Untitled Document
 


Untitled Document
.KITAKITA
:: Jika Anda di Panyingkul ::
 
 KABAR KITA
 
 BERANDAKITA
Kegilaan, Dari Cinta Mati di Pulau Rajuni Hingga Riwayat Kadang
:: Ivan Firdaus ::
Baba Guru, Mengenang Film Rhoma Irama di Klenteng Galesong
:: Kamaruddin Azis ::
Mengagumi Tenun Troso, Mengenang Tenun Sengkang
:: Suryadin Laoddang ::
Perempuan Besi di Gunung Perak (2-selesai)
:: M. Aan Mansyur ::
Perempuan Besi di Gunung Perak (1)
:: M. Aan Mansyur ::
 
 RISETKITA
Rasa Takut : Yang Dicitrakan, Yang Dipelihara
:: Aria W. Yudhistira ::
Risetkita: Pramoedya versus Sejarah Resmi
:: Nurhady Sirimorok ::
Hikayat Rumpon Nelayan Mandar
:: Muhammad Ridwan Alimuddin ::
Di Makassar Pernah Ada “Negeri Wajo”
:: Nurhady Sirimorok ::
Surat Itu Ditulis Upas kepada September
:: Nurhady Sirimorok ::
 
 BUKUKITA
 
 KATAKOTAKITA
Kenapa si Gondrong yang Maju?
:: Ivan Firdaus dan Mustamin al-Mandary ::
Karena ‘Rewa’ Badan Binasa
:: Sudirman Nasir ::
Yang Okkot, yang Salah Sambung
:: Nursamsu danTusiana Noor Alfisyahr ::
Kandala`ka`, Kusta Bila Dusta
:: Panyingkul ::
Ayo, Si(ng)kat Terussss..!
:: Panyingkul! ::

 
 TAHUKAHKITA
 

.
 ::
Kamis, 07-08-2008 
Hiroshima, Hiroshima Sampai Kapan pun…
:: Lily Yulianti Farid ::


Mulai akhir Juli, karangan bunga mulai dipajang satu-satu oleh pengunjung
Hiroshima Peace Memorial Park.
Foto: Lily Yulianti Farid.


Ini jelas kabar yang mengerikan: Rusia dan Amerika Serikat hingga hari ini memiliki cadangan lebih dari 10.000 hulu ledak nuklir; kapal selam AS bertenaga nuklir toh bisa berlabuh tenang di Sasebo, Nagasaki di tengah protes aktivis anti nuklir yang sayup; negara kekuatan nuklir lainnya juga seperti kuda tuli yang terus berlari dengan keyakinan, hanya dengan senjata nuklir rasa aman bisa dibangun. Dari Hiroshima, citizen reporter Lily Yulianti Farid membagi catatan berikut ini. (p!)
 

Kekejaman perang terekam jelas di Hiroshima. Dalam kata, dalam ingatan orang-orang, dalam cerita yang dibagi di jalan, di kafe dan rumah-rumah penduduk. “Namida Ame…,” kata Ichiro Ando, warga Hiroshima pertama yang saya temui. Ia mengomentari hujan yang turun sebentar di tengah hawa panas yang tak nyaman. Hari pertama Agustus tahun ini, ada hujan yang sesaat. Lakilaki berusia 56 tahun itu menyebutnya “hujan air mata”, namida ame, di bulan kedelapan, setiap tahun, di Hiroshima.

Hari itu, papan informasi cuaca di Stasiun Hiroshima memajang gambar matahari kuning tanpa awan dengan angka 38 derajat Celcius. Sungguh musim panas yang menyiksa. Tapi ajaib! Ada hujan yang melintas. “Saya dibesarkan dengan cerita-cerita seputar perang. Saya dulu sangat benci pada Amerika. Tapi tahu tidak? Anak kedua saya justru menikah dengan orang Amerika dan kini menetap di Los Angeles..”

Ia tertawa sejenak, lalu melanjutkan, “Saya pernah mengunjungi mereka sekali. Sekarang, anak-anak yang lebih muda, punya pikiran lain…mereka kurang suka nostalgia..,”

Pukul 8.15, 6 Agustus 1945, sekitar 300.000 penduduk, yang baru memulai kegiatan pagi di bawah langit musim panas yang benderang, disentakkan oleh ledakan yang luar biasa dahsyat, yang dalam sekejap meluluhlantakkan kota, menghentikan semua rutinitas. Bom atom “little boy” dijatuhkan pagi hari, dengan sasaran utama jembatan Aioi tepat di jantung kota. Sebuah eksperimen nuklir beberapa tahun sebelumnya di sebuah laboratorium di Manhattan, AS akhirnya dieksekusi di sini, yang kemudian menjadikan Hiroshima sebagai kota yang mendapat serangan senjata nuklir pertama di dunia. Mengapa Hiroshima? Di Museum Perdamaian Hiroshima ada penjelasan singkat: kota ini dianggap sebagai sasaran sempurna karena ia satu-satunya kota yang tidak memiliki kamp tawanan perang (prisoners of war).

Berapa orang yang mati? Banyak versinya. Yang sering kali dikutip adalah 140.000 korban jiwa hingga akhir tahun 1945. Separuh dari angka ini adalah kematian yang tercatat di hari pemboman. Berapa banyak yang terluka, sakit, menderita trauma dan menunggu kematian? Angka ini yang terus bertambah hingga hari ini.

Luka memang abadi di Hiroshima. Pukul 8.15, 6 Agustus 2008, 45.000 orang berkumpul di Hiroshima untuk mendengarkan angka kematian baru. Begitulah setiap tahun, di awal upacara peringatan jatuhnya bom atom, nama-nama orang yang mati dalam setahun, dibaca lantang di sela ributnya dengung ribuan tonggerek --serangga musim panas-- di perdu dan pohon Taman Perdamaian Hiroshima. Bila angka ini penting benar untuk dibacakan di berita hari ini, catatlah: dalam setahun terakhir 5.032 yang mati – yang kematiannya diakui negara sebagai kematian akibat radiasi. Merekalah para hibakusa atau orang yang menjadi korban bom atom.

Ichiro Ando mungkin benar, bahwa tak banyak lagi orang-orang muda Jepang yang betah mendengar nostalgia kalah perang dan kebangkitan sesudahnya. Generasi hari ini hanya melihat perang dan segala konsekuensinya melalui lembar-lembar dokumentasi yang dingin.


Yuki, memilih menjadi guru perdamaian.
Foto: Lily Yulianti Farid.



Tapi tak jauh dari Taman Perdamaian, ada Yuki Otsuji (22) yang menjadi pengecualian. Gadis manis ini sedang bersiap ke Rwanda, bergabung dengan tim pendidikan pasca perang di negara Afrika yang luluhlantak itu. Ini sebuah rencana yang diidamkannya sejak lama.

Ia tinggal di Tokyo, lahir dan besar di Hiroshima, berpenampilan layaknya anak muda kebanyakan, mengenakan T-shirt, celana selutut dan flat-shoes yang sedang tren. Yuki meringkas perjalanan karirnya sebagai Peace Educator, “Saya menghabiskan waktu satu tahun di Amerika dan Kanada, mengajarkan mata pelajaran perdamaian di sekolah dan universitas. Dalam setahun itu saya berbicara di 200 pertemuan dan bertemu lebih dari 5.000 pelajar dan mahasiswa. Dalam presentasi tentang Hiroshima dan Nagasaki, tidak sedikit yang menyalahkan Jepang di Perang Dunia Kedua, dan mengatakan Jepang pantas menerima ganjaran setelah terlebih dahulu menyerang Pearl Harbour.”

“Teman-teman saya bilang, mendengar Hiroshima seperti menyimak lagu lama yang terus menerus diputar, seperti diorama museum yang dimainkan secara otomatis dari pagi hingga sore. Di Tokyo tak banyak yang tertarik pada cerita-cerita seperti ini. Tapi saya lain, saya lahir di kota ini, di keluarga saya, cerita tentang kekejaman bom atom dituturkan turun temurun. Saya sendiri akan tetap kembali ke sini setiap tahun, bekerja untuk perdamaian!”

Yuki telah tiga tahun menjadi relawan di Konferensi Internasional Anti Bom Atom dan Bom Hidrogen yang diadakan setiap tahun di Hiroshima dan Nagasaki. Neneknya adalah seorang hibakusa. Radiasi bom atom merenggut nyawa sang nenek ketika Yuki berusia 10 tahun. Kematian itu kemudian menjadi cerita turun temurun di tengah keluarganya, bahwa sang nenek menderita kanker payudara. “Semasa hidupnya, nenek saya enggan bicara tentang tragedi bom atom itu. Ayah saya baru menceritakannya setelah nenek meninggal. Saya jadi berpikir-pikir, adakah orang yang sebaya dengan nenek saya yang tidak terdata sebagai hibakusa? Bukankah radiasi itu bisa menyebar, masuk ke tubuh siapa saja, dengan begitu halusnya?”

Dari Yuki, saya menyimak cerita tentang orang-orang yang enggan mengenang pemboman itu. “Mereka mudah menangis… juga memilih menutup mulut. Ingatan itu memang terlalu pahit.”



Chieko masih enggan bercerita.
Foto: Lily Yulianti Farid.


Ia rupanya tidak berlebihan soal ini. Di rumah jompo Funairi Mutsumien, saya menyaksikan tatapan penuh keengganan Chieko Fujihiro, yang masih tetap bugar di usia 82 tahun. Suster pendamping sebelumnya telah mewanti-wanti, jangan melontarkan pertanyaan yang melukai, ia akan enggan menjawab.

Chieko berusia 19 tahun ketika Hiroshima porak poranda. Ia berada sekitar 3,5 kilometer dari episentrum, baru saja memulai kesibukan paginya di tempat kerja. “Mengerikan…”

Ia menggumam. Saya mencoba sabar menunggu kalimat selanjutnya. “Mengerikan…” Ia memutar ingatannya tentang kota yang kacau di detik berikutnya ketika orang-orang berlarian ke jalan, berteriak kepanasan, meminta air. Histeris.

Apa yang disesalinya karena ia, yang waktu itu tidak terluka berat, begitu saja mengikuti aliran massa ikut turun ke jalan tanpa pelindung tubuh yang memadai – beberapa menit setelah penduduk menyadari bencana itu, siapa yang tahu bahwa kali ini yang terjadi bukan serangan udara yang biasa, melainkan bom atom dengan resiko radiasi luar biasa ganas?

Chieko mendekat ke arah kota, ingin mencari tahu kondisi rumah, ayah, kakak, dan seluruh keluarganya.

Cerita belum tuntas tapi suster yang mendampingi Chieko memberi isyarat. “Ia tak bisa dibiarkan lelah mengingat banyak hal…”. Kelanjutan cerita itu kemudian dibagi sang suster di koridor, bahwa Chieko terkena radiasi pada matanya. Hingga kini telah menjalani sembilan kali operasi mata.


Odetta bercermin di Hiroshima.
Foto: Lily Yulianti Farid.


Saat mengunjungi rumah jompo itu, bersama saya turut Odetta King, mahasiswi asal Washington DC. Ia membagi refleksinya. “Pertemuan dengan Chieko hari ini terasa sangat personal bagi saya. Coba lihat, usianya 19 tahun ketika Hiroshima dibom, sama dengan usia saya sekarang. Ia berada sekitar 3,5 kilometer dari pusat pemboman. Saya sendiri tinggal sekitar 2 mil dari Gedung Putih, tempat disusunnya berbagai kebijakan yang memastikan bahwa kami orang-orang Amerika harus senantiasa merasa aman. Tapi apa yang terjadi? Saya sendiri selalu merasa ketakutan, ancaman teror ada di mana-mana…dan saya tidak tahu sejauh mana pemerintah kami mampu memberi rasa aman itu? Menjamin rasa aman dengan nuklir? No way!”

Odetta menulis esai. Tentang Hiroshima, tentang perdamaian. Saat masih SD, Odetta membaca kisah tentang Sadako Sasaki, gadis kecil berusia 10 tahun, korban radiasi. Sadako bertekad membuat 1,000 origami burung bangau saat dirawat di RS Palang Merah Hiroshima. Origami itu diyakini bisa menumbuhkan harapannya berjuang melawan leukimia. Sadako meninggal delapan bulan kemudian, dan origami burung bangau itu dilanjutkan oleh banyak orang di seluruh Jepang dan di berbagai negara, hingga hari ini.

Odetta turun ke jalan. Di Hiroshima, di Nagasaki, bersama puluhan remaja lainnya membentang spanduk menuntut penghapusan senjata nuklir.
Dari Odetta saya belajar, bahwa apapun pekerjaan atau kehidupan yang kita pilih, berkontribusi secara nyata bagi perdamaian dunia adalah kewajiban.


Celeste bersuara lebih keras...
Foto: Lily Yulianti Farid.


Di hari berikutnya, saya menyimak orasi Celeste Zappala, pendiri Gold Star Families Speak Out, organisasi keluarga korban perang di Amerika Serikat. Celeste seorang ibu rumah tangga yang kini menjadi simbol perdamaian dan penentang perang yang gigih. Kematian putranya, Sersan Sherwood Baker di Baghdad pada tanggal 26 April 2004, menjadi titik balik dalam kehidupan Celeste. “Saat kita berkumpul di sini mengenang tragedi Hiroshima dan Nagasaki, di tempat lain di dunia ini, ada pihak-pihak yang juga berkumpul merencanakan perang berikutnya, membuat lebih banyak senjata, dan merancang aksi militer yang baru. Ada pihak-pihak yang berkumpul untuk menghitung-hitung untung yang bisa mereka raup dari perang…,” Celeste marah, tapi suaranya itu sekaligus membangkitkan semangat.

Ia bertutur lembut. Ia berbicara dengan tempo yang diperlambat, mengingatkan saya pada suara seorang ibu membacakan dongeng pengantar tidur. Ia melawan sekaligus mengajak. Katanya, “Suara kita harus lebih keras, keyakinan kita harus lebih kokoh, dan tawaran jalan keluar yang kita sodorkan harus lebih persuasif. Mewujudkan perdamaian adalah tugas yang paling sulit di dunia ini. Pemimpin dunia dan pemikir besar telah mengingatkan soal ini sepanjang masa..”

Tak mudah. Sungguh tak mudah mewujudkan perdamaian. Orang-orang yang bergelut dengan urusan ini adalah mereka yang punya daya tahan luar biasa. Lelah tapi tidak putus asa. Lihatlah hari ini, pelaksanaan perjanjian Non Proliferation Treaty (NPT) yang telah berusia 40 tahun, hanya jadi pepesan kosong. Kekuatan-kekuatan nuklir dunia makin kencang bertanding, bahkan mereka bisa dengan mudah berkelit dari kewajiban mewujudkan pelucutan senjata nukir sambil sibuk tuding sana sini ke Iran dan Korea Utara. Sudah tepatlah apa yang dikatakan Mohammed Ezzeldine Abdel-Moneim, penasehat khusus bidang Pelucutan Senjata Nuklir Liga Arab, “Kita orang-orang yang menyuarakan perdamaian kini mengalami kekecewaan. Kita ditelikung dan dikhianati…”

Disappointment, deception and betrayal. Tiga kata ini diulang-ulang para aktivis perdamaian yang satu per satu berbicara di Hiroshima. Hal yang paling nyata adalah menunggu tahun 2010, berharap NPT Review Conference membawa titik terang, apakah dunia yang bebas senjata nuklir betul-betul bisa terwujud atau kita bakal kembali ke tiga kata itu lagi: dissappointment, deception and betrayal sambil menunggu Agustus berikutnya, mendengar angka kematian baru, para hibakusa yang mati satu-satu. (p!)

*Citizen reporter Lily Yulianti Farid dapat dihubungi melalui email lily@panyingkul.com

| Beri Komentar| Jumlah Komentar (9) |

Komentar :

12-08-2008
Dari : Arsan |
ih manisnya odetta. ada nmr telponnya kt punya, K lili? tidak rasisji dia to?

12-08-2008
Dari : Basri | omnipresent12@yahoo.com
tapi katanya ada ungkapan yang menarik tentang Tuhan pada saat terjadi perang: "di manakah Tuhan pada saat perang?". lalu ada jg pepatah yunani yang terkenal; 'civis pacem para bellum'; kalau menginginkan perdamaian, maka bersiaplah untuk perang. lalu Stalin waktu lg stres karena PD II juga pernah berkata "kalau Anda ingin menghilangkan semua masalah di dunia, maka bunuh semua manusia", bla bla bla... bgmanami itu? (saya kutipji dari buku yg ada di bibli) he he he he

10-08-2008
Dari : Ismail Amin | Ma_ipa@yahoo.com
Dalam piramida makanan, tidak ada predator lagi di atas manusia. Manusia sendirilah yang memangsa sejenisnya sendiri, dan pemangsaan sesama manusia lebih sering melalui perang. Tidak jauh beda dengan hiroshima dan nagazaki, di iran pun sampai saat ini, efek radiasi penggunaan senjata kimia tentara irak pada perang irak-iran masih juga memakan korban. Bedanya, pemberitaan korban radiasi zat kimia di iran tidak segemerlap yang terjadi di jepang.

08-08-2008
Dari : Abraham Sapiria | sapiria212@yahoo.com
Bukankah menarik untuk merefleksikan kesalahan masa lalu menjadi sebuah kesadaran dan tindakan positif baru? Bagi individu pertanyaan ini bisa jadi sangat berguna. Tapi, coba sampaikan itu ke Pentagon atau Israel yang jelas-jelas menganggap kesalahan masa lalu sebagai kesalahan kolektif, sebagai kesalahan kaum, kesalahan entitas, kesalahan negara...Mereka melihat masa lalu sebagai akumulasi dendam kesumat dan kebencian yang mesti dihamburkan bagai anak-anak peluru...anyone?

08-08-2008
Dari : kapitipiti | kapitipitie@yahoo.co.jp
Memang benar Jepang saat itu juga sedang melakukan riset bom atom , bahkan berusaha mendatangkan bahan bakunya dari Jerman. Tapi tidak berarti bahwa AS bisa seenaknya membuat pengandaian-penganda ian untuk membenarkan tindakannya melakukan kekejaman terbesar dalam sejarah manusia dan siap mengulangi kekejaman tersebut dengan masih menyimpan hulu nuklir yg siap diledakkan kapan saja. Mungkin prinsipnya kalau bukan kita yg berlaku kejam maka kita yang dikejami. Entah dikemanakan semboyan "in god we trust" dalam membenarkan prinsip kejam tersebut.

08-08-2008
Dari : gregory similikity | waffen_ss26@yahoo.co.id
peta politik dunia memang tidak berubah sejak kekalahan hitler dan militeris jepang di tahun 1945. AS dengan nuklir-nuklirnya, begitupula inggris, rusia, dan sejumlah negara penandatangan pakta atlantik utara, sementara negeri-negeri di luar itu tidak boleh tanpa seizin AS dan sekutunya. ya, tidak adil memang. tapi kadang2 saya berpikir, bom atom di hiroshima itu mungkin sudah sepantasnya buat kekejaman serdadu jepang di sepanjang pasifik--yang katanya gemar memperkosa; kita tentu ingat 'jugun ianfu', sampai berperilaku kanibal dengan menyantap tawanan mereka jika kehabisan makanan. bahwa kemudian hiroshima dipilih karena di sana tidak ada kamp tawanan serdadu AS, lalu bom itu membunuh ratusanribu masyarakat sipil hiroshima, ekses setiap biji bom mungkin sudah akan seperti itu; menyasar tempat yang di sana tidak ada kawan, dan di saat bersamaan tidak bisa tidak membawa akibat samping. dan konon, cara berpikir militeris AS saat hendak membom hiroshima itu persis sama dengan cara berpikir militeris jepang saat hendak mengawali perang pasifik dengan menyerang pangkalan AS di pearlharbour. kita tidak tahu, seandainya jepang yang lebih dahulu menemukan formula bom nuklir--yang katanya formula milik AS untuk membuat little boy dan the fat man itu hanya curian dari ilmuwan2 jerman--, mungkin 'namida ame' itu tidak akan terjadi di hiroshima, tapi di pentagon, atau katakanlah di washington DC, atau Nyc, lalu ribuan hulu ledak nuklir hari ini tidak dimiliki oleh AS, tapi jepang, berikut agaknya bisa dipastikan bahwa separuh dunia saat ini berada di bawah koloni jepang, negara bernama indonesia tidak akan pernah ada, berikut seluruh 'saudara-saudara muda' tetap di bawah derita... dan sebagainya. tapi ini hanya pengandaian. kita tetap tidak tahu sejarah akan ke mana.. tapi jika kemudian orang2 jepang hari ini begitu membenci nuklir, maka pertanyaan yang mungkin layak diajukan adalah, atas dasar apa, mimpi setulusnya akan perdamaian, atau sekadar trauma akan masa lalu? dengan begitu kata 'sekadar' itu memang sudah seharusnya ditambahkan. tapi ini cuma menurut saya saja.

08-08-2008
Dari : Nuntung | daeng.nuntung@gmail.com
Brapa lama ini kesiang,tulisan dibuat? Kenapa nabagus sekali dibaca...salama'

07-08-2008
Dari : Muhammad Iqbal | iqbal_m70@yahoo.com
Negara yang paling banyak menyimpan cadangan nuklir adalah Amerika Serikat,nuklir adalah cadangan energi berikutnya setelah sumber energi dari fosil habis.

07-08-2008
Dari : Muh. Nur Taqwim | taqwimyunus@yahoo.co.id
Perang secara fisik memang menyakitkan, banyak menimbulkan korban jiwa, harta dan juga harapan. Menolak perang juga hal yang tidak mungkin. Bagi saya yang penting adalah selain menyuarakan anti perang (damai) dalam arti tidak menginginkan adanya perseteruan, makna subtansi perang harus dijelaskan secara terbuka. Misalnya, kita berperang untuk mempertahankan hak-hak azasi.



 :: CITIZEN REPORTER
Makassar di Panyingkul!: Sebuah Persembahan
(Kamis, 12-07-2007)
Ayo Bergabung di Panyingkul!
(Minggu, 29-04-2007)
Catatan Sederhana Para Citizen Reporter
(Selasa, 31-10-2006)
Tentang Citizen Reporter dan Rubrik di Panyingkul!
(Rabu, 11-10-2006)
Riuh Rendah di Panyingkul!
(Rabu, 16-08-2006)

Untitled Document
 :: DUNIA SEGIEMPAT KAREBOSI






 :: PILKADA




 :: ALBUM PUASA 2008




Untitled Document
 :: KONTAK TIM PANYINGKUL!

Email Redaksi :

redaksi@panyingkul.com

Tim:
yus@panyingkul.com
+62 813 226 80844

Moch. Hasymi
+62 811 955 954


© Juni 2006 - Panyingkul.com All Rights Reserved
Desain Web : Nesia Andriana -- Supported by: Yuhardin