|
|
| . |
| ::
|
| Rabu, 29-10-2008 | Pemilihan Walikota Makassar Kutunggu Janjimu di Pasar Pannampu :: M. Ruslailang Noertika ::
| Di Pasar Pannampu, pedagang memegang kontrak politik dan sudah menetapkan pilihan.. Foto: Muhammad Ruslailang Noertika.
Hari ini warga Makassar memilih walikota dan wakil walikota periode 2009-2014. Media massa gencar memberitakan manuver menit-menit terakhir ketujuh pasang kandidat. Ada yang berzikir, ziarah kubur, salat tahajud, hingga baca puisi menjelang hari “H”. Mereka deg-degan tentu saja. Tapi antusiasme sekaligus rasa gelisah bukan hanya milik para kandidat. Ada warga yang tak tenang menjelang hari pencoblosan, ada yang bersemangat juga yang berjanji ramai-ramai ke TPS memilih kandidat idola. Berikut ini dialog seputar pemilihan walikota, hak pilih dan perbedaan pandangan antargenerasi yang tersaji di sebuah keluarga pedagang pasar Pannampu, yang disajikan citizen reporter Muhammad Ruslailang Noertika.(p!) | Haji Muhammad Nur, 67 tahun terlihat gelisah ketika sore itu duduk santai bersama anak-anaknya di salah satu rumah di bilangan Cibinong, Bogor. Sudah sepuluh hari ini ia berada di kota hujan itu untuk berlibur dari akitivitas
hariannya sebagai pedagang di Pannampu Makassar. Liburan ini juga dimanfaatkannya untuk menghadiri pesta aqiqah cucunya yang ke-12 yang dilangsungkan sepekan lalu. Sepuluh hari dilaluinya dengan bercengkerama bersama anak dan cucu-cucunya yang lucu, ia masih diminta untuk berlama-lama di Bogor, paling tidak sepekan lagi demi menuntaskan rindu. Tidak setiap tahun mereka bisa berkumpul bersama, begitu alasan utamanya.
Sebenarnya dia masih betah berlama-lama, namun ada satu hal yang membuatnya berat meluluskan keinginan anak-anak yang disayanginya itu. Pasalnya, pemilihan Walikota Makassar akan dilangsungkan Rabu 29 Oktober 2008. Dia sudah mengikat janji dengan rekan-rekannya sesama pedagang di Pasar Pannampu untuk meramaikan pesta demokrasi ini. Di benak mereka semua, sudah ada satu nama kandidat yang akan mereka coblos di hari itu. Dan Aji, demikian beliau disapa oleh anak-anaknya, tentu tak ingin suara nya hilang begitu saja di hari 'mattoddo' itu. Satu suara beliau dianggap turut menentukan apakah kandidat pilihannya bisa menang atau kalah menuju kursi walikota Makassar.
"Apakah Aji khawatir dianggap warga kota yang tercela karena tidak menggunakan hak pilih? Ini kan sudah bukan jaman Soeharto, ketika Golput dianggap kriminal" cetus salah seorang anaknya. Anak yang lain menimpali, "Lagian, sewaktu semalam menonton acara debat kandidat di salah satu statiun TV kelihatannya tidak ada yang bagus tuh. Semuanya meragukan". Meski jauh ribuan kilometer dari Makassar, mereka masih tetap setia mengikuti perkembangan kota tempat mereka tumbuh berkembang itu. Anaknya yang tertua ikutan menimpali, "Iya, kehilangan satu suara kan tidak berpengaruh juga".
Diberondong pertanyaan bernada protes itu, Aji bergeming. "Bukan begitu, saya sudah janji dengan teman-teman pedagang Pasar Pannampu untuk bersama-sama mencoblos si Anu.." Sang ayah mengajukan argumen sambil menyebut nama kandidat yang nama keluarganya cukup terkenal terutama karena salah satu saudaranya adalah mantan Kepala Polisi Daerah Sulsel yang dipecat oleh pemerintah Megawati akibat peristiwa demonstrasi brutal di UMI tahun 2004 silam. "Dia kelihatannya baik.."lanjutnya. "Dan hanya dia yang menjanjikan untuk memberikan sertifikat kepemilikan rumah dan tanah kepada para pedangan penghuni Pasar Pannampu. Sertifikat ini dari dulu kita perjuangkan, karena walikota yang sekarang tidak mau memberikan, malah mau menggusur kita semua."
"Ah, Aji termakan janji kandidat itu. Belum tentu nanti janjinya diwujudkan, apalagi menurut berita dia pernah terlibat masalah korupsi juga." timpal salah seorang dari anak-anaknya yang sedari tadi belum bersuara. Aji kali ini diam saja, mungkin beliau tak merisaukan soal masa lalu si kandidat. Dalam benak beliau, hanya ada satu harapan yang mungkin bisa tertunaikan meski masih sebatas janji.
Dari semua kandidat, hanya ada satu calon yang pernah berjanji secara langsung untuk memperjuangkan kepentingan mereka, para pedagang Pasar Pannampu. Sejak empat tahun silam, para pedagang ini selalu khawatir bakal tergusur oleh rencana besar pemerintah Kota untuk menyulap pasar tradisional itu menjadi pasar modern sebagaimana yang telah terjadi di tempat lainnya semisal Pasar Maricaya dan Pabangbaeng. Apalagi sudah berkali-kali Pasar ini terbakar, yang menurut para pedagang adalah tindakan yang disengaja oleh oknum aparat PD Pasar Makassar Raya. Terakhir, pasar tradisional yang berdiri tahun 1980 itu terbakar di awal Januari 2008, menghanguskan sekitar 34 kios pedagang. Peristiwa kebakaran yang kejadiannya sudah sering terkadang dijadikan alasan pembenaran bagi PD Pasar Makassar Raya untuk membongkar pasar tradisional yang menghampar seluas 4,8 hektar di pusat kecamatan Tallo. Oleh Pemerintah Kota Makassar, Pasar Pannampu sudah lama menjadi prioritas pembenahan karena alasan kesemrawutan yang sangat parah dan dianggap sudah tidak layak lagi dijadikan sebagai pasar tradisional.
Nun jauh di Pannampu, Wawan, 20 tahun, anak bungsu pak Aji yang masih berstatus mahasiswa perguruan tinggi negeri di Makassar, bersama pemuda pasar Pannampu juga sedang bersiap-siap menghadapi pemilihan walikota Makassar. Mereka, para pemuda pasar Pannampu, telah juga menetapkan hati untuk bersepakat memilih kandidat yang sama. Rupanya telah terbentuk kesepakatan massal di pasar Pannampu untuk mengusung hanya satu kandidat dalam pemilihan kali ini.
Di tangan mereka, tersimpan rapi "Kontrak Politik" yang ditandatangani oleh sang kandidat. Isinya persis sebagaimana harapan para pedagang Pasar Pannampu yang menginginkan penggusuran tidak dilakukan lengkap dengan butir-butir konsekuensi yang akan diambil oleh para pedagang bilamana kontrak tak tertunaikan.
"Bagaimana bila sang kandidat tidak terpilih? Melihat hitung-hitungan politik memperkirakan incumbent akan terpilih lagi? tanya saya suatu kali kepada si bungsu. "Memang betul ada kecenderungan incumbent menang lagi. Tapi kami berharap bahwa akan ada pemilihan putaran kedua, mudah-mudahan di putaran kedua sang kandidat bisa menang!”
Kini kontrak politik itu seperti menunggu takdirnya, apakah akan terwujud atau hanya menjadi lembaran kertas yang tak memiliki makna, karena kehilangan konteks dan kekuatan politik. Dan hari ini, warga pasar Pannampu penuh harap menghitung peluang pasangan idola mereka! (p!)
*Citizen reporter Muhammad Ruslailang Noertika dapat dihubungi melalui email daengrusle@angingmammiri.org
|
| | Jumlah
Komentar (3) |
|
| Komentar :
29-10-2008 Dari : Muh. Nur Taqwim | taqwimyunus@yahoo.co.id Saya tidak terlalu
risau dengan hasil
yang diperoleh pada
Pilkot Makassar,
kegalauan saya
muncul jikalau
masyarakat tidak
merasa penting untuk
menganalisis secara
baik dan cerdas
visi-misi kandidat
sebelum menentukan
pilihannya. Toh
harus disadari bila
visi-misi itulah
yang nantinya
menjadi acuan untuk
membangun Kota
Makassar ke depan.
Kegelisahan saya
selanjutnya, adalah
ketika berada di TPS
saya menemukan
kejadian yang tidak
mengenakkan sehingga
saya terpaksa
pesimis dengan hasil
Pilkot ini, apakah
akan dapat Ridho
atau tidak...?
Semoga Tuhan mau
mengampuni kita
semua. 29-10-2008 Dari : syukri_b | 120571 Siapapun yang jadi
walikota
makassar,'kelihatann
ya akan sama saja
sepanjang:
1.Status-status
feodal masih melekat
pada
pemimpin-pemimpin
yang akan terpilih.
ada suatu kebiasaan
orang bugis/makassar
bila mana terpilih
menjadi
pemimpin,'sering
kali tiba tiba
tumbuh sifat-sifat
feodal yang cendrung
arogan dengan asumsi
"bahwa kemenangannya
diperoleh karena
memang adanya faktor
keturunan pemimpin
yang mengalir di
darahnya (
abbijangeng )".Ia
lupa bahwa di balik
kemenangannya ada
orang-orang yang
tidak di kenal rela
berkorban untuknya
karena adanya ikatan
"siri' na pesse".
2.Kebiasaan
sebahagian orang
bugis/makassar,bilam
ana ada yang di
anggap keluarga
muncul jadi
terhormat( pemimpin
),serta merta yang
mengaku-ngaku
itu,juga merasa
sebagai
pemimpin.sehingga
kebijakan-kebijakan
yang di kelurkan
oleh sang pemimpin
kadang terinspirasi
oleh kepentingan
keluarga.
3.Kebiasaan
sebahagian orang
bugis/makassar yang
sangat senang dengan
uang kaget,rejeki
nomplok.uang kaget
tersebut kadang di
peroleh dengan cara
yang tidak
halal,misalnya;merub
ah tarif umum
menjadi tarif
dadakan kepada
pembeli / pemakai
jasa yang
dianggapnya "orang
baru-baru".
Praktek ini telah
terkenal di daerah
bugis/makassar yang
sampai saat ini
masih di anggap
biasa,padahal
hukumnya haram bagi
agama yang mayoritas
di anut di daerah
bugis/makassar.pelak
unya adalah tukang
becak,agen transport
darat-udara-laut,war
ung-warung nasi
bahkan pada yang di
percaya sebagai
pemandu.
Demikian sekedar
saran dan
keritik,harapannya
supaya
mas'alah-mas'alah
tersebut diatas bisa
di perhatikan dan di
perbaiki bukan untuk
di tertawai agar
hasrat dan harapan (
NEED AND HOPE
MEMINJAM ISTILAHNYA
BAPAK SYAHRUL YASIN
LIMPO KETIKA
MENJAWAB PERTANYAAN
RIZAL MALLARANGENG
DI ACARA SAVE OUER
NATION METRO TV)
bisa terwujud /
ANGKASARAK'KI di
tanah makassar insya
Allah aamiin.
Selleng uddanik'ku
ri tanah
ogi/mangkasara,memmu
are to pada salama
ri allabuangetta. 29-10-2008 Dari : kapitipiti | kapitipitie@yahoo.co.jp Agar Makassar dapat
menjadi kota
dunia(pinjam istilah
salah satu kandidat)
sebaiknya pasar
seperti ini diberi
atap (model Arcade),
trotoar, saluran
pembuangan dan
tempat sampah
dirapikan dengan
tetap memberdayakan
pedagang-pedagang
lokal. Masa'
Makassar tidak bisa. |
|
|
|
|
| ::
CITIZEN REPORTER |
 | (Kamis, 12-07-2007) |  | (Minggu, 29-04-2007) |  | (Selasa, 31-10-2006) |  | (Rabu, 11-10-2006) |  | (Rabu, 16-08-2006) | |
|
Untitled Document
| ::
DUNIA SEGIEMPAT KAREBOSI |
|
Untitled Document
| ::
KONTAK TIM PANYINGKUL! |
Email Redaksi :
redaksi@panyingkul.com
Tim:
yus@panyingkul.com
+62 813 226 80844
Moch. Hasymi
+62 811 955 954
|
|
|