|
|
| . |
| ::
|
| Minggu, 02-11-2008 | Sebuah Buku Kepemimpinan untuk Mahasiswa :: Prasetyawan Hadiansyah ::
| Judul: Perempuan, Politik dan Kepemimpinan
Penulis: Mubha Kahar Muang
Editor: Farid Maruf Ibrahim
Penerbit: Yayasan Pena Indonesia
Terbit: 2008
Tebal: 173 halaman
| Perempuan, Politik, dan Kepemimpinan, sebuah judul yang lugas dan tegas. Sesuatu yang mengesankan konteks perempuan sebagai Kartini modern dalam dunia pilitik dan kepemimpin. Mubha Kahar Muang merangkum ketiga konsep tersebut ke dalam sebuah buku esai yang diterbitkan Yayasan Pena Indonesia dan diluncurkan 3 Oktober 2008 di Makassar.
Bagi mahasiswa, khususnya mahasiswa Public Relations , buku ini dapat menjadi bahan bacaan yang sangat baik, karena buku ini mengulas secara gamblang proses bagaimana seorang perempuan dalam menghadapi persaingan dan bagaimana membangun daya survive. Selain itu beragam contoh dipaparkan dengan ringan untuk mendukung ketiga tema buku tersebut. Perempuan yang diidentikkan dengan peran “dapur dan bumbu” ditepiskan dengan peran serta perempuan dalam kancah politik dan menjadi seorang pemimpin yang menjadikan seorang perempuan memperoleh tempat istimewa.
Peran seorang perempuan dalam kehidupan tidak lagi ditempatkan pada posisi kedua setelah laki-laki melainkan ditempatkan sejajar. Hal tersebut ditulis dalam judul “Merenungkan Kartini” (hal 1). Dalam tulisan tersebut Mubha bergerak keluar dari “kotak”, dimana sosok perempuan yang selama ini menjadi sub-ordinasi laki-laki dan dijadikan sebagai subjek yang pasif telah “diputar” sejajar dengan peran serta laki-laki dalam dunia politik dan kepemimpinan. Gerakan perempuan dalam kehidupan modern menjadi sebuah tonggak pencapaian perempuan yang luar biasa.
Dalam judul ini dijelaskan bahwa abad 20 gerakan para Kartini ini mencapai puncaknya dengan semakin meningkatnya tingkat sosial di masyarakat sehingga perempuan mendapatkan kesetaraan dengan kaum Adam, yang mampu berperan aktif dalam proses demokratisasi dan dalam dunia politik.
Politik adalah seni mengolah kemungkinan. Dalam buku ini, kesan dunia politik yang buram tersamarkan dengan hadirnya kepemimpinan politik yang bersih. Dunia politik yang bagi banyak mahasiswa dianggap sebagai sebuah awan gelap yang menghinggapi bangsa dan parlemen, kehidupan politisi yang kotor dan jauh dari kesan jujur dan bersih, dicoba dikuak dengan menawarkan kisah-kisah perpolitikan dan politisi yang unggul dan bersih. Tatanan politik nasional sejak reformasi 1998 seharusnya mengubah orientasi birokrasi nasional.
Menurut Mubha, otonomi daerah menjadi sebuah peluang dalam penataan ulang birokrasi dan politik Indonesia. Proses penataan ulang birokrasi dan politik nasional saat ini hendaknya dimulai dari penataan ulang visi, misi, dan nilai-nilai. Visi merupakan jawaban ringkas dan terformulasi dari pertanyaan where, ke mana arah politik akan diarahkan, dibawa, dan dikembangkan. Jawaban misi adalah berada pada pertanyaan what, apa yang akan dilakukan pemerintah dalam proses pencapaian visi, sedangkan nilai-nilai menjawab pertanyaan how, bagaimana cara pemerintah, organisasi mampu mencapai visi dan misinya.
Proses pembelajaran mahasiswa yang diterapkan saat ini adalah bagaimana seorang mahasiswa mampu menjadi seorang leader atau pemimpin yang baik, bertanggung jawab dan berdedikasi. Materi leadership, entrepreneur menjadi salah satu bahan kuliah yang mengarahkan mahasiswa untuk mampu mendudukinya.
Dalam buku ini pembelajaran tentang kepemimpinan terulas secara lengkap. Menjadi seorang pemimpin hendaknya memiliki kualitas. Kualitas yang dimaksud adalah bukan saja kualitas secara pikiran melainkan pula kualitas dalam perbuatan dan perkataan, karena dengan memiliki kualitas yang baik pada seorang pemimpin maka pengikutnya akan memiliki kualitas perkataan dan perbuatan yang baik pula. Untuk membentuk pemimpin yang baik dan berdedikasi, seorang pemimpin haruslah memiliki tiga buah cermin dan harus mampu bercermin dalam cermin tersebut, seperti yang tertulis dalam tulisan "Cermin Untuk Para Pemimpin" (hal 69), yang pertama adalah bercermin kepada sejarah, yang kedua bercermin kepada bawahan, dan yang ketiga bercermin kepada teman-teman dekat. Mengapa? Karena dengan bercermin maka pantulan cermin akan secara jujur memantulkan jawaban siapa pemimpin yang baik, dan bagaimana sebaiknya seorang pemimpin dalam memimpin.
Proses menjadi seorang pemimpin bukanlah hal yang mudah. Menjadi pemimpin merupakan sebuah tantangan yang berat dan membutuhkan proses yang panjang. Seorang pemimpin harus mampu mengayomi bawahannya, masyarakat, dan yang terpenting mengayomi diri sendiri. Posisi leader merupakan posisi krusial dalam organisasi, baik formal, non formal, pemerintahan, maupun swasta. Karena setiap geraik-gerik pemimpin menjadi fokus bagi bawahan, teman, dan masyarakat. Kegagalan seorang pemimpin biasanya timbul karena ketidak mampuan seorang pemimpin dalam menggunakan lima level kepemimpinan secara kreatif dan fleksibel, yaitu, kepemimpinan dengan permintaan biasa, kepemimpinan dengan cara rasional, kepemimpinan dengan imbalan, kepemimpinan dengan ancaman, dan kepemimpinan dengan paksaan.
Kreativitas dan fleksibilitas seorang pemimpin akan terlihat nyata pada saat seorang pemimpin berada dalam penanganan krisis, penentuan strategi, dan memikirkan sebuah inovasi dan pengembangan. Menurut Mubha, kreativitas dan fleksibilitas pemimpin dituntut untuk dapat dengan aktif dan bertindak logis dalam menghadapi segala bentuk benturan yang menghalangi perkembangan perusahaan atau organisasi. Keputusan pemimpin sebagai manajemen puncak menjadi ujung jarum keberlangsungan perusahaan kedepan. Seorang pemimpin yang kreatif akan mampu mencari jalan keluar dari permasalahan yang dihadapi perusahaan tanpa merugikan perusahaan serta mampu fleksibel dalam menerima kritik dan saran. Dalam materi kuliah Public Relation, kreativitas dan fleksibilitas juga dituntut dilakukan oleh seorang PR dalam membantu pimpinan puncak dalam penanganan krisis, permasalahan, konflik, dan penentuan strategi. Karena ini, bagi pembelajar Public Relations, buku ini menjadi penting dibaca.
Dalam buku ini juga, Mubha memberikan banyak pelajaran bagi mahasiswa mengenai kualitas, kekuatan, dan peran serta aktif perempuan dalam dunia bisnis, dan kekuatan seorang perempuan apabila menjadi seorang pemimpin. Selain itu, bagi mahasiswa, buku ini juga menjadi salah satu inspirasi dalam memandang perempuan dalam kesetaraan dengan laki-laki baik dalam ruang domestik maupun dalam ruang publik. Sekali lagi, dipandang dari segi ke-PR-an buku ini mampu menjadi salah satu bahan acuan pokok dalam menjalankan tugas dalam seorang Public Relations terutama dalam penentuan langkah yang akan diajukan kepada pemimpin karena pada intinya seorang Public Relations adalah tangan kanan pimpinan yang juga memiliki tanggung jawab dalam penentuan keputusan strategis.(p!)
*Penulis, Mahasiswa Jurusan Public Relations, Bina Sarana Informatika, Jakarta.
|
| | Jumlah
Komentar (11) |
|
| Komentar :
23-07-2009 Dari : app | palattae09@yahoo.co.id buset,,,
saya salut dengan
penulis buku ini,
mudah -mudahan dia
pengganti R.Ajeng
Kartini,,, yang
selalu memberikan
semangat bagi kaum
Hawa,! 09-07-2009 Dari : Daeng Lalo | muslimin.beta@pewarta-indonesia.com Selamat atas
terbitnya buku ibu
Mubha Kahar Muang.
Buku semacam ini
masih jarang, yakni
buku bertema
perempuan dan di
tulis oleh perempuan
itu sendiri. Saya
tidak bisa mengupas
isi buku, karena
belum membaca
bukunya. Tapi buku
ini menarik di
diskusikan. Saya
tertarik
mendiskusikannya
dalam sebuah forum
"Diskusi Buku". Bila
penulis atau
penerbitnya berkenan
bekerjasama, dengan
senang hati. 14-01-2009 Dari : RlynAoLkZLZb | ngoqqt@tsdqej.com vvpXcr
pxllljkhfocq,
[url=http://epmlkeqv
lzue.com/]epmlkeqvlz
ue[/url],
[link=http://kzppuym
vtxos.com/]kzppuymvt
xos[/link],
http://qlgdzeymtlwv.
com/ 05-12-2008 Dari : alam |
07-11-2008 Dari : |
06-11-2008 Dari : amahd | pendpatjie emansipasi
perempuan. kadang
saya berpikir,
gerakan khusus untuk
memperjuangkan
'hak2' perempuan
itu, dalam artiannya
yang terkait dengan
urusan politik atau
leadership-- kecuali
tentu untuk urusan2
(saya tidak tahu
istilahnya) semacam
kesehatan ibu hamil,
perlindungan dari
kekerasan rumah
tangga, trafficking,
dsb--, tidak perlu.
kenapa? Meletakkan
kesetaraan hak kaum
perempuan sebagai
sebuah perkara yang
'disengaja
diperjuangan'
(sejauh ‘hak kaum
perempuan’ yang
dimaksud adalah
dalam pengetian
tadi: alam dunia
politik) sepertinya
berisi kontradiksi
antara tujuan
‘emansipasi’ dan
‘perjuangan hak’.
Apa itu? Kita ambil
contoh yang
kongkret: Adanya
aturan tentang kuota
30% kursi untuk
perempuan di
parlemen. Bagi saya,
adanya angka itu
bukan pertama2
menjelaskan
diberinya ruang bagi
'kapasitas
leadership' kaum
perempuan, tapi
lebih dulu hanya
menjelaskan 'tingkat
keterlibatan
perempuan di dunia
politik'. apa yang
jadi soal? kita tahu
bahwa 'tingkat
keterlibatan' tidak
sama dengan
'kapasitas
leadership'.
'tingkat
keterlibatan' tidak
bisa serta merta
dijadikan jaminan,
atau indikasi, bagi
'kapasitas
leadership', alias:
jangan-jangan 30%
parlemen dihuni oleh
perempuan bukan
karena memang
terdapat 30%
perempuan2 yang
punya kapasitas
untuk berada di
posisi itu (punya
kapsistas
leadership), tapi
karena memang dari
sononya ada
ketentuan yang harus
ditaati, bahwa 30%
kursi di parlemen
harus diisi oleh
perempuan! Dengan
begitu maka
pertanyaan kita pun
jadi bercabang.
manakah yang mau
dituju? membangun
kapasistas
leadership kaum
perempuan atau
'memberi peluang 30%
untuk kaum perempuan
duduk di parlemen'?
dua hal yang sekali
lagi berbeda. aturan
itu justru terkesan
“memanja” (memberi
privilege politik
bagi) kaum
perempuan, sesuatu
yang tentu menjauh
dari maksud
emansipasi untuk
kaum perempuan pada
awalnya. Persis
kritik para
epistemolog terhadap
strukturalisme
antropologi, juga
sosiologi: ketetapan
30% itu telah
memosisikan
perempauan ibaratnya
subyek yang dungu;
subyek yang tidak
paham apa yang harus
dilakukan.
Keberadaan aturan
itu justru telah
merendahkan kaum
perempuan. 02-11-2008 Dari : mefta | mefta_greencemara@yahoo.co.id jika seandainya ini
intisari dari buku
ini di baca oleh
para aktivist
perempuan. maka
Zeitgeist akan
mengarahkan
bandulnya kepada
mode greakan baru
perempuan Indeonesia
bukan hanya
perjuangan marginal
30 % di pentas
politik tapi pada
ruang yanglainnya.
Karya ini cukup
pantas di baca dan
didedikasikan
sebagai inspirasi
baru 02-11-2008 Dari : jiji ismail | mataallo@gmail.com bagus..bagus dan
bagus!!!
sy jadi
berharap..sekiranya
semua aktivis
gender..punya
kemampuan analisis
sperti penulis buku
ini, tidak aka ada
lagi permintaan
kuota khusus bagi
perempuan pada
ruang2 tertentu..yg
bagi saya justru
memarjinalkan posisi
perempuan itu
sendiri.....hidup
perempuan!!!!! 02-11-2008 Dari : Muhammad Yunus RM | myunusrm@gmail.com semua pikiran dan
karya sesesorang
perlu mendapatkan
apresiasi yang
positif, sebagaimana
buku ini, bagi sy
buku ini akan
memberi pengayaan
kepada semua pihak,
khususnya yang fokus
dalam dunia politik.
pada prinsipnya,
perempuan adalah
karya maha dahsyat
Sang Pencipta,
keberadaan sosok
perempuan memberi
penguatan eksistensi
terhadap kaum laki,
begitu pula
sebaliknya. sehingga
tidak ada alasan
yang fundamental
untuk
mempertentangkan
mana yang lebih
berhak atas hidup
ini. namun harus
diakui, bahwa apa
yang kita saksikan
setiap harinya,
adalah suatu
kekeliruan yang
lahir dari kelicikan
berfikir dalam
menempatkan mana
yang lebih berhak
atas suatu. moga aja
buku ini membuka
tabir. selamat!!! 02-11-2008 Dari : Muh. Nur Taqwim | taqwimyunus@yahoo.co.id Jika semua manusia
di atas dunia ini
bisa menyadari
betapa pentingnya
menghargai semua
makhluk Allah
sebagai konsekwensi
keimanan, maka tidak
perlu terjadi
dikotomi perempuan
dengan laki-laki.
Lelah rasanya
mempersoalkan hal
tersebut sementara
pada sisi lain kita
(perempuan dan
laki-laki) dituntut
untuk bisa berkarya
sebaik mungkin
(berdasarkan
kompetensi
masing-masing)
sebagai bukti
penyadaran
kekhalifaan. 02-11-2008 Dari : bhar | andu_valah@yahoo.co.id Fantastis, buku yang
bagus baik dari isi
dan sudut
pandangnya,
kepemimpinan tidak
ditentukan gender.
Anyone can be
leader, penulis
memberikan
pendapatanya sesuai
kapasitasnya sebagai
mahasiswa dan cukup
menjelaskan garis
besar buku yg
diluncurkan di
Makassar ini. maju
terus perempuan dan
kepemimpinan...
penulisnya juga
terus berkarya y.. |
|
|
|
|
| ::
CITIZEN REPORTER |
 | (Kamis, 12-07-2007) |  | (Minggu, 29-04-2007) |  | (Selasa, 31-10-2006) |  | (Rabu, 11-10-2006) |  | (Rabu, 16-08-2006) | |
|
Untitled Document
| ::
DUNIA SEGIEMPAT KAREBOSI |
|
Untitled Document
| ::
KONTAK TIM PANYINGKUL! |
Email Redaksi :
redaksi@panyingkul.com
Tim:
yus@panyingkul.com
+62 813 226 80844
Moch. Hasymi
+62 811 955 954
|
|
|