|
|
| . |
| ::
|
| Selasa, 01-07-2008 | Edisi Ulang Tahun Ke-2 Buku Tahunan Indonesia di Panyingkul! :: Panyingkul! ::
| HARGA : Rp35.000
PEMESANAN :
Makassar:
Nilam Indahsari +62 81 241 229 089
M. Aan Mansyur +62 411-586459
Jakarta
Moch. Hasymi +62 811 955 954
Tokyo:
Lily dan Farid +81 90 188 95131
Tradisi penerbitan kabar warga pilihan Panyingkul! tahun ini memilih tema Indonesia di Panyingkul! -- sebuah kompilasi kabar tentang riwayat Coto Makassar hingga pelosok tempat tinggal Suku Talang Mamak di Riau dan negeri di atas awan, Takengon, Aceh. (p!)
|
“Kaget juga ketika tahu Panyingkul! ternyata baru berusia dua tahun! Saya sudah tidak ingat lagi apakah ada hari-hari yang saya lewati tanpa membaca berita-berita Panyingkul! Bagi saya, tulisan di media ini menarik, dalam dan berkualitas sehingga memang perlu dibukukan karena mutunya akan bertahan bertahun-tahun…” (Sirto Koolhof, Kepala Redaksi Indonesia, Radio Netherlands Worldwide, peneliti budaya dan sastra Bugis, Hilversum, Belanda)
Pengantar Editor
MERINDUKAN JURNALIS DARI PLANET MARS
Lily Yulianti & Farid M. Ibrahim
KETIKA “war on terror” menjadi topik utama menyusul serangan 11 September 2001, Noam Chomsky (Media Control, 2002: 69-100) secara hipotetis membayangkan seorang intelektual dari Planet Mars yang datang ke Harvard dan Columbia Journalism School untuk mempelajari segala “pengetahuan-tinggi” tentang jurnalisme. Si wartawan Mars tersebut akan memulai laporan jurnalistiknya, yang akan diterbitkan di planet asalnya, dengan pengamatan faktual: bahwa “war on terror” bukan dimulai pada 11 September 2001, melainkan sudah dideklarasikan sejak era Presiden Reagen di tahun 1980-an.
Pengamatan faktual, meskipun terdengar sebagai rumus klise ilmu jurnalistik, ternyata bukanlah perkara sepele. Chomsky sedang membeberkan bagaimana rumus simpel itu gagal diaplikasikan oleh media mainstream ketika menulis laporan tentang “war on terror”. Sementara si wartawan Mars dengan jernih bisa memberitakan, bahwa “musuh peradaban di tahun 2001 adalah para freedom fighter di tahun 1980-an yang diorganisir dan dipersenjatai oleh CIA serta dilatih oleh pasukan khusus yang sama, yang saat ini justru sedang memburu mereka di gua-gua Afghanistan”. Sayang sekali bahwa para wartawan dari Planet Bumi tidak melaporkan “war on terror” dalam konteks kontinuitas sejarah seperti itu.
Untunglah, bahwa di era informasi yang oleh McLuhan di tahun 1960-an disinyalir sebagai “perluasan teknologis kesadaran manusia”, tersedia pelbagai pilihan informasi yang wajar dan nyata, tidak sehipotetis yang ditawarkan Chomsky. McLuhan (Understanding Media, 2001:63) menyebut media sebagai “metafor aktif dalam kekuatannya melakukan translasi pengalaman manusia ke dalam bentuknya yang baru”. Yaitu, ke dalam bentuk informasi yang, berkat teknologi elektronika, semakin total dan inklusif. New media, yakni internet, bahkan memungkinkan kita melakukan dokumentasi dan translasi atas apa saja. Dengan internet, kesadaran manusia atas segala peristiwa yang terjadi, tidak bisa lagi menjadi eksklusif.
Peran tradisional yang dimainkan para editor di media mainstream pun semakin dipertanyakan justifikasi eksistensialnya, sebab setiap orang dengan perangkat-perangkat teknologi informasi telah dimungkinkan melaksanakan hal serupa. Slogan ”setiap orang adalah reporter” atau ”setiap orang adalah publisher” meski terdengar jargonistis bukanlah kemuskilan yang berlebih-lebihan. Jurnalisme pada akhirnya tidak bisa lagi dibekukan ke dalam pola relasi yang kaku antara peristiwa-wartawan-narasumber dengan atribut-atribut ”resmi”, sebab yang ”resmi” dalam hubungan ketiga elemen itu pada akhirnya adalah ”setiap orang”. Jika Rosihan Anwar menyebut ”wartawan sebagai pewaris nabi-nabi” yang menyampaikan kabar, maka kehadiran internet memungkinkan kita untuk menyebut ”setiap orang adalah pewaris nabi-nabi”. Berita tidak lagi dilihat sebagai produk yang didominasi wartawan dan institusi pers. Berkat internet, masyarakat biasa juga mampu menciptakan kekuatan baru sebagai penyampai kabar dan masuk dalam ekosistem media sebagai unsur yang aktif berinteraksi (Bowman dan Willis, Jurnal Citizen Journalism Universitas Harvad 2005: 6).
Eksperimen citizen journalism yang dijalankan Panyingkul! di Indonesia dalam dua tahun terakhir menunjukkan bahwa kekakuan pola relasi antara wartawan dan narasumber, misalnya, telah mencair. Para jurnalis warga telah membuktikan bahwa status sebagai wartawan, meskipun penting, bukan lagi determinan dalam mengakses informasi dari narasumber, atau peristiwa.
Pelbagai kabar yang disampaikan melalui situs www.panyingkul.com, yang pilihan-pilihan tematiknya kami anggap mewakili spirit jurnalisme orang biasa yang dihimpun dalam buku ini, memang masih mencoba membedakan diri dari kabar-kabar di media mainstream – terutama dalam pendekatannya kepada peristiwa. Ia bisa berupa kejadian yang telah lama, isu-isu yang terkesan sepele, sudut pandang yang personal atas peristiwa besar, atau bahkan fenomena yang tidak lagi mendapat tempat di media mainstream.
Sebanyak 38 tulisan yang terpilih dalam buku kedua ini secara jelas menunjukkan keinginan kuat para citizen reporter mengembalikan banyak hal yang telah lama hilang di media mainstream: pemaparan panjang tentang berbagai peristiwa yang lekat dengan keseharian, penggalian riwayat, upaya menghadirkan konteks yang melatari suatu kejadian, hingga upaya merangkum hasil penelitian demi membantu pembaca mendapat asupan informasi yang lengkap tentang manusia, tempat, sejarah dan peristiwa. Dari segi kualitas, seluruh tulisan ini kami anggap telah memenuhi standar jurnalistik yang berlaku umum, meski di sejumlah tulisan, semangat amateurisme masih tetap tampak jejaknya. Tanpa mengecilkan arti ratusan tulisan lainnya yang telah ditayangkan selama satu tahun terakhir, ke-38 tulisan inilah yang kami anggap mewakili jurnalisme warga yang digagas Panyingkul! sejak awal. Tulisan yang lahir dari inisiatif dan gairah berbagi kabar, yang ditulis secara komprehensif, mengandung kebaruan baik dalam tema maupun model penulisan, menunjukkan pemihakan pada rakyat banyak, serta mengeksplorasi hal-hal yang justru telah diabaikan media mainstream.
Para warga yang ”menjalankan secara sadar peran jurnalistik” ini adalah pelajar SMA, mahasiswa, pekerja profesional, peneliti dan orang biasa lainnya. Kehadiran mereka semakin menegaskan argumen Clyde H. Bentley, guru besar madya pada Sekolah Tinggi Jurnalistik Missouri AS, bahwa meski sebagian besar masyarakat tidak ingin menjadi jurnalis, tapi mereka ingin berkontribusi secara nyata dengan menuliskan pikiran atau pendapat mereka tentang suatu hal. Dan sekali lagi, kontribusi nyata ini dimungkinkan oleh kemajuan teknologi informasi yang melesat begitu cepat.
Dan Gilmor (We the Media, 2004: 236) menyebut internet sebagai media paling penting sejak ditemukannya alat cetak. Jika setelah Gutenberg memperkenalkan mesin cetak di abad ke-15, firman Tuhan terbebaskan dari kontrol para agamawan, maka setelah internet, firman Tuhan bahkan ditransformasikan secara lebih demokratis. Begitu banyak asumsi tentang media atau model bisnis yang dilabrak serta-merta oleh internet, dan karena itu pencarian perspektif masih terus berlangsung ketika hirarki top-down berubah menjadi, bukan saja demokratis, tapi juga acak-acakan. Panyingkul! mengawali upaya pencarian itu di Indonesia, 1 Juli 2006, dalam bentuk tertua informasi: berita.
Sekali lagi, perspektif yang dikembangkan Panyingkul!, adalah gairah berbagi kabar. Karena sebagai pengguna internet, kita didefinisikan oleh apa yang kita ketahui dan apa yang kita bagi. Bertolak dari sana, citizen journalism di waktu-waktu mendatang, tidak dapat lagi dibedakan dengan mainstream media, dalam pendekatan mereka kepada peristiwa. Pertemuan jurnalisme dan teknologi pada gilirannya akan membebaskan jurnalisme dari kontrol segelintir elit, sekaligus semakin memancangkan harapan bahwa warga biasa dapat memberi kontribusi luar biasa untuk menjadikan dunia ini lebih baik.
Karena itulah kami mengajak siapa saja – yang ingin berkontribusi menjadikan dunia ini lebih baik-- merayakan jurnalisme orang biasa di Panyingkul! sembari memikirkan bahwa citizen journalism hari ini digerakkan oleh para jurnalis dari Planet Mars yang dibayangkan Noam Chomsky. (p!)
|
| | Jumlah
Komentar (10) |
|
| Komentar :
29-05-2009 Dari : arsyam mawardi | mawardiarsyam@gmail.com saya belum lama ini
mengenal panyingkul
sebagai sebuah
komunitas di dunia
jurnalistik, saya
sangat tertarik
untuk menjadi bagian
dari panyingkul
lovers, gmn cara
bergabung di mailing
listnya???? sklgus
mw tahu cara
ngedpetin buknya..
salam perjuangan 09-05-2009 Dari : ZJCPnaxVvaSATgVNS | ozwsxr@wlthrx.com 6EEbfd
gtdntwupghor,
[url=http://xfvrhmpo
lrsb.com/]xfvrhmpolr
sb[/url],
[link=http://qfddlha
zxdky.com/]qfddlhazx
dky[/link],
http://jcuwqoxutpvc.
com/ 10-02-2009 Dari : Nur Aliem Halvaima | aliemhalvaima@yahoo.com Saya mengenal
panyingkul belum
lama, dua-tiga bulan
lalu, saat baca
koran yang
menyinggung soal web
berisi komunitas
orang
Bugis-Makassar.
Lama-lama ketagihan
juga akhirnya.
Bahkan ada beberapa
artikelnya saya
sengaja copy untuk
bahan literatur.
Saya juga tertarik
soal buku
panyingkul, tapi
tidak tahu caranya
untuk mendapatkan.
Ada yang bisa bantu?
Salam perantauan.
16-12-2008 Dari : Pertukaran Tokoh Muslim Muda Indonesia-A | phanggarini@yahoo.com.au Syarat-syarat
pendaftaran:
Pria dan Wanita
berusia di bawah 40
tahun.
Menyerahkan salinan
Kartu Tanda Penduduk
(KTP), atau Paspor.
Lancar berbicara
bahasa Inggris
dengan melampirkan
salinan nilai score
TOEFL (international
atau institusional)
minimal 450.
Menyertakan surat
rekomendasi dari
organisasi yang
menjelaskan
kedudukan pelamar
dalam organisasi
tersebut.
Melampirkan surat
pernyataan singkat
berisi:
apa yang dapat
diberikan pelamar
pada program
tersebut selama dan
sesudah kunjungan,
peran dari pelamar
dalam organisasi dan
alasan mengapa
tertarik pada
program ini,
bagaimana pelamar
akan membagi
pengalamannya selama
dan sesudah program.
Surat pernyataan ini
tidak boleh melebihi
2 halaman.
Melampirkan
Curriculum Vitae
terbaru (tanpa perlu
melampirkan seluruh
salinan sertifikat
atau dokumen yang
dimiliki).
Membuat surat
keterangan yang
mencantumkan:
nama organisasi atau
orang yang ingin
ditemui di
Australia.
hobby dan kebiasaan
di waktu luang.
tanggal terakhir
perjalanan ke
Australia, jika ada.
tanggal
keberangkatan ke
Australia, jika
terpilih.
alamat, fax atau
nomor telephone yang
dapat dihubungi.
Pasphoto 3 x 4 cm
sebanyak 2 lembar.
Salinan Akte
Kelahiran.
Melampirkan Surat
rekomendasi sebanyak
2 buah dari 2 orang
yang menyatakan
mengapa pelamar
adalah kandidat yang
tepat untuk
mengikuti program
ini.
Calon pelamar
disarankan untuk
hanya mengirimkan
persyaratan yang
disebutkan di atas.
Lamaran dapat
dikirim ke:
Panitia Pertukaran
Tokoh Muslim Muda
Indonesia-Australia
Universitas
Paramadina
Jl. Gatot Subroto
Kav. 97
Mampang, Jakarta
Selatan 12790
Tel:
62 21 7918 1188
Fax: 62 21 799 33 75
Batas akhir
pengiriman lamaran:
Jum’at, 9 Januari
2009 pukul 16.00
WIB.
Informasi lebih
lanjut hanya dapat
ditujukan melalui
email kepada:
phanggarini@yahoo.co
m.au
28-10-2008 Dari : ham | bwithm@gmail.com Happy Annyversary 21-08-2008 Dari : eva | nomoslogis@yahoo.co.id Happy B'day
Panyingkul 01-07-2008 Dari : Ismail Amin | ma_jpa@yahoo.com Selamat Ultah
Panyingkul. Lucu
juga, saya justru
baru mengenalmu
ketika saya jauh
dari Makassar...
Saya selalu
mengkhayalkan
berjalan
dilorong-lorong
Makassar untuk
menjadikan hal-hal
biasa menjadi
berita. Saya harap,
di tahun ketiganya
nanti, Panyingkul
akan menerbitkan
buku sepotong dunia
di Panyingkul. Saya
akan lebih
bersemangat
menceritakan tentang
Iran he..he... 01-07-2008 Dari : itoeng guevara | daengitung@yahoo.co.uk selamat Ulang tahun
Panyingkul.
panyingkul telah
memberikan sebuah
untaian makna bagi
setiap orang yang
jauh dari Makassar.
good luck 01-07-2008 Dari : Iwan | Sandeqlopi Selamat ulang tahun!
1 juli ini sy bisa
akses panyingkul
dimana saja,termasuk
laut slama ada
sinyal hehe, meski
tdk ke warnet! Sy
sdh booking Nilam
utk ikut semua acara
panyingkul pekan
depan. Sampe ketemu
didarat! 01-07-2008 Dari : fikri | panyingkul
tercinta..met ultah
ya.kaykanya saya nda
bisa ikut jumpa2
citrep panyingkul,
coz lagy di jognya
ada kegiatan.
kecualai kalo
diundur jady tgl 13
july
08..hikz..hikz..sedi
hnya! |
|
|
|
|
| ::
CITIZEN REPORTER |
 | (Kamis, 12-07-2007) |  | (Minggu, 29-04-2007) |  | (Selasa, 31-10-2006) |  | (Rabu, 11-10-2006) |  | (Rabu, 16-08-2006) | |
|
Untitled Document
| ::
DUNIA SEGIEMPAT KAREBOSI |
|
Untitled Document
| ::
KONTAK TIM PANYINGKUL! |
Email Redaksi :
redaksi@panyingkul.com
Tim:
yus@panyingkul.com
+62 813 226 80844
Moch. Hasymi
+62 811 955 954
|
|
|