Untitled Document
 


Untitled Document
.KITAKITA
:: Jika Anda di Panyingkul ::
 
 KABAR KITA
 
 BERANDAKITA
Kegilaan, Dari Cinta Mati di Pulau Rajuni Hingga Riwayat Kadang
:: Ivan Firdaus ::
Baba Guru, Mengenang Film Rhoma Irama di Klenteng Galesong
:: Kamaruddin Azis ::
Mengagumi Tenun Troso, Mengenang Tenun Sengkang
:: Suryadin Laoddang ::
Perempuan Besi di Gunung Perak (2-selesai)
:: M. Aan Mansyur ::
Perempuan Besi di Gunung Perak (1)
:: M. Aan Mansyur ::
 
 RISETKITA
Rasa Takut : Yang Dicitrakan, Yang Dipelihara
:: Aria W. Yudhistira ::
Risetkita: Pramoedya versus Sejarah Resmi
:: Nurhady Sirimorok ::
Hikayat Rumpon Nelayan Mandar
:: Muhammad Ridwan Alimuddin ::
Di Makassar Pernah Ada “Negeri Wajo”
:: Nurhady Sirimorok ::
Surat Itu Ditulis Upas kepada September
:: Nurhady Sirimorok ::
 
 BUKUKITA
 
 KATAKOTAKITA
Kenapa si Gondrong yang Maju?
:: Ivan Firdaus dan Mustamin al-Mandary ::
Karena ‘Rewa’ Badan Binasa
:: Sudirman Nasir ::
Yang Okkot, yang Salah Sambung
:: Nursamsu danTusiana Noor Alfisyahr ::
Kandala`ka`, Kusta Bila Dusta
:: Panyingkul ::
Ayo, Si(ng)kat Terussss..!
:: Panyingkul! ::

 
 TAHUKAHKITA
 

.
 ::
Selasa, 03-06-2008 
Kabar Perantau
Gagak Jepang yang Bikin Repot
:: Nesia Andriana ::


Gagak mematuk sampah di Shinjuku, Tokyo.
Foto: Repro The New York Times.


Ini catatan ringan tentang masalah serius di Jepang: burung gagak yang mengganggu kehidupan masyarakat, yang disajikan citizen reporter Nesia Andriana. Jepang memang dibuat pusing oleh populasi gagak yang makin meningkat dan menimbulkan banyak masalah. (p!)
 

Japan Fights Crowds of Crows. Begitulah judul berita International Herald Tribun edisi bulan lalu, yang mengulas masalah burung gagak. Kawanan burung berbulu hitam ini memang semakin membuat banyak ulah, mulai dari mencuri makanan, membongkar sampah, hingga membuat aliran listrik padam di Kyushu, Jepang Selatan gara-gara seenaknya membuat sarang di tiang-tiang listrik.

Kenapa di Tokyo banyak burung gagak? Pertanyaan ini juga tak jarang terlontar dari orang-orang yang pertama kali berkunjung ke ibukota Jepang ini. Tak hanya di Tokyo, burung ini memang populasinya banyak sekali di Jepang, berbanding terbalik dengan masalah nasional penurunan populasi akibat rendahnya tingkat kelahiran dan banyaknya jumlah lansia. Menurut para ahli, jumlah gagak di Tokyo saja ada 150.000 ekor. Angka yang sangat besar, tentu saja.

Tak ayal, kehadiran gagak ini merepotkan masyarakat. Pemerintah, universitas dan perusahaan swasta memberi sarana dan fasilitas kepada para penelitinya untuk melakukan observasi terhadap burung gagak. Tujuannya, bagaimana agar burnug tersebut bisa dikurangi populasinya dan untuk menemukan cara mengantisipasi gangguan dari burung-burung itu.

Salah satu peneliti yang cukup terkenal adalah Prof. Sugita Shoei dari Universitas Utsunomiya Dari penelitiannya terungkap bahwa gagak yang biasanya suka mengacak-acak kantong sampah hingga isinya berhamburan keluar, tidak punya kepekaan terhadap plastik kuning semi transparan. Sejak penemuan ini, mulailah diproduksi kantong plastik sampah kuning yang kabarnya tidak diminati oleh para gagak itu. Namun sayang, harganya yang cukup mahal dibandingkan plastik sampah biasa membuat hasil temuan sang professor kurang diminati masyarakat.

Selanjutnya pemerintah, khususnya di kota Fujisawa, provinsi Kanagawa, mengeluarkan peraturan bahwa pembuangan sampah di daerah ini mesti menggunakan plastik khusus, yang didistribusikan di toko-toko yang buka 24 jam ataupun supermarket serta toko-toko obat di seluruh kota.


Sampah dilengkapi dengan jaring pengaman.
Foto: Nesia Andriana.


Dikatakan bahwa gagak adalah jenis binatang yang atama ii atau cerdas. Misalnya saja gagak akan mengingat wajah serta warna/jenis kendaraan orang yang pernah mengganggunya, dan bila suatu waktu orang ini kembali ke daerah gagak tersebut hidup, ia akan memanggil kawan-kawannya dan melakukan serangan balasan.

Salah seorang sukarelawan pengajar bahasa Jepang di Shounandai Shiminkan, Fujisawa, pernah bercerita soal kepandaian burung gagak ini. Hayashi-sensei, perempuan Jepang setengah baya itu punya kebiasaan memesan bahan makanan seperti daging, ikan dan sayur-mayur lewat pos, yang akan diantar ke rumah pemesan seminggu sekali. Suatu waktu Hayashi pulang dari bepergian dan ditemuinya kardus makanan pesanan tersebut diletakkan di depan pintu.
Memang begitulah sistem di Jepang, pemesanan rutin seperti itu sering kali tidak mesti diserahkan tangan ke tangan. Pesanan berkotak besar yang isinya mungkin bernilai sekitar ratusan ribu rupiah itu, cukup diletakkan di luar, dan biasanya tidak akan ada yang mengambilnya.

Pada sekilas pandangan pertama, Hayashi-sensei tak menaruh curiga apapun terhadap kotak yang terbuat dari bahan gabus itu. Namun begitu ia mengangkat kardus tersebut, tahulah ia bahwa ada yang tidak beres dengan kotak yang masih terbungkus rapi itu. Kardus itu terlalu ringan untuk memuat pesanannya! Dan benarlah, ketika ia membuka tutupnya, isinya sudah hampir kosong. Selidik punya selidik, ternyata ada lubang di belakang kardus. Lubang bekas patukan paruh burung gagak!

Kabarnya, sejak sekitar tahun 1990, burung gagak di Jepang berhasil menemukan cara baru memecahkan dongguri, yaitu biji-bijian seperti kacang. Mereka meletakkan dongguri yang kulitnya cukup keras itu di tengah jalan raya. Pada awalnya mereka menunggu lampu lalulintas menjadi merah. Selanjutnya mereka meletakkannya di tengah kendaraan yang berhenti. Bila lampu hijau, gagak menunggu adakah dongguri mereka terlindas ban mobil atau tidak. Bila ternyata tidak, gagak Jepang akan memindahkannya di tempat berbeda, menunggu kembali kendaraan lain melintas.

Ada lagi cerita kepintaran burung gagak yang dalam bahasa lokal disebut karasu ini. Di Jepang, dalam setiap satuan wilayah kecil yang mungkin seluas RT di Indonesia, biasanya terdapat taman kecil milik publik yang dikelola pemerintah. Di taman seperti itu, biasanya selalu ada kran air, untuk minum ataupun untuk cuci tangan bagi siapa saja. Diceritakan bahwa warga di sekitar taman tersebut sering heran karena kran air minum yang airnya terpancur ke atas itu sering tidak ditutup kembali. Airnya terus-terus saja memancar, tanpa ada yang meminumnya. Akhirnya penduduk pun melakukan pengamatan. Ternyata, yang membuka kran air minum itu adalah si burung hitam itu. Ternyata, gagak di taman tersebut mengamati cara orang membuka kran tersebut.

Sejumlah cara telah dicoba untuk menghalau gagak. Biasanya di taman-taman terbuka atau kouen itu diberi peringatan agar jangan memberi makan burung merpati. Sebenarnya, salah satu sebabnya juga karena selain merpati, burung gagak akan mencicipinya juga. Dan ini bisa membuat jumlah burung gagak makin meningkat.

Menurut International Herald Tribun, kontroversi pun muncul terkait cara penanganan gagak, karena upaya membunuh gagak sebagai jalan pintas membasmi, dianggap tidak menyelesaikan masalah serta ”menodai” budaya Jepang yang tidak menganjurkan kekerasan bahkan terhadap binatang. Dahulu, manusia dan gagak hidup harmonis, bila sekarang burung-burung itu menjadi gangguan, mungkin ada yang salah dengan gaya hidup masyarakat modern sekarang, kata seorang ahli lingkungan. Konon, Gubernur Tokyo, Shintaro Ishihara pun pernah kena patuk gagak saat main golf, dan karenana ia pun menyatakan perang terhadap gagak!

Asahi Shinbun, salah satu koran terkemuka di Jepang pernah juga secara khusus menurunkan artikel tentang bagaimana cara mengatasi serangan dan gangguan gagak. Salah satunya adalah dengan membuat mereka kesulitan untuk melestarikan keberlangsungan hidupnya. Sarang burung gagak biasanya dirangkai dari gantungan baju yang terbuat dari kawat. Karenanya, sebaiknya jangan tinggalkan gantungan baju kawat ini tergeletak begitu saja di luar rumah, karena gagak akan semakin mudah membuat sarangnya. Selain itu, bila membuang sampah yang bisa terbakar, mesti diperhatikan bahwa sampah tersebut tak bisa dikoyak gagak, yang suka mencari sampah makanan sisa. Makanya, kantong-kantong sampah itu ditutup lagi dengan jaring, agar tidak dipatuk oleh gagak.

Saya sendiri mengalami pengalaman menarik dengan burung gagak. Suatu sore di akhir musim semi saya dan keluarga singgah di taman sehabis berbelanja. Belanjaan yang berupa dua kantong plastik besar, diletakkan di dalam keranjang sepeda. Saat hendak pulang, kantong plastik yang berada di keranjang sepeda sudah robek. Udang dan ikan segar sudah raib, hanya tinggal wadahnya, tergeletak di bawah pohon. Sementara di atas pohon, bertengger dua ekor gagak hitam, mengumandangkan teriakan kemenangan: kwaaak, kwaaak, kwaaak.(p!)

*Citizen reporter Nesia Andriana dapat dihubungi melalui email nesiari@yahoo.com

| Beri Komentar| Jumlah Komentar (11) |

Komentar :

10-06-2008
Dari : alli' | omnipresent_12@yahoo.com
aneh juga, orang jepang tidak menemukan solusi untuk menangani populasi gagak, padahal mereka mampu menimbun laut ut jadi bandara? bikin robot aneka macam? proyek sebesar itu? jual playstation ke seluruh dunia? atau karena problem gagak tergantung di tengah-tengah? mau dibilang serius amat juga tidak, mau dibilang sepele juga tidak? seandainya masalah gagak ini terjadi di indonesia, mungkin korupsi akan berkurang; pejabat-pejabat kita jadi panik dan mereka akan konsisten menganggarkan sekian persen anggaran belanja untuk menangani masalah gagak; korupsi, atau gagak tambah banyak!

10-06-2008
Dari : hijrah khaerana | hijrah_chubby@yahoo.co.id
txata gagak tdk hanya membuat kekacauan di SUL-SEL, ternyata di Jepang jg...kalo org MKS bilang gagak itu balampoa' yang suka mkn anak ayam critax sangat memukau membuat saya merasa seperti di Jepang... Ayo kita nyatakan perang terhadap GAGAK

07-06-2008
Dari : arminh | artsuru@gmail.com
wah, kalo gagak bermasalah sekarang di Jepang, logo tim sepakbola nasional jepang harus diganti juga dong? ada hubungannya kali yah? ternyata gagak tidak hanya bermasalah di lingkungan urban, dalam kompleks kuil pun ternyata gagak menjadi bermasalah. sebagian besar penyebab kebakaran hutan di daerah yang ada kuilnya disebabkan karena gagak ini. biasanya orang yang datang bersembahyang di kuil akan menyalakan lilin merah (nda tauka nama Jepangnya) dan diletakkan di altar di beberapa tempat. Nah, kalo sembrono, gagak akan datang dan membawa lilin tersebut yang menyala di sarang mereka di atas pohon, jadinya biasa menyebabkan kebakaran lahan. pernah sa liat di daerah hutan kuil Fushimi-inari dan Kurama di Kyoto. banyak memang gagak, sebanding dengan lilin yang bertebaran di bawah pohon. untung adaji orang kuil yang kerjanya mematikan lilin yang dipasang di altar setelah orangnya pergi.

07-06-2008
Dari : daeng.ammang | daeng.ammang@gmail.com
Sungguh kabar perantau yang sangat memukau,.... Seandainya saja di Jepang ada grup musik seperti Trio Macan, pasti lagu "Si Gagak Garong" sudah jadi Box Office,...

06-06-2008
Dari : abdi karya | abdeeku@yahoo.com
seingatku,justru burung gagak di jerman tidak secerdas di jepang. sekalipun populasi gagak tidak sebanyak di jepang, tapi yang saya temukan banyak gedung-gedung kantoran termasuk sekolahan bahkan rumah penduduk yg jendela-jendela kaca-nya ditempeli stiker burung gagak hanya untuk penanda agar burung-burung itu tidak menabrak jendela. salah satu upaya mereka melindungi binatang. mendingan banyak burung yang hidup disana-sini. kalo di sini? wah,jangan mimpi menjadikan makassar kota masa depan kalo semua pohonnya ditebang trus diganti ruko atau papan iklan. jangankan kawanan burung, kawanan orang saja susah hidup kalo begitu...

06-06-2008
Dari : aco bollo |
jepang kotor juga ya...

05-06-2008
Dari : |
Sugoi naaaa

04-06-2008
Dari : ivan |
orang Indonesia mungkin paling jago menurunkan populasi binatang, buktinya; makin banyak binatang yang terancam punah atau eksploitasi berlebih. Tapi jangan ditanya soal mengendalikan populasi penduduk, KB ?, susah menjelaskannya. Mengendalikan populasi gagak bisa mencontoh Indonesia; Rusak habitat dan penelurannya, lama kelamaan yang tinggal hanya para gagak tua yang sebentar lagi mati. Mungkin Jepang mencari cara yang lebih " bijak kendali gagak." cukup mudah dengan memahami siklus hidup dan pola migrasinya, serta sedikit rela mengebiri beberapa persen induk jantan, asal jangan ditembak saja ...

04-06-2008
Dari : Andi Akbar Halim | akbarhalim@gmail.com
Saya yakin dan percaya bahwa rakyat dan pemerintah Jepang akan melakukan tindakan da solusi yang arif dan bijaksana terhadap keberadaan burung gagak ini, sudah banyak mi tawwa bukti keberhasilan program sosial, budaya, ekonomi, dan lingkungan hidup oleh rakyat dan pemerintah Jepang disikapi dengan memperhatikan keseimbangan alam, lingkungan dan budaya serta keberadaan ummat manusia, jadi marilah kita mencontoh keberhasilan rakyat dan pemerintah Jepang tawwa.

04-06-2008
Dari : muna | rigor_03@yahoo.com
burung gagak memang gagak...hehhehehe betul kata profesor lingkungan tadi. kalau memang manusia harus mencaRi penyebab ketidakseimbangan ekosisitem yang telah terjadi... mungkin aja manusia makin tidak sadar kalo gagak juga butuh makan... atau mgkin buruk gagak nda mau kalah dengan manusia dalam hal merusak??? atau dan lain2..heheh

04-06-2008
Dari : iwan | sandeqlopi@yahoo.com
gagaknya saja cerdas, gimana orangnya hehe ya, gagak di jepang juga menarik perhatianku ketika ke jepang. burung ini hampir ada di mana2.



 :: CITIZEN REPORTER
Makassar di Panyingkul!: Sebuah Persembahan
(Kamis, 12-07-2007)
Ayo Bergabung di Panyingkul!
(Minggu, 29-04-2007)
Catatan Sederhana Para Citizen Reporter
(Selasa, 31-10-2006)
Tentang Citizen Reporter dan Rubrik di Panyingkul!
(Rabu, 11-10-2006)
Riuh Rendah di Panyingkul!
(Rabu, 16-08-2006)

Untitled Document
 :: DUNIA SEGIEMPAT KAREBOSI






 :: PILKADA




 :: ALBUM PUASA 2008




Untitled Document
 :: KONTAK TIM PANYINGKUL!

Email:

redaksi@panyingkul.com

Makassar:

Nilam Indahsari +62 81 241 229 089
M. Aan Mansyur +62 411-586459

Jakarta
Moch. Hasymi  +62 811 955 954



© Juni 2006 - Panyingkul.com All Rights Reserved
Desain Web : Nesia Andriana -- Supported by: Yuhardin