Untitled Document
 


Untitled Document
.KITAKITA
:: Jika Anda di Panyingkul ::
 
 KABAR KITA
 
 BERANDAKITA
Kegilaan, Dari Cinta Mati di Pulau Rajuni Hingga Riwayat Kadang
:: Ivan Firdaus ::
Baba Guru, Mengenang Film Rhoma Irama di Klenteng Galesong
:: Kamaruddin Azis ::
Mengagumi Tenun Troso, Mengenang Tenun Sengkang
:: Suryadin Laoddang ::
Perempuan Besi di Gunung Perak (2-selesai)
:: M. Aan Mansyur ::
Perempuan Besi di Gunung Perak (1)
:: M. Aan Mansyur ::
 
 RISETKITA
Rasa Takut : Yang Dicitrakan, Yang Dipelihara
:: Aria W. Yudhistira ::
Risetkita: Pramoedya versus Sejarah Resmi
:: Nurhady Sirimorok ::
Hikayat Rumpon Nelayan Mandar
:: Muhammad Ridwan Alimuddin ::
Di Makassar Pernah Ada “Negeri Wajo”
:: Nurhady Sirimorok ::
Surat Itu Ditulis Upas kepada September
:: Nurhady Sirimorok ::
 
 BUKUKITA
 
 KATAKOTAKITA
Kenapa si Gondrong yang Maju?
:: Ivan Firdaus dan Mustamin al-Mandary ::
Karena ‘Rewa’ Badan Binasa
:: Sudirman Nasir ::
Yang Okkot, yang Salah Sambung
:: Nursamsu danTusiana Noor Alfisyahr ::
Kandala`ka`, Kusta Bila Dusta
:: Panyingkul ::
Ayo, Si(ng)kat Terussss..!
:: Panyingkul! ::

 
 TAHUKAHKITA
 

.
 ::
Kamis, 07-08-2008 
Kisah Dua Waria, Bertahan di Profesi Terhormat
:: Kamaruddin Azis ::


Waty (kiri) dan Lana (kanan), mencari penghidupan yang terhormat.
Foto : Kamaruddin Azis


Kaum waria, atau "kawe-kawe" dalam bahasa Makassarnya, adalah termasuk salah satu kelompok yang terpinggirkan dalam masyarakat umum. Pengucilan yang secara alami dijalankan masyarakat setempat ternyata bisa memerosokkan mereka ke dunia yang lebih gelap lagi. Citizen reporter Kamaruddin Azis membagi kisah dua orang waria yang tetap menjaga kehormatan mereka dengan mencari nafkah secara terhormat. (p!)
 

KM Kambuno, jelang Ramadan, 1998. Kapal yang saya tumpangi dari Jakarta menuju Makassar telah tiba di Pelabuhan Soekarno Hatta, pelabuhan kapal terbesar di ibukota Sulawesi Selatan itu. Saat saya menuruni tangga kapal tua yang sedang penuh sesak itu, saya dikejutkan oleh sapaan seorang kawe-kawe, istilah lokal Makassar untuk waria. Berdialek Makassar, dengan nada bicara yang sepertinya akrab di telinga saya.

”Oe, battu kemaeko?” sapanya, menanyakan saya dan seorang kawan yang juga ikut kaget, datang dari mana.

”Oe, battu-a ri Jakarta,” kata saya masih dalam perasaan terkejut. Maklumlah, penumpang kapal yang berangkat dari Jakarta itu, berasal dari suku yang berbeda-beda. Saya terkejut tiba-tiba disapa orang yang sebelumnya tidak saya kenal, dengan logat daerah asal saya. ”Ikau iyya?” sapa saya kembali, menanyakan hal yang sama padanya.

”Battu tonga ri Jakarta,” katanya memberitahu ia juga dari Jakarta. Cara berbicara terkesan spontan dan genit, ”...saya pulang libur dulu karena mau bulan suci.”

Sapaan singkat di kapal itu membawa perkenalan kami lebih lanjut, karena ternyata memang kami berasal dari daerah yang sama. Namun komunikasi kami sempat terputus. Hingga, beberapa hari yang lalu, saya mendapat kabar bahwa waria tersebut telah meninggal. Hanya sekitar dua tahun ia sempat tinggal di Jakarta sebelum ajal menjemputnya, disusul dua rekan warianya yang lain. Orang-orang yang mengenalnya mengaku tidak mengetahui secara pasti penyakit yang dideritanya, namun, menurut mereka yang sempat berinteraksi, waria tersebut sangat kurus sebelum meninggal.

Peristiwa tersebut mendorong saya untuk lebih jauh menggali soal kehidupan waria di daerah saya, Galesong. Bagaimana mereka bisa bertahan hidup, mengisi waktu dan mengasah kemampuan dalam menjalani roda kehidupan.

Tak bisa dipungkiri adanya pencitraan yang cenderung negatif di tengah masyarakat setempat terkait dengan waria-waria ini. Sepertinya, banyak yang lupa bahwa mereka juga termasuk faktor penentu yang turut terkait dalam sukses-tidaknya pelaksanaan pesta sakral pernikahan warga.

Salah satu waria yang mewakili peran tersebut adalah Lana. Usianya kira-kira 30 tahun. Dia sudah bekerja sebagai asisten Haji Gajang. Tugasnya adalah memasang lamming atau pakaian pesta perkawinan, atau dipakai juga dalam pesta khitanan. Lana memiliki rekan seprofesi, namanya Wati. Saat bertemu, mereka sedang berkemas untuk berangkat ke Desa Mario, sebuah daerah yang terletak di Galesong Selatan. Rupanya, mereka dipesan untuk memasang lamming atau hiasan dinding rumah atau pelaminan untuk acara yang akan digelar pada hari Minggu, 20 Juli 2008. Meski nama Wati terkesan lebih feminin, namun kalau dilihat dari penampilannya, Wati lebih maskulin lantaran ia mempertahankan bulu-bulu di dadanya.

Ladang pekerjaan utama Haji Gajang adalah merias pengantin. Haji Gajang telah mempekerjakan Lana dan Wati sejak beberapa tahun yang lalu. Secara khusus, tugas kedua waria ini selain mempersiapkan dan memasang lamming di dalam rumah, juga membawa pakaian khas Makassar, seperti baju bodo, songkok guru, lengkap dengan aksesorisnya. Haji Gajang tidak ingin merinci pendapatannya sebulan, namun ia mengaku cukup puas dan mampu memenuhi kebutuhan diri dan keluarganya.

Haji Gajang mengaku usahanya sudah ia rintis sejak 20 tahun terakhir. Ia melengkapi keahliannya dengan mengikuti berbagai kursus keterampilan sejak 15 tahun terakhir. Profesi Haji Gajang sebagai penata rias sepertinya memang sudah cukup dikenal masyarakat. Ini dilihat dari beberapa foto yang terpampang di dinding ruang dalam rumahnya, di mana beberapa di antaranya adalah foto bersama bupati Takalar dan Gubernur Sulsel sekarang, yang mana pada waktu foto diambil, masih menjabat sebagai Bupati Gowa.

Usaha yang dirintisnya sesekali menemui masalah juga, aku Haji Gajang. Saat sedang melaksanakan tugas, kerap diganggu orang-orang usil. Namun, Haji Gajang menganggapnya biasa saja, dan menekankan pada para pekerjanya agar fokus saja dengan tujuan utama bekerja, yaitu memberi kepuasan kepada klien dan turut menyukseskan acara yang digelar.

Lana dan Waty merasa beruntung diterima bekerja di tempat Haji Gajang. Mereka menikmati masa-masa produktif dengan predikat waria yang tetap mereka sandang. Mereka menyadari bahwa banyak orang tergoda untuk mengganggu karena predikat tersebut, namun mereka memilih untuk tetap sabar karena profesi ini dirasakan mereka lebih terhormat dibanding pekerjaan lainnya.

”Adama’ sepuluh tahun kerja sama Haji Gajang. Saya senang karena dapat uang dengan cara halal,” kata Lana dengan lincah, dalam sebuh pertemuan di tengah pesta di daerah Bayowa, Desa Galesong Baru, Galesong Selatan, Takalar. Dalam pertemuan itu saya tanyakan soal kabar teman-teman warianya yang lain. Lana menunjukkan raut wajah yang muran dan terdiam beberapa saat.

”Eee..., kamma memang minjo kapang punna jai dudu erotta,” ungkapnya dengan gemulai. Artinya, begitulah memang kalau terlalu banyak mau. Mungkin maksudnya, begitulah resikonya jika manusia terlalu besar cita-citanya.

Beberapa tahun lalu, tepatnya sekitar tahun 90-an, beberapa waria meninggal dalam waktu yang berdekatan. Masih sedikit informasi soal kejadian ini, namun setidaknya diketahui bahwa mereka rata-rata bekerja di bidang yang rentan ketularan penyakit ganas.

Membuka ladang pekerjaan baru yang lebih ”sehat” bagi kaum waria seperti yang dilakukan Haji Gajang bisa jadi akan menyelamatkan mereka dari resiko terjangkiti penyakit seksual yang ganas. Dunia mereka tetap menyatu dengan dunia apa adanya, tidak bisa disembunyikan ataupun bersembunyi dan hanya berkutat dengan masalah-masalah kaumnya sendiri. Sosialisasi dan interaksi yang saling menguntungkan berbagai pihak memang sepatutnya dipikirkan. Di samping itu, perlu juga diupayakan agar informasi soal resiko-resiko penyakit seks juga sampai pada kaum waria yang tinggal di daerah terpencil seperti pedesaan.

”Lana, mau tongko pigi Jakarta?” tanya saya, ingin mengetahui apakah Lana masih punya cita-cita mengadu nasib di ibukota sebagaimana beberapa rekannya terdahulu.

”Teaja!” jawabnya dengan genit, yang artinya tidak mau, sambil berlalu dengan gemulai. (p!).

Citizen reporter Kamaruddin Azis dapat dihubungi melalui email : daeng.nuntung@gmail.com .

| Beri Komentar| Jumlah Komentar (7) |

Komentar :

11-08-2008
Dari : Muhammad Iqbal | iqbal_m70@yahoo.com
Hmmm... Waria, saya jadi ingat Karebosi bela...

08-08-2008
Dari : Muh. Nur Taqwim | taqwimyunus@yahoo.co.id
Janganmi tawwa ada dikotomi antara Laki2 benar-benar dengan benar-benar laki2. Samaji semua.... yang beda cuma cara berfikir dan hasil berfikir saja

08-08-2008
Dari : kapitipiti | kapitipitie@yahoo.co.jp
Lebih bagusji mungkin waria seperti ini, terang-teranganki. Daripada homo sembunyi-sembunyi yg diam-diam mencari mangsa dan menyebarkan penyakit homonya. Atau homo seperti Ryan... hiiiiii.

08-08-2008
Dari : panyingkul | redaksi@panyingkul.com
Terima kasih buat Dedy. Tulisan di atas sudah diubah sesuai saran Anda.

08-08-2008
Dari : Kamaruddin Azis | daeng.nuntung@gmail.com
Iye tawwa gang...Lana yang sebelah kiri. Wati yang kanan...Wawancara dilakukan dua kali, di tempatnya H Gajang dan di suatu pesta di Bayowa, Galesong Kota.Yang diwawancarai Lana. Wati yang terlihat maskulin...cini sai, daerah sekitar bibirna. Makasih Dedihh...

08-08-2008
Dari : dedy lagi |
hehehe...ternyata ada yang lebih enak lagi didengar,dengan cara tidak memasukkan kata ganti milik: Bagaimana mereka bisa bertahan hidup, bagaimana mereka mengisi waktu dan mengasah kemampuan dalam menjalani roda kehidupan. bagaimana? cerewetku di'?

08-08-2008
Dari : dedy |
ii...gang. keterangan fotonya tak jelas, mana Lana mana Wati. sebelah kanan apa kiri. nanti kalau kirim salam kepada salah-satunya dan salah orang, bagaimana mi?hehehe.... liputan menarik. tetapi ada satu kalimat yang mengganggu saya perihal kata ganti. dan ini kerap kali alpa diperhatikan editor: Bagaimana mereka bisa bertahan hidup, bagaimana mereka mengisi waktu dan mengasah kemampuannya dalam menjalani roda kehidupannya (paragraf 6). seharusnya diedit menjadi: Bagaimana mereka bisa bertahan hidup, bagaimana mereka mengisi waktu dan mengasah kemampuan mereka dalam menjalani roda kehidupan mereka (atau hapus saja kata "mereka" di kalmiat akhir). cayyo! tetap semangat.



 :: CITIZEN REPORTER
Makassar di Panyingkul!: Sebuah Persembahan
(Kamis, 12-07-2007)
Ayo Bergabung di Panyingkul!
(Minggu, 29-04-2007)
Catatan Sederhana Para Citizen Reporter
(Selasa, 31-10-2006)
Tentang Citizen Reporter dan Rubrik di Panyingkul!
(Rabu, 11-10-2006)
Riuh Rendah di Panyingkul!
(Rabu, 16-08-2006)

Untitled Document
 :: DUNIA SEGIEMPAT KAREBOSI






 :: PILKADA




 :: ALBUM PUASA 2008




Untitled Document
 :: KONTAK TIM PANYINGKUL!

Email Redaksi :

redaksi@panyingkul.com

Tim:
yus@panyingkul.com
+62 813 226 80844

Moch. Hasymi
+62 811 955 954


© Juni 2006 - Panyingkul.com All Rights Reserved
Desain Web : Nesia Andriana -- Supported by: Yuhardin