Untitled Document
 


Untitled Document
.KITAKITA
:: Jika Anda di Panyingkul ::
 
 KABAR KITA
 
 BERANDAKITA
Kegilaan, Dari Cinta Mati di Pulau Rajuni Hingga Riwayat Kadang
:: Ivan Firdaus ::
Baba Guru, Mengenang Film Rhoma Irama di Klenteng Galesong
:: Kamaruddin Azis ::
Mengagumi Tenun Troso, Mengenang Tenun Sengkang
:: Suryadin Laoddang ::
Perempuan Besi di Gunung Perak (2-selesai)
:: M. Aan Mansyur ::
Perempuan Besi di Gunung Perak (1)
:: M. Aan Mansyur ::
 
 RISETKITA
Rasa Takut : Yang Dicitrakan, Yang Dipelihara
:: Aria W. Yudhistira ::
Risetkita: Pramoedya versus Sejarah Resmi
:: Nurhady Sirimorok ::
Hikayat Rumpon Nelayan Mandar
:: Muhammad Ridwan Alimuddin ::
Di Makassar Pernah Ada “Negeri Wajo”
:: Nurhady Sirimorok ::
Surat Itu Ditulis Upas kepada September
:: Nurhady Sirimorok ::
 
 BUKUKITA
 
 KATAKOTAKITA
Kenapa si Gondrong yang Maju?
:: Ivan Firdaus dan Mustamin al-Mandary ::
Karena ‘Rewa’ Badan Binasa
:: Sudirman Nasir ::
Yang Okkot, yang Salah Sambung
:: Nursamsu danTusiana Noor Alfisyahr ::
Kandala`ka`, Kusta Bila Dusta
:: Panyingkul ::
Ayo, Si(ng)kat Terussss..!
:: Panyingkul! ::

 
 TAHUKAHKITA
 

.
 ::
Sabtu, 16-08-2008 
Daeng Sikki Mengenang Ranggong Daeng Romo
:: Kamaruddin Azis ::

Kisah pahlawan bisa jadi hanya bahan hapalan untuk lulus ujian sejarah bagi anak-anak sekolah. Tapi bagi mereka yang mengalami perang, menyaksikan langsung sikap heroik orang-orang yang berjuang, kenangan itu selekat bayang-bayang pada tubuh. Seperti Daeng Sikki di Takalar yang menceritakan kembali kepada citizen reporter Kamaruddin Azis ingatannya tentang pahlawan nasional, Ranggong Daeng Romo. (p!)

Lelaki tua itu, terkekeh ketika saya menanyakan umurnya. Kami bertemu di suatu siang yang teduh di tepi sungai Pappa, Polongbangkeng, kabupaten Takalar. Sebelum menjawab, dia keluarkan tembakau dari kantong plastik. Ia memilinnya dengan kertas rokok putih tipis. Dengan bantuan jilatan dari lidahnya, tembakau itupun jadi rokok. Siap diisap.

"Aih tenamo kuurangi siapa umurukku," ucapnya dalam bahasa Makassar dengan dialek agak asing bagi saya. Artinya, ia tidak ingat lagi umurnya. "Tapi attunna nia Japanga, nia'mo anakku". Namun, dia meneruskan bahwa ketika Tentara Jepang datang, dia sudah punya anak. Dapat diduga, jika sekitar tahun 1942 Jepang mendarat di tanah Sulawesi maka sekarang, umur lelaki tua itu akan mendekati seratus tahun.

Namanya Maling Daeng Sikki. Siang itu ia sedang mengawasi panen ubi jalar putih di kebunnya yang seluas 10 x 30 meter di samping rumahnya. Kebun itu terletak di tepi sungai yang membelah kota Pattallassang, ibukota kabupaten Takalar. Tinggal seorang diri di keluarahan Maraddekaya dia mengurus dirinya sendiri karena keempat anaknya telah memisahkan diri. Ia memiliki 20 orang cicit.

"Nia'mo ruang pulo cucu kulantukku." Katanya, ia sudah bercicit. 20 orang.

Ketika ditanya soal umurnya dia hanya tersenyum lebar dan bercerita umurnya mendekati seratus tahun dan salah seorang anaknya yang beristri empat telah meninggal dunia.

"Nakke tena kubiasa nganre dageng" Saya tidak biasa makan daging, katanya sambil mengisap rokoknya dalam-dalam.


Daeng Sikki di kebunnya.
Foto: Kamaruddin Azis.


Mengenal dan Memuja Sang Pahlawan
Obrolan ini menjadi istimewa karena ia bertutur tentang seorang pahlawan nasional asal daerah Polongbangkeng Takalar. Dia bercerita dengan takjub. Seraya duduk di gundukan tanah, sesekali mengisap rokoknya dia bercerita tentang Ranggong Daeng Romo.

Menurut Daeng Sikki, warga Polongbangkeng bangga punya pahlawan seperti Ranggong Daeng Romo yang rela berkalang nyawa demi prinsip yang dipegangnya. Ranggong Daeng Romo adalah pejuang yang anti kompeni dan layak ditiru oleh generasi muda sekarang.

Dari berbagai catatan, Ranggong Daeng Romo lahir pada tahun 1915, di daerah sekitar Polombangkeng, kabupaten Takalar. Menilik dari latar belakang keluarganya yang bergelar Gallarang atau Jawara, Daeng Romo memang banyak bersentuhan dengan orang-orang penting kala itu.
Ia merupakan anak dari pasangan Gallarang Moncokomba, Mangngulabbe Daeng Makkiyo dengan Bati Daeng Jimo. Sebagai anak seroang Gallarang, Ranggong kecil besar dalam didikan yang disiplin dan keras.
Ranggong muda juga sempat belajar agama Islam sebelum lanjut ke Sekolah Rakyat atau Inlandsche School. Tidak banyak catatan tentang sekolahnya namun disebutkan bahwa beliau pernah bersekolah di Taman Siswa sebelum akhirnya berhenti. Menikah pada usia 18 tahun, dan mempunyai istri bernama Bungatubu Daeng Lino, puteri Gallarang Bontokandatto, Tarasi Daeng Bantang.

Menurut cerita Daeng Sikki, ketika dia masih muda, dia banyak mendengar nama Ranggong daeng Romo ketika Jepang masuk di Takalar, termasuk terkait dengan kegiatan penyediaan beras untuk serdadu Jepang. Takalar merupakan salah satu wilayah strategis penyuplai beras selama masa perang kemerdekaan.

Selain itu, Ranggong Daeng Romo juga dikenal sebagai salah seorang pentolan "Laskar Pemberontak Rakyat Indonesia Sulawesi (LAPRIS)," yang terdiri dari gabungan 19 organisasi laskar perjuangan. Ranggong Daeng Romo diangkat sebagai Panglima LAPRIS (Ketua Bidang Ketentaraan/Kemiliteran). Melalui organisasi ini Ranggong mulai banyak dikenal oleh pihak luar. Merekalah yang gencar melakukan perlawanan kepada KNIL yang di motori oleh Westerling yang terkenal biadab itu.

Bersama pengikutnya, Ranggong Daeng Romo beberapa kali memimpin pertempuran dengan Belanda di sepanjang wilayah pesisir dan bukit-bukit di Takalar. Ranggong Daeng Romo, gugur pada tanggal 28 Februari 1947 dalam salah satu pertempuran di sekitar wilayah Lengkese, Polongbangkeng.
Daeng Sikki bertutur bahwa, dia sedang berada ditepi sungai ketika Ranggong Daeng Romo dikejar oleh tentara KNIL. "Waktu itu, kami mendengar dari beberapa gerilyawan bahwa Ranggong Daeng Romo tertembak kakinya" Katanya.

Dia meneruskan bahwa pada saat itu, Ranggong Daeng Romo, diminta menjauh oleh para kawan-kawannya untuk masuk ke tengah hutan. Tapi Daeng Romo, malah bertahan dan menukas "Passangma nakke ammantang, i kau ngasengmo lari" "I nakke na'boya puli". Ucapnya dalam bahasa Makassar yang artinya, biarlah saya yang tinggal, kamu semua larilah, saya akan mencari korban supaya impas.

Mata Maling Daeng Sikki berbinar seakan memuji sikap heroik dari Ranggong Daeng Romo. Ketika sedang bertarung dengan tentara Belanda dan tertembak kakinya, Ranggong Daeng Romo, tetap bertahan dan mencoba melawan.

Ranggong mati muda pada umur 32 tapi berkat jasa dan kecintaannya pada negara, dia tercatat sepanjang jaman sebagai pahlawan nasional.

Asap rokok Daeng Sikki menciptakan kabut tipis di udara, lalu lenyap. Tapi bayangan dan kenangan tentang Ranggong Daeng Romo menjadi jelas di tengah kebun ubi jalar, siang itu.(p!)

*Citizen reporter Kamaruddin Azis dapat dihubungi melalui email daeng.nuntung@gmail.com

| Beri Komentar| Jumlah Komentar (10) |

Komentar :

23-08-2008
Dari : raswan | raswan_7501@yahoo.co.id
jangan biarkan pengorbanan Ranggong dg Romo sia_sia ...

22-08-2008
Dari : Dg Paricu |
baji tojeng anne ri baca2 sambalu'. Saya salut dgn perjuangan dan proses mendapatkan nara sumber daeng Sikki sebagai saksi hidup yg masih tersisa. Cuma karena usia dan daya ingat yg sudah terbatas dari nara sumber sehingga data lain ttg pahlawan kita Ranggong Dg Romo mungkin sulit di gali, banyak ptensi yg bisa di gali dari nara sumber spt siapa sahabat , guru , idola dari pahlawan kita.Kebiasaan2nya , hal2 yg disukai, diminati oleh Pahlawan kita ini jika di bisa di rekam akan menambah wawasan kita dari sisi lain ttg pahlawan yg kita banggakan ranggong Dg Romo. tabe di'

20-08-2008
Dari : Amal |
utk Basri. pertanyaanku terinspirasi sm kata pengantar yang ditulis Daniel Dhakidae di bukunya Ben Anderson Imagined Communties. sudah kita baca? mantap btul itu kata pengantar, tidak kalah sama bukunya (mungkin sudahmi jg kita baca) sendiri. DD bercerita soal bgmn awal mulanya negara-bangsa; bgmn martin luther melawan praktek holy trade dan perlawanan itu didukung dgn sudah ditemukannya mesin cetak (dan seterusnya reformasi gereja terjadi, lalu enlightment, dst). yg pling menarik adalah DD menyambungkannya dengan pendapatnya heidegger ttg sejarah... "malapetaka terjadi jika masa kini dilihat dalam konteks masa lalu" (saya tidak ingat persis bagaimana redaksinya, yg jelas gagasannya kurang lebih begitu). sayang panyingkul tidak memuat ulasan-ulasan opinikal. mungkin ini usul buat panyingkul. Tq

20-08-2008
Dari : Basri | basrimisaja@yahoo.com
Amal, a good question, sy jg mau btanya bgtu. nasionalisme muncul di indonesia setelah 1945, sbelumnya tidak ada, klo ada, cuma ada di kalangan beberapa gelintir kaum intelektual pribumi jawa atw sumatra. pahlawan, itu juga istilah yg beresiko. pahlawan bagi siapa? Latenritatta pernah (atau masih?) disebut pengkhianat, pengkhianat kenapa? apa bedanya Hasanuddin atau Alauddin dengan Arung Palakka? kenyatannya Hasanuddin mengekspansi Bone, karena begitu maka bisa ditulis begini: Arung Palakka adalah seorang raja yang cerdik, dia bersekutu dengan VOC untuk melindungi negerinya. gmn?

20-08-2008
Dari : Amal |
Apakah mereka bisa disebut nasionalis?

19-08-2008
Dari : rusle | daengrusle@angingmammiri.org
Kisah yang menarik. Banyak pahlawan kita memang mati muda, terlebih karena pilihan 'hidup' mereka utk diisi dengan hal yang tuntas tapi punya magnitude besar bagi populasi dan jaman setelahnya. Daeng Sikki, apakah beliau sempat ikut berjuang dengan Daeng Romo? Mudah2an iya. Buat Bang Oddhink penggemar Juventus, mohon menghargai komentar orang lain. Komentar Bung Kapitipiti justru tidak norak, malah bagus buat perenungan kita semua. So Real!

16-08-2008
Dari : Ismail Amin | ma_ipa@yahoo.com
Bagus sekali tulisanta Daeng. Benar2 benar jeli dan cemerlang berburu cerita untuk jadi berita. Kita punya banyak pejuang, mestix momentum ini saat yang tepat untuk mereka berbicara,ttg kisah2 kepahlawanan mereka. Sehingga bisa menjadi alternatif, yang pasti akan lbh bnyk memberi pelajaran, dibanding pidato2 politik yang menjemukan. Salamaki' daeng. Doata

16-08-2008
Dari : kapitipiti | kapitipitie@yahoo.co.jp
Sepertinya kalau dulu orang-orang berlomba-lomba bertempur untuk merebut kemerdekaan, sekarang berlomba-lomba menumpuk harta dengan menjual kemerdekaan yang dulu diperjuangkan. Mudah-mudahan kita tetap waspada dan berjuang untuk tidak terjebak masuk didalam golongan orang-orang tsb.

16-08-2008
Dari : Dg Ngawing | a_muhaimin_t@yahoo.co.id
Reportase yg cukup bagus, lanjutkan perjuangan. Byk pemimpin lahir di era reformasi, tapi sgt sdkit yg mmpu berkorban utk orang lain (baca rakyatnya) seperti Ranggong Daeng Romo. Sere kana siangang panggaukang...maeki generasi mudalanjutkan perjuangannya, dengan menjauhhi...sifat KORUP! eh..berhubunganji? itulah makna hakiki perjuangan Ranggong Daeng Romo.Tabe..salamaki naki para salama.

16-08-2008
Dari : Hijrah Khaerana | hijrah_chubby@yahoo.co.id
wow.........tulisann ya T O P B G T saya merasa bangga banget dengan Ranggong Daeng Romo tapi, kisah hidup Daeng Sikki juga menarik tolong tulis yach kak........... Good Luck



 :: CITIZEN REPORTER
Makassar di Panyingkul!: Sebuah Persembahan
(Kamis, 12-07-2007)
Ayo Bergabung di Panyingkul!
(Minggu, 29-04-2007)
Catatan Sederhana Para Citizen Reporter
(Selasa, 31-10-2006)
Tentang Citizen Reporter dan Rubrik di Panyingkul!
(Rabu, 11-10-2006)
Riuh Rendah di Panyingkul!
(Rabu, 16-08-2006)

Untitled Document
 :: DUNIA SEGIEMPAT KAREBOSI






 :: PILKADA




 :: ALBUM PUASA 2008




Untitled Document
 :: KONTAK TIM PANYINGKUL!

Email Redaksi :

redaksi@panyingkul.com

Tim:
yus@panyingkul.com
+62 813 226 80844

Moch. Hasymi
+62 811 955 954


© Juni 2006 - Panyingkul.com All Rights Reserved
Desain Web : Nesia Andriana -- Supported by: Yuhardin