Untitled Document
 


Untitled Document
.KITAKITA
:: Jika Anda di Panyingkul ::
 
 KABAR KITA
 
 BERANDAKITA
Kegilaan, Dari Cinta Mati di Pulau Rajuni Hingga Riwayat Kadang
:: Ivan Firdaus ::
Baba Guru, Mengenang Film Rhoma Irama di Klenteng Galesong
:: Kamaruddin Azis ::
Mengagumi Tenun Troso, Mengenang Tenun Sengkang
:: Suryadin Laoddang ::
Perempuan Besi di Gunung Perak (2-selesai)
:: M. Aan Mansyur ::
Perempuan Besi di Gunung Perak (1)
:: M. Aan Mansyur ::
 
 RISETKITA
Rasa Takut : Yang Dicitrakan, Yang Dipelihara
:: Aria W. Yudhistira ::
Risetkita: Pramoedya versus Sejarah Resmi
:: Nurhady Sirimorok ::
Hikayat Rumpon Nelayan Mandar
:: Muhammad Ridwan Alimuddin ::
Di Makassar Pernah Ada “Negeri Wajo”
:: Nurhady Sirimorok ::
Surat Itu Ditulis Upas kepada September
:: Nurhady Sirimorok ::
 
 BUKUKITA
 
 KATAKOTAKITA
Kenapa si Gondrong yang Maju?
:: Ivan Firdaus dan Mustamin al-Mandary ::
Karena ‘Rewa’ Badan Binasa
:: Sudirman Nasir ::
Yang Okkot, yang Salah Sambung
:: Nursamsu danTusiana Noor Alfisyahr ::
Kandala`ka`, Kusta Bila Dusta
:: Panyingkul ::
Ayo, Si(ng)kat Terussss..!
:: Panyingkul! ::

 
 TAHUKAHKITA
 

.
 ::
Minggu, 02-11-2008 
Sebuah Buku Kepemimpinan untuk Mahasiswa
:: Prasetyawan Hadiansyah ::

Judul: Perempuan, Politik dan Kepemimpinan
Penulis: Mubha Kahar Muang
Editor: Farid Maruf Ibrahim
Penerbit: Yayasan Pena Indonesia
Terbit: 2008
Tebal: 173 halaman

Perempuan, Politik, dan Kepemimpinan, sebuah judul yang lugas dan tegas. Sesuatu yang mengesankan konteks perempuan sebagai Kartini modern dalam dunia pilitik dan kepemimpin. Mubha Kahar Muang merangkum ketiga konsep tersebut ke dalam sebuah buku esai yang diterbitkan Yayasan Pena Indonesia dan diluncurkan 3 Oktober 2008 di Makassar.

Bagi mahasiswa, khususnya mahasiswa Public Relations , buku ini dapat menjadi bahan bacaan yang sangat baik, karena buku ini mengulas secara gamblang proses bagaimana seorang perempuan dalam menghadapi persaingan dan bagaimana membangun daya survive. Selain itu beragam contoh dipaparkan dengan ringan untuk mendukung ketiga tema buku tersebut. Perempuan yang diidentikkan dengan peran “dapur dan bumbu” ditepiskan dengan peran serta perempuan dalam kancah politik dan menjadi seorang pemimpin yang menjadikan seorang perempuan memperoleh tempat istimewa.

Peran seorang perempuan dalam kehidupan tidak lagi ditempatkan pada posisi kedua setelah laki-laki melainkan ditempatkan sejajar. Hal tersebut ditulis dalam judul “Merenungkan Kartini” (hal 1). Dalam tulisan tersebut Mubha bergerak keluar dari “kotak”, dimana sosok perempuan yang selama ini menjadi sub-ordinasi laki-laki dan dijadikan sebagai subjek yang pasif telah “diputar” sejajar dengan peran serta laki-laki dalam dunia politik dan kepemimpinan. Gerakan perempuan dalam kehidupan modern menjadi sebuah tonggak pencapaian perempuan yang luar biasa.

Dalam judul ini dijelaskan bahwa abad 20 gerakan para Kartini ini mencapai puncaknya dengan semakin meningkatnya tingkat sosial di masyarakat sehingga perempuan mendapatkan kesetaraan dengan kaum Adam, yang mampu berperan aktif dalam proses demokratisasi dan dalam dunia politik.

Politik adalah seni mengolah kemungkinan. Dalam buku ini, kesan dunia politik yang buram tersamarkan dengan hadirnya kepemimpinan politik yang bersih. Dunia politik yang bagi banyak mahasiswa dianggap sebagai sebuah awan gelap yang menghinggapi bangsa dan parlemen, kehidupan politisi yang kotor dan jauh dari kesan jujur dan bersih, dicoba dikuak dengan menawarkan kisah-kisah perpolitikan dan politisi yang unggul dan bersih. Tatanan politik nasional sejak reformasi 1998 seharusnya mengubah orientasi birokrasi nasional.

Menurut Mubha, otonomi daerah menjadi sebuah peluang dalam penataan ulang birokrasi dan politik Indonesia. Proses penataan ulang birokrasi dan politik nasional saat ini hendaknya dimulai dari penataan ulang visi, misi, dan nilai-nilai. Visi merupakan jawaban ringkas dan terformulasi dari pertanyaan where, ke mana arah politik akan diarahkan, dibawa, dan dikembangkan. Jawaban misi adalah berada pada pertanyaan what, apa yang akan dilakukan pemerintah dalam proses pencapaian visi, sedangkan nilai-nilai menjawab pertanyaan how, bagaimana cara pemerintah, organisasi mampu mencapai visi dan misinya.

Proses pembelajaran mahasiswa yang diterapkan saat ini adalah bagaimana seorang mahasiswa mampu menjadi seorang leader atau pemimpin yang baik, bertanggung jawab dan berdedikasi. Materi leadership, entrepreneur menjadi salah satu bahan kuliah yang mengarahkan mahasiswa untuk mampu mendudukinya.

Dalam buku ini pembelajaran tentang kepemimpinan terulas secara lengkap. Menjadi seorang pemimpin hendaknya memiliki kualitas. Kualitas yang dimaksud adalah bukan saja kualitas secara pikiran melainkan pula kualitas dalam perbuatan dan perkataan, karena dengan memiliki kualitas yang baik pada seorang pemimpin maka pengikutnya akan memiliki kualitas perkataan dan perbuatan yang baik pula. Untuk membentuk pemimpin yang baik dan berdedikasi, seorang pemimpin haruslah memiliki tiga buah cermin dan harus mampu bercermin dalam cermin tersebut, seperti yang tertulis dalam tulisan "Cermin Untuk Para Pemimpin" (hal 69), yang pertama adalah bercermin kepada sejarah, yang kedua bercermin kepada bawahan, dan yang ketiga bercermin kepada teman-teman dekat. Mengapa? Karena dengan bercermin maka pantulan cermin akan secara jujur memantulkan jawaban siapa pemimpin yang baik, dan bagaimana sebaiknya seorang pemimpin dalam memimpin.

Proses menjadi seorang pemimpin bukanlah hal yang mudah. Menjadi pemimpin merupakan sebuah tantangan yang berat dan membutuhkan proses yang panjang. Seorang pemimpin harus mampu mengayomi bawahannya, masyarakat, dan yang terpenting mengayomi diri sendiri. Posisi leader merupakan posisi krusial dalam organisasi, baik formal, non formal, pemerintahan, maupun swasta. Karena setiap geraik-gerik pemimpin menjadi fokus bagi bawahan, teman, dan masyarakat. Kegagalan seorang pemimpin biasanya timbul karena ketidak mampuan seorang pemimpin dalam menggunakan lima level kepemimpinan secara kreatif dan fleksibel, yaitu, kepemimpinan dengan permintaan biasa, kepemimpinan dengan cara rasional, kepemimpinan dengan imbalan, kepemimpinan dengan ancaman, dan kepemimpinan dengan paksaan.

Kreativitas dan fleksibilitas seorang pemimpin akan terlihat nyata pada saat seorang pemimpin berada dalam penanganan krisis, penentuan strategi, dan memikirkan sebuah inovasi dan pengembangan. Menurut Mubha, kreativitas dan fleksibilitas pemimpin dituntut untuk dapat dengan aktif dan bertindak logis dalam menghadapi segala bentuk benturan yang menghalangi perkembangan perusahaan atau organisasi. Keputusan pemimpin sebagai manajemen puncak menjadi ujung jarum keberlangsungan perusahaan kedepan. Seorang pemimpin yang kreatif akan mampu mencari jalan keluar dari permasalahan yang dihadapi perusahaan tanpa merugikan perusahaan serta mampu fleksibel dalam menerima kritik dan saran. Dalam materi kuliah Public Relation, kreativitas dan fleksibilitas juga dituntut dilakukan oleh seorang PR dalam membantu pimpinan puncak dalam penanganan krisis, permasalahan, konflik, dan penentuan strategi. Karena ini, bagi pembelajar Public Relations, buku ini menjadi penting dibaca.

Dalam buku ini juga, Mubha memberikan banyak pelajaran bagi mahasiswa mengenai kualitas, kekuatan, dan peran serta aktif perempuan dalam dunia bisnis, dan kekuatan seorang perempuan apabila menjadi seorang pemimpin. Selain itu, bagi mahasiswa, buku ini juga menjadi salah satu inspirasi dalam memandang perempuan dalam kesetaraan dengan laki-laki baik dalam ruang domestik maupun dalam ruang publik. Sekali lagi, dipandang dari segi ke-PR-an buku ini mampu menjadi salah satu bahan acuan pokok dalam menjalankan tugas dalam seorang Public Relations terutama dalam penentuan langkah yang akan diajukan kepada pemimpin karena pada intinya seorang Public Relations adalah tangan kanan pimpinan yang juga memiliki tanggung jawab dalam penentuan keputusan strategis.(p!)

*Penulis, Mahasiswa Jurusan Public Relations, Bina Sarana Informatika, Jakarta.


| Beri Komentar| Jumlah Komentar (11) |

Komentar :

23-07-2009
Dari : app | palattae09@yahoo.co.id
buset,,, saya salut dengan penulis buku ini, mudah -mudahan dia pengganti R.Ajeng Kartini,,, yang selalu memberikan semangat bagi kaum Hawa,!

09-07-2009
Dari : Daeng Lalo | muslimin.beta@pewarta-indonesia.com
Selamat atas terbitnya buku ibu Mubha Kahar Muang. Buku semacam ini masih jarang, yakni buku bertema perempuan dan di tulis oleh perempuan itu sendiri. Saya tidak bisa mengupas isi buku, karena belum membaca bukunya. Tapi buku ini menarik di diskusikan. Saya tertarik mendiskusikannya dalam sebuah forum "Diskusi Buku". Bila penulis atau penerbitnya berkenan bekerjasama, dengan senang hati.

14-01-2009
Dari : RlynAoLkZLZb | ngoqqt@tsdqej.com
vvpXcr pxllljkhfocq, [url=http://epmlkeqv lzue.com/]epmlkeqvlz ue[/url], [link=http://kzppuym vtxos.com/]kzppuymvt xos[/link], http://qlgdzeymtlwv. com/

05-12-2008
Dari : alam |

07-11-2008
Dari : |

06-11-2008
Dari : amahd | pendpatjie
emansipasi perempuan. kadang saya berpikir, gerakan khusus untuk memperjuangkan 'hak2' perempuan itu, dalam artiannya yang terkait dengan urusan politik atau leadership-- kecuali tentu untuk urusan2 (saya tidak tahu istilahnya) semacam kesehatan ibu hamil, perlindungan dari kekerasan rumah tangga, trafficking, dsb--, tidak perlu. kenapa? Meletakkan kesetaraan hak kaum perempuan sebagai sebuah perkara yang 'disengaja diperjuangan' (sejauh ‘hak kaum perempuan’ yang dimaksud adalah dalam pengetian tadi: alam dunia politik) sepertinya berisi kontradiksi antara tujuan ‘emansipasi’ dan ‘perjuangan hak’. Apa itu? Kita ambil contoh yang kongkret: Adanya aturan tentang kuota 30% kursi untuk perempuan di parlemen. Bagi saya, adanya angka itu bukan pertama2 menjelaskan diberinya ruang bagi 'kapasitas leadership' kaum perempuan, tapi lebih dulu hanya menjelaskan 'tingkat keterlibatan perempuan di dunia politik'. apa yang jadi soal? kita tahu bahwa 'tingkat keterlibatan' tidak sama dengan 'kapasitas leadership'. 'tingkat keterlibatan' tidak bisa serta merta dijadikan jaminan, atau indikasi, bagi 'kapasitas leadership', alias: jangan-jangan 30% parlemen dihuni oleh perempuan bukan karena memang terdapat 30% perempuan2 yang punya kapasitas untuk berada di posisi itu (punya kapsistas leadership), tapi karena memang dari sononya ada ketentuan yang harus ditaati, bahwa 30% kursi di parlemen harus diisi oleh perempuan! Dengan begitu maka pertanyaan kita pun jadi bercabang. manakah yang mau dituju? membangun kapasistas leadership kaum perempuan atau 'memberi peluang 30% untuk kaum perempuan duduk di parlemen'? dua hal yang sekali lagi berbeda. aturan itu justru terkesan “memanja” (memberi privilege politik bagi) kaum perempuan, sesuatu yang tentu menjauh dari maksud emansipasi untuk kaum perempuan pada awalnya. Persis kritik para epistemolog terhadap strukturalisme antropologi, juga sosiologi: ketetapan 30% itu telah memosisikan perempauan ibaratnya subyek yang dungu; subyek yang tidak paham apa yang harus dilakukan. Keberadaan aturan itu justru telah merendahkan kaum perempuan.

02-11-2008
Dari : mefta | mefta_greencemara@yahoo.co.id
jika seandainya ini intisari dari buku ini di baca oleh para aktivist perempuan. maka Zeitgeist akan mengarahkan bandulnya kepada mode greakan baru perempuan Indeonesia bukan hanya perjuangan marginal 30 % di pentas politik tapi pada ruang yanglainnya. Karya ini cukup pantas di baca dan didedikasikan sebagai inspirasi baru

02-11-2008
Dari : jiji ismail | mataallo@gmail.com
bagus..bagus dan bagus!!! sy jadi berharap..sekiranya semua aktivis gender..punya kemampuan analisis sperti penulis buku ini, tidak aka ada lagi permintaan kuota khusus bagi perempuan pada ruang2 tertentu..yg bagi saya justru memarjinalkan posisi perempuan itu sendiri.....hidup perempuan!!!!!

02-11-2008
Dari : Muhammad Yunus RM | myunusrm@gmail.com
semua pikiran dan karya sesesorang perlu mendapatkan apresiasi yang positif, sebagaimana buku ini, bagi sy buku ini akan memberi pengayaan kepada semua pihak, khususnya yang fokus dalam dunia politik. pada prinsipnya, perempuan adalah karya maha dahsyat Sang Pencipta, keberadaan sosok perempuan memberi penguatan eksistensi terhadap kaum laki, begitu pula sebaliknya. sehingga tidak ada alasan yang fundamental untuk mempertentangkan mana yang lebih berhak atas hidup ini. namun harus diakui, bahwa apa yang kita saksikan setiap harinya, adalah suatu kekeliruan yang lahir dari kelicikan berfikir dalam menempatkan mana yang lebih berhak atas suatu. moga aja buku ini membuka tabir. selamat!!!

02-11-2008
Dari : Muh. Nur Taqwim | taqwimyunus@yahoo.co.id
Jika semua manusia di atas dunia ini bisa menyadari betapa pentingnya menghargai semua makhluk Allah sebagai konsekwensi keimanan, maka tidak perlu terjadi dikotomi perempuan dengan laki-laki. Lelah rasanya mempersoalkan hal tersebut sementara pada sisi lain kita (perempuan dan laki-laki) dituntut untuk bisa berkarya sebaik mungkin (berdasarkan kompetensi masing-masing) sebagai bukti penyadaran kekhalifaan.

02-11-2008
Dari : bhar | andu_valah@yahoo.co.id
Fantastis, buku yang bagus baik dari isi dan sudut pandangnya, kepemimpinan tidak ditentukan gender. Anyone can be leader, penulis memberikan pendapatanya sesuai kapasitasnya sebagai mahasiswa dan cukup menjelaskan garis besar buku yg diluncurkan di Makassar ini. maju terus perempuan dan kepemimpinan... penulisnya juga terus berkarya y..



 :: CITIZEN REPORTER
Makassar di Panyingkul!: Sebuah Persembahan
(Kamis, 12-07-2007)
Ayo Bergabung di Panyingkul!
(Minggu, 29-04-2007)
Catatan Sederhana Para Citizen Reporter
(Selasa, 31-10-2006)
Tentang Citizen Reporter dan Rubrik di Panyingkul!
(Rabu, 11-10-2006)
Riuh Rendah di Panyingkul!
(Rabu, 16-08-2006)

Untitled Document
 :: DUNIA SEGIEMPAT KAREBOSI






 :: PILKADA




 :: ALBUM PUASA 2008




Untitled Document
 :: KONTAK TIM PANYINGKUL!

Email Redaksi :

redaksi@panyingkul.com

Tim:
yus@panyingkul.com
+62 813 226 80844

Moch. Hasymi
+62 811 955 954


© Juni 2006 - Panyingkul.com All Rights Reserved
Desain Web : Nesia Andriana -- Supported by: Yuhardin