Untitled Document
 


Untitled Document
.KITAKITA
:: Jika Anda di Panyingkul ::
 
 KABAR KITA
 
 BERANDAKITA
Kegilaan, Dari Cinta Mati di Pulau Rajuni Hingga Riwayat Kadang
:: Ivan Firdaus ::
Baba Guru, Mengenang Film Rhoma Irama di Klenteng Galesong
:: Kamaruddin Azis ::
Mengagumi Tenun Troso, Mengenang Tenun Sengkang
:: Suryadin Laoddang ::
Perempuan Besi di Gunung Perak (2-selesai)
:: M. Aan Mansyur ::
Perempuan Besi di Gunung Perak (1)
:: M. Aan Mansyur ::
 
 RISETKITA
Rasa Takut : Yang Dicitrakan, Yang Dipelihara
:: Aria W. Yudhistira ::
Risetkita: Pramoedya versus Sejarah Resmi
:: Nurhady Sirimorok ::
Hikayat Rumpon Nelayan Mandar
:: Muhammad Ridwan Alimuddin ::
Di Makassar Pernah Ada “Negeri Wajo”
:: Nurhady Sirimorok ::
Surat Itu Ditulis Upas kepada September
:: Nurhady Sirimorok ::
 
 BUKUKITA
 
 KATAKOTAKITA
Kenapa si Gondrong yang Maju?
:: Ivan Firdaus dan Mustamin al-Mandary ::
Karena ‘Rewa’ Badan Binasa
:: Sudirman Nasir ::
Yang Okkot, yang Salah Sambung
:: Nursamsu danTusiana Noor Alfisyahr ::
Kandala`ka`, Kusta Bila Dusta
:: Panyingkul ::
Ayo, Si(ng)kat Terussss..!
:: Panyingkul! ::

 
 TAHUKAHKITA
 

.
 ::
Sabtu, 27-09-2008 
Membaca Pemikiran Politik Islam Indonesia
:: Muhibin AM ::

Judul:
Pemikiran Politik Islam Indonesia, Pertautan Negara, Khilafah,
Masyarakat Madani dan Demokrasi.
Penulis:
Syarifuddin Jurdi
Penerbit:
Pustaka Pelajar
Cetakan:
Pertama, Juli 2008
Tebal:
678 Halaman
Eksistensi Islam sebagai sebuah agama dalam kaitannya dengan kehidupan politik masih diperdebatkan. Islam yang seyogyanya menjadi agama perekat keimanan bagi pemeluknya justru menjadi alat untuk saling mengklaim kebenaran. Di satu sisi ada yang menafsir bahwa Islam tidak bisa lepas dari masalah-masalah kenegaraan/politik. Alasannya, Nabi Muhammad SAW telah merintis sistem pemerintahan a la Islam di Madinah. Dengan dasar itu kelompok ini mengklaim bahwa Muhammad di samping sebagai seorang nabi, juga merangkap sebagai seorang khalifah atau penguasa. Sementara dalam pandangan kelompok yang lain, antara Islam dan negara tidak memiliki hubungan apa-apa. Ajaran Islam hanya bertugas membangun sebuah peradaban moral sesuai dengan yang dikehendaki oleh Alqur’an. Islam hanya menekankan kepada pemeluknya untuk selalu menegakkan kebenaran, keadilan dan keihklasan serta menganjurkan untuk menunaikan amanat.

Di Indonesia, perdebatan mengenai hubungan antara Islam dan negara sudah dimulai sejak sebelum kemerdekaan. Kelompok yang berhaluan fundamental selalu menghendaki tegaknya syariat Islam di negeri ini, sementara kelompok moderat yang kebanyakan diwakili oleh NU tidak menghendaki adanya hukum yang berbau syariat Islam di negeri yang plural. Alasan yang sama-sama kuatnya, menjadikan kedua kelompok yang saling bertentangan ini seolah tidak pernah menemui jalan damai. Bahkan akhir-akhir ini terutamanya setelah genderang reformasi ditabuh, keduanya saling memperebutkan pengaruh melalui jalan politik kepartaian dan organisasi keagamaan lainnya.
Partai-partai yang berasaskan Islam seperti PBB, PKS, PPP, PBR maupun kelompok-kelompok yang mengusung idiologi Islam merupakan satu bentuk manifestasi perpolitikan Islam Indonsia yang memperjuangkan syariat Islam.

Umumnya mereka didukung oleh organisai-organisasi keagamaan yang memiliki kesamaan perjuangan. Diantaranya seperti Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) yang menghendaki khilafah Islamiyah, Majelis Mujahidin Indonesia (MMI) yang diketuai oleh Abu Bakar Ba’asyir, menghendaki Khilafah Nusantara, yang menurutnya bahwa persatuan bangsa hingga saat ini merupakan persatuan yang bathil yakni persatuan yang tidak diridhai oleh Allah SWT.
Laskar Jihad (LJ) Ahlussunah Waljama’ah yang diketuai oleh Dja’far Umar Thalib yang bermula dari kelompok kajian yang dikenal dengan gerakan salafi atau salafiyah yang bermarkas di Yogyakarta. Front Pembela Islam (FPI) yang didirikan pada tanggal 17 Agustus 1998 oleh Habib Muhammad Riziek Shihab, yang menghendaki pengembalian tujuh kata dalam Pancasila yang pernah dihapus para founding father kita. Kelompok ini dikenal dengan sikapnya yang militan dengan seringnya melakukan razia di tempat-tempat hiburan malam (THM). Yang terakhir adalah Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) yang didirikan pada 29 Maret 1998 oleh para aktivis Lembaga Dakwah Kampus (LDK) dalam pertemuan nasional Forum Silaturrahmi Lembaga Dakwah Kampus (FSLDK) X di Malang, yang kemudian secara diam-diam menjadi underbow-nya salah satu partai politik yang berazaskan Islam,
PKS. Padahal saat dideklarasikannya, gerakan kemahasiswaan ini merupakan sebuah gerakan yang murni independen, seperti gerakan-gerakan kemahasiswaan yang lain. (halaman: 383)

Perjuangan untuk menegakkan syariat Islam di bumi Nusantara ini bukan tanpa halangan. Wacana keislaman yang mereka bawa ke permukaan membutuhkan waktu yang sangat lama untuk menjadi perhatian. Terutamanya menghadapi mayoritas umat muslim di negeri ini yang berhaluan moderat. Jalan kesabaran dan keuletan merupakan salah satu cara untuk bisa mencapai cita-citanya.

Tokoh-tokoh Islam moderat yang dengan nada tegas menolak Syariat Islam dan dengan loyal membela Pancasila, diantaranya seperti KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Amin Rais, Syafii Ma’arif, Nurcholis Madjid (Cak Nur) dan tokoh-tokoh Islam lainnya. Alasan para tokoh-tokoh papan atas ini menganggap Islam tidak mengatur masalah kenegaraan. Bahwa Al Quran tidak satupun menyebut masalah khilafah Islamiyah atau yang lainnya, yang ada hanyalah perintah untuk menegakkan keadilan, kejujuran dan keihklasan serta perintah untuk menunaikan amanat.

Sejarah suksesi kepemimpinan pada masa khulafaurrasyidin pun menurut Abdurrahman Wahid tidak jelas ketetapannya, dari mulai Abu Bakar hingga Ali bin Abu Thalib cara pengangkatan khalifah satu dengan yang lain sudah sangat jelas berbeda-beda, yang berarti bahwa Islam tidak mengatur secara pasti mengenai masalah hubungan antara Islam dengan kenegaraan. (Abdurrahman Wahid: Islamku, Islam Anda, Islam Kita)

Bertolak dari permasalahan itulah buku ini hadir. Penulis buku ini membawa kita pada suatu pemahaman baru mengenai perjalanan gerakan-gerakan pemikiran keagamaan yang syarat dengan dialektika, terutama mengenai hubungan antara Islam dan negara.

Meskipun yang dibahas adalah masalah klasik,namun cara penyajian yang mudah dipahami dan dengan disesuaikan dengan kondisi umat Islam saat ini, menjadikan buku ini layak dijadikan referensi untuk mengetahui peta perjuangan kelompok-kelompok Islam di tanah air. Buku ini dapat mengantar pembaca pada pemahaman yang lebih dalam tentang gerakan-gerakan itu dan friksi yang terus bermunculan di antara kelompok yang sama-sama mengibarkan panji Islam. (p!)

* Peresensi adalah peneliti pada Lembaga Kajian Agama dan Swadaya Ummat (LeKAS) Yogyakarta, dapat dihubungi melalui email mr_ibin@yahoo.co.id

| Beri Komentar| Jumlah Komentar (3) |

Komentar :

10-07-2009
Dari : Daeng Lalo | muslimin.beta@pewarta-indonesia.com
Pertama saya kritisi adalah judulnya dulu. Dari sub judul, tertera kata "masyarakat madani" dan "demokrasi".Dari kedua konstruk itu, apa bedanya? Bukankah konsep masyarakat madani itu derivatif dari demokrasi, jadi tidak bisa dipisahkan menjadi konsep yang mandiri. Masyarakat madani sering juga disebut civil society dalam konteks pemikiran ilmu politik sama-sama berinduk ke pemikiran demokrasi.

09-05-2009
Dari : CHkeUBCOsrc | ycxxbj@ieidcu.com
e9oZOs xwkjhwuqlwhb, [url=http://fxwmljiz wlof.com/]fxwmljizwl of[/url], [link=http://nchmbhl comlh.com/]nchmbhlco mlh[/link], http://nihrtkfyqxwp. com/

28-09-2008
Dari : Muh. Nur Taqwim | taqwimyunus@yahoo.co.id
Jika buku ini dapat memberikan gambaran yang jelas tentang peta pergerakan kelompok muslim dalam dunia perpolitikan di Indonesia, maka pastilah akan mudah pula bagi kita untuk bisa membedah segala problematika dan kunci pemecahan atas gerakan kelompok Islam yang ada saat ini. Tapi sesuai dengan pengamatan saya, pergerakan politik kelompok-kelompok Islam yang ada saat ini masih bermain ditataran atas. Artinya, bahwa gerakan tersebut (lewat Parpol atau non parpol) hingga saat ini belum menunjukkan hasil yang signifikan untuk terjadinya perubahan di negara Indonesia. Secara jujur saya mau mengatakan, bahwa bukan persoalan gerakan politik itu dilakoni oleh parpol atau kelompok Islamnya yang penting. Akan tetapi bagaimana orang-orang Islam itu mampu secara individual menunjukkan eksistensinya dalam berpolitik dan bersikap terhadap lingkungan sekitarnya sebagaimana yang diatur dalam Al Quran. Sangat sulit saat ini kita menemukan orang Islam yang mau mengatakan pada dirinya, bahwa gerakan politik yang saya bangun ini adalah bukti konkrit atas pemahaman saya terhadap Islam, sehingga mewakafkan diri atas perjuangan betul-betul merupakan hal yang urgent untuk dilakukan.



 :: CITIZEN REPORTER
Makassar di Panyingkul!: Sebuah Persembahan
(Kamis, 12-07-2007)
Ayo Bergabung di Panyingkul!
(Minggu, 29-04-2007)
Catatan Sederhana Para Citizen Reporter
(Selasa, 31-10-2006)
Tentang Citizen Reporter dan Rubrik di Panyingkul!
(Rabu, 11-10-2006)
Riuh Rendah di Panyingkul!
(Rabu, 16-08-2006)

Untitled Document
 :: DUNIA SEGIEMPAT KAREBOSI






 :: PILKADA




 :: ALBUM PUASA 2008




Untitled Document
 :: KONTAK TIM PANYINGKUL!

Email Redaksi :

redaksi@panyingkul.com

Tim:
yus@panyingkul.com
+62 813 226 80844

Moch. Hasymi
+62 811 955 954


© Juni 2006 - Panyingkul.com All Rights Reserved
Desain Web : Nesia Andriana -- Supported by: Yuhardin