keterbukaan dan saling bahu membahu antara dosen, mahasiswa dan pimpinan universitas.


Setelah tawuran reda.
Foto: Fahmi Ali.



Tak hanya di Unhas
Tawuran ternyat tak hanya di Unhas. Kampus-kampus lainnya di Makassar juga pernah melakukan hal sama. Sebut saja di Universitas Negeri Makassar (UNM). Di kampus ini Fakultas Teknik berhadapan dengan Fakultas Bahasa dan Seni. Permusuhan kedua fakultas ini membuat pihak rektorat membangun tembok yang memisahkan kedua fakultas.

Begitu pula dengan Universitas Islam Negeri (UIN) Makassar. Biasanya dipicu oleh perebutan massa mahasiswa baru oleh organisasi ekstra kampus. Lain halnya di Universitas Muslim Indonesi (UMI). Kasus tawuran yang terjadi lebih berdipat primordialisme. Perang antar organisasi daerah kerap terjadi. Di kampus Universitas 45 Makassar, tawuran sering terjadi saat penerimaan mahasiswa baru, konser musik atau perselisihan kelompok akibat mabuk. Awalnya hanya saling tatap, lalu berujung pada adu jotos.
Tak hanya itu, mengikut seniornya di kampus. Siswa SMA juga mulai mempraktekkan aksi tak bermoral tersebut. Seperti yang terjadi beberapa hari lalu dan jadi headline di berita TV. Saat siswa SMA 11 menyerang SMA 24 Makassar.(p!)

*Citizen reporter Ismawan AS dapat dihubungi melalui email mawo_as@yahoo.co.id

| Beri Komentar| Jumlah Komentar (34) |

Komentar :

08-12-2008
Dari : chakiel | chakielnih@yahoo.co.id
hari gini masih tawuran .. . capek deh .. . sekarang mah jamannya jablay bos .. . +_+'v _no anarcy bitch yes_

10-10-2008
Dari : ki2 A'00 | kikymana.09@gmail.com
satukan langkah bentang cita kita membangun nusa & bangsa.....tekad hati dan janji kalian harapan ibu pertiwi, bagemana tidak tawuran, banyak preman kuliah di sospol & sastra membenci ana teknik. singkarkan CACO sospol angkatan 1987 dari unhas dan diramsis suka intimidasi maba teknik terutama yang tinggal di unit 1 ramsis unhas

17-03-2008
Dari : pendukung tawuran |
tawuran adalah salah satu strategi menghalau para pemodal masuk dengan tangan kotornya ke kampus kita....

06-03-2008
Dari : Ajieb | bjielief2007@gmail.com
Gilee..dari dulu kok nggak berubah, dari jaman baheula, kapan bisa niru yang baik baik nih kalau gini....tahu deh tobat deh .... petinggi Unhas harus tidak pengecut untuk memecat semua mahasiswa yang ikut tawuran, kalau harus seribu yang dipecat, yaaa pecat aja. ini shock therapy gitu. Ajieb Leeds University UK 2008

05-03-2008
Dari : pasompe' |
Heran deh, tawuran teyus..... tapi salut juga sih, UH bisa jadi kawah candradimuka bagi pembentukan kader-kader PENGECUT & JAGO KANDANG. Sementara Univ.-2 lain berlomba mencapai status akreditasi yang baik, UH malah terpuruh dengan "Ritual Tahunan" yang pemicunya itu-itu tonji... Arogansi yang berlebihan akibat Fanatisme Fakultas yang disalah tafsirkan. Selamat buat UH atas prestasi berupa konsistensi melakukan Tawuran. Buat para peserta tawuran, kembangkan terus potensimu dan teruslah berharap akan suatu hari nanti "kontinuitas tawuran" akan menjadi salah satu parameter dalam meningkatkan "akreditasi" perguruan tinggi........!!!

05-03-2008
Dari : hijrah | hijrah_chubby@yahoo.co.id
kenapa sih tawuran???????? pusing yach ma tugas kuliah yang numpuk???????? or pusing mikirin kuliah yang ndak lulus????????? kekanak-kanakan kapan dewasanya kak???????? mentang2 kampus ayam jago...... semuax mau jadi jagoan yach?????

04-03-2008
Dari : peserta tawuran 1998-2005 |
Dulu kalau ikut tawuran selalu kami bahasakan olah raga mengendorkan otot yang lama kaku karena kelamaan duduk di kelas. Tauran bagi sebagian mahasiswa sangat menyenangkan dan seolah jadi ajang rekreasi menantang, trus kalau luka terkena batu atau yang lain ya apes aja kali, pintar-pintarnya kita, asal jangan kelewet serius tawurannya sampai bawa senjata tajam aja, gaya orang kampung, kalau dah capek ya pulang ke pondok trus cerita ama teman sepondokan yang mungkin dari fakultas lawan, sambl ketawa-ketiwi.

04-03-2008
Dari : ada deh | adadehjuga@yahoo.com
tindak tegas pihak yang tidak bisa mencagah tauran ini terjadi!

04-03-2008
Dari : fahrie |
Dari sekian banyak komentar, buat saya yang paling pas menggambarkan kondisi nyata UNHAS adalah komentar ANAK TEKNIK 1998 Tanpa harus bersikap berat sebelah, ada yang salah dengan sistem kaderisasi di Teknik. Ketika tongkat estafet dari senior ke junior lebih mengedepankan kekompakan dan perasaan paling hebat tanpa bisa mengajukan alasan yang jelas mengapa harus merasa hebat. Coba lihat jargon mereka .... we are the champion! ... hebat! tapi champion dalam hal apa??? Petinggi UNHAS dan FTUH harus berusaha secara sistematis mengubah kepongahan-kepongaha n konyol seperti itu dan menyalurkan rasa ego itu kedalam hal positif lainnya kalau mau melihat UNHAS yang sama kita sayangi ini maju.

03-03-2008
Dari : dian |
Wah..kalo nulis komentar yang berbobot dong...kok malah ngajak tawuran malu sama kampus negeri yang lain boss!! Apaan sih iu we are the champion kalo otaknya cuma ngenal cara berhitung nimpuk sasaran pake batu biar jitu :p

03-03-2008
Dari : no name |
apa coba yang diandalkan dari tawuran...itu namanya solidaritas bodoh.pengecut. nanti kalo satu-lawan satu tidak berani jii juga..tappa ka boz.. apapun namanya itu..tawuran tetap AIB itu yang diandlkan..gilaa

03-03-2008
Dari : manusiabiasa |
sok jago lhu...

03-03-2008
Dari : ANAK TEKNIK 1998 | antek_09@unhas.com
bagus de... Komppak ko dek... ingat sama-sama di pozma, ada temanmu di pukul selesaikan secara teknik... kasih tau sama seluruh dunia,... kalau kita WE ARE THE CHAMPION... ini pelajaran buat org lain jangan sekali kali bermain api dengan anak teknik. keep on figthing till the end! buat pak rektor: jgn memandang sebuah masalah dari 1 sisi. Antek bertindak karna memang harus.

03-03-2008
Dari : Nile` | yusnitarifai@gmail.com
Yg tawuran sebenarnya hanya fakultas teknik Vs Sospol. Yg laen, amaan. Ada perasaan superior pada tubuh ke2 fakultas tsb. Insya Allah, pembangunan kampus II unhas yg notabene diperuntukkan utk fak Teknik segera terealisasi sehingga dlm wkt dekat fak tsb dipindahkan kesana. Semoga setelah itu, unhas amaaan, amien

03-03-2008
Dari : takernama | -
tawuran saj terus....pengecut

02-03-2008
Dari : bekerja di PT UNHAS |
bagaimana mahasiswa unhas tidak tawuran...kalo di kelas mereka ditekan dengan berbagai macam tugas, asistensi, praktek, ditambah lagi kiriman belum datang, tak ada lagi tempat makan yang murah karena mace-mace digusur semua, dan diputus sama pacar(hehehe...ini persoalan lain tapi kayaknya nyambung deh dengan tingkat strees mahasiswa)....belum lagi pihak rektorat yang terus menekan lembaga kemahasiswaan, melarang mahasiswa melakukan aktivitas di malam hari dan berbagai aturan-aturan lainnya....pokoknya dalam satu lemparan batu mahasiswa unhas, terdapat banyak beban hidup di dalamnya..... jadi pemecatan bukan penyelesaian masalah...rektorat harus jantan mengakui, ini adalah kegagalan mendidik di kampus UNHAS(universitas negeri hampir swasta)

02-03-2008
Dari : Wan | wanblogger@gmail.com
Hasil pencarian menunjukkan ada sekitar 4.480 link tentang hal tersebut....Apa kata dunia ????...Sesuai dengan namanya, kampus merah, tapi sekarang mungkin UNHAS lebih pas kalau disebut kampus padepokan silat... "Ini pertanda sebagai bangsa sakit"

02-03-2008
Dari : Irdan | salewangang@yahoo.com
saya coba-coba iseng melakukan searching di Google dengan kata kunci UNHAS TAWURAN. Hasil pencarian menunjukkan ada sekitar 4.480 link tentang hal tersebut....Apa kata dunia ????

02-03-2008
Dari : ingin_jantan | jantan@yahoo.com
Saya pernah baca cerpen tentang sebuah tafsiran sikap jantan(saya lupa judul dan penulisnya). Intinya begini: "Dua orang yang berselisih dan saling dendam janjian ketemu di sebuah gunung yang sepi untuk meyelesaikan masalah mereka, duel berkelahi. Hanya berdua dan tidak melibatkan orang lain." Yang merasa jantan, selesaikan masalah kalian sendiri, ga usah buat orang ikut campur.

02-03-2008
Dari : kenny | ratukenny@yahoo.com
Duhh..seharusnya waktu masuk UGD..para preman ini ga usah dibayarin ato kenai sanksi bayar kerusakan yang diperbuat..biar tahu rasa!! Betapa kalo kuliah (sekolah) jaman sekarang sudah mahal...banyak yang pengen kuliah walaupun sudah lulus UMPTN tapi ga punya duit..apalage sampe ngerusak fasilitas kampus dan dibiayain pengobatan..mending duitnya bisa utk nambah beasiswa :(

02-03-2008
Dari : syamsoe | toyota_gue@yahoo.com
.. moga2 tawuran mahasiswa ini yang terakhir kalinya... peace/ kasian pak rektoratnya

02-03-2008
Dari : Kamaruddin Azis | daeng.nuntung@gmail.com
Kuncinya pastikan bahwa KEBIJAKAN rektorat berpihak ke tujuan pendidikan tinggi yg berkualitas. Seperti teman-teman sebut di bawah, selain tindakan tegas rektorat atas pelaku tawuran(skali kali kita sebut saja siba'ji)juga diperlukan tindakan tegas untuk sedari awal: 1. Menghilangkan kebiasaan "ospek" yang berbasis fakultas dengan sebuah ospek berbasis almamater Unhas saja. semua mahasiswa baru di gabung dalam satu interaksi dialogis, reflektif dan didorong untuk menemukenali lingkungan sosial kampusnya sebelum masuk ke pendidikan teknis di jurusannya. 2. Rektorat masti mengontrol semua aktivitas dosennya dengan melarang keras terlibat proyek jangka panjang di luar kampus. Ini penting agar dosen bisa fokus menjadi pengajar dan pendidik yang efektif. Ada banyak keluhan bahwa mahasiswa kerap tidak dikuliahi tanpa pemberitahuan yg jelas. 3. Dosen mestinya menjadi pemantau atau supervisor sejak AWAL bagi mahasiswanya sehingga komunikasi dua arah bisa berjalan (ini berkonsekuensi pada atensi dan waktu yg lebih banyak utk mahasiswa). Ini penting demi menjaga interaksi yg mutualistik selain fungsi kontrol jika ada mahasiswa yg disorientasi alias stress kasiang. 4. Dosen atau pendidik mahasiswa harus punya kapasitas yang memadai demi memberikan servis bagi mahasiswa. Dosen tidak bisa merasa lebih superior atau lebih jago. Ada berapa dosen yg benar benar dosen? Banyak dosen yg merasa hebat padahal proses untuk menjadi dosen dia mesti lewat jalur tak lazim alias "ditunjuk sahaja". Konsekuensinya Rektorat mesti memberi reward atau penghargaan bagi dosen teladan dan sanksi bagi dosen banna'. Trus, terakhir kesiang 5. Kalau ada yg terlibat perkelahian antar individu, bisakah ada mekanisme atau sistem yg cepat tanggap? Jika ada yg merasa dizalimi, ditonjok, mahasiswa melapor saja ke senatnya atau himpunannya kemudian melaporkannya ke Rektorat atau otoritas terkait untuk sebuah solusi bersama atau punishment kalau perlu bukankah ini lebih cerdas? lebih mahasiswa gitu loh?...Tidak ada yg tidak mungkin jika ada spirit yg sama demi membangun Unhas, antekamma?.

02-03-2008
Dari : pemerhati | -
pecat mahasiswayang tawuran buat wadah yang bisa menyatukan mahasiswa ini. bangun visi keunhasan..teknik pindahkan saja ke gowa

02-03-2008
Dari : sambanrang tong |
Pak Masdar, kayaknya bukan satu kata deh yang ini :"...pengecutki semua yang tawuran.". Kalau "pengecut", itu baru satu kata.....

01-03-2008
Dari : masdar | masdar_026@yahoo.co.id
hanya satu kata pengecutki semua yang tawuran. hanya berani sekali berkelahi di dalam kampus. coba bede di luarko, berkelahi dengan sikap intelektualta semua.saya justru merasa gamang dengan berita yang ada di TV tentang 2 orang penduduk makassar di jl.daeng tata yang meninggal karena KELAPARAN.....mana sikap kritismu cess kepada pemerintah kota yang hanya sibuk berebut kekuasaan. pengecooooooouuuuuuu tttt !!!!

01-03-2008
Dari : gagal masuk unhas | beroanging@gmail.com
...kutipan: Lain halnya di Universitas Muslim Indonesi (UMI). Kasus tawuran yang terjadi lebih berdipat primordialisme. Perang antar organisasi daerah kerap terjadi... saya kira semua akarnya adalah primordialism; arogansi jurusan teknik dan non teknik, organisasi, kedaerahan, agama dan sebagainya adalah primordialism yg dikemas dengan sikap kebanggaan yg berlebihan...jadi bukan cuman di UMI saja, semua kampus yang bertradisi tawuran adalah pengusung primordialism. Mending status mahasiswa duicabut saja...sebut saja mereka sebagai 'murid' saja, sama dgn SD...

01-03-2008
Dari : rudy |
Maaf Pak Ismawan, saya agak sedikit terganggu dengan pernyataan bahwa senjata polisi adalah AK-47. Setahu saya baik TNI maupun Polisi Indonesia tidak menggunakan senjata AK-47 buatan Rusia. Yang ada adalah SS-1 atau M-16.

01-03-2008
Dari : hendragunawan |
selain itu, sebaiknya masyarakat kampus jgn mengalami delusi dgn jargon 'otonomi kampus' sehingga merasa alergi mengundang masuk polisi. penyidikan kriminal oleh polisi wajib dilakukan terlebih lagi bila tawuran itu sampai merusak fasilitas negara dan menghalangi terjadinya kegiatan belajar-mengajar.

01-03-2008
Dari : hendragunawan |
mulai tahun depan, sebaiknya selain materi umptn, unhas juga mengadakan psikotes, untuk melacak kemangkinan terjaringnya calon maba yg sebenarnya menderita penyakit gangguan jiwa, seperti sikap anti-sosial dan kecenderungan vandalisme, masuk menjadi mahasiswa unhas dan menyia-nyiakan uang rakyat dgn membakar/merusak gedung kuliah mereka sendiri. cilakanya, pengurus senat pernah menunjukkan simpton ini, misalnya dgn merusak kunci ruang kelas sehingga bisa 'memobilisasi paksa' mahasiswa untuk ikut aksi mereka. Pak rektor, saran ini tolong diperhatikan serius, kalau tidak, para orang tua akan justru merasa was-was bila anaknya diterima masuk unhas.

01-03-2008
Dari : kapitipiti | kapitipitie@yahoo.co.jp
Tindak tegas pelaku tawuran yang mamalukan serta merugikan !!!

01-03-2008
Dari : rusle | muhruslee@gmail.com
Mungkin ada baiknya, jenjang S-1 di UNHAS di tinjau ulang. Jenjang S-1 diarahkan ke universitas di kota lain saja, atau disebar di setiap kota/kabupaten. Baru untuk S2 dan S3 nya di pusatkan di Makassar. Selain untuk meminimalisir perseteruan abadi ini, juga utk memberdayakan potensi daerah. Sulbar juga sudah saatnya memikirkan utk membangun universitas di Majene. Tapi diluar semua usulan, yang terpenting adalah bagaiman membuat kultur tawuran di UNHAS segera dipunahkan dari otak para intelek muda ber'bakat' kita itu.

29-02-2008
Dari : chapunk |
mungkin ada baiknya bila berita ini ikut memuat pendapat dari pelaku khususnya dari dua kubu. juga perlu intelektual Unhas mengkaji akar-akar persoalan

29-02-2008
Dari : To Bellalao | matt_oge@yahoo.com
Seandainya sejak tahun 1666 sudah ada universitas dan sekolah di wilayah makassar, munkin kita tdk akan mengenal perjanjian Bongaya antara raja gowa dan VOC. Soalnya raja gowa waktu itu mempunyai angkatan perang yang mumpuni dari kampus-kampus di makassar. BERANI MATI PULA!!!!! Teman aja di gasak..... Cara berperangnya pun masih jaman kerajaan gowa.... Pake batu!!!! Padahal sekarang kan jamannya roket. Saya juga sering mendengar teman-teman mahasiswa makassar yang begitu bangga kalau di LABnya berhasil bikin "busur" dan "papporo'". Orang lain sudah bikin rudal, nah dia masih aja bikin senjata tradisional kaya gitu.....

29-02-2008
Dari : aco | barombong16@yahoo.com
unhas gagal membangun mentalitas yang seharusnya dimiliki oleh mahasiswa..tidak ada yg namanya superioritas/fanatis me fakultas karena semua jurusan memperjuangkan kemaslahatan ummat dan alam. Unhas perlu segera memulai masa pencerahan..'zero-to lerance'thdp sesuatu yang anarkis



 :: CITIZEN REPORTER
Makassar di Panyingkul!: Sebuah Persembahan
(Kamis, 12-07-2007)
Ayo Bergabung di Panyingkul!
(Minggu, 29-04-2007)
Catatan Sederhana Para Citizen Reporter
(Selasa, 31-10-2006)
Tentang Citizen Reporter dan Rubrik di Panyingkul!
(Rabu, 11-10-2006)
Riuh Rendah di Panyingkul!
(Rabu, 16-08-2006)

Untitled Document
 :: DUNIA SEGIEMPAT KAREBOSI






 :: PILKADA




 :: ALBUM PUASA 2008




Untitled Document
 :: KONTAK TIM PANYINGKUL!

Email Redaksi :

redaksi@panyingkul.com

Tim:
yus@panyingkul.com
+62 813 226 80844

Moch. Hasymi
+62 811 955 954


© Juni 2006 - Panyingkul.com All Rights Reserved
Desain Web : Nesia Andriana -- Supported by: Yuhardin