|
|
| . |
| ::
|
| Kamis, 23-10-2008 | Mencoba Rumput Baru Lapangan Karebosi :: Syaifullah ::
| Tujuh kuburan di Karebosi. Foto: Syaifullah.
Citizen reporter Syaifullah mengunjungi Lapangan Karebosi, Kota Makassar, pasca revitalisasi. Ia sempat ragu, apakah Karebosi yang baru ini masih akan menjadi public space yang bisa diakses oleh semua warga. Sejauh ini, karena memang belum rampung 100 persen, masih terdapat sejumlah kekurangan di alun-alun di jantung kota Makassar tersebut.(p)
| “Besok siap-siap ya, kita akan bertanding di Karebosi ”, kata-kata manager tim sepakbola kantor kami itu kontan membuat saya bersemangat. Selain karena sepakbola adalah olahraga favorit saya, rasanya sudah cukup lama juga sejak terakhir kali saya bermain di Karebosi, dan tentu saja saya penasaran ingin mencicipi rumput Karebosi yang baru.
Sejak akhir tahun lalu, Karebosi tiba-tiba menjadi buah bibir warga Sulsel pada umumnya dan warga Makassar pada khususnya. Rencana pihak Pemkot Makassar untuk merevitalisasi lapangan Karebosi mengundang pro dan kontra, terutama karena adanya niatan dari pihak penanam modal yang mengubah sebagian lapangan Karebosi menjadi area bisnis.
Di tengah berbagai kecaman dan dukungan dari semua lapisan masyarakat, pihak Pemkot tetap berjalan sesuai rencana. Mereka juga berjanji kalau nantinya Karebosi yang baru akan jadi lebih baik berkali-kali lipat dibandingkan Karebosi yang lama.
Hampir setahun berselang, dan Karebosi betul-betul telah berubah. Area bisnis yang berada di bagian utara Karebosi nyaris rampung. Bulan Ramadhan tahun ini, Carrefour sebagai salah satu penyewa lahan bisnis tersebut memaksakan diri untuk melayani pembeli tepat di momen saat nafsu belanja warga Makassar sedang tinggi-tingginya. Carrefour berada di bawah tanah dan diatapi oleh hamparan beton yang finishingnya belum selesai 100%. Di atas hamparan beton tersebut nantinya akan ada lapangan upacara, heli pad dan arena olahraga. Hampir seperti Carrefour di bagian bawah, hamparan beton ini juga sudah melalui tahapan soft opening yang ditandai dengan acara sholat Ied tahun ini.
Di bagian selatan Karebosi terhampar 3 lapangan sepakbola berukuran standard. Ketiga lapangan ini dipisahkan oleh jalan setapak yang terbuat dari beton kasar. Di sisi kanan kiri jalan setapak tersebut pohon-pohon tinggi ditanam dalam deretan yang rapih. Setiap pohon diberi label yang terbuat dari plastik tipis. Entah apa yang tadinya tertulis di label tersebut karena saya hanya melihat sisa coretan spidol yang tak terbaca lagi.
Bila masuk dari arah Jl. Kartini atau sebelah selatan Karebosi kita terlebih dahulu harus melewati sebuah pintu besi. Sepanjang sisi Karebosi memang sudah dipasangi pagar BRC. Di pintu tersebut berdiri seorang satpam-sebenarnya ada dua orang satpam-berpakaian dinas lengkap dengan handy talkie di tangan. Tidak sembarang orang yang boleh melintasi pintu tersebut. Bila anda tak punya kepentingan dalam pertandingan yang sedang digelar, tentu sang satpam akan berkeras untuk mengusir anda.
Tadinya saya sempat bertanya dalam hati, bukankah dengan perlakuan satpam itu Karebosi nantinya tidak akan menjadi public space lagi ?. Namun saya beroleh keterangan bahwa tindakan protektif satpam tersebut hanya sementara karena toh Karebosi masih berada dalam proses pengerjaan dan belum rampung 100%.
Setelah melewati pintu besi kita akan segera bertemu dengan suasana yang tidak begitu jauh berbeda dengan Karebosi yang lama. Jalur beraspal selebar kurang lebih 3 meter dengan pedestrian di kanan kirinya. Pohon-pohon besar dan tumbuhan semaknya juga masih tetap seperti dulu. Pohon dan semak inilah yang dulunya sering digunakan para bencong penghuni karebosi sebagai tempat “bekerja”.
Sudah bisa digunakan bermain sepakbola. Foto: Syaifullah.
Untuk bisa mencapai lapangan sepakbola Karebosi yang baru kita harus menapaki 8 anak tangga yang masing-masing setinggi kira-kira 20 cm dengan lebar kurang lebih 3 m. Pihak pengembang memang telah menambah ketinggian tanah Karebosi untuk mencegah tergenangnya air di musim hujan. Di beberapa poster yang dipasang pihak Pemkot Makassar terlihat jelas kondisi Karebosi lama yang selalu berubah menjadi danau di kala musim hujan datang.
Hari itu kami menggunakan lapangan yang berada di sebelah timur. Sementara lapangan di bagian tengah nampak sedang dipergunakan belasan anak muda berkostum PSM. Menurut informasi mereka adalah tim junior PSM.
Di antara lapangan yang berada di ujung timur dengan lapangan yang berada di tengah terletaklah situs tujua. Tujuh gundukan yang diyakini sebagai kuburan keramat. Situs yang telah dipercantik tersebut dikelilini pagar BRC sehingga terkesan sedikit kaku. Entah apakah pagar itu nantinya akan berada di sana selamanya atau hanya sekedar pagar sementara.
Dahulu Karebosi terdiri dari 6 buah lapangan sepakbola dengan kondisi yang beragam. Kondisi lapangan yang paling terawat tentu saja adalah salah satu lapangan di sebelah selatan yang dikelola oleh tim Makassar Football School (MFS). Perbedaannya jelas sekali. Lapangan milik MFS berumput hijau segar dengan ketebalan yang merata. Di sekeliling lapangan juga dipasangi pagar BRC yang tentu saja bermaksud untuk mencegah pihak tak berijin untuk menggunakannya. Biaya sewa lapangan MFS dulunya adalah sebesar Rp. 250.000,- satu partai atau kurang lebih 2 jam.
Lapangan lain yang kondisinya cukup lumayan adalah lapangan milik pak Kamal. Bagi para warga yang sering nongkrong di Karebosi, nama pak Kamal tentu bukan nama yang asing. Lelaki tua yang sudah berpuluh-puluh tahun menjadi pelatih sepakbola amatir tersebut bisa dianggap legenda bagi mereka yang akrab dengan Karebosi. Nah, lapangan tempat pak Kamal melatih kondisinya memang tidak sebagus lapangan milik MFS, meski memang lebih bagus daripada lapangan lain yang tidak terawat. Untuk menggunakan lapangan milik pak Kamal kita cukup merogoh kocek sebesar Rp. 150.000,- per partai.
Kondisi lapangan Karebosi yang lama sebenarnya rata-rata tidak bisa dibilang layak untuk sebuah pertandingan sepakbola. Rumputnya kasar dan tidak rata, sementara tanahnya sedikit keras dan berpasir. Untuk para pemain sepakbola yang gemar melakukan sliding tackle, kondisi ini sungguh tidak nyaman. Bila posisi sliding tackle kurang bagus maka bisa dipastikan bagian lutut akan langsung terkelupas, berwarna putih dan sejurus kemudian berwarna merah oleh darah. Perih dan sungguh tidak nyaman.
Selain itu, bila bermain di Karebosi kita harus cermat memilih sepatu. Jangan coba-coba menggunakan sepatu dengan pul yang keras apalagi dengan pul besi. Kondisi tanah yang keras ditanggung akan membuat betis langsung keram dan salah-salah kepala langsung pusing. Akselerasipun tentu tak akan selincah bila menggunakan sepatu dengan pul yang lembek.
Kondisi Karebosi yang baru sedikit berbeda. Tanahnya lebih gembur dan lembek. Tak perlu takut bila anda melakukan sliding tackle atau terjatuh saat beradu otot. Meski rumputnya belum terlalu rapat, namun jenisnya yang lembut lumayan bisa menghilangkan kekhawatiran saat bermain sepakbola di atasnya. Di pinggir lapangan nampak selang air sepanjang berpuluh-puluh meter yang menandakan kalau rumput di lapangan tersebut sering disiram. Pendek kata kondisi lapangan yang baru sudah cukup representatif untuk digunakan.
Tapi, lapangan Karebosi yang baru bukan tanpa kekurangan. Saat ini belum ada satupun WC umum yang disediakan di sekitar lapangan sepakbola. Kondisi ini tentu agak menyulitkan para pemain dan penonton, sehingga saat keinginan untuk buang air kecil tak tertahankan lagi, pohon-pohon besar dan tumbuhan semak kemudian menjadi pilihan. Jelas ini mengganggu kenyamanan.
Kekurangan lainnya adalah belum adanya tempat beratap semacam shuttle bus yang bisa dipergunakan untuk para pemain cadangan atau penonton untuk berteduh. Bila hujan tiba bisa dipastikan orang-orang yang tidak ikut bermain tentu akan lari terbirit-birit mencari perlindungan.
Saya belum tahu bagaimana perencanaan lapangan Karebosi selanjutnya, termasuk apakah nantinya lapangan tersebut dapat dipergunakan secara bebas oleh warga Makassar. Saat pertandingan digelar saya mendengar kabar kalau pihak penyelenggara membayar Rp. 500.000,- kepada pihak pengelola sebagai biaya sewa lapangan.
Sore itu selepas pertandingan digelar, saya berdiri di salah satu sudut lapangan Karebosi. Ada ada banyak kenangan tentang Karebosi lama yang berlarian di kepala saya. Karebosi memang telah banyak berubah, meski kondisinya lebih baik namun ada kesan angkuh dan dingin yang saya tangkap. Semoga saja kesan itu hanya untuk sementara sebelum nantinya Karebosi kembali menjadi alun-alun kota yang hangat, ramah dan terbuka bagi siapa saja tanpa harus membayar sepeserpun.(p!)
*Citizen reporter Syaifullah dapat dihubungi melalui email ipul.ji@gmail.com
|
| | Jumlah
Komentar (17) |
|
| Komentar :
11-02-2009 Dari : M.Ridwan | lapacikoa@yahoo.com Saya sangat tidak
setuju dengan
revitalisasi
Karebosi, karena ada
banyak kejanggalan
dimulai pada saat
tender hingga tahap
penyelesaian
sekarang. Mengapa
harus ada sarana
komersial dibawahnya
dan kenapa hanya
pihak Tosan yang
mengelolanya (Bang
Hasan) Jika nanti
peta politik berubah
baik tingkat lokal
maupun Nasional maka
otomatis semua
pejabat dan mantan
pejabat yang terkait
dengan proyek ini
akan diusut. 05-02-2009 Dari : maureen | mamaskar@gmail.com bukannya sy tukang
parkir, tapi
sepertix KAREBOSI
jadi tempat parkir
yg LUAAASSS....jd
public spacex yang
mana ya?? 21-01-2009 Dari : fenny | fenny_git2ndgig@yahoo.co.id bukannya sy penjaga
WC. tapi sy sempat
bertanding softball
di lap. karebosi.
ada wc umum di
sekitar lapangan.
tapi jauh dari
lapangan bola! di
dekat lapangan
softball. trun
tangga di sebelah
kiri. pake karcis.
harganya klu ndk
1000, mgkn 1500!
WCnya cuma ada 2!
buruan pake WCnya
sebelum habiss!!!
hah? 14-01-2009 Dari : lGaEcglPnQmKbjTWcC | hxccuj@vasrkw.com n5CTYd
iktcnbzawuwf,
[url=http://pumokpzx
mqqs.com/]pumokpzxmq
qs[/url],
[link=http://zprnixn
hdiuo.com/]zprnixnhd
iuo[/link],
http://wrrtvjrlppve.
com/ 13-01-2009 Dari : surul | asrulbachtiar@ymail.com Sudah lama sekalima
ndak kuliaki
Lapangan
Karebosi.Jadi ndak
baik juga kasih
komentar yang
terkesan dipaksakan.
Apalagi di rubrik
ini hanya
menampilkan dua buah
gambar yang diambil
dari sudut
mana...lingu
tonga.Yang ingin
saya tanyakan kepada
daeng, kalau kita
sholat IED, apakah
tempat yang kita
pakai bersujud ke
Yang Maha Kuasa,
juga sudah dibayar
ke penguasa Lapangan
Karebosi.....? edede
nalinguia. Tarima
kasi daeng. 02-01-2009 Dari : adhy | dejavu72@ymail.com awalnya saya juga
termasuk salah satu
yang kontra akan
revitalisasi
karebosi, namun
setelah melihat
rancangan
pembangunan yang
menurut saya cukup
eksotis, kenapa
tidak kita melakukan
sebuah perubahan dan
mengikuti zaman..?
Toh, kita pribadi
juga sedang
membenahi diri dan
menyesuaikan dengan
perubahan sekitar.
Contoh kecil saja,
kita-kita semua
sudah pakai
internet, yah salah
satu gunanya bikin
komentar di sini.
Itu kan salah satu
bukti kalau kita
mengikuti
perkembangan zaman,
trus apa salahnya
kalau kota kita juga
mengikuti
modernisasi, jadi
gak monoton
begitu-begitu terus.
"alam menyesuaikan
diri dengan
lingkungan", dan
"lingkungan akan
turut dengan alam".
Tenang meki' saja..
selama semuanya
tidak dipaksakan,
bakalan berjalan
mulusji itu.
Kalaupun kita
masyarakat Makassar
mesti mengeluarkan
duit untuk menikmati
lapangan tersebut,
kenapa tidak kalau
kita masih mampu dan
memang wajar..?
lapangannya kan juga
ikut terawat dengan
adanya uang
kontribusi dari
kita-kita. Bayangkan
saja ketika kita mau
main bola di sana,
trus habis hujan
lapangannya kurang
rumput, jadinya
becek.. siapa yang
mau pusing urusi hal
tersebut..? makanya
ada kontribusi buat
bayar pekerjanya
biar kita bisa lebih
nyaman.. semoga
daeng-daeng dapat
mengerti.. saya juga
orang makassar
asliji.. ingat meQ
saja satu, di
akhirat, pemimpinlah
yang terlebih dahulu
dimintai pertanggung
jawabannya..
wassalam.. 18-12-2008 Dari : acha | acha@yahoo.co.id kerakusan dan
ketamakan atas nama
pembangunanisme
telah mengganti
nilai nilai
sejarah,,,,
karebosiku tinggal
kenangan
14-12-2008 Dari : Bondan | nur_makassar@yahoo.co.id Biar di bikin
bagaimana itu
modelnya karebosi,
bencongnya tetap
bercokol disitu.
sekarang pindahmi di
sudut. tidak jauhji.
tepat di
traficlight. jadi
sampai sekarang
karebosi tetap
identik dengan
warianya. orang klo
ngomong karebosi,
pasti ikut di
pikirannya bencong. 12-12-2008 Dari : budi | orangedank@yahoo.co.id karebosi harus tetap
di kawal, jangan
sampai tujuan
awalnya melenceng
jauh dari yang kita
harapkan... 10-12-2008 Dari : Abdul Azis | azis_mks@yahoo.com Karebosi sebagai
lapangan terbuka
(koning plain,
alun-alun, land
mark) telah menjadi
korban dari
modernisasia.
Namanya saja
modernisasi dengan
jargon "pembangunan"
sudah pasti banyak
mengorbankan manusia
(teori piramida
kurban). Korban
dalam artian
ekonomi, sosial dan
budaya warga
Makassar. Dalam satu
hal saya sepakat
bahwa Pemkot
Makassar telah
mencatat "sejarah"
dalam konteks
komersialisasi ruang
publik. Harus diakui
jika dicari seluruh
samanya di Indoensia
hanya Makassar yang
menjadikan areal
publik (lapangan
umum)menjadi sarana
ekonomi/komersial.
ini juga bukti
kongkret bahwa
Pemkot Makassar
dalam membangun
Makassar tidak punya
orientasi yang
jelas, tidak pro
rakyat (pro
kapitalis), tidak
ramah lingkungan,
dan tidak
humanis.sebuah
pembangunan yang
abai terhadap
pendekatan
mikrokosmos dan
makrokosmos. Semoga
saja Allah SWT
melindungi kita
semua, menghidarkan
kita dari segala
Bencana kemanusian
dan ekologi. 28-11-2008 Dari : anzhu | sbg 'pemerhati segala' hmm.. Dg. Bunga,
penjaga lapangan,
Pingkan dan
teman-teman yang
lain sekarang
mencari hidup di
mana yah setelah
lahan hidup mereka
diambil alih oleh
para pemilik modal
itu? 12-11-2008 Dari : | sekarang bocorki
drainasenya karebosi
dende'...! kolong
betonnya sempat
tergenang air..
sudah empat hari
yang lalu bocor
waktu komentar ini
ditulis. menariknya,
kejadian itu
ditanggapi oleh
salah satu petinggi
pemerintah kita di
sulsel dengan nada
yang agak pa'cidda'.
kurang lebih dia
bilang: saya bilang
memang kenapakah
dibikin begitu itu
karebosi?.. kynya
isu itu benar; ada
disharmoni di antara
pejabat kota dengan
petinggi propinsi
kita itu.. wiuw..
bakal tambah kacau
kayanya.. n kita
juga tahu bahwa
sulit bagi kita
untuk tidak
berasumsi bahwa
sikap pro atau
kontra itu tidak
beranjak dari
perbedaan
kepentingan politik,
bukan karena murni
perbedaan pandangan
(problem
komunikasi).. 11-11-2008 Dari : arhyen | ye2n_bl@yahoo.com hmm..penjual rujak
di dekat lapangan
kamal..sekarang
menjual dimana mi
itu koodng??? 25-10-2008 Dari : Mustamin al-Mandary | Jadi kalo mau
menggunakan lapangan
Karebosi harus bayar
di'? Mudah2an tidak
mahal. Kalau bayar
sih sekedar uang
infaq sama
pa'jagana, ndak
masalah. Yang saya
cemaskan kalo murni
jadi komersil, kayak
gedung futsal di
kota mukim saya.
Lebih sedih lagi
kalo masukki' harus
nitip KTP di petugas
hahaha. Melihat foto
kuburan tujuh itu,
saya ingat
kerangkeng anjing
atau pengaman
generator yang biasa
dipasang di depan
ruko di kota2 yang
sering mati
lampunya. Mudah2an
hanya sementara. 24-10-2008 Dari : syamsoe | toyota_gue@yahoo.com daeng.. saya tambah
foto kuburan 7 ta di
karebosi nah!...
fotonya bisa di
lihat di web
www.syamsoe.com 24-10-2008 Dari : Muh. Nur Taqwim | taqwimyunus@yahoo.co.id Harapan saya ke
depan, adalah
Karebosi benar-benar
dapat menjadi sarana
publik yang dapat
dibanggakan di Kota
Makassar. Karebosi
juga kita harapkan
bisa menjadi salah
satu tempat
pembinaan
kader-kader bangsa
yang baik. 23-10-2008 Dari : halim hd. | halimhade@yahoo.com dari data fotografi
kita bisa melihat
ternyata rumputnya
tidak benar-benar
terpelihara. 7 makan
yang dianggap
keramat, nampak
dikurung, dan disain
seperti itu membuat
warga diciptakan
berjarak. kembalai
ke soal klasik:
peturasan belum ada.
lalu: pasti pihak
pengelola akan
mengenakan biaya
untuk penggunaan
lapangan.
swastanisasi.
padahal, untuk apa
anggaran pembenahan
dan pemeliharaan
tata ruang publik
yang sudah ada dalam
undang-undang dan
peraturan daerah
itu? |
|
|
|
|
| ::
CITIZEN REPORTER |
 | (Kamis, 12-07-2007) |  | (Minggu, 29-04-2007) |  | (Selasa, 31-10-2006) |  | (Rabu, 11-10-2006) |  | (Rabu, 16-08-2006) | |
|
Untitled Document
| ::
DUNIA SEGIEMPAT KAREBOSI |
|
Untitled Document
| ::
KONTAK TIM PANYINGKUL! |
Email Redaksi :
redaksi@panyingkul.com
Tim:
yus@panyingkul.com
+62 813 226 80844
Moch. Hasymi
+62 811 955 954
|
|
|