|
|
| . |
| ::
|
| Kamis, 07-08-2008 | Hiroshima, Hiroshima Sampai Kapan pun… :: Lily Yulianti Farid ::
| Mulai akhir Juli, karangan bunga mulai dipajang satu-satu oleh pengunjung Hiroshima Peace Memorial Park. Foto: Lily Yulianti Farid.
Ini jelas kabar yang mengerikan: Rusia dan Amerika Serikat hingga hari ini memiliki cadangan lebih dari 10.000 hulu ledak nuklir; kapal selam AS bertenaga nuklir toh bisa berlabuh tenang di Sasebo, Nagasaki di tengah protes aktivis anti nuklir yang sayup; negara kekuatan nuklir lainnya juga seperti kuda tuli yang terus berlari dengan keyakinan, hanya dengan senjata nuklir rasa aman bisa dibangun. Dari Hiroshima, citizen reporter Lily Yulianti Farid membagi catatan berikut ini. (p!) | Kekejaman perang terekam jelas di Hiroshima. Dalam kata, dalam ingatan orang-orang, dalam cerita yang dibagi di jalan, di kafe dan rumah-rumah penduduk. “Namida Ame…,” kata Ichiro Ando, warga Hiroshima pertama yang saya temui. Ia mengomentari hujan yang turun sebentar di tengah hawa panas yang tak nyaman. Hari pertama Agustus tahun ini, ada hujan yang sesaat. Lakilaki berusia 56 tahun itu menyebutnya “hujan air mata”, namida ame, di bulan kedelapan, setiap tahun, di Hiroshima.
Hari itu, papan informasi cuaca di Stasiun Hiroshima memajang gambar matahari kuning tanpa awan dengan angka 38 derajat Celcius. Sungguh musim panas yang menyiksa. Tapi ajaib! Ada hujan yang melintas.
“Saya dibesarkan dengan cerita-cerita seputar perang. Saya dulu sangat benci pada Amerika. Tapi tahu tidak? Anak kedua saya justru menikah dengan orang Amerika dan kini menetap di Los Angeles..”
Ia tertawa sejenak, lalu melanjutkan, “Saya pernah mengunjungi mereka sekali. Sekarang, anak-anak yang lebih muda, punya pikiran lain…mereka kurang suka nostalgia..,”
Pukul 8.15, 6 Agustus 1945, sekitar 300.000 penduduk, yang baru memulai kegiatan pagi di bawah langit musim panas yang benderang, disentakkan oleh ledakan yang luar biasa dahsyat, yang dalam sekejap meluluhlantakkan kota, menghentikan semua rutinitas. Bom atom “little boy” dijatuhkan pagi hari, dengan sasaran utama jembatan Aioi tepat di jantung kota. Sebuah eksperimen nuklir beberapa tahun sebelumnya di sebuah laboratorium di Manhattan, AS akhirnya dieksekusi di sini, yang kemudian menjadikan Hiroshima sebagai kota yang mendapat serangan senjata nuklir pertama di dunia. Mengapa Hiroshima? Di Museum Perdamaian Hiroshima ada penjelasan singkat: kota ini dianggap sebagai sasaran sempurna karena ia satu-satunya kota yang tidak memiliki kamp tawanan perang (prisoners of war).
Berapa orang yang mati? Banyak versinya. Yang sering kali dikutip adalah 140.000 korban jiwa hingga akhir tahun 1945. Separuh dari angka ini adalah kematian yang tercatat di hari pemboman. Berapa banyak yang terluka, sakit, menderita trauma dan menunggu kematian? Angka ini yang terus bertambah hingga hari ini.
Luka memang abadi di Hiroshima. Pukul 8.15, 6 Agustus 2008, 45.000 orang berkumpul di Hiroshima untuk mendengarkan angka kematian baru. Begitulah setiap tahun, di awal upacara peringatan jatuhnya bom atom, nama-nama orang yang mati dalam setahun, dibaca lantang di sela ributnya dengung ribuan tonggerek --serangga musim panas-- di perdu dan pohon Taman Perdamaian Hiroshima. Bila angka ini penting benar untuk dibacakan di berita hari ini, catatlah: dalam setahun terakhir 5.032 yang mati – yang kematiannya diakui negara sebagai kematian akibat radiasi. Merekalah para hibakusa atau orang yang menjadi korban bom atom.
Ichiro Ando mungkin benar, bahwa tak banyak lagi orang-orang muda Jepang yang betah mendengar nostalgia kalah perang dan kebangkitan sesudahnya. Generasi hari ini hanya melihat perang dan segala konsekuensinya melalui lembar-lembar dokumentasi yang dingin.
Yuki, memilih menjadi guru perdamaian. Foto: Lily Yulianti Farid.
Tapi tak jauh dari Taman Perdamaian, ada Yuki Otsuji (22) yang menjadi pengecualian. Gadis manis ini sedang bersiap ke Rwanda, bergabung dengan tim pendidikan pasca perang di negara Afrika yang luluhlantak itu. Ini sebuah rencana yang diidamkannya sejak lama.
Ia tinggal di Tokyo, lahir dan besar di Hiroshima, berpenampilan layaknya anak muda kebanyakan, mengenakan T-shirt, celana selutut dan flat-shoes yang sedang tren. Yuki meringkas perjalanan karirnya sebagai Peace Educator, “Saya menghabiskan waktu satu tahun di Amerika dan Kanada, mengajarkan mata pelajaran perdamaian di sekolah dan universitas. Dalam setahun itu saya berbicara di 200 pertemuan dan bertemu lebih dari 5.000 pelajar dan mahasiswa. Dalam presentasi tentang Hiroshima dan Nagasaki, tidak sedikit yang menyalahkan Jepang di Perang Dunia Kedua, dan mengatakan Jepang pantas menerima ganjaran setelah terlebih dahulu menyerang Pearl Harbour.”
“Teman-teman saya bilang, mendengar Hiroshima seperti menyimak lagu lama yang terus menerus diputar, seperti diorama museum yang dimainkan secara otomatis dari pagi hingga sore. Di Tokyo tak banyak yang tertarik pada cerita-cerita seperti ini. Tapi saya lain, saya lahir di kota ini, di keluarga saya, cerita tentang kekejaman bom atom dituturkan turun temurun. Saya sendiri akan tetap kembali ke sini setiap tahun, bekerja untuk perdamaian!”
Yuki telah tiga tahun menjadi relawan di Konferensi Internasional Anti Bom Atom dan Bom Hidrogen yang diadakan setiap tahun di Hiroshima dan Nagasaki. Neneknya adalah seorang hibakusa. Radiasi bom atom merenggut nyawa sang nenek ketika Yuki berusia 10 tahun. Kematian itu kemudian menjadi cerita turun temurun di tengah keluarganya, bahwa sang nenek menderita kanker payudara. “Semasa hidupnya, nenek saya enggan bicara tentang tragedi bom atom itu. Ayah saya baru menceritakannya setelah nenek meninggal. Saya jadi berpikir-pikir, adakah orang yang sebaya dengan nenek saya yang tidak terdata sebagai hibakusa? Bukankah radiasi itu bisa menyebar, masuk ke tubuh siapa saja, dengan begitu halusnya?”
Dari Yuki, saya menyimak cerita tentang orang-orang yang enggan mengenang pemboman itu. “Mereka mudah menangis… juga memilih menutup mulut. Ingatan itu memang terlalu pahit.”
Chieko masih enggan bercerita. Foto: Lily Yulianti Farid.
Ia rupanya tidak berlebihan soal ini. Di rumah jompo Funairi Mutsumien, saya menyaksikan tatapan penuh keengganan Chieko Fujihiro, yang masih tetap bugar di usia 82 tahun. Suster pendamping sebelumnya telah mewanti-wanti, jangan melontarkan pertanyaan yang melukai, ia akan enggan menjawab.
Chieko berusia 19 tahun ketika Hiroshima porak poranda. Ia berada sekitar 3,5 kilometer dari episentrum, baru saja memulai kesibukan paginya di tempat kerja. “Mengerikan…”
Ia menggumam. Saya mencoba sabar menunggu kalimat selanjutnya. “Mengerikan…” Ia memutar ingatannya tentang kota yang kacau di detik berikutnya ketika orang-orang berlarian ke jalan, berteriak kepanasan, meminta air. Histeris.
Apa yang disesalinya karena ia, yang waktu itu tidak terluka berat, begitu saja mengikuti aliran massa ikut turun ke jalan tanpa pelindung tubuh yang memadai – beberapa menit setelah penduduk menyadari bencana itu, siapa yang tahu bahwa kali ini yang terjadi bukan serangan udara yang biasa, melainkan bom atom dengan resiko radiasi luar biasa ganas?
Chieko mendekat ke arah kota, ingin mencari tahu kondisi rumah, ayah, kakak, dan seluruh keluarganya.
Cerita belum tuntas tapi suster yang mendampingi Chieko memberi isyarat. “Ia tak bisa dibiarkan lelah mengingat banyak hal…”. Kelanjutan cerita itu kemudian dibagi sang suster di koridor, bahwa Chieko terkena radiasi pada matanya. Hingga kini telah menjalani sembilan kali operasi mata.
Odetta bercermin di Hiroshima. Foto: Lily Yulianti Farid.
Saat mengunjungi rumah jompo itu, bersama saya turut Odetta King, mahasiswi asal Washington DC. Ia membagi refleksinya. “Pertemuan dengan Chieko hari ini terasa sangat personal bagi saya. Coba lihat, usianya 19 tahun ketika Hiroshima dibom, sama dengan usia saya sekarang. Ia berada sekitar 3,5 kilometer dari pusat pemboman. Saya sendiri tinggal sekitar 2 mil dari Gedung Putih, tempat disusunnya berbagai kebijakan yang memastikan bahwa kami orang-orang Amerika harus senantiasa merasa aman. Tapi apa yang terjadi? Saya sendiri selalu merasa ketakutan, ancaman teror ada di mana-mana…dan saya tidak tahu sejauh mana pemerintah kami mampu memberi rasa aman itu? Menjamin rasa aman dengan nuklir? No way!”
Odetta menulis esai. Tentang Hiroshima, tentang perdamaian. Saat masih SD, Odetta membaca kisah tentang Sadako Sasaki, gadis kecil berusia 10 tahun, korban radiasi. Sadako bertekad membuat 1,000 origami burung bangau saat dirawat di RS Palang Merah Hiroshima. Origami itu diyakini bisa menumbuhkan harapannya berjuang melawan leukimia. Sadako meninggal delapan bulan kemudian, dan origami burung bangau itu dilanjutkan oleh banyak orang di seluruh Jepang dan di berbagai negara, hingga hari ini.
Odetta turun ke jalan. Di Hiroshima, di Nagasaki, bersama puluhan remaja lainnya membentang spanduk menuntut penghapusan senjata nuklir.
Dari Odetta saya belajar, bahwa apapun pekerjaan atau kehidupan yang kita pilih, berkontribusi secara nyata bagi perdamaian dunia adalah kewajiban.
Celeste bersuara lebih keras... Foto: Lily Yulianti Farid.
Di hari berikutnya, saya menyimak orasi Celeste Zappala, pendiri Gold Star Families Speak Out, organisasi keluarga korban perang di Amerika Serikat. Celeste seorang ibu rumah tangga yang kini menjadi simbol perdamaian dan penentang perang yang gigih. Kematian putranya, Sersan Sherwood Baker di Baghdad pada tanggal 26 April 2004, menjadi titik balik dalam kehidupan Celeste. “Saat kita berkumpul di sini mengenang tragedi Hiroshima dan Nagasaki, di tempat lain di dunia ini, ada pihak-pihak yang juga berkumpul merencanakan perang berikutnya, membuat lebih banyak senjata, dan merancang aksi militer yang baru. Ada pihak-pihak yang berkumpul untuk menghitung-hitung untung yang bisa mereka raup dari perang…,” Celeste marah, tapi suaranya itu sekaligus membangkitkan semangat.
Ia bertutur lembut. Ia berbicara dengan tempo yang diperlambat, mengingatkan saya pada suara seorang ibu membacakan dongeng pengantar tidur. Ia melawan sekaligus mengajak. Katanya, “Suara kita harus lebih keras, keyakinan kita harus lebih kokoh, dan tawaran jalan keluar yang kita sodorkan harus lebih persuasif. Mewujudkan perdamaian adalah tugas yang paling sulit di dunia ini. Pemimpin dunia dan pemikir besar telah mengingatkan soal ini sepanjang masa..”
Tak mudah. Sungguh tak mudah mewujudkan perdamaian. Orang-orang yang bergelut dengan urusan ini adalah mereka yang punya daya tahan luar biasa. Lelah tapi tidak putus asa. Lihatlah hari ini, pelaksanaan perjanjian Non Proliferation Treaty (NPT) yang telah berusia 40 tahun, hanya jadi pepesan kosong. Kekuatan-kekuatan nuklir dunia makin kencang bertanding, bahkan mereka bisa dengan mudah berkelit dari kewajiban mewujudkan pelucutan senjata nukir sambil sibuk tuding sana sini ke Iran dan Korea Utara. Sudah tepatlah apa yang dikatakan Mohammed Ezzeldine Abdel-Moneim, penasehat khusus bidang Pelucutan Senjata Nuklir Liga Arab, “Kita orang-orang yang menyuarakan perdamaian kini mengalami kekecewaan. Kita ditelikung dan dikhianati…”
Disappointment, deception and betrayal. Tiga kata ini diulang-ulang para aktivis perdamaian yang satu per satu berbicara di Hiroshima. Hal yang paling nyata adalah menunggu tahun 2010, berharap NPT Review Conference membawa titik terang, apakah dunia yang bebas senjata nuklir betul-betul bisa terwujud atau kita bakal kembali ke tiga kata itu lagi: dissappointment, deception and betrayal sambil menunggu Agustus berikutnya, mendengar angka kematian baru, para hibakusa yang mati satu-satu. (p!)
*Citizen reporter Lily Yulianti Farid dapat dihubungi melalui email lily@panyingkul.com
|
| | Jumlah
Komentar (9) |
|
| Komentar :
12-08-2008 Dari : Arsan | ih manisnya odetta.
ada nmr telponnya kt
punya, K lili? tidak
rasisji dia to? 12-08-2008 Dari : Basri | omnipresent12@yahoo.com tapi katanya ada
ungkapan yang
menarik tentang
Tuhan pada saat
terjadi perang: "di
manakah Tuhan pada
saat perang?". lalu
ada jg pepatah
yunani yang
terkenal; 'civis
pacem para bellum';
kalau menginginkan
perdamaian, maka
bersiaplah untuk
perang. lalu Stalin
waktu lg stres
karena PD II juga
pernah berkata
"kalau Anda ingin
menghilangkan semua
masalah di dunia,
maka bunuh semua
manusia", bla bla
bla... bgmanami itu?
(saya kutipji dari
buku yg ada di
bibli) he he he he 10-08-2008 Dari : Ismail Amin | Ma_ipa@yahoo.com Dalam piramida
makanan, tidak ada
predator lagi di
atas manusia.
Manusia sendirilah
yang memangsa
sejenisnya sendiri,
dan pemangsaan
sesama manusia lebih
sering melalui
perang. Tidak jauh
beda dengan
hiroshima dan
nagazaki, di iran
pun sampai saat ini,
efek radiasi
penggunaan senjata
kimia tentara irak
pada perang
irak-iran masih juga
memakan korban.
Bedanya, pemberitaan
korban radiasi zat
kimia di iran tidak
segemerlap yang
terjadi di jepang. 08-08-2008 Dari : Abraham Sapiria | sapiria212@yahoo.com Bukankah menarik
untuk merefleksikan
kesalahan masa lalu
menjadi sebuah
kesadaran dan
tindakan positif
baru? Bagi individu
pertanyaan ini bisa
jadi sangat berguna.
Tapi, coba sampaikan
itu ke Pentagon atau
Israel yang
jelas-jelas
menganggap kesalahan
masa lalu sebagai
kesalahan kolektif,
sebagai kesalahan
kaum, kesalahan
entitas, kesalahan
negara...Mereka
melihat masa lalu
sebagai akumulasi
dendam kesumat dan
kebencian yang mesti
dihamburkan bagai
anak-anak
peluru...anyone? 08-08-2008 Dari : kapitipiti | kapitipitie@yahoo.co.jp Memang benar Jepang
saat itu juga sedang
melakukan riset bom
atom , bahkan
berusaha
mendatangkan bahan
bakunya dari Jerman.
Tapi tidak berarti
bahwa AS bisa
seenaknya membuat
pengandaian-penganda
ian untuk
membenarkan
tindakannya
melakukan kekejaman
terbesar dalam
sejarah manusia dan
siap mengulangi
kekejaman tersebut
dengan masih
menyimpan hulu
nuklir yg siap
diledakkan kapan
saja. Mungkin
prinsipnya kalau
bukan kita yg
berlaku kejam maka
kita yang dikejami.
Entah dikemanakan
semboyan "in god we
trust" dalam
membenarkan prinsip
kejam tersebut. 08-08-2008 Dari : gregory similikity | waffen_ss26@yahoo.co.id peta politik dunia
memang tidak berubah
sejak kekalahan
hitler dan militeris
jepang di tahun
1945. AS dengan
nuklir-nuklirnya,
begitupula inggris,
rusia, dan sejumlah
negara penandatangan
pakta atlantik
utara, sementara
negeri-negeri di
luar itu tidak boleh
tanpa seizin AS dan
sekutunya. ya, tidak
adil memang. tapi
kadang2 saya
berpikir, bom atom
di hiroshima itu
mungkin sudah
sepantasnya buat
kekejaman serdadu
jepang di sepanjang
pasifik--yang
katanya gemar
memperkosa; kita
tentu ingat 'jugun
ianfu', sampai
berperilaku kanibal
dengan menyantap
tawanan mereka jika
kehabisan makanan.
bahwa kemudian
hiroshima dipilih
karena di sana tidak
ada kamp tawanan
serdadu AS, lalu bom
itu membunuh
ratusanribu
masyarakat sipil
hiroshima, ekses
setiap biji bom
mungkin sudah akan
seperti itu;
menyasar tempat yang
di sana tidak ada
kawan, dan di saat
bersamaan tidak bisa
tidak membawa akibat
samping. dan konon,
cara berpikir
militeris AS saat
hendak membom
hiroshima itu persis
sama dengan cara
berpikir militeris
jepang saat hendak
mengawali perang
pasifik dengan
menyerang pangkalan
AS di pearlharbour.
kita tidak tahu,
seandainya jepang
yang lebih dahulu
menemukan formula
bom nuklir--yang
katanya formula
milik AS untuk
membuat little boy
dan the fat man itu
hanya curian dari
ilmuwan2 jerman--,
mungkin 'namida ame'
itu tidak akan
terjadi di
hiroshima, tapi di
pentagon, atau
katakanlah di
washington DC, atau
Nyc, lalu ribuan
hulu ledak nuklir
hari ini tidak
dimiliki oleh AS,
tapi jepang, berikut
agaknya bisa
dipastikan bahwa
separuh dunia saat
ini berada di bawah
koloni jepang,
negara bernama
indonesia tidak akan
pernah ada, berikut
seluruh
'saudara-saudara
muda' tetap di bawah
derita... dan
sebagainya. tapi ini
hanya pengandaian.
kita tetap tidak
tahu sejarah akan ke
mana.. tapi jika
kemudian orang2
jepang hari ini
begitu membenci
nuklir, maka
pertanyaan yang
mungkin layak
diajukan adalah,
atas dasar apa,
mimpi setulusnya
akan perdamaian,
atau sekadar trauma
akan masa lalu?
dengan begitu kata
'sekadar' itu memang
sudah seharusnya
ditambahkan. tapi
ini cuma menurut
saya saja.
08-08-2008 Dari : Nuntung | daeng.nuntung@gmail.com Brapa lama ini
kesiang,tulisan
dibuat? Kenapa
nabagus sekali
dibaca...salama' 07-08-2008 Dari : Muhammad Iqbal | iqbal_m70@yahoo.com Negara yang paling
banyak menyimpan
cadangan nuklir
adalah Amerika
Serikat,nuklir
adalah cadangan
energi berikutnya
setelah sumber
energi dari fosil
habis. 07-08-2008 Dari : Muh. Nur Taqwim | taqwimyunus@yahoo.co.id Perang secara fisik
memang menyakitkan,
banyak menimbulkan
korban jiwa, harta
dan juga harapan.
Menolak perang juga
hal yang tidak
mungkin. Bagi saya
yang penting adalah
selain menyuarakan
anti perang (damai)
dalam arti tidak
menginginkan adanya
perseteruan, makna
subtansi perang
harus dijelaskan
secara terbuka.
Misalnya, kita
berperang untuk
mempertahankan
hak-hak azasi. |
|
|
|
|
| ::
CITIZEN REPORTER |
 | (Kamis, 12-07-2007) |  | (Minggu, 29-04-2007) |  | (Selasa, 31-10-2006) |  | (Rabu, 11-10-2006) |  | (Rabu, 16-08-2006) | |
|
Untitled Document
| ::
DUNIA SEGIEMPAT KAREBOSI |
|
Untitled Document
| ::
KONTAK TIM PANYINGKUL! |
Email Redaksi :
redaksi@panyingkul.com
Tim:
yus@panyingkul.com
+62 813 226 80844
Moch. Hasymi
+62 811 955 954
|
|
|