|
|
| . |
| ::
|
| Selasa, 03-06-2008 | Kabar Perantau Gagak Jepang yang Bikin Repot :: Nesia Andriana ::
| Gagak mematuk sampah di Shinjuku, Tokyo. Foto: Repro The New York Times.
Ini catatan ringan tentang masalah serius di Jepang: burung gagak yang mengganggu kehidupan masyarakat, yang disajikan citizen reporter Nesia Andriana. Jepang memang dibuat pusing oleh populasi gagak yang makin meningkat dan menimbulkan banyak masalah. (p!) | Japan Fights Crowds of Crows. Begitulah judul berita International Herald Tribun edisi bulan lalu, yang mengulas masalah burung gagak. Kawanan burung berbulu hitam ini memang semakin membuat banyak ulah, mulai dari mencuri makanan, membongkar sampah, hingga membuat aliran listrik padam di Kyushu, Jepang Selatan gara-gara seenaknya membuat sarang di tiang-tiang listrik.
Kenapa di Tokyo banyak burung gagak? Pertanyaan ini juga tak jarang terlontar dari orang-orang yang pertama kali berkunjung ke ibukota Jepang ini. Tak hanya di Tokyo, burung ini memang populasinya banyak sekali di Jepang, berbanding terbalik dengan masalah nasional penurunan populasi akibat rendahnya tingkat kelahiran dan banyaknya jumlah lansia. Menurut para ahli, jumlah gagak di Tokyo saja ada 150.000 ekor. Angka yang sangat besar, tentu saja.
Tak ayal, kehadiran gagak ini merepotkan masyarakat. Pemerintah, universitas dan perusahaan swasta memberi sarana dan fasilitas kepada para penelitinya untuk melakukan observasi terhadap burung gagak. Tujuannya, bagaimana agar burnug tersebut bisa dikurangi populasinya dan untuk menemukan cara mengantisipasi gangguan dari burung-burung itu.
Salah satu peneliti yang cukup terkenal adalah Prof. Sugita Shoei dari Universitas Utsunomiya Dari penelitiannya terungkap bahwa gagak yang biasanya suka mengacak-acak kantong sampah hingga isinya berhamburan keluar, tidak punya kepekaan terhadap plastik kuning semi transparan. Sejak penemuan ini, mulailah diproduksi kantong plastik sampah kuning yang kabarnya tidak diminati oleh para gagak itu. Namun sayang, harganya yang cukup mahal dibandingkan plastik sampah biasa membuat hasil temuan sang professor kurang diminati masyarakat.
Selanjutnya pemerintah, khususnya di kota Fujisawa, provinsi Kanagawa, mengeluarkan peraturan bahwa pembuangan sampah di daerah ini mesti menggunakan plastik khusus, yang didistribusikan di toko-toko yang buka 24 jam ataupun supermarket serta toko-toko obat di seluruh kota.
Sampah dilengkapi dengan jaring pengaman. Foto: Nesia Andriana.
Dikatakan bahwa gagak adalah jenis binatang yang atama ii atau cerdas. Misalnya saja gagak akan mengingat wajah serta warna/jenis kendaraan orang yang pernah mengganggunya, dan bila suatu waktu orang ini kembali ke daerah gagak tersebut hidup, ia akan memanggil kawan-kawannya dan melakukan serangan balasan.
Salah seorang sukarelawan pengajar bahasa Jepang di Shounandai Shiminkan, Fujisawa, pernah bercerita soal kepandaian burung gagak ini. Hayashi-sensei, perempuan Jepang setengah baya itu punya kebiasaan memesan bahan makanan seperti daging, ikan dan sayur-mayur lewat pos, yang akan diantar ke rumah pemesan seminggu sekali. Suatu waktu Hayashi pulang dari bepergian dan ditemuinya kardus makanan pesanan tersebut diletakkan di depan pintu.
Memang begitulah sistem di Jepang, pemesanan rutin seperti itu sering kali tidak mesti diserahkan tangan ke tangan. Pesanan berkotak besar yang isinya mungkin bernilai sekitar ratusan ribu rupiah itu, cukup diletakkan di luar, dan biasanya tidak akan ada yang mengambilnya.
Pada sekilas pandangan pertama, Hayashi-sensei tak menaruh curiga apapun terhadap kotak yang terbuat dari bahan gabus itu. Namun begitu ia mengangkat kardus tersebut, tahulah ia bahwa ada yang tidak beres dengan kotak yang masih terbungkus rapi itu. Kardus itu terlalu ringan untuk memuat pesanannya! Dan benarlah, ketika ia membuka tutupnya, isinya sudah hampir kosong. Selidik punya selidik, ternyata ada lubang di belakang kardus. Lubang bekas patukan paruh burung gagak!
Kabarnya, sejak sekitar tahun 1990, burung gagak di Jepang berhasil menemukan cara baru memecahkan dongguri, yaitu biji-bijian seperti kacang. Mereka meletakkan dongguri yang kulitnya cukup keras itu di tengah jalan raya. Pada awalnya mereka menunggu lampu lalulintas menjadi merah. Selanjutnya mereka meletakkannya di tengah kendaraan yang berhenti. Bila lampu hijau, gagak menunggu adakah dongguri mereka terlindas ban mobil atau tidak. Bila ternyata tidak, gagak Jepang akan memindahkannya di tempat berbeda, menunggu kembali kendaraan lain melintas.
Ada lagi cerita kepintaran burung gagak yang dalam bahasa lokal disebut karasu ini. Di Jepang, dalam setiap satuan wilayah kecil yang mungkin seluas RT di Indonesia, biasanya terdapat taman kecil milik publik yang dikelola pemerintah. Di taman seperti itu, biasanya selalu ada kran air, untuk minum ataupun untuk cuci tangan bagi siapa saja. Diceritakan bahwa warga di sekitar taman tersebut sering heran karena kran air minum yang airnya terpancur ke atas itu sering tidak ditutup kembali. Airnya terus-terus saja memancar, tanpa ada yang meminumnya. Akhirnya penduduk pun melakukan pengamatan. Ternyata, yang membuka kran air minum itu adalah si burung hitam itu. Ternyata, gagak di taman tersebut mengamati cara orang membuka kran tersebut.
Sejumlah cara telah dicoba untuk menghalau gagak. Biasanya di taman-taman terbuka atau kouen itu diberi peringatan agar jangan memberi makan burung merpati. Sebenarnya, salah satu sebabnya juga karena selain merpati, burung gagak akan mencicipinya juga. Dan ini bisa membuat jumlah burung gagak makin meningkat.
Menurut International Herald Tribun, kontroversi pun muncul terkait cara penanganan gagak, karena upaya membunuh gagak sebagai jalan pintas membasmi, dianggap tidak menyelesaikan masalah serta ”menodai” budaya Jepang yang tidak menganjurkan kekerasan bahkan terhadap binatang. Dahulu, manusia dan gagak hidup harmonis, bila sekarang burung-burung itu menjadi gangguan, mungkin ada yang salah dengan gaya hidup masyarakat modern sekarang, kata seorang ahli lingkungan. Konon, Gubernur Tokyo, Shintaro Ishihara pun pernah kena patuk gagak saat main golf, dan karenana ia pun menyatakan perang terhadap gagak!
Asahi Shinbun, salah satu koran terkemuka di Jepang pernah juga secara khusus menurunkan artikel tentang bagaimana cara mengatasi serangan dan gangguan gagak. Salah satunya adalah dengan membuat mereka kesulitan untuk melestarikan keberlangsungan hidupnya. Sarang burung gagak biasanya dirangkai dari gantungan baju yang terbuat dari kawat. Karenanya, sebaiknya jangan tinggalkan gantungan baju kawat ini tergeletak begitu saja di luar rumah, karena gagak akan semakin mudah membuat sarangnya. Selain itu, bila membuang sampah yang bisa terbakar, mesti diperhatikan bahwa sampah tersebut tak bisa dikoyak gagak, yang suka mencari sampah makanan sisa. Makanya, kantong-kantong sampah itu ditutup lagi dengan jaring, agar tidak dipatuk oleh gagak.
Saya sendiri mengalami pengalaman menarik dengan burung gagak. Suatu sore di akhir musim semi saya dan keluarga singgah di taman sehabis berbelanja. Belanjaan yang berupa dua kantong plastik besar, diletakkan di dalam keranjang sepeda. Saat hendak pulang, kantong plastik yang berada di keranjang sepeda sudah robek. Udang dan ikan segar sudah raib, hanya tinggal wadahnya, tergeletak di bawah pohon. Sementara di atas pohon, bertengger dua ekor gagak hitam, mengumandangkan teriakan kemenangan: kwaaak, kwaaak, kwaaak.(p!)
*Citizen reporter Nesia Andriana dapat dihubungi melalui email nesiari@yahoo.com
|
| | Jumlah
Komentar (11) |
|
| Komentar :
10-06-2008 Dari : alli' | omnipresent_12@yahoo.com aneh juga, orang
jepang tidak
menemukan solusi
untuk menangani
populasi gagak,
padahal mereka mampu
menimbun laut ut
jadi bandara? bikin
robot aneka macam?
proyek sebesar itu?
jual playstation ke
seluruh dunia? atau
karena problem gagak
tergantung di
tengah-tengah? mau
dibilang serius amat
juga tidak, mau
dibilang sepele juga
tidak? seandainya
masalah gagak ini
terjadi di
indonesia, mungkin
korupsi akan
berkurang;
pejabat-pejabat kita
jadi panik dan
mereka akan
konsisten
menganggarkan sekian
persen anggaran
belanja untuk
menangani masalah
gagak; korupsi, atau
gagak tambah
banyak!
10-06-2008 Dari : hijrah khaerana | hijrah_chubby@yahoo.co.id txata gagak tdk
hanya membuat
kekacauan di
SUL-SEL, ternyata di
Jepang jg...kalo org
MKS bilang gagak itu
balampoa' yang suka
mkn anak ayam
critax sangat
memukau membuat saya
merasa seperti di
Jepang...
Ayo kita nyatakan
perang terhadap
GAGAK 07-06-2008 Dari : arminh | artsuru@gmail.com wah, kalo gagak
bermasalah sekarang
di Jepang, logo tim
sepakbola nasional
jepang harus diganti
juga dong? ada
hubungannya kali
yah? ternyata gagak
tidak hanya
bermasalah di
lingkungan urban,
dalam kompleks kuil
pun ternyata gagak
menjadi bermasalah.
sebagian besar
penyebab kebakaran
hutan di daerah yang
ada kuilnya
disebabkan karena
gagak ini. biasanya
orang yang datang
bersembahyang di
kuil akan menyalakan
lilin merah (nda
tauka nama
Jepangnya) dan
diletakkan di altar
di beberapa tempat.
Nah, kalo sembrono,
gagak akan datang
dan membawa lilin
tersebut yang
menyala di sarang
mereka di atas
pohon, jadinya biasa
menyebabkan
kebakaran lahan.
pernah sa liat di
daerah hutan kuil
Fushimi-inari dan
Kurama di Kyoto.
banyak memang gagak,
sebanding dengan
lilin yang
bertebaran di bawah
pohon. untung adaji
orang kuil yang
kerjanya mematikan
lilin yang dipasang
di altar setelah
orangnya pergi. 07-06-2008 Dari : daeng.ammang | daeng.ammang@gmail.com Sungguh kabar
perantau yang sangat
memukau,....
Seandainya saja di
Jepang ada grup
musik seperti Trio
Macan, pasti lagu
"Si Gagak Garong"
sudah jadi Box
Office,... 06-06-2008 Dari : abdi karya | abdeeku@yahoo.com seingatku,justru
burung gagak di
jerman tidak
secerdas di jepang.
sekalipun populasi
gagak tidak sebanyak
di jepang, tapi yang
saya temukan banyak
gedung-gedung
kantoran termasuk
sekolahan bahkan
rumah penduduk yg
jendela-jendela
kaca-nya ditempeli
stiker burung gagak
hanya untuk penanda
agar burung-burung
itu tidak menabrak
jendela. salah satu
upaya mereka
melindungi binatang.
mendingan banyak
burung yang hidup
disana-sini. kalo di
sini? wah,jangan
mimpi menjadikan
makassar kota masa
depan kalo semua
pohonnya ditebang
trus diganti ruko
atau papan iklan.
jangankan kawanan
burung, kawanan
orang saja susah
hidup kalo begitu... 06-06-2008 Dari : aco bollo | jepang kotor juga
ya... 05-06-2008 Dari : | Sugoi naaaa 04-06-2008 Dari : ivan | orang Indonesia
mungkin paling jago
menurunkan populasi
binatang, buktinya;
makin banyak
binatang yang
terancam punah atau
eksploitasi
berlebih. Tapi
jangan ditanya soal
mengendalikan
populasi penduduk,
KB ?, susah
menjelaskannya.
Mengendalikan
populasi gagak bisa
mencontoh Indonesia;
Rusak habitat dan
penelurannya, lama
kelamaan yang
tinggal hanya para
gagak tua yang
sebentar lagi mati.
Mungkin Jepang
mencari cara yang
lebih " bijak
kendali gagak."
cukup mudah dengan
memahami siklus
hidup dan pola
migrasinya, serta
sedikit rela
mengebiri beberapa
persen induk jantan,
asal jangan ditembak
saja ... 04-06-2008 Dari : Andi Akbar Halim | akbarhalim@gmail.com Saya yakin dan
percaya bahwa rakyat
dan pemerintah
Jepang akan
melakukan tindakan
da solusi yang arif
dan bijaksana
terhadap keberadaan
burung gagak ini,
sudah banyak mi
tawwa bukti
keberhasilan program
sosial, budaya,
ekonomi, dan
lingkungan hidup
oleh rakyat dan
pemerintah Jepang
disikapi dengan
memperhatikan
keseimbangan alam,
lingkungan dan
budaya serta
keberadaan ummat
manusia, jadi
marilah kita
mencontoh
keberhasilan rakyat
dan pemerintah
Jepang tawwa. 04-06-2008 Dari : muna | rigor_03@yahoo.com burung gagak memang
gagak...hehhehehe
betul kata profesor
lingkungan tadi.
kalau memang manusia
harus mencaRi
penyebab
ketidakseimbangan
ekosisitem yang
telah terjadi...
mungkin aja manusia
makin tidak sadar
kalo gagak juga
butuh makan...
atau mgkin buruk
gagak nda mau kalah
dengan manusia dalam
hal merusak???
atau dan
lain2..heheh 04-06-2008 Dari : iwan | sandeqlopi@yahoo.com gagaknya saja
cerdas, gimana
orangnya hehe
ya, gagak di jepang
juga menarik
perhatianku ketika
ke jepang. burung
ini hampir ada di
mana2. |
|
|
|
|
| ::
CITIZEN REPORTER |
 | (Kamis, 12-07-2007) |  | (Minggu, 29-04-2007) |  | (Selasa, 31-10-2006) |  | (Rabu, 11-10-2006) |  | (Rabu, 16-08-2006) | |
|
Untitled Document
| ::
DUNIA SEGIEMPAT KAREBOSI |
|
Untitled Document
| ::
KONTAK TIM PANYINGKUL! |
Email:
redaksi@panyingkul.com
Makassar:
Nilam Indahsari +62 81 241 229 089
M. Aan Mansyur +62 411-586459
Jakarta
Moch. Hasymi +62 811 955 954
|
|
|