Untitled Document
 


Untitled Document
.KITAKITA
:: Jika Anda di Panyingkul ::
 
 KABAR KITA
 
 BERANDAKITA
Kegilaan, Dari Cinta Mati di Pulau Rajuni Hingga Riwayat Kadang
:: Ivan Firdaus ::
Baba Guru, Mengenang Film Rhoma Irama di Klenteng Galesong
:: Kamaruddin Azis ::
Mengagumi Tenun Troso, Mengenang Tenun Sengkang
:: Suryadin Laoddang ::
Perempuan Besi di Gunung Perak (2-selesai)
:: M. Aan Mansyur ::
Perempuan Besi di Gunung Perak (1)
:: M. Aan Mansyur ::
 
 RISETKITA
Rasa Takut : Yang Dicitrakan, Yang Dipelihara
:: Aria W. Yudhistira ::
Risetkita: Pramoedya versus Sejarah Resmi
:: Nurhady Sirimorok ::
Hikayat Rumpon Nelayan Mandar
:: Muhammad Ridwan Alimuddin ::
Di Makassar Pernah Ada “Negeri Wajo”
:: Nurhady Sirimorok ::
Surat Itu Ditulis Upas kepada September
:: Nurhady Sirimorok ::
 
 BUKUKITA
 
 KATAKOTAKITA
Kenapa si Gondrong yang Maju?
:: Ivan Firdaus dan Mustamin al-Mandary ::
Karena ‘Rewa’ Badan Binasa
:: Sudirman Nasir ::
Yang Okkot, yang Salah Sambung
:: Nursamsu danTusiana Noor Alfisyahr ::
Kandala`ka`, Kusta Bila Dusta
:: Panyingkul ::
Ayo, Si(ng)kat Terussss..!
:: Panyingkul! ::

 
 TAHUKAHKITA
 

.
 ::
Selasa, 01-07-2008 
Edisi Ulang Tahun Ke-2
Buku Tahunan
Indonesia di Panyingkul!
:: Panyingkul! ::

HARGA : Rp35.000

PEMESANAN :

Makassar:

Nilam Indahsari +62 81 241 229 089
M. Aan Mansyur +62 411-586459

Jakarta
Moch. Hasymi +62 811 955 954

Tokyo:
Lily dan Farid +81 90 188 95131


Tradisi penerbitan kabar warga pilihan Panyingkul! tahun ini memilih tema Indonesia di Panyingkul! -- sebuah kompilasi kabar tentang riwayat Coto Makassar hingga pelosok tempat tinggal Suku Talang Mamak di Riau dan negeri di atas awan, Takengon, Aceh. (p!)


“Kaget juga ketika tahu Panyingkul! ternyata baru berusia dua tahun! Saya sudah tidak ingat lagi apakah ada hari-hari yang saya lewati tanpa membaca berita-berita Panyingkul! Bagi saya, tulisan di media ini menarik, dalam dan berkualitas sehingga memang perlu dibukukan karena mutunya akan bertahan bertahun-tahun…” (Sirto Koolhof, Kepala Redaksi Indonesia, Radio Netherlands Worldwide, peneliti budaya dan sastra Bugis, Hilversum, Belanda)

Pengantar Editor
MERINDUKAN JURNALIS DARI PLANET MARS
Lily Yulianti & Farid M. Ibrahim

KETIKA “war on terror” menjadi topik utama menyusul serangan 11 September 2001, Noam Chomsky (Media Control, 2002: 69-100) secara hipotetis membayangkan seorang intelektual dari Planet Mars yang datang ke Harvard dan Columbia Journalism School untuk mempelajari segala “pengetahuan-tinggi” tentang jurnalisme. Si wartawan Mars tersebut akan memulai laporan jurnalistiknya, yang akan diterbitkan di planet asalnya, dengan pengamatan faktual: bahwa “war on terror” bukan dimulai pada 11 September 2001, melainkan sudah dideklarasikan sejak era Presiden Reagen di tahun 1980-an.

Pengamatan faktual, meskipun terdengar sebagai rumus klise ilmu jurnalistik, ternyata bukanlah perkara sepele. Chomsky sedang membeberkan bagaimana rumus simpel itu gagal diaplikasikan oleh media mainstream ketika menulis laporan tentang “war on terror”. Sementara si wartawan Mars dengan jernih bisa memberitakan, bahwa “musuh peradaban di tahun 2001 adalah para freedom fighter di tahun 1980-an yang diorganisir dan dipersenjatai oleh CIA serta dilatih oleh pasukan khusus yang sama, yang saat ini justru sedang memburu mereka di gua-gua Afghanistan”. Sayang sekali bahwa para wartawan dari Planet Bumi tidak melaporkan “war on terror” dalam konteks kontinuitas sejarah seperti itu.

Untunglah, bahwa di era informasi yang oleh McLuhan di tahun 1960-an disinyalir sebagai “perluasan teknologis kesadaran manusia”, tersedia pelbagai pilihan informasi yang wajar dan nyata, tidak sehipotetis yang ditawarkan Chomsky. McLuhan (Understanding Media, 2001:63) menyebut media sebagai “metafor aktif dalam kekuatannya melakukan translasi pengalaman manusia ke dalam bentuknya yang baru”. Yaitu, ke dalam bentuk informasi yang, berkat teknologi elektronika, semakin total dan inklusif. New media, yakni internet, bahkan memungkinkan kita melakukan dokumentasi dan translasi atas apa saja. Dengan internet, kesadaran manusia atas segala peristiwa yang terjadi, tidak bisa lagi menjadi eksklusif.

Peran tradisional yang dimainkan para editor di media mainstream pun semakin dipertanyakan justifikasi eksistensialnya, sebab setiap orang dengan perangkat-perangkat teknologi informasi telah dimungkinkan melaksanakan hal serupa. Slogan ”setiap orang adalah reporter” atau ”setiap orang adalah publisher” meski terdengar jargonistis bukanlah kemuskilan yang berlebih-lebihan. Jurnalisme pada akhirnya tidak bisa lagi dibekukan ke dalam pola relasi yang kaku antara peristiwa-wartawan-narasumber dengan atribut-atribut ”resmi”, sebab yang ”resmi” dalam hubungan ketiga elemen itu pada akhirnya adalah ”setiap orang”. Jika Rosihan Anwar menyebut ”wartawan sebagai pewaris nabi-nabi” yang menyampaikan kabar, maka kehadiran internet memungkinkan kita untuk menyebut ”setiap orang adalah pewaris nabi-nabi”. Berita tidak lagi dilihat sebagai produk yang didominasi wartawan dan institusi pers. Berkat internet, masyarakat biasa juga mampu menciptakan kekuatan baru sebagai penyampai kabar dan masuk dalam ekosistem media sebagai unsur yang aktif berinteraksi (Bowman dan Willis, Jurnal Citizen Journalism Universitas Harvad 2005: 6).

Eksperimen citizen journalism yang dijalankan Panyingkul! di Indonesia dalam dua tahun terakhir menunjukkan bahwa kekakuan pola relasi antara wartawan dan narasumber, misalnya, telah mencair. Para jurnalis warga telah membuktikan bahwa status sebagai wartawan, meskipun penting, bukan lagi determinan dalam mengakses informasi dari narasumber, atau peristiwa.

Pelbagai kabar yang disampaikan melalui situs www.panyingkul.com, yang pilihan-pilihan tematiknya kami anggap mewakili spirit jurnalisme orang biasa yang dihimpun dalam buku ini, memang masih mencoba membedakan diri dari kabar-kabar di media mainstream – terutama dalam pendekatannya kepada peristiwa. Ia bisa berupa kejadian yang telah lama, isu-isu yang terkesan sepele, sudut pandang yang personal atas peristiwa besar, atau bahkan fenomena yang tidak lagi mendapat tempat di media mainstream.

Sebanyak 38 tulisan yang terpilih dalam buku kedua ini secara jelas menunjukkan keinginan kuat para citizen reporter mengembalikan banyak hal yang telah lama hilang di media mainstream: pemaparan panjang tentang berbagai peristiwa yang lekat dengan keseharian, penggalian riwayat, upaya menghadirkan konteks yang melatari suatu kejadian, hingga upaya merangkum hasil penelitian demi membantu pembaca mendapat asupan informasi yang lengkap tentang manusia, tempat, sejarah dan peristiwa. Dari segi kualitas, seluruh tulisan ini kami anggap telah memenuhi standar jurnalistik yang berlaku umum, meski di sejumlah tulisan, semangat amateurisme masih tetap tampak jejaknya. Tanpa mengecilkan arti ratusan tulisan lainnya yang telah ditayangkan selama satu tahun terakhir, ke-38 tulisan inilah yang kami anggap mewakili jurnalisme warga yang digagas Panyingkul! sejak awal. Tulisan yang lahir dari inisiatif dan gairah berbagi kabar, yang ditulis secara komprehensif, mengandung kebaruan baik dalam tema maupun model penulisan, menunjukkan pemihakan pada rakyat banyak, serta mengeksplorasi hal-hal yang justru telah diabaikan media mainstream.

Para warga yang ”menjalankan secara sadar peran jurnalistik” ini adalah pelajar SMA, mahasiswa, pekerja profesional, peneliti dan orang biasa lainnya. Kehadiran mereka semakin menegaskan argumen Clyde H. Bentley, guru besar madya pada Sekolah Tinggi Jurnalistik Missouri AS, bahwa meski sebagian besar masyarakat tidak ingin menjadi jurnalis, tapi mereka ingin berkontribusi secara nyata dengan menuliskan pikiran atau pendapat mereka tentang suatu hal. Dan sekali lagi, kontribusi nyata ini dimungkinkan oleh kemajuan teknologi informasi yang melesat begitu cepat.

Dan Gilmor (We the Media, 2004: 236) menyebut internet sebagai media paling penting sejak ditemukannya alat cetak. Jika setelah Gutenberg memperkenalkan mesin cetak di abad ke-15, firman Tuhan terbebaskan dari kontrol para agamawan, maka setelah internet, firman Tuhan bahkan ditransformasikan secara lebih demokratis. Begitu banyak asumsi tentang media atau model bisnis yang dilabrak serta-merta oleh internet, dan karena itu pencarian perspektif masih terus berlangsung ketika hirarki top-down berubah menjadi, bukan saja demokratis, tapi juga acak-acakan. Panyingkul! mengawali upaya pencarian itu di Indonesia, 1 Juli 2006, dalam bentuk tertua informasi: berita.

Sekali lagi, perspektif yang dikembangkan Panyingkul!, adalah gairah berbagi kabar. Karena sebagai pengguna internet, kita didefinisikan oleh apa yang kita ketahui dan apa yang kita bagi. Bertolak dari sana, citizen journalism di waktu-waktu mendatang, tidak dapat lagi dibedakan dengan mainstream media, dalam pendekatan mereka kepada peristiwa. Pertemuan jurnalisme dan teknologi pada gilirannya akan membebaskan jurnalisme dari kontrol segelintir elit, sekaligus semakin memancangkan harapan bahwa warga biasa dapat memberi kontribusi luar biasa untuk menjadikan dunia ini lebih baik.

Karena itulah kami mengajak siapa saja – yang ingin berkontribusi menjadikan dunia ini lebih baik-- merayakan jurnalisme orang biasa di Panyingkul! sembari memikirkan bahwa citizen journalism hari ini digerakkan oleh para jurnalis dari Planet Mars yang dibayangkan Noam Chomsky. (p!)

| Beri Komentar| Jumlah Komentar (10) |

Komentar :

29-05-2009
Dari : arsyam mawardi | mawardiarsyam@gmail.com
saya belum lama ini mengenal panyingkul sebagai sebuah komunitas di dunia jurnalistik, saya sangat tertarik untuk menjadi bagian dari panyingkul lovers, gmn cara bergabung di mailing listnya???? sklgus mw tahu cara ngedpetin buknya.. salam perjuangan

09-05-2009
Dari : ZJCPnaxVvaSATgVNS | ozwsxr@wlthrx.com
6EEbfd gtdntwupghor, [url=http://xfvrhmpo lrsb.com/]xfvrhmpolr sb[/url], [link=http://qfddlha zxdky.com/]qfddlhazx dky[/link], http://jcuwqoxutpvc. com/

10-02-2009
Dari : Nur Aliem Halvaima | aliemhalvaima@yahoo.com
Saya mengenal panyingkul belum lama, dua-tiga bulan lalu, saat baca koran yang menyinggung soal web berisi komunitas orang Bugis-Makassar. Lama-lama ketagihan juga akhirnya. Bahkan ada beberapa artikelnya saya sengaja copy untuk bahan literatur. Saya juga tertarik soal buku panyingkul, tapi tidak tahu caranya untuk mendapatkan. Ada yang bisa bantu? Salam perantauan.

16-12-2008
Dari : Pertukaran Tokoh Muslim Muda Indonesia-A | phanggarini@yahoo.com.au
Syarat-syarat pendaftaran: Pria dan Wanita berusia di bawah 40 tahun. Menyerahkan salinan Kartu Tanda Penduduk (KTP), atau Paspor. Lancar berbicara bahasa Inggris dengan melampirkan salinan nilai score TOEFL (international atau institusional) minimal 450. Menyertakan surat rekomendasi dari organisasi yang menjelaskan kedudukan pelamar dalam organisasi tersebut. Melampirkan surat pernyataan singkat berisi: apa yang dapat diberikan pelamar pada program tersebut selama dan sesudah kunjungan, peran dari pelamar dalam organisasi dan alasan mengapa tertarik pada program ini, bagaimana pelamar akan membagi pengalamannya selama dan sesudah program. Surat pernyataan ini tidak boleh melebihi 2 halaman. Melampirkan Curriculum Vitae terbaru (tanpa perlu melampirkan seluruh salinan sertifikat atau dokumen yang dimiliki). Membuat surat keterangan yang mencantumkan: nama organisasi atau orang yang ingin ditemui di Australia. hobby dan kebiasaan di waktu luang. tanggal terakhir perjalanan ke Australia, jika ada. tanggal keberangkatan ke Australia, jika terpilih. alamat, fax atau nomor telephone yang dapat dihubungi. Pasphoto 3 x 4 cm sebanyak 2 lembar. Salinan Akte Kelahiran. Melampirkan Surat rekomendasi sebanyak 2 buah dari 2 orang yang menyatakan mengapa pelamar adalah kandidat yang tepat untuk mengikuti program ini. Calon pelamar disarankan untuk hanya mengirimkan persyaratan yang disebutkan di atas. Lamaran dapat dikirim ke: Panitia Pertukaran Tokoh Muslim Muda Indonesia-Australia Universitas Paramadina Jl. Gatot Subroto Kav. 97 Mampang, Jakarta Selatan 12790 Tel: 62 21 7918 1188 Fax: 62 21 799 33 75 Batas akhir pengiriman lamaran: Jum’at, 9 Januari 2009 pukul 16.00 WIB. Informasi lebih lanjut hanya dapat ditujukan melalui email kepada: phanggarini@yahoo.co m.au

28-10-2008
Dari : ham | bwithm@gmail.com
Happy Annyversary

21-08-2008
Dari : eva | nomoslogis@yahoo.co.id
Happy B'day Panyingkul

01-07-2008
Dari : Ismail Amin | ma_jpa@yahoo.com
Selamat Ultah Panyingkul. Lucu juga, saya justru baru mengenalmu ketika saya jauh dari Makassar... Saya selalu mengkhayalkan berjalan dilorong-lorong Makassar untuk menjadikan hal-hal biasa menjadi berita. Saya harap, di tahun ketiganya nanti, Panyingkul akan menerbitkan buku sepotong dunia di Panyingkul. Saya akan lebih bersemangat menceritakan tentang Iran he..he...

01-07-2008
Dari : itoeng guevara | daengitung@yahoo.co.uk
selamat Ulang tahun Panyingkul. panyingkul telah memberikan sebuah untaian makna bagi setiap orang yang jauh dari Makassar. good luck

01-07-2008
Dari : Iwan | Sandeqlopi
Selamat ulang tahun! 1 juli ini sy bisa akses panyingkul dimana saja,termasuk laut slama ada sinyal hehe, meski tdk ke warnet! Sy sdh booking Nilam utk ikut semua acara panyingkul pekan depan. Sampe ketemu didarat!

01-07-2008
Dari : fikri |
panyingkul tercinta..met ultah ya.kaykanya saya nda bisa ikut jumpa2 citrep panyingkul, coz lagy di jognya ada kegiatan. kecualai kalo diundur jady tgl 13 july 08..hikz..hikz..sedi hnya!



 :: CITIZEN REPORTER
Makassar di Panyingkul!: Sebuah Persembahan
(Kamis, 12-07-2007)
Ayo Bergabung di Panyingkul!
(Minggu, 29-04-2007)
Catatan Sederhana Para Citizen Reporter
(Selasa, 31-10-2006)
Tentang Citizen Reporter dan Rubrik di Panyingkul!
(Rabu, 11-10-2006)
Riuh Rendah di Panyingkul!
(Rabu, 16-08-2006)

Untitled Document
 :: DUNIA SEGIEMPAT KAREBOSI






 :: PILKADA




 :: ALBUM PUASA 2008




Untitled Document
 :: KONTAK TIM PANYINGKUL!

Email Redaksi :

redaksi@panyingkul.com

Tim:
yus@panyingkul.com
+62 813 226 80844

Moch. Hasymi
+62 811 955 954


© Juni 2006 - Panyingkul.com All Rights Reserved
Desain Web : Nesia Andriana -- Supported by: Yuhardin