Untitled Document
 


Untitled Document
.KITAKITA
:: Jika Anda di Panyingkul ::
 
 KABAR KITA
 
 BERANDAKITA
Kegilaan, Dari Cinta Mati di Pulau Rajuni Hingga Riwayat Kadang
:: Ivan Firdaus ::
Baba Guru, Mengenang Film Rhoma Irama di Klenteng Galesong
:: Kamaruddin Azis ::
Mengagumi Tenun Troso, Mengenang Tenun Sengkang
:: Suryadin Laoddang ::
Perempuan Besi di Gunung Perak (2-selesai)
:: M. Aan Mansyur ::
Perempuan Besi di Gunung Perak (1)
:: M. Aan Mansyur ::
 
 RISETKITA
Rasa Takut : Yang Dicitrakan, Yang Dipelihara
:: Aria W. Yudhistira ::
Risetkita: Pramoedya versus Sejarah Resmi
:: Nurhady Sirimorok ::
Hikayat Rumpon Nelayan Mandar
:: Muhammad Ridwan Alimuddin ::
Di Makassar Pernah Ada “Negeri Wajo”
:: Nurhady Sirimorok ::
Surat Itu Ditulis Upas kepada September
:: Nurhady Sirimorok ::
 
 BUKUKITA
 
 KATAKOTAKITA
Kenapa si Gondrong yang Maju?
:: Ivan Firdaus dan Mustamin al-Mandary ::
Karena ‘Rewa’ Badan Binasa
:: Sudirman Nasir ::
Yang Okkot, yang Salah Sambung
:: Nursamsu danTusiana Noor Alfisyahr ::
Kandala`ka`, Kusta Bila Dusta
:: Panyingkul ::
Ayo, Si(ng)kat Terussss..!
:: Panyingkul! ::

 
 TAHUKAHKITA
 

.
 ::
Kamis, 23-10-2008 
Mencoba Rumput Baru Lapangan Karebosi
:: Syaifullah ::


Tujuh kuburan di Karebosi.
Foto: Syaifullah.


Citizen reporter Syaifullah mengunjungi Lapangan Karebosi, Kota Makassar, pasca revitalisasi. Ia sempat ragu, apakah Karebosi yang baru ini masih akan menjadi public space yang bisa diakses oleh semua warga. Sejauh ini, karena memang belum rampung 100 persen, masih terdapat sejumlah kekurangan di alun-alun di jantung kota Makassar tersebut.(p)

 
“Besok siap-siap ya, kita akan bertanding di Karebosi ”, kata-kata manager tim sepakbola kantor kami itu kontan membuat saya bersemangat. Selain karena sepakbola adalah olahraga favorit saya, rasanya sudah cukup lama juga sejak terakhir kali saya bermain di Karebosi, dan tentu saja saya penasaran ingin mencicipi rumput Karebosi yang baru.

Sejak akhir tahun lalu, Karebosi tiba-tiba menjadi buah bibir warga Sulsel pada umumnya dan warga Makassar pada khususnya. Rencana pihak Pemkot Makassar untuk merevitalisasi lapangan Karebosi mengundang pro dan kontra, terutama karena adanya niatan dari pihak penanam modal yang mengubah sebagian lapangan Karebosi menjadi area bisnis.

Di tengah berbagai kecaman dan dukungan dari semua lapisan masyarakat, pihak Pemkot tetap berjalan sesuai rencana. Mereka juga berjanji kalau nantinya Karebosi yang baru akan jadi lebih baik berkali-kali lipat dibandingkan Karebosi yang lama.

Hampir setahun berselang, dan Karebosi betul-betul telah berubah. Area bisnis yang berada di bagian utara Karebosi nyaris rampung. Bulan Ramadhan tahun ini, Carrefour sebagai salah satu penyewa lahan bisnis tersebut memaksakan diri untuk melayani pembeli tepat di momen saat nafsu belanja warga Makassar sedang tinggi-tingginya. Carrefour berada di bawah tanah dan diatapi oleh hamparan beton yang finishingnya belum selesai 100%. Di atas hamparan beton tersebut nantinya akan ada lapangan upacara, heli pad dan arena olahraga. Hampir seperti Carrefour di bagian bawah, hamparan beton ini juga sudah melalui tahapan soft opening yang ditandai dengan acara sholat Ied tahun ini.

Di bagian selatan Karebosi terhampar 3 lapangan sepakbola berukuran standard. Ketiga lapangan ini dipisahkan oleh jalan setapak yang terbuat dari beton kasar. Di sisi kanan kiri jalan setapak tersebut pohon-pohon tinggi ditanam dalam deretan yang rapih. Setiap pohon diberi label yang terbuat dari plastik tipis. Entah apa yang tadinya tertulis di label tersebut karena saya hanya melihat sisa coretan spidol yang tak terbaca lagi.

Bila masuk dari arah Jl. Kartini atau sebelah selatan Karebosi kita terlebih dahulu harus melewati sebuah pintu besi. Sepanjang sisi Karebosi memang sudah dipasangi pagar BRC. Di pintu tersebut berdiri seorang satpam-sebenarnya ada dua orang satpam-berpakaian dinas lengkap dengan handy talkie di tangan. Tidak sembarang orang yang boleh melintasi pintu tersebut. Bila anda tak punya kepentingan dalam pertandingan yang sedang digelar, tentu sang satpam akan berkeras untuk mengusir anda.

Tadinya saya sempat bertanya dalam hati, bukankah dengan perlakuan satpam itu Karebosi nantinya tidak akan menjadi public space lagi ?. Namun saya beroleh keterangan bahwa tindakan protektif satpam tersebut hanya sementara karena toh Karebosi masih berada dalam proses pengerjaan dan belum rampung 100%.

Setelah melewati pintu besi kita akan segera bertemu dengan suasana yang tidak begitu jauh berbeda dengan Karebosi yang lama. Jalur beraspal selebar kurang lebih 3 meter dengan pedestrian di kanan kirinya. Pohon-pohon besar dan tumbuhan semaknya juga masih tetap seperti dulu. Pohon dan semak inilah yang dulunya sering digunakan para bencong penghuni karebosi sebagai tempat “bekerja”.

Sudah bisa digunakan bermain sepakbola.
Foto: Syaifullah.


Untuk bisa mencapai lapangan sepakbola Karebosi yang baru kita harus menapaki 8 anak tangga yang masing-masing setinggi kira-kira 20 cm dengan lebar kurang lebih 3 m. Pihak pengembang memang telah menambah ketinggian tanah Karebosi untuk mencegah tergenangnya air di musim hujan. Di beberapa poster yang dipasang pihak Pemkot Makassar terlihat jelas kondisi Karebosi lama yang selalu berubah menjadi danau di kala musim hujan datang.

Hari itu kami menggunakan lapangan yang berada di sebelah timur. Sementara lapangan di bagian tengah nampak sedang dipergunakan belasan anak muda berkostum PSM. Menurut informasi mereka adalah tim junior PSM.

Di antara lapangan yang berada di ujung timur dengan lapangan yang berada di tengah terletaklah situs tujua. Tujuh gundukan yang diyakini sebagai kuburan keramat. Situs yang telah dipercantik tersebut dikelilini pagar BRC sehingga terkesan sedikit kaku. Entah apakah pagar itu nantinya akan berada di sana selamanya atau hanya sekedar pagar sementara.

Dahulu Karebosi terdiri dari 6 buah lapangan sepakbola dengan kondisi yang beragam. Kondisi lapangan yang paling terawat tentu saja adalah salah satu lapangan di sebelah selatan yang dikelola oleh tim Makassar Football School (MFS). Perbedaannya jelas sekali. Lapangan milik MFS berumput hijau segar dengan ketebalan yang merata. Di sekeliling lapangan juga dipasangi pagar BRC yang tentu saja bermaksud untuk mencegah pihak tak berijin untuk menggunakannya. Biaya sewa lapangan MFS dulunya adalah sebesar Rp. 250.000,- satu partai atau kurang lebih 2 jam.

Lapangan lain yang kondisinya cukup lumayan adalah lapangan milik pak Kamal. Bagi para warga yang sering nongkrong di Karebosi, nama pak Kamal tentu bukan nama yang asing. Lelaki tua yang sudah berpuluh-puluh tahun menjadi pelatih sepakbola amatir tersebut bisa dianggap legenda bagi mereka yang akrab dengan Karebosi. Nah, lapangan tempat pak Kamal melatih kondisinya memang tidak sebagus lapangan milik MFS, meski memang lebih bagus daripada lapangan lain yang tidak terawat. Untuk menggunakan lapangan milik pak Kamal kita cukup merogoh kocek sebesar Rp. 150.000,- per partai.

Kondisi lapangan Karebosi yang lama sebenarnya rata-rata tidak bisa dibilang layak untuk sebuah pertandingan sepakbola. Rumputnya kasar dan tidak rata, sementara tanahnya sedikit keras dan berpasir. Untuk para pemain sepakbola yang gemar melakukan sliding tackle, kondisi ini sungguh tidak nyaman. Bila posisi sliding tackle kurang bagus maka bisa dipastikan bagian lutut akan langsung terkelupas, berwarna putih dan sejurus kemudian berwarna merah oleh darah. Perih dan sungguh tidak nyaman.

Selain itu, bila bermain di Karebosi kita harus cermat memilih sepatu. Jangan coba-coba menggunakan sepatu dengan pul yang keras apalagi dengan pul besi. Kondisi tanah yang keras ditanggung akan membuat betis langsung keram dan salah-salah kepala langsung pusing. Akselerasipun tentu tak akan selincah bila menggunakan sepatu dengan pul yang lembek.

Kondisi Karebosi yang baru sedikit berbeda. Tanahnya lebih gembur dan lembek. Tak perlu takut bila anda melakukan sliding tackle atau terjatuh saat beradu otot. Meski rumputnya belum terlalu rapat, namun jenisnya yang lembut lumayan bisa menghilangkan kekhawatiran saat bermain sepakbola di atasnya. Di pinggir lapangan nampak selang air sepanjang berpuluh-puluh meter yang menandakan kalau rumput di lapangan tersebut sering disiram. Pendek kata kondisi lapangan yang baru sudah cukup representatif untuk digunakan.

Tapi, lapangan Karebosi yang baru bukan tanpa kekurangan. Saat ini belum ada satupun WC umum yang disediakan di sekitar lapangan sepakbola. Kondisi ini tentu agak menyulitkan para pemain dan penonton, sehingga saat keinginan untuk buang air kecil tak tertahankan lagi, pohon-pohon besar dan tumbuhan semak kemudian menjadi pilihan. Jelas ini mengganggu kenyamanan.

Kekurangan lainnya adalah belum adanya tempat beratap semacam shuttle bus yang bisa dipergunakan untuk para pemain cadangan atau penonton untuk berteduh. Bila hujan tiba bisa dipastikan orang-orang yang tidak ikut bermain tentu akan lari terbirit-birit mencari perlindungan.

Saya belum tahu bagaimana perencanaan lapangan Karebosi selanjutnya, termasuk apakah nantinya lapangan tersebut dapat dipergunakan secara bebas oleh warga Makassar. Saat pertandingan digelar saya mendengar kabar kalau pihak penyelenggara membayar Rp. 500.000,- kepada pihak pengelola sebagai biaya sewa lapangan.

Sore itu selepas pertandingan digelar, saya berdiri di salah satu sudut lapangan Karebosi. Ada ada banyak kenangan tentang Karebosi lama yang berlarian di kepala saya. Karebosi memang telah banyak berubah, meski kondisinya lebih baik namun ada kesan angkuh dan dingin yang saya tangkap. Semoga saja kesan itu hanya untuk sementara sebelum nantinya Karebosi kembali menjadi alun-alun kota yang hangat, ramah dan terbuka bagi siapa saja tanpa harus membayar sepeserpun.(p!)

*Citizen reporter Syaifullah dapat dihubungi melalui email ipul.ji@gmail.com


| Beri Komentar| Jumlah Komentar (17) |

Komentar :

11-02-2009
Dari : M.Ridwan | lapacikoa@yahoo.com
Saya sangat tidak setuju dengan revitalisasi Karebosi, karena ada banyak kejanggalan dimulai pada saat tender hingga tahap penyelesaian sekarang. Mengapa harus ada sarana komersial dibawahnya dan kenapa hanya pihak Tosan yang mengelolanya (Bang Hasan) Jika nanti peta politik berubah baik tingkat lokal maupun Nasional maka otomatis semua pejabat dan mantan pejabat yang terkait dengan proyek ini akan diusut.

05-02-2009
Dari : maureen | mamaskar@gmail.com
bukannya sy tukang parkir, tapi sepertix KAREBOSI jadi tempat parkir yg LUAAASSS....jd public spacex yang mana ya??

21-01-2009
Dari : fenny | fenny_git2ndgig@yahoo.co.id
bukannya sy penjaga WC. tapi sy sempat bertanding softball di lap. karebosi. ada wc umum di sekitar lapangan. tapi jauh dari lapangan bola! di dekat lapangan softball. trun tangga di sebelah kiri. pake karcis. harganya klu ndk 1000, mgkn 1500! WCnya cuma ada 2! buruan pake WCnya sebelum habiss!!! hah?

14-01-2009
Dari : lGaEcglPnQmKbjTWcC | hxccuj@vasrkw.com
n5CTYd iktcnbzawuwf, [url=http://pumokpzx mqqs.com/]pumokpzxmq qs[/url], [link=http://zprnixn hdiuo.com/]zprnixnhd iuo[/link], http://wrrtvjrlppve. com/

13-01-2009
Dari : surul | asrulbachtiar@ymail.com
Sudah lama sekalima ndak kuliaki Lapangan Karebosi.Jadi ndak baik juga kasih komentar yang terkesan dipaksakan. Apalagi di rubrik ini hanya menampilkan dua buah gambar yang diambil dari sudut mana...lingu tonga.Yang ingin saya tanyakan kepada daeng, kalau kita sholat IED, apakah tempat yang kita pakai bersujud ke Yang Maha Kuasa, juga sudah dibayar ke penguasa Lapangan Karebosi.....? edede nalinguia. Tarima kasi daeng.

02-01-2009
Dari : adhy | dejavu72@ymail.com
awalnya saya juga termasuk salah satu yang kontra akan revitalisasi karebosi, namun setelah melihat rancangan pembangunan yang menurut saya cukup eksotis, kenapa tidak kita melakukan sebuah perubahan dan mengikuti zaman..? Toh, kita pribadi juga sedang membenahi diri dan menyesuaikan dengan perubahan sekitar. Contoh kecil saja, kita-kita semua sudah pakai internet, yah salah satu gunanya bikin komentar di sini. Itu kan salah satu bukti kalau kita mengikuti perkembangan zaman, trus apa salahnya kalau kota kita juga mengikuti modernisasi, jadi gak monoton begitu-begitu terus. "alam menyesuaikan diri dengan lingkungan", dan "lingkungan akan turut dengan alam". Tenang meki' saja.. selama semuanya tidak dipaksakan, bakalan berjalan mulusji itu. Kalaupun kita masyarakat Makassar mesti mengeluarkan duit untuk menikmati lapangan tersebut, kenapa tidak kalau kita masih mampu dan memang wajar..? lapangannya kan juga ikut terawat dengan adanya uang kontribusi dari kita-kita. Bayangkan saja ketika kita mau main bola di sana, trus habis hujan lapangannya kurang rumput, jadinya becek.. siapa yang mau pusing urusi hal tersebut..? makanya ada kontribusi buat bayar pekerjanya biar kita bisa lebih nyaman.. semoga daeng-daeng dapat mengerti.. saya juga orang makassar asliji.. ingat meQ saja satu, di akhirat, pemimpinlah yang terlebih dahulu dimintai pertanggung jawabannya.. wassalam..

18-12-2008
Dari : acha | acha@yahoo.co.id
kerakusan dan ketamakan atas nama pembangunanisme telah mengganti nilai nilai sejarah,,,, karebosiku tinggal kenangan

14-12-2008
Dari : Bondan | nur_makassar@yahoo.co.id
Biar di bikin bagaimana itu modelnya karebosi, bencongnya tetap bercokol disitu. sekarang pindahmi di sudut. tidak jauhji. tepat di traficlight. jadi sampai sekarang karebosi tetap identik dengan warianya. orang klo ngomong karebosi, pasti ikut di pikirannya bencong.

12-12-2008
Dari : budi | orangedank@yahoo.co.id
karebosi harus tetap di kawal, jangan sampai tujuan awalnya melenceng jauh dari yang kita harapkan...

10-12-2008
Dari : Abdul Azis | azis_mks@yahoo.com
Karebosi sebagai lapangan terbuka (koning plain, alun-alun, land mark) telah menjadi korban dari modernisasia. Namanya saja modernisasi dengan jargon "pembangunan" sudah pasti banyak mengorbankan manusia (teori piramida kurban). Korban dalam artian ekonomi, sosial dan budaya warga Makassar. Dalam satu hal saya sepakat bahwa Pemkot Makassar telah mencatat "sejarah" dalam konteks komersialisasi ruang publik. Harus diakui jika dicari seluruh samanya di Indoensia hanya Makassar yang menjadikan areal publik (lapangan umum)menjadi sarana ekonomi/komersial. ini juga bukti kongkret bahwa Pemkot Makassar dalam membangun Makassar tidak punya orientasi yang jelas, tidak pro rakyat (pro kapitalis), tidak ramah lingkungan, dan tidak humanis.sebuah pembangunan yang abai terhadap pendekatan mikrokosmos dan makrokosmos. Semoga saja Allah SWT melindungi kita semua, menghidarkan kita dari segala Bencana kemanusian dan ekologi.

28-11-2008
Dari : anzhu | sbg 'pemerhati segala'
hmm.. Dg. Bunga, penjaga lapangan, Pingkan dan teman-teman yang lain sekarang mencari hidup di mana yah setelah lahan hidup mereka diambil alih oleh para pemilik modal itu?

12-11-2008
Dari : |
sekarang bocorki drainasenya karebosi dende'...! kolong betonnya sempat tergenang air.. sudah empat hari yang lalu bocor waktu komentar ini ditulis. menariknya, kejadian itu ditanggapi oleh salah satu petinggi pemerintah kita di sulsel dengan nada yang agak pa'cidda'. kurang lebih dia bilang: saya bilang memang kenapakah dibikin begitu itu karebosi?.. kynya isu itu benar; ada disharmoni di antara pejabat kota dengan petinggi propinsi kita itu.. wiuw.. bakal tambah kacau kayanya.. n kita juga tahu bahwa sulit bagi kita untuk tidak berasumsi bahwa sikap pro atau kontra itu tidak beranjak dari perbedaan kepentingan politik, bukan karena murni perbedaan pandangan (problem komunikasi)..

11-11-2008
Dari : arhyen | ye2n_bl@yahoo.com
hmm..penjual rujak di dekat lapangan kamal..sekarang menjual dimana mi itu koodng???

25-10-2008
Dari : Mustamin al-Mandary |
Jadi kalo mau menggunakan lapangan Karebosi harus bayar di'? Mudah2an tidak mahal. Kalau bayar sih sekedar uang infaq sama pa'jagana, ndak masalah. Yang saya cemaskan kalo murni jadi komersil, kayak gedung futsal di kota mukim saya. Lebih sedih lagi kalo masukki' harus nitip KTP di petugas hahaha. Melihat foto kuburan tujuh itu, saya ingat kerangkeng anjing atau pengaman generator yang biasa dipasang di depan ruko di kota2 yang sering mati lampunya. Mudah2an hanya sementara.

24-10-2008
Dari : syamsoe | toyota_gue@yahoo.com
daeng.. saya tambah foto kuburan 7 ta di karebosi nah!... fotonya bisa di lihat di web www.syamsoe.com

24-10-2008
Dari : Muh. Nur Taqwim | taqwimyunus@yahoo.co.id
Harapan saya ke depan, adalah Karebosi benar-benar dapat menjadi sarana publik yang dapat dibanggakan di Kota Makassar. Karebosi juga kita harapkan bisa menjadi salah satu tempat pembinaan kader-kader bangsa yang baik.

23-10-2008
Dari : halim hd. | halimhade@yahoo.com
dari data fotografi kita bisa melihat ternyata rumputnya tidak benar-benar terpelihara. 7 makan yang dianggap keramat, nampak dikurung, dan disain seperti itu membuat warga diciptakan berjarak. kembalai ke soal klasik: peturasan belum ada. lalu: pasti pihak pengelola akan mengenakan biaya untuk penggunaan lapangan. swastanisasi. padahal, untuk apa anggaran pembenahan dan pemeliharaan tata ruang publik yang sudah ada dalam undang-undang dan peraturan daerah itu?



 :: CITIZEN REPORTER
Makassar di Panyingkul!: Sebuah Persembahan
(Kamis, 12-07-2007)
Ayo Bergabung di Panyingkul!
(Minggu, 29-04-2007)
Catatan Sederhana Para Citizen Reporter
(Selasa, 31-10-2006)
Tentang Citizen Reporter dan Rubrik di Panyingkul!
(Rabu, 11-10-2006)
Riuh Rendah di Panyingkul!
(Rabu, 16-08-2006)

Untitled Document
 :: DUNIA SEGIEMPAT KAREBOSI






 :: PILKADA




 :: ALBUM PUASA 2008




Untitled Document
 :: KONTAK TIM PANYINGKUL!

Email Redaksi :

redaksi@panyingkul.com

Tim:
yus@panyingkul.com
+62 813 226 80844

Moch. Hasymi
+62 811 955 954


© Juni 2006 - Panyingkul.com All Rights Reserved
Desain Web : Nesia Andriana -- Supported by: Yuhardin