|
|
| . |
| ::
|
| Jumat, 29-02-2008 | Unhas: Tawuran Lagi, Lagi-lagi Tawuran :: Ismawan AS ::
| Mahasiswa Universitas Hasanuddin tawuran lagi. Foto: Fahmi Ali.
Upaya mewujudkan Universitas Hasanuddin (unhas) menjadi universitas kelas dunia rupanya isapan jempol belaka. Tawuran jadi citra yang tak bisa hilang. Cerita tentang tawuran di kampus itu bukan lagi hal langka, seperti yang terjadi pekan ini. Hampir setiap tahun, aksi saling serang menandai konflik antarfakultas. Biasanya diawali dengan saling ejek, adu jotos. Lalu tak lama kemudian massa berkumpul dan terjadilah aksi lempar batu. Batu-batu melayang menandai aksi ini seperti dilaporkan citizen reporter Ismwan AS.(p!)
| Mahasiswa yang tergabung dalam FIS bersatu (gabungan mahasiswa Fisip, Ekonomi, Hukum, dan Sastra) bertahan di areal Baruga A.P. Pettarani. Sedangkan mahasiswa dari Fak. Teknik berada di pelataran kantor koperasi dan perpustakaan. Seperti sebuah “perang“ pada film-film kolosal, aksi ini dikomandoi oleh pimpinan mahasiswa. Seruan “satu, dua, tiga,…serbu,” jadi patokan untuk menyerang. Maka secara bersamaan semua mahasiswa yang ada di garis depan melempar batu. Setelah itu dilanjutkan oleh mahasiswa di barisan kedua. Kadang-kadang mereka juga melempar secara bersamaan. Tak ketinggalan mahasiswi juga ambil bagian dalam perang. Mereka menyuplai batu pada kawannya yang laki-laki sembari memberi semangat.
Tak lama kemudian, pihak birokrat kampus datang ke lokasi. Meski sudah diminta mundur oleh rektor dan pembantunya. Namun, aksi lempar batu tak juga berhenti. Malah, seakan ingin memerlihatkan kehebatannya. Mahasiswa makin bersemangat. Pada akhirnya, pejabat kampus hanya bisa jadi penonton dan geleng-geleng kepala.
Lempar batu sedikit reda jika petugas kepolisian datang ke lokasi. Bersenjata AK 47 dan pistol di tangan, pihak keamanan ini langsung masuk ke tengah. Meski begitu, lempar batu tiba-tiba kembali dimulai. Polisi kadang jadi sasaran batu. Tembakan peringatan satu-satunya seruan untuk berhenti. Namun, ketika polisi melakukan tembakan peringatan, mahasiswa malah bertepuk tangan dan berseru ’’Huuuh...,”. Sekitar dua jam, aksi tawuran ini biasa terjadi. Tembakan peringatan polisi pun jadi senjata ampuh membubarkan tawuran. Setelah semua selesai, kini saatnya menghitung kerugian.
Rektor Unhas Prof Idris Paturusi (tengah). Foto: Fahmi Ali.
Dibayar mahal
Korban yang berjatuhan di kedua belah pihak dilarikan ke rumah sakit. Unit Gawat Darurat Rumah Sakit Wahidin Sudiro Husodo biasanya penuh dengan korban tawuran. Tak hanya itu, kerusakan fasilitas kampus buah hasil tawuran. Batuan, bertebaran di pelataran Perpustakaan dan TPB. Bahkan serpihan kaca dan darah terlihat berceceraan di koridor samping Perpustakaan.
Puluhan juta rupiah kembali dikeluarkan pihak birokrasi untuk merenovasi fasilitas yang rusak. Selain itu, biaya pengobatan mahasiswa yang cidera ditanggung masing-masing fakultas. Kisarannya sampai jutaan rupiah. Tak hanya itu, pihak polisi yang menjaga kampus setelah tawuran dibiayai hingga puluhan juta. Tengok saja, tawuran Mahsiswa Fisip-Teknik Desember 2004 lalu besarnya uang keamanannya hingga Rp 30 juta. Tawuran Teknik- Mipa 2005 sekitar Rp. 10 Juta, Hukum – Sospol Rp.16 Juta, dan Teknik-Sospol 2005 lalu juga mencapai Rp40 Juta.
Jutaan rupiah tersebut hanya untuk biaya makan dan akomodasi polisi selama menjaga kampus. Semakin lama mereka (polisi, red) di kampus, maka kocek yang dikeluarkan birokrat terus bertambah. Andai saja tawuran tak terjadi, maka dana puluhan juta itu dimanfaatkan untuk kegiatan organisasi.
Citra buruk
Tak hanya kerugian materil yang diperoleh dari tawuran. Melainkan dapat menciptakan citra buruk bagi Unhas yang notabene kampus terkemuka di Indonesia Timur. Ironis memang, saat Unhas dinobatkan pada peringkat ke-7 kampus terbaik di Indonesia versi majalah Asia Globe. Dan Rektor Idrus Paturusi mencangakan visi Unhas menuju kelas dunia. Malah tawuran yang muncul dan mencitrakan wajah sebenarnya kampus ini.
Nasi sudah jadi bubur, pandangan negatif terhadap mahasiswa dan kampus ini terus bermunculan. Simpati masyarakat pun mulai pudar. Ada yang takut anaknya masuk ke Unhas. Keluhanan juga datang dari alumni. Pasalnya akibat tawuran, ketakutan atas perusahaan-perusahan yang mulai mempertimbangkan untuk menerima lulusan Unhas.
Mahasiswa juga berpandangan hal ini merusak nama baik almamater. Bahkan merasa terancam jika nantinya sudah jadi alumni.”Kasus seperti ini membuat citra buruk buat Unhas. Dampaknya nanti kalau sudah jadi alumni, susah dapat kerja,” sela Agus, Mahasiswa Teknik 2005. Sama halnya dengan Memel, Mahasiswa Hukum 2003. Ia beranggapan jika hal ini membuat Unhas terkenal dengan tawurannya. ”Makanya wajar kalau berkenalan dengan orang lain dan kita mengatakan sebagai alumni Unhas, pasti responnya tawuran!” ujarnya.
Seruan untuk menghentikan aksi seperti itu terus berdatangan. Amril Taufik Gobel, Mantan Sekum Sema Fakultas Teknik tahun 92 menyerukan agar ketololan itu jangan diulangi. Hal sama dengan Hidayat, Mahasiswa Fisip 2005, yang mengatakan sebaiknya mahasiswa sadar akan perannya sebagai penjaga nilai kebenaran, intelektual dan moralitas. Bukan melakukan prilaku yang tak mencerminkan sebagai mahasiswa.
Polisi berupaya melerai tawuran. Foto: Fahmi Ali
Akar penyebab
Tawuran yang kerap terjadi tiap tahunnya tak begitu saja terjadi. Selalu saja ada intrik yang jadi pemicu. Sekali sumbu itu dibakar, maka tawuran akan pecah. Sejak tahun 1992, tawuran sering terjadi saat penerimaan mahasiswa baru. Selama masa penerimaan tersebut, mahasiswa senior menanamkan doktrin yang berlebihan. Semangat yang dibangun juga bukan keunhasan, melainkan semangat kefakultasan.
Persoalan arogansi jadi hal yang paling kuat memicu terjadinya tawuran. Ada anggapan mahasiswa jika fakultasnya merupakan yang terbaik, terkuat. Dan menganggap fakultas lain berada di bawahnya. Doktrin inilah yang dijaga dan diwariskan ke yunior yang baru masuk. Sehingga jika ada yang bermasalah, maka akan diselesaikan dengan pengerahan massa. Arogansi ini menjadi dinding pemisah yang sampai saat ini tak dapat diselesaikan.
Pejabat kampus tak tegas, sikap inilah yang membuat mahasiswa tak juga jera. Tawuran yang kerap terjadi sudah dianggap biasa oleh mahasiswa. Pasalnya, setelah itu tak ada tindak lanjut dari pihak birokrasi untuk menghukum pelaku. Bahkan, tawuran dijadikan ajang untuk menghibur diri dan lari dari stress akibat fustasi menghadapi beban akademik yang terlalu berat.
Ruang untuk diskusi semakin berkurang. Malahan pejabat kampus melarang diskusi yang dilakukan oleh aktivis mahasiswa. Beberapa diskusi mahasiswa dilarang bahkan sampai dibubarkan. Akibatnya, komunikasi antar mahasiswa Unhas jadi makin buntu. Pun, ruang terbuka jika ingin digunakan untuk diskusi mesti mendapat izin resmi dari pejabat kampus. Dan tentunya melewati birokrasi yang panjang.
Dosen juga malas mengajar. Seperti diungkapkan Dahlan Abubakar, Humas Unhas, di media lokal. Salah satu penyebab tawuran karena dosen yang malas mengajar. Padahal sudah ada tambahan gaji Rp25.000 setiap jam tatap muka. Di satu sisi pihak universitas tak tegas menindak dosen yang mangkir mengajar. Makanya mahasiswa punya waktu yang lowong. Dan tak ada aktivitas akademik. Hal ini tentunya rentan menyebabkan gesekan antar mahasiswa.
Jika saja pimpinan Universitas tegas memerhatikan kasus ini, maka tawuran tentunya tak akan berlangsung terus menerus. Banyak cara yang bisa dilakukan untuk meredam aksi ini. Kuncinya keterbukaan dan saling bahu membahu antara dosen, mahasiswa dan pimpinan universitas.
Setelah tawuran reda. Foto: Fahmi Ali.
Tak hanya di Unhas
Tawuran ternyat tak hanya di Unhas. Kampus-kampus lainnya di Makassar juga pernah melakukan hal sama. Sebut saja di Universitas Negeri Makassar (UNM). Di kampus ini Fakultas Teknik berhadapan dengan Fakultas Bahasa dan Seni. Permusuhan kedua fakultas ini membuat pihak rektorat membangun tembok yang memisahkan kedua fakultas.
Begitu pula dengan Universitas Islam Negeri (UIN) Makassar. Biasanya dipicu oleh perebutan massa mahasiswa baru oleh organisasi ekstra kampus. Lain halnya di Universitas Muslim Indonesi (UMI). Kasus tawuran yang terjadi lebih berdipat primordialisme. Perang antar organisasi daerah kerap terjadi. Di kampus Universitas 45 Makassar, tawuran sering terjadi saat penerimaan mahasiswa baru, konser musik atau perselisihan kelompok akibat mabuk. Awalnya hanya saling tatap, lalu berujung pada adu jotos.
Tak hanya itu, mengikut seniornya di kampus. Siswa SMA juga mulai mempraktekkan aksi tak bermoral tersebut. Seperti yang terjadi beberapa hari lalu dan jadi headline di berita TV. Saat siswa SMA 11 menyerang SMA 24 Makassar.(p!)
*Citizen reporter Ismawan AS dapat dihubungi melalui email mawo_as@yahoo.co.id
|
| | Jumlah
Komentar (34) |
|
| Komentar :
08-12-2008 Dari : chakiel | chakielnih@yahoo.co.id hari gini masih
tawuran .. .
capek deh .. .
sekarang mah
jamannya jablay bos
.. .
+_+'v
_no anarcy bitch
yes_ 10-10-2008 Dari : ki2 A'00 | kikymana.09@gmail.com satukan langkah
bentang cita kita
membangun nusa &
bangsa.....tekad
hati dan janji
kalian harapan ibu
pertiwi, bagemana
tidak tawuran,
banyak preman kuliah
di sospol & sastra
membenci ana teknik.
singkarkan CACO
sospol angkatan 1987
dari unhas dan
diramsis suka
intimidasi maba
teknik terutama yang
tinggal di unit 1
ramsis unhas 17-03-2008 Dari : pendukung tawuran | tawuran adalah salah
satu strategi
menghalau para
pemodal masuk dengan
tangan kotornya ke
kampus kita.... 06-03-2008 Dari : Ajieb | bjielief2007@gmail.com Gilee..dari dulu kok
nggak berubah, dari
jaman baheula, kapan
bisa niru yang baik
baik nih kalau
gini....tahu deh
tobat deh ....
petinggi Unhas harus
tidak pengecut untuk
memecat semua
mahasiswa yang ikut
tawuran, kalau harus
seribu yang dipecat,
yaaa pecat aja. ini
shock therapy gitu.
Ajieb
Leeds University UK
2008
05-03-2008 Dari : pasompe' | Heran deh, tawuran
teyus.....
tapi salut juga sih,
UH bisa jadi kawah
candradimuka bagi
pembentukan
kader-kader PENGECUT
& JAGO KANDANG.
Sementara Univ.-2
lain berlomba
mencapai status
akreditasi yang
baik, UH malah
terpuruh dengan
"Ritual Tahunan"
yang pemicunya
itu-itu tonji...
Arogansi yang
berlebihan akibat
Fanatisme Fakultas
yang disalah
tafsirkan.
Selamat buat UH atas
prestasi berupa
konsistensi
melakukan Tawuran.
Buat para peserta
tawuran, kembangkan
terus potensimu dan
teruslah berharap
akan suatu hari
nanti "kontinuitas
tawuran" akan
menjadi salah satu
parameter dalam
meningkatkan
"akreditasi"
perguruan
tinggi........!!! 05-03-2008 Dari : hijrah | hijrah_chubby@yahoo.co.id kenapa sih
tawuran????????
pusing yach ma tugas
kuliah yang
numpuk????????
or
pusing mikirin
kuliah yang ndak
lulus?????????
kekanak-kanakan
kapan dewasanya
kak????????
mentang2 kampus ayam
jago......
semuax mau jadi
jagoan yach?????
04-03-2008 Dari : peserta tawuran 1998-2005 | Dulu kalau ikut
tawuran selalu kami
bahasakan olah raga
mengendorkan otot
yang lama kaku
karena kelamaan
duduk di kelas.
Tauran bagi sebagian
mahasiswa sangat
menyenangkan dan
seolah jadi ajang
rekreasi menantang,
trus kalau luka
terkena batu atau
yang lain ya apes
aja kali,
pintar-pintarnya
kita, asal jangan
kelewet serius
tawurannya sampai
bawa senjata tajam
aja, gaya orang
kampung, kalau dah
capek ya pulang ke
pondok trus cerita
ama teman sepondokan
yang mungkin dari
fakultas lawan,
sambl ketawa-ketiwi. 04-03-2008 Dari : ada deh | adadehjuga@yahoo.com tindak tegas pihak
yang tidak bisa
mencagah tauran ini
terjadi! 04-03-2008 Dari : fahrie | Dari sekian banyak
komentar, buat saya
yang paling pas
menggambarkan
kondisi nyata UNHAS
adalah komentar ANAK
TEKNIK 1998
Tanpa harus bersikap
berat sebelah, ada
yang salah dengan
sistem kaderisasi di
Teknik. Ketika
tongkat estafet dari
senior ke junior
lebih mengedepankan
kekompakan dan
perasaan paling
hebat tanpa bisa
mengajukan alasan
yang jelas mengapa
harus merasa hebat.
Coba lihat jargon
mereka .... we are
the champion! ...
hebat! tapi champion
dalam hal apa???
Petinggi UNHAS dan
FTUH harus berusaha
secara sistematis
mengubah
kepongahan-kepongaha
n konyol seperti itu
dan menyalurkan rasa
ego itu kedalam hal
positif lainnya
kalau mau melihat
UNHAS yang sama kita
sayangi ini maju. 03-03-2008 Dari : dian | Wah..kalo nulis
komentar yang
berbobot dong...kok
malah ngajak tawuran
malu sama kampus
negeri yang lain
boss!! Apaan sih iu
we are the champion
kalo otaknya cuma
ngenal cara
berhitung nimpuk
sasaran pake batu
biar jitu :p 03-03-2008 Dari : no name | apa coba yang
diandalkan dari
tawuran...itu
namanya solidaritas
bodoh.pengecut.
nanti kalo
satu-lawan satu
tidak berani jii
juga..tappa ka
boz..
apapun namanya
itu..tawuran tetap
AIB
itu yang
diandlkan..gilaa 03-03-2008 Dari : manusiabiasa | sok jago lhu... 03-03-2008 Dari : ANAK TEKNIK 1998 | antek_09@unhas.com bagus de...
Komppak ko dek...
ingat sama-sama di
pozma, ada temanmu
di pukul selesaikan
secara teknik...
kasih tau sama
seluruh dunia,...
kalau kita WE ARE
THE CHAMPION...
ini pelajaran buat
org lain jangan
sekali kali bermain
api dengan anak
teknik.
keep on figthing
till the end!
buat pak rektor:
jgn memandang sebuah
masalah dari 1 sisi.
Antek bertindak
karna memang harus. 03-03-2008 Dari : Nile` | yusnitarifai@gmail.com Yg tawuran
sebenarnya hanya
fakultas teknik Vs
Sospol. Yg laen,
amaan.
Ada perasaan
superior pada tubuh
ke2 fakultas tsb.
Insya Allah,
pembangunan kampus
II unhas yg notabene
diperuntukkan utk
fak Teknik segera
terealisasi sehingga
dlm wkt dekat fak
tsb dipindahkan
kesana. Semoga
setelah itu, unhas
amaaan, amien 03-03-2008 Dari : takernama | - tawuran saj
terus....pengecut 02-03-2008 Dari : bekerja di PT UNHAS | bagaimana mahasiswa
unhas tidak
tawuran...kalo di
kelas mereka ditekan
dengan berbagai
macam tugas,
asistensi, praktek,
ditambah lagi
kiriman belum
datang, tak ada lagi
tempat makan yang
murah karena
mace-mace digusur
semua, dan diputus
sama
pacar(hehehe...ini
persoalan lain tapi
kayaknya nyambung
deh dengan tingkat
strees
mahasiswa)....belum
lagi pihak rektorat
yang terus menekan
lembaga
kemahasiswaan,
melarang mahasiswa
melakukan aktivitas
di malam hari dan
berbagai
aturan-aturan
lainnya....pokoknya
dalam satu lemparan
batu mahasiswa
unhas, terdapat
banyak beban hidup
di dalamnya.....
jadi pemecatan bukan
penyelesaian
masalah...rektorat
harus jantan
mengakui, ini adalah
kegagalan mendidik
di kampus
UNHAS(universitas
negeri hampir
swasta) 02-03-2008 Dari : Wan | wanblogger@gmail.com Hasil pencarian
menunjukkan ada
sekitar 4.480 link
tentang hal
tersebut....Apa kata
dunia ????...Sesuai
dengan namanya,
kampus merah, tapi
sekarang mungkin
UNHAS lebih pas
kalau disebut kampus
padepokan silat...
"Ini pertanda
sebagai bangsa
sakit" 02-03-2008 Dari : Irdan | salewangang@yahoo.com saya coba-coba iseng
melakukan searching
di Google dengan
kata kunci UNHAS
TAWURAN. Hasil
pencarian
menunjukkan ada
sekitar 4.480 link
tentang hal
tersebut....Apa kata
dunia ???? 02-03-2008 Dari : ingin_jantan | jantan@yahoo.com Saya pernah baca
cerpen tentang
sebuah tafsiran
sikap jantan(saya
lupa judul dan
penulisnya). Intinya
begini: "Dua orang
yang berselisih dan
saling dendam
janjian ketemu di
sebuah gunung yang
sepi untuk
meyelesaikan masalah
mereka, duel
berkelahi. Hanya
berdua dan tidak
melibatkan orang
lain." Yang merasa
jantan, selesaikan
masalah kalian
sendiri, ga usah
buat orang ikut
campur. 02-03-2008 Dari : kenny | ratukenny@yahoo.com Duhh..seharusnya
waktu masuk
UGD..para preman ini
ga usah dibayarin
ato kenai sanksi
bayar kerusakan yang
diperbuat..biar tahu
rasa!! Betapa kalo
kuliah (sekolah)
jaman sekarang sudah
mahal...banyak yang
pengen kuliah
walaupun sudah lulus
UMPTN tapi ga punya
duit..apalage sampe
ngerusak fasilitas
kampus dan dibiayain
pengobatan..mending
duitnya bisa utk
nambah beasiswa :( 02-03-2008 Dari : syamsoe | toyota_gue@yahoo.com .. moga2 tawuran
mahasiswa ini yang
terakhir kalinya...
peace/ kasian pak
rektoratnya 02-03-2008 Dari : Kamaruddin Azis | daeng.nuntung@gmail.com Kuncinya pastikan
bahwa KEBIJAKAN
rektorat berpihak ke
tujuan pendidikan
tinggi yg
berkualitas. Seperti
teman-teman sebut di
bawah, selain
tindakan tegas
rektorat atas pelaku
tawuran(skali kali
kita sebut saja
siba'ji)juga
diperlukan tindakan
tegas untuk sedari
awal: 1.
Menghilangkan
kebiasaan "ospek"
yang berbasis
fakultas dengan
sebuah ospek
berbasis almamater
Unhas saja. semua
mahasiswa baru di
gabung dalam satu
interaksi dialogis,
reflektif dan
didorong untuk
menemukenali
lingkungan sosial
kampusnya sebelum
masuk ke pendidikan
teknis di
jurusannya. 2.
Rektorat masti
mengontrol semua
aktivitas dosennya
dengan melarang
keras terlibat
proyek jangka
panjang di luar
kampus. Ini penting
agar dosen bisa
fokus menjadi
pengajar dan
pendidik yang
efektif. Ada banyak
keluhan bahwa
mahasiswa kerap
tidak dikuliahi
tanpa pemberitahuan
yg jelas. 3. Dosen
mestinya menjadi
pemantau atau
supervisor sejak
AWAL bagi
mahasiswanya
sehingga komunikasi
dua arah bisa
berjalan (ini
berkonsekuensi pada
atensi dan waktu yg
lebih banyak utk
mahasiswa). Ini
penting demi menjaga
interaksi yg
mutualistik selain
fungsi kontrol jika
ada mahasiswa yg
disorientasi alias
stress kasiang. 4.
Dosen atau pendidik
mahasiswa harus
punya kapasitas yang
memadai demi
memberikan servis
bagi mahasiswa.
Dosen tidak bisa
merasa lebih
superior atau lebih
jago. Ada berapa
dosen yg benar benar
dosen? Banyak dosen
yg merasa hebat
padahal proses untuk
menjadi dosen dia
mesti lewat jalur
tak lazim alias
"ditunjuk sahaja".
Konsekuensinya
Rektorat mesti
memberi reward atau
penghargaan bagi
dosen teladan dan
sanksi bagi dosen
banna'. Trus,
terakhir kesiang 5.
Kalau ada yg
terlibat perkelahian
antar individu,
bisakah ada
mekanisme atau
sistem yg cepat
tanggap? Jika ada yg
merasa dizalimi,
ditonjok, mahasiswa
melapor saja ke
senatnya atau
himpunannya kemudian
melaporkannya ke
Rektorat atau
otoritas terkait
untuk sebuah solusi
bersama atau
punishment kalau
perlu bukankah ini
lebih cerdas? lebih
mahasiswa gitu
loh?...Tidak ada yg
tidak mungkin jika
ada spirit yg sama
demi membangun
Unhas, antekamma?.
02-03-2008 Dari : pemerhati | - pecat mahasiswayang
tawuran
buat wadah yang bisa
menyatukan mahasiswa
ini.
bangun visi
keunhasan..teknik
pindahkan saja ke
gowa 02-03-2008 Dari : sambanrang tong | Pak Masdar, kayaknya
bukan satu kata deh
yang ini
:"...pengecutki
semua yang
tawuran.". Kalau
"pengecut", itu baru
satu kata..... 01-03-2008 Dari : masdar | masdar_026@yahoo.co.id hanya satu kata
pengecutki semua
yang tawuran. hanya
berani sekali
berkelahi di dalam
kampus. coba bede di
luarko, berkelahi
dengan sikap
intelektualta
semua.saya justru
merasa gamang dengan
berita yang ada di
TV tentang 2 orang
penduduk makassar di
jl.daeng tata yang
meninggal karena
KELAPARAN.....mana
sikap kritismu cess
kepada pemerintah
kota yang hanya
sibuk berebut
kekuasaan.
pengecooooooouuuuuuu
tttt !!!! 01-03-2008 Dari : gagal masuk unhas | beroanging@gmail.com ...kutipan: Lain
halnya di
Universitas Muslim
Indonesi (UMI).
Kasus tawuran yang
terjadi lebih
berdipat
primordialisme.
Perang antar
organisasi daerah
kerap terjadi...
saya kira semua
akarnya adalah
primordialism;
arogansi jurusan
teknik dan non
teknik, organisasi,
kedaerahan, agama
dan sebagainya
adalah primordialism
yg dikemas dengan
sikap kebanggaan yg
berlebihan...jadi
bukan cuman di UMI
saja, semua kampus
yang bertradisi
tawuran adalah
pengusung
primordialism.
Mending status
mahasiswa duicabut
saja...sebut saja
mereka sebagai
'murid' saja, sama
dgn SD... 01-03-2008 Dari : rudy | Maaf Pak Ismawan,
saya agak sedikit
terganggu dengan
pernyataan bahwa
senjata polisi
adalah AK-47. Setahu
saya baik TNI maupun
Polisi Indonesia
tidak menggunakan
senjata AK-47 buatan
Rusia. Yang ada
adalah SS-1 atau
M-16. 01-03-2008 Dari : hendragunawan | selain itu,
sebaiknya masyarakat
kampus jgn mengalami
delusi dgn jargon
'otonomi kampus'
sehingga merasa
alergi mengundang
masuk polisi.
penyidikan kriminal
oleh polisi wajib
dilakukan terlebih
lagi bila tawuran
itu sampai merusak
fasilitas negara dan
menghalangi
terjadinya kegiatan
belajar-mengajar. 01-03-2008 Dari : hendragunawan | mulai tahun depan,
sebaiknya selain
materi umptn, unhas
juga mengadakan
psikotes, untuk
melacak kemangkinan
terjaringnya calon
maba yg sebenarnya
menderita penyakit
gangguan jiwa,
seperti sikap
anti-sosial dan
kecenderungan
vandalisme, masuk
menjadi mahasiswa
unhas dan
menyia-nyiakan uang
rakyat dgn
membakar/merusak
gedung kuliah mereka
sendiri. cilakanya,
pengurus senat
pernah menunjukkan
simpton ini,
misalnya dgn merusak
kunci ruang kelas
sehingga bisa
'memobilisasi paksa'
mahasiswa untuk ikut
aksi mereka. Pak
rektor, saran ini
tolong diperhatikan
serius, kalau tidak,
para orang tua akan
justru merasa
was-was bila anaknya
diterima masuk
unhas. 01-03-2008 Dari : kapitipiti | kapitipitie@yahoo.co.jp Tindak tegas pelaku
tawuran yang
mamalukan serta
merugikan !!! 01-03-2008 Dari : rusle | muhruslee@gmail.com Mungkin ada baiknya,
jenjang S-1 di UNHAS
di tinjau ulang.
Jenjang S-1
diarahkan ke
universitas di kota
lain saja, atau
disebar di setiap
kota/kabupaten. Baru
untuk S2 dan S3 nya
di pusatkan di
Makassar. Selain
untuk meminimalisir
perseteruan abadi
ini, juga utk
memberdayakan
potensi daerah.
Sulbar juga sudah
saatnya memikirkan
utk membangun
universitas di
Majene. Tapi diluar
semua usulan, yang
terpenting adalah
bagaiman membuat
kultur tawuran di
UNHAS segera
dipunahkan dari otak
para intelek muda
ber'bakat' kita itu. 29-02-2008 Dari : chapunk | mungkin ada baiknya
bila berita ini ikut
memuat pendapat dari
pelaku khususnya
dari dua kubu. juga
perlu intelektual
Unhas mengkaji
akar-akar persoalan 29-02-2008 Dari : To Bellalao | matt_oge@yahoo.com Seandainya sejak
tahun 1666 sudah ada
universitas dan
sekolah di wilayah
makassar, munkin
kita tdk akan
mengenal perjanjian
Bongaya antara raja
gowa dan VOC.
Soalnya raja gowa
waktu itu mempunyai
angkatan perang yang
mumpuni dari
kampus-kampus di
makassar. BERANI
MATI PULA!!!!! Teman
aja di gasak.....
Cara berperangnya
pun masih jaman
kerajaan gowa....
Pake batu!!!!
Padahal sekarang kan
jamannya roket. Saya
juga sering
mendengar
teman-teman
mahasiswa makassar
yang begitu bangga
kalau di LABnya
berhasil bikin
"busur" dan
"papporo'". Orang
lain sudah bikin
rudal, nah dia masih
aja bikin senjata
tradisional kaya
gitu..... 29-02-2008 Dari : aco | barombong16@yahoo.com unhas gagal
membangun mentalitas
yang seharusnya
dimiliki oleh
mahasiswa..tidak ada
yg namanya
superioritas/fanatis
me fakultas karena
semua jurusan
memperjuangkan
kemaslahatan ummat
dan alam. Unhas
perlu segera memulai
masa
pencerahan..'zero-to
lerance'thdp sesuatu
yang anarkis |
|
|
|
|
| ::
CITIZEN REPORTER |
 | (Kamis, 12-07-2007) |  | (Minggu, 29-04-2007) |  | (Selasa, 31-10-2006) |  | (Rabu, 11-10-2006) |  | (Rabu, 16-08-2006) | |
|
Untitled Document
| ::
DUNIA SEGIEMPAT KAREBOSI |
|
Untitled Document
| ::
KONTAK TIM PANYINGKUL! |
Email Redaksi :
redaksi@panyingkul.com
Tim:
yus@panyingkul.com
+62 813 226 80844
Moch. Hasymi
+62 811 955 954
|
|
|