|
|
| . |
| ::
|
| Sabtu, 16-08-2008 | Daeng Sikki Mengenang Ranggong Daeng Romo :: Kamaruddin Azis ::
| Kisah pahlawan bisa jadi hanya bahan hapalan untuk lulus ujian sejarah bagi anak-anak sekolah. Tapi bagi mereka yang mengalami perang, menyaksikan langsung sikap heroik orang-orang yang berjuang, kenangan itu selekat bayang-bayang pada tubuh. Seperti Daeng Sikki di Takalar yang menceritakan kembali kepada citizen reporter Kamaruddin Azis ingatannya tentang pahlawan nasional, Ranggong Daeng Romo. (p!)
| Lelaki tua itu, terkekeh ketika saya menanyakan umurnya. Kami bertemu di suatu siang yang teduh di tepi sungai Pappa, Polongbangkeng, kabupaten Takalar. Sebelum menjawab, dia keluarkan tembakau dari kantong plastik. Ia memilinnya dengan kertas rokok putih tipis. Dengan bantuan jilatan dari lidahnya, tembakau itupun jadi rokok. Siap diisap.
"Aih tenamo kuurangi siapa umurukku," ucapnya dalam bahasa Makassar dengan dialek agak asing bagi saya. Artinya, ia tidak ingat lagi umurnya. "Tapi attunna nia Japanga, nia'mo anakku". Namun, dia meneruskan bahwa ketika Tentara Jepang datang, dia sudah punya anak. Dapat diduga, jika sekitar tahun 1942 Jepang mendarat di tanah Sulawesi maka sekarang, umur lelaki tua itu akan mendekati seratus tahun.
Namanya Maling Daeng Sikki. Siang itu ia sedang mengawasi panen ubi jalar putih di kebunnya yang seluas 10 x 30 meter di samping rumahnya. Kebun itu terletak di tepi sungai yang membelah kota Pattallassang, ibukota kabupaten Takalar. Tinggal seorang diri di keluarahan Maraddekaya dia mengurus dirinya sendiri karena keempat anaknya telah memisahkan diri. Ia memiliki 20 orang cicit.
"Nia'mo ruang pulo cucu kulantukku." Katanya, ia sudah bercicit. 20 orang.
Ketika ditanya soal umurnya dia hanya tersenyum lebar dan bercerita umurnya mendekati seratus tahun dan salah seorang anaknya yang beristri empat telah meninggal dunia.
"Nakke tena kubiasa nganre dageng" Saya tidak biasa makan daging, katanya sambil mengisap rokoknya dalam-dalam.
Daeng Sikki di kebunnya. Foto: Kamaruddin Azis.
Mengenal dan Memuja Sang Pahlawan
Obrolan ini menjadi istimewa karena ia bertutur tentang seorang pahlawan nasional asal daerah Polongbangkeng Takalar. Dia bercerita dengan takjub. Seraya duduk di gundukan tanah, sesekali mengisap rokoknya dia bercerita tentang Ranggong Daeng Romo.
Menurut Daeng Sikki, warga Polongbangkeng bangga punya pahlawan seperti Ranggong Daeng Romo yang rela berkalang nyawa demi prinsip yang dipegangnya. Ranggong Daeng Romo adalah pejuang yang anti kompeni dan layak ditiru oleh generasi muda sekarang.
Dari berbagai catatan, Ranggong Daeng Romo lahir pada tahun 1915, di daerah sekitar Polombangkeng, kabupaten Takalar. Menilik dari latar belakang keluarganya yang bergelar Gallarang atau Jawara, Daeng Romo memang banyak bersentuhan dengan orang-orang penting kala itu.
Ia merupakan anak dari pasangan Gallarang Moncokomba, Mangngulabbe Daeng Makkiyo dengan Bati Daeng Jimo. Sebagai anak seroang Gallarang, Ranggong kecil besar dalam didikan yang disiplin dan keras.
Ranggong muda juga sempat belajar agama Islam sebelum lanjut ke Sekolah Rakyat atau Inlandsche School. Tidak banyak catatan tentang sekolahnya namun disebutkan bahwa beliau pernah bersekolah di Taman Siswa sebelum akhirnya berhenti. Menikah pada usia 18 tahun, dan mempunyai istri bernama Bungatubu Daeng Lino, puteri Gallarang Bontokandatto, Tarasi Daeng Bantang.
Menurut cerita Daeng Sikki, ketika dia masih muda, dia banyak mendengar nama Ranggong daeng Romo ketika Jepang masuk di Takalar, termasuk terkait dengan kegiatan penyediaan beras untuk serdadu Jepang. Takalar merupakan salah satu wilayah strategis penyuplai beras selama masa perang kemerdekaan.
Selain itu, Ranggong Daeng Romo juga dikenal sebagai salah seorang pentolan "Laskar Pemberontak Rakyat Indonesia Sulawesi (LAPRIS)," yang terdiri dari gabungan 19 organisasi laskar perjuangan. Ranggong Daeng Romo diangkat sebagai Panglima LAPRIS (Ketua Bidang Ketentaraan/Kemiliteran). Melalui organisasi ini Ranggong mulai banyak dikenal oleh pihak luar. Merekalah yang gencar melakukan perlawanan kepada KNIL yang di motori oleh Westerling yang terkenal biadab itu.
Bersama pengikutnya, Ranggong Daeng Romo beberapa kali memimpin pertempuran dengan Belanda di sepanjang wilayah pesisir dan bukit-bukit di Takalar. Ranggong Daeng Romo, gugur pada tanggal 28 Februari 1947 dalam salah satu pertempuran di sekitar wilayah Lengkese, Polongbangkeng.
Daeng Sikki bertutur bahwa, dia sedang berada ditepi sungai ketika Ranggong Daeng Romo dikejar oleh tentara KNIL. "Waktu itu, kami mendengar dari beberapa gerilyawan bahwa Ranggong Daeng Romo tertembak kakinya" Katanya.
Dia meneruskan bahwa pada saat itu, Ranggong Daeng Romo, diminta menjauh oleh para kawan-kawannya untuk masuk ke tengah hutan. Tapi Daeng Romo, malah bertahan dan menukas "Passangma nakke ammantang, i kau ngasengmo lari" "I nakke na'boya puli". Ucapnya dalam bahasa Makassar yang artinya, biarlah saya yang tinggal, kamu semua larilah, saya akan mencari korban supaya impas.
Mata Maling Daeng Sikki berbinar seakan memuji sikap heroik dari Ranggong Daeng Romo. Ketika sedang bertarung dengan tentara Belanda dan tertembak kakinya, Ranggong Daeng Romo, tetap bertahan dan mencoba melawan.
Ranggong mati muda pada umur 32 tapi berkat jasa dan kecintaannya pada negara, dia tercatat sepanjang jaman sebagai pahlawan nasional.
Asap rokok Daeng Sikki menciptakan kabut tipis di udara, lalu lenyap. Tapi bayangan dan kenangan tentang Ranggong Daeng Romo menjadi jelas di tengah kebun ubi jalar, siang itu.(p!)
*Citizen reporter Kamaruddin Azis dapat dihubungi melalui email daeng.nuntung@gmail.com
|
| | Jumlah
Komentar (10) |
|
| Komentar :
23-08-2008 Dari : raswan | raswan_7501@yahoo.co.id jangan biarkan
pengorbanan Ranggong
dg Romo sia_sia ... 22-08-2008 Dari : Dg Paricu | baji tojeng anne ri
baca2 sambalu'. Saya
salut dgn perjuangan
dan proses
mendapatkan nara
sumber daeng Sikki
sebagai saksi hidup
yg masih tersisa.
Cuma karena usia dan
daya ingat yg sudah
terbatas dari nara
sumber sehingga data
lain ttg pahlawan
kita Ranggong Dg
Romo mungkin sulit
di gali, banyak
ptensi yg bisa di
gali dari nara
sumber spt siapa
sahabat , guru ,
idola dari pahlawan
kita.Kebiasaan2nya ,
hal2 yg disukai,
diminati oleh
Pahlawan kita ini
jika di bisa di
rekam akan menambah
wawasan kita dari
sisi lain ttg
pahlawan yg kita
banggakan ranggong
Dg Romo. tabe di' 20-08-2008 Dari : Amal | utk Basri.
pertanyaanku
terinspirasi sm kata
pengantar yang
ditulis Daniel
Dhakidae di bukunya
Ben Anderson
Imagined Communties.
sudah kita baca?
mantap btul itu kata
pengantar, tidak
kalah sama bukunya
(mungkin sudahmi jg
kita baca) sendiri.
DD bercerita soal
bgmn awal mulanya
negara-bangsa; bgmn
martin luther
melawan praktek holy
trade dan perlawanan
itu didukung dgn
sudah ditemukannya
mesin cetak (dan
seterusnya reformasi
gereja terjadi, lalu
enlightment, dst).
yg pling menarik
adalah DD
menyambungkannya
dengan pendapatnya
heidegger ttg
sejarah...
"malapetaka terjadi
jika masa kini
dilihat dalam
konteks masa lalu"
(saya tidak ingat
persis bagaimana
redaksinya, yg jelas
gagasannya kurang
lebih begitu).
sayang panyingkul
tidak memuat
ulasan-ulasan
opinikal. mungkin
ini usul buat
panyingkul. Tq 20-08-2008 Dari : Basri | basrimisaja@yahoo.com Amal, a good
question, sy jg mau
btanya bgtu.
nasionalisme muncul
di indonesia setelah
1945, sbelumnya
tidak ada, klo ada,
cuma ada di kalangan
beberapa gelintir
kaum intelektual
pribumi jawa atw
sumatra. pahlawan,
itu juga istilah yg
beresiko. pahlawan
bagi siapa?
Latenritatta pernah
(atau masih?)
disebut pengkhianat,
pengkhianat kenapa?
apa bedanya
Hasanuddin atau
Alauddin dengan
Arung Palakka?
kenyatannya
Hasanuddin
mengekspansi Bone,
karena begitu maka
bisa ditulis begini:
Arung Palakka adalah
seorang raja yang
cerdik, dia
bersekutu dengan VOC
untuk melindungi
negerinya. gmn? 20-08-2008 Dari : Amal | Apakah mereka bisa
disebut nasionalis? 19-08-2008 Dari : rusle | daengrusle@angingmammiri.org Kisah yang menarik.
Banyak pahlawan kita
memang mati muda,
terlebih karena
pilihan 'hidup'
mereka utk diisi
dengan hal yang
tuntas tapi punya
magnitude besar bagi
populasi dan jaman
setelahnya. Daeng
Sikki, apakah beliau
sempat ikut berjuang
dengan Daeng Romo?
Mudah2an iya. Buat
Bang Oddhink
penggemar Juventus,
mohon menghargai
komentar orang lain.
Komentar Bung
Kapitipiti justru
tidak norak, malah
bagus buat
perenungan kita
semua. So Real! 16-08-2008 Dari : Ismail Amin | ma_ipa@yahoo.com Bagus sekali
tulisanta Daeng.
Benar2 benar jeli
dan cemerlang
berburu cerita untuk
jadi berita. Kita
punya banyak
pejuang, mestix
momentum ini saat
yang tepat untuk
mereka berbicara,ttg
kisah2 kepahlawanan
mereka. Sehingga
bisa menjadi
alternatif, yang
pasti akan lbh bnyk
memberi pelajaran,
dibanding pidato2
politik yang
menjemukan.
Salamaki' daeng.
Doata 16-08-2008 Dari : kapitipiti | kapitipitie@yahoo.co.jp Sepertinya kalau
dulu orang-orang
berlomba-lomba
bertempur untuk
merebut kemerdekaan,
sekarang
berlomba-lomba
menumpuk harta
dengan menjual
kemerdekaan yang
dulu diperjuangkan.
Mudah-mudahan kita
tetap waspada dan
berjuang untuk tidak
terjebak masuk
didalam golongan
orang-orang tsb. 16-08-2008 Dari : Dg Ngawing | a_muhaimin_t@yahoo.co.id Reportase yg cukup
bagus, lanjutkan
perjuangan. Byk
pemimpin lahir di
era reformasi, tapi
sgt sdkit yg mmpu
berkorban utk orang
lain (baca
rakyatnya) seperti
Ranggong Daeng Romo.
Sere kana siangang
panggaukang...maeki
generasi
mudalanjutkan
perjuangannya,
dengan
menjauhhi...sifat
KORUP!
eh..berhubunganji?
itulah makna hakiki
perjuangan Ranggong
Daeng
Romo.Tabe..salamaki
naki para salama. 16-08-2008 Dari : Hijrah Khaerana | hijrah_chubby@yahoo.co.id wow.........tulisann
ya T O P B G T
saya merasa bangga
banget dengan
Ranggong Daeng Romo
tapi, kisah hidup
Daeng Sikki juga
menarik tolong tulis
yach kak...........
Good Luck |
|
|
|
|
| ::
CITIZEN REPORTER |
 | (Kamis, 12-07-2007) |  | (Minggu, 29-04-2007) |  | (Selasa, 31-10-2006) |  | (Rabu, 11-10-2006) |  | (Rabu, 16-08-2006) | |
|
Untitled Document
| ::
DUNIA SEGIEMPAT KAREBOSI |
|
Untitled Document
| ::
KONTAK TIM PANYINGKUL! |
Email Redaksi :
redaksi@panyingkul.com
Tim:
yus@panyingkul.com
+62 813 226 80844
Moch. Hasymi
+62 811 955 954
|
|
|