Untitled Document
 


Untitled Document
.KITAKITA
:: Jika Anda di Panyingkul ::
 
 KABAR KITA
 
 BERANDAKITA
Kegilaan, Dari Cinta Mati di Pulau Rajuni Hingga Riwayat Kadang
:: Ivan Firdaus ::
Baba Guru, Mengenang Film Rhoma Irama di Klenteng Galesong
:: Kamaruddin Azis ::
Mengagumi Tenun Troso, Mengenang Tenun Sengkang
:: Suryadin Laoddang ::
Perempuan Besi di Gunung Perak (2-selesai)
:: M. Aan Mansyur ::
Perempuan Besi di Gunung Perak (1)
:: M. Aan Mansyur ::
 
 RISETKITA
Rasa Takut : Yang Dicitrakan, Yang Dipelihara
:: Aria W. Yudhistira ::
Risetkita: Pramoedya versus Sejarah Resmi
:: Nurhady Sirimorok ::
Hikayat Rumpon Nelayan Mandar
:: Muhammad Ridwan Alimuddin ::
Di Makassar Pernah Ada “Negeri Wajo”
:: Nurhady Sirimorok ::
Surat Itu Ditulis Upas kepada September
:: Nurhady Sirimorok ::
 
 BUKUKITA
 
 KATAKOTAKITA
Kenapa si Gondrong yang Maju?
:: Ivan Firdaus dan Mustamin al-Mandary ::
Karena ‘Rewa’ Badan Binasa
:: Sudirman Nasir ::
Yang Okkot, yang Salah Sambung
:: Nursamsu danTusiana Noor Alfisyahr ::
Kandala`ka`, Kusta Bila Dusta
:: Panyingkul ::
Ayo, Si(ng)kat Terussss..!
:: Panyingkul! ::

 
 TAHUKAHKITA
 

.
 ::
Kamis, 14-05-2008 
Risetkita: Pramoedya versus Sejarah Resmi
:: Nurhady Sirimorok ::

Sejarah selalu ditulis oleh para penguasa, oleh pihak pemenang. Ini juga terjadi di Indonesia. Di masa Orde Lama, berkembang historiografi Indonesia sentris dimana mereka menolak sumber sejarah dari luar, terkhusus yang berasal dari Belanda. Sejarah mesti ditulis oleh orang Indonesia menurut perspektif orang Indonesia. Ulasan citizen reporter Nurhady Sirimorok yang mengambil Pramoedya Ananta Toer sebagai titik-tolak penulisan versi sejarah berbeda.(p!)


Pembalikan penulisan sejarah yang ekstrim ini mengharuskan Muhammad Yamin mengais-ngais mitos untuk mencari entitas kekuasaan yang secara geografis mirip dengan ’Indonesia’. Dia kemudian menemukan mitos tentang kemaharajaan Sriwijaya dan Majapahit yang bisa dijadikan representasi Indonesia di masa pra-kolonial.

Karena ditulis oleh penguasa, maka mitos ini bisa menjadi kebenaran satu-satunya, bahwa dulu suatu wilayah yang kini bernama Indonesia, pernah ada sebelum bangsa asing mengangkangi wilayah ini. Tentu pernyataan ini lebih merupakan pernyataan ideologis ultra nasionalistik ketimbang simpulan ilmiah. Sebab ’Indonesia’ secara etimologis adalah nama pemberian seorang ilmuan berkebangsaan Jerman, dan seluruh tapal batasnya adalah bekas tanah jajahan Belanda: Hindia Belanda. Jadi secara geografis Indonesia tidak pernah ada sebelum masa kolonial. Dia adalah produk pasca-kolonial, sesuatu yang disangkal oleh para sejarawan Orde Lama — dan banyak sejarawan Orde Baru.

Di masa Orde Baru, militerisasi penulisan sejarah terjadi secara sistematis, mulai dari produksi hingga diseminasinya secara luas ke seluruh media pendidikan Indonesia, bahkan merasuk hingga ke film-film, yang dikenal dengan nama ’film perjuangan’. Dalam repesentasi masa lalu ala Orde Baru,Indonesia digambarkan sebagai bayi yang diselamatkan oleh tentara rakyat yang kemudian berkembang menjadi tentara nasional Indonesia. Peran para cendikiawan, pedagang, agamawan, petani dan buruh, dibungkam atau dijajarkan di barisan belakang pasukan militer. Pendeknya, militer adalah penyelamat bangsa, baik dalam pertempuran maupun dalam perundingan. Karena itu para suster harus merawat dan menghibur mereka, para petani dan nelayan harus berkorban untuk memberi makan para mereka, para intelektual mesti dihujat karena tidak berani berada di garis depan pertempuran. Seluruh bangsa harus menghamba pada penyelemat bangsa ini. Begitulah garis besar narasi historiografi ala Orde Baru.

Nah, warisan model sejarah seperti ini —Indonesia sentris dan militeristis— membuat distorsi besar-besaran pada informasi sejarah dan memengaruhi pemikiran kita ketika, katakanlah, memilih bacaan untuk kita konsumsi sebagai pengayaan intelektual kita. Kedua versi historiografi ini masih menyimpan efek yang jauh lebih parah dari sekadar distorsi informasi: mereka berwatak menunggalkan kebenaran. Kita selalu dipaksa untuk mencari kebenaran tunggal dalam sebuah narasi sejarah, dan biasanya kebenaran itu ditentukan oleh sang penguasa. Namun karena kita telah dicekoki kebenaran tunggal ini sejak kecil, kita sering tidak sadar akan dampaknya.

Selanjutnya, bagi sejarah resmi Orde Lama, sumber sejarah dari Belanda seharusnya tidak diterima, sejarah di masa ini cenderung menarik garis tegas antara kawan dan musuh di tapal batas negara. Sejarah jenis ini buta akan peran para bangsawan dalam membantu langgengnya kolonialisme di Hindia Belanda, dan menutup mata terhadap peran orang-orang Belanda radikal seperti Sneevliet dan Multatuli dalam mengangkat penderitaan dan memperjuangkan nasib rakyat terjajah. Historigrafi ini meminta kita secara totaliter membenci seluruh rakyat Belanda dan Jepang, dan mencintai seluruh orang Indonesia.

Sedangkan sejarah versi Orde Baru, mengkombinasikan nasionalisme sentris yang menarik garis kebangsaan sebagai penentu kebenaran: luar-salah-dalam-benar, dengan watak militerisme yang bertangan besi. Historiografi Orde Baru menganggap sumber selain, atau tidak senafas dengan, yang dipelajari di sekolah adalah sumber bertendensi makar. Sejarah alternatif terlalu sering dianggap musuh yang harus ditumpas dengan kekuatan militer, dan bukan sebagai bahan debat ilmiah yang bisa memperkaya pengetahuan kita tentang masa lalu bangsa ini.

Kedua tradisi historiografi ini cederung menggunakan tangan kekuasaan sebagai penentu arah sejarah, menentukan bagaimana sejarah dituturkan, dan tema apa yang layak dan tidak layak untuk dimasukkan dalam tulisan sejarah formal. Oleh karena itu mereka menulis sejarah dari atas, sehingga tak heran bila kisah-kisah sejarah yang kita baca di sekolah adalah sejarah tentang penguasa, atau bagaimana penguasa itu merebut kekuasaan dari penguasa sebelumnya. Sejarah tokoh-tokoh yang membungkam aktor selain ’tokoh-tokoh sejarah’ resmi yang berperan juga berperan penting. Historiografi jenis ini juga sering menjadi sejarah tanggal-tanggal beku yang kehilangan proses maha kompleks yang terjadi di masyarakat bawah (karena dia hanya himpunan ’hasil-hasil’ yang terjadi pada ’momen-momen’ bersejarah). Akhirnya yang terbentuk adalah, sejarah tentang ’perjuangan (fisik)’ dalam proses menemukan kembali Indonesia ’yang hilang’ selama masa kolonial. Sejarah jenis ini lupa bahwa semua orang adalah tokoh sejarah, semua tempat adalah tempat bersejarah, semua peristiwa adalah peristiwa bersejarah dan seterusnya.

Semua ini memengaruhi cara berpikir kita sebagai produk sekolahan Orde Baru.

Sejarah Alternatif Pramoedya
Pramoedya jelas berdiri di seberang kedua kecenderungan penulisan sejarah ini. Sebagai sastrawan dan sejarawan dia sangat tekun mengumpulkan dokumen dari berbagai macam sumber, kisah-kisah tutur dan pengalaman pribadinya untuk dituliskan ke dalam karya sastra maupun kronik sejarahnya. Bertahun-tahun dia membuat kliping koran dan mengumpulkan dokumen dari masa sebelum dia mengenal arsip sejarah. Pun, dia mencerap dongeng-dongeng dari masa kecilnya, dan mencatat dengan detil pengalaman hidupnya baik pada masa perang maupun sesudahnya. Dari bahan-bahan yang luar biasa luas dan mendalam inilah dia menyusun banyak novel, cerpen, esai, dan kronik sejarahnya.

Baiklah mari kita lihat apa yang dia lakukan terhadap sejarah Indonesia secara kronologis.

Tentang masa Jawa kuno, dia menulis ulang mitos tentang kisah Ken Arok dan Ken Dedes dalam Arok Dedes serta tentang jatuhnya Majapahit dalam roman panjang Arus Balik, yang berbeda dengan pelajaran sejarah resmi kita. Dalam karya-karyanya ini dia membuat narasi baru dengan menggali banyak sumber sebelum melakukan tafsir ulang yang rasional terhadap kitab-kitab dan cerita-cerita lisan Jawa Kuno itu yang berseliput mitos itu.

Tentang masa Kolonial—kadang dia menyebutnya sebagai masa pra-Indonesia—dia menulis bahwa Budi Utomo tidak lebih hanya perkumpulan para elit Jawa berpendidikan Belanda, yang kemudian mengalami ’nasionalisasi’ oleh sejarah resmi Indonesia, bahwa mereka adalah perwakilan dari seluruh rakyat Indonesia. Dia juga menggambarkan pertentangan antara feodalisme Jawa akhir abad ke 19 dengan memperhadapkannya dengan semangat Revolusi Perancis—egalité, liberté, fraternité (ini terutama muncul dalam Tetralogi Burunya).

Selain itu, dia juga memperkenalkan sastra sosialis karya para aktor pergerakan Sarekat Islam yang menurutnya lebih radikal dibandingkan Budi Utomo dalam menantang kekuasaan Belanda. Antara lain karya-karya ini ditulis oleh Semaoen dan Mas Marco Kartodikromo. Dia juga mengangkat banyak sastra karya keturunan Tionghoa dan Eropa, yang dia himpun dalam Tempo Doeloe, Antologi Sastra Pra-Indonesia. Pada rentang masa yang cukup panjang, dari masa pemerintahan kolonial hingga Orde Baru, ketika antologi ini pertamakali diterbitkan pada 1982, kedua jenis sastra alternatif ini telah ditenggelamkan oleh rezim Balai Pustaka bentukan pemerintah Belanda dengan menyebutnya sebagai ’sastra rendah’. Dengan kata lain, dalam kasus ini, dia sedang membentuk alternatif terhadap sejarah perkembangan sastra Indonesia.

Dalam novel-novelnya tentang masa ’perang kemerdekaan’ dia tidak bercerita tentang kisah para pemimpin perang yang berhadapan dengan pasukan Belanda, yang lalu secara heroik gugur atau berhasil merebut benteng Belanda. Sebaliknya, dia lebih banyak berkisah tentang nasib laskar kelas bawah, siasat biduanita kampung, petani dan rakyat jelata pada umumnya, yang menanggung beban berat akibat perang itu—misalnya dalam novel Larasati dan Di Tepi Kali Bekasi. Dalam roman Keluarga Gerilya dia tidak bercerita secara simplistik tentang mata-mata Belanda yang mementingkan diri sendiri yang akhirnya berhasil di berangus. Dalam prosa ini dia menggambarkan secara kompleks bagaimana satu keluarga mengalami perpecahan akibat keyakinan kuat akan revolusi, yang sama benarnya menurut logika umum, antara anak dan ayah.

Tentang masa pemerintahan Orde Lama, antara lain dia menangkat tema warga peranakan dalam Hoakiao di Indonesia yang menyebabkan dia dijebloskan ke penjara rezim Orde Lama. Buku ini menantang tesis yang menjadi dasar dikeluarkannya PP no. 10/1959 yang menyebabkan banyak warga keturunan Tionghoa terusir dari rumah dan penghidupannya, terutama di daerah pedesaan. Dalam buku ini, dia menulis ulang sejarah alternatif tentang gelombang kedatangan Hoakiao (Tionghoa Perantauan) ke Nusantara, yang tentu dianggap berbahaya sebab menyebutkan bahwa Hoakiao juga banyak berperan dalam perkembangan peradaban dan perjuangan kemerdekaan Indonesia moderen.

Menulis ulang sejarah Indonesia
Masih banyak lagi contoh penulisan sejarah alternatif Pramoedya yang bisa kita urai di sini, namun untuk kesempatan ini cukuplah dengan contoh-contoh di atas. Lantas apa yang bisa kita tarik dari alternatif Pram terhadap sejarah Indonesia? Pertama, dia selalu menampilkan kaum marginal yang tidak tertampung, atau dibungkam, dalam penulisan sejarah resmi Indonesia. Dia bercerita tentang petani, lasykar rendahan, biduwanita, orang desa, Hoakiao dan yang cukup penting, banyak tokoh perempuan. Kecenderungan ini mirip dengan yang disarankan oleh sub-altern studies, sebuah pengkajian sistematis dan informatif mengenai kelas, ras, kasta, umur dan gender yang memungkinkan masyarakat marginal untuk bersuara.

Kedua, dia menunjukkan sejarah sebagai proses, bukan hanya hasil. Dia mengurai proses menjadinya bangsa Indonesia dengan banyak aktor yang masing-masing punya kontribusi penting. Dia mengulas tentang apa yang terjadi sebelum adanya sistem pemerintahan yang disebut ‘kerajaan’ dan secara detil menjelaskan pertelingkahan apa terjadi di dalam kerajaan itu sendiri. Dia mengangkat proses struktural yang menyebabkan munculnya pergerakan kemerdekaan, yang sebagai konsekuensinya mengangkat berbagai aktor alternatif seperti redaktur koran, pelajar Indonesia, kalangan keturunan (Eropa dan Tionghoa), yang kesemuanya jarang disentuh dalam sejarah nasional resmi.

Ketiga, dia menunjukkan secara meyakinkan momen-momen sejarah (alternatif) yang penting dalam proses menjadi Indonesia, yang berlainan dengan momen yang dianggap bersejarah oleh sejarah resmi, semisal pembentukan Budi Utomo dan Sumpah Pemuda. Dalam hal ini, misalnya, dia menyebutkan terbentuknya koran Medan Prijai di Bandung pada 1907, sebagai momen penting yang memantik semangat nasionalisme di Indonesia. Sebuah tesis yang kelak diamini oleh Benedict Anderson , dimana pers diangap sebagai penyebar efektif semangat kebangsaan (nation) pada masa awal terbentuknya semangat nasionalisme. Bila mengikuti tafsir ini maka hari Kebangkitan Nasional, bisa jadi tidak tunggal, bukan Cuma tanggal 20 Mei. Selanjutnya, Pramoedya juga menunjuk terbentuknya Sarekat Islam sebagai gerakan yang lebih penting ketimbang Budi Utomo. Dalam hal ini, dia menuturkan ulang masa lalu pembentukan bangsa Indonesia dengan mengangkat penggalan sejarah Indonesia yang dianggap tidak penting oleh versi resmi.

Keempat, dia memberikan pemaknaan lain (baru) terhadap tokoh-tokoh sejarah seperti Ken Arok, Ken dedes, dan yang lebih akrab bagi kita, Kartini . Sebagai contoh, kisah tentang Kartini dalam buku Panggil Aku Kartini Saja, menantang arus narasi resmi sejarah Indonesia. “Dalam buku ini, Kartini tidak ditampilkan sebagai putri priyayi, melainkan sebagai gadis yang mengidentifikasikan diri sebagai rakyat biasa dan juga memperjuangkan kepentingan rakyat.” Jadi dia tidak hanya disebut sebagai pejuang emansipasi perempuan, tetapi juga pejuang emansipasi kalangan priyayi yang melakukan ‘bunuh diri kelas’, mengambil jalur lain yakni berjuang untuk rakyat kecil.

Salah satu pesan penting yang tersirat dalam kerja panjang Pramoedya mengatakan bahwa kita, rakyat biasa, seharusnya menulis versi kita sendiri. Kita mesti menentukan gerak arah sejarah kita dengan membangun basis informasi tentang masa lalu kita sendiri. Ini akan memungkinkan kita membangun pemahaman sendiri terhadap masa lalu kita, dan bukan hanya mengeja, sambil terbata-bata, tafsir ‘dari atas’ tentang masa silam kita.

Epilog: Pram dibayar apa oleh pemerintah Indonesia?
Demikianlah, Pramoedya telah melakukan kerja panjang dan ketat untuk menuliskan ulang sejarah nasional Indonesia. Sebuah upaya yang mendapat apresiasi banyak kalangan di dalam dan luar negeri. Berbagai penghargaan telah telah disematkan ke dadanya dan karya-karyanya telah diterjemahkan ke puluhan bahasa asing. Lantas oleh pemerintah Indonesia dia dibayar apa?
Karena sejarah, baik dalam bentuk fiksi maupun non-fiksi, adalah salah satu media terpenting untuk menancapkan kuku ideologi penguasa kepada rakyatnya, maka sangat berbahaya bila ada ancaman serius terhadap versi resminya. Atas alasan inilah karyanya dilarang oleh pemerintahan Soeharto hingga rezim itu runtuh. Pram juga pernah menghuni bui di bawah pemerintahan Kolonial Belanda, Orde Lama, dan Orde Baru. Bila digabung, dia telah mendekam di penjara selama kurang lebih 18 tahun. Itulah harga menulis sejarah alternatif di Indonesia, setidaknya hingga masa Orde Baru.(p!)


Referensi:
- Asvi Warman Adam (2005) History Nationalism, and Power, dalam Vedi Hadiz and Daniel Dhakidae, Social Science and Power in Indonesia, Equinox Publ., Jakarta and ISEAS, Singapore. Hal. 251.
- Asvi Warman Adam dan Bambang Purwanto (2005) Menggugat Historiografi Indonesia, Penerbit Ombak, Yogyakarta. Asvi Warman Adam (2007) Seabad Kontroversi Sejarah, Penerbit Ombak, Yogyakarta.
- Katherine E. McGregor, (2007) History in Uniform: Military Ideology and the Construction of Indonesia’s Past, KITLV Press, Leiden
- Eka Kurniawan (2006) Pramoedya Ananta Toer dan Sastra Realisme Sosialis, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.
- Nyoman Kutha Ratna (2008) Postkolonialisme Indonesia, Relevansi Sastra, Pustaka Pelajar, Yogyakarta.
- Benedict Anderson (2006) Imagined Communities, Reflections on the Origin and Spread of Nationalism, Verso, New York (Revised Edition).
- Razif Bahari (2007) Pramoedya Postcolonially, (Re-)Viewing History, Gender and Identity in the Buru Tetralogy, Pustaka Larasan, Denpasar.
- A.S. Laksana ed. (1997) Polemik Hadiah Magsaysay, ISAI, Jakarta.

*Tulisan ini merupakan makalah yang disampaikan pada diskusi peringatan ”Dua Tahun Pramoedya Ananta Toer dalam Memoriam,” di Fakultas Ilmu Budaya Unhas, 28 April 2008.

*Citizen reporter Nurhady Sirimorok dapat dihubungi melalui email nurhadys@gmail.com

| Beri Komentar| Jumlah Komentar (29) |

Komentar :

30-09-2009
Dari : Syukri-b | syukri_b@yahoo.com
Pengertian 'bangsa' dalam sejarah adalah bila suatu wilayah memiliki bukti peninggalan dalam bentuk tulisan.Orang Bugis-Makassar telah memiliki tulisan sejak jaman nenek moyang.demikian pula dengan teknik pertanian dan adanya kapal finishi merupakan bukti Sejarah bugis-makassar yang pernah berjaya pada masa lalu.Setelah 60 tahun negeri ini di tinggal oleh Belanda namun juga tidak maju-maju,maka sudah saatnya orang bugis-makassar terutama generasi mudanya menengok kembali masa lalu untuk di jadikan guru.kenapa orang bugis-makassar yang konon punya sejarah,malah tenggelam pada masa kini,justru suku-suku lain yang lebih populer.ada filosopi bugis mengatakan'"alai bicarae,nau walai pangkaurengnge'tetap i boleh saja kita berdo'a kepada Tuhan agar kita bisa berbuat dan juga beropini.

22-07-2009
Dari : agam | agam.mks@gmail.com
meski lambat baca tulisan ini, saya tertarik dgn komentar pak halim hd ttg penghargaan mhs. pd suatu diskusi pram di amsterdam tahun 1999, seorang peserta berkisah; dua org polisi ameriks serikat membaca buku-buku pram, dan mereka blg bhw pram lebih humanis daripada orang amerika sendiri.

09-05-2009
Dari : dIUghFRsCyG | eeawoc@rcpzmq.com
2SOOkc nzfrplrikmrz, [url=http://sulhfnfn dzfv.com/]sulhfnfndz fv[/url], [link=http://bgxiksf mfczv.com/]bgxiksfmf czv[/link], http://zhuzylmucvod. com/

01-04-2009
Dari : Laily | nurrlaily@yahoo.com
layak baca juga : Tetralogi Buru-nya Pram...

28-03-2009
Dari : tulus jawa masih kere | kudarabaru@gmail.com
ya ya ya ....... tambah jago! salutt! tambah momongan belum? salam buat semua. eh, ya gimana kabarnya ka' ary? kangen, pengen lagi bikin beliau marah-marah, trus baku bombe'

17-03-2009
Dari : wa2n | lakoeng@yahoo.co.id
tulisannya menarik dan mencerahkan... salut....

11-09-2008
Dari : halim hd. | halimhade@yahoo.com
untuk henny (henny.unique@gmail. com): buku taufik ismail, "prahara budaya' sekarang memang agak sulit dicari. mungkin diperpustakaan unhas. tapi, jika kita membaca byuku itu, tentunya polemik antara pram dkk dengan kalangan "manikebu" dilihat dari sisi taufik ismail dkk. paling baik jika anda melacak melalui google maka anda akan mendapatkan informasi yang seimbang dari kajian yang kritis terhadap pram maupun yang mendukungnya. pada google hampir semua informasi tentang pram bisa anda dapatkan.

05-09-2008
Dari : henny | henny.unique@gmail.com
terima kasih buat kak halim, sudah memberitahukan judul buku yang ditulis oleh Taufik Ismail. tahu di mana bisa mendapatkannya? sepertinya di biblioholic buku itu tidak ada. saya penasaran ingin membaca dan mengetahui lebih banyak lagi tentang masa lalu Pram dari sudut pandang seorang Taufik Ismai, bagaimana sebenarnya polemik bergulir pada waktu itu...

03-09-2008
Dari : balex | ucha@gorkygmail
ada beberapa hal penting serta perlu untuk diketahui setelah membaca karya Om Pram kita kalangan muda harus memberikan kemandirian dalam bangsa baik dari sosial maupun ekonomi bicara tentang kepemilikan/kecintaa n akan bangsa kita kalangan intelektual dapat membangun itu jayalah realisme sosialis

01-09-2008
Dari : halim hd. | halimhade@yahoo.com
untuk dandy: buku taufik ismail judulnya 'prahara budaya', yang isinya sepenuhnya mengecam lekra dan pram cs. ada yang menarik cerita dari danial dhakidae ketika pram dicalonkan dan bersedia menerima magsaysay award: ada yang sengaja datang dari filipina (namanyaa saya lupa) dan meminta kepada pram untuk menolak hadiah itu. danial bahkan menggambarkan, hampir-hampir perempuan itu menangis dihadapan pram untuk permohonannya itu. namun, pram bergeming. menurut pengagum pram yang filipina itu, bahwa magsaysay award akan menjadi perangkap bagi pram. saya kurang tahu dan lupa argumentasinya seperti apa. tapi, dari beberapa teman filipina saya jugaa dengar bahwa magsaysay merupakan proyek amerika. tapi, pram juga menerima mfs (michigan fellow society) yang dianggap bergengsi. bicara tentang pram seperti kita memahami batu granit yang kokoh yang memperjuangkan hak-hak kemnusiaan yang selalu dijunjung dan ditulisnya. secra pribadi, saya merasa beruntung pernah dan akan selalu membaca buku pram, karena dari bukunya kita dapat membaca nuansa manusia dengan problematikanya, tidak hitam putih. saya menjadi kian sadar betapa tidak sepenuhnya belanda hitam, dan bahwa feodalisme adalah akar sejarah yang paling merusak di dalam kehidupan kebudayaan dan masyarakat di nusantara. disitulah pram mempertaruhkan dirinya: membongkar feodalisme dan mengupas tuntas kolonialisme, dan menjunjung humanisme.

26-08-2008
Dari : rena andriana | de_kensi@yahoo.co.id
saya sangat tertarik sekali ketika membacanya karena saya selaku mahasiswa dari bandung yang ambil jurusan sejarah tentunya saya bangga karena masih ada sejarawan yang bisa memperjelas mengenai bagaimana model penulisan sejarah yang benar itu. kadang-kadang saya juga masih bingung model penulisan sejarah yang benar dan akurat itu kaya gmn sie?

22-08-2008
Dari : uq | uqhymks@gmail.com
thanks bung nurhady, saya termasuk penasaran dengan sejarah kita baik Indonesia dan terutama sejarah daerah, bugis makassar (sulawesi). Pimpinan kantor saya mengatakan apa bedanya yogya dan solo yang sampai sekarang masih mempertahankan warisan sejarahnya(kerajaann ya, keratonya, upacaranya)dengan bugis makassar yang sudah hilang sejarahnya (benteng somba opu, dll)? Sejarah resmi Indonesia dikatakan bahwa Belanda menjajah Indonesia selama 350 tahun, apakah bagi semua daerah Indonesia benar dikuasai oleh Belanda selama 350 tahun? Tidak adanya tulisan tentang sejarah lokal menyebabkan kita cenderung menerima tulisan sejarah itu sebagai benar adanya. padahal seperti di sebutkan dalam tulisan diatas, ada peran bagi bangsawan (di jawa) melanggengkan kekuasaan Belanda) bandingkan dengan Arung Palakka yang meskipun berkongsi dengan Belanda dalam perang tapi daerah Bugis tidak benar-benar dikuasai oleh Belanda. sejak 1667 ketika gowa menyerah hingga 1905 Belanda tidak berkuasa sama sekali di tanah sulawesi. berarti Belanda menjajah Sulawesi hanya selama 40 tahun (1945 - 1905 = 40) Keraton Jogya dan Solo bertahan hingga sekarang sementara kesultanan bone, gowa, tallo, luwu sudah tidak ada lagi. Raja Bone terkhir Andi Mappanyukki serta raja Luwu Terakhir Andi Jemma yang mendengar telah diproklamasikannya negara Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945, serta merta mengakhiri masa kerajaan Bone dan Luwu dan memilih menggabungkan kerajaannya dengan negara Indonesia yang tidak mengenal lagi struktur Kerajaan di dalam negara Indonesia. Kerajaan Bone dan Luwu berubah menjadi Kabupaten Bone dan Kabupaten Luwu. Jiwa nasionalisme mereka patut dihargai sebagai pengorbanan atas nama Indonesia. sejarah perlu ditulis ulang sejarah perlu di gali ulang sejarah perlu di reinterpretasi agar pelaku-pelaku sejarah yang sebenarnya dapat terungkap.

21-08-2008
Dari : Pembaca panyingkul |
tulisan yang bagus. ada banyak tema yang sepertinya belum pernah didiskusikan di makassar. misalnya kutipan "Tentang masa Kolonial—kadang dia menyebutnya sebagai masa pra-Indonesia—dia menulis bahwa Budi Utomo tidak lebih hanya perkumpulan para elit Jawa berpendidikan Belanda, yang kemudian mengalami ’nasionalisasi’ oleh sejarah resmi Indonesia," begitu juga dengan soal "teks"; "pers diangap sebagai penyebar efektif semangat kebangsaan (nation) pada masa awal terbentuknya semangat nasionalisme". ya, ya, ulasan yang bagus. kaya gagasan. kadang saya berpikir, seharusnya di makassar ini paling sedikit ada 10 orang kaya dandi. biar diskusinya tidak mentok di situ-situ.

11-08-2008
Dari : mr.olga | mr.olga@yahoo.com
ini tulisan bagus dan kesimpulanya juga bagus cuman saya mau komentar juga dengan sebuah cerita tapi tak berbentuk sejarah, suatu hari temanku andan anak sasra perancis unhas ketemu pram di rumahnya, dari hasil seleksi ribuan pertanyaan dari asistennya akhirnya ia dapat juga ketemu dengan nya sempat juga dia lihat perpustakaanya. apa kesimpulan dari wawancara dengannya: bahwa seoarang penulis harus berani dari segala hal, ya paling banter di penjara kali ya, dan engga ketemu istrinya di malam jumat. cuman bagi saya sekiranya ada yang meneruskan kerja kerja lebih bagus tuh, karena memang cerita sjarah dalam bentuk novel memang layak tuk dibaca. walupun katanya sedikit alternatif, menyimbang dan kiri. yang jelas kan dia pernah bicara juga sama andan karya harus di balas dengan karya. bukan putusan hakim tanpa ada alasan hukumnya. hehhe.wassalam

05-08-2008
Dari : henny | henny.unique@gmail.com
salam kenal buat kak azhari terima kasih penjelasannya Salam....

05-08-2008
Dari : Azhari | azhari.sastranegara@gmail.com
"Sejarah tergantung pada penulisnya". Memang demikian, oleh karena itu semakin banyak sumber sejarah, wawasan kita semakin luas dan bijak. Di Jepang, t4 saya tinggal sekarang, sejarah PD sangat berbeda dengan yang kita baca di PSPB dan juga berbeda dengan sejarah versi pemerintah Cina. Di buku2 sekolah Jepang, tidak diajarkan penyiksaan-penyiksaa n serdadu Jepang di seantero Asia selama PDII. Mengapa begitu, karena pemerintah Jepang berkepentingan untuk menghapus luka lama dari benak generasi mudanya, karena itu yang ditekankan adalah bahwa setelah kalah perang, Jepang adalah negara yang cinta damai dan tidak pernah terlibat perang langsung di mana pun. *** Kembali kepada sejarah alternatif, siapapun penulisnya kita senantiasa perlu mengingat bahwa itu dari perspektif si penulis. Yang benar yang mana? Dalam sejarah, yang benar hanya fakta, semua analisis tidak bisa hitam dan putih. Demikian pula dengan Pramoedya, tak semua yang beliau tulis harus diterima bahwa itulah kebenaran dan versi rezim adalah kesalahan. Kalau kita membaca penentangan hebat para penulis lain terhadap karya-karya Pram, maka kita akan lebih mengetahui siapa beliau dan bagaimana pandangan hidupnya yang tentu mewarnai analisa sejarahnya. ::: salam

02-08-2008
Dari : dandi |
henny, thanks tanggapannya. Sebenarnya dalam versi makalahnya saya membuat catatan kaki tentang polemik antara lekra dan manikebu, tapi tentu saja akan kepanjangan bila catatan kaki tulisan ini juga di muat di P!. Mengenai buku Taufik Ismail, saya tidak tahu, atau sudah lupa, buku yang mana, mungkin ada kawan lain yang bisa memberitahu? siapa tahu kalau judulnya sudah ketahuan bukunya bisa diperoleh di Biblioholic

02-08-2008
Dari : henny | henny.unique@gmail.com
ada yang mengganjal, kak... sewaktu menuntaskan membaca "polemik hadiah magsaysay". ada banyak pertanyaan yang muncul, apa sebenarnya yang terjadi antara Mochtar Lubis dan Pram?.kejahatan apa yang dilakukan Pram sewaktu berkuasa dulu di zaman demokrasi terpimpin?. saya rasa kejahatan apapun yang dilakukan Pram semuanya telah ditebus dengan bertahun-tahun di penjara tanpa proses peradilan. bukan begitu? kak, apa lagi namanya buku yang ditulis taufik ismail tentang Pram? tahu di mana mendapatkannya? saya penasaran mau baca.....

02-08-2008
Dari : henny |

31-07-2008
Dari : dandi |
maaf baru bisa menjawab pertanyaan kawan-kawan. UNTUK UPIK, ideologi ultra nasionalis: adalah sebuah model berpikir yang menganggap bangsa adalah harga mati, dan di dalamnya, anggapan bahwa semua yang datang dari luar itu adalah berbahaya serta patut dicurigai. ini menutup kemungkinan orang menerima apa yang dari luar batas negera itu ada benarnya juga, di samping memang juga ada yang salah, sebagai mana yang mucul dari dalam negeri. jadi semua yang datang dari luar dianggap berpotensi 'memecah belah' dan semua yang dari dalam tidak demikian. padahal, kekuasaan negara sendiri yang terpusat, sangat berpotensi memecah belah rakyat yang semakin tidak puas dengan ketimpangan pusat-daerah yang semakin melebar sekarang dalam segala hal. untuk REFORMASI: pram tidak pernah menulis sejarah secara spesifik tentang G 30 s/pki, dia menulis sejarah kedatangan orang tiong hoa, yang dianggap 'orang asing' padahal tempe, mie, dan berbagai makanan tradisional yang dianggap 'asli indonesia' barasal dari daratan tiongkok, itu baru satu hal, ada bayak hal yang diceritakan pram dalam buku Hoakio di Indonesia. kalau mau baca kontroversi tentang G 30 S, baca buku-bukunya Asvi Warman Adam, tulisan Hilmar farid, buku-buku lainnya juga ada di daftar referensi mereka. maaf jawabannya singkat-singkat. selamat mencari!

25-07-2008
Dari : reformasi | bolanjack@yahoo.com
...mau numpang nanya nih, ada tdk ya karya2 om Pram. ttg sejarah G 30 S PKI (yg pd masa ORLA sering ditayangkan di TVRI setiap mlm 30 September) atau ttg kebenaran SUPERSEMAR, dekrit Presiden 5 Juli.. mhn diterbitkan.. sy pribadi sangat antusias membacanya.. maksh..

18-07-2008
Dari : acim | daenglimpo_manu@yahoo.com
saya salah satu penggemar kawan kita yang terhormat Pramudya Ananta Toer, jadi kepada penulis thanks abis atas infonya, kalo masih ada ditampilkan lagi ya

13-07-2008
Dari : abdul Hadi | parasangang.beru@gmail.com
Sejarah memang milik penguasa. Sejarah telah versi penguasa menina bobo'kan wong cilik (yang dikuasai) sehingga lupa untuk sekedar berfikir sedikit serdas melihat jejak-jejak waktu yang sebenarnya memberi pertanda alias gejala-gejala penghianatan sang penguasa.

04-07-2008
Dari : opik | kurobuta_wombat@yahoo.com
Apa artinya ideologis ultra nasionalistik? kak dandi keren abis. yang pasti tulisan ta berikutnya ditunggu lagi.

20-06-2008
Dari : henny | henny.unique@gmail.com
terima kasih telah membuat ulasan tentang beliau, membaca karya-karya pramudya secara tidak langsung mengajarkan sejarah dengan cara yang tidak menggurui, semoga makin banyak yang menghargai karya-karya beliau...

16-05-2008
Dari : Irdan | salewangang@yahoo.com
masalah dan tantangan peradaban tetap sama dari tahun nol hingga saat ini adalah pembelokan sejarah, termasuk sejarah reformasi. Kita butuh pramudiya-pramudiya muda.

15-05-2008
Dari : Ismail Amin | ma_ipa@yahoo.com
Buku-buku Pram pernah dibakar, namun itu tidaklah seberapa, sebab kejahatan terbesar terhadap karya-karya Pram adalah tidak membacanya. Pemaparan yang bagus. Selamatnya...

15-05-2008
Dari : solma | solmayes@gmail.com
Telah lahir sejarawan muda dari Makassar yang berani tampil beda dengan sejarah sekolahan versi rezim. Selamat.

15-05-2008
Dari : kapitipiti | kapitipitie@yahoo.co.jp
Inilah sejarawan sejati yang tidak mengangkat kisah orang-orang besar tapi mengangkat kisah rakyat biasa dalam karya-karyanya.



 :: CITIZEN REPORTER
Makassar di Panyingkul!: Sebuah Persembahan
(Kamis, 12-07-2007)
Ayo Bergabung di Panyingkul!
(Minggu, 29-04-2007)
Catatan Sederhana Para Citizen Reporter
(Selasa, 31-10-2006)
Tentang Citizen Reporter dan Rubrik di Panyingkul!
(Rabu, 11-10-2006)
Riuh Rendah di Panyingkul!
(Rabu, 16-08-2006)

Untitled Document
 :: DUNIA SEGIEMPAT KAREBOSI






 :: PILKADA




 :: ALBUM PUASA 2008




Untitled Document
 :: KONTAK TIM PANYINGKUL!

Email Redaksi :

redaksi@panyingkul.com

Tim:
yus@panyingkul.com
+62 813 226 80844

Moch. Hasymi
+62 811 955 954


© Juni 2006 - Panyingkul.com All Rights Reserved
Desain Web : Nesia Andriana -- Supported by: Yuhardin