Untitled Document
 


Untitled Document
.KITAKITA
:: Jika Anda di Panyingkul ::
 
 KABAR KITA
 
 BERANDAKITA
Kegilaan, Dari Cinta Mati di Pulau Rajuni Hingga Riwayat Kadang
:: Ivan Firdaus ::
Baba Guru, Mengenang Film Rhoma Irama di Klenteng Galesong
:: Kamaruddin Azis ::
Mengagumi Tenun Troso, Mengenang Tenun Sengkang
:: Suryadin Laoddang ::
Perempuan Besi di Gunung Perak (2-selesai)
:: M. Aan Mansyur ::
Perempuan Besi di Gunung Perak (1)
:: M. Aan Mansyur ::
 
 RISETKITA
Rasa Takut : Yang Dicitrakan, Yang Dipelihara
:: Aria W. Yudhistira ::
Risetkita: Pramoedya versus Sejarah Resmi
:: Nurhady Sirimorok ::
Hikayat Rumpon Nelayan Mandar
:: Muhammad Ridwan Alimuddin ::
Di Makassar Pernah Ada “Negeri Wajo”
:: Nurhady Sirimorok ::
Surat Itu Ditulis Upas kepada September
:: Nurhady Sirimorok ::
 
 BUKUKITA
 
 KATAKOTAKITA
Kenapa si Gondrong yang Maju?
:: Ivan Firdaus dan Mustamin al-Mandary ::
Karena ‘Rewa’ Badan Binasa
:: Sudirman Nasir ::
Yang Okkot, yang Salah Sambung
:: Nursamsu danTusiana Noor Alfisyahr ::
Kandala`ka`, Kusta Bila Dusta
:: Panyingkul ::
Ayo, Si(ng)kat Terussss..!
:: Panyingkul! ::

 
 TAHUKAHKITA
 

.
 ::
Rabu, 29-10-2008 
Pemilihan Walikota Makassar
Kutunggu Janjimu di Pasar Pannampu
:: M. Ruslailang Noertika ::


Di Pasar Pannampu, pedagang memegang kontrak politik dan sudah menetapkan pilihan..
Foto: Muhammad Ruslailang Noertika.


Hari ini warga Makassar memilih walikota dan wakil walikota periode 2009-2014. Media massa gencar memberitakan manuver menit-menit terakhir ketujuh pasang kandidat. Ada yang berzikir, ziarah kubur, salat tahajud, hingga baca puisi menjelang hari “H”. Mereka deg-degan tentu saja. Tapi antusiasme sekaligus rasa gelisah bukan hanya milik para kandidat. Ada warga yang tak tenang menjelang hari pencoblosan, ada yang bersemangat juga yang berjanji ramai-ramai ke TPS memilih kandidat idola. Berikut ini dialog seputar pemilihan walikota, hak pilih dan perbedaan pandangan antargenerasi yang tersaji di sebuah keluarga pedagang pasar Pannampu, yang disajikan citizen reporter Muhammad Ruslailang Noertika.(p!)
 
Haji Muhammad Nur, 67 tahun terlihat gelisah ketika sore itu duduk santai bersama anak-anaknya di salah satu rumah di bilangan Cibinong, Bogor. Sudah sepuluh hari ini ia berada di kota hujan itu untuk berlibur dari akitivitas
hariannya sebagai pedagang di Pannampu Makassar. Liburan ini juga dimanfaatkannya untuk menghadiri pesta aqiqah cucunya yang ke-12 yang dilangsungkan sepekan lalu. Sepuluh hari dilaluinya dengan bercengkerama bersama anak dan cucu-cucunya yang lucu, ia masih diminta untuk berlama-lama di Bogor, paling tidak sepekan lagi demi menuntaskan rindu. Tidak setiap tahun mereka bisa berkumpul bersama, begitu alasan utamanya.

Sebenarnya dia masih betah berlama-lama, namun ada satu hal yang membuatnya berat meluluskan keinginan anak-anak yang disayanginya itu. Pasalnya, pemilihan Walikota Makassar akan dilangsungkan Rabu 29 Oktober 2008. Dia sudah mengikat janji dengan rekan-rekannya sesama pedagang di Pasar Pannampu untuk meramaikan pesta demokrasi ini. Di benak mereka semua, sudah ada satu nama kandidat yang akan mereka coblos di hari itu. Dan Aji, demikian beliau disapa oleh anak-anaknya, tentu tak ingin suara nya hilang begitu saja di hari 'mattoddo' itu. Satu suara beliau dianggap turut menentukan apakah kandidat pilihannya bisa menang atau kalah menuju kursi walikota Makassar.

"Apakah Aji khawatir dianggap warga kota yang tercela karena tidak menggunakan hak pilih? Ini kan sudah bukan jaman Soeharto, ketika Golput dianggap kriminal" cetus salah seorang anaknya. Anak yang lain menimpali, "Lagian, sewaktu semalam menonton acara debat kandidat di salah satu statiun TV kelihatannya tidak ada yang bagus tuh. Semuanya meragukan". Meski jauh ribuan kilometer dari Makassar, mereka masih tetap setia mengikuti perkembangan kota tempat mereka tumbuh berkembang itu. Anaknya yang tertua ikutan menimpali, "Iya, kehilangan satu suara kan tidak berpengaruh juga".

Diberondong pertanyaan bernada protes itu, Aji bergeming. "Bukan begitu, saya sudah janji dengan teman-teman pedagang Pasar Pannampu untuk bersama-sama mencoblos si Anu.." Sang ayah mengajukan argumen sambil menyebut nama kandidat yang nama keluarganya cukup terkenal terutama karena salah satu saudaranya adalah mantan Kepala Polisi Daerah Sulsel yang dipecat oleh pemerintah Megawati akibat peristiwa demonstrasi brutal di UMI tahun 2004 silam. "Dia kelihatannya baik.."lanjutnya. "Dan hanya dia yang menjanjikan untuk memberikan sertifikat kepemilikan rumah dan tanah kepada para pedangan penghuni Pasar Pannampu. Sertifikat ini dari dulu kita perjuangkan, karena walikota yang sekarang tidak mau memberikan, malah mau menggusur kita semua."

"Ah, Aji termakan janji kandidat itu. Belum tentu nanti janjinya diwujudkan, apalagi menurut berita dia pernah terlibat masalah korupsi juga." timpal salah seorang dari anak-anaknya yang sedari tadi belum bersuara. Aji kali ini diam saja, mungkin beliau tak merisaukan soal masa lalu si kandidat. Dalam benak beliau, hanya ada satu harapan yang mungkin bisa tertunaikan meski masih sebatas janji.

Dari semua kandidat, hanya ada satu calon yang pernah berjanji secara langsung untuk memperjuangkan kepentingan mereka, para pedagang Pasar Pannampu. Sejak empat tahun silam, para pedagang ini selalu khawatir bakal tergusur oleh rencana besar pemerintah Kota untuk menyulap pasar tradisional itu menjadi pasar modern sebagaimana yang telah terjadi di tempat lainnya semisal Pasar Maricaya dan Pabangbaeng. Apalagi sudah berkali-kali Pasar ini terbakar, yang menurut para pedagang adalah tindakan yang disengaja oleh oknum aparat PD Pasar Makassar Raya. Terakhir, pasar tradisional yang berdiri tahun 1980 itu terbakar di awal Januari 2008, menghanguskan sekitar 34 kios pedagang. Peristiwa kebakaran yang kejadiannya sudah sering terkadang dijadikan alasan pembenaran bagi PD Pasar Makassar Raya untuk membongkar pasar tradisional yang menghampar seluas 4,8 hektar di pusat kecamatan Tallo. Oleh Pemerintah Kota Makassar, Pasar Pannampu sudah lama menjadi prioritas pembenahan karena alasan kesemrawutan yang sangat parah dan dianggap sudah tidak layak lagi dijadikan sebagai pasar tradisional.

Nun jauh di Pannampu, Wawan, 20 tahun, anak bungsu pak Aji yang masih berstatus mahasiswa perguruan tinggi negeri di Makassar, bersama pemuda pasar Pannampu juga sedang bersiap-siap menghadapi pemilihan walikota Makassar. Mereka, para pemuda pasar Pannampu, telah juga menetapkan hati untuk bersepakat memilih kandidat yang sama. Rupanya telah terbentuk kesepakatan massal di pasar Pannampu untuk mengusung hanya satu kandidat dalam pemilihan kali ini.

Di tangan mereka, tersimpan rapi "Kontrak Politik" yang ditandatangani oleh sang kandidat. Isinya persis sebagaimana harapan para pedagang Pasar Pannampu yang menginginkan penggusuran tidak dilakukan lengkap dengan butir-butir konsekuensi yang akan diambil oleh para pedagang bilamana kontrak tak tertunaikan.

"Bagaimana bila sang kandidat tidak terpilih? Melihat hitung-hitungan politik memperkirakan incumbent akan terpilih lagi? tanya saya suatu kali kepada si bungsu. "Memang betul ada kecenderungan incumbent menang lagi. Tapi kami berharap bahwa akan ada pemilihan putaran kedua, mudah-mudahan di putaran kedua sang kandidat bisa menang!”

Kini kontrak politik itu seperti menunggu takdirnya, apakah akan terwujud atau hanya menjadi lembaran kertas yang tak memiliki makna, karena kehilangan konteks dan kekuatan politik. Dan hari ini, warga pasar Pannampu penuh harap menghitung peluang pasangan idola mereka! (p!)

*Citizen reporter Muhammad Ruslailang Noertika dapat dihubungi melalui email daengrusle@angingmammiri.org

| Beri Komentar| Jumlah Komentar (3) |

Komentar :

29-10-2008
Dari : Muh. Nur Taqwim | taqwimyunus@yahoo.co.id
Saya tidak terlalu risau dengan hasil yang diperoleh pada Pilkot Makassar, kegalauan saya muncul jikalau masyarakat tidak merasa penting untuk menganalisis secara baik dan cerdas visi-misi kandidat sebelum menentukan pilihannya. Toh harus disadari bila visi-misi itulah yang nantinya menjadi acuan untuk membangun Kota Makassar ke depan. Kegelisahan saya selanjutnya, adalah ketika berada di TPS saya menemukan kejadian yang tidak mengenakkan sehingga saya terpaksa pesimis dengan hasil Pilkot ini, apakah akan dapat Ridho atau tidak...? Semoga Tuhan mau mengampuni kita semua.

29-10-2008
Dari : syukri_b | 120571
Siapapun yang jadi walikota makassar,'kelihatann ya akan sama saja sepanjang: 1.Status-status feodal masih melekat pada pemimpin-pemimpin yang akan terpilih. ada suatu kebiasaan orang bugis/makassar bila mana terpilih menjadi pemimpin,'sering kali tiba tiba tumbuh sifat-sifat feodal yang cendrung arogan dengan asumsi "bahwa kemenangannya diperoleh karena memang adanya faktor keturunan pemimpin yang mengalir di darahnya ( abbijangeng )".Ia lupa bahwa di balik kemenangannya ada orang-orang yang tidak di kenal rela berkorban untuknya karena adanya ikatan "siri' na pesse". 2.Kebiasaan sebahagian orang bugis/makassar,bilam ana ada yang di anggap keluarga muncul jadi terhormat( pemimpin ),serta merta yang mengaku-ngaku itu,juga merasa sebagai pemimpin.sehingga kebijakan-kebijakan yang di kelurkan oleh sang pemimpin kadang terinspirasi oleh kepentingan keluarga. 3.Kebiasaan sebahagian orang bugis/makassar yang sangat senang dengan uang kaget,rejeki nomplok.uang kaget tersebut kadang di peroleh dengan cara yang tidak halal,misalnya;merub ah tarif umum menjadi tarif dadakan kepada pembeli / pemakai jasa yang dianggapnya "orang baru-baru". Praktek ini telah terkenal di daerah bugis/makassar yang sampai saat ini masih di anggap biasa,padahal hukumnya haram bagi agama yang mayoritas di anut di daerah bugis/makassar.pelak unya adalah tukang becak,agen transport darat-udara-laut,war ung-warung nasi bahkan pada yang di percaya sebagai pemandu. Demikian sekedar saran dan keritik,harapannya supaya mas'alah-mas'alah tersebut diatas bisa di perhatikan dan di perbaiki bukan untuk di tertawai agar hasrat dan harapan ( NEED AND HOPE MEMINJAM ISTILAHNYA BAPAK SYAHRUL YASIN LIMPO KETIKA MENJAWAB PERTANYAAN RIZAL MALLARANGENG DI ACARA SAVE OUER NATION METRO TV) bisa terwujud / ANGKASARAK'KI di tanah makassar insya Allah aamiin. Selleng uddanik'ku ri tanah ogi/mangkasara,memmu are to pada salama ri allabuangetta.

29-10-2008
Dari : kapitipiti | kapitipitie@yahoo.co.jp
Agar Makassar dapat menjadi kota dunia(pinjam istilah salah satu kandidat) sebaiknya pasar seperti ini diberi atap (model Arcade), trotoar, saluran pembuangan dan tempat sampah dirapikan dengan tetap memberdayakan pedagang-pedagang lokal. Masa' Makassar tidak bisa.



 :: CITIZEN REPORTER
Makassar di Panyingkul!: Sebuah Persembahan
(Kamis, 12-07-2007)
Ayo Bergabung di Panyingkul!
(Minggu, 29-04-2007)
Catatan Sederhana Para Citizen Reporter
(Selasa, 31-10-2006)
Tentang Citizen Reporter dan Rubrik di Panyingkul!
(Rabu, 11-10-2006)
Riuh Rendah di Panyingkul!
(Rabu, 16-08-2006)

Untitled Document
 :: DUNIA SEGIEMPAT KAREBOSI






 :: PILKADA




 :: ALBUM PUASA 2008




Untitled Document
 :: KONTAK TIM PANYINGKUL!

Email Redaksi :

redaksi@panyingkul.com

Tim:
yus@panyingkul.com
+62 813 226 80844

Moch. Hasymi
+62 811 955 954


© Juni 2006 - Panyingkul.com All Rights Reserved
Desain Web : Nesia Andriana -- Supported by: Yuhardin